KEBAJIKAN KELAHIRAN ILAHI UNTUK MEMPRAKTEKKAN KASIH ILAHI (3)
Pembacaan Alkitab: 1 Yoh. 3:19-24
YAKIN BAHWA KITA BERADA DI DALAM REALITAS
Dalam berita ini kita akan membahas 1Yohanes 3:19-24. Dalam ayat 19 Yohanes mengatakan, “Demikianlah kita ketahui bahwa kita berasal dari kebenaran dan boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah.” Di sini “kebenaran” menyatakan realitas hayat kekal, yang kita terima dari Allah saat kelahiran ilahi kita. Kita telah menerima hayat ilahi yang memungkinkan kita mengasihi saudara dengan kasih ilahi. Melalui mengasihi saudara dengan kasih ilahi, kita tahu bahwa kita berasal dari realitas ini.
Cara Yohanes menulis di sini bukanlah secara doktrinal, tetapi secara pengalaman. Di luar dari pengalaman rohani, kita tidak dapat mengerti apa yang dikatakan Yohanes. Dalam ayat 18-19 Yohanes mengatakan kepada kita bahwa jika kita mengasihi saudara dalam kebenaran, ketulusan hati, kejujuran, sebagai hasil dari kenikmatan kita atas Allah Tritunggal, kita akan mempunyai keyakinan bahwa kita ada di dalam realitas ilahi.
MENENANGKAN HATI KITA DI HADAPAN DIA
Menurut perkataan Yohanes, jika kita mengasihi dalam kebenaran, kita juga akan boleh “menenangkan” hati kita di hadapan Allah. Dalam bahasa Yunani kata “menenangkan” juga berarti menaklukkan dengan perkataan, meyakinkan, membuat taat, menjamin, meneduhkan. Menenangkan hati kita di hadapan Allah adalah memiliki satu hati nurani yang tidak berhutang (1Tim. 1:5, 19; Kis. 24:16), sehingga hati kita bisa dihiburkan, taat, diyakinkan, dijamin, dan diteduhkan. Ini juga adalah syarat kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan. Tinggal di dalam Tuhan menuntut adanya satu hati yang tenang dengan hati nurani yang tidak berhutang. Ini juga sangat penting bagi persekutuan kita dengan Allah, yang dibahas dalam bagian pertama surat ini. Hati yang terganggu dengan hati nurani yang berhutang bisa menghalangi kita untuk tinggal di dalam Tuhan dan merusak persekutuan kita dengan Allah.
Kita tahu dari pengalaman bahwa jika kita tidak mengasihi dengan kasih ilahi, hati kita akan tidak damai. Tidak hanya demikian, kita juga tidak akan mempunyai damai jika kita tidak benar sekalipun terhadap satu masalah kecil dalam lingkungan kita. Seandainya seorang saudara marah dan menendang sebuah kursi. Pasti dia tidak damai di dalam hatinya. Tetapi sebaliknya jika dia hidup dengan hayat ilahi dan mengasihi yang lain dengan kasih ilahi, dia akan dapat menenangkan hatinya, meyakinkan hatinya di hadapan Allah.
Jika kita mempunyai keyakinan bahwa kita berada di dalam kebenaran ilahi, kita akan dapat meyakinkan, menenangkan, dan menjamin hati kita dan membuat hati kita teduh. Kalau tidak, akan ada kekacauan di dalam, karena hati kita akan protes bahwa kita tidak mengasihi menurut kasih ilahi. Hati kita mungkin mengatakan, “Kamu adalah seorang anak Allah, tetapi kamu tidak hidup dengan hayat ilahi. Mengapa kamu menendang kursi?” Jika kita ingin hati kita menjadi teduh, kita perlu hidup dengan hayat ilahi di dalam hubungan dengan setiap orang dan setiap hal. Misalnya, saya dengan sembarangan melempar sesuatu ke samping. Saya tahu dari pengalaman bahwa jika saya melakukan ini, hati saya akan tidak damai. Agar hati saya teduh, saya perlu benar terhadap setiap hal. Hanya bila kita menempuh hidup yang adalah ekspresi realitas ilahi, hati kita bisa menjadi teduh.
Sering kali kita, anak-anak Allah, tidak bahagia. Nehemia 8:11 mengatakan, “Sukacita karena Tuhan itulah kekuatanmu (perlindunganmu, LAI),” dan Amsal 17:22 mengatakan, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur.” Mengapa sering kali kita tidak mempunyai sukacita di dalam? Kita tidak mempunyai sukacita karena hati kita tidak damai. Tidak ada damai, malah ada badai. Hati kita tidak tenang karena kita tidak hidup dalam hayat ilahi. Tetapi bila kita hidup dalam hayat ilahi, kita berada dalam kebenaran, realitas. Lalu kita dapat menenangkan, mendamaikan, meyakinkan hati kita dan menyebabkannya menjadi teduh. Hasilnya, kita akan bersukacita.
Pada akhir ayat 19 Yohanes menyisipkan frase “di hadapan Allah”. Ini menunjukkan bahwa Tuhan hidup bersama kita dan di dalam kita. Jika kita tidak hidup oleh realitas ilahi, hati kita akan protes. Kemudian kita tidak akan mempunyai satu hati yang tenang di hadapanNya. Kita perlu mengingat bahwa Tuhan hidup di dalam kita dan kita hidup di hadapanNya. Hanya bila kita hidup dengan hayat ilahi kita dapat menenangkan hati kita di hadapan Dia. Frase “di hadapan Allah” menjelaskan satu masalah yang sangat penting bahwa kehidupan kita sebagai anak-anak Allah, dan juga hati kita, adalah di hadapan Dia. Karena itu, kita harus memperhatikan untuk selalu mempunyai satu hati yang teduh di hadapan Dia.
HATI KITA MENUDUH KITA, ALLAH LEBIH BESAR DARIPADA HATI KITA
Dalam ayat 20 Yohanes melanjutkan. “Bilamana hati kita menuduh kita. Sebab Allah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.” Sebenarnya hati nurani kitalah yang menuduh (menyalahkan) kita; hati nurani bukan hanya bagian dari roh, juga bagian dari hati. Hati nurani dalam hati kita adalah wakil pemerintahan Allah di dalam kita. Jika hati nurani kita menyalahkan kita, tentulah Allah, yang lebih besar daripada wakilNya dan mengetahui segala sesuatu, akan menyalahkan kita. Kesadaran akan adanya tuduhan semacam itu dalam hati nurani kita, mengingatkan kita akan bahaya terputusnya persekutuan kita dengan Allah. Jika kita memperhatikan kesadaran ini, ini akan membantu persekutuan kita dengan Allah dan akan memelihara kita tetap tinggal di dalam Tuhan.
Dengan membaca konteksnya, kita dapat melihat bahwa dalam ayat 20, hati sebenarnya mengacu kepada hati nurani. Hati nurani adalah salah satu dari keempat bagian hati, yang tersusun dari pikiran, emosi, tekad (ketiga bagian jiwa), dan hati nurani, yang adalah bagian dari roh kita. Hati kita sebagian besar dipengaruhi, diatur, dan dikontrol oleh hati nurani kita.
Ketika hati kita menuduh kita, ini berarti hati nurani kita menyalahkan kita. Jika kita tidak hidup oleh realitas ilahi, hati nurani kita akan memeriksa, menuduh, dan menyalahkan kita. Akibatnya, hati kita akan protes.
Dalam ayat 20 Yohanes mengatakan bahwa Allah lebih besar daripada hati kita, yaitu Allah lebih besar daripada hati nurani kita. Allah mempunyai satu pemerintahan, dan pemerintahan ini mempunyai satu administrasi lokal di dalam kita. Administrasi lokal pemerintahan Allah ini adalah hati nurani kita. Jadi, hati nurani kita merupakan administrasi lokal Allah di dalam kita. Dalam hal ini, hati nurani kita adalah sebuah “pengadilan” dan “kantor polisi”. Sering kali hati nurani kita “menahan” kita. Kantor polisi dari hati nurani kita, yang mengenal hukum dengan sangat baik, dapat mengeluarkan surat perintah pemahaman atas diri kita. Kemudian kantor polisi tahu kapan menyerahkan kita kepada pengadilan. Kita tahu dari pengalaman bahwa sering kali kita ditahan dan dibawa ke pengadilan, di mana kita dihakimi dan disalahkan. Bila ini terjadi, kita perlu pembersihan darah adi Yesus, Anak Allah. Ini menunjukkan bahwa penghukuman dari hati nurani yang dibicarakan dalam pasal 3 akan membawa kita kembali ke pembersihan (pembasuhan) yang disebutkan dalam pasal 1.
