BUTIR-BUTIR DASAR DALAM PASAL LIMA SAMPAI DELAPAN
Dalam berita ini kita akan melihat beberapa butir dasar dalam Roma 5 sampai 8.
DUA FAKTA DAN DUA PENGALAMAN
Bagian yang terakhir dari Roma 5 berhubungan de-ngan fakta bahwa kita telah berada di dalam Adam. Kita berada di dalam Adam adalah satu fakta; tidak ada seorang pun yang dapat menyangkalnya. Setiap manusia berada di dalam Adam. Pasal 6 berhubungan dengan fakta bahwa kita sekarang berada di dalam Kristus. Maka, kita dapat memberikan judul “Di dalam Adam” untuk pasal 5, dan “Di da-lam Kristus” untuk pasal 6. Ingat, dua hal ini adalah fak-ta, yang satu adalah yang dulu dan satu lagi adalah yang sekarang. Dulu kita berada di dalam Adam, tetapi sekarang kita berada di dalam Kristus. Betapa lebih baiknya fakta yang sekarang ini!
Pasal 7 berhubungan dengan pengalaman di dalam daging. Ini bukan hanya satu fakta, lebih-lebih satu pengalaman. Jadi, untuk pasal 7 kita dapat menuliskannya, “Di dalam daging”.
Pasal 8 berhubungan dengan pengalaman kita di dalam roh. Sulit untuk menentukan apakah ini Roh Kudus atau roh insani kita, sebab ini mengacu kepada roh perbauran. Karena itu, untuk pasal 8, kita dapat menuliskannya: “Di dalam roh”.
Dalam pasal 5 dan 6, kita memiliki dua fakta, fakta tentang berada di dalam Adam dan di dalam Kristus. Da-lam pasal 7 dan 8 kita memiliki dua jenis pengalaman, pengalaman di dalam daging dan pengalaman di dalam roh. Pengalaman di dalam daging adalah pengalaman dari fakta berada di dalam Adam. Fakta berada di dalam Adam dalam pasal 5 dialami di dalam daging seperti yang digambarkan dalam pasal 7. Jika kita hanya memiliki pasal 5 tanpa pasal 7, kita akan memiliki fakta bahwa kita telah mati, tetapi tidak ada pengalaman. Demikian juga, pengalaman di dalam roh dalam pasal 8 adalah pengalaman dari fakta berada di dalam Kristus yang diwahyukan dalam pasal 6. Dengan kata lain, fakta berada di dalam Kristus hanya dapat dialami di dalam roh.
DI DALAM ADAM
Di dalam Adam ada tiga hal utama: dosa, maut, dan tersusun menjadi orang dosa (5:19). Di dalam Adam, kita mewarisi dosa, berada di bawah pemerintahan maut (5:12, 14), dan tersusun menjadi orang dosa. Tentunya, kita juga berada di bawah penghukuman Allah. Apakah kita baik atau jahat, itu tidak berarti apa-apa. Bahkan sekalipun kita adalah orang yang paling baik, di dalam Adam kita tetap adalah orang dosa yang berada di bawah penghukuman Allah. Ini adalah fakta. Kita semua telah dihukum bahkan sebelum kita lahir. Inilah kondisi kita.
DI DALAM KRISTUS
Puji Tuhan bahwa kita memiliki fakta yang kedua, fakta berada di dalam Kristus! Hasil dari berada di dalam Kristus, kita memiliki anugerah dengan kebenaran (LAI: anugerah dan karunia kebenaran. Rm. 5:17). Di dalam Adam, kita memiliki dosa; di dalam Kristus, kita memiliki anugerah dengan kebenaran. Yang kita miliki bukan hanya kebenaran saja atau anugerah saja, melainkan anugerah dengan kebenaran. Anugerah dengan kebenaran adalah lawan dari dosa. Di dalam Adam, kita mewarisi dosa. Di dalam Kristus, kita menerima anugerah dengan karunia kebenaran. Anugerah dan kebenaran bekerja bersama-sama karena anugerah bekerja melalui kebenaran. Lagi pula, di dalam Kristus, kita memiliki hayat yang kekal sebagai pengganti maut. Kita bahkan dapat memerintah (berkuasa) dalam hayat yang kekal ini (5:17). Meskipun maut pernah memerintah (berkuasa) atas kita (5:14), tetapi sekarang kita dapat memerintah (berkuasa) dalam hayat. Selain itu, di dalam Kristus kita tidak berada di bawah penghukuman Allah, melainkan berada di bawah pembenaran-Nya. Di dalam Kristus, kita semua telah dibenarkan.
