← Daftar isi 1 Yohanes · bab 2/16

KEBAJIKAN KELAHIRAN ILAHI UNTUK MELAKUKAN KEBENARAN ILAHI (2)

Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 2:28—3:10a

Dalam Surat 1 Yohanes ada 3 bagian utama: persekutuan hayat ilahi (1:1—2:11), pengajaran urapan ilahi (2:12-27), dan kebajikan kelahiran ilahi (2:28—5:21). Urutan bagian-bagian ini menyatakan bahwa persekutuan hayat ilahi dan pengajaran urapan ilahi membawa kita ke dalam kebajikan kelahiran ilahi.

Dalam bagian ketiga kita melihat berapa banyak kenikmatan yang kita terima dari kelahiran ilahi. Khususnya, kenikmatan ini berhubungan dengan kebajikan kelahiran ilahi. Kelahiran ilahi mendatangkan banyak kebajikan. Hanya dengan persekutuan hayat ilahi dan dengan pengajaran urapan ilahi kita dapat mengalami dan menikmati semua kebajikan yang ditanamkan kepada kita melalui kelahiran ilahi. Menurut Surat 1 Yohanes, yang pertama dari kebajikan ini adalah melakukan kebenaran ilahi. Karena itu, judul

berita ini adalah “Kebajikan Kelahiran Ilahi untuk Melakukan Kebenaran Ilahi”.

KELAHIRAN ILAHI SEBAGAI DASAR

Melakukan kebenaran ilahi mempunyai satu dasar, dan dasar ini adalah kelahiran ilahi (2:29; 3:9; 4:7; 5:1, 4, 18). Melalui kelahiran ini kita telah menerima hayat ilahi sebagai benih ilahi. Kita dapat mengatakan bahwa benih ini adalah “modal” bagi kehidupan kristiani kita. Untuk menempuh hidup sebagai orang Kristen, kita perlu modal semacam ini, yaitu kita perlu hayat ilahi ditanamkan sebagai benih ilahi ke dalam diri kita melalui kelahiran ilahi.

Kelahiran ilahi membawakan benih ilahi kepada kita, dan melalui benih ini kita berbagian dalam sifat ilahi untuk pertumbuhan kita dalam hayat ilahi. Hayat semacam ini selalu mempunyai satu sifat khusus, dan sifat ini adalah untuk pertumbuhan. Karena kita telah dilahirkan dari Allah, maka kita mempunyai hayat ilahi. Dalam hayat ilahi ini ada sifat ilahi. Sekarang kita berbagian dalam dan menikmati sifat ilahi ini (2 Ptr. 1:4), agar kita dapat bertumbuh dalam hayat ilahi. Inilah dasar untuk melakukan kebenaran ilahi, kasih ilahi (3:10b—5:3), dan mengalahkan segala hal negatif (5:4-21).

HAYAT ILAHI SEBAGAI SARANA

Kita telah melihat bahwa kelahiran ilahi adalah dasar. Sekarang kita perlu melihat bahwa hayat ilahi adalah sarana. Pertama-tama, hayat ilahi adalah sarana bagi kita untuk tinggal di dalam Allah Tritunggal. Jika kita tidak mempunyai hayat insani, kita tidak dapat tinggal dalam keinsanian. Demikian juga, jika kita tidak mempunyai hayat ilahi, kita tidak dapat tinggal dalam Allah Tritunggal. Tetapi karena kita mempunyai hayat ilahi, dengan hayat ini kita dapat tinggal dalam Allah Tritunggal.

Dengan hayat ilahi sebagai sarana, kita juga dapat memperhidupkan hayat ini dalam kehidupan insani kita. Ini berarti kita dapat menempuh satu kehidupan yang melakukan kebenaran ilahi, mengasihi saudara-saudara, dan mengalahkan segala hal yang negatif.

MELALUI TINGGAL DI DALAM

PERSEKUTUAN ILAHI

MENURUT PENGURAPAN ILAHI

Kita dapat melakukan kebenaran ilahi melalui tinggal di dalam persekutuan ilahi menurut pengurapan ilahi (2:27-28). Melalui tinggal ini pertama-tama kita menikmati Allah sebagai terang (1:5, 7; 2:10), dan kemudian kita menikmati Dia sebagai kasih (4:8, 16). Terang dan kasih lebih dalam daripada kebenaran dan anugerah. Terang adalah sumber kebenaran, dan kasih adalah sumber anugerah. Melalui tinggal di dalam persekutuan ilahi menurut pengurapan ilahi, kita tidak hanya menerima kebenaran dan anugerah, tetapi juga menikmati terang sebagai sumber kebenaran dan kasih sebagai sumber anugerah.