Jika hati nurani kita menyalahkan kita, menahan kita, dan menyalahkan kita, tentu saja Allah juga akan menyalahkan kita, karena Dia lebih besar daripada hati nurani kita dan mengetahui segala sesuatu.
Surat 1Yohanes tidak hanya membicarakan persekutuan ilahi, tetapi juga membicarakan seluk-beluk persekutuan ini. Di sini dalam 3:20 kita mempunyai satu seluk-beluk yang berhubungan dengan persekutuan ilahi. Tulisan Yohanes mengenai hal ini sangatlah dalam, misterius, ilahi, dan rinci. Tidak ada bagian lain dalam firman kudus yang memiliki banyak seluk-beluk tentang persekutuan ilahi seperti yang terdapat dalam ayat-ayat dalam 1Yohanes 3 ini. Ayat-ayat ini sangat penting untuk persekutuan kita dengan Allah.
Dalam pasal 1 banyak diungkapkan mengenai persekutuan hayat ilahi. Tetapi dalam pasal 3 persekutuan ini dipandang dari sudut yang lain. Dalam pasal 1 sudutnya adalah terang ilahi bersinar di dalam kita. Hasil dari penyinaran ini ialah kita disingkapkan dan disadarkan bahwa kita telah berdosa. Tetapi di sini, sudut pandang dalam pasal 3 ialah kehidupan berdasarkan realitas ilahi. Jika kita tidak hidup bersandarkan realitas ilahi, hati nurani kita akan protes dan menyalahkan kita. Penghakiman ini adalah satu tanda dari penghakiman Allah. Karena itu, kita harus melakukan sesuatu untuk mendamaikan situasi, menenangkan ketidakdamaian dalam hati kita, membuat hati nurani kita damai dengan Allah. Agar hati kita teduh dan tenang dalam hal ini, kita perlu hidup, berperilaku, dan bertindak dalam realitas ilahi.
Jika hati kita menghakimi kita karena kita tidak hidup dalam realitas ilahi, ini adalah satu tanda bahwa Allah juga menghakimi kita. Karena itu, keadaan batin kita perlu diperbaiki. Akan tetapi, ini tidak berarti kita harus mencoba memperbaiki karakter atau perilaku luaran kita. Ini berarti kita perlu menanggulangi keadaan batin kita sehingga kita mau hidup oleh hayat ilahi dan di dalam realitas ilahi. Jika kita melakukan ini, kita akan mempunyai keyakinan bahwa kita ada dalam realitas ilahi. Kemudian kita akan dapat menenangkan hati kita, membuatnya menjadi teduh, dan menikmati damai dalam hati nurani kita bersama Allah. Ini berhubungan dengan persekutuan ilahi.
Apa yang dikatakan Yohanes mengenai persekutuan dalam pasal 1 meliputi pengakuan dosa di bawah penyinaran terang ilahi dan pembersihan (pembasuhan) dosa kita oleh darah Kristus. Tetapi dalam pasal 3 ada protes dan teguran dari hati nurani di dalam kita. Ini bukan hanya masalah terang ilahi bersinar di dalam kita, di atas kita, dan melalui kita; ini juga masalah hati nurani yang dibersihkan, disucikan, dan dimurnikan yang memberikan kepada kita satu tanda bahwa kita tidak benar dalam hidup kita, kita tidak hidup dalam realitas ilahi. Bila kita tidak hidup oleh realitas ilahi, hati nurani kita akan protes dan menyalahkan kita. Ini adalah satu tanda bahwa Allah tidak berkenan kepada kita dan keadaan batin kita perlu diperbaiki.
