← Daftar isi Roma (3) · bab 12/19

DISELAMATKAN DALAM HAYAT DARI PERPECAHAN

Roma 5:10 membicarakan tentang kematian Kristus dan hayat Kristus. Meskipun kita telah ditebus, dibenar-kan, dan diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Kristus, kita masih perlu diselamatkan dalam hayat-Nya dari banyak hal negatif. Hal-hal negatif ini bukanlah yang obyektif; hal-hal ini subyektif dan berhubungan dengan ba-tiniah kita. Dalam berita-berita sebelumnya kita telah mem-bahas empat hal negatif yang darinya kita akan diselamat-kan dalam hayat Kristus: hukum dosa, yang adalah kuasa dosa yang spontan di dalam daging kita; dunia, yang meli-puti segala sesuatu yang duniawi dan umum; alamiah, yang meliputi hayat alamiah kita, kekuatan alamiah kita, hik-mat alamiah kita, dan watak kita; dan individualisme, si-kap dan praktek yang individualistis. Dalam berita ini kita akan melihat butir yang kelima — perpecahan.

UNSUR PERPECAHAN

Dalam alamiah kita ada satu unsur perpecahan. Sebelum kita diselamatkan, kita mungkin tidak sadar bahwa ada unsur yang demikian di dalam diri kita, yaitu dalam hayat alamiah kita ada kecenderungan untuk pecah. Perpe-cahan ini lebih buruk daripada alamiah atau individualisme. Jika seseorang bersifat individualistis, ia lebih suka untuk di-tinggal sendiri. Ia tidak ingin orang lain mengganggunya atau turut campur dengannya. Ia hanya ingin menjadi apa adanya dia saja. Sedangkan pemecah belah menyebabkan perpecahan dengan aktif. Berbeda dengan orang-orang yang individualistis, orang-orang yang memecah belah itu agresif untuk membentuk kelompok-kelompok. Mereka mengontaki orang-orang beriman dengan tujuan untuk memecah belah mereka. Mereka bahkan mungkin pergi dari tempat yang satu ke tempat lainnya dengan maksud untuk membuat perpecahan.

Roma 8 mengatakan bahwa hukum Roh hayat memer-dekakan kita dari hukum dosa, dan Roma 6 memberi tahu kita bahwa hayat Kristus sedang menguduskan kita secara watak (sifat). Dalam Roma 12, kita diberi tahu bahwa kita perlu diubah (ditransformasi) melalui pembaruan pikiran. Roma 12 juga mengatakan bahwa kita adalah satu Tubuh dan kita masing-masing adalah anggotanya. Ditransformasi adalah diselamatkan dari alamiah, dan dibangunkan ke da-lam Tubuh adalah diselamatkan dari individualisme. Dalam pasal 12, kita memiliki pengubahan (transformasi) dan pembangunan, tetapi ketika kita sampai ke pasal 14 dan 15, kita melihat bahwa hayat Kristus dapat menyelamatkan kita dari perpecahan. Dalam pasal-pasal ini, Rasul Paulus menanggulangi sifat perpecahan kita.

MENERIMA KAUM SALEH

Dalam Roma 14, Paulus membicarakan perkara ten-tang menerima kaum saleh. Kita perlu dengan rela mene-rima semua orang Kristen. Bahkan dalam abad yang perta-ma ada berbagai macam orang Kristen. Ada beberapa orang yang makan sayuran saja dan yang lainnya makan apa sa-ja. Ada beberapa yang menganggap hari-hari tertentu lebih penting daripada hari-hari lainnya, dan yang lainnya meng-anggap setiap hari itu sama saja. Jika Anda hidup pada za-man Rasul Paulus, apakah Anda mau menerima semua ti-pe orang Kristen ini? Kita perlu menerima semua orang yang percaya kepada Kristus. Jika seseorang percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah yang berinkarnasi menjadi seorang ma-nusia, percaya Dia telah mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita, percaya Dia bangkit secara fisik dan secara rohani, dan percaya Dia sekarang ada di sebelah kanan Allah, kita harus menerimanya. Pada faktanya, kita harus memiliki sikap bahwa kita telah menerimanya.

