← Daftar isi 1 Yohanes · bab 11/16

KEBAJIKAN KELAHIRAN ILAHI UNTUK MEMPRAKTEKKAN KASIH ILAHI (5)

Pembacaan Alkitab: 1 Yoh. 4:16-5:3

Dalam berita ini kita akan melihat 1Yohanes 4:16-5:3, berita terakhir atas kebajikan-kebajikan kelahiran ilahi untuk mempraktekkan kasih ilahi.

MENGENAL DAN PERCAYA

Dalam 4:16 Yohanes mengatakan, “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” Di sini Yohanes mengatakan bahwa kita telah mengenal dan mempercayai kasih Allah kepada kita. Kasih ini adalah kasih Allah dalam mengutus PutraNya menjadi Juruselamat kita (4:14).

Sangatlah bermakna bahwa dalam 4:16 Yohanes meletakkan kata “mengenal” sebelum kata “percaya”. Seperti telah kita jelaskan dalam berita yang lalu, pengenalan ini meliputi pengalaman dan kenikmatan. Fakta bahwa menurut 1Yohanes 4:16 kita mengenal dan kemudian percaya menunjukkan bahwa mula-mula kita mengalami dan menikmati, dan kemudian kita percaya. Akan tetapi, konsepsi kita mungkin: mula-mula kita percaya dan kemudian mengalami. Akan tetapi, jika kita tidak mempunyai banyak pengalaman dan kenikmatan atas kasih Allah, kita tidak akan dapat mempercayai kasih ini. Namun setelah kita menikmati dan mengalaminya, kita benar-benar percaya kasih Allah di atas diri kita.

Kata “kepada kita” dalam bahasa aslinya adalah “di dalam kita”; berarti dalam perkara kita, atau dalam hubungannya dengan kita. Karena itu, kita telah mengenal dan mempercayai kasih yang Allah miliki berkaitan dengan kita.

Dalam 4:16 Yohanes sekali lagi mengatakan, “Allah adalah kasih.” Allah adalah kasih, hal ini ternyata dalam hal Dia mengutus PutraNya menjadi Juruselamat dan hayat kita (4:9-10, 14).

TINGGAL DI DALAM ALLAH

Dalam 4:16 Yohanes mengatakan bahwa siapa saja yang tinggal di dalam kasih, dia tinggal di dalam Allah, dan Allah tinggal di dalam Dia. Tinggal di dalam kasih adalah menempuh kehidupan dengan kebiasaan mengasihi orang lain dengan kasih yang adalah diri Allah, agar Dia dapat diekspresikan atas diri kita. Tinggal di dalam Allah adalah menempuh kehidupan dengan diri Allah sebagai isi batin kita dan ekspresi lahir kita, agar kita mutlak satu dengan Dia. Allah tinggal di dalam kita sebagai hayat kita secara batiniah dan sebagai kehidupan kita secara lahiriah. Dengan demikian, Dia dapat bersatu dengan kita secara riil.

Dalam 1Yohanes 4:16 kita melihat bahwa ada satu kesatuan yang organik antara kita dengan Allah. Kesatuan organik ini dinyatakan oleh kata “di dalam”. Sungguh menarik bahwa Yohanes tidak mengatakan bahwa Allah adalah kasih dan siapa saja yang tinggal di dalam Allah, tinggal di dalam kasih. Sebaliknya, dia mengatakan bahwa siapa saja tinggal di dalam kasih, tinggal di dalam Allah. Bagi kita, yang pertama seolah-olah lebih masuk akal. Tetapi yang terakhir lebih riil dan sejati. Mengatakan bahwa kita tinggal di dalam Allah bila kita tinggal di dalam kasih, berarti kasih yang di dalamnya kita tinggal adalah Allah sendiri. Ini menunjukkan bahwa kasih kita terhadap orang lain seharusnya adalah Allah sendiri. Jika kita tinggal di dalam kasih yang adalah Allah sendiri, kita tinggal di dalam Allah, dan Allah tinggal di dalam kita.