Dengan kelahiran ilahi sebagai dasar, hayat ilahi sebagai sarana, dan melalui tinggal di dalam persekutuan ilahi menurut pengurapan ilahi, kita dapat melakukan kebenaran ilahi. Sekarang, mari kita lanjutkan pembahasan tentang melakukan kebenaran ilahi.

MELAKUKAN KEBENARAN ILAHI

Pesan untuk Semua Orang Beriman

Dalam 2:28 Yohanes mengatakan, “Jadi sekarang, anak-anakKu, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Dia menyatakan diriNya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatanganNya.” Perkataan ini ditujukan kepada “anak-anak”, yaitu kepada semua orang beriman (2:1). Pesan ini dimulai (2:28), dilanjutkan (3:6), dan berakhir (3:24) dengan “tinggallah di dalam Dia”. Jika kita tinggal di dalam Dia, kita dapat mempunyai keberanian dan tidak malu kepada Dia pada hari kedatanganNya, pada parousiaNya. Ini berarti ketika Dia datang kembali, kita tidak akan malu kepada kemuliaanNya. Tetapi jika kita tidak tinggal di dalam Allah Tritunggal dan terus-menerus menempuh hidup ilahi, ketika Tuhan datang kembali, kita akan menderita malu, yang adalah semacam pendisiplinan yang dijatuhkan ke atas kita. Kemudian kita akan dijauhkan dari kemuliaanNya.

Mengetahui dan Melakukan

Dalam ayat 29 Yohanes melanjutkan, “Jikalau kamu tahu bahwa Ia benar, kamu harus tahu juga bahwa setiap orang yang melakukan kebenaran, lahir dari Dia.” Kata “tahu” yang pertama disebutkan dalam ayat ini adalah terjemahan dari bahasa Yunani eidete, dari oida, yang berarti pemahaman dengan pengetahuan yang disadari, penampakan batin yang lebih dalam. Kita perlu tahu dengan cara ini bahwa Allah itu benar. Jika kita memahami ini, kita akan mengetahui bahwa setiap orang yang melakukan kebenaran telah dilahirkan dari Allah.

Melakukan kebenaran adalah satu masalah kebiasaan dan tidak disengaja sebagai satu kehidupan sehari-hari yang umum. Sebab itu, melakukan kebenaran ilahi adalah melakukan kebenaran secara kebiasaan dan tanpa sengaja sebagai kehidupan kita sehari-hari. Akan tetapi, jika kita melakukan kebenaran dengan sengaja dengan satu maksud, itu bukanlah satu masalah kehidupan sehari-hari kita yang umum, sebaliknya adalah perilaku yang politis. Seseorang mungkin melakukan kebenaran dengan satu maksud untuk memperoleh satu kedudukan atau nama bagi dirinya sendiri. Itu adalah perilaku yang politis. Tetapi kita, orang-orang Kristen, sebagai anak-anak Allah, harus dijenuhi dengan Allah yang benar sehingga dengan spontan kita menempuh satu hidup yang melakukan kebenaran secara kebiasaan dan tidak disengaja. Kita bukan melakukan suatu tindakan kebenaran untuk maksud tertentu, tetapi kita melakukan kebenaran sebagai kehidupan sehari-hari kita yang umum. Inilah hasil dari persekutuan hayat ilahi dan pengurapan Trinitas ilahi. Selanjutnya, ini adalah satu ekspresi dari Allah yang benar. Melalui tinggal di dalam Allah yang benar, kita diinfus dan dijenuhi dengan Dia. Kemudian kehidupan kita menjadi satu ekspresi dari Allah yang benar yang denganNya kita telah diinfus dan dijenuhi. Allah yang benar ini kemudian menjadi kehidupan benar kita, kebenaran sehari-hari kita. Melakukan kebenaran ini bukan hanya kelakuan di luaran semata, tetapi juga pernyataan dari hayat yang di dalam. Seperti yang telah kami jelaskan, ini bukalah satu tindakan yang dilakukan untuk satu maksud; ini adalah aliran hayat dari dalam sifat ilahi yang dengannya kita berbagian.

