KEBAJIKAN KELAHIRAN ILAHI UNTUK MEMPRAKTEKKAN KASIH ILAHI (1)
Pembacaan Alkitab: 1 Yoh. 3:10b-15
Dalam Surat 1Yohanes ada tiga bagian utama, persekutuan hayat ilahi (1:1-2:11), pengajaran urapan ilahi (2:12-27), dan kebajikan kelahiran ilahi (2:28-5:21). Bagian pertama dari bagian ketiga (2:28-3:10a) berkenaan dengan melakukan kebenaran ilahi. Dalam berita ini kita sampai pada bagian kedua dari bagian ini (3:10b-5:3), satu bagian atas mempraktekkan kasih ilahi. Dalam kelahiran ilahi ada satu kebajikan yang memungkinkan kita mempraktekkan kasih ilahi.
DENGAN HAYAT ILAHI (SEBAGAI BENIH ILAHI)
DAN ROH ILAHI
Untuk mempraktekkan kasih ilahi sebagai satu kebajikan hayat ilahi, kita perlu hayat ilahi dan Roh ilahi. Hayat ilahi adalah benih ilahi yang kita miliki di dalam roh kelahiran kembali kita. Di samping hayat ilahi yang telah menjadi benih ilahi didalam diri kita, kita juga mempunyai Roh ilahi di dalam roh kita. Hayat ilahi dan Roh ilahi adalah “modal” di dalam kita yang memungkinkan kita mempraktekkan kasih ilahi. Hayat ilahi adalah sumber, dan Roh ilahi adalah persona yang secara riil melaksanakan perkara mengasihi orang lain. Kasih ilahi adalah kehidupan kita sehari-hari sebagai ekspresi hayat ilahi yang dilaksanakan oleh Roh ilahi.
Hayat ilahi dan Roh ilahi merupakan faktor dasar untuk mempraktekkan kasih ilahi. Dengan hayat ilahi dan oleh Roh ilahi, kita bisa memiliki kasih yang bukan hanya insani, tetapi juga ilahi. Kasih ilahi dalam kehidupan sehari-hari anak-anak Allah merupakan bukti bahwa kita memiliki hayat ilahi dan Roh ilahi.
Orang yang Tidak Mengasihi Saudaranya
Tidak Berasal dari Allah
Dalam 1Yohanes 3:10b Yohanes mengatakan, “Setiap orang yang tidak melakukan kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga siapa saja yang tidak mengasihi saudara seimannya.” Kebenaran adalah hakiki tindakan Allah; kasih adalah hakiki esens Allah. Apa adanya Allah adalah kasih; apa yang Allah perbuat adalah kebenaran. Kasih di dalam, kebenaran di luar. Jadi, dibandingkan dengan kebenaran, kasih adalah manifestasi yang lebih kuat yang menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Maka, dari ayat ini sampai ayat 24, rasul maju dari kebenaran kepada kasih dalam penyataan hidup anak-anak Allah, sebagai syarat yang lebih lanjut dari kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan.
Adalah satu hal yang serius bagi Yohanes untuk mengatakan bahwa setiap orang yang tidak mengasihi saudaranya tidak berasal dari Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita pasti berasal dari Allah dan bahkan dilahirkan dari Allah. Karena kita berasal dari Allah, kita pasti mempunyai hayat Allah dan Roh Allah di dalam kita. Dengan spontan, kita menempuh hidup yang mengasihi saudara. Akan tetapi, jika seseorang tidak mempunyai kasih semacam ini, ini adalah satu bukti bahwa dia tidak mempunyai hayat ilahi atau Roh ilahi. Jadi, ada satu masalah serius mengenai apakah orang semacam ini adalah anak Allah, dilahirkan dari Dia. Mengasihi saudara adalah satu bukti yang kuat bahwa kita berasal dari Allah, mempunyai hayat Allah dan menikmati Roh Allah.
Saling Mengasihi —
Berita yang Telah Didengar sejak Semula
Dalam ayat 11 Yohanes selanjutnya berkata, “Sebab ini lah berita yang telah kamu dengar sejak semula, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi.” Berita yang telah didengar sejak semula adalah perintah-perintah yang diberikan oleh Tuhan dalam Yohanes 13:34, yaitu perkataan yang didengar dan dimiliki oleh orang beriman sejak semula. Dalam ayat 11 frase “sejak semula” digunakan dalam makna relatif. Kasih yang dibicarakan di sini adalah syarat yang lebih tinggi dari kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan.