Namun, masalahnya adalah orang-orang Kristen yang hanya makan sayuran saja mungkin tidak menerima orang-orang yang makan apa saja, dan orang-orang yang makan apa saja juga mungkin tidak menerima orang-orang yang hanya makan sayuran. Demikian juga, orang-orang yang menganggap setiap hari sama tidak dapat menerima orang-orang yang memelihara hari-hari tertentu, dan orang-orang yang menyelidiki hari-hari tertentu tidak dapat menerima orang-orang yang menganggap setiap hari sama saja. Na-mun, asalkan seseorang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, kita perlu menerimanya, tidak peduli apa yang ia makan atau apakah ia memelihara hari-hari tertentu.

KRISTUS SEBAGAI REALITAS

DARI BAYANG-BAYANG

Semua orang Kristen percaya kepada Tuhan Yesus dan kepada Alkitab. Namun, kita memiliki pemahaman atau penafsiran yang berbeda-beda tentang banyak hal dalam Alkitab. Dalam pasal 14, Paulus menanggulangi dua dari hal-hal yang berbeda itu, yaitu tentang makan dan meme-lihara hari-hari. Makan sesuatu adalah memasukkan sesu-atu ke dalam kita supaya makanan itu menjadi bagian kita, dan memelihara suatu hari adalah mengikuti liturgi atau peraturan yang di luar. Perbedaan-perbedaan di an-tara orang-orang Kristen pada hari ini terutama berhu-bungan dengan hal-hal yang mereka terima dan dengan liturgi-liturgi dan peraturan-peraturan luaran yang mereka pelihara. Menurut Kolose 2:16-17, peraturan-peraturan Alkitab yang berhubungan dengan liturgi yang luaran adalah lambang dan bayang-bayang Kristus. Dalam Kolose 2:16, Paulus berkata, “Karena itu, jangan biarkan orang menghakimi kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru atau pun hari Sabat.” Di sini kita melihat dua kategori yang disinggung sebelumnya, mengenai makan dan liturgi yang di luar. Dalam ayat selan-jutnya Paulus menunjukkan bahwa semuanya ini “hanya-lah bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujud-nya ialah Kristus.” Jika saya berdiri di dalam terang, bayang-an tubuh saya akan terlihat di samping saya. Tubuh saya adalah realitas dari bayangan saya. Demikian juga, perkara makan dan minum dan memelihara hari-hari tertentu ada-lah bayang-bayang, sedangkan wujudnya, yaitu realitas dari bayang-bayang ini, adalah Kristus.

LAMBANG DAN BAYANG-BAYANG KRISTUS

Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan umat-Nya untuk makan makanan yang dipandang tahir. Mereka tidak makan sesuatu yang tidak tahir. Namun, kebanyakan dari umat Allah itu tidak sadar bahwa peraturan-peraturan makan ini berhubungan dengan Kristus. Semua hal yang tahir dalam Imamat 11 melambangkan berbagai aspek dari Kristus. Kristus itu kaya tidak terduga dan memiliki aspek yang tidak terhitung. Kristus yang demikian kaya ini me-merlukan ribuan butir untuk melambangkan-Nya. Semua butir yang cocok untuk dimakan umat Allah, seperti yang tercatat dalam Imamat 11 ini, adalah lambang dari berba-gai aspek dari Kristus. Hal-hal yang dilarang Allah untuk dimakan umat-Nya adalah lambang dari hal-hal selain Kristus. Hal-hal yang berasal dari Kristus itu baik untuk kita makan, sedangkan hal-hal yang bukan Kristus, tidak baik untuk kita makan. Ini akan membawa kita kembali kepada Kejadian 2, di mana kita melihat bahwa pohon ha-yat itu baik untuk dimakan, sedangkan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu tidak baik. Namun, perhatian Allah bukanlah pada makanan fisik kita, melain-kan pada Kristus. Allah hanya memperhatikan Kristus.

