KEBAJIKAN KELAHIRAN ILAHI UNTUK MELAKUKAN KEBENARAN ILAHI (1)
Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 2:28-3:10a
Dalam berita-berita di depan kita telah membahas dua bagian pertama dari surat ini: persekutuan hayat ilahi (1:1—2:11) dan pengajaran urapan ilahi (2:12-27). Dalam berita ini kita sampai pada bagian ketiga: kebajikan kelahiran ilahi (2:28—5:21). Urutan di sini sangatlah berarti. Pertama-tama, Yohanes menampakkan kepada kita bahwa dalam hayat ilahi ada kenikmatan persekutuan, dan dalam persekutuan ini kita menikmati pengajaran urapan. Berikutnya, Yohanes menulis mengenai kebajikan kelahiran ilahi. Menurut 2:28—3:10a, kebajikan kelahiran ilahi adalah untuk melakukan kebenaran ilahi.
ORANG YANG MELAHIRKAN
DAN ORANG YANG AKAN DATANG
Satu Yohanes 2:28 mengatakan, “Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diriNya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatanganNya.” Kata ganti “Ia” dalam ayat ini mengacu kepada Bapa dan Anak (Putra). Ini berarti “Ia” sebenarnya mengacu kepada Allah Tritunggal. Jadi, tinggal di dalam Dia berarti tinggal di dalam Bapa, Anak (Putra), dan Roh.
Kata ganti “Ia” dalam frase “Ia menyatakan diriNya” menurut konteksnya, jelas mengacu kepada Putra. Pengertian ini didukung oleh frase “pada hari kedatanganNya”, yang terdapat pada akhir ayat ini. Di sini Yohanes mengatakan bahwa jika Putra dinyatakan, kita dapat mempunyai keberanian dan tidak usah malu kepada Dia pada hari kedatanganNya.
Dalam ayat 29 Yohanes melanjutkan, “Jikalau kamu tahu bahwa Ia benar, kamu harus tahu juga bahwa setiap orang yang melakukan kebenaran, lahir dari Dia.” “Dia” di sini menunjukkan Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh secara almuhit, karena kata ganti itu mengacu kepada “Ia” dan “Nya” dalam ayat sebelumnya, yang menyatakan Putra yang akan datang, juga mengacu kepada “Ia” dalam ayat ini, yang menyatakan Bapa yang melahirkan kita. Ini dengan tegas menunjukkan bahwa Putra dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30). Kata ganti “Dia” mengacu kepada Putra yang akan datang dan kepada Bapa yang telah melahirkan kita. Yang telah melahirkan kita adalah Bapa, bukan Putra, tetapi yang akan datang adalah Putra, bukan Bapa.
Dalam ayat ini “Dia” sebagai satu kata ganti memiliki dua tujuan, mengacu kepada Dia (Putra) yang akan datang dan juga kepada Dia (Bapa) yang telah melahirkan kita. Bapa dan Anak itu satu atau dua? Jawaban yang terbaik untuk pertanyaan ini adalah mengatakan bahwa Mereka adalah dwitunggal. Dia adalah Yang akan datang dan Yang telah melahirkan. Sebagai Yang melahirkan, Dia adalah Bapa; dan sebagai Yang akan datang, Dia adalah Putra.
TINGGAL DI DALAM DIA
Dalam 1 Yohanes 2:28 Rasul Yohanes mengatakan, “Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus.” Perkataan yang dimulai dalam 2:13 ditulis kepada ketiga kelompok penerima yang berbeda, diakhiri dalam ayat 27. Sekarang ayat 28 kembali kepada semua penerima. Karena itu, kata sapaannya kembali “anak-anakku”, seperti dalam ayat 1 dan 12.
Perkataan yang ditujukan kepada ketiga kelompok penerima dalam 2:13-27 tersimpul dalam nasihat untuk tinggal di dalam Dia seperti yang diajarkan oleh pengurapan. Dalam bagian ini, dari 2:28—3:24, rasul melanjutkan menguraikan kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan. Bagian ini dimulai (2:28), dilanjutkan (3:6), dan diakhiri (3:24) dengan “tinggal di dalam Dia”.