Bukan seperti Kain
Dalam ayat 12 Yohanes melanjutkan, “Bukan seperti Kain yang berasal dari si jahat dan membunuh adiknya. Mengapa ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.” “Dari si jahat” sama dengan seorang anak Iblis. Saudara Kain, Habel, berasal dari Allah, adalah anak Allah (ayat 10). Kata “si jahat” dalam bahasa Yunaninya adalah poneros, yang berarti jahat, kejahatan yang berbahaya, mempengaruhi orang lain menjadi jahat dan ganas. Si jahat seperti itu adalah Iblis, Satan.
Dalam ayat 12 Yohanes memakai dua saudara di dalam daging, Kain dan Habel, sebagai satu ilustrasi. Meskipun mereka berasal dari orang tua yang sama, yang satu menjadi seorang anak Allah, dan yang lain menjadi anak Iblis. Ini sulit untuk dipercaya. Kita mungkin heran bagaimana kedua saudara yang lahir dari orang tua yang sama dan hidup di dalam lingkungan yang sama dapat menjadi sangat berbeda, yang satu menjadi anak Iblis dan yang lain menjadi anak Allah. Namun, inilah faktanya. Fakta ini di sini dipakai sebagai satu ilustrasi tentang orang macam apakah anak Iblis dan macam apakah anak Allah. Untuk mengetahui ini, kita harus melihat kasus Kain dan Habel.
Fakta bahwa Kain adalah anak Iblis dibuktikan dengan kebenciannya kepada saudaranya dan membunuhnya. Ini menunjukkan bahwa Kain tidak mempunyai hayat Allah atau Roh Allah. Mengapa Kain membenci saudaranya? Dia membencinya karena dia mempunyai hayat membenci dari Iblis di dalam dia. Mengapa Kain membunuh Habel? Dia membunuh karena di dalam dirinya mempunyai sifat jahat dari Iblis. Apa yang dimiliki Kain di dalamnya adalah hayat Iblis, sifat Iblis, dan satu roh jahat. Akan tetapi, Habel, sama sekali berbeda. Demikian juga hari ini, orang-orang yang lahir dari orang tua yang sama dan bertumbuh di dalam lingkungan yang sama dapat menjadi orang-orang yang mutlak berbeda. Yang satu dapat menjadi anak Allah dan yang lain menjadi anak Iblis.
Jangan Heran Jika Dunia Membenci Kita
Ayat 13 mengatakan, “Janganlah kamu heran, Saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu.” “Dunia” di sini meng-acu kepada orang-orang dunia. Orang-orang dunia, seperti Kain, adalah anak-anak Iblis (ayat 10) adalah komponen sistem kosmos Iblis dunia(Yoh. 12:31). Jika orang-orang dunia, yang berada dalam cengkeraman si jahat, Iblis (5:19), membenci kaum beriman (anak-anak Allah), itu wajar bagi mereka, kita tidak perlu heran. Situasi di antara saudara-saudara sedaging hari ini mungkin sama seperti antara Kain dengan Habel. Seandainya seorang saudara adalah anak Iblis dan yang lain adalah anak Allah. Secara atomatis, saudara yang adalah anak Iblis akan membenci saudara yang adalah anak Allah. Mengenai ini, kita tidak perlu heran.
Ayat 13 dengan kuat menyatakan bahwa seluruh orang dunia adalah anak-anak Iblis. Hanya sejumlah kecil, kaum beriman yang dilahirkan kembali, adalah anak-anak Allah. Jika kita hidup oleh hayat Allah dan oleh Roh Allah, dunia akan membenci kita. Karena kita dan mereka berada di dalam dua kategori yang berbeda, mereka akan tidak senang terhadap kita.
