BERKUASA DALAM HAYAT ATAS MAUT
Dalam dua berita sebelumnya kita telah melihat bahwa kita dapat berkuasa dalam hayat melalui anugerah atas dosa, maut, dan Iblis. Dalam berita ini kita akan melihat perkara berkuasa dalam hayat atas maut.
Namun, sebelum kita melihat hal ini, marilah kita mengulang kembali perbedaan antara dosa dengan kejahat-an dan antara anugerah dengan Roh itu. Dosa adalah sifat Iblis yang diinjeksikan ke dalam manusia, dan kejahatan adalah dosa dalam tindakan. Iblis menginjeksikan dirinya ke dalam manusia, itulah dosa. Tetapi dosa hadir dan ber-tindak di dalam kita, itu adalah kejahatan. Demikian juga, anugerah adalah Allah datang ke dalam manusia dan ter-wujud di dalam manusia. Tetapi tatkala anugerah itu hadir dan bertindak, ia menjadi Roh itu.
PEKERJAAN MAUT YANG SEKARANG
Alkitab mewahyukan bahwa maut berasal dari dosa. Se-perti dikatakan dalam Roma 6:23, “Sebab upah dosa ialah maut.” Ini berarti maut adalah akibat dari dosa. Mungkin saja pemahaman kita terhadap maut ini hanyalah doktrin belaka. Ketika saya muda, saya diajar bahwa ada dua kema-tian: Kematian fisik manusia dan lautan api, yang adalah kematian kedua. Dalam kehidupan sehari-hari saya tidak menganggap maut sebagai sesuatu yang di dalamnya saya terlibat secara subyektif. Namun, lambat laun saya mene-mukan bahwa dalam Alkitab ada sejumlah ayat yang me-nunjukkan bahwa maut sekarang sedang bekerja di dalam kita. Maut itu seperti seekor “ulat” yang terus-menerus sedang memakan kita. Dosa merusak kita, tetapi tidak me-makan kita. Maut adalah “ulat” yang memakan kita hari demi hari.
Maut memiliki sejumlah aspek, aspek yang sekarang dan aspek yang akan datang, aspek yang subyektif dan as-pek yang obyektif. Setelah masa seribu tahun, semua orang mati yang tidak percaya akan dibangkitkan dan akan ber-diri di hadapan takhta putih untuk dihakimi (Why. 20:12). Orang-orang yang namanya tidak ditemukan dalam kitab ke-hidupan akan dilemparkan ke dalam lautan api, yang ada-lah kematian yang kedua (Why. 20:15). Beban kita dalam berita ini bukanlah pada maut di masa yang akan datang, yaitu maut pada aspek obyektif; melainkan pada maut yang sekarang, maut pada aspek subyektif. Pada saat ini, unsur maut yang ada di dalam kita, sedang berusaha membunuh kita.
Dalam Roma 5—8, subyek tentang maut disinggung secara penuh. Dalam Roma 5, kita melihat bahwa maut masuk ke dalam dunia melalui dosa dan kemudian sampai kepada semua orang. Selain itu, ayat 14 menjelaskan bahwa maut juga berkuasa (memerintah). Dalam 6:21 dan 23, Paulus mengatakan bahwa kesudahan dari hal-hal yang membuat kita malu sekarang adalah maut dan maut adalah upah dosa. Roma 7 adalah satu pasal yang bukan hanya menyinggung tentang hukum, tetapi juga menyinggung tentang maut. Dalam ayat 10 dan 11, Paulus menyatakan, “Perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternya-ta bagiku justru membawa kepada kematian. Sebab dengan perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan dengan perintah itu ia membunuh aku.” Selain itu, dalam ayat 13, Paulus mengatakan bahwa dosa “mempergu-nakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku.” Karena itu dalam ayat 24, ia berseru, “Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Ma-ut yang dikatakan Paulus dalam pasal 7 bukanlah maut yang akan menimpa pada masa yang akan datang, mela-inkan maut yang sedang bekerja di dalam kita sekarang.