BERANI PADA HARI PENGHAKIMAN

Dalam ayat 17 Yohanes melanjutkan, “Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.” Hal ini adalah perihal kita tinggal di dalam kasih yang adalah diri Allah (ayat 16). Dalam hal ini, kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu ternyata dengan sempurna di dalam kita, agar kita dapat memiliki keberanian tanpa rasa takut (ayat 18) pada hari penghakiman.

Dalam ayat 17 Yohanes berbicara tentang kasih Allah sempurna di dalam kita. Kata “sempurna” adalah terjemahan dari bahasa Yunani teleioo, berarti melengkapkan, menggenapkan, menyelesaikan. Dalam diri Allah, kasih Allah itu sendiri sudah sempurna dan lengkap. Namun dalam diri kita, kasih Allah itu perlu disempurnakan. Agar kasih Allah sempurna di dalam kita, kita perlu mengalami kasih ini. Dalam pengalaman kita kasih Allah disempurnakan.

Yohanes mengatakan, jika kasih Allah disempurnakan di dalam kita, kita dapat mempunyai keberanian pada hari penghakiman. Kata “keberanian” dalam bahasa Yunaninya adalah parresia, berarti keberanian berbicara, keyakinan. Dalam 1Yohanes 3:21 keberanian ditujukan kepada perihal kita berkontak dengan Allah dalam persekutuan dengan Dia. Dalam 1Yohanes 4:17 keberanian ditujukan kepada perihal kita menghadapi penghakiman pada takhta penghakiman Kristus (2 Kor. 5:10) ketika Dia kembali (1Kor. 3:13; 4:5; 2Tim. 4:8). Penghakiman pada takhta penghakiman Kristus bukanlah untuk kebinasaan kekal atau keselamatan kekal, melainkan untuk pahala atau hukuman. Jika kita mengasihi saudara dengan Allah sebagai kasih, kita akan mempunyai keberanian pada hari Kristus menghakimi kaum berimanNya pada takhta penghakimanNya.

Dalam 4:17 Yohanes menyatakan bahwa “karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.” Seperti dalam 1Yohanes 3:3 dan 7, “Dia” mengacu kepada Kristus, yang di dunia ini menempuh hidup berdasarkan hayat Allah sebagai kasih, dan yang sekarang menjadi hayat kita supaya kita bisa menempuh hidup berdasarkan hayat kasih yang sama di dunia ini dan menjadi sama seperti Dia.

Seperti dalam 1Yohanes 4:1, “dunia” tidak mengacu kepada alam semesta atau bumi, tetapi kepada masyarakat manusia di bumi, pada orang-orang, yang adalah komponen-komponen dari sistem dunia setani.

DI DALAM KASIH TIDAK ADA RASA TAKUT

Dalam ayat 18 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” Terjemahan harfiah dari bagian pertama ayat ini adalah, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan”. “Ketakutan” tidak mengacu kepada rasa takut “akan” menyalahi Allah dan dihakimi olehNya (1 Ptr. 1:17, Ibr. 12:28), melainkan mengacu kepada rasa takut karena kita “telah” menyalahi Allah dan akan dihakimi olehNya. “Kasih” mengacu kepada kasih yang disempurnakan yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, kasih Allah yang dengannya kita mengasihi orang lain. Kasih yang sempurna adalah kasih yang telah disempurnakan dalam kita melalui perbuatan kita mengasihi orang lain dengan kasih Allah. Kasih semacam ini melenyapkan ketakutan dan tidak takut dihukum oleh Tuhan pada kedatanganNya kembali (Luk. 12:46-47).

Dalam 4:18 Yohanes mengatakan kepada kita bahwa siapa saja yang takut, tidak sempurna di dalam kasih. Ini berarti orang yang takut, tidak hidup dalam kasih Allah, sehingga kasih Allah tidak dapat ternyata dengan sempurna di dalam dirinya.