KEBERANIAN TERHADAP ALLAH
Dalam 3:21 Yohanes mengatakan, “Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah.” Kata “keberanian” dalam bahasa Yunani adalah parresia, berarti keberanian berbicara, memiliki keyakinan. Kita memiliki keberanian semacam itu dalam ketenangan untuk berkontak dengan Allah, bersekutu denganNya, dan bertanya kepadaNya, karena tidak ada tuduhan hati nurani dalam hati kita. Hal ini akan menjaga kita tinggal di dalam Tuhan.
MENGENAL ALLAH DI DALAM HATI KITA
Orang Kristen sering membicarakan tentang mengenal Allah. Akan tetapi, konsepsi mereka adalah pengetahuan yang obyektif tentang Allah yang agung dan maha kuasa. Tetapi di sini Rasul Yohanes tidak mengajar kita untuk mengenal Allah secara obyektif seperti itu. Sebaliknya, perkataan Yohanes di sini adalah tentang mengenal Allah dengan cara yang sangat subyektif. Beberapa orang mungkin membicarakan Allah yang maha kuasa yang memerintah alam semesta, tetapi di sini Yohanes membicarakan Allah yang di dalam hati kita. Dia tidak mengatakan tentang Allah yang perkasa, tentang Allah yang agung; sebaliknya dia membicarakan Allah yang riil. Allah bukan hanya tidak terhingga, tidak terbatas, dan di luar pemahaman kita; Dia juga cukup kecil untuk berada dalam hati kita. Ketika Allah menjadi pengalaman kita, Dia bukan hanya persona yang di atas takhta yang seluas alam semesta, tetapi juga adalah persona yang ada dalam hati kita.
Beberapa orang mengatakan, “Bagaimana mungkin Kristus di dalam Anda? Kristus itu agung, dan Anda kecil. Bagaimana Anda dapat menampung Kristus yang sebesar itu?” Perkataan semacam ini berasal dari mental manusia yang jatuh. Menurut pengajaran Perjanjian Baru, kita perlu mengenal Allah secara pribadi dalam hati kita. Allah kita kenal bukan dalam keluasan alam semesta, tetapi dalam kekecilan ruang lingkup hati kita.
Di mana Anda mengenal Allah? Mengatakan bahwa Anda mengenal Allah di alam semesta adalah pembicaraan secara agamawi. Saya tentu saja percaya bahwa Allah itu agung dan maha kuasa. Tetapi di sini saya berbeban untuk menjelaskan bahwa Perjanjian Baru menyuruh kita mengenal Allah yang telah masuk ke dalam diri kita, persona yang berhuni di dalam roh kita, dan ingin meluas ke dalam seluruh bagian lubuk hati kita. Karena itu, kita perlu mengenal Allah dalam hati kita.
Dalam 3:20 Yohanes tidak mengatakan bahwa Allah lebih besar daripada alam semesta. Di sini Yohanes mengatakan bahwa Allah lebih besar daripada hati kita. Cara penulisan ini menyatakan bahwa pengetahuan kita tentang Allah harus berdasarkan pengalaman. Mengenal Allah bukanlah satu perkara alam semesta, tetapi perkara hati kita. Apakah hati Anda damai? Apakah hati Anda teduh? Ini berhubungan dengan pengenalan Anda terhadap Allah. Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa mereka mengenal Allah. Tetapi mereka mungkin mengenal Dia secara agamawi, secara obyektif. Kita perlu mengenal Allah dalam hati kita, dalam hati nurani kita. Mengenal Allah secara demikian berarti Allah yang agung, maha kuasa, tidak terbatas, menjadi riil bagi kita dalam hati nurani kita. Jika hati nurani kita mengusik kita, ini berarti Allah juga mempunyai satu masalah dengan kita.