Keadaan Paulus dalam Roma 7 sangat berbeda dengan keadaan Daud dalam Mazmur 51. Mazmur 51 adalah se-buah mazmur tentang pertobatan setelah suatu tindakan dosa tertentu. Namun, dalam Roma 7, Paulus tidak bertobat karena ia telah berbuat dosa. Roma 7 tidak berhubungan de-ngan pertobatan, melainkan dengan maut, dengan pekerja-an maut yang terus-menerus di dalam Paulus. Pertobatan adalah bantuan yang besar bagi Daud dalam Mazmur 51, tetapi pertobatan ini tidak akan menjadi bantuan bagi Paulus dalam Roma 7. Pertobatan ini tidak dapat membe-baskan dia dari maut yang ada di dalam tubuh fananya.
SENGAT MAUT
Dalam 1 Korintus 15:55-56 Paulus berkata, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hu-kum Taurat.” Maut itu ibarat seekor kalajengking, dan dosa ibarat sengat kalajengking. Menurut Ibrani 2:14, ia yang berkuasa atas maut adalah Iblis. Sekali kita disengat oleh “kalajengking” maut ini, maka Iblis melaksanakan kuasa-nya untuk membunuh kita. Jadi, Iblis memiliki kuasa ma-ut, dan dosa adalah sengat maut. Setiap kali kita disengat oleh dosa, maka racun maut itu masuk ke dalam kita. Ha-silnya adalah pembunuhan rohani, kematian rohani.
SATU PERBEDAAN YANG TAJAM
Sampai butir ini, akan sangat membantu bila kita me-lihat satu perbedaan yang tajam di antara segi negatif dan segi positifnya. Iblis berlawanan dengan Allah. Tatkala Iblis diinjeksikan ke dalam manusia, maka sifat Iblis di dalam manusia itu menjadi dosa. Sebaliknya, Allah yang digarap-kan ke dalam manusia menjadi anugerah. Jadi, dosa berten-tangan dengan anugerah. Tatkala dosa hadir dan aktif di dalam kita, dosa itu menjadi kejahatan. Tetapi tatkala anu-gerah hadir dan aktif, maka anugerah itu menjadi Roh itu. Hasil dari aktivitas kejahatan adalah maut, sedangkan ha-sil dari aktivitas Roh itu adalah hayat. Karena itu, Iblis, dosa, kejahatan, dan maut, berlawanan dengan Allah, anu-gerah, Roh itu, dan hayat.
ROH ITU DAN PENGALAMAN HAYAT
Roma 8:2, yang menempatkan Roh dan hayat bersamasama, membicarakan tentang Roh hayat. Dalam prinsip yang sama, kita dapat membicarakan tentang “kejahatan maut”. Hayat adalah Allah hidup di dalam kita. Allah yang hidup di dalam kita adalah Roh itu. Ketika Allah sebagai sumber jauh dari kita, Dia adalah Bapa. Tetapi ketika Allah ini dengan riil datang untuk hidup di dalam kita, Dia adalah Roh itu. Namun, jika Roh itu hanya ada di dalam kita, tetapi tidak bekerja di dalam kita, maka kita tidak akan mengalami hayat. Sebagai kaum beriman, kita semua tahu bahwa Roh itu ada di dalam kita. Namun, tidak ba-nyak dari antara kita yang memiliki pengalaman yang kaya terhadap hayat ilahi ini. Jadi, meskipun kita memiliki Roh itu, kita masih tetap kekurangan hayat. Alasan untuk hal ini adalah karena Roh yang berhuni di dalam kita itu tidak memiliki banyak kesempatan untuk hidup di dalam kita. Ki-ta memiliki Roh itu di dalam kita, tetapi kita mungkin ti-dak memperhatikan-Nya dengan memadai. Kadang-kadang kita diduduki sepenuhnya dengan pekerjaan kita, sehingga kita tidak memiliki waktu untuk hal lainnya lagi. Demiki-an juga, kita mungkin diduduki di dalam diri kita, sehingga kita tidak memiliki waktu atau hati untuk Roh itu. Keli-hatannya kita sulit memiliki kapasitas untuk memberikan kedudukan kepada Roh itu. Seolah-olah kita berkata kepada Roh itu, “Aku sadar bahwa Engkau sangat berharga bagiku, tetapi aku tidak memiliki hati bagi-Mu.”
