KONSEPSI DASAR KITAB ROMA
Kita telah membahas Kitab Roma secara umum dalam tiga puluh satu berita sebelumnya. Tetapi masih ada sejum-lah butir penting mengenai perkara hayat yang perlu di-bahas secara rinci. Mulai berita ini, kita akan melihat butir-butir ini satu demi satu, dengan tidak memperhatikan urutan pasal dari Kitab Roma, tetapi memperhatikan as-pek-aspek yang penting tentang hayat. Dalam berita ini kita akan melihat beberapa butir dasar dari Roma 5, 6, 7, dan 8.
Namun, sebelum kita sampai kepada butir-butir dasar ini, saya ingin mengatakan satu perkataan tentang konsep-si dasar dari kitab ini. Kitab Roma adalah satu kitab yang sangat panjang, yang memiliki 16 pasal. Tidak diragukan lagi, Paulus berusaha sebaik mungkin untuk memadatkan semua hal yang berhubungan dengan keselamatan Allah ke dalam pasal-pasal ini. Setiap tulisan ada konsepsi dasarnya di mana semua tulisan bergantung kepadanya. Ini juga ada-lah kesejatian dari Kitab Roma. Karena Kitab Roma adalah satu kitab yang panjang dan meliput banyak butir, maka kebanyakan pembaca sulit menemukan pemikiran dasarnya.
PEMIKIRAN DASAR KITAB ROMA
Banyak orang Kristen mengatakan bahwa pemikiran dasar Kitab Roma adalah dibenarkan oleh iman, dan yang lainnya mengatakan bahwa pemikiran dasarnya adalah keselamatan Allah. Sudut pandang ini memang tidak salah, tetapi tidak memadai. Pemikiran dasar kitab ini adalah bahwa Allah sedang membuat orang-orang dosa menjadi putra-putra, untuk membentuk satu Tubuh bagi Kristus sehingga Dia dapat diekspresikan. Kita orang-orang dosa adalah bahan dasar yang dipakai Allah untuk menghasil-kan banyak putra bagi diri-Nya sendiri. Paulus menerima wahyu tentang rencana kekal Allah, tujuan kekal Allah. Rencana kekal Allah adalah menghasilkan banyak putra bagi diri-Nya sendiri, melalui diri-Nya sendiri, menjadi hayat mereka. Ini berarti Allah bermaksud menggarapkan diri-Nya sendiri sebagai hayat ke dalam banyak orang dosa dan orang-orang dosa ini akan menjadi banyak putra-Nya, sete-lah mereka ditebus, diselamatkan, dan memiliki hayat-Nya. Setiap orang dosa yang telah dilahirkan dari Allah dan telah menerima hayat Allah menjadi salah satu dari putra-putra-Nya (Yoh. 1:12-13). Namun, hal ini masih belum me-rupakan sasaran akhir dari tujuan Allah. Sasaran akhir dari tujuan-Nya adalah membangun semua putra ini ber-sama-sama menjadi satu Tubuh untuk mengekspresikan Kristus. Allah sedang membuat orang-orang dosa menjadi putra-putra, untuk membentuk Tubuh ini, untuk mengeks-presikan Kristus. Ini adalah satu pernyataan yang penuh tentang konsepsi dasar Kitab Roma. Pemikiran ini ada di lubuk hati Paulus dan di dalam rohnya ketika ia menulis kitab ini. Tulisannya berdasar pada hal ini. Dengan memiliki konsepsi ini sebagai isi dasar Kitab Roma, Paulus membicarakan begitu banyak rincian yang berhubungan dengannya dalam enam belas pasal. Bila kita masuk ke dalam kitab ini, kita akan melihat bahwa kitab ini mewahyukan Allah sedang bekerja untuk membuat orang-orang dosa menjadi putra-putra, untuk membentuk Tubuh, untuk mengekspresikan Kristus.
