← Daftar isi Roma (3) · bab 14/19

DISELAMATKAN DALAM HAYAT DARI RUPA-DIRI (2)

Roma 1:4 mengatakan bahwa Yesus Kristus “dinyata-kan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa.” Keilahian dan kemulia-an Kristus sebagai Putra Allah tersembunyi dalam tubuh daging-Nya. Tidak ada seorang pun yang memiliki visi yang dapat menembus melalui tubuh daging-Nya untuk menam-pak bahwa Dia adalah Putra Allah yang mulia. Tetapi se-telah Dia melalui proses kematian dan kebangkitan, Dia dinyatakan sebagai Putra Allah, yaitu, Dia ditunjuk dan dinyatakan untuk menjadi Putra Allah.

DINYATAKAN MENURUT ROH KEKUDUSAN

Penyataan ini adalah menurut Roh kekudusan. Roh kekudusan di sini berlawanan dengan daging dalam ayat 3, yang membicarakan tentang Kristus sebagai keturunan Daud menurut daging. Sebagaimana daging dalam ayat 3 mengacu kepada esens insani Kristus, demikian juga Roh itu dalam ayat ini bukan mengacu kepada Persona Roh Kudus Allah, melainkan mengacu kepada esens ilahi Kristus, yang adalah “kepenuhan keilahian” (Kol. 2:9). Esens ilahi Kristus, adalah Allah Roh itu sendiri (Yoh. 4:24), yang kudus, yang penuh dengan sifat dan mutu yang kudus. Karena itu, dalam daging, Kristus dinyatakan atau ditunjuk melalui kebangkitan menurut esens yang kudus dan ilahi ini.

Melalui kebangkitan-Nya, Kristus menjadi Putra sulung Allah, yang penuh dengan esens kekudusan Allah, bukan hanya dalam roh-Nya, tetapi juga dalam tubuh-Nya. Sebe-lum kematian dan kebangkitan-Nya, kekudusan Allah ada dalam roh Kristus, tetapi esens kudus ini belum dinyatakan dalam daging-Nya. Dengan kata lain, esens ini belum me-resapi daging-Nya. Melalui kematian dan kebangkitanlah esens kudus Allah ini menjenuhi tubuh jasmani Tuhan Yesus.

SEGALA SESUATU BEKERJA UNTUK

MENTRANSFORMASI KITA SECARA METABOLIK

Roma 8:29 mengatakan, “Sebab semua orang yang dipi-lih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari se-mula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, su-paya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Fakta bahwa ayat 29 dimulai dengan ka-ta “sebab” menunjukkan bahwa ayat ini adalah lanjutan dari ayat 28, yang mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Seperti yang akan kita lihat, Allah membuat segala sesuatu bekerja sama untuk penyataan kita sebagai putraputra Allah.

Kita telah melihat bahwa Kristus dinyatakan sebagai Putra Allah menurut esens kekudusan ilahi melalui proses kematian dan kebangkitan. Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, kita memiliki Putra Allah di dalam roh kita. Pada saat kita diselamatkan, Dia ditaburkan ke dalam ki-ta. Sekali lagi Putra Allah tersembunyi dalam keinsanian, kali ini dalam hayat insani kita, dalam keinsanian kita, da-lam daging kita. Tidak diragukan lagi bahwa Putra Allah sebagai esens kekudusan ilahi ada di dalam setiap orang yang percaya. Tetapi esens kudus ini tersembunyi dan terba-tasi dalam manusia alamiah kita. Karena alasan ini, Allah membuat segala sesuatu bekerja sama untuk mendatang-kan kebaikan bagi kita. Dengan cara inilah kita diproses, yaitu, kita ditransformasi secara metabolik. Istri atau suami kita, anak-anak kita, dan lingkungan kita, semuanya ada-lah yang terbaik untuk proses ini. Tuhan Yesus telah mela-lui proses kematian dan kebangkitan, dan sekarang kita se-dang diproses melalui segala sesuatu yang bekerja sama ini.

Segala sesuatu bekerja sama untuk mentransformasi kita secara metabolik. Kristus sebagai benih yang organik, esens yang organik di dalam roh kita harus meresapi dan menjenuhi seluruh diri kita. Akhirnya keinsanian kita akan dijenuhi dengan esens ilahi ini. Penjenuhan ini adalah pe-ngudusan, juga merupakan suatu penyataan. Suatu unsur organik sedang bekerja di dalam kita untuk mentrans-formasi kita dengan meresapi dan menjenuhi kita dengan esens kekudusan ilahi, yang sebenarnya adalah Putra Allah itu sendiri.

