DISELAMATKAN DALAM HAYAT DARI INDIVIDUALISME
Roma 5:10 adalah satu ayat kunci, karena ayat ini me-nyimpulkan satu bagian dan membuka bagian lainnya. Ayat ini menyinggung tentang perkara pendamaian oleh kemati-an Kristus dan penyelamatan oleh hayat Kristus. Penda-maian mencakup penebusan dan pembenaran. Kristus mati di kayu salib bagi penebusan kita; melalui penebusan ini ki-ta telah dibenarkan oleh Allah dan diperdamaikan dengan-Nya. Sekarang tidak ada sekatan antara kita dengan Allah. Namun, kita masih memiliki sejumlah masalah subyektif. Karena alasan ini, setelah kita diperdamaikan dengan Allah, kita masih perlu diselamatkan dalam hayat Kristus. Kare-na pendamaian melalui kematian Kristus adalah satu fakta yang telah dirampungkan, maka dalam 5:10, Paulus mema-kai waktu lampau dalam membahas masalah pendamaian. Tetapi karena kita masih berada dalam proses diselamat-kan dalam hayat, Paulus memakai waktu yang akan da-tang ketika ia membicarakan tentang diselamatkan dalam hayat Kristus. Dalam berita ini kita akan melihat perkara diselamatkan dalam hayat dari individualisme.
TUJUH HAL NEGATIF
Dalam Kitab Roma, Paulus membicarakan tujuh hal negatif yang darinya kita perlu diselamatkan. Seperti yang telah kita lihat, butir yang pertama adalah hukum dosa. Dalam daging kita, tubuh kita yang telah jatuh ini, hukum dosa bekerja dengan spontan dan otomatis. Hukum dosa ini adalah kuasa si jahat yang beroperasi dengan spontan di dalam kita.
Butir yang kedua adalah dunia. Kita lahir ke dalam su-atu lingkungan yang duniawi dan kemudian dibina menjadi duniawi. Dunia ini ada di dalam diri kita; jadi, ini juga me-rupakan satu perkara yang subyektif, perkara susunan kita. Seorang anak tidak perlu diajar untuk mengasihi du-nia, karena ada sesuatu di dalam sifatnya yang membuat-nya mengasihi dunia. Kasih terhadap dunia ini merupakan satu unsur dari susunan kita yang telah jatuh.
Butir yang ketiga adalah alamiah. Kita semua memi-liki hayat alamiah dan watak alamiah. Susunan kita ini sangat alamiah. Semua unsur alamiah ini adalah musuh Allah. Allah tidak memiliki hubungan apa pun dengan ma-nusia alamiah kita, hayat alamiah kita, kekuatan alamiah kita, watak alamiah kita, maupun dengan kemampuan ala-miah kita. Unsur-unsur alamiah ini berada sangat dalam di dalam diri kita, lebih dalam daripada hukum dosa. Hu-kum dosa terutama berhubungan dengan daging kita, se-dangkan alamiah kita adalah ego kita. Demi tujuan Allah, kita perlu diselamatkan dari alamiah kita.
Kita juga perlu diselamatkan dari individualisme, yaitu dari menjadi individualistis. Karena kita semua memiliki kecenderungan menjadi individualistis, maka tidak ada seorang pun di antara kita yang secara alamiah suka menjadi satu dengan orang lain. Hidup pernikahan kita menyingkapkan betapa individualistisnya kita. Karena kita individualistis, ma-ka seorang istri tidak suka bergantung pada suaminya, dan suami tidak suka bergantung pada istrinya. Maksud Allah bukanlah mendapatkan satu kelompok orang beriman yang individualistis. Sebaliknya, adalah untuk membangun Tubuh bagi penggenapan tujuan-Nya. Agar tujuan ini dapat dige-napkan, kita perlu diselamatkan dari individualisme.
Hayat Kristus juga menyelamatkan kita dari perpecah-an. Meskipun kita sering membicarakan tentang kesatuan, tetapi sebenarnya kita tidak suka menjadi satu. Menjadi sa-tu adalah dibatasi, diikat, dan akhirnya dimatikan. Di ma-nakah kesatuan dalam kekristenan pada hari ini? Sepan-jang abad, telah ada kekurangan kesatuan di antara orang Kristen. Bukannya menjadi satu, malah ada perpecahan de-mi perpecahan. Semua perpecahan ini berasal dari unsur perpecahan dalam sifat kita yang telah jatuh.