Melihat Betapa Besar Kasih yang Bapa Berikan kepada Kita

Satu Yohanes 3:1 mengatakan, “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah; dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu, dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” Ayat ini tercakup dalam potongan firman dari 2:28 sampai 3:3, adalah alinea tunggal yang membahas kehidupan yang benar dari anak-anak Allah.

Dalam 3:1 Yohanes menyinggung tentang kelahiran ilahi dan Bapa yang melahirkan. Dari Allah Tritunggal yang tersirat dalam 2:29, di sini Bapa disebutkan secara khusus. Dia adalah sumber hayat ilahi, yang melahirkan kita kembali dengan hayat ini. Kasih Allah dinyatakan dalam hal Dia mengirim AnakNya mati bagi kita (4:9; Yoh.3:16), agar kita dapat memiliki hayatNya dan dengan demikian menjadi anak-anakNya (1:12-13). Allah mengutus AnakNya agar Dia dapat melahirkan kita. Jadi, kasih Allah adalah kasih yang melahirkan kita, kasih ini khususnya ada di dalam Bapa.

Kata “anak-anak” dalam 3:1 selaras dengan “yang lahir dari Dia” dalam 1Yohanes 2:29. Kita telah dilahirkan dari Bapa, sumber hayat, untuk menjadi anak-anak Allah, Allah pun menjadi Pemilik kita, anak-anak itu. Kita mengambil bagian dalam hayat Bapa untuk mengekspresikan Allah Tritunggal.

Dalam 3:1 Yohanes mengatakan, “Karena itu, dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” Kata “karena itu” dalam bahasa Yunani dapat juga diterjemahkan karena pertimbangan ini, karena alasan ini. Kita adalah anak-anak Allah berdasarkan kelahiran yang misterius oleh hayat ilahi, karena itu dunia tidak mengenal kita. Dunia tidak mengenal bahwa kita dilahirkan kembali oleh Allah; dunia tidak mengenal kita, karena dunia tidak mengenal Allah. Dunia tidak mengenal Allah, maka dunia pun tidak mengenal kelahiran ilahi kita.

Menyadari bahwa Anak-anak Allah Mempunyai Masa Depan yang Hebat

Dalam 3:2 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Saudara-saudaraku yang terkasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi, kita tahu bahwa apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya.” Karena kita adalah anak-anak Allah, kita akan seperti Dia dalam kematangan hayat, ketika Dia menyatakan diri. Seperti Dia adalah “apa jadinya kita kelak”. Hanya hal ini sekarang belum nyata. Ini menunjukkan bahwa anak-anak Allah memiliki satu masa depan yang sangat gemilang dengan berkat yang lebih baik. Kita tidak hanya memiliki sifat ilahi, tetapi juga akan memiliki rupa ilahi. Berbagian dalam sifat ilahi sudah merupakan berkat dan kenikmatan besar; tetapi menjadi seperti Allah, mengemban rupaNya, akan merupakan suatu berkat dan kenikmatan yang lebih besar.

Kata ganti “Dia” dalam 3:2 mengacu kepada Allah, juga mengacu kepada Kristus yang akan dinyatakan. Ini tidak hanya menunjukkan bahwa Kristus adalah Allah, tetapi juga menyiratkan Trinitas ilahi. Ketika Kristus menyatakan diri, Allah Tritunggal akan dinyatakan. Ketika kita melihat Dia, kita akan melihat Allah Tritunggal, dan ketika kita serupa dengan Dia, kita akan serupa dengan Allah Tritunggal.

Dalam ayat 2 Yohanes mengatakan, “Kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya.” Ini berarti dengan melihat Dia, kita akan memantulkan rupaNya (2 Kor. 3:18). Ini akan membuat kita menjadi serupa dengan apa adanya Dia.

Ayat 2 menyatakan bahwa anak-anak Allah mempunyai satu masa depan yang gemilang. Akan tetapi, saya mendengar beberapa orang beriman mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai masa depan. Kaum beriman ini perlu menyadari bahwa mereka mempunyai masa depan yang gemilang dengan berkat-berkat yang baik sekali. Masa depan kita dinyatakan dengan perkataan “belum nyata apa keadaan kita kelak”. Bagaimana kita kelak adalah rahasia ilahi. Karena ini adalah semacam rahasia, tentu ini adalah sesuatu yang gemilang. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana masa depan kita kelak. Fakta bahwa masa depan kita belum dinyatakan menunjukkan bahwa masa depan kita akan menakjubkan. Meskipun belum dinyatakan bagaimana kita kelak, kita tahu bahwa ketika Putra menyatakan diri, kita akan seperti Allah Tritunggal.

