DISELAMATKAN DALAM HAYAT DARI RUPA-DIRI (1)
Ayat kunci dalam Kitab Roma adalah 5:10: “Sebab jika-lau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan dalam hayat-Nya!” (Tl.). Pendamaian dengan Allah melalui Kristus telah digenapkan, tetapi keselamatan dalam hayat-Nya dari begi-tu banyak hal negatif adalah perkara sehari-hari.
Kematian Kristus di kayu salib telah menanggulangi semua hal negatif. Inilah alasannya mengapa kita menye-but kematian Kristus sebagai kematian yang almuhit. Ka-rena kematian Kristus telah menanggulangi hal-hal negatif, lalu mengapa kita masih perlu diselamatkan dalam hayat-Nya? Kita perlu keselamatan demikian karena kita perlu mengalami apa yang telah digenapkan Kristus bagi kita. Se-mua hal yang telah digenapkan Kristus di kayu salib adalah satu fakta obyektif, tetapi kita perlu pengalaman yang sub-yektif terhadap fakta ini, suatu pengalaman dalam hayat. Kristus mati di kayu salib sebagai pengganti kita, tetapi selanjutnya kita perlu disatukan dengan-Nya dalam kematian-Nya ini. Satu-satunya jalan agar penggenapan penggantian Kristus ini dapat diterapkan kepada kita dalam pengalaman adalah dengan memiliki Kristus sebagai hayat kita. Inilah kesatuan yang membawa kita masuk ke dalam realitas dari fakta ini.
Dalam berita sebelumnya kita telah membahas lima butir yang darinya kita perlu diselamatkan dalam hayat Kristus: Hukum dosa, dunia, alamiah, individualisme, dan perpecahan. Dalam berita ini kita akan membahas butir yang keenam, yaitu rupa-diri.
EKSPRESI DIRI (EGO)
Dalam Matius 16, Tuhan Yesus membicarakan tentang menyangkal diri setelah Dia berkata kepada Petrus, “Enyah-lah Iblis!” Meskipun Petrus mengatakan dari kasihnya ke-pada Tuhan, tetapi di mata Allah, pada saat itu Petrus ada-lah Iblis. Menurut Matius 16, Iblis adalah realitas diri (ego). Diri adalah inkarnasi dari Iblis. Sebagaimana Kristus ada-lah perwujudan dan ekspresi Allah, diri adalah perwujudan dan ekspresi Iblis.
Setiap manusia adalah satu ego. Kita bukan hanya lahir dengan ego dan di dalam ego, kita sendiri lahir sebagai ego. Asalkan kita alamiah, kita mengekspresikan ego. Entah kita mengasihi orang lain atau membenci mereka, apa yang kita ekspresikan adalah ego. Seseorang mungkin sangat baik, teta-pi ia mungkin hanya baik secara alamiah. Meskipun orang itu mungkin penuh kasih, tetapi kasihnya itu alamiah. Dalam esensnya, ia tidak berbeda dengan orang yang penuh dengan kebencian. Di mata Allah, orang yang mengasihi secara alami-ah memiliki esens yang sama dengan orang yang secara ala-miah penuh dengan kebencian. Jangan mengira kasih ala-miah Anda mengekspresikan Kristus dan hanya kebencian Anda saja yang tidak. Selama Anda alamiah dan berada di dalam ego, apa yang Anda ekspresikan itu adalah ego, bukan Kristus. Ekspresi Kristus hanya berasal dari hayat Kristus.
Ketika kita membicarakan tentang diselamatkan dalam hayat Kristus dari rupa-diri, yang kita maksudkan adalah diselamatkan dari ego. Rupa-diri adalah ekspresi, penampil-an, dari ego. Ekspresi dari ego Anda adalah rupa-diri Anda. Kita perlu diselamatkan dalam hayat Kristus dari ekspresi-ego yang demikian. Ketika Kristus mati di kayu salib, Dia menyatakan penjatuhan penghukuman atas ego, tetapi peng-hakiman ini masih perlu dilaksanakan. Kristus telah meng-hakimi ego secara obyektif; tetapi kita perlu melaksanakan penghakiman ini secara subyektif dalam pengalaman kita.
