ARTI BERKUASA DALAM HAYAT
Maksud Allah dalam penciptaan-Nya terhadap manusia adalah agar manusia memiliki gambar-Nya untuk meng-ekspresikan Dia, dan memiliki pemerintahan atau kuasa-Nya untuk mewakili Dia. Ini berarti Allah menghendaki manusia menerima Dia sebagai hayat dan berkuasa (mera-ja) dalam hayat ini. Menurut Kejadian 1, manusia akan berkuasa atas bumi, khususnya atas binatang melata, yaitu atas ular. Kejadian 1:28 mengatakan bahwa Allah membe-rikan amanat kepada manusia untuk memerintah bumi, me-naklukkan bumi. Menaklukkan sesuatu itu mencakup me-ngalahkan musuh dan merebut harta bendanya. Dengan mengalahkan musuh dan mengambil harta bendanya, kita akan memerintah atasnya. Karena itu, pada mulanya, Allah ingin manusia menjadi raja dalam hayat-Nya atas Iblis, bi-natang melata.
ANUGERAH DAN DOSA
Iblis adalah musuh Allah satu-satunya. Pada suatu waktu, musuh ini menginjeksikan dirinya sendiri ke dalam manusia dengan cara yang tidak sah dan jahat. Ketika Iblis menginjeksikan sifat jahatnya ke dalam manusia, Iblis ini menjadi dosa. Dosa adalah sesuatu yang dimulai oleh Iblis. Dosa sebenarnya adalah Iblis itu sendiri yang diinjeksikan ke dalam manusia dan berinkarnasi di dalam manusia.
Adalah sangat membantu bila kita melihat perbedaan antara dosa dan kejahatan, yang keduanya disinggung da-lam Roma 7. Dalam 7:20, Paulus berkata, “Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku.” Di dalam daging kita berhuni sesuatu yang disebut dosa. Dalam ayat 21, Paulus berkata, “Demikianlah aku da-pati hukum ini: Jika aku ingin melakukan apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.” Dalam ayat 20, Paulus mem-bicarakan tentang dosa, sedangkan dalam ayat 21 membica-rakan tentang yang jahat.
Untuk memahami perbedaan antara dosa dan kejahatan, kita perlu melihat bahwa sebelum penciptaan manusia, Allah memiliki satu musuh, yaitu Satan, Iblis. Kemudian Allah menciptakan manusia. Saat diciptakan, manusia itu murni, bersih, dan tidak ada kesalahan. Kemudian Iblis menginjeksikan dirinya ke dalam manusia dan menjadi do-sa di dalam manusia. Seperti yang telah kita tunjukkan, dosa adalah Iblis yang berinkarnasi di dalam manusia.
Roma 5:21 membicarakan tentang dosa, anugerah, ma-ut, dan hayat: “Supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian anugerah akan berkuasa oleh (mela-lui) pembenaran untuk hidup yang kekal, melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.” Menurut ayat ini dosa berkuasa da-lam maut dan anugerah berkuasa agar orang memperoleh hayat yang kekal. Di sini kita melihat satu perbedaan yang jelas antara berkuasanya dosa dengan berkuasanya anuge-rah. Juga ada perbedaan yang kontras di sini antara maut dengan hayat. Sebagaimana dosa adalah Iblis yang berin-karnasi, demikian juga anugerah adalah Allah yang berin-karnasi. Inilah yang dibuktikan oleh Yohanes 1:14, yang mengatakan bahwa Firman itu, yang adalah Allah, telah menjadi daging, penuh anugerah dan realitas. Jadi, anugerah adalah Allah berinkarnasi di dalam kita. Anugerah adalah Allah yang masuk ke dalam manusia. Jika Allah tetap ting-gal di luar manusia, tidak ada anugerah. Kalaupun atribut-atribut ilahi lainnya bisa ada tanpa Allah masuk ke dalam manusia, tetapi anugerah tidak bisa ada tanpa inkarnasi Allah di dalam manusia. Bila Allah dan manusia datang bersama-sama dengan cara berbaur, maka ada anugerah. Meskipun sulit untuk menemukan satu ayat dalam Alkitab yang membicarakan tentang anugerah di luar hubungan an-tara Allah dengan manusia, namun ada banyak ayat dalam Alkitab yang memperlihatkan bahwa anugerah adalah per-kara tentang hubungan Allah dengan manusia.
Sama prinsipnya, bila Iblis dipisahkan dari manusia, maka tidak ada dosa. Tetapi begitu Iblis masuk ke dalam ki-ta, di dalam kita ada dosa. Karena itu, dosa adalah Iblis yang berhubungan dengan manusia secara subyektif. Beta-pa berharganya pemahaman tentang anugerah dan dosa ini!