Butir negatif keenam yang darinya kita perlu diselamatkan adalah rupa-diri. Rupa-diri yang kita maksud adalah penampilan dan ekspresi ego alamiah. Kita perlu di sini diselamatkan dari rupa-diri dengan diserupakan kepada gambar Putra Allah. Dalam banyak hal kita tidak memiliki rupa Kristus. Sebaliknya, kita mengemban rupa ego kita. Karena itu, kita perlu diselamatkan dalam hayat dari rupadiri dan diserupakan kepada gambar mulia Kristus.
Akhirnya, kita perlu diselamatkan dari tubuh alamiah kita. Pada akhirnya, dalam keselamatan Allah, tubuh kita akan dimuliakan. Harinya akan tiba saat tubuh fisik kita akan ditransfigurasi.
PEMBENARAN, HAYAT,
DAN PEMBANGUNAN
Sebagai satu sketsa (gambaran) yang lengkap dari ke-hidupan orang Kristen dan hidup gereja (church life), Kitab Roma mula-mula mewahyukan perkara pembenaran. Karena pembenaran menghasilkan hayat, maka bagian setelah bagi-an pembenaran ini adalah hayat. Hayat memimpin kepada pembangunan, yang dikatakan dalam bagian yang terakhir dari Kitab Roma. Karena itu, Kitab Roma dapat disimpul-kan dalam tiga kata: pembenaran, hayat, dan pembangunan.
Baik pembenaran maupun hayat itu bukanlah sasaran Allah. Sasaran Allah adalah pembangunan gereja sebagai ekspresi Tubuh Kristus dan sebagai rumah bagi tempat ting-gal Allah. Karena alasan ini, Kitab Roma dimulai dengan pembenaran, kemudian hayat, dan disimpulkan dengan pem-bangunan. Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, ditebus, dibenarkan, dan diperdamaikan, kita bukan hanya menantikan Tuhan datang kembali. Kita sedang dibangun dalam hidup gereja bagi penggenapan tujuan Allah. Dimulai dengan pembenaran, kita harus melanjutkan kepada penga-laman hayat untuk mencapai sasaran pembangunan. Kalau kita tidak mengalami hayat dan memiliki pembangunan, Tuhan Yesus tidak memiliki jalan untuk datang kembali.
PENGHALANG YANG PALING BESAR BAGI PEMBANGUNAN
Apakah Anda menyadari bahwa kita sendiri adalah penghalang yang paling besar bagi pembangunan ini? Ini-lah sebabnya Paulus baru membicarakan tentang Tubuh pada pasal 12, setelah ia menyinggung perkara penebusan, pembenaran, pengudusan, dan transformasi. Pembangunan Tubuh datang setelah semua hal ini. Pembenaran ada da-lam pasal 1 sampai 4; pengudusan, dalam pasal 5 sampai 8; dan transformasi, dalam pasal 12. Kemudian, dari 12:4, Paulus mulai membicarakan tentang pembangunan Tubuh Kristus. Orang-orang yang masih duniawi dan alamiah tidak dapat dibangun bersama orang lain. Untuk dibangun ber-sama, kita perlu dibenarkan, dikuduskan, dan ditransfor-masi.
Kita semua memiliki masalah dengan pikiran, emosi, dan tekad kita. Jika kita tetap tinggal dalam pikiran, emo-si, dan tekad alamiah kita, kita tidak dapat menjadi satu. Pikiran-pikiran, konsepsi, dan imajinasi yang ganjil yang kita miliki dalam pikiran kita menjauhkan kita dari pem-bangunan bersama. Emosi kita bahkan lebih sulit untuk dikendalikan, dan kekerasan kita akan menimbulkan ba-nyak kesulitan. Karena masalah-masalah ini, gereja belum dapat dibangunkan, meskipun gereja telah ada selama lebih dari 1900 tahun.