DISERUPAKAN DENGAN GAMBAR PUTRA
ALLAH
Diselamatkan dari ego (diri) adalah diserupakan dengan gambar Putra Allah. Jadi, diselamatkan dari ego berarti dibu-at benar-benar menjadi putra Allah. Roma 8 membicarakan tentang anak-anak Allah, putra-putra Allah, dan ahli-ahli waris Allah (ayat 16, 14, dan 17). Kita adalah anak-anak pada tahap permulaan, putra-putra dalam tahap yang lebih maju, dan ahli-ahli waris dalam tahap kematangan. Roma 8:14 mengatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Sebelum kita memiliki Roh Allah yang memimpin kita, kita tidak dapat dianggap sebagai putra-putra Allah. Sampai saat itu, kita hanyalah anak-anak, orang-orang yang dapat berseru “Abba Bapa” dan yang me-miliki kesaksian dari Roh itu bersama-sama dengan roh ki-ta. Untuk menjadi ahli waris, kita harus matang dan layak. Perhatian kita dalam berita ini bukan ditujukan pada anak-anak atau ahli-ahli waris, melainkan pada putra-putra. Roma 8:29 tidak mengatakan bahwa kita akan diserupakan dengan gambar anak-anak Allah; melainkan kita akan dise-rupakan dengan gambar Putra Allah.
Melalui proses penyerupaan ini, Putra sulung Allah akan memiliki banyak saudara. Sebagai Putra Allah, Kristus ada-lah Putra satu-satunya, Putra tunggal. Sekarang melalui inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan-Nya, Kristus telah menjadi Putra sulung; sedangkan banyak putra, yang ada-lah saudara-saudara Kristus, akan diserupakan dengan gam-bar-Nya ini. Roma 1:3-4 mengatakan, “Tentang Anak-Nya yang secara jasmani berasal dari keturunan Daud, dan me-nurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.” Dalam ayat-ayat ini, Kristus, Putra Allah, adalah “prototipe”, sedangkan dalam 8:29 banyak saudara adalah orang-orang yang telah menjadi “reproduksi massal” dari prototipe ini. Dalam Roma 1:4 se-orang Putra dinyatakan, tetapi dalam 8:29 banyak putra di-serupakan. Pernyataan seorang Putra berhubungan dengan prototipe; pekerjaan penyerupaan banyak putra adalah pe-kerjaan “reproduksi massal”. Setelah mendapatkan prototipe ini, sekarang Allah sedang berusaha mendapatkan “reproduk-si massal-Nya”, untuk menghasilkan banyak putra dalam gambar Putra sulung-Nya.
Apakah Anda terlihat seperti putra Allah? Meskipun Anda mungkin terlihat seperti putra Allah dalam beberapa hal, tetapi dalam banyak hal Anda mungkin tidak seperti putra Allah. Betapa kita perlu diselamatkan dari ego untuk mengemban penampilan putra-putra Allah! Dalam hidup gereja, kita berada dalam proses menjadi putra-putra Allah.
PENGUDUSAN, TRANSFORMASI,
DAN PEMULIAAN
Kita telah menunjukkan dalam beberapa berita sebe-lumnya bahwa konsepsi inti dari Kitab Roma bukanlah pem-benaran oleh iman, melainkan Allah sedang membuat orang-orang dosa menjadi putra-putra untuk membentuk Tubuh guna mengekspresikan Kristus. Sasaran Allah bukanlah pembenaran, melainkan Tubuh. Dalam Kitab Roma ada bagian-bagian tentang pembenaran (3:21—5:11), pengudusan (5:12—8:13), dan pemuliaan (8:14-39). Juga ada bagian ten-tang transformasi (12:1—15:13). Roma 8:30 mengatakan, “Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Dalam ayat ini, Paulus tidak me-nyinggung tentang penebusan atau pendamaian. Dalam pasal 3, 4, dan 5, ia membicarakan tentang perujukan, penebusan, pembenaran, dan pendamaian. Perujukan adalah bagi pene-busan, penebusan adalah bagi pembenaran, dan pembenar-an menghasilkan pendamaian. Alasan Paulus tidak me-nyinggung perujukan, penebusan, dan pendamaian dalam 8:30 adalah karena semua hal itu telah termasuk dalam pembenaran. Karena alasan ini, tidak ada bagian yang terpisah-pisah dalam kitab ini untuk perujukan, penebusan, maupun pendamaian. Semuanya telah tercakup dalam ba-gian pembenaran. Dalam prinsip yang sama, dalam 8:30, Paulus tidak menyinggung pengudusan atau transformasi karena keduanya telah tercakup dalam bagian pemuliaan.