Seperti yang telah kami jelaskan, kata ganti “Dia” di sini jelas mengacu kepada Kristus, Putra, yang akan datang. Kata ganti ini, dengan klausa, “Tinggallah di dalam Dia”, yang dituliskan sebelumnya, yang merupakan pengulangan dari klausa dalam ayat sebelumnya, melibatkan Trinitas ilahi, yang menunjukkan bahwa Putra adalah perwujudan Allah Tritunggal, yang tidak dapat dipisahkan dari Bapa atau Roh.
Dalam ayat 28 Yohanes mengatakan bahwa jika kita tinggal di dalam Dia, “kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatanganNya.” Dalam bahasa Yunani kata “pada hari kedatanganNya” secara harfiah berarti “dalam hadirNya” (parousiaNya). Perkataan Yohanes tentang tidak malu menyatakan bahwa orang-orang beriman yang tidak tinggal di dalam Tuhan (yaitu tidak tinggal di dalam persekutuan hayat ilahi berdasarkan kepercayaan yang murni dalam persona Kristus), melainkan disesatkan oleh ajaran bidah mengenai Kristus (ayat 26), akan dihukum, dipermalukan terhadapNya, terhadap parousiaNya yang mulia.
MENGETAHUI BAHWA DIA ADALAH BENAR
Dalam ayat 29 Yohanes dua kali memakai kata “tahu”: “Jikalau kamu tahu bahwa Ia benar, kamu harus tahu juga bahwa setiap orang yang melakukan kebenaran, lahir dari Dia.” Kata “tahu” yang pertama adalah terjemahan dari kata Yunani eideta, dari oida, menyatakan pemahaman dengan pengetahuan yang disadari, penampakan batini yang lebih dalam. Ini adalah untuk mengenal Tuhan. Tetapi kata “tahu” yang kedua adalah terjemahan dari kata Yunani ginoskete, dari ginosko, pengetahuan yang luaran yang obyektif. Ini adalah untuk mengenal manusia.
Kata “kebenaran” dalam ayat 29 mengacu kepada Allah yang adil dalam 1:9 dan Yesus Kristus yang benar dalam 2:1. Dalam perkataan yang ditujukan kepada semua penerima suratnya, mulai dari 2:28, rasul mengalihkan penekanannya dari persekutuan hayat ilahi dalam 1:3-2:11 dan pengurapan Trinitas ilahi dalam 1Yohanes 2:12-27 kepada kebenaran Allah. Persekutuan hayat ilahi dan pengurapan Trinitas ilahi seharusnya menghasilkan sesuatu, yaitu ekspresi Allah yang adil.
MENGETAHUI BAHWA SETIAP ORANG
YANG MELAKUKAN KEBENARAN,
LAHIR DARI ALLAH
Menurut perkataan Yohanes dalam ayat 29, jika kita tahu bahwa Allah adalah benar, kita “tahu juga bahwa setiap orang yang melakukan kebenaran, lahir dari Dia.” Melakukan kebenaran bukan hanya melakukan secara kadang-kadang atau sengaja melakukan kebenaran sebagai suatu tindakan khusus, melainkan melakukan kebenaran secara teratur (terbiasa) dan bukan dengan maksud tertentu, melainkan merupakan suatu kehidupan sehari-hari yang umum. Demikian pula dalam 1Yohanes 3:7. Ini adalah suatu kehidupan yang spontan yang berasal dari hayat ilahi di dalam kita, yang dengannya kita telah dilahirkan dari Allah yang adil. Jadi, ini adalah ekspresi hidup dari Allah, yang adil dalam segala perbuatan dan tindakanNya. Ini bukan hanya perilaku luaran, melainkan manifestasi hayat batiniah; bukan hanya tindakan yang disengaja atau dibuat-buat, melainkan aliran hayat dari dalam sifat ilahi yang kita miliki. Inilah syarat pertama dari kehidupan yang tinggal dalam Tuhan. Ini semua karena kelahiran ilahi, yang ditunjukkan dengan perkataan “yang lahir dari Dia” dan sebutan “anak-anak Allah” dalam 3:1.