Mengenai memelihara hari-hari, dalam pandangan Allah setiap hari adalah sama. Tetapi untuk menggambarkan Kristus, Allah memakai hari-hari tertentu sebagai bayang-bayang. Misalnya, hari Sabat adalah bayang-bayang Kristus sebagai perhentian dan kepuasan kita. Karena Kristus ada-lah kelengkapan, kesempurnaan, dari segala sesuatu yang telah Allah lakukan, maka Kristus adalah perhentian dan kepuasan kita. Jadi, Kristus adalah Sabat kita. Demikian juga, Kristus adalah bulan baru kita, permulaan baru kita. Semua hari dalam Perjanjian Lama yang diperintahkan kepada umat Allah untuk dipelihara adalah bayang-bayang Kristus. Namun, sebenarnya Allah tidak memperhatikan hari-hari itu; Dia memperhatikan Kristus. Karena itu, kita harus berpegang pada segala sesuatu yang berasal dari Kristus, dan mengesampingkan hal-hal yang bukan dari Kristus.

Menurut hukum alam, tubuh fisik kita harus memiliki satu hari untuk beristirahat setiap minggunya. Dengan beristirahat demikian, kita akan dapat bekerja lebih efektif pada enam hari lainnya. Namun, tidak menjadi masalah apakah hari perhentian ini adalah hari ketujuh atau hari pertama dari minggu itu. Jika kita menerapkan hal ini kepada Kristus, kita akan melihat bahwa bagi Dia setiap hari adalah sama. Inilah realisasi Paulus dalam Surat Kirimannya.

MEMPERHATIKAN KAUM BERIMAN YANG LEMAH

Meskipun demikian, Paulus tahu bahwa kita perlu me-melihara kaum beriman yang lemah. Dalam Roma 14:1-2, ia berkata, “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mem-percakapkan pendapatnya. Yang seorang yakin bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.” Orang-orang yang kuat harus memperhatikan orang-orang yang lemah. Meskipun Anda mungkin menganggap setiap hari itu sama dan percaya bahwa segala makanan itu baik untuk dima-kan, tetapi ada orang lain yang lemah dalam iman yang memelihara hari-hari tertentu dan hanya makan sayur-sayuran. Di satu pihak, kita perlu sadar bahwa ada begitu banyak hal fisik dan hari-hari yang khusus merupakan lambang dan bayang-bayang dari Kristus. Jika kita melihat hal ini, kita tidak akan memperhatikan makanan atau memelihara hari-hari tertentu. Namun, di pihak lain, ada banyak orang Kristen sejati yang tidak kuat dalam iman mereka mengenai perkara-perkara ini. Kita harus tetap terbuka terhadap mereka semua. Jika tidak, kita akan terpecah belah.

PERPECAHAN DI ANTARA ORANG-ORANG

KRISTEN PADA HARI INI

Orang-orang Kristen pada hari ini bukan hanya bergo-long-golong, tetapi juga terpecah belah. Jangan menghakimi perpecahan orang lain, sebaliknya kita harus menghakimi sifat kita sendiri yang memecah belah. Kita telah melihat bahwa semua orang Kristen memiliki iman penyelamatan yang sama, percaya kepada Persona dan pekerjaan Tuhan Yesus. Iman yang olehnya kita diselamatkan ini sama di dalam semua orang beriman. Tetapi, seperti yang telah kita tunjukkan, orang-orang Kristen sulit selaras atas banyak hal tentang Alkitab di dalam pemahaman mereka. Bahkan kita sendiri mungkin berubah-ubah dalam pandangan kita mengenai hal-hal tertentu. Tahun 1960-an, saya menafsir-kan satu ayat dengan satu cara, tetapi pada hari ini saya menafsirkannya dengan cara lain yang mutlak berbeda. La-lu bagaimana kita dapat berharap semua orang beriman dalam Kristus setuju dalam penafsiran mereka terhadap Alkitab? Ini tidak mungkin. Misalnya, beberapa orang me-ngatakan bahwa baptisan yang dibicarakan Paulus dalam Roma 6 adalah baptisan rohani, bukan baptisan air. Tetapi yang lainnya teguh dalam keyakinan mereka, percaya bah-wa ini mengacu kepada baptisan air. Jadi, atas hal ini saja ada perdebatan yang kuat karena perbedaan opini. Orang-orang Kristen juga memiliki opini yang berbeda-beda ten-tang memuji Tuhan, berseru kepada nama Yesus, dan doa-baca firman. Kita tidak seharusnya berharap agar semua orang Kristen selaras dalam pemahaman mereka terhadap semua hal dalam Alkitab. Mungkin pada saat berada di Yerusalem Baru, kita baru akan sama dalam setiap hal.