Mengetahui bahwa Kita Sudah Dipindahkan dari Maut ke Dalam Hidup
Dalam 1Yohanes 3:14 Yohanes mengatakan, “Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara seiman kita. Siapa yang tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” Maut berasal dari Iblis, musuh Allah, Satan, yang dilambangkan dengan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, yang mendatangkan maut. Hayat berasal dari Allah (sumber hayat), yang dilambangkan dengan pohon hayat, yang menghasilkan hayat (Kej. 2:9, 16-17). Maut dan hayat bukan hanya membedakan dua sumber, Iblis dan Allah; juga merupakan dua esens, dua unsur, dan dua ruang lingkup. Pindah dari maut ke dalam hayat adalah pindah dari sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup maut ke dalam sumber, esens, unsur, dan ruang lingkup hayat. Ini terjadi di dalam kita pada saat kita dilahirkan kembali. Kita mengenal hal ini, memiliki kesadaran batiniah mengenai hal ini, karena kita mengasihi saudara. Kasih (kasih Allah) terhadap saudara adalah bukti yang kuat dari hal ini. Percaya kepada Tuhan adalah jalan untuk pindah dari maut ke dalam hayat; kasih terhadap saudara adalah bukti bahwa kita sudah pindah dari maut ke dalam hayat. Percaya adalah menerima hayat kekal; mengasihi adalah hidup berdasarkan hayat kekal dan mengekspresikannya.
Tidak mengasihi saudara adalah bukti bahwa seseorang tidak hidup dalam esens dan unsur kasih ilahi dan tidak menetap dalam ruang lingkup kasih itu, sebaliknya hidup dalam esens dan unsur kematian setani dan tinggal dalam ruang lingkupnya.
Perkataan dalam 3:14 sungguh mirip dengan firman yang diucapkan oleh Tuhan Yesus yang dikutip oleh Yohanes dalam Injilnya: “Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (5:24). Perkataan Yohanes membawa kita kembali kepada kejatuhan di Taman Eden. Setelah manusia diciptakan, manusia diletakkan di hadapan dua pohon: pohon hayat dan pohon pengetahuan baik dan jahat. Pohon yang kedua berhubungan dengan maut, karena dalam Kejadian 2 Adam diberi tahu bahwa jika dia makan pohon pengetahuan baik dan jahat, dia akan mati. Sebab itu, pohon pengetahuan baik dan jahat berhubungan dengan maut. Hawa dan Adam makan buah pohon pengetahuan. Akibatnya, mereka menerima maut ke dalam diri mereka. Dengan kata lain, mereka membawa diri mereka sendiri ke dalam maut. Karena kejatuhan, umat manusia telah dibawa ke dalam maut. Karena alasan ini, setiap orang yang lahir ke dalam Adam adalah lahir ke dalam maut. Ini berarti setiap orang yang lahir ke dalam Adam adalah lahir bukan untuk hidup, tetapi untuk mati. Seorang anak lahir untuk mati, karena sebagai keturunan Adam, dia dilahirkan ke dalam maut.
Ketika kita bertobat dari dosa-dosa kita dan percaya kepada Tuhan Yesus, kita beroleh selamat. Saat itu pula, kita dilahirkan kembali. Dilahirkan kembali sebenarnya berarti menerima pohon hayat, yang darinya umat manusia terputus karena kejatuhan Adam. Ketika Adam makan buah pohon pengetahuan, dia menerima maut ke dalam dirinya dan kehilangan kesempatan untuk menerima pohon hayat. Tetapi kesempatan menerima pohon hayat telah dipulihkan melalui penebusan Kristus. Pada saat kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, kesempatan itu terbuka bagi kita. Melalui bertobat dan percaya, dengan spontan kita menerima hayat ilahi ke dalam kita, dan pada saat itu juga kita dipindahkan dari maut ke dalam hidup.
Jika Anda memperhatikan pengalaman keselamatan Anda, Anda akan menyadari bahwa ketika Anda beroleh selamat dan dilahirkan kembali, Anda dipindahkan dari maut ke dalam hidup. Karena kita semua dipindahkan dari maut ke dalam hidup ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima Dia sebagai Juruselamat kita, selanjutnya terjadilah satu perubahan besar di dalam hayat. Kita mulai menempuh satu kehidupan yang lain, satu kehidupan kebenaran dan kasih. Kita ingin menjadi benar dan pengasih terhadap anak-anak Allah. Ini bukan hanya perubahan luaran; ini adalah dipindahkan dari maut ke dalam hidup. Karena itu, bila kita mengasihi saudara di dalam Tuhan, kasih ini adalah satu bukti bahwa kita telah dipindahkan dari maut ke dalam hidup.