Tuhan Yesus belum datang kembali karena Dia belum mendapatkan bangunan. Wahyu 19 menunjukkan bahwa Tuhan akan datang kembali untuk mempelai perempuan, satu kesatuan yang korporat. Pada akhirnya, Tuhan akan memiliki bangunan dan mempelai perempuan. Jika kita ti-dak bekerja sama dengan-Nya dalam perkara ini, Dia akan mencari orang lain yang akan bekerja sama dengan-Nya. Melalui pengalaman saya selama bertahun-tahun dalam hidup gereja, saya mengenal kesulitan-kesulitan, bahkan ketidakmungkinan manusia, dalam membangun Tubuh ini. Meskipun demikian, saya memiliki jaminan penuh bahwa Tuhan dapat memperoleh bangunan itu. Suatu hari, Tuhan akan memiliki bangunan yang Dia dambakan. Saya percaya bahwa banyak dari antara kita yang rela mempersilakan Tuhan menyelesaikan pekerjaan pembangunan gereja-Nya. Beban kita bukanlah melakukan sejumlah pekerjaan besar, melainkan melihat pembangunan sejati orang-orang beriman bagi kedatangan Tuhan kembali.
TERBUKA KEPADA TUHAN
Untuk memberikan kesempatan kepada Tuhan agar Dia mendapatkan bangunan itu, kita tidak seharusnya ingin melakukan sesuatu. Sebaliknya, kita hanya perlu terbuka kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, kami sadar bahwa di dalam diri kami tidak ada harapan. Pikiran, emosi, dan te-kad kami adalah masalah yang besar. Tetapi, Tuhan, kami percaya bahwa Engkau mampu. Engkau dapat membuat yang tidak ada menjadi ada. Karena itu, kami terbuka ke-pada-Mu, dan kami rela berjalan bersama-Mu. Tuhan, oleh belas kasihan-Mu, kami menaruh diri kami di atas mezbah-Mu. Lakukan kepada kami apa saja yang menjadi kedam-baan-Mu. Lakukan apa saja yang perlu untuk menanggu-langi pikiran, emosi, dan tekad kami.”
MENANGGULANGI PIKIRAN, EMOSI, DAN TEKAD
Kehidupan pernikahan kita menguji kita, berapa banyak kita telah dibangunkan. Apakah Anda sungguh-sungguh menjadi satu dengan suami atau istri Anda? Dalam kehi-dupan pernikahan, kita memiliki kesempatan untuk belajar apakah arti dibangunkan dalam hidup gereja. Tuhan sering kali menunjukkan kepada saya bahwa jika saya tidak dapat dibangun bersama istri saya, jangan berharap dapat diba-ngun bersama orang lain. Untuk dapat dibangun bersama suami atau istri kita, atau dengan orang lain dalam gereja, pikiran, emosi, dan tekad, kita harus ditanggulangi.
Dalam pemulihan Tuhan, kita adalah untuk pemulihan Kristus dan gereja bagi pembangunan Tubuh. Perkara yang penting bagi kita pada hari ini adalah pembangunan. Pem-bangunan ini tergantung sepenuhnya pada penanggulangan pikiran, emosi, dan tekad kita. Masalahnya hari ini bukan pada hati kita atau motivasi kita, melainkan pada pikiran, emosi, dan tekad kita. Dalam beberapa pelayanan gereja ti-dak ada keharmonisan, karena ada orang-orang beriman yang berbeda konsepsi atau perasaan. Ada orang yang sangat kuat dalam tekadnya dan selalu ingin agar segala sesuatu berada di bawah kendali mereka. Tekad yang demikian ku-at adalah unsur “asing” di dalam Tubuh Kristus. Konsepsi dan perasaan kita yang ganjil juga adalah unsur “asing” yang dapat merusak Tubuh. Karena kita semua kesulitan de-ngan pikiran, emosi, dan tekad kita, kita perlu belas kasih-an dan anugerah Tuhan untuk mengkonsekrasikan diri ki-ta kepada-Nya, agar Dia dapat menanggulangi kita. Banyak orang yang telah mengkonsekrasikan diri mereka kepada Kristus dan gereja, tetapi mereka masih memiliki masalah dengan pikiran, emosi, dan tekad mereka. Ini menunjukkan bahwa masalah yang berhubungan dengan gereja itu bukan-lah yang lahiriah, melainkan yang batiniah. Lingkungan lahiriah hidup gereja adalah satu ujian dari batin kita; ini akan menyingkapkan apa adanya kita di dalam pikiran, emosi, dan tekad kita.