Banyak orang Kristen memegang konsepsi yang salah bahwa jika mereka mengabaikan Roh itu, maka Roh itu akan meninggalkan mereka. Namun, menurut Alkitab, se-kali Roh itu masuk ke dalam kita, Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Roh itu tidak menganggap diri-Nya sen-diri sebagai tamu di dalam kita, melainkan sebagai Peng-huni, sebagai Pemilik tempat kediaman.
Bertahun-tahun yang lalu saya membaca sebuah buku yang memuat gambar-gambar yang biasa dipakai untuk melambangkan Roh itu. Merpati, yang mewakili Roh itu, digambarkan sebagai yang masuk ke dalam orang-orang ke-tika mereka percaya kepada Tuhan dan terbang jauh bila mereka berdosa. Karena banyak orang Kristen China yang mencari Tuhan menerima sesuatu dari buku ini, maka ka-mi meluangkan banyak waktu untuk membuktikan bahwa pengajaran yang mengatakan bahwa Roh itu akan mening-galkan seorang beriman jika orang beriman itu berbuat do-sa itu salah. Efesus 4:30 mengatakan, “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Roh itu mungkin ber-duka di dalam kita, tetapi Dia tidak pernah meninggalkan kita. Roh itu tetap tinggal di dalam kita, tetapi Dia mung-kin tidak diberi kesempatan untuk hidup di dalam kita se-perti yang Dia dambakan. Jadi, kita memiliki Roh itu, te-tapi kita mungkin tidak memiliki hayat dalam pengalaman kita.
Ada orang mendengar bahwa kita dapat memiliki Roh itu tanpa mengalami hayat, mereka mungkin mendebat bahwa tidak mungkin memiliki Roh itu tanpa hayat. Na-mun, ini adalah satu fakta bahwa bila kita tidak membiar-kan Roh itu hidup di dalam kita, kita tidak memiliki hayat ilahi secara sesungguhnya dan secara riil, meskipun kita secara kedudukan dan secara nama memiliki hayat. Misal-nya, apakah Anda mengekspresikan hayat ilahi ketika Anda marah? Pada waktu marah-marah, Anda berada di dalam maut, bukan di dalam hayat. Secara doktrinal, setiap orang beriman memiliki hayat. Tetapi dalam realitasnya, hayat adalah Roh yang hidup. Jadi, hanya bila Roh itu hidup di dalam kita, juga berhuni di dalam kita, baru kita memiliki hayat secara pengalaman. Prinsip yang sama berlaku bagi Iblis, dosa, kejahatan, dan maut. Pertama-tama, Iblis ada-lah dosa di dalam kita, dan kemudian dosa itu aktif sebagai kejahatan. Hasilnya adalah maut. Pemahaman tentang hayat dan maut ini berdasar pada pengalaman kita.
PERASAAN MAUT
Iblis, yang memegang kuasa maut, telah menginjeksikan sifat jahatnya ke dalam kita sebagai dosa. Jadi, bahkan seorang bayi, yang kelihatannya tidak bersalah dan lucu pun, memiliki sifat dosa. Karena seorang anak lahir dalam dosa, maka dosa itu ada di dalam sifatnya. Namun, perlu waktu bagi dosa untuk muncul dalam perbuatan. Bersama berlalunya waktu, anak itu bertumbuh, maka sifat dosa ini menjadi nyata. Ketika dosa itu aktif di dalam dirinya, dosa itu menjadi kejahatan, dan hasil dari kejahatan itu adalah maut.