Jika seseorang tidak mengasihi saudara tetapi sebaliknya membenci mereka, itu adalah satu bukti bahwa orang ini tetap di dalam maut yang masuk ke dalam umat manusia melalui kejatuhan Adam. Karena maut masuk ke dalam umat manusia sejak dahulu, kita dilahirkan ke dalam maut. Tetapi ketika kita bertobat dan percaya, kita dipindahkan dari dalam maut ke dalam hayat ilahi. Karena kita telah dipindahkan dari dalam maut pohon pengetahuan ke dalam hidup pohon hayat, kita telah mempunyai satu perubahan dan sekarang menempuh hidup yang benar dan di dalam kasih.
Setiap orang yang telah beroleh selamat dan dilahirkan kembali dapat bersaksi bahwa dia telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Tidak perlu mengatakan kepada orang lain bagaimana Anda sebelum beroleh selamat. Katakan saja kepada mereka bagaimana keadaan Anda sejak beroleh selamat.
Karena Anda telah beroleh selamat dan dilahirkan kembali, maka Anda ingin menempuh hidup yang benar terhadap Allah dan manusia. Anda ingin menjadi benar terhadap suami atau istri Anda, terhadap orang tua Anda, terhadap anak-anak Anda, terhadap kerabat, tetangga-tetangga, dan rekan-rekan Anda. Keinginan Anda adalah menempuh hidup yang benar terhadap setiap orang dan bahkan terhadap setiap hal. Contohnya, orang yang menempuh hidup yang benar bahkan tidak akan menganiaya seekor binatang. Sebagai orang yang telah menerima hayat ilahi dengan sifat ilahi, satu sifat yang benar, kita mempunyai keinginan menjadi benar dalam segala hal.
Keinginan menjadi benar terhadap semua hal ini pun diperluas kepada hal-hal materi. Sebelum diselamatkan, seseorang mungkin mempunyai kebiasaan menendang kursi atau melempar sesuatu ketika sedang marah. Tetapi setelah orang ini menerima hayat ilahi dengan sifat ilahi, dia tidak ingin menjadi tidak benar dalam segala hal.
Karena kejatuhan, hayat alamiah kita menjadi tidak benar. Karena inilah, dalam hayat alamiah kita tidak benar terhadap orang lain dan bahkan terhadap perkara-perkara. Namun ketika kita menerima Tuhan Yesus, kita menerima hayat dari pohon hayat, satu hayat dengan satu sifat yang benar. Karena kita telah menerima hayat ini dengan sifat ilahi, maka secara otomatis kita pun ingin menjadi benar terhadap setiap orang dan setiap perkara.
Sebagai orang yang telah beroleh selamat dan dilahirkan kembali, kita juga dapat bersaksi bahwa kita ingin mengasihi orang lain. Sebagai orang yang telah dilahirkan dari Allah, kita ingin membantu orang-orang dan mengasihi mereka. Ketika kita mengasihi orang lain, kita merasa bahagia. Tetapi kita mungkin merasa sedih bila kita kehilangan kesempatan untuk menolong seseorang atau memperlihatkan kasih kita kepadanya.
Kasih adalah sifat hayat ilahi yang telah kita terima. Karena esens Allah adalah kasih, hayat Allah mempunyai sifat kasih. Kasih adalah esens sifat Allah. Bila kita memiliki Dia sebagai hayat ilahi kita, kita mempunyai sifat hayat ini, yang adalah kasih. Kita, orang-orang Kristen, anak-anak Allah, mempunyai satu kehidupan yang ingin hidup dengan benar terhadap setiap orang dan setiap perkara dan juga ingin mengasihi orang lain. Kita mempunyai satu keinginan semacam ini karena sifat ilahi di dalam kita. Seperti yang telah kita jelaskan, jika seseorang tidak hidup dalam satu cara yang benar terhadap setiap orang, setiap perkara, dan tidak menempuh satu kehidupan yang mengasihi orang lain, ada satu pertanyaan serius: Benarkah orang ini telah menerima hayat ilahi?