Kehidupan pernikahan juga menyingkapkan kita da-lam perkara ini. Tanpa suami atau istri, kita tidak akan da-pat mengenal diri kita sendiri secara memadai. Kita harus bersyukur kepada Tuhan untuk penyingkapan dalam kehi-dupan pernikahan kita. Sebelum kita menikah, kita meng-anggap diri kita agak kudus, orang Kristen yang mengasihi Tuhan, dan yang selalu mencari Dia. Tetapi kehidupan per-nikahan menyingkapkan kita. Semua “kekudusan” kita di-pecahkan berkeping-keping, dan kita menemukan betapa menakutkannya keadaan kita ini. Hidup gereja bahkan me-nyingkapkan kita lebih daripada kehidupan pernikahan karena hidup gereja itu lebih hebat. Tanpa hidup gereja, kita mungkin menyangka kita tidak ada masalah dan kita bagi Kristus dan gereja. Namun, dengan disalahpahami oleh orang lain dalam hidup gereja, kita menemukan bahwa kita memiliki masalah yang batiniah dengan pikiran, emosi, dan tekad kita. Bila kita melihat hal ini, kita perlu berdoa ke-pada Tuhan untuk menyelamatkan kita dalam hayat-Nya.
Untuk diselamatkan dalam hayat dari unsur-unsur subyektif yang negatif di dalam kita, kita memerlukan ba-nyak anugerah Tuhan. Kita harus berdoa, “Tuhan, aku ti-dak bersandar pada diriku sendiri. Aku memohon belas ka-sihan-Mu. Aku menyerahkan diriku sendiri di dalam tangan-Mu, supaya Engkau dapat bekerja di dalam Aku. Tuhan, ja-galah aku di atas mezbah dan jagalah aku senantiasa ter-buka kepadamu. Demi pembangunan-Mu, lakukan apa saja yang Engkau inginkan terhadap pikiran, emosi, dan tekad-ku.” Jika kita rela memberikan diri kita sendiri kepada Tuhan dengan cara ini, maka akan ada kemungkinan bagi kita untuk dibangunkan bersama orang lain. Untuk diselamatkan dari individualisme dan dibangunkan di dalam Tubuh, kita harus mempersilakan Tuhan menanggulangi pikiran, emosi, dan tekad kita menurut kedambaan-Nya.
MEMBIARKAN KRISTUS HIDUP
DI DALAM KITA
Jika kita ingin hayat Kristus menyelamatkan kita, ki-ta harus membiarkan Dia hidup di dalam kita. Ya, kita me-mang memiliki Kristus di dalam kita sebagai hayat, tetapi pikiran, emosi, dan tekad kita itu sangat kuat. Sering kali, kita tidak memberikan kebebasan kepada Kristus untuk hidup di dalam kita. Inilah sebabnya kita perlu menaruh di-ri kita sendiri di atas mezbah, berdoa supaya Tuhan senan-tiasa menjaga kita terbuka kepada-Nya, dan membiarkan Dia menanggulangi semua bagian diri kita. Kemudian Dia akan mendapatkan kesempatan untuk hidup di dalam kita.
Dalam Galatia 2:19b, Paulus berkata, “Aku telah disa-libkan dengan Kristus.” “Aku” yang dibicarakan dalam ayat ini berada dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Masalah dalam kehidupan pernikahan dan dalam hidup gereja dise-babkan oleh “aku” ini. Kita mungkin tahu doktrin “aku” te-lah disalibkan bersama dengan Kristus dan mungkin mem-proklamirkan hal ini dengan berani, tetapi kita masih saja tetap kuat di dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Kita per-lu hati-hati bila pikiran kita kuat, bila emosi kita terang-sang, dan bila tekad kita bersikeras. Selama kita membiar-kan “aku” ini menang, Tuhan Yesus akan tersisih di dalam kita dan tidak akan memiliki kesempatan untuk hidup di dalam kita. Jika kita membuang Tuhan Yesus dengan cara ini, maka perkara diselamatkan dalam hayat-Nya hanyalah akan menjadi satu doktrin belaka bagi kita. Dia tidak akan menjadi Orang yang hidup di dalam kita; sebaliknya, “aku” ini yang akan terus hidup.