BAGIAN-BAGIAN UTAMA
Sekarang kita perlu melihat bagian-bagian utama dari Kitab Roma. Tidak ada satu pun kitab lainnya dalam Alkitab yang terorganisir baik seperti Kitab Roma. Oleh karena itu, mudah untuk membaginya. Kitab ini dibagi dalam tiga bagian utama. Pasal 1—8 menyusun bagian yang pertama; pasal 9—11 menyusun bagian yang kedua; dan pasal 12—16 menyusun bagian yang ketiga. Dalam berita ini kita untuk sementara mengesampingkan bagian tengahnya dan hanya melihat bagian yang pertama dan bagian yang terakhir.
KESELAMATAN PERORANGAN
Bagian pertama berhubungan dengan keselamatan perorangan dari individu-individu yang percaya kepada Kristus. Dengan kata lain, ini adalah bagian tentang keselamatan perorangan. Dalam bagian ini kita tidak melihat Tubuh. Kita memiliki banyak saudara Kristus, tetapi memiliki sedikit anggota Tubuh. Dalam pasal 8, kita membaca tentang banyak saudara dari Putra sulung (ayat 29). Meskipun banyak saudara itu tidak diragukan lagi adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, tetapi pasal 8 tidak menyinggung bahwa banyak saudara itu adalah anggota, melainkan sebagai saudara dari Putra sulung. Konsepsi dalam pasal 8 ini belum mencapai tentang Tubuh. Ini ma-sih merupakan satu perkara tentang hayat ilahi yang menghasilkan banyak putra. Maka, banyak putra ini tidak disebut banyak anggota Tubuh Kristus, melainkan banyak saudara dari Putra sulung.
Dalam Perjanjian Baru, Putra Allah berhubungan dengan hayat. Jika Anda memiliki Putra Allah, Anda memi-liki hayat (1 Yoh. 5:11-12). Jika Anda tidak memiliki Putra, Anda tidak memiliki hayat. Karena kita memiliki hayat ilahi, maka kita telah menjadi saudara-saudara Putra sulung. Sekarang Allah bukan hanya memiliki Putra satu-satunya, Putra tunggal, melainkan juga memiliki banyak putra, saudara-saudara Putra sulung.
TUBUH, EKSPRESI KRISTUS
Bagian terakhir dari Kitab Roma, yaitu pasal 12—16, menyinggung tentang Tubuh, hidup gereja (church life). Banyak saudara dalam pasal 8, menjadi anggota-anggota Tubuh dalam pasal 12. Hal ini bukanlah perkara hayat — karena hayat dibahas sepenuhnya dalam bagian pertama — melainkan perkara fungsi. Menjadi seorang putra adalah perkara hayat, sedangkan menjadi satu anggota Tubuh adalah perkara fungsi. Kita semua harus berfungsi bersama-sama sebagai Tubuh untuk mengekspresikan Kristus.
Tubuh ini harus diekspresikan secara riil di dalam gereja-gereja lokal. Dengan kata lain, gereja-gereja lokal adalah ekspresi Tubuh Kristus yang riil. Tubuh Kristus adalah ekspresi Kristus, dan Kristus adalah ekspresi Allah. Allah terekspresi dalam Kristus, Kristus terekspresi dalam Tubuh, dan Tubuh terekspresi dalam gereja-gereja lokal. Karena itu, dalam pasal 16, kita memiliki gereja-gereja: gereja di Kengkrea (ayat 1); gereja di Roma, yang bersidang di rumah Priska dan Akwila (ayat 3, 5); gereja-gereja bangsa-bangsa (ayat 4); dan gereja-gereja Kristus (ayat 16). Kita sekarang berada dalam gereja-gereja. Haleluya! Tubuh ada dalam gereja-gereja, Kristus ada dalam Tubuh, dan Allah ada dalam Kristus. Betapa ajaibnya hal ini! Jika kita melihat hal ini, kita akan melihat konsepsi dasar kitab ini.