TRANSFORMASI YANG ORGANIK

Ini bukan hanya satu perubahan yang di luar. Konsep-si perubahan yang di luar itu berasal dari etika dan agama. Konsepsi ilahi bukanlah mengoreksi kita secara lahiriah, melainkan mentransformasi kita secara batiniah dan secara organik dengan Kristus sendiri sebagai esens yang kudus. Proses metabolisme yang rohani ini melibatkan peresapan dan penjenuhan. Entah kita menyadarinya atau tidak, su-atu proses metabolik sedang terjadi di dalam diri kita. Mi-salnya, setelah kita makan, lambung kita mulai bekerja terhadap makanan itu secara organik untuk mencernanya sehingga makanan itu kemudian dapat diasimilasi. Hal ini akan terjadi tidak peduli kita merasakannya atau tidak, kita menyetujuinya atau tidak. Demikian juga, kita semua berada di bawah proses pengudusan Allah, entah kita me-nyadari hal itu atau tidak. Semakin lama kita tinggal dalam hidup gereja dan semakin kita menjadi satu dengan gereja, kita akan semakin dikuduskan. Akhirnya melalui proses pengudusan ini, kita semua akan berada di dalam Yerusalem Baru.

Tidak perlu berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan mau mentransformasi kita. Doa yang demikian mungkin membantu pencernaan rohani Anda, tetapi sebe-narnya tidak mempengaruhi proses penjenuhan ini. Tinggal saja dalam hidup gereja, dan Anda akan ditransformasi menjadi batu yang berharga.

PENYERUPAAN BAGI PEMULIAAN

Untuk diselamatkan dari rupa-diri kita, dari ekspresi ego ini, kita memerlukan penyerupaan bagi pemuliaan. Untuk melihat perkara ini dengan jelas, kita perlu meng-gabungkan 1:4 dengan 8:29. Seperti yang telah kita tunjuk-kan dalam berita sebelumnya, dalam 1:4 kita memiliki ben-tuk prototipe ini, tetapi dalam 8:29, kita memiliki pekerjaan “reproduksi massal”. Dalam 1:4 kita memiliki penyataan Putra Allah secara individual, sedangkan dalam 8:29 kita me-miliki penjenuhan, pengudusan, penyataan, dan penyerupa-an banyak putra secara korporat. Prinsip yang sama ber-laku bagi keduanya.

Mengenai Tuhan Yesus, Roh kekudusan ada di dalam Dia sebelum kematian dan kebangkitan-Nya. Roh kekudus-an ini adalah esens kekudusan ilahi. Melalui proses kema-tian dan kebangkitan, esens yang kudus ini menjenuhi dan meresapi insani Tuhan, termasuk daging-Nya. Sebagai ka-um beriman dalam Tuhan Yesus, kita juga memiliki esens kekudusan ilahi, yang adalah Roh kekudusan, yaitu Kristus, di dalam roh kita. Karena esens yang kudus ini masih ter-sembunyi dalam keinsanian kita, maka kita perlu melalui proses di bawah pengaturan kedaulatan Allah yang akan membuat esens ini menjenuhi seluruh diri kita. Untuk menggenapkan proses ini, kita perlu banyak hal untuk be-kerja sama demi kebaikan kita. Dalam hidup gereja, kita saling membantu memproses seorang dengan yang lainnya. Kalian adalah bagian dari proses ini bagi saya, dan saya ju-ga adalah bagian dari proses ini bagi kalian. Untuk dipro-ses, kita memerlukan satu sama lain. Di luar belas kasihan dan anugerah Tuhan, kita akan sulit memikul satu dengan yang lainnya. Puji Tuhan, kita semua sedang memproses satu sama lain untuk dinyatakan sebagai putra-putra Allah!

Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang saudara; ia sangat ramah dan penuh kasih secara alamiah. Beberapa tahun kemudian, saya memperhatikan bahwa ada satu perubahan yang riil telah terjadi di dalam dirinya. Ha-ri ini setelah diproses bertahun-tahun, saudara ini bukan hanya seorang yang ramah, tetapi juga seorang yang telah diresapi dan dijenuhi. Perubahan demikian terjadi dalam diri saudara ini melalui diproses dalam hidup gereja.

Tidak ada seorang pun di antara kita dapat tinggal da-lam hidup gereja dan tetap sama saja, karena dalam hidup gereja kita berada di bawah proses pengudusan, transformasi, dan pemuliaan. Kita sedang berangsur-angsur ditransfor-masi dan diserupakan dengan gambar Putra Allah, bukan menurut pengajaran, peraturan, atau tata cara, melainkan menurut Roh kekudusan. Esens ilahi ini, yang adalah Putra Allah itu sendiri, sedang bekerja di dalam kita secara organik untuk mentransformasi kita dengan meresapi dan menjenuhi seluruh diri kita.