DOSA DAN KEJAHATAN
Jika kita memiliki pemahaman semacam ini, kita akan dapat melihat perbedaan antara dosa dengan kejahatan. Jika dosa ini tidur di dalam kita, itu hanyalah dosa saja. Tetapi kapan kala kita berkehendak untuk berbuat baik dengan memelihara hukum Taurat guna menyenangkan Allah, dosa akan bangkit dan menjadi kejahatan. Kejahatan adalah dosa yang bertindak di dalam kita. Kapan kala dosa yang berhuni ini menjadi aktif, dosa ini menjadi kejahatan yang ada bersama dengan kita. Dosa adalah yang berhuni, sedangkan kejahatan adalah yang bertindak, yang aktif. Dosa adalah Iblis yang berhuni di dalam kita, sedangkan ke-jahatan adalah Iblis yang bertindak di dalam kita. Karena itu dosa dan kejahatan adalah Iblis itu sendiri. Iblis yang berhuni di dalam kita adalah dosa, dan Iblis yang bertindak di dalam kita adalah kejahatan. Iblis, dosa, dan kejahatan menunjukkan satu hal dalam tiga tahap.
TIGA MUSUH ALLAH
Roma 5:12 mengatakan, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan mela-lui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menja-lar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Ayat ini mewahyukan bahwa dosa membawa masuk maut. Menurut Ibrani 2:14, ia yang berkuasa atas maut ada-lah Iblis. Dua ayat ini menunjukkan bahwa dosa dan maut berhubungan dengan Iblis. Iblis, dosa, dan maut adalah tiga musuh Allah. 1 Korintus 15:26 mengatakan bahwa maut adalah musuh yang terakhir. Dalam Kejadian 1, Allah memiliki musuh satu-satunya, yaitu Iblis. Tetapi setelah manusia jatuh, dosa dan maut menjadi musuh-mu-suh-Nya juga.
Ketika saya masih muda, saya menganggap maut adalah sesuatu di masa yang akan datang; saya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah ada pada hari ini.
Tetapi 1 Yohanes 3:14 membuatnya jelas, kita mungkin berada di dalam maut pada hari ini: “Siapa yang tidak me-ngasihi, ia tetap di dalam maut.” Ayat ini tidak mengata-kan bahwa siapa yang tidak mengasihi, ia akan mati, me-lainkan mengatakan bahwa siapa yang tidak mengasihi, bahkan sekarang pun sudah tinggal di dalam maut. Jika kita tidak berada dalam hayat, kita sesungguhnya berada di dalam maut. Roma 8:6 juga membuktikan bahwa hari ini kita dapat berada di dalam maut: “Karena meletakkan pi-kiran di atas daging adalah maut, tetapi meletakkan pikir-an di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera” (Tl.).
ROH ITU — ALLAH YANG HIDUP
DI DALAM KITA
Roma 8:2 mengatakan, “Sebab hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu di dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Tl.). Dalam ayat ini kita memiliki hu-kum, dosa, dan maut yang berlawanan dengan hukum, Roh, dan hayat. Hayat adalah lawan dari maut, dan Roh itu adalah lawan dari dosa. Dosa adalah Iblis yang terwujud di dalam kita, dan Roh itu adalah Allah yang hidup di da-lam kita. Allah yang terwujud di dalam kita adalah anuge-rah, tetapi Allah yang hidup di dalam kita adalah Roh itu. Jadi, anugerah dalam Roma 5 adalah Roh itu dalam Roma 8. Dalam pasal 5 ada perkara anugerah lawan dosa, sedang-kan pasal 8 membicarakan Roh itu lawan dosa. Roma 8:2 tidak membicarakan hukum anugerah hayat, melainkan hukum Roh hayat. Ketika Allah terwujud di dalam kita, ada-lah anugerah kita. Ketika Dia hidup di dalam kita, adalah Roh itu. Dalam Ibrani 10:29, Roh itu disebut Roh anugerah. Roh itu adalah Allah yang terwujud di dalam kita sebagai anugerah, yang hidup dan bertindak di dalam kita.
PEKERJAAN MUSUH ALLAH
Dalam Kitab Roma kita tidak dapat menemukan Allah memiliki musuh lainnya selain Iblis, dosa, dan maut. Roma 16:20 mengatakan, “Allah, sumber damai sejahtera, segera menghancurkan Iblis di bawah kakimu.” Setelah mengata-kan Iblis akan dihancurkan di bawah kaki kita oleh Allah sumber damai sejahtera, Paulus segera berkata dalam ayat yang sama, “Anugerah Yesus, Tuhan kita, menyertai ka-mu!” Bila Iblis dihancurkan, anugerah akan menyertai kita.