Tulisan Yohanes mengenai rahasia hayat ilahi yang kekal sangat menekankan kelahiran ilahi (3:9; 4:7; 5:1, 4, 18; Yoh. 1:12-13), yaitu kelahiran kembali kita (Yoh. 3:3, 5). Umat manusia dapat dilahirkan dari Allah dan orang dosa dapat dijadikan anak-anak Allah, ini adalah keajaiban yang paling besar dalam alam semesta! Melalui kelahiran ilahi yang menakjubkan ini, kita telah menerima hayat ilahi, yaitu hayat kekal (1Yoh. 1:2), sebagai benih ilahi yang ditaburkan ke dalam kita (1Yoh. 3:9). Dari benih ini, seluruh kekayaan hayat ilahi bertumbuh dari dalam kita. Dengan inilah kita tinggal dalam Allah Tritunggal dan memperhidupkan hayat ilahi dalam kehidupan insani kita, yaitu memperhidupkan suatu hayat yang tidak berdosa (3:9), melainkan melakukan kebenaran (2:29), mengasihi saudara (5:1), mengalahkan dunia (5:4), dan tidak terjamah oleh yang jahat (5:18).
TINGGAL DI DALAM ALLAH TRITUNGGAL DAN KELAHIRAN ILAHI
Satu Yohanes 2:28-3:10a menunjukkan bahwa kita dapat tinggal di dalam Tuhan. Kami telah menjelaskan bahwa kata ganti-kata ganti tertentu yang digunakan dalam ayat-ayat ini menyatakan bahwa tinggal di dalam Tuhan sebenarnya adalah tinggal di dalam Allah Tritunggal.
Bukanlah satu masalah yang sederhana bagi kita untuk tinggal di dalam Allah Tritunggal. Bagaimana umat manusia dapat tinggal di dalam Allah? Tinggal di dalam Allah berbeda dengan berjalan bersama Allah. Kejadian 5 mengatakan bahwa Henokh berjalan bersama Allah. Tetapi apakah artinya tinggal di dalam Dia? Di sini Yohanes tidak membicarakan tentang berjalan bersama Allah, tetapi membicarakan tentang tinggal di dalam Allah. Tinggal di dalam Allah berarti berhuni di dalam Dia. Kita lebih mudah mengerti tentang arti tinggal bersama Allah atau berhuni bersama Allah. Tetapi menurut pikiran alamiah seolah-olah tidaklah mungkin umat manusia berhuni, tinggal, di dalam Allah.
Tinggal di dalam Allah Tritunggal berhubungan dengan kelahiran ilahi. Bagian ketiga surat ini menekankan kelahiran ilahi. Kita mempunyai perkataan “lahir dari Dia” dalam 1Yohanes 2:29 dan frase “lahir dari Allah” dalam 1Yohanes 3:9; 4:7; 5:1, 4 dan 18. Dengan ini kita nampak bahwa Yohanes berulang-ulang menyinggung kelahiran ilahi kita. Untuk berhuni di dalam Allah, kita perlu menyadari bahwa kita telah mempunyai satu kelahiran ilahi, kita telah dilahirkan dari Allah. Melalui kelahiran ilahi ini kita telah menerima hayat ilahi, yang adalah benih ilahi. Betapa ajaibnya, satu benih ilahi telah ditanamkan ke dalam diri kita dan kita telah dilahirkan dari Allah!
Ketika seorang anak lahir dari orang tuanya, secara otomatis dia mempunyai satu hayat insani. Kita dapat mengatakan bahwa hayat insani ini berasal dari penyebaran satu benih insani, diri anak ini berasal dari satu benih insani. Benih ini sangat berarti bagi kehidupan seorang anak, karena ia menyebabkan anak ini berbeda dari binatang apa pun. Karena seorang anak yang baru lahir mempunyai satu benih insani, anak ini dapat berhuni di dalam keinsanian. Dia telah dilahirkan dari keinsanian, dan dia mempunyai satu hayat insani dari benih ini. Karena itu, anak ini mudah menetap, tinggal, berhuni di dalam keinsanian. Sebenarnya, seorang anak berhuni di dalam keinsanian adalah alamiah, spontan, dan otomatis. Dia dapat tinggal di dalam keinsanian karena dia telah mempunyai satu kelahiran insani dan memiliki satu hayat insani dari benih insani.