Perkara ini layak mendapatkan perhatian kita yang penuh. Bagian pertama Kitab Roma membahas keselamatan perorangan, dan bagian terakhir membahas tentang Tubuh, yang bukan perkara keselamatan perorangan, melainkan perkara fungsi. Bagian pertama adalah tentang keselamat-an perorangan, dan bagian terakhir adalah tentang fungsi yang korporat. Fungsi yang korporat ini adalah Tubuh, yang terekspresi dalam ratusan atau bahkan ribuan lokal sebagai gereja-gereja lokal. Inilah sebabnya mengapa Paulus menulis pasal 16 ini dengan cara yang demikian menakjub-kan, bukan dengan doktrin, melainkan dengan pengalaman yang riil, yaitu dengan memberikan salam. Melalui salam-nya, Paulus membuka satu jendela yang melaluinya kita dapat melihat gereja-gereja pada abad pertama. Roma 16 adalah satu jendela. Puji Tuhan untuk jendela ini! Tanpa pasal ini, kita tidak akan pernah dapat demikian jelas me-lihat apa yang sedang terjadi dalam gereja-gereja pada saat itu.
PERBUATAN-PERBUATAN KITA
DISINGKAPKAN
Sekarang marilah kita melihat beberapa perkara yang disinggung dalam bagian pertama. Dalam bagian ini, Paulus pertama-tama menyingkapkan perbuatan-perbuatan kita. Saya tidak mempunyai kata-kata untuk mengemukakan betapa kotor, jahat, gelap, dan buruknya hal-hal yang di-singkapkan oleh Paulus dalam pasal-pasal yang pertama dari kitab ini. Yang disingkapkan dalam pasal-pasal ini bukanlah orang-orangnya, melainkan perbuatan-perbuatan-nya. Kita harus memegang prinsip ini ketika memberita-kan Injil. Jangan terburu-buru menyingkapkan apa adanya seseorang. Pertama-tama Anda perlu menyingkapkan apa yang mereka lakukan perbuatan-perbuatan mereka, ting-kah laku, dan aktivitas mereka. Misalnya, sewaktu Anda memberitakan Injil, Anda boleh bertanya kepada seseorang apakah yang ia lakukan pada jam sepuluh kemarin malam. Kami telah berkali-kali melakukan hal ini. Suatu kali, se-waktu memberitakan Injil dalam penyertaan Roh Kudus, saya menunjuk seorang pelajar muda dan berkata, “Tahu-kah Anda apa yang telah Anda lakukan? Anda mencuri ka-pur milik sekolah dan membawanya pulang.” Ketika saya menunjuk dengan tangan saya kepadanya dan mengucap-kan kata-kata itu, ia berkata dalam hati, “Itu tidak berarti apa-apa.” Saya segera menjawab, “Anda mengatakan bahwa itu tidak berarti apa-apa?” Perkataan saya ini sangat me-ngejutkannya. Kemudian saya berkata, “Anda membawa kapur ke rumah dan menggambar lingkaran di lantai.” Ter-nyata, itulah yang sebenarnya ia lakukan. Setelah pemberi-taan itu, dialah orang pertama yang berdiri dan menerima Kristus. Dengan gemetar ia berkata, “Saudara Lee menunjukkan apa yang sesungguhnya aku lakukan. Aku mencuri kapur dari sekolah dan membawanya pulang. Ketika ia memberi tahu aku bahwa aku mengatakan hal itu tidak berarti apa-apa, itu sama seperti apa yang telah kukatakan dalam hati. Dan aku memang menggambar lingkaran, sama seperti yang ia katakan.” Orang muda ini disingkapkan dalam perbuatan-perbuatannya. Apakah Anda yakin Anda tahan disingkapkan oleh Allah? Jika Allah menyingkapkan semua hal yang telah kita lakukan dulu, kita tidak akan tahan terhadapnya, karena apa yang kita lakukan itu kotor, buruk, jahat, dan gelap.