Menyucikan Diri

Dalam 3:3 Yohanes melanjutkan, “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci.” Pengharapan yang dibicarakan di sini adalah pengharapan akan menjadi serupa dengan Tuhan, memiliki rupa Allah Tritunggal. Pengharapan kita adalah kita akan seperti Dia.

Ayat 3 mengatakan bahwa karena kita mempunyai pengharapan ini, kita menyucikan diri kita sendiri. Menurut konteks bagian ini, dari 1Yohanes 2:28-3:24, menyucikan diri kita adalah mempraktekkan kebenaran (3:7; 2:29); menempuh hidup yang benar adalah ekspresi Allah Yang adil (1:9), Yang benar (2:1). Inilah yang dimaksud dengan menjadi suci tanpa noda ketidak benaran, sama seperti Dia yang mutlak suci. Ini juga menggambarkan kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan.

Tidak Melanggar Hukum

Dalam 3:4 Yohanes mengatakan, “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” Berbuat dosa di sini bukan hanya adakalanya melakukan dosa, melainkan hidup dalam dosa (Rm. 6:2), menempuh hidup yang tidak berada di bawah prinsip pemerintahan Allah atas manusia.

Tidak ada seorang pun anak Allah yang berbuat dosa secara kebiasaan. Kita adakalanya bisa berdosa, tetapi kita tidak berbuat dosa secara kebiasaan. Misalnya, jika seseorang terus-menerus berdusta, itu adalah satu tanda bahwa dia mungkin belum dilahirkan dari Allah. Orang yang mempunyai hayat ilahi di dalamnya sebagai satu benih, tidak dapat terbiasa berdusta. Akan tetapi, karena kelemahan, seorang anak Allah dapat berdusta dalam keadaan tertentu. Namun karena dia adalah seorang anak Allah, dia tidak akan terbiasa berdusta. Siapa saja yang adalah anak Allah, tidak berbuat dosa, sebaliknya terbiasa melakukan kebenaran.

Dalam 3:4 Yohanes mengatakan bahwa dosa adalah pelanggaran hukum Allah. Pelanggaran hukum adalah tidak mempunyai hukum, menjadi tanpa hukum. Ini tidak mengacu kepada tanpa hukum Taurat Musa (lihat Rm. 5:13), karena dosa sudah ada di dalam dunia sebelum hukum Taurat Musa diberikan. Tanpa hukum di sini menyatakan berada di luar, tidak di bawah prinsip pemerintahan Allah atas manusia. Melakukan pelanggaran adalah menempuh kehidupan di luar dan bukan di bawah prinsip pemerintahan Allah atas manusia. Jadi, kedurhakaan adalah dosa, atau sebaliknya, dosa adalah pelanggaran.

Kristus Dinyatakan untuk Menghapus Dosa

Ayat 5 mengatakan, “Dan kamu tahu bahwa Ia telah menyatakan diriNya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.” Kata “menghapus” di sini dalam bahasa Yunaninya sama seperti dalam Yohanes 1:29. Di sana Kristus sebagai Anak domba Allah menghapus dosa (tunggal) dunia, yang masuk ke dalam dunia melalui Adam (Rm. 5:12). Di sini Dia menghapus dosa (jamak), yang dilakukan oleh semua manusia. Yohanes 1 menanggulangi totalitas dosa, meliputi sifat dosa dan perbuatan dosa. Pasal ini hanya menanggulangi buah-buah dosa, yaitu dosa-dosa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Keduanya telah dihapuskan oleh Kristus.

Dalam Dia yang menghapus dosa (sifat dosa) dan dosa-dosa (perbuatan dosa), tidak ada dosa. Jadi, Dia tidak mengenal dosa (2Kor. 5:21), Dia tidak berbuat dosa (1 Ptr. 2:22), dan Dia tanpa dosa (Ibr. 4:15). Ini melayakkan Dia untuk menghapus dosa yang berhuni dan dosa-dosa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Tidak Berbuat Dosa secara Kebiasaan

Dalam ayat 6 Yohanes melanjutkan, “Setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak pernah melihat dan tidak pernah mengenal Dia.” Tinggal di dalam Dia adalah tinggal dalam persekutuan hayat ilahi dan berjalan dalam terang ilahi (1:2-3, 6-7).