Dalam ayat ini, Paulus mengatakan bahwa kita telah ditentukan dan dipanggil oleh Allah. Sebelum pondasi dunia diletakkan, Allah, menurut pandangan ilahi-Nya, menandai kita. Dia menentukan kita dalam kekekalan yang lampau. Kemudian, dalam waktu, Dia memanggil kita. Jadi, Dia me-manggil orang-orang yang telah Dia ketahui dan yang telah Dia tentukan sebelumnya. Ketika Allah memanggil kita, Dia membenarkan kita. Melalui pembenaran Allah, masa-lah-masalah kita dengan-Nya telah dibereskan. Namun, ini bukan berarti pembenaran adalah tanda akhir dari penang-gulangan Allah terhadap kita. Setelah pembenaran, kita ma-sih perlu dikuduskan, ditransformasi, dan akhirnya dimu-liakan. Jadi, pengudusan dan transformasi adalah untuk pemuliaan. 2Korintus 3:18 mengatakan bahwa kita se-dang ditransformasi ke dalam gambar yang sama dari ke-muliaan kepada kemuliaan. Ini membuktikan bahwa trans-formasi adalah bagi pemuliaan.
PROSES PEMULIAAN
Banyak orang Kristen yang berpegang teguh pada kon-sepsi obyektif tentang pemuliaan. Menurut mereka, suatu hari nanti orang-orang yang telah diselamatkan dan dilahir-kan kembali ini akan dimuliakan dengan tiba-tiba. Pemulia-an kaum beriman, yang mereka nyatakan itu, akan terjadi dengan segera pada kedatangan Tuhan Yesus. Ada beberapa bagian Alkitab yang kelihatannya menunjukkan hal ini. Mi-salnya, Kolose 3:4 mengatakan bahwa Kristus adalah hayat kita, ketika Dia menyatakan diri kelak, kita akan menyata-kan diri bersama-sama dengan Dia dalam kemuliaan. Na-mun, 2 Korintus 3:18 membicarakan tentang ditransformasi dari kemuliaan ke kemuliaan, yaitu dari tingkat kemuliaan yang satu kepada tingkat kemuliaan lainnya. Dalam 1 Korintus 15:40-41, Paulus membicarakan tentang berbagai macam atau tingkatan dari kemuliaan ini. Dalam pasal ini, Paulus juga memakai contoh biji gandum bahwa ia “tidak akan tumbuh dan hidup, kalau tidak mati dahulu” (ayat 36). Paulus berkata, “Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehen-daki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri” (ayat 37-38). Ambillah benih anyelir sebagai satu contoh. Sebelum benih itu ditaburkan ke dalam tanah, be-nih anyelir itu tidak memiliki kemuliaan. Tetapi setelah di-taburkan ke dalam tanah, ia mulai bertumbuh, keluar dari tanah itu menjadi satu tunas yang lembut. Ini adalah tahap permulaan kemuliaan. Bila ia bertumbuh dan berkembang lebih besar, maka ia melalui tahap kemuliaan lainnya. Ak-hirnya, sekuntum bunga akan muncul. Inilah kemuliaan yang penuh dari benih anyelir itu. Kemuliaan ini bukan muncul dengan segera atau tiba-tiba. Sebaliknya, ini adalah perihal pertumbuhan yang perlahan-lahan dari satu tahap ke tahap lainnya. Sama prinsipnya dengan pemuliaan kita. Meskipun pemuliaan kita muncul seperti satu kejadian yang tiba-tiba, tetapi itu sebenarnya adalah perampungan dari proses pertumbuhan dan perkembangan yang perlahanlahan dalam hayat.