Pertama-tama, Yohanes mengatakan dalam 4:12 dan 17 bahwa kasih Allah perlu disempurnakan di dalam kita. Kemudian dalam 4:18 dia berbicara tentang disempurnakan di dalam kasih. Ini menunjukkan bahwa kita dan kasih ilahi berbaur. Ketika kasih disempurnakan di dalam kita, kita disempurnakan di dalam kasih, karena kita menjadi kasih itu, dan kasih itu menjadi kita.

MENGASIHI

KARENA ALLAH LEBIH DULU MENGASIHI KITA

Ayat 19 mengatakan, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dulu mengasihi kita.” Allah lebih dulu mengasihi kita, Dia menginfus kita dengan kasihNya, bahkan menghasilkan kasih dalam diri kita. Dengan kasih inilah kita mengasihi Dia dan saudara (ayat 20). Satu Yohanes 4:20 mengatakan, “Jikalau seseorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ tetapi ia membenci saudara seimannya, maka ia adalah pendusta, karena siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.” Siapa saja yang terbiasa membenci saudara, pasti tidak tinggal di dalam kasih ilahi atau di dalam terang ilahi (2:9-11). Bila kita tinggal di dalam Tuhan, kita tinggal di dalam kasih ilahi dan terang ilahi, kita tidak akan membenci saudara, melainkan terbiasa mengasihi mereka, memperhidupkan hayat ilahi dalam terang ilahi dan kasih ilahi.

Dalam 4:21 Yohanes mengatakan, “Inilah perintah yang kita terima dari Dia: Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara seimannya.” Perintah di sini adalah perintah tentang kasih persaudaraan (2:7-11; Yoh. 13:34). Tulisan Yohanes di sini dapat diringkas secara sederhana: Allah adalah kasih, dan jika kita tinggal di dalam Dia, kita akan mengasihi saudara dengan Dia sebagai kasih kita. Inilah pemikiran dasar Yohanes dalam ayat-ayat ini.

SEBUAH KASIH SEGI TIGA

Dalam 5:1 Yohanes selanjutnya berkata, “Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari Allah.” Kaum Gnostik dan kaum Cerintus tidak percaya bahwa Yesus identik dengan Kristus. Sebab itu, mereka bukan anak-anak Allah, tidak dilahirkan dari Allah. Namun, siapa yang percaya bahwa manusia Yesus adalah Kristus Allah yang berinkarnasi (Yoh. 1:1, 14; 20:31), telah dilahirkan dari Allah dan telah menjadi anak Allah (Yoh. 1:12-13). Orang semacam ini mengasihi Allah Bapa yang telah melahirkan dia, juga mengasihi saudara, yang telah dilahirkan dari Bapa yang sama. Ini menjelaskan, menegaskan, dan menguatkan perkataan dalam ayat-ayat sebelumnya (1Yoh. 4:20-21).

Dalam 1Yohanes 5:1 kita mempunyai satu petunjuk bahwa kasih persaudaraan sebenarnya adalah sebuah kasih segi tiga, yaitu kasih yang mencakup tiga belah pihak. Sebagai seorang anak Allah yang dilahirkan dari Dia, kita pasti mengasihi Bapa kita, Yang telah melahirkan kita. Lalu menurut 5:1, jika kita mengasihi Bapa yang melahirkan, kita juga akan mengasihi siapa saja yang telah dilahirkan dari Dia. Di sini ada sebuah kasih segi tiga, sebuah kasih yang mencakup Allah, diri kita sendiri, dan yang dilahirkan dari Allah. Kasih segitiga ini ada dalam kesatuan yang organik dengan Allah yang adalah kasih.

Yohanes menekankan kelahiran ilahi (5:1; 2:29; 3:9; 4:7; 5:1, 4, 18). Bagaimana mungkin kita mengasihi Allah dan mengasihi orang lain? Ini hanya mungkin karena kita telah mengalami kelahiran ilahi. Kita telah dilahirkan dari Allah, dilahirkan dari Dia, dan karena kelahiran ini kita dapat mengasihi orang lain. Seperti yang telah kita jelaskan, ini adalah sebuah kasih segi tiga. Karena itu, kasih segi tiga berhubungan dengan kelahiran ilahi. Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus telah dilahirkan dari Allah. Sekarang kita tidak hanya mengasih Dia yang telah melahirkan kita, Bapa yang melahirkan kita, tetapi juga orang-orang yang dilahirkan dari Dia. Inilah kasih segi tiga yang berhubungan dengan kelahiran ilahi, seperti diwahyukan dalam 1Yohanes 5:1.