Ada satu kecenderungan yang kuat dalam kita semua untuk memaksa semua orang beriman menjadi sama seperti kita. Pemaksaan yang demikian justru menyingkapkan ke-kurangan hikmat kita; menyingkapkan unsur perpecahan yang sangat berakar di dalam alamiah kita. Karena unsur ini, kita memiliki kecenderungan untuk memisahkan diri kita dari orang lain dan membentuk kelompok kita sendiri.

Pada tahun 1957, saudara-saudara yang memimpin da-lam gereja di Taipei berbeban untuk mengunjungi para pe-mimpin dari kelompok Kristen bebas di kota itu. Beberapa dari kelompok ini yang menyatakan tidak menjadi denomi-nasi, mengatakan bahwa mereka bersidang dalam nama Tuhan Yesus. Karena itu, kami mengundang mereka untuk bersekutu dengan kami. Dalam persekutuan itu, para pe-mimpin kelompok ini menjadi yakin sepenuhnya bahwa se-mua orang Kristen seharusnya menjadi satu dan tidak ada alasan untuk terpecah belah. Namun, para pemimpin ini me-ngatakan bahwa mereka masih ingin tetap seperti semula. Meskipun kami rela membiarkan mereka mengambil alih kepemimpinan dan mengatur semua milik gereja, tetapi mereka masih ingin berpegang kepada kelompok mereka yang terpecah belah. Mereka berterima kasih atas undang-an kami, tetapi mereka tidak mau menjadi satu secara riil. Kita rela untuk menjadi satu, tetapi mereka lebih suka te-tap tinggal di dalam posisi yang terpecah belah.

MENERIMA JALAN TUHAN

Sungguh suatu belas kasihan berada dalam hidup ge-reja! Banyak orang yang mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mendapatkan kesatuan pada hari ini dan bahwa ter-lalu idealis bila kita berusaha mendapatkan hidup gereja da-lam kesatuan yang sejati. Di luar belas kasihan Tuhan, ki-ta tidak dapat menjadi satu dengan yang lain. Jika Tuhan tidak membelaskasihani kita di China, maka kita para sau-dara tidak mungkin dapat mendatangkan kesatuan dan terpelihara dalam kesatuan. Tetapi dalam belas kasihan-Nya, Tuhan telah membuka mata kita dan telah memperlihat-kan kepada kita jalan-Nya. Menurut ekonomi Allah, sebagai manusia kita harus percaya kepada Tuhan Yesus dan men-jadi orang Kristen. Jika kita tidak menjadi orang Kristen, hidup kita akan sia-sia. Sebagai orang Kristen, kita harus menerima jalan Tuhan dalam hidup gereja. Jika kita tidak menerima jalan-Nya, kita tidak akan memiliki jalan untuk terus maju. Kita mungkin berdebat secara lahiriah, tetapi secara batiniah kita tahu bahwa kita telah keluar dari sasar-an. Kita tidak akan memiliki perhentian batiniah, tidak akan ada perasaan bahwa kita telah menemukan rumah kita.