Saya dapat bersaksi bahwa dari pengalaman saya telah belajar mengenal Allah dalam hati nurani saya. Sering kali dalam kehidupan kristiani saya, saya heran mengapa Allah mengurusi semua hal yang kecil dalam kehidupan saya sehari-hari. Contohnya, saya tahu bahwa Dia akan mengusik saya jika saya menampakkan “wajah yang panjang” terhadap istri saya. Jika saya memberi istri saya “wajah yang panjang”, Dia akan menyusahkan saya dalam hati nurani saya. Jika saya membantah Dia tentang masalah-masalah seperti ini, Allah yang ada dalam hati nurani saya akan tidak setuju dengan saya. Ini adalah satu contoh mengenal Allah secara pengalaman.
Dalam pengenalan kita secara pengalaman, Allah itu kecil, bukan tak terbatas. Seorang saudara mungkin berbantah dengan Allah; mengira Allah tidak sepantasnya menyusahkan hati nuraninya mengenai suatu masalah. Seandainya saudara itu berkata kepada Allah, “Mengapa hati nuraniku menyusahkanku mengenai istriku? Istriku salah, dan aku benar. Istriku menyebabkan masalah, dan aku telah berusaha menghindari percekcokan. Tetapi istriku mencoba memaksaku mengatakan sesuatu. Lalu, mengapa hati nuraniku menyusahkanku tentang caraku menyatakan perasaan? Ini tidak adil!” Tetapi tidak peduli berapa banyak saudara itu berbantah dengan Allah, Allah tidak akan menuruti kemauannya. Melainkan, Allah akan setuju dengan hati nurani saudara itu dalam menyalahkan dia.
Jika kita jujur, kita akan mengakui bahwa kadang-kadang kita keras kepala terhadap Allah. Kita mungkin tidak keras kepala terhadap suami atau istri kita atau terhadap kaum beriman, tetapi kita mungkin keras kepala terhadap Allah. Seorang saudara mungkin baik hati dan lemah lembut; namun, kadang-kadang saudara semacam ini mungkin keras kepala terhadap Allah. Dia mungkin ditundukkan oleh istrinya, tetapi dia mungkin tidak mudah ditundukkan oleh Allah. Dia mungkin pergi selama beberapa waktu tanpa sudi ditundukkan oleh Allah mengenai suatu masalah. Saya percaya bahwa kita semua bisa bersaksi bahwa kita pernah bersikap demikian keras kepala terhadap Allah.
Alasan kita keras kepala terhadap Allah adalah kita berbantah dengan Allah tentang sesuatu. Kita mungkin mengira bahwa kita benar dan orang lain salah, dan karena alasan inilah hati nurani kita tidak seharusnya menyusahkan kita. Kita mungkin mempertanyakan mengapa hati nurani kita, wakil dari pemerintahan Allah di dalam kita, terus menyusahkan kita tentang masalah tertentu. Karena itu, selama sejangka waktu kita keras kepala terhadap Allah.
Saya memakai ini sebagai satu ilustrasi tentang fakta bahwa cara Perjanjian Baru untuk mengenal Allah bersifat pribadi, rinci, dan juga pengalaman. Cara Perjanjian Baru adalah mengenal Allah sebagai persona yang ada dalam hati kita. Betapa mustikanya mengenal Allah melalui pengalaman.
Kadang-kadang kita heran mengapa Allah, yang memiliki miliaran masalah untuk diurus, mau memperhatikan urusan kecil dalam kehidupan kita sehari-hari. Meskipun Allah tidak terbatas dan maha kuasa, Dia pun mengurus hal-hal yang kecil dalam kehidupan kita. Contohnya, Dia mungkin mengurusi sikap batiniah seorang saudara terhadap istrinya, sesuatu yang sangat kecil yang seolah-olah memerlukan sebuah kaca pembesar ilahi untuk melihatnya. Namun, Allah mengurusi masalah semacam ini. Kita tahu Allah mengurus hal-hal semacam ini karena hati nurani kita mengusik kita mengenai hal-hal itu. Bila hati kita tidak teduh, kita tahu bahwa kita perlu memperhatikan perasaan hati nurani kita, yang adalah wakil dari pemerintahan ilahi. Dengan cara ini kita mengenal Allah bukan dalam hal-hal yang besar, tetapi dalam hal-hal yang kecil. Cara mengenal Allah ini adalah secara pengalaman dan riil.
MENURUTI SEGALA PERINTAH-NYA DAN MELAKUKAN APA YANG BERKENAN KEPADA-NYA
Dalam ayat 22 Yohanes selanjutnya mengatakan, “dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari Dia, karena kita menuruti segala perintahNya dan melakukan apa yang berkenan kepadaNya.” Perasaan bersalah dari hati nurani dalam hati yang terhukum adalah suatu penghalang bagi doa kita. Hati nurani yang tanpa cela dalam hati yang tenang bisa meluruskan dan menjernihkan jalan bagi permohonan kita kepada Allah.
Dalam ayat 22, menuruti segala perintahNya bukanlah menuruti perintah hukum Musa dengan usaha dan kekuatan kita sendiri, melainkan suatu bagian dari kehidupan orang beriman yang diperhidupkan dari hayat ilahi yang tinggal di dalam mereka, dengan kebiasaan memelihara atau menuruti perintah Tuhan dalam Perjanjian Baru melalui operasi batiniah kuasa hayat ilahi. Pemeliharaan perintah Tuhan mendampingi pelaksanaan hal-hal yang menyenangkan dalam pandanganNya secara terus-menerus, dan hal itu menjadi prasyarat jawaban Allah atas doa-doa kita, dan membentuk syarat kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan (ayat 24).
Dalam ayat 22 Yohanes membicarakan tentang hal-hal yang diperkenan dalam pandanganNya. Tidak diragukan, hal-hal ini adalah menempuh hidup yang benar dan di dalam kasih. Secara harfiah kata “pandangan” dalam bahasa Yunani berarti melihat ke dalam. Ini tidak mengacu kepada pandangan yang obyektif. Sebaliknya, mengacu kepada perhatian Tuhan atas kita dan melihat ke dalam situasi kita. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara kita dengan Allah sangatlah pribadi.
PERINTAH-PERINTAH
UNTUK PERCAYA DAN MENGASIHI
Dalam ayat 23 Yohanes selanjutnya berkata, “Dan inilah perintahNya: Supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, AnakNya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.” Ini adalah ringkasan perintah-perintah dalam ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Semua perintah dapat diringkas menjadi dua: percaya kepada nama Anak Allah, Yesus Kristus, dan mengasihi satu sama lain. Yang pertama berkaitan dengan iman; yang kedua berkaitan dengan kasih. Memiliki iman berarti menerima hayat ilahi dalam hubungan kita dengan Tuhan; mengasihi adalah menempuh kehidupan yang ilahi dalam hubungan kita dengan saudara-saudara. Iman menjamah sumber hayat ilahi; kasih mengekspresikan esens hayat ilahi. Keduanya diperlukan oleh kaum beriman untuk menempuh kehidupan tinggal di dalam Tuhan.
Menurut Injil Yohanes, iman dan kasih adalah dua syarat bagi kita untuk menikmati Allah. Untuk menerima Allah dan menikmati Dia, kita perlu percaya kepada Tuhan Yesus. Kita juga perlu mengasihi Dia dan mengasihi satu sama lain.
TINGGAL DI DALAM DIA MELALUI HIDUP DI DALAM REALITAS ILAHI
Dalam ayat 24 Yohanes menyimpulkan, “Siapa yang menuruti segala perintahNya, ia ada di dalam Allah, dan Allah di dalam dia. Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karu-niakan kepada kita.” Ayat ini adalah penutup bagian ini, yang dimulai dari 1Yohanes 2:28, mengenai tinggalnya kita di dalam Tuhan menurut pengajaran urapan ilahi, seperti yang diuraikan dalam bagian sebelumnya (2:20-27). Bagian ini mewahyukan bahwa tinggal di dalam Tuhan adalah kehidupan anak-anak Allah berdasarkan hayat kekalNya sebagai benih ilahi, yang bertumbuh berdasarkan melakukan kebenaran Allah yang melahirkan mereka (2:29; 3:7, 10) dan kasih Bapa yang melahirkan mereka (3:10-11, 14-23). Perkara tinggal di dalam yang sedemikian dan dasarnya kelahiran ilahi dan hayat ilahi sebagai benih ilahi bersifat misterius, namun nyata dalam Roh itu.
Menuruti segala perintahNya adalah menempuh hidup menurut realitas ilahi. Inilah yang dimaksud dengan menuruti segala perintah Tuhan menurut surat ini. Ini berarti menuruti segala perintahNya, bukan memelihara hukum Musa. Menuruti segala perintah Tuhan adalah menempuh hidup menurut realitas ilahi.
Jika kita menuruti segala perintah Tuhan dengan hidup di dalam realitas ilahi, kita akan tinggal di dalam Dia, dan Dia di dalam kita. Kita tinggal di dalam Tuhan, maka Dia tinggal di dalam kita. Tinggalnya kita di dalam Dia adalah syarat bagi tinggalnya Dia di dalam kita (Yoh. 15:4). Kita menikmati tinggalnya Dia di dalam kita melalui tinggal di dalam Dia.
ROH ITU
Bagian kedua dari ayat 24 mengatakan, “Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” Secara harfiah kata “yaitu dengan” dalam bahasa Yunani berarti “keluar dari”. Frase “dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” menjelaskan “kita ketahui”.
Sampai sejauh ini dalam surat ini belum disinggung tentang Roh, walaupun Roh itu tersirat dalam pengurapan dalam 1 Yohanes 2:20 dan 27. Sebenarnya, Roh itu, Roh pemberi hayat yang majemuk dan almuhit, adalah faktor yang vital dan sangat penting dari semua rahasia yang disingkapkan dalam surat ini: hayat ilahi, persekutuan hayat ilahi, pengurapan ilahi, tinggal di dalam Tuhan, kelahiran ilahi, dan benih ilahi. Melalui Roh inilah kita dilahirkan dari Allah, menerima hayat ilahi sebagai benih ilahi di dalam kita, memiliki persekutuan hayat ilahi, diurapi oleh Allah Tritunggal, dan tinggal di dalam Tuhan. Roh ajaib ini diberikan kepada kita sebagai berkat yang dijanjikan dalam Perjanjian Baru (Gal. 3:14). Dia diberikan tanpa batas oleh Kristus yang ada di atas semuanya, yang mewarisi semuanya, dan yang akan diperluas secara universal (Yoh. 3:31-35). Roh ini dan hayat kekal ini (1 Yoh. 3:15) adalah unsur dasar yang dengannya kita menempuh kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan secara terus-menerus. Jadi, oleh Roh ini, yang bersaksi bersama roh kita, kita menjadi anak-anak Allah (Rm. 8:16), dan kita tahu bahwa Tuhan atas segala sesuatu itu tinggal di dalam kita (1 Yoh. 4:13). Melalui Roh inilah kita diikatkan dengan Tuhan menjadi satu roh (1 Kor. 6:17). Dan oleh Roh inilah kita menikmati kekayaan Allah Tritunggal (2 Kor. 13:13).
Satu Yohanes 3 menyimpulkan dengan satu kata mengenai Roh. Ini menunjukkan bahwa apa yang diungkapkan dalam pasal ini adalah satu perkara Roh yang berhuni, pemberi hayat, majemuk, dan almuhit. Dalam ayat ini Yohanes tidak membicarakan Roh Allah atau Roh Kudus; dia membicarakan Roh itu. Kapan saja Perjanjian Baru menyebutkan Roh itu, sebutan ini mengacu kepada Roh yang berhuni, pemberi hayat, majemuk, dan almuhit. Dalam pasal terakhir dalam Alkitab, kita mempunyai satu kata mengenai Roh itu (Why. 22:17). Roh itu lebih almuhit daripada Roh Allah dan Roh Kudus. Roh itu mengacu kepada Roh itu yang belum ada (Yoh. 7:39) sebelum Kristus dimuliakan. Sekarang karena Kristus sudah bangkit, Roh itu sudah ada. Karena itu, kita tinggal di dalam Tuhan dan Dia tinggal di dalam kita oleh Roh itu yang telah Dia berikan kepada kita.