TERSUSUN MENJADI ORANG-ORANG DOSA
Mulai Roma 5:12, Paulus tidak menyingkapkan apa yang telah kita lakukan, melainkan menyingkapkan apa adanya kita. Kita telah tersusun menjadi orang-orang dosa (5:19). Sebelum kita berbuat dosa, kita telah tersusun menjadi orang-orang dosa. Ambillah pohon apel sebagai contoh. Sebelum pohon itu menghasilkan buah apel, ia memang sebuah pohon apel. Pohon itu menghasilkan buah apel karena pohon itu adalah pohon apel. Jika pohon itu bukan pohon apel, pohon itu tidak akan menghasilkan buah apel. Demikian juga, kita berbuat dosa karena kita adalah orang dosa. Jangan mengira kita menjadi orang dosa karena kita berbuat dosa. Tidak, kita berbuat dosa karena kita adalah orang dosa; sama seperti pohon apel menghasilkan buah apel karena pohon itu adalah pohon apel. Jangan berkata, “Aku bukan orang dosa, karena aku tidak melakukan hal-hal yang jahat. Aku selalu baik.” Sekalipun Anda mungkin baik, Anda tetap adalah orang dosa, karena Anda lahir sebagai orang dosa. Anda bahkan telah tersusun sebagai seorang dosa sebelum Anda lahir. Ketika kita datang ke dunia, kita datang sebagai orang dosa. Jangan mengira bahwa Anda menjadi orang dosa setelah Anda lahir. Tidak, Anda telah lama tersusun men-jadi orang dosa di dalam Adam sebelum Anda lahir. Inilah konsepsi Paulus. Jadi, dalam tingkah laku kita, kita itu pe-nuh dosa, dan dalam diri kita, kita tersusun menjadi orang dosa.
Lagi pula, kita juga kehilangan (kekurangan) kemu-liaan Allah (Rm. 3:23). Pemikiran tentang kekurangan kemuliaan Allah mungkin bagi banyak orang kedengarannya asing. Tidak ada pemikiran yang demikian dalam konsepsi manusia. Orang-orang dapat memahami kita bila kita memberi tahu mereka bahwa perbuatan-perbuatan mereka itu penuh dosa, dan mereka dapat diyakinkan bahwa me-reka telah tersusun menjadi orang-orang dosa. Tetapi jika kita memberi tahu mereka bahwa sebagai yang tersusun menjadi orang dosa yang melakukan hal-hal yang jahat, mereka kekurangan kemuliaan Allah; mereka akan berka-ta, “Apa maksudnya? Apakah kemuliaan Allah itu?” Kemuliaan Allah adalah Allah itu sendiri terekspresi. Kapan saja Allah diekspresikan, kemuliaan Allah pun akan tertampak. Kita dijadikan oleh Allah menurut gambar-Nya, supaya kita dapat mengekspresikan kemuliaan-Nya. Tetapi kita telah berdosa. Sekarang bukannya mengekspresikan Allah, kita malah mengekspresikan dosa dan diri kita yang penuh dengan dosa. Maka, kita kekurangan kemuliaan Allah. Kita penuh dengan dosa dalam apa yang kita lakukan, kita tersusun menjadi orang-orang dosa dalam apa adanya kita, dan kita kekurangan kemuliaan Allah. Inilah keadaan kita, kondisi kita.
KEBENARAN ALLAH
DIPERHITUNGKAN KEPADA KITA
Bagaimana Allah dapat membuat orang-orang dosa menjadi putra-putra yang demikian? Dia dapat melakukan-nya hanya dengan tiga hal — dengan kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan-Nya. Dalam Kitab Roma, Paulus memberi tahu kita bahwa Allah telah mengenakan kebenaran-Nya kepada kita dan bahwa Dia telah memperhitungkan kebenaran-Nya sebagai milik kita (4:22-24). Ini berarti Allah telah memberikan kebenaran-Nya kepada kita. Karena kita mengenakan kebenaran Allah, maka kita dapat berkata, “Aku benar, karena aku berada dalam kebenaran Allah. Aku telah ditudungi sepenuhnya dengan kebenaran-Nya.” Bagaimana hal ini digenapkan? Bagaimana kebenaran Allah dapat diperhitungkan sebagai kebenaran kita? Melalui penebusan kematian Kristus. Karena kebenaran Allah telah diperhitungkan kepada kita melalui kematian Kristus, maka perbuatan-perbuatan kita yang penuh dosa telah dihapus dari perhitungannya, dan kebenaran Allah menudungi seluruh diri kita. Inilah kebenaran Allah yang diberikan kepa-da kita sebagai penudung kita melalui penebusan kematian Kristus. Kristus mati di kayu salib agar kita dapat mem-peroleh kebenaran Allah. Allah telah mengenakan kebe-naran-Nya kepada kita sama seperti bapa mengenakan jubah yang terbaik kepada anak hilang yang telah kembali itu. Dalam perumpamaan dalam Lukas 15 itu bapa menyuruh hamba-hambanya, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya” (ayat 22). Jubah itu melambangkan kebenaran Allah, yang adalah Kristus. Puji Tuhan bahwa kebenaran Allah telah dikenakan kepada kita! Kebenaran Allah menanggulangi semua yang telah kita la-kukan. Melalui penebusan kematian Kristus, hal ini telah digenapkan sepenuhnya.