Mungkin Anda menanyakan bagaimana Anda dapat berada di dalam Kristus. Kita memang tidak ragu bahwa kita berada di dalam Adam. Tetapi bagaimana kita dapat berada di dalam Kristus? Melalui dibaptis ke dalam Dia (6:3), dan melalui percaya ke dalam Dia (Yoh. 3:15). Dibaptis ke dalam Kristus itu mencakup percaya ke dalam Dia. Jadi, kita berada di dalam Kristus melalui percaya dan dibaptis. Ketika Anda percaya kepada Kristus, Anda sebe-narnya percaya ke dalam Dia. Demikian juga dibaptis ke dalam air adalah satu tanda yang menunjukkan bahwa kita dibaptis ke dalam Kristus. Allah telah meletakkan kita ke dalam Kristus (1 Kor. 1:30), dan kita semua harus percaya fakta ini dan memperhitungkannya. Haleluya, kita berada di dalam Kristus! Kita telah dipindahkan keluar dari Adam ke dalam Kristus. Hari ini saya dapat bersaksi dengan berani bahwa saya tidak lagi berada di dalam Adam saya berada di dalam Kristus. Karena saya berada di dalam Kristus, maka kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan semua apa adanya Dia telah menjadi milik saya. Apa pun juga yang telah dilakukan-Nya adalah milik saya, karena saya berada di dalam Dia.
Pikirkanlah contoh tentang bahtera Nuh. Bahtera dengan delapan orang itu telah melalui banyak perkara. Apa saja yang telah dilalui bahtera itu juga dialami oleh delapan orang itu, karena mereka berada di dalam bahtera itu. Ini adalah satu lambang yang jelas tentang kita berada di dalam Kristus. Kristus adalah bahtera kita, dan kita, orang-orang yang telah dibangkitkan, berada di dalam-Nya. (Angka delapan melambangkan kebangkitan). Apa saja yang telah diperoleh dan dicapai oleh Kristus dan apa adanya Dia, sekarang adalah milik kita. Kematian Kristus telah mengakhiri setiap hal negatif di alam semesta ini, dan kematian-Nya adalah milik kita. Tidak ada sesuatu pun yang mengakhiri seseorang seperti kematian. Jika seseorang ber-tanya apakah Anda sudah mati atau belum, Anda harus menjawab dengan tegas, “Ya, aku sudah mati dua ribu tahun yang lalu (Rm. 6:6). Kematian Kristus di kayu salib membersihkan segala sesuatu bagiku dan mengakhiriku dengan mutlak. Aku sudah mati.” Puji Tuhan bahwa kita semua sudah mati! Di satu pihak kita telah mati bersama Kristus, di pihak lain, kita telah bangkit bersama Dia (Rm. 6:8, 11). Kita bangkit, kita hidup, dan kita bertumbuh bersama Kristus dalam keserupaan dari kebangkitan-Nya (Rm. 6:5). Kita semua harus percaya fakta ini, mengenalnya, dan menghitung diri kita berdasarkan fakta ini.
Jika kita berdiri pada fakta-fakta ini, kita akan dapat mempersembahkan diri kita kepada Allah sebagai hamba-hamba, dan mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita sebagai senjata kebenaran yang membawa kita kepada pengudusan (Rm. 6:13, 19). Bila kita menghitung fakta bahwa manusia lama kita telah disalibkan dan bahwa kita hidup bagi Allah di dalam Kristus Yesus, dan bila kita mem-persembahkan diri kita dengan semua anggota tubuh kita sebagai senjata kebenaran kepada Allah, maka jalan akan terbuka bagi hayat ilahi untuk bekerja dengan leluasa di dalam diri kita. Hayat ilahi ini akan mentransfusikan semua apa adanya Allah ke dalam diri kita. Inilah pengudus-an. Ini bukanlah penebusan yang obyektif di kayu salib; ini adalah pekerjaan pengudusan Allah yang subyektif di dalam diri kita.
DI DALAM DAGING
Setelah kita sadar bahwa kita telah mati bersama Kristus, kita juga harus melihat bahwa kita tidak lagi berhubungan dengan hukum Taurat. Karena kita telah mati, maka kita telah bebas, lepas, dari hukum Taurat (Rm. 7:6). Jangan kembali kepada hukum Taurat. Kembali kepada hukum Taurat berarti berkehendak untuk berbuat baik. Kapan kala Anda berkehendak untuk berbuat baik, Anda berpaling kepada hukum Taurat. Jika Anda berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku supaya menjadi rendah hati mulai sekarang dan seterusnya,” berarti Anda kembali kepada hukum Taurat. Meskipun Anda berdoa kepada Allah, tetapi Anda tidak pergi kepada Allah; sebaliknya Anda pergi kepa-da hukum Taurat. Pertimbangkan seorang suami yang bertobat karena tidak mengasihi istrinya. Dia berkehendak untuk mengasihi istrinya mulai sekarang dan seterusnya, dan meminta Tuhan untuk menolongnya mengasihi istri-nya. Doa ini menunjukkan bahwa ia kembali kepada hu-kum Taurat. Saya dapat menjamin bahwa ia tidak akan dapat mengasihi istrinya. Semakin ia berusaha mengasihi istrinya, ia akan gagal mengasihinya. Ia akan menemukan dirinya berada dalam Roma 7, dalam keadaan tidak dapat melakukan apa yang ia kehendaki, melainkan melakukan apa yang tidak ia kehendaki (7:19). Meskipun Anda mung-kin ingin mengasihi istri Anda, Anda tidak dapat melaku-kannya. Anda mungkin tidak pernah marah, tetapi pada akhirnya Anda akan marah lebih hebat daripada sebelum-nya. Mengapa? Karena dengan pergi kepada hukum Taurat berarti Anda pergi kepada sumber yang salah. Anda belum sadar bahwa Anda adalah orang yang sama sekali tidak ada harapan dan tidak tertolong lagi. Kita perlu menolak diri kita dan berkata kepada ego kita, “Ego, aku tidak percaya kepadamu. Ego, jangan berkehendak untuk melakukan se-suatu. Kamu tidak dapat melakukan apa-apa.” Kapan kala seorang suami dicobai untuk mengasihi istrinya, ia harus segera berkata, “Iblis, enyahlah dariku. Aku tidak mau ber-usaha demikian. Sebaliknya, aku menolak ego. Egoku harus pergi.”
Jangan berkehendak untuk berbuat baik. Paulus berkata, “Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik, tidak” (7:18). Paulus selanjutnya berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan” (7:19). Oleh karena itu, di dalam ayat selanjutnya ia menyimpulkan, “Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku” (7:20). Seperti yang telah kita tunjukkan, ini adalah pengalaman Paulus sebelum ia diselamatkan, tetapi hampir semua orang Kristen mengalaminya setelah mereka diselamatkan. Jika kita tidak memiliki pengalaman yang demikian, kita tidak dising-kapkan sampai pada puncaknya dan tidak akan sadar betapa tidak ada harapannya kita.
Mungkin hari ini Anda telah berkehendak untuk berbuat baik. Berkehendak ini begitu otomatis, sangat mudah. Ketika Anda agak dingin terhadap Tuhan, Anda tidak berkehendak untuk berbuat baik bagi-Nya. Tetapi begitu Anda dibangunkan dan kembali kepada Tuhan, Anda segera berkehendak untuk berbuat baik. Setiap kali Anda berke-hendak untuk berbuat baik, Anda membuat satu perintah, hukum yang dibuat oleh diri sendiri, bagi Anda sendiri. Ini bukanlah hukum Taurat yang diberikan oleh Musa, melain-kan hukum yang disahkan oleh ego. Meskipun demikian, prinsipnya tetap sama. Baik hukum yang diberikan oleh Musa maupun hukum yang dibuat oleh ego, pada akhirnya, akan menyingkapkan Anda.
Bertahun-tahun lalu saya sering berdoa, “Oh Tuhan, aku tidak ingin marah kepada istriku. Aku ingin menjadi seorang suami yang baik dan mengasihi istriku sepanjang waktu. Tuhan tolonglah aku mengasihinya.” Menurut peng-alaman saya, saya belum pernah menerima jawaban untuk doa yang demikian. Kenyataannya, semakin saya berdoa tentang amarah saya, semakin sering saya marah. Jika Anda tidak berdoa secara demikian, Anda mungkin tidak marah untuk satu atau dua minggu. Tetapi jika Anda ber-doa tentang hal itu, Anda akan segera marah setelah Anda berdoa. Beberapa tahun yang lalu banyak saudari yang datang kepada saya dan mengatakan bahwa mereka berdoa supaya memiliki satu sikap yang baik terhadap suami dan anak-anak mereka, tetapi pada hari mereka berdoa, sikap mereka lebih buruk daripada sebelumnya. Bila orang-orang mengajukan pertanyaan-pertanyaan demikian kepada saya pada awal ministri saya, saya akan sama dengan mereka. Secara doktrinal, saya akan memberi tahu mereka bahwa ini adalah untuk membantu mereka mengenal apa adanya mereka. Ini hanya merupakan doktrin bagi kita; sampai pada suatu hari, kita dipaksa untuk menyadari bahwa kita mutlak tidak baik. Begitu kita melihat hal ini, kita tidak akan pernah lagi berkehendak untuk berbuat baik. Sebalik-nya, kita akan melanjutkan ke Roma 8.
DI DALAM ROH
Dalam Roma 8, kita menemukan suatu perkara yang sangat sederhana. Lupakan tentang berkehendak untuk berbuat baik. Pikiran ingin menjadi istri yang taat, tetapi malah bertindak sebagai suami. Dalam pasal 7, Paulus dengan jelas berkata, “Jadi, dengan akal budiku (pikiranku, Tl.) aku melayani hukum Allah” (ayat 26). Pikiran yang demikian ini terlalu merdeka. Pikiran harus menjadi se-orang perempuan, tetapi malah menjadi seorang laki-laki. Dalam pasal 8, kita melihat bahwa kita harus secara sederhana berjalan menurut roh (Rm. 8:4). Tetapi bagai-mana dengan pikiran kita? Pikiran harus ditaruh di atas roh (Rm. 8:6). Kita perlu berjalan menurut roh dan mele-takkan pikiran di atas roh. Ini sudah cukup. Jangan berke-hendak untuk berbuat baik atau berdoa agar Tuhan mem-bantu Anda untuk berbuat baik. Lupakan semua konsepsi agama yang demikian. Kita perlu berjalan, bertingkah laku, dan membawa diri kita menurut roh dan secara terus-menerus meletakkan pikiran kita di atas roh. Demiki-an kita akan memiliki kebebasan, dan Kristus yang berhuni akan menyalurkan hayat ke dalam setiap bagian dari diri kita, bahkan ke dalam anggota-anggota yang lemah dari tubuh fana kita (Rm. 8:11). Kemudian seluruh diri kita akan diinfus dengan hayat ilahi. Ini bukanlah perkara berbuat baik, memelihara hukum Taurat, atau memenuhi tuntutan-tuntutan hukum Taurat. Ini adalah perkara hayat yang diperhidupkan dari roh kita. Hayat ini bahkan akan melakukan lebih banyak daripada memenuhi tuntutan-tuntutan kebenaran hukum Taurat. Bila kita bertingkah laku, berjalan, dan membawa diri kita menurut roh perbauran dan bila kita meletakkan pikiran kita di atas roh, tidak membiarkan pikiran bertindak atau melakukan sesuatu menurut kehendaknya sendiri, maka kita akan menikmati penyaluran hayat oleh Kristus yang berhuni. Kita akan menikmati keselamatan Allah dan pengudusan yang berasal dari dijenuhi dengan hayat-Nya.