Orang yang Tidak Mengasihi Tinggal di Dalam Maut
Dalam 1Yohanes 3:14 Yohanes mengatakan, “Siapa yang tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” Jika kita tidak mengasihi orang lain, ini adalah satu bukti bahwa kita masih tetap di dalam maut. Dengan kata lain, ini adalah satu tanda bahwa kita belum dipindahkan dari dalam maut ke dalam hidup.
Setiap Orang yang Membenci Saudaranya
Adalah Seorang Pembunuh
Dalam ayat 15a Yohanes selanjutnya mengatakan, “Setiap orang yang membenci saudara seimannya adalah pembunuh manusia.” Terhadap atribut ilahi, kebencian berlawanan dengan kasih, kematian berlawanan dengan hayat, kegelapan berlawanan dengan terang, dan kebohongan (kepalsuan) berlawanan dengan kebenaran. Semua yang berlawanan dengan kebajikan ilahi berasal dari si jahat, Iblis.
Dalam ayat 15 pembunuh tidak menyatakan pembunuh yang sebenarnya, melainkan menyatakan bahwa dalam etika rohani, membenci sama dengan membunuh. Tidak ada pembunuh yang sebenarnya, (seorang yang belum beroleh selamat), seperti Kain (ayat 12), yang memiliki hayat kekal di dalam dirinya. Karena kita tahu hal ini, kita yang telah pindah dari dalam maut ke dalam hayat dan mempunyai hayat kekal tinggal di dalam kita, tidak seharusnya berperilaku seperti pembunuh yang belum beroleh selamat dengan membenci saudara-saudara kita di dalam Tuhan.
Bagian ini membicarakan kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan. Orang beriman yang memiliki hayat kekal, tetapi tidak tinggal di dalam Tuhan dan tidak membiarkan Tuhan yang adalah hayat kekal tinggal dan bekerja di dalamnya, bisa membenci saudaranya, dan ada kalanya melakukan dosa-dosa lain. Tetapi ini bukanlah kebiasaan.
Seseorang mungkin tidak benar-benar melakukan pembunuhan, tetapi dia mungkin seorang pembunuh secara prinsip. Ini berarti, meskipun dia tidak pernah secara fisik membunuh seorang pun, dia tetap seorang pembunuh secara prinsip dengan membenci orang lain. Jika kita membenci seseorang, dalam prinsipnya kita berperilaku seperti seorang pembunuh, meskipun kita tidak membunuh seorang pun. Karena itu, kita perlu menyadari dengan tegas bahwa kita, orang-orang Kristen, anak-anak Allah, tidak boleh membenci seorang pun. Sebaliknya, kita perlu mengasihi orang lain. Alkitab malah menyuruh kita mengasihi musuh-musuh kita (Mat. 5:44). Karena hayat ilahi yang kita miliki adalah hayat yang mengasihi, hayat yang adalah kasih, kita harus mengasihi orang-orang yang tidak layak dikasihi, bahkan orang-orang yang menganiaya kita. Tidak boleh ada satu pun unsur kebencian dari dalam diri kita. Kasih adalah hayat dan sifat kita, dan kasih harus menjadi esens dan kehidupan kita. Karena itu, kita tidak boleh membenci siapa pun. Hari ini beberapa orang mungkin menentang pemulihan Tuhan, tetapi kita tidak boleh membenci mereka. Jangan membenci mereka, sebaliknya kita harus mengasihi mereka. Jika kita membenci orang-orang yang menentang kita, dalam prinsipnya, kita telah berkelakuan seperti seorang pembunuh.
Tidak Ada Pembunuh yang Mempunyai Hayat Kekal Tinggal di Dalam Dia
Dalam ayat 15b Yohanes melanjutkan, “Dan kamu tahu bahwa tidak ada pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.” Ketika Yohanes mengatakan bahwa tidak ada pembunuh mempunyai hayat kekal di dalamnya, dia tidak membicarakan tentang orang-orang yang beroleh selamat, tetapi orang yang belum beroleh selamat, seperti Kain.