Perkataan “tidak berbuat dosa lagi” berarti tidak berdosa secara kebiasaan. Ini juga adalah syarat kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan. Ini bukan berarti anak-anak Allah tidak berbuat dosa sama sekali; mereka mungkin adakalanya masih berbuat dosa. Ini berarti kaum beriman yang dilahirkan kembali, yang memiliki hayat ilahi dan hidup dengan hayat ilahi, tidak mempraktekkan dosa. Karakter dan kebiasaan mereka bukanlah berbuat dosa, melainkan tinggal di dalam Tuhan.

Tinggal di dalam Tuhan adalah kehidupan orang beriman; berdosa adalah kehidupan orang dosa. Dalam ayat ini Yohanes mengatakan bahwa setiap orang yang mempraktekkan dosa, menempuh hidup yang penuh dosa, tidak menerima visi Tuhan dan tidak mengenal Dia. Keadaan ini sama dengan orang yang tidak percaya. Tetapi jika kita telah mengalami Tuhan, kita telah melihat Dia dan mengenal Dia. Melihat dan mengenal Tuhan adalah mengalami Dia.

Menempuh Kehidupan yang Benar

Dalam ayat 7 Yohanes mengatakan, “Anak-anakku, ja-nganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Siapa

yang melakukan kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar.” Melakukan kebenaran adalah menempuh kehidupan yang benar, hidup dengan benar di bawah prinsip pemerintahan Allah. Menurut ayat berikut, ini bukanlah melakukan dosa, dan menurut ayat 4, tidak mempraktekkan pelanggaran.

Menurut konteksnya, “benar” di sini sama dengan “suci” dalam ayat 3. Benar adalah suci, tanpa noda dosa sedikit pun, tanpa pelanggaran dan ketidakbenaran, bahkan sama seperti Kristus adalah suci. Penekanan Rasul Yohanes adalah asal kita adalah anak-anak Allah yang mempunyai hayat ilahi dan sifat ilahi, kita pasti akan secara kebiasaan menempuh kehidupan yang benar.

Iblis Berbuat Dosa sejak Semula

Dalam ayat 8 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Siapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab sejak semula Iblis terus-menerus berbuat dosa. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis.” Ayat ini menunjukkan bahwa “berbuat dosa” dalam ayat 4 dan dalam ayat ini adalah sinonim, menyatakan kehidupan dalam dosa, biasa berbuat dosa. Kehidupan semacam ini berasal dari Iblis; kehidupan Iblis adalah kehidupan dosa dan yang berbuat dosa terus sejak semula. Dosa adalah sifatnya dan berdosa adalah karakternya.

Dalam ayat 8 kata depan “dari” digunakan dalam arti mutlak, yaitu dari saat Iblis mulai memberontak terhadap Allah dan berusaha menggulingkan pemerintahan Allah.

Kristus Dinyatakan untuk Membinasakan

Perbuatan-perbuatan Iblis

Dalam ayat ini Yohanes mengatakan bahwa Anak Allah menyatakan diri agar Dia dapat membinasakan dan menghancurkan perbuatan dosa Iblis. Kata “untuk inilah” dalam bahasa Yunani secara harfiah berarti sampai ini, yaitu pada akhir ini, untuk tujuan ini. Iblis telah berdosa terus-menerus dari zaman dulu dan memperanakkan orang-orang dosa agar mereka dapat mempraktekkan dosa bersama dia. Karena itu, Anak Allah menyatakan diri agar Dia dapat membinasakan dan menghancurkan perbuatan dosa Iblis, yaitu, menghukum dosa yang diawali oleh dia, si jahat, menghancurkan kuasa dosa, sifat dosa Iblis (Ibr. 2:14), dan menghapus dosa dan dosa-dosa melalui kematianNya di atas salib dalam daging (Rm. 8:3).

Penyebab Seorang Anak Allah

Tidak Dapat Berbuat Dosa

Ayat 9 mengatakan, “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa, sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (Tl.). Tidak berbuat dosa di sini bukan berarti bahwa kita adakalanya tidak bisa berbuat dosa, melainkan berarti kita tidak hidup dalam dosa. Seorang anak Allah adakalanya bisa berbuat dosa, tetapi dia tidak berbuat dosa secara kebiasaan.