MENGASIHI ALLAH

DAN MELAKUKAN PERINTAH-PERINTAH-NYA

Dalam 5:2 Yohanes melanjutkan, “Dengan inilah kita ketahui bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.” Mengasihi Allah dan melakukan perintah-perintahNya adalah prasyaratan kasih kita terhadap anak-anak Allah. Ini berdasarkan kelahiran ilahi dan hayat ilahi.

Dalam 5:2 Yohanes berbicara tentang melakukan perintah-perintah Tuhan. Kata “melakukan” di sini dalam bahasa Yunaninya adalah poieo, satu kata yang menunjukkan melakukan sesuatu secara terbiasa dan terus-menerus dengan tinggal di dalam hal-hal itu. Sebab itu, kata ini digunakan dalam surat ini dalam arti melaksanakan. Kata ini digunakan dalam 1 Yohanes 1:6; 2:17, 29; 3:4 (dua kali), 7-10, 22; dan di sini dalam 5:2.

Ayat 3 adalah kesimpulan bagian ini, “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintahNya. Perintah-perintahNya itu tidak berat.” Kata“kasih” di sini dalam bahasa Yunaninya adalah “agape”, menunjukkan kasih yang lebih tinggi dan terhormat daripada phileo. Hanya agape dengan bentuk kata kerjanya digunakan dalam surat ini untuk kasih. “Kasih kepada Allah” di sini menunjukkan kasih kita terhadap Allah, yang dibangkitkan oleh kasihNya di dalam kita.

Dalam 5:3 Yohanes mengatakan bahwa kasih kepada Allah adalah kita menuruti perintah-perintahNya, perintah-perintahNya itu tidak berat. Menuruti perintah-perintah Allah menyusun kasih kita terhadapNya dan merupakan bukti bahwa kita mengasihi Dia. Bagi hayat ilahi dengan kemampuannya, perintah-perintah Allah tidaklah berat.

KASIH ADALAH HASIL DARI KENIKMATAN

ATAS ALLAH TRITUNGGAL SEBAGAI ROH

YANG ALMUHIT

Dalam semua ayat ini Yohanes sebenarnya berbicara mengenai hasil dari persekutuan hayat ilahi. Bila kita di dalam persekutuan hayat ilahi, yaitu di dalam kenikmatan atas Allah Tritunggal, kenikmatan ini akan mempunyai pengaliran atau hasil tertentu. Hasil dari kenikmatan atas Allah Tritunggal adalah kasih ilahi. Ketika kita menikmati Allah Tritunggal, kenikmatan ini menghasilkan kasih ilahi. Hasil semacam ini pasti akan muncul dari kenikmatan ini. Dengan kasih ilahi ini kita akan dengan spontan mengasihi orang lain. Khususnya, kita mengasihi semua orang yang secara organik berhubungan dengan Bapa yang melahirkan kita. Kita telah dilahirkan dari Bapa ini, dan banyak orang lain juga telah dilahirkan dari Dia. Jika kita menikmati Dia, hasilnya adalah kita mengasihi anak-anakNya. Karena itu, mengasihi saudara adalah hasil dari menikmati Allah Tritunggal.

Allah Tritunggal seperti diwahyukan dalam surat ini bukan hanya hayat, terang, dan kasih; Dia juga adalah Roh yang almuhit. Roh ini berhuni di dalam kita dan bergerak di dalam kita sehingga kita dapat menikmati Allah Tritunggal. Ketika kita menikmati Allah Tritunggal, esensNya menjadi apa adanya diri kita. Akibatnya, kita mempunyai hayat, terang, dan kasih, dan kita hidup oleh hayat ini dan di dalam terang dan kasih ini. Dengan spontan, kita menempuh satