KEBAJIKAN KELAHIRAN ILAHI UNTUK MEMPRAKTEKKAN KASIH ILAHI (2)
Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 3:14-19a
SUMBER, ESENS, UNSUR, DAN RUANG LINGKUP
Satu Yohanes 3:14a mengatakan, “Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara seiman kita.” Dalam berita yang lalu kita telah melihat bahwa maut berasal dari Iblis (sumber maut), dan hayat berasal dari Allah (sumber hayat). Bukan hanya ada maut dan hayat dari kedua sumber ini, Iblis dan Allah; juga ada dua esens, dua unsur, dan dua ruang lingkup. Pindah dari dalam maut ke dalam hayat adalah pindah dari sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup maut ke dalam sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup hayat. Ini terjadi ketika kita dilahirkan kembali, dilahirkan dari Allah.
Kita perlu meninjau lebih jauh sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup maut dan hayat. Apakah perbedaan antara esens hayat dengan unsur hayat, dan apakah perbedaan antara unsur hayat dengan ruang lingkup hayat? Kita perlu mengerti perbedaan antara hal-hal ini.
Mungkin cara yang terbaik untuk menjelaskan perbedaan antara sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup hayat dan maut adalah memakai ilustrasi berikut. Seandainya suatu minuman dibuat dari tiga unsur: susu, teh, dan gula. Setiap unsur memiliki esensnya sendiri. Ini berarti teh ada esensnya, substansi teh. Demikian juga, susu dan gula masing-masing memiliki esens atau substansi yang berbeda. Kita tidak mengatakan bahwa minuman ini dibuat dari tiga substansi, tetapi kami katakan bahwa minuman itu dibuat dari tiga unsur dan di dalam unsur-unsur ini ada tiga esens atau substansi yang berbeda.
Ketika kita beroleh selamat, kita menerima lebih dari satu unsur dari Allah. Kita menerima hayat, kita juga menerima kebenaran. Hayat dan kebenaran disebutkan dalam Roma 5. Unsur-unsur apakah yang kita miliki sebelum kita beroleh selamat? Sebelum kita beroleh selamat, kita bersatu dengan Iblis, dan kita memiliki unsur-unsur dosa dan maut. Tetapi ketika kita beroleh selamat, kita menerima kebenaran (yang berlawanan dengan dosa) dan hayat (yang berlawanan dengan maut).
Baik pada segi negatif maupun segi positifnya, kita memiliki dua unsur. Pada segi negatif, kita memiliki dosa dan maut; pada segi positif, kita mempunyai kebenaran dan hayat. Dalam keempat unsur ini masing-masing ada semacam esens. Esens hayat dan esens kebenaran adalah satu macam, dan esens dosa dan esens maut adalah macam yang lain.
Kebenaran dan Hayat
Marilah sekarang kita menerapkan hal-hal ini pada pengalaman kita. Ketika kita berada di dalam unsur maut, kita mengalami esens, substansi maut. Sekali lagi, kita dapat memakai teh sebagai satu ilustrasi. Ketika kita minum teh, apa yang kita minum bukanlah unsur teh; kita minum esens teh. Ketika kita menerima Tuhan Yesus pada saat kita beroleh selamat dan dilahirkan kembali, kita menerima dua unsur. Akan tetapi, kita tidak seharusnya mengatakan bahwa kita menerima dua esens. Pada kelahiran kembali kita menerima unsur-unsur hayat dan kebenaran, dan sekarang kita hidup di dalam unsur-unsur ini. Tetapi tidaklah tepat mengatakan bahwa kita menerima dua esens dan kita sekarang hidup di dalam esens-esens ini. Setelah menerima unsur-unsur hayat dan kebenaran, kita sekarang menikmati dan mengalami esens dari unsur-unsur ini. Kita telah menerima unsur kebenaran, dan sekarang kita menikmati esens dari unsur ini. Demikian juga, kita telah menerima unsur hayat, dan sekarang kita mengalami esens dari unsur ini. Sebelum kita dilahirkan kembali, kita di dalam unsur dosa dan maut, dan kita menderita akibat pekerjaan esens dosa dan esens maut di dalam kita. Perkataan yang singkat ini dapat membantu kita mengetahui bagaimana menerapkan esens dan unsur kebenaran dan hayat.
Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki dua unsur ilahi kebenaran dan hayat. Sekarang dalam pengalaman kita sehari-hari kita menikmati kebenaran ilahi dan hayat ilahi. Akan tetapi, tegasnya, kita menikmati esens, substansi kebenaran dan hayat ilahi.
Pindah dari Dalam Maut ke Dalam Hayat
Kita telah menjelaskan bahwa melalui kelahiran kembali kita telah dipindahkan dari sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup maut ke dalam sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup hayat. Perhatikan urutannya: sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup. Esens mengikuti sumber, unsur mengikuti esens, dan ruang lingkup mengikuti unsur. Pertama-tama kita memiliki sumber. Kemudian dari sumber datanglah esens. Esens ini membentuk satu unsur, dan akhirnya unsur ini menjadi satu ruang lingkup. Karena itu, mengenai hayat, kita pertama-tama memiliki sumber hayat. Dari sumber datanglah esens hayat. Esens ini membentuk unsur hayat, dan unsur hayat ini kemudian menjadi ruang lingkup hayat.
Kita mungkin memakai satu mata air untuk menggambarkan perbedaan antara sumber hayat, esens hayat, unsur hayat, dan ruang lingkup hayat. Air mengalir keluar dari mata air dan menjadi sebuah sungai. Mata air adalah sumber. Kita dapat mengatakan bahwa H2O adalah esens dari apa yang keluar dari mata air. Esens ini kemudian membentuk air, dan air yang mengalir menjadi sebuah sungai. Di sini kita memiliki mata air sebagai sumber, H2O sebagai esens, air sebagai unsur, dan sungai sebagai ruang lingkup. Karena itu, dalam ruang lingkup sungai kita mempunyai air sebagai unsur, dan esens dari unsur ini adalah H2O. Sumber dari ini semua adalah mata air.
Sebagai anak-anak Allah, kita telah menerima hayat ilahi dari Allah. Allah adalah sumber, mata air, dari hayat ilahi. Esens hayat ilahi adalah diri Allah sendiri. Sebab itu, diri Allah, esensNya, adalah esens air rohani yang telah kita terima sebagai hayat ilahi. Hayat ini juga adalah satu unsur yang olehnya dan di dalamnya kita dapat hidup. Bila kita hidup dalam unsur hayat ilahi, hayat ilahi menjadi ruang lingkup kehidupan kita. Sekarang kita hidup di dalam ruang lingkup hayat ilahi, memiliki unsur hayat ilahi, dan menikmati esens hayat ilahi. Selanjutnya, selama kita menikmati esens hayat ilahi, kita dipersatukan secara organik kepada Allah sebagai sumber hayat ini. Inilah alasannya kita mengatakan bahwa dengan hayat ilahi kita mempunyai sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup.
Prinsipnya sama dengan maut. Sebelum kita beroleh selamat dan dilahirkan kembali, kita ada di dalam sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup maut. Kita hidup di dalam ruang lingkup maut, memiliki unsur maut, dan menderita esens maut. Selain itu, kita dipersatukan dengan Iblis, sumber maut. Karena itu, sebelum kelahiran kembali, kita mengalami dan menderita sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup maut.
Sebelum kita beroleh selamat, kita mengalami empat aspek maut. Sekarang, karena kita telah beroleh selamat, kita mengalami empat aspek hayat. Meskipun kita telah memiliki semua aspek ini dalam pengalaman kita, kita kekurangan pengetahuan untuk menganalisis aspek-aspek itu dan kekurangan istilah untuk menggambarkan aspek-aspek itu.
MENYERAHKAN NYAWA KITA
UNTUK SAUDARA-SAUDARA
Dalam 3:16 Yohanes mengatakan, “Dengan inilah kita mengenal kasih Kristus, yaitu bahwa Kristus telah menyerahkan nyawaNya (jiwaNya) untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa (jiwa) kita untuk saudara-saudara seiman kita.” Ayat ini mengatakan bahwa Kristus menyerahkan hayat jiwaNya, hayat psucheNya, bagi kita, bukan hayat ilahiNya, hayat zoeNya. Kristus menyerahkan jiwaNya bagi kita berarti Dia menyerahkan hayat insaniNya untuk kepentingan kita. Sekarang kita juga harus menyerahkan nyawa kita untuk kepentingan saudara-saudara. Ini berarti, jika perlu, kita harus mati bagi mereka. Di dalam kita terdapat satu hayat kasih yang rela mati bagi orang lain dan dapat mati bagi orang lain. Hayat ilahi di dalam kita, zoe, rela mengasihi orang lain dan bahkan mati bagi mereka jika perlu. Kita dapat melakukan hal ini karena kita mempunyai hayat ilahi.
MENGASIHI DALAM REALITAS
Dalam ayat 17-18 Yohanes melanjutkan, “Siapa yang mempunyai harta duniawi dan melihat saudara seimannya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimana kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Harta duniawi dalam ayat 17 mengacu kepada hal-hal materi, keperluan hidup. Dalam ayat 18, perbuatan berlawanan dengan perkataan, dan kebenaran (kesungguhan) berlawanan dengan lidah. Lidah mengacu kepada permainan kata yang sia-sia dan kebenaran (kesungguhan) menyatakan realitas kasih. Kebenaran (kesungguhan) menunjukkan ketulusan hati, berkebalikan dengan lidah, sebagaimana perbuatan berkebalikan dengan perkataan. Kebenaran (kesungguhan) di sini menunjukkan kemurnian, ketulusan Allah sebagai kebajikan ilahi menjadi kebajikan insani, sebagai pengaliran dari realitas ilahi. Karena itu, kebenaran dalam ayat ini adalah realitas Allah menjadi kebajikan kita.
Yohanes mengatakan bahwa kita tidak boleh mengasihi saudara hanya dengan perkataan atau dengan lidah saja, jangan hanya mengatakan kepada kaum beriman bahwa kita mengasihi mereka. Ini bukanlah mengasihi dalam kebenaran, mengasihi dalam realitas. Mengasihi kaum beriman dalam kebenaran atau realitas berarti mengasihi mereka dalam realitas ilahi yang menjadi kebajikan kita, sesuatu yang jujur, setia, tulus, dan riil. Kita harus mengasihi saudara secara demikian. Tentu saja, kasih dalam kebenaran semacam ini termasuk satu kasih yang menyuplai orang yang memerlukan dengan materi atau uang bila perlu. Jangan mengasihi saudara dengan kata-kata yang sia-sia, kita harus mengasihi mereka dalam kebenaran dan bahkan dengan harta duniawi kita.
Jangan mengira bahwa mengasihi dalam kebenaran adalah mengasihi dalam kebajikan ketulusan hati insani. Tidak, di sini Yohanes tidak mengatakan tentang kebajikan ketulusan hati alamiah manusia. Kebenaran di sini melebihi ketulusan hati manusia; adalah realitas ilahi menjadi kebajikan kita. Dengan demikian, kebenaran adalah ekspresi dari apa adanya Allah. Ini berarti dalam mengasihi kaum beriman kita harus mengekspresikan Allah.
MENGETAHUI BAHWA KITA
BERASAL DARI KEBENARAN
Dalam 3:19a Yohanes selanjutnya mengatakan, “Demikianlah kita ketahui bahwa kita berasal dari kebenaran.” Dalam ayat ini kebenaran menyatakan realitas hayat kekal yang kita terima dari Allah saat kelahiran ilahi kita, yang memungkinkan kita mengasihi saudara dengan kasih ilahi. Melalui mengasihi saudara dengan kasih ilahi, kita tahu bahwa kita berasal dari realitas ini.
Frase “demikianlah” mengacu kepada kasih kita kepada saudara dalam kebenaran, dalam ketulusan hati, seperti disebutkan dalam ayat 18. Kebenaran ini adalah hasil dari mengalami Allah Tritunggal sebagai realitas kita. Dalam kasih semacam inilah kita mengetahui, mempunyai jaminan bahwa kita berasal dari kebenaran.