Seandainya seseorang menyuruh seekor anjing tinggal di dalam keinsanian. Seekor anjing mungkin dapat berdiri seperti seorang manusia sejangka waktu. Tetapi akhirnya dia akan kembali berdiri di atas empat kaki dan dengan spontan hidup menurut sifat anjing yang di dalamnya. Karena seekor anjing tidak mempunyai satu kelahiran insani, maka anjing tidak mempunyai hayat insani, benih insani, yang memungkinkan anjing untuk tinggal di dalam keinsanian.
Tahukah Anda apa yang memungkinkan kita berhuni di dalam Allah Tritunggal? Kita dapat berhuni di dalam Dia karena kita telah dilahirkan dari Dia. Ini adalah suatu keajaiban bahwa manusia dapat dilahirkan dari Allah. Meskipun Allah adalah ilahi dan kita adalah orang-orang dosa, namun kita telah dilahirkan dari persona ilahi. Tidak ada yang lebih besar daripada hal ini.
Kelahiran ilahi ini bukan hanya satu doktrin atau satu pengalaman secara psikologis semata. Sebaliknya, kelahiran ini sebenarnya terjadi secara organik di dalam roh kita. Dalam Yohanes 3:6 Tuhan Yesus berkata, “Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Tl.). Puji Tuhan bahwa kita telah mengalami satu kelahiran semacam ini! Kelahiran ilahi ini membawakan kepada kita satu hayat ilahi, dan hayat ilahi adalah benih ilahi yang sekarang ada di dalam diri kita. Dalam hayat ilahi ini kita dengan spontan tinggal, berhuni, di dalam Allah Tritunggal.
Kita telah berhuni di dalam Allah Tritunggal. Kita tidak perlu melatih diri kita sendiri untuk berhuni di dalam Dia karena kita telah ada di dalam Dia. Akan tetapi kita perlu berhati-hati, jangan biarkan perihal tinggal di dalam Allah Tritunggal ini terganggu.
Kita telah dilahirkan dari Allah, dan benih Allah tinggal di dalam kita. Dengan benih ini kita ada di dalam Allah dan dapat tinggal di dalam Allah. Kita tidak perlu melakukan apa pun. Tetapi kita tidak boleh membiarkan tinggal di dalam Dia ini terganggu. Inilah alasannya Yohanes menyuruh kita sekali dan sekali lagi tinggal di dalam Dia.
Dalam 3:24 Yohanes mengatakan bahwa kita tahu Dia tinggal di dalam kita dengan Roh yang Dia berikan kepada kita. Ini menunjukkan bahwa tinggalnya Tuhan di dalam kita dan tinggalnya kita di dalam Dia sepenuhnya di dalam Roh itu.
DIJENUHI DENGAN ROH YANG ALMUHIT
Karena kita telah dilahirkan dari Allah dan karena hayat-Nya sebagai satu benih ilahi tinggal di dalam kita, maka kita dapat tinggal di dalam Dia. Selama kita tinggal di dalam Dia, Dia menjenuhi kita. Tentu saja, Yohanes tidak memakai kata “menjenuhi”. Tetapi jika kita mengalami apa yang ditulis dalam bagian Surat 1 Yohanes ini, kita akan menyadari bahwa apa yang Yohanes bicarakan sebenarnya menyangkut dijenuhi dengan Allah Tritunggal. Allah Tritunggal bukanlah satu teori atau teologi; Dia adalah Roh yang hidup, adalah pengurapan. Karena itu, bila kita tinggal di dalam Allah Tritunggal, Dia sebagai Roh yang almuhit, majemuk, ber-huni, dan pemberi hayat akan menjenuhi kita, dan kita akan “dicelup” dengan Dia.
Semakin kita diurapi dengan Allah Tritunggal, semakin kita dijenuhi dengan Dia. Mari kita pakai sepotong kain yang dicat sebagai suatu ilustrasi. Semakin cat itu dicatkan ke kain, semakin kain itu menyerap cat sampai dijenuhi dengannya. Akhirnya, seluruh kain akan dijenuhi dengan cat. Pengurapan adalah pengecatan ilahi. Kita telah melihat bahwa pengurapan adalah gerakan Roh yang berhuni, pemberi-hayat, almuhit, dan majemuk di dalam kita, yaitu Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Seperti cat tersusun dari berbagai unsur, demikianlah pengurapan ini, Allah Tritunggal yang telah melalui proses, meliputi sejumlah unsur yang berbeda: keilahian, keinsanian, inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Semua unsur ini telah digabungkan ke dalam Roh yang almuhit, yang adalah cat ilahi yang dengannya kita dicat. Sekarang Roh ini ada di dalam kita, mengurapi kita, mengecatkan unsur-unsur keilahian, keinsanian, inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan ke dalam diri kita sampai kita dijenuhi dengan unsur-unsur itu.
Beban saya adalah memperlihatkan kepada anak-anak Allah bahwa kehidupan orang Kristen bukanlah satu masalah agama atau doktrin. Kehidupan orang Kristen sepenuhnya adalah satu masalah dijenuhi dengan Roh yang almuhit. Penjenuhan ini tidak dapat dirampungkan dengan doktrin atau teologi. Ini hanya mungkin dilakukan oleh Allah Tritunggal yang telah melalui proses, yang adalah Roh yang almuhit.
Banyak orang Kristen tidak mempunyai pengertian yang tepat tentang Roh itu. Beberapa orang menganggap Roh itu hanyalah sebagai satu kekuatan; yang lain mengatakan bahwa Roh itu ada di dalam kaum beriman mewakili Bapa dan Anak. Pengertian tentang Roh semacam ini jauh dari apa yang diwahyukan dalam Alkitab. Dalam ajaran mengenai Roh semacam ini tidak ada kedudukan bagi unsur-unsur yang tercakup dalam Roh pemberi hayat. Menurut pengertian semacam ini, Roh itu hanyalah satu kekuatan atau kuasa atau wakil Bapa dan Anak. Siapa saja yang memegang konsepsi demikian mengenai Roh itu tidak menyadari bahwa menurut Alkitab, Roh itu adalah perampungan sempurna dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Banyak unsur telah digabungkan ke dalam Roh yang satu ini. Jadi, ketika Roh yang berhuni ini mengurapi kita, Dia menjenuhi diri kita dengan semua unsur dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Dengan cara inilah kita dilahirkan kembali, diubah, dan dimuliakan.
Doktrin tidak dapat melahirkan kita kembali, dan teologi tidak dapat mengubah kita. Doktrin dapat disamakan dengan menu. Bila Anda pergi ke satu restoran, Anda mungkin membaca menunya. Akan tetapi, tujuan Anda bukanlah mempelajari menu itu tujuan Anda adalah makan makanan yang bergizi. Menu itu tidak dapat mengubah Anda dengan merawat Anda. Hanya makanan yang Anda makan yang dapat melakukannya.
Seandainya seseorang kurang makan dan akibatnya mempunyai kulit yang pucat. Cara untuk mengubah warna kulitnya bukanlah memakai kosmetik. Melakukan hal ini akan seperti melakukan pekerjaan pemilik perusahaan pemakaman. Cara yang tepat adalah memberinya makan dengan makanan yang bergizi hari demi hari. Akhirnya, makanan ini akan menyebabkan satu perubahan di dalam, satu perubahan yang organik, metabolis, yang akan dinyatakan dalam corak kulit yang sehat. Dalam prinsip yang sama, perubahan kita hanya dapat ditimbulkan oleh Roh itu, bukan oleh doktrin. Akan tetapi, banyak orang Kristen hari ini memperhatikan doktrin dan tidak memperhatikan hayat di dalam Roh. Tidak banyak orang Kristen yang memperhatikan pengalaman hayat ilahi di dalam roh kelahiran kembali. Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa dalam bagian Surat 1 Yohanes ini pengalaman hayat ilahi adalah masalah Roh Allah di dalam roh kita.