Setelah membaca ayat 15, beberapa orang bertanya, apakah seorang beriman yang membunuh seseorang masih mempunyai hayat kekal tinggal di dalam dia. Ketika saya masih muda, dalam pelayanan saya kepada Tuhan, sedikitnya beberapa kali saya ditanyai dengan pertanyaan semacam ini. Beberapa orang bertanya, mungkinkah seorang beriman sejati membunuh seseorang dan jika dia melakukannya, apakah dia masih mempunyai hayat kekal tinggal di dalamnya. Memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan semacam ini tidaklah mudah. Tidaklah tepat mengatakan bahwa mutlak tidak mungkin bagi seorang beriman sejati untuk benar-benar membunuh seseorang. Di pihak lain, tidaklah nyaman mengatakan bahwa orang yang diselamatkan mungkin saja melakukan pembunuhan. Lebih baik kita menyerahkan masalah ini kepada Tuhan dan tidak mencoba untuk menjelaskannya.
Dalam masalah seperti ini, jangan mau dialihkan oleh hawa nafsu bagi pengetahuan. Seseorang mungkin mengatakan, “Satu Yohanes 3:15 mengatakan kepada kita bahwa tidak ada pembunuh yang mempunyai hayat kekal di dalam dia. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi jika seorang beriman sejati melakukan pembunuhan. Apakah orang itu masih mempunyai hayat kekal?” Pertanyaan semacam ini disuntikkan ke dalam pikiran kita oleh Iblis. Jika pertanyaan semacam ini sampai kepada Anda, Anda harus mengatakan, “Iblis, jangan menanyai aku seperti ini. Aku bukanlah orang yang harus menjawab pertanyaan ini. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaan ini, tanyakanlah kepada Allahku. Aku tidak tahu hal-hal ini, dan aku tidak ingin dibingungkan oleh hal-hal ini. Akan tetapi, aku tahu Iblis, bahwa aku telah dilahirkan kembali dan mempunyai hayat ilahi di dalamku. Aku juga tahu bahwa aku menikmati sifat ilahi dan aku mempunyai Allah sebagai Roh ilahi, hidup di dalamku. Satan, aku tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Menyingkirlah dariku!” Saya dapat bersaksi bahwa Tuhan telah merahmati saya dan memberi saya hikmat untuk menangani pertanyaan-pertanyaan semacam ini secara demikian. Akan tetapi, beberapa saudara yakin bahwa mereka berpengetahuan dan cakap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai kemungkinan seorang beriman yang mempunyai hayat kekal melakukan pembunuhan. Jangan mempunyai keyakinan seperti itu di dalam diri kita sendiri. Cukuplah bila kita melihat bahwa sebagai anak-anak Allah, kita tidak seharusnya membenci orang lain. Jangan berkelakuan seolah-olah kita adalah seorang pembunuh.
Kita telah melihat bahwa dalam prinsipnya membenci sama dengan membunuh. Seorang anak Allah mungkin saja membenci seseorang, tetapi tidak ada orang yang telah dilahirkan kembali terbiasa melakukan hal ini. Jika Anda secara terbiasa membenci orang lain, patut dipertanyakan apakah Anda telah menerima hayat ilahi. Ini sama dengan melakukan dosa. Seorang beriman kadang-kadang dapat melakukan dosa, tetapi dia tidak terbiasa melakukannya. Jika Anda terbiasa berdosa, ini juga akan menimbulkan pertanyaan apakah Anda telah menerima hayat ilahi.
Maksud Yohanes adalah menampakkan kepada kita bahwa melalui kelahiran ilahi, benih ilahi telah ditanamkan ke dalam diri kita. Benih ini adalah hayat ilahi, dan hayat ilahi mempunyai sifat ilahi. Tidak hanya demikian, kita telah menerima Roh ilahi untuk melaksanakan apa pun yang ada di dalam hayat ilahi dan sifat ilahi. Janganlah mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang melampaui kemampuan kita untuk menjawab, kita harus menyadari bahwa kita telah menerima hayat ilahi, kita sedang menikmati sifat ilahi dari hayat ini, dan persona ilahi, yaitu Allah sendiri sebagai Roh itu, ada di dalam kita, melaksanakan apa pun yang ada di dalam sifat ilahi. Karena itu, kita harus memperhidupkan hayat ini, tinggal di dalam Dia, dan memelihara persekutuan yang tidak terputus dengan Dia menurut pengurapan yang di dalam. Inilah butir utama dari tulisan Yohanes.