KEKUDUSAN ALLAH
DIGARAPKAN KE DALAM KITA
Lagi pula, sekarang Allah sedang menggarapkan keku-dusan-Nya ke dalam kita. Kekudusan Allah tidak berada di atas kita; kekudusan ini digarapkan ke dalam kita. Ini bu-kan hanya suatu penudungan secara lahiriah, melainkan juga suatu penyaluran secara batiniah. Seperti yang telah kita lihat, kekudusan adalah sifat Allah. Allah menggarap-kan kekudusan-Nya ke dalam kita melalui menyalurkan sifat-Nya ke dalam kita. Dia melakukan hal ini melalui ma-suk ke dalam kita untuk menjadi hayat kita. Allah masuk ke dalam kita sebagai hayat, supaya Dia dapat menjenuhi semua bagian batin diri kita dengan apa adanya Dia. Sekarang Allah bahkan sedang menjenuhi setiap bagian dari diri kita dengan unsur-Nya. Dengan cara ini, Allah membuat kita menjadi kudus. Ini bukanlah kebenaran la-hiriah; ini adalah kekudusan yang batiniah. Ini bukan ha-nya membuat kita kudus secara posisi, tetapi juga secara watak (sifat). Inilah pengudusan.
Kebenaran Allah diperhitungkan kepada kita melalui penebusan kematian Kristus, dan sekarang kekudusan Allah sedang digarapkan ke dalam kita melalui Kristus hidup di dalam kita. Kristus mati di kayu salib agar kebenaran Allah dapat dikenakan kepada kita, dan Kristus hidup di dalam kita agar kekudusan Allah dapat digarapkan ke dalam kita. Saya memuji Tuhan bahwa saya dapat berdiri di sini dan bersaksi dengan tegas, “Melalui penebusan kematian Kristus, kebenaran Allah telah dikenakan kepadaku. Aku dapat berdiri di hadapan Allah tanpa takut. Aku sepenuhnya berada dalam damai sejahtera di hadirat Allah karena kebenaran-Nya ada padaku.” Saya juga dapat bersaksi bahwa kekudusan Allah sedang digarapkan ke dalam saya melalui Kristus hidup di dalam saya. Hari ini Kristus hidup di dalam saya untuk menjenuhi saya dengan semua apa adanya Allah. Saya secara berkesinambungan berada di bawah proses penjenuhan ini. Kapan saja saya berbicara kepada istri atau anak-anak saya, Kristus pun bekerja un-tuk menjenuhi, meresapi saya sepenuhnya dan mutlak. Hari demi hari sifat ilahi diinfuskan ke dalam saya untuk membuat saya menjadi kudus secara watak. Namun, saya harus mengakui bahwa meskipun pekerjaan ini terus ber-langsung dengan baik, hal ini masih belum selesai, karena masih ada bagian-bagian tertentu dari diri saya yang belum dijenuhi dengan sifat Allah. Infus ilahi ini masih terus ber-langsung.
Kadang-kadang, infus ini mungkin kelihatannya sementara saja, tidak dengan mendalam meresapi diri kita. Ini mungkin kelihatan seperti pelangi yang nampak di langit untuk beberapa menit saja. Jika Anda berusaha menemukannya, ia akan menghilang. Kekudusan kita kadang-kadang seperti ini. Kita mungkin kudus dan tersisihkan, tetapi hanya beberapa menit saja. Misalnya, seorang saudari mungkin sangat saleh setelah penyegaran pagi. Tetapi beberapa menit kemudian, ia mungkin bertindak seperti Iblis. Namun, meskipun kekudusan kita kelihatannya sementara saja, ini adalah satu fakta bahwa kita berada di bawah infus Allah, peresapan Allah. Pekerjaan penjenuhan-Nya terus berlangsung. Jangan putus asa. Lambat atau cepat, tingkah laku Anda yang seperti Iblis itu akan musnah. Waktunya akan tiba di mana Anda tidak akan dapat bertindak seperti Iblis lagi, bahkan sekalipun Anda berusaha sedapatnya. Anda akan menjadi orang yang sepenuhnya dikuduskan dengan sifat Allah.
DIMULIAKAN BERDASARKAN
KEMULIAAN ALLAH
Tetapi masih ada yang lebih baik daripada ini. Kita mungkin diresapi sepenuhnya dengan kekudusan Allah, na-mun masih belum berada dalam kemuliaan. Ingat, tahap terakhir dari pekerjaan Allah di dalam kita adalah supaya kita memperoleh kemuliaan (dimuliakan). Suatu hari, kita semua akan dimuliakan (Rm. 8:30). Kita telah dibenarkan dengan kebenaran Allah, kita sedang dikuduskan dengan kekudusan-Nya, dan kita akan dimuliakan dengan kemulia-an-Nya. Kita semua harus dibawa ke dalam kemuliaan. Sebagai putra-putra Allah yang dimuliakan, kita akan bersi-nar dengan kemuliaan Allah. Ini adalah keselamatan yang penuh bagi semua yang percaya kepada Kristus. Setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus pada akhirnya akan menjadi putra Allah yang dimuliakan, yang mengemban kebenaran Allah secara lahiriah, dijenuhi dengan kekudusan Allah secara batiniah, dan bersinar di dalam ruang lingkup kemuliaan-Nya yang sempurna sebagai salah satu dari putra-putra-Nya. Hari pemuliaan kita akan menjadi saat penyataan putra-putra Allah (Rm. 8:19). Pada waktu itu, kita semua akan masuk ke dalam kemerdekaan dan kemuliaan Allah (Rm. 8:21). Maka, tidak akan ada lagi belenggu, batasan, tekanan, atau penindasan. Sebaliknya, kita akan menikmati kebebasan penuh dan bersinar dengan kemuliaan Allah. Itu akan menjadi keselamatan yang sem-purna.
HATI ALLAH
Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita sebelumnya, setelah Paulus memperlihatkan kepada kita pekerjaan kebenaran Allah, penjenuhan kekudusan-Nya, dan pemuliaan kemuliaan-Nya, ia membawa kita masuk ke dalam hati Allah (Rm. 8:31-39). Allah melakukan begitu banyak hal bagi kita hanya karena Dia mengasihi kita. Dia mengasihi kita sampai kekal. Sejak kekekalan yang lampau, Allah telah mengasihi kita, dan hari ini Dia masih tetap mengasihi kita. Hati-Nya adalah tempat tinggal kita, perlindungan kita, dan kasih-Nya adalah keselamatan kita. Jangan ragu akan keselamatan pribadi Anda. Allah mengasihi Anda, dan Dia menjamin Anda bahwa Dia akan menggenapkan segala sesuatu bagi Anda. Jika Anda bekerja sama dengan Dia, Dia akan menggenapkan hal ini dengan lancar. Jika Anda tidak bekerja sama dengan Dia, Dia akan menghadapi beberapa kesulitan, tetapi akhirnya Dia akan menyelesaikannya. Meskipun Anda mungkin memberikan beberapa kesulitan kepada-Nya, Anda tidak dapat menghalangi Dia. Kesulitan itu tidak banyak artinya bagi-Nya. Lambat atau cepat, Anda akan berkata, “Bapa, aku menyembah Engkau karena Engkau mengasihi aku. Engkau memilih aku, menakdirkan aku, memanggil aku, dan membenarkan aku. Terpujilah Engkau, Tuhan, karena Engkau telah menguduskan aku dan bahkan memuliakan aku. Kini aku berada dalam kemuliaan.” Suatu hari kita semua akan berdoa dengan cara demikian. Kita tidak akan lagi memuji Tuhan untuk hal-hal seperti mobil dan rumah. Sebaliknya kita akan memuji Dia untuk kebenaran Allah, kekudusan Allah, kemuliaan Allah, dan kasih Allah. Inilah struktur dari delapan pasal yang pertama dari Kitab Roma.