Penyebab seorang anak Allah tidak berbuat dosa adalah “benih ilahi tetap tinggal di dalam dia dan dia tidak dapat berbuat dosa, karena dia lahir dari Allah.” Benih di sini

menyatakan hayat Allah yang kita terima dari Allah ketika kita dilahirkan dari Dia. Hayat ini adalah benih ilahi, tinggal dalam setiap orang beriman yang dilahirkan kembali. Jadi, orang sedemikian tidak berbuat dosa dan tidak dapat berdosa. Kata-kata “tidak dapat berbuat dosa” dalam ayat ini berarti tidak dapat terbiasa hidup di dalam dosa. Orang beriman yang dilahirkan kembali adakalanya bisa jatuh ke dalam dosa, tetapi hayat ilahi sebagai benih ilahi dalam sifatnya yang sudah dilahirkan kembali, tidak akan membiarkan dia hidup di dalam dosa. Ini sama dengan seekor domba, yang mungkin saja jatuh ke dalam lumpur, tetapi hayatnya yang bersih tidak akan membiarkannya tetap tinggal dan berkubang di dalam lumpur seperti yang dilakukan babi.

Ayat 9 membicarakan tentang kebiasaan hidup anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai hayat ilahi, satu hayat yang tidak berdosa. Karena itu, bila kita hidup oleh hayat ini, kita tidak berbuat dosa. Tetapi mengapa kita adakalanya masih berdosa? Jawaban pertanyaan ini adalah karena tubuh kita masih di dalam ciptaan lama. Tubuh kita bukan hanya tubuh yang diciptakan oleh Allah, tetapi juga tubuh yang telah menjadi daging karena telah diracuni dan dirusak oleh Iblis melalui dosa. Kita masih mempunyai dosa di dalam daging kita. Jika kita hidup oleh roh, yaitu jika kita hidup oleh hayat ilahi di dalam roh kita, kita tidak akan berdosa. Tetapi jika tidak hidup di dalam roh, sebaliknya kita hidup di dalam daging atau melakukan sesuatu menurut daging, kita mungkin berbuat dosa.

Kita mempunyai dua sifat di dalam kita: sifat yang jatuh di dalam daging dan sifat yang baru dari hayat ilahi di dalam roh kita. Jika kita berjaga-jaga, bersekutu dengan Tuhan dan hidup di dalam roh kita oleh hayat ilahi, kita tidak akan berdosa. Tetapi jika kita ceroboh, bergerak, dan bertindak di dalam daging, akan ada banyak kesempatan bagi kita untuk berdosa, karena sifat dosa masih di dalam kita.

Beberapa orang mungkin mendebat dan berkata, “Bukankah Alkitab mengatakan kepada kita bahwa siapa saja yang lahir dari Allah tidak berdosa? Lalu, dapatkah Anda mengatakan bahwa siapa saja yang lahir dari Allah masih dapat berbuat dosa?” Anda dapat menjawab pertanyaan semacam ini dengan cara ini, “Ya, aku telah dilahirkan dari Allah. Tetapi aku telah dilahirkan dari Dia di dalam rohku, tidak di dalam tubuhku, tidak di dalam dagingku. Ini berarti jika kita hidup di dalam daging dan berjalan menurut daging, kita masih dapat melakukan dosa. Tetapi suatu hari tubuh kita akan menerima keputraan yang sempurna. Itulah yang akan menjadi penebusan tubuh.”

Kita dapat memakai kata “diputrakan” untuk menunjukkan keputraan yang sempurna, yaitu penebusan tubuh kita. Kita telah dilahirkan dari Allah (dilahirkan kembali) di dalam roh kita, tetapi tubuh kita belum diputrakan. Ketika Tuhan Yesus datang kembali, tubuh kita akan diputrakan. Lalu, menurut Roma 8:23, kita akan menerima keputraan yang sempurna, penebusan tubuh kita. Kita perlu menyadari bahwa kita belum ditebus di dalam tubuh kita. Tubuh kita belum dilahirkan kembali; belum dilahirkan dari Allah.