MEMBAWA BANYAK PUTRA

KE DALAM KEMULIAAN

Ibrani 2:10 mengatakan bahwa Allah akan membawa banyak putra ke dalam kemuliaan (Tl.). Ayat ini menunjuk-kan bahwa kita sedang berada dalam perjalanan untuk dimuliakan, karena sekarang Bapa sedang memimpin kita ke dalam kemuliaan. Ayat 11 memperlihatkan cara Bapa membawa banyak putra ke dalam kemuliaan: “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, semuanya berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.” Dia yang akan menguduskan kita adalah Kristus sebagai Putra sulung Allah, dan orang-orang yang sedang dikuduskan adalah kaum beriman dalam Kristus se-bagai banyak putra Allah. Mengatakan bahwa Dia dan kita semua berasal dari Satu, itu mengacu kepada Bapa sebagai sumber. Putra sulung dan banyak putra Allah lahir dari Bapa yang sama dalam kebangkitan (Kis. 13:33; 1 Ptr. 1:3). Karena itu, Putra sulung dan banyak putra memiliki satu sumber, satu hayat, satu sifat, dan satu esens. Karena Dia, Putra sulung, dan kita, banyak putra, adalah sama dalam hayat dan sifat ilahi, Dia tidak malu menyebut kita sau-dara. Jadi, ayat 12 membicarakan tentang Kristus, yang mengatakan, “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku.”

Sang Pengudus ini adalah Dia yang akan membawa ba-nyak putra ke dalam kemuliaan. Dia sedang memimpin kita ke dalam kemuliaan melalui menguduskan kita. Kristus tidak menguduskan kita dengan menyetel kita secara luaran atau dengan membuat kita serupa dengan peraturan-per-aturan luaran. Sebaliknya, Dia menguduskan kita dengan esens yang kudus di dalam kita. Hari ini Kristus adalah Roh kekudusan, esens kekudusan ilahi yang sedang bekerja secara organik dalam diri kita. Dia menguduskan kita de-ngan menjenuhi kita dengan esens kudus ini. Hal ini meli-batkan satu proses metabolisme rohani. Melalui mengudus-kan kita dengan cara ini, Dia akan membawa kita, banyak putra, ke dalam kemuliaan.

Sang Pengudus itu sendiri adalah unsur yang menguduskan yang sedang bekerja di dalam kita. Meskipun kita mungkin tidak merasakan bahwa Kristus sedang bekerja di dalam kita, namun Dia benar-benar sedang bekerja untuk menjenuhi diri kita dengan esens yang menguduskan ini. Dia akan meresapi kita dengan diri-Nya sendiri lapis demi lapis dan bagian demi bagian.

ESENS KUDUS ALLAH TIDAK MUNGKIN

DIHILANGKAN

Semakin lama kita tinggal dalam hidup gereja, semakin banyak peresapan dan penjenuhan yang akan kita terima. Sekali esens kudus ini menjenuhi Anda, Anda tidak mung-kin dapat menghilangkannya, karena esens ini telah mere-sapi diri Anda secara metabolik dan organik. Bahkan kemun-duran Anda pun tidak dapat menghilangkan esens kudus yang telah meresapi Anda; ini tidak dapat dihapuskan. Se-telah dikuduskan dengan esens kekudusan ini di dalam hi-dup gereja, jika Anda mundur, Anda akan menjadi seorang yang mundur yang telah sedikit dijenuhi dengan unsur ku-dus Allah. Anda tidak dapat menghilangkan apa yang telah digarapkan Allah dalam diri Anda. Dengan berada dalam hidup gereja sejangka waktu, Anda telah berada di dalam sebuah “klinik” di mana Anda telah menerima satu “sun-tikan”. Setelah menerima “suntikan” ini, Anda mungkin me-nyesal bahwa unsur kekudusan telah disuntikkan ke dalam Anda. Tetapi sudah terlambat untuk menyesal. Tidak peduli apa yang akan Anda lakukan, unsur esens kudus Allah yang telah disuntikkan ke dalam Anda itu akan tetap tinggal bersama Anda. Tidak peduli ke mana Anda pergi, esens ini, unsur yang menguduskan ini, akan tetap ada di dalam Anda. Puji Tuhan untuk pekerjaan di dalam kita yang demikian organik ini! Puji Dia untuk proses pengudusan yang menyerupakan kita bagi pemuliaan!