Sebagai kaum beriman dalam Kristus, setiap hari kita sendiri mungkin berada dalam pembunuhan maut. Dalam pengalaman kita, dosa itu menjadi kejahatan, dan kejahat-an menjadi maut. Misalnya, kita dapat dengan mudah ter-bunuh karena bergosip. Kita dapat mengenal gejala-gejala maut dan kapan maut itu bekerja di dalam kita. Beberapa dari gejala-gejala maut ini adalah kegelapan, kehampaan, tidak damai, dan kekeringan. Kita yang melayankan firman tahu bahwa adanya kematian di dalam kita dapat mengha-langi kita dalam berbicara. Jika saya marah sesaat sebelum saya menyampaikan firman, saya kesulitan berbicara dalam sidang itu. Darah bisa membasuh dan membersihkan saya, tetapi agar maut ditelan habis, itu memerlukan waktu. Kapan kala kita merasakan maut ada di dalam kita, kita harus datang kepada Tuhan, membiarkan Dia dengan tuntas me-nanggulangi masalahnya; kita bukan hanya mengalami pem-basuhan darah, tetapi juga pengurapan, yang adalah Roh itu yang hidup di dalam kita. Hasil dari pengurapan ini adalah hayat. Kemudian jika kita berbicara menurut Roh yang hi-dup ini, pembicaraan kita akan menjadi penuh dengan hayat.
Banyak saudari yang mati bukan hanya oleh gosip, me-lainkan juga oleh berbelanja. Para saudari yang menang dalam perkara berbelanja benar-benar berkuasa dalam ha-yat melalui anugerah. Berbelanja adalah ujian yang besar bagi para saudari. Karena alasan ini, seorang saudari sulit menjauh dari pusat perbelanjaan selama tiga bulan. Tetapi jika para saudari tidak mementingkan berbelanja, mereka akan melihat perbedaan yang besar terjadi dalam pengalam-an mereka terhadap hayat. Jika para saudari dapat menga-tasi perkara gosip dan berbelanja, mereka akan mengalir-kan hayat dalam sidang-sidang gereja.
Tujuan saya dalam memberikan contoh-contoh ini bukanlah untuk menanggulangi masalah berbelanja atau bergosip; melainkan untuk menanggulangi maut. Musa memberikan banyak peraturan kepada bani Israel. Kristus tidak memberikan peraturan-peraturan kepada kita; sebaliknya, Dia menyalurkan hayat ke dalam kita.
BEKERJA SAMA DENGAN
HUKUM ROH HAYAT
Roma 8:2 mengatakan, “Sebab hukum Roh hayat (yang memberi hidup) telah memerdekakan kamu dalam Kristus Yesus dari hukum dosa dan maut” (Tl.). Dalam pengalaman kita, kita mungkin menemukan bahwa hukum Roh hayat tidak selalu bekerja seefektif yang Paulus tunjukkan dalam ayat ini. Alasan untuk hal ini adalah karena kita ingin hukum hayat ini mengatasi hal-hal tertentu seperti amarah kita, tetapi kita tidak memberikan kesempatan kepada hu-kum hayat ini untuk melakukan apa saja yang ingin dilaku-kan-Nya di dalam kita. Karena kita membenci temperamen kita, lalu kita ingin agar hukum hayat ini mengatasinya. Karena itu, kita menunjuk hukum hayat untuk melakukan tugas ini. Tetapi kita tidak seharusnya menunjuk hukum hayat untuk melakukan hal-hal tertentu dan kemudian men-cegah hukum ini melakukan hal lainnya. Sebaliknya, kita harus memberikan kesempatan kepada hukum ini untuk bekerja menurut apa yang ia dambakan. Meskipun hukum Roh hayat ini satu, tetapi hukum ini mengendalikan ribuan butir. Misalnya, hukum ini akan mengendalikan cara kita memotong rambut kita dan cara kita menempuh hidup di rumah.
Jika kita tidak bekerja sama dengan hukum Roh hayat yang ada di dalam kita, kita akan segera mengalami maut. Dalam pandangan Allah, maut itu lebih buruk daripada dosa. Maut adalah kejijikan bagi Allah; dan Dia membenci-nya. Bergunjing mungkin bukan dosa, tetapi karena bergun-jing adalah perkara yang mendatangkan maut, bergunjing adalah jijik di mata Allah, adalah satu penghinaan bagi Allah yang hidup. Hari demi hari kita menghina Allah yang hi-dup yang menghuni kita. Karena ada begitu banyak orang Kristen yang mati di dalamnya, mereka tidak mungkin me-miliki pengalaman yang terus-menerus terhadap hayat ini.
MENJAMAH TAKHTA ANUGERAH
Untuk mengalami hayat sebagai Roh yang hidup di dalam kita, kita perlu datang kepada sumber hayat, yaitu Allah, Tuhan, di bawah pembasuhan darah penebusan Kristus dengan satu hati dan roh yang terbuka. Jika kita tetap terbuka kepada-Nya sepanjang waktu dan rela menyingkir-kan semua sekatan, arus listrik ilahi akan mengalir di da-lam kita. Dengan cara ini kita akan menerima anugerah. Seperti Ibrani 4:16 mengatakan, kita harus “dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita me-nerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” Anugerah berasal dari takhta anugerah. Karena itu, untuk memiliki anugerah ini, kita harus menjamah takhta anugerah. Jika kita melakukan hal ini, anugerah akan mengalir di dalam kita, dan kita akan di-penuhi dengan anugerah. Akhirnya, anugerah ini akan menjadi aktif sebagai Roh itu, dan Roh itu akan hidup di da-lam kita sebagai hayat. Kemudian kita akan berkuasa da-lam hayat atas maut.
MAUT DITAKLUKKAN DAN DITELAN OLEH HAYAT BUKAN CIPTAAN
Satu-satunya yang dapat menaklukkan maut adalah hayat Allah yang bukan ciptaan. Hayat kita, hayat ciptaan ini, tidak berdaya melawan maut. Namun, maut tidak da-pat melawan hayat ilahi yang dilambangkan oleh tulang-tulang Tuhan, yang tidak dipatahkan ketika Dia di kayu salib. Fakta bahwa prajurit-prajurit tidak mematahkan ka-ki Tuhan menunjukkan hayat-Nya yang bukan ciptaan itu tidak dapat dipatahkan. Bentuk hayat ciptaan seperti hayat sayuran, binatang, atau manusia, dapat dirusak oleh maut. Tetapi hayat yang bukan ciptaan yang unik ini tidak dapat dirusak olehnya.
Sama seperti terang menelan kegelapan, demikian juga hayat yang bukan ciptaan ini menelan maut. Kegelapan ha-nya dapat diatasi oleh terang. Kita tidak perlu berusaha mengenyahkan kegelapan, melainkan hanya perlu menyala-kan terang saja. Segera setelah terang datang, kegelapan pun sirna. Sama prinsipnya, kapan saja hayat yang bukan ciptaan ini masuk, maut akan lenyap. Maut takut kepada hayat yang bukan ciptaan. Untuk berkuasa dalam hayat, kita perlu kelimpahan anugerah dan Roh yang hidup. Sela-ma kita memiliki hayat ilahi, setiap jejak maut akan sirna.
Kita tidak perlu berusaha mengatasi temperamen kita, berbelanja kita, atau gosip kita. Sebaliknya kita hanya per-lu membuka diri kita kepada Allah dan membiarkan anu-gerah-Nya mengalir melalui kita dan memenuhi kita. Anu-gerah yang mengalir ini akan menjadi aktif sebagai Roh itu yang akan menjadi hayat di dalam kita. Hayat ini kemu-dian akan menaklukkan maut dan menelannya. Inilah yang dimaksud dengan berkuasa dalam hayat atas maut.