SATU PERUBAHAN METABOLIK,
YANG ORGANIK
Setelah kita dibenarkan, kita perlu dikuduskan. Pengu-dusan terutama berhubungan dengan transformasi, yang menghasilkan pemuliaan. Dikuduskan adalah ditransforma-si bukan hanya dalam bentuk lahiriah, tetapi juga dalam sifat yang batiniah. Transformasi menunjukkan suatu per-ubahan metabolik yang batiniah dan organik.
Kristus sebagai benih hayat ilahi yang organik telah di-taburkan ke dalam kita. Sekarang benih ini harus berkem-bang dalam diri kita. Perhatian Allah bukanlah mengubah kita dari yang buruk menjadi yang baik, dari tidak sabar menjadi sabar, atau dari penuh kebencian menjadi penuh ka-sih. Allah hanya memperhatikan membuat orang-orang do-sa menjadi putra-putra dengan menaruh Putra-Nya sebagai benih ke dalam mereka. Haleluya, benih keputraan telah ditaburkan ke dalam diri kita! Meskipun kita ini alamiah, tetapi benih ini akan menghasilkan satu perubahan yang organik dan metabolik di dalamnya. Apa saja yang diubah dengan cara ini akan menjadi kudus.
Sekali lagi kita dapat memakai teh sebagai satu ilus-trasi. Misalnya Anda memiliki secangkir air yang tentunya memiliki esens alami air yaitu tidak berasa, tidak ber-warna, dan tidak berbau. Air itu alami bukan karena air itu bersih atau kotor, melainkan karena itu adalah air. Orang yang ingin membuat teh tidak puas dengan air saja; seba-liknya, ia ingin air-teh. Untuk mengubah air alami menjadi air-teh, daun-daun teh harus dimasukkan ke dalam air itu. Kemudian esens teh akan bekerja di dalam air itu untuk “mentehkan” air itu. Melalui proses “pentehan” ini, air itu pada akhirnya akan memiliki penampilan dan rasa teh. Ke-nyataannya, setelah air itu diresapi dengan esens teh, air itu tidak lagi disebut air, melainkan disebut teh.
Kita adalah secangkir air alami. Entah kita bersih atau kotor, murni atau tercampur sesuatu, kita adalah alamiah karena kita adalah “air”. Tetapi Allah telah “menuangkan” Kristus, “teh” surgawi ke dalam kita, dan unsur organik dari “teh” ini menimbulkan satu perubahan metabolik dalam hayat alamiah kita. Hari demi hari Kristus mentransformasi kita dengan esens-Nya.
ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA
SESUATU UNTUK MENDATANGKAN KEBAIKAN
Allah bukan hanya bekerja di atas diri kita dari dalam, tetapi juga “turut bekerja dalam segala sesuatu untuk men-datangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Betapa saya menyembah Allah karena Dia turut bekerja da-lam segala sesuatu! Karena pekerjaan-Nya ini, akhirnya kita akan diserupakan dengan gambar Putra Allah. Setiap orang di dalam Yerusalem Baru akan menjadi gambar Putra Allah. Ini adalah pekerjaan Allah, bukan pekerjaan kita. Untuk menggenapkan hal ini, Dia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
Ayat 29 dan 30 menunjukkan bahwa semua pekerjaan itu adalah pekerjaan Allah. Dia memilih, Dia menentukan, Dia memanggil, Dia membenarkan, dan Dia memuliakan. Perhatikan bahwa kata-kata kerjanya di sini adalah dalam kala lampau. Menurut ayat 30, bahkan pemuliaan itu “te-lah” digenapkan. Meskipun kita dapat dengan mudah perca-ya bahwa kita telah ditentukan, dipanggil, dan dibenarkan, tetapi kita mungkin sulit percaya bahwa kita telah dimulia-kan. Tetapi di mata Allah tidak ada unsur waktu. Di mata-Nya kita telah dimuliakan.
Kapan kala saya putus asa dengan situasi hari ini, Tuhan menghibur saya dan mendorong saya untuk me-nikmati perhentian, karena Dia akan mengerjakan semua pekerjaan itu. Sesungguhnya, dalam satu aspek, pekerjaan itu telah diselesaikan. Menurut Kitab Wahyu, Iblis ada di dalam lautan api dan Yerusalem Baru telah dibangunkan. Fakta bahwa Rasul Yohanes telah melihat Iblis di dalam la-utan api dan Yerusalem Baru turun dari surga menunjuk-kan bahwa di mata Allah hal-hal ini telah terjadi. Karena itu, saya memiliki jaminan penuh untuk mengatakan bahwa entah Anda malas atau rajin dalam mencari Tuhan, pada satu hari Anda akan berada di dalam gambar Putra Allah.
Kita semua akan dikuduskan dan ditransformasi, entah kita merasakan atau tidak, ada sesuatu sedang terjadi da-lam diri kita. Jika Anda membandingkan keadaan Anda ha-ri ini dengan keadaan Anda beberapa tahun yang lalu, An-da akan menyembah Tuhan dan bersyukur kepada-Nya untuk pekerjaan pengudusan yang telah Dia lakukan dalam diri Anda. Begitu Tuhan telah “mentehkan” kita, kita tidak mungkin tetap sama, sekalipun kita memutuskan untuk meninggalkan hidup gereja dan kembali lagi ke dunia. Anda mungkin kembali ke dunia, tetapi Anda tidak akan dapat memusnahkan pekerjaan pengudusan dan transformasi yang telah Tuhan lakukan dalam diri Anda. Melalui mengontak Kristus dan gereja, sesuatu akan terjadi dalam diri Anda secara organik. Hari demi hari Tuhan akan menguduskan dan mentransformasi Anda.
ROH DOA SYAFAAT
Meskipun tidak ada seorang pun yang suka menderita, tetapi semakin kita menderita, kita akan semakin dikudus-kan. Sewaktu saya mengingat orang-orang beriman di hadi-rat Tuhan dan berdoa bagi mereka, saya sering mendoakan agar mereka memiliki damai sejahtera dan sukacita. Kare-na tidak tahu bagaimana berdoa untuk orang-orang beriman ini, kadang-kadang saya mengeluh di hadapan Tuhan, tahu bahwa Dia sendiri yang tahu keperluan mereka yang sesungguhnya. Seperti yang dikatakan Roma 8:26, “Demiki-an juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah de-ngan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Dalam ke-luhan kita, Roh doa syafaat itu berdoa bagi orang-orang ku-dus supaya diserupakan dengan gambar Putra Allah.
SASARAN PEMULIAAN
Adakalanya kita tidak puas dengan cara Tuhan menanggulangi kita. Misalnya, seorang saudara mungkin tidak puas terhadap istrinya; ia mungkin mengira bahwa saudara lainnya memiliki istri yang jauh lebih baik daripada istrinya. Tetapi kita semua memiliki suami atau istri yang terbaik bagi kita. Apa saja yang Bapa berikan kepada kita adalah yang terbaik. Dia tahu apa yang kita perlukan. Orang-orang yang menderita sungguh-sungguh berada di bawah berkat-Nya. Setiap istri, setiap suami, dan setiap lingkungan ada-lah yang terbaik. Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah yang terbaik yang Allah berikan kepada kita. Anda harus memuji Tuhan bukan hanya ketika Anda memiliki satu pekerjaan yang sempurna, tetapi juga ketika Anda ti-dak memiliki pekerjaan. Mungkin ada waktunya, tidak be-kerja itu lebih baik bagi Anda daripada bekerja. Tuhan ti-dak pernah salah dalam menanggulangi kita. Dia tahu apa yang sedang Dia lakukan.
Puji Tuhan bahwa Dia sekarang sedang menguduskan dan mentransformasi kita untuk memuliakan kita! Melalui pekerjaan transformasi ini, Dia akan menyerupakan kita dengan gambar Putra-Nya. Jangan memisahkan pengudusan, transformasi, dan penyerupaan; ketiganya ini saling berhubungan dan ketiganya adalah bagi pemuliaan. Hari ini kita berada dalam proses pemuliaan ini. Suatu hari, ketika proses ini rampung, kita semua akan berada dalam kemuliaan.