Dalam 1 Yohanes 2:28—3:10a kita melihat bahwa kita memiliki satu kelahiran ilahi. Melalui kelahiran ilahi ini kita telah memelihara benih ilahi. Sekarang kita bisa berhuni di dalam Allah, dan kita perlu berhuni di dalam Dia. Ketika kita berhuni di dalam Allah Tritunggal, Dia menjenuhi kita. Ini bukanlah satu masalah pembetulan atau pengaturan ini adalah satu masalah penjenuhan. Menyinggung ilustrasi tentang kain dan cat, diri kita yang dijenuhi dengan Allah Tritunggal seperti kain yang telah dicat sampai sepenuhnya dijenuhi dengan cat. Allah kita hari ini adalah pengurapan, cat ilahi. Apa yang kita miliki di dalam kita bukan hanya minyak urapan, tetapi pengurapan, bukan hanya cat, tetapi pengecatan. Ketika pengecatan ini terjadi di dalam kita, cat itu menjenuhi kita sampai kita “dicelup” dengan cat. Akhirnya, kita akan sepenuhnya dijenuhi dan diresapi dengan cat. Ini pasti bukanlah satu masalah agama, doktrin, teologi, atau ajaran. Ini adalah masalah Allah Tritunggal sebagai Roh yang berhuni, pemberi hayat, almuhit, dan majemuk di dalam roh kita mengurapi kita secara terus-menerus. Melalui pengurapan ini jaringan diri kita akan dijenuhi dengan segala adanya Allah Tritunggal yang telah melalui proses.
MENJADI EKSPRESI ALLAH TRITUNGGAL
Sebagai akibat dijenuhi dengan Allah Tritunggal, kita menjadi ekspresiNya. Karena kita telah dijenuhi dengan Dia, kita mengekspresikan Dia. Boleh dikatakan, setelah kain dijenuhi dengan cat, kain itu menjadi cat dan tidak mengekspresikan kain itu sendiri, tetapi cat yang dengannya kain itu telah dijenuhi. Dengan demikian, sebagai akibat dijenuhi sepenuhnya dengan Allah Tritunggal, kita akan mengekspresikan Dia. Khususnya, karena Allah itu benar, ketika kita mengekspresikan Dia, kita akan mengekspresikan kebenaranNya.
MELAKUKAN KEBENARAN SECARA KEBIASAAN
Kita telah melihat bahwa kata “melakukan” dalam 1Yohanes 2:29 berarti melakukan sesuatu secara kebiasaan dan terus-menerus. Dalam 2:29 Yohanes tidak hanya membicarakan tentang melakukan kebenaran semata, tetapi melaksanakan kebenaran, yaitu melakukan kebenaran secara terus-menerus dan terbiasa sebagai satu cara hidup. Contohnya, seekor anjing, terbiasa, terus-menerus, dan tanpa sengaja berdiri di atas empat kaki. Bagi seekor anjing, mencoba berdiri di atas dua kaki dan berjalan seperti seorang manusia bukanlah satu pelaksanaan, tetapi satu usaha untuk bertindak seperti seorang manusia. Demikian pula, seorang yang tidak beriman mungkin melakukan sesuatu yang benar untuk tujuan tertentu. Akan tetapi, sebagai anak-anak Allah, kita melakukan kebenaran secara spontan, terbiasa, otomatis, terus-menerus, dan tanpa suatu tujuan. Ini berarti kita bukan dengan sengaja bermaksud melakukan kebenaran; melainkan, kita melakukan kebenaran karena inilah kehidupan hayat ilahi yang hidup di dalam kita. Karena kita tinggal di dalam Allah yang benar dan Dia menjenuhi kita dengan apa adanya Dia, kita mengekspresikan kebenaranNya dengan menempuh satu hidup yang benar secara tanpa sengaja dan terbiasa.
Semoga kita semua terkesan dengan fakta bahwa melalui kelahiran ilahi kita telah menerima benih ilahi. Sekarang melalui benih ilahi ini kita dapat berhuni di dalam Allah kita. Selama kita berhuni di dalam Dia, Dia akan menjenuhi kita dengan apa adanya Dia. Karena Dia benar, kita akan terus-menerus mengekspresikan kebenaran ilahi dengan melakukan kebenaran secara kebiasaan dan tidak disengaja. Inilah melakukan kebenaran ilahi dengan kebajikan kelahiran ilahi.