Anak-anak Allah dan Anak-anak Iblis

Dalam 3:10a Yohanes mengatakan, “Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis”. Ini mengacu kepada berbuat dosa atau tidak berbuat dosa, yaitu hidup di dalam dosa atau tidak hidup di dalam dosa. Ini bukan perkara tingkah laku, melainkan anak siapakah kita anak Allah atau anak Iblis. Jadi, ini adalah soal hayat dan sifat. Manusia, sebagai keturunan Adam yang telah jatuh, terlahir sebagai anak-anak Iblis, si jahat (Yoh. 8:44), dan memiliki hayatnya, berbagian dalam sifatnnya, dengan sendirinya terbiasa hidup dalam dosa. Melakukan dosa adalah kehidupan mereka. Namun kaum beriman, yang ditebus dari keadaan mereka yang jatuh dan dilahirkan kembali dalam roh mereka adalah anak-anak Allah, memiliki hayatNya, berbagian dalam sifatNya, dan tidak hidup di dalam dosa. Melakukan kebenaran adalah kehidupan mereka. Entah seseorang adalah anak Allah atau anak Iblis, ternyata dari apa yang dia praktekkan, kebenaran atau dosa. Orang beriman yang dilahirkan kembali mungkin saja berbuat dosa, dan orang yang belum beroleh selamat mungkin saja berbuat kebenaran; keduanya adalah tingkah laku luaran mereka, bukan kehidupan luaran mereka, dan karena itu tidak menyatakan apa adanya mereka dalam hayat dan sifat batin mereka.

TINGGAL DI DALAM ALLAH TRITUNGGAL MENURUT PENGAJARAN PENGURAPAN

Jika kita ingin menikmati hayat ilahi, kita perlu mene-tap di dalam persekutuan hayat ilahi. Untuk menetap di dalam persekutuan ini, kita perlu tinggal di dalam Tuhan, yang ada-lah Allah Tritunggal. Selanjutnya, jika kita ingin tinggal di dalam Allah Tritunggal, kita perlu tinggal di dalam Dia me-nurut pengajaran pengurapan ilahi. Jika kita tidak mem-perhatikan pengurapan, kita akan kehilangan persekutuan.

Karena banyak orang Kristen tidak memperhatikan pengurapan, maka mereka tidak menetap di dalam persekutuan hayat ilahi. Beberapa orang bahkan tidak mengerti apakah persekutuan hayat ilahi itu. Mereka tidak memperhatikan pengurapan di dalam roh mereka, malah memperhatikan doktrin-doktrin dan teologi. Karena mereka tidak memperhatikan pengurapan di dalam roh mereka, mereka tidak ada di dalam persekutuan hayat ilahi dan karena itu tidak mempunyai kenikmatan atas hayat ilahi. Tetapi dalam pemulihan Tuhan kita memperhatikan pengurapan. Melalui pengurapan ini kita menikmati kebajikan hayat ilahi.

DIPIMPIN OLEH PENGURAPAN

KE DALAM KEBAJIKAN HAYAT ILAHI

Kita telah melihat bahwa kebajikan yang pertama dari hayat ilahi yang kita nikmati melalui pengurapan adalah melaksanakan kebenaran atau menempuh hidup yang benar. Kita mempunyai satu sifat yang benar di dalam kita, satu sifat yang bukan dari manusia alamiah kita. Sifat yang benar ini, yang adalah sifat hayat ilahi, adalah dari manusia baru kita. Asalkan kita memperhatikan pengurapan batiniah, yaitu pergerakan Allah Tritunggal, kita akan terbiasa hidup menurut sifat benar ini.

Pengurapan adalah pergerakan Allah Tritunggal di dalam kita. Ini berarti Allah kita telah menjadi subyektif bagi kita. Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh ada di dalam roh kita. Hari demi hari Allah Tritunggal yang telah melalui proses ini sebagai pengurapan memimpin kita ke dalam kebajikan hayat ilahi, kebajikan yang telah kita terima melalui kelahiran ilahi. Kebajikan ini meliputi menempuh hidup yang benar, mengasihi saudara-saudara, dan mengalahkan segala hal yang negatif. Menempuh hidup yang benar adalah menempuh hidup yang benar terhadap Allah dan manusia. Kebenaran adalah satu masalah menjadi benar terhadap Allah dan manusia. Karena itu, melaksanakan kebenaran adalah menempuh hidup yang benar terhadap Allah dan manusia.