Dalam ayat 18-19 kata “kebenaran” mengacu kepada dua hal yang berbeda. Dalam ayat 18 kebenaran mengacu kepada kebajikan ketulusan hati insani, satu kebajikan yang adalah hasil dari menikmati Allah Tritunggal sebagai realitas kita. Tetapi dalam ayat 19 kebenaran mengacu kepada realitas hayat kekal, yang adalah sesuatu yang lebih tinggi, lebih dalam, dan lebih kaya daripada ketulusan hati kita. Kebenaran ini adalah realitas hayat kekal yang kita terima dari Allah melalui kelahiran ilahi, sehingga kita dapat mengasihi saudara dengan kasih ini.
KELAHIRAN ILAHI DAN HAYAT KEKAL
Dalam surat ini Yohanes menyajikan hal-hal yang dalam, ilahi, dan misterius. Semua hal ini berhubungan dengan hayat ilahi. Akan tetapi, orang-orang Kristen sering membicarakan hayat Allah atau hayat kekal dengan satu penger-tian yang sangat terbatas. Mereka tidak mengerti hayat ilahi secara mendalam, kaya, dan besar. Beberapa orang beriman bahkan tidak menyadari bahwa hayat kekal adalah satu perkara yang organik. Mereka menganggap hayat kekal sebagai satu berkat kekal atau sebagai kehidupan abadi yang akan kita nikmati dalam kekekalan. Namun, walaupun kita mempunyai satu pengertian yang benar tentang hayat kekal sebagai sesuatu yang organik, pengertian kita tentang hal ini masih sangat dangkal.
Kita telah menerima hayat kekal melalui kelahiran ilahi kita. Akan tetapi, ketika banyak orang Kristen berbicara tentang kehidupan abadi, mereka tidak menyadari bahwa hayat kekal adalah hasil, akibat, buah, dari kelahiran ilahi. Di masa yang lampau, banyak dari kita tidak menyadari bahwa hayat kekal masuk ke dalam kita sebagai satu hasil kelahiran ilahi. Berbicara tentang hayat kekal, kita mungkin tidak memiliki konsepsi bahwa hayat kekal berhubungan dengan kelahiran ilahi. Karena itu, kita perlu menyadari bahwa hayat kekal telah masuk ke dalam kita melalui kelahiran ilahi. Selain dari kelahiran ilahi, kita tidak dapat memiliki hayat kekal.
Kita telah nampak bahwa dalam ayat 19 kebenaran atau realitas mengacu kepada realitas hayat ilahi yang kita terima dari kelahiran ilahi. Karena itu, realitas ini meliputi hayat ilahi dan kelahiran ilahi. Sekarang karena kita telah menerima hayat ilahi, kita dapat mengasihi saudara dengan kasih ilahi. Di sini kita mempunyai kelahiran ilahi, hayat ilahi, dan kasih ilahi. Dengan ini kita nampak bahwa mengasihi saudara bukanlah satu perkara yang dangkal atau sederhana. Sebaliknya, kasih kita untuk saudara adalah hasil dari kelahiran ilahi dan hayat ilahi.
Karena kita telah menerima hayat ilahi melalui kelahiran ilahi, maka kita mempunyai kasih ilahi yang dengannya kita mengasihi saudara. Kita dapat mengatakan bahwa kita mempunyai modal rohani yang diperlukan untuk mengasihi saudara. Hayat ilahi adalah kemampuan kita untuk mengasihi saudara. Kita mampu mengasihi saudara karena kita telah dilahirkan dari Allah. Melalui kelahiran ilahi, kita telah menerima hayat ilahi dan esens dari hayat ini adalah kasih. Karena itu, kita dapat mengasihi saudara dengan kasih ilahi.
Jika kita mengasihi saudara dalam ketulusan hati, yang adalah hasil dari kenikmatan kita atas Allah sebagai realitas, ini akan menjadi bukti bahwa kita ada di dalam realitas ilahi. Ini akan menjadi satu penegasan tentang fakta bahwa kita ada di dalam realitas hayat ilahi, yang telah kita terima melalui kelahiran ilahi. Dengan mengasihi saudara dengan kasih ilahi, kita tahu bahwa kita berasal dari realitas ilahi.