DISINGKAPKAN DAN DISELAMATKAN
Kita telah menunjukkan bahwa kehidupan pernikahan akan menyingkapkan kita. Bila ada kesulitan, suami cende-rung menyalahkan istrinya, dan istri juga cenderung menya-lahkan suaminya, dan secara diam-diam keduanya cende-rung menyalahkan Tuhan. Tetapi jika kita tidak memiliki istri atau suami, kita tidak akan disingkapkan sepenuhnya. Ketika beberapa orang menemui kesulitan dalam kehidupan pernikahan mereka, mereka berpikir untuk bercerai. Demi-kian juga, bila beberapa orang menemukan bahwa gereja itu tidak sempurna, mereka berpikir untuk “bercerai” dari hidup gereja. Banyak orang yang memimpikan satu hidup gereja yang ideal. Tetapi setelah “bulan madu” hidup gereja mereka berakhir, mereka putus asa. Ketika mereka meng-hadapi masalah-masalah ini dalam hidup gereja, mereka mulai ragu apakah gereja ini benar-benar adalah gereja.
Pengaturan Tuhan tidak akan pernah salah. Semua pernikahan diatur secara ilahi bagi pemenuhan tujuan-Nya. Bila kita disingkapkan dalam kehidupan pernikahan kita, kita harus berterima kasih kepada Tuhan. Penyingkapan ini adalah bagi penyelamatan Tuhan. Maksud Tuhan me-nyingkapkan kita adalah untuk menyelamatkan kita dalam hayat-Nya dari diri alamiah kita. Ketika kita disingkapkan, Tuhan memiliki kesempatan untuk hidup di dalam kita. Baik dalam kehidupan pernikahan maupun dalam hidup gereja, kita disingkapkan supaya Tuhan dapat hidup di dalam kita. Karena itu, janganlah menyalahkan istri atau suami Anda, dan jangan menyalahkan gereja. Lebih-lebih lagi, jangan menyalahkan Tuhan. Sebaliknya, Anda harus berkata, “Tuhan, aku bersyukur untuk situasi ini. Aku me-ngasihi gereja bukan karena gereja itu sempurna, tetapi ka-rena gereja menyingkapkan aku. Tuhan, letakkanlah diriku di atas mezbah dan tanggulangilah pikiran, emosi, dan tekadku, supaya Engkau dapat hidup di dalamku.”
Ketika Tuhan hidup di dalam kita, Dia menyelamat-kan kita. Penyelamatan hayat-Nya dapat bekerja hanya bila Dia memiliki kesempatan untuk hidup di dalam kita. Jika Dia ingin hidup di dalam kita, kita perlu mempersembah-kan diri kita kepada-Nya. Konsekrasi yang demikian ini me-libatkan penanggulangan yang riil terhadap pikiran, emosi, dan tekad kita.
Kita semua perlu diselamatkan dalam hayat Kristus. Untuk hal ini, perlu ada satu proses penyingkapan yang panjang, khususnya dalam perkara individualisme kita. Un-tuk dibangunkan bersama, pikiran, emosi, dan tekad alami-ah kita perlu disingkapkan. Begitu kita disingkapkan, kita akan menaklukkan batin kita kepada Tuhan dan Dia akan leluasa hidup di dalam kita. Kemudian hayat ilahi akan me-nyelamatkan kita dari individualisme. Bila kita diselamat-kan dalam hayat-Nya, kita akan menjadi Tubuh dan saling menjadi anggota satu sama lain. Kiranya Tuhan berbelas-kasihan kepada kita, agar kita dapat melihat perlunya kita diselamatkan dalam hayat-Nya dari individualisme bagi pembangunan Tubuh.