PENDIRIAN KITA

Kita semua memiliki unsur perpecahan di dalam kita. Meskipun demikian, kita tidak boleh memaafkan perpecah-an, dan kita tidak boleh membiarkan perpecahan itu terjadi. Sasaran kita adalah menjadi satu dengan semua orang Kristen sejati. Kesatuan juga adalah pendirian kita dalam pemulihan Tuhan. Banyak orang yang salah paham dengan pendirian kita karena mereka lebih suka dengan satu pen-dirian yang berbeda. Beberapa orang Kristen bahkan menya-lahkan kita dan menuduh kita dengan mengatakan bahwa kita sendiri adalah gereja, sedangkan yang lainnya bukan gereja. Dalam menjawab tuduhan yang demikian, saya ka-dang-kadang berkata, “Misalnya seorang perempuan dinikah-kan kepada seorang laki-laki yang bernama Jones. Sebagai istri Tuan Jones, ia adalah Nyonya Jones. Tetapi bukannya menyebut dirinya Nyonya Jones, ia malah menyebut dirinya Nyonya Smith. Bila ada orang yang mengaku sebagai Nyo-nya Jones, ia akan tersinggung dan berkata, ‘Mengapa ka-mu mengaku dirimu Nyonya Jones? Bagaimana kamu dapat mengatakan bahwa kamu adalah Nyonya Jones dan bahwa aku bukan?’ Jika ia adalah Nyonya Jones, mengapa ia me-nyebut dirinya Nyonya Smith? Sebenarnya, kita tidak me-ngatakan bahwa kita sendiri saja yang adalah gereja. Na-mun, jika Anda adalah gereja, mengapa Anda mengambil nama seperti Baptis, Presbiterian, Metodis, atau Episkopal? Jika Anda adalah gereja di sini, lalu mengapa Anda menye-but diri Anda sesuatu yang lain? Karena Anda menyebut diri Anda dengan nama-nama itu, bagaimana Anda dapat menjadi gereja di lokal ini? Jika kita bukan gereja di kota ini, lalu apakah kita ini?”

Sungguh suatu roh perpecahan yang ditemukan di antara kaum beriman pada hari ini! Berbagai denominasi dan kelompok terbagi-bagi dan terpecah belah. Meskipun demi-kian, mereka ingin agar orang lain menjadi satu dengan mereka. Misalnya, ada kelompok tertentu, yang hanya me-nerima orang-orang yang telah dibaptis oleh mereka saja. Sungguh suatu perpecahan! Kelompok lainnya melarang orang berseru kepada nama Tuhan Yesus atau memuji Tuhan de-ngan suara keras. Ini juga suatu perpecahan. Jika kita menuntut orang lain untuk membuang atau memasukkan praktek-praktek tertentu supaya diterima oleh kita, berarti kita memecah belah. Kita tidak boleh memperhatikan prak-tek apa pun, melainkan memperhatikan apakah orang-orang yang datang kepada kita itu orang Kristen sejati atau bu-kan. Dasar kita menerima orang-orang Kristen tidak lain dan tidak bukan adalah Kristus sendiri. Apa pun latar bela-kang seseorang, selama ia adalah orang Kristen, kita harus menerimanya sebagai seorang saudara di dalam Tuhan.

PERLUNYA PERTUMBUHAN DALAM HAYAT

Untuk diselamatkan dari perpecahan, kita perlu ber-tumbuh dalam hayat. Tidaklah cukup hanya memahami pengajaran mengenai kesatuan. Semakin kita bertumbuh dalam hayat Kristus, kita akan makin diselamatkan dalam hayat-Nya. Ketika saya masih muda, saya sering bertanya kepada orang Kristen lainnya, apakah mereka percaya me-ngenai baptisan atau keterangkatan. Tetapi setelah saya me-miliki sejumlah pertumbuhan dalam hayat, saya tidak lagi bertanya kepada kaum beriman lain seperti itu. Sekarang bila saya mengontaki orang beriman, saya tidak menga-jukan pertanyaan doktrinal kepada mereka. Sebaliknya, saya mengapresiasi perawakan Kristus yang ada di dalam mereka. Saya tidak memperhatikan hal-hal yang luaran. Jika kita ingin diselamatkan dari perpecahan, kita perlu bertumbuh. Semakin besar perawakan Kristus di dalam kita, kita akan semakin tidak mudah terpecah belah. Ka-rena kita masih berada di dalam sifat lama dengan unsur perpecahannya, kita tidak berani mengatakan bahwa kita telah sepenuhnya dibebaskan dari perpecahan. Kita perlu waspada terhadap unsur perpecahan yang ada dalam diri kita. Kita juga perlu berdoa agar Tuhan mengaruniakan pertumbuhan hayat yang sejati kepada kita, supaya kita dapat diselamatkan dari perpecahan.