Dalam satu hal, Iblis, musuh Allah hari ini menang se-bagai dosa dan sebagai kejahatan untuk membawa orang-orang ke dalam maut dan mengurung mereka di sana. Ini-lah kejahatan pekerjaan musuh Allah. Iblis tidak puas ha-nya menghasut kita dalam hal marah. Tujuannya adalah membawa kita ke dalam maut. Tetapi Allah sedang bekerja sebagai hayat untuk mengalahkan dosa, maut, dan Iblis. Hasil dari Allah mengalahkan ketiga musuh ini adalah kita berkuasa dalam hayat.
KEMENANGAN DAN KEKUASAAN
Dalam Roma 5 kita memiliki satu pembukaan untuk perkara berkuasa dalam hayat. Seperti yang ditunjukkan dalam ayat 17, kita yang menerima kelimpahan anugerah akan berkuasa dalam hayat. Pasal 6—16 mendefinisikan arti berkuasa dalam hayat kepada kita. Berkuasa dalam ha-yat adalah berjalan dalam kebaruan hayat (6:4). Dalam pasal 7, kita melihat satu gambaran tentang orang yang kesulitan dengan dosa dan maut dan seorang tawanan di dalam ma-ut. Orang ini berseru dalam keputusasaannya, “Aku, manu-sia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (ayat 24). Tetapi dalam pasal 8, orang ini dibe-baskan oleh hukum Roh hayat dari hukum dosa dan maut. Dalam pasal 7, ada suatu peperangan, tetapi dalam pasal 8, ada kemenangan dan kekuasaan. Dalam 6:14, kita diberi tahu bahwa dosa tidak seharusnya berkuasa atas kita, ka-rena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, melainkan di bawah anugerah. Karena kita berada di bawah anugerah, dosa tidak seharusnya berkuasa lagi sebagai raja atas kita. Dosa tidak seharusnya berkuasa sebagai tuan atas kita, karena Allah telah masuk ke dalam kita sebagai anugerah.
PROSES MENJADI RAJA
Hari ini kita berada dalam proses menjadi raja-raja. Pengudusan adalah bagian dari proses ini. Proses ini juga meliputi transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan. Hari ini kita berada dalam perjalanan menuju kerajaan. Akhir-nya, kerajaan akan menjenuhi seluruh diri kita dan akan dinyatakan. Pada waktu itu, kita akan berkuasa dalam ha-yat secara penuh.
Berkuasa dalam hayat bukan berarti mengendalikan istri atau anak-anak Anda. Anda mungkin mengatur anak-anak Anda, tetapi Anda mungkin bukan menjadi raja. Memerintah atas orang lain adalah pandangan kerajaan manusia pada umumnya. Pemahaman yang tepat tentang berkuasa dalam hayat adalah bahwa kita berkuasa dalam hayat ilahi atas dosa, maut, dan Iblis, yang akhirnya akan dihancurkan di bawah kaki kita. Untuk berkuasa dalam hayat dengan cara ini, kita perlu dikuduskan, ditransforma-si, diserupakan, dan dimuliakan. Kita memiliki hayat yang menjadi raja di dalam kita, tetapi hayat ini belum sepenuh-nya leluasa di dalam kita. Sebaliknya, hayat ini terbatas di dalam roh kita saja. Manusia lahiriah kita belum dikudus-kan. Untuk dikuduskan, kita perlu dijenuhi dengan hayat yang menjadi raja ini yang sekarang ada di dalam roh kita. Satu-satunya jalan agar jiwa dan tubuh kita dikuduskan adalah dijenuhi sepenuhnya dengan hayat batiniah, hayat yang menjadi raja ini. Hayat yang menjadi raja ini bukan hanya menguduskan kita, juga menyerupakan kita dengan gambar Putra Sulung Allah. Inilah penyerupaan. Lagi pula, sewaktu kita dijenuhi dengan hayat yang menjadi raja ini, kita juga ditransformasi. Transformasi adalah cara lain da-lam membicarakan tentang pengudusan. Akhirnya, tubuh ki-ta yang rendah ini akan ditransfigurasi, yaitu, akan dijenuhi dan diresapi sepenuhnya dengan kemuliaan hayat Allah yang menjadi raja ini. Maka seluruh diri kita akan dijenuhi dan diresapi dengan hayat yang menjadi raja ini. Hayat yang menjadi raja ini akan diekspresikan sepenuhnya pada waktu kita dinyatakan sebagai putra-putra Allah. Pada waktu itu, kita akan berkuasa bukan hanya oleh hayat ba-tiniah, melainkan juga oleh kemuliaan yang lahiriah.
BERKUASA DALAM HAYAT BERHUBUNGAN DENGAN KESATUAN
Berkuasa dalam hayat juga berhubungan dengan kesatuan kita dengan orang-orang kudus. Kesatuan ini bukan hanya perkara berkumpul beberapa kali seminggu dan mengumumkan bahwa kita adalah satu. Kemah Pertemuan dalam Perjanjian Lama adalah gambaran dari kesatuan se-jati yang untuknya Tuhan berdoa dalam Yohanes 17. Ke-mah Pertemuan dibangun dengan empat puluh delapan pa-pan yang dilapisi dengan emas. Papan-papan itu disangga oleh palang emas melalui gelang-gelang emas yang terikat pada papan itu. Inilah caranya empat puluh delapan papan itu menjadi satu. Ini adalah bangunan, bangunan keinsa-nian dalam keilahian. Papan kayu melambangkan ke-insanian, dan emas yang melapisi papan itu melambangkan keilahian. Semua papan itu dilapisi emas dan dihubungkan dengan emas. Inilah kesatuan yang sejati.
Jika orang-orang Kristen benar-benar menjadi satu, mereka tidak seharusnya hanya berkumpul bersama, tetapi juga dibangun bersama-sama dalam hayat ilahi. Kesatuan yang sesungguhnya adalah bangunan. Ini adalah suatu hal yang lebih jauh daripada sekadar mengasihi satu sama la-in. Untuk menjadi satu, kita bukan hanya perlu mengasihi satu sama lain, tetapi juga perlu dilapisi dengan emas dan diikat bersama dengan palang emas. Kita perlu dibangun bersama dalam emas, yaitu dalam sifat Allah. Inilah kesa-tuan yang Tuhan doakan dalam Yohanes 17.
Ini juga adalah keesaan yang ada dalam Roma 12—16. Dalam 12:5, Paulus berkata, “Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” Papan-papan di dalam Kemah Pertemuan itu juga menggambarkan bagaimana kita adalah anggota yang se-orang terhadap yang lain. Lebar setiap papan adalah satu setengah hasta. Dalam Alkitab, tiga adalah angka dasar da-lam pembangunan Allah. Misalnya, dalam ukuran bahtera yang dibangun oleh Nuh, terdapat angka tiga. Bahtera itu memiliki tiga tingkat, dan panjangnya tiga ratus hasta. Karena tiga adalah unit dasar dalam pembangunan Allah, maka satu setengah hasta itu menunjukkan setengah unit. Ini berarti dalam pembangunan Allah, kita sendiri bukan-lah satuan yang lengkap. Setiap kita hanyalah setengah unit. Ini berarti Anda memerlukan orang lain dan bahwa orang lain juga memerlukan Anda. Jika kita benar-benar adalah anggota yang seorang terhadap yang lain, kita akan menjadi seperti papan yang diikat bersama-sama. Tidak peduli bagaimana kita merasakan tentang “papan” yang dengannya kita dihubungkan, kita tidak boleh memisahkan diri kita darinya. Jika kita memisahkan diri kita, ini me-nunjukkan bahwa kita belum pernah benar-benar dibangun menjadi gereja. Jika kita sudah dibangunkan, tidak mung-kin kita mengeluarkan diri kita darinya.
Menjadi satu dengan orang-orang kudus di dalam ba-ngunan ini adalah aspek dari berkuasa dalam hayat. Me-mang sulit untuk mengatasi temperamen kita, tetapi jauh lebih sulit lagi untuk mengatasi sifat kita yang memecah belah. Bertahun-tahun yang lalu saya sadar bahwa sebagai seorang manusia saya harus menjadi orang Kristen dan sebagai orang Kristen saya harus berada di dalam gereja. Inilah jalan yang terbaik bagi saya untuk tetap berada di dalam Tuhan. Karena itu, saya membuat satu keputusan yang tegas bahwa meskipun saya tidak selalu senang de-ngan hal-hal yang ada dalam hidup gereja, saya akan tetap tinggal dalam hidup gereja dan menjadi satu dengan orang-orang kudus. Memelihara kesatuan adalah berkuasa dalam hayat. Hanya dalam hayat ilahi, bukan dalam hayat insani kita, kita dapat memelihara kesatuan yang sejati. Dalam hayat ilahi kita memiliki anugerah, Allah yang terwujud di dalam kita, dan juga Roh yang hidup. Dalam Roh inilah kita hidup dan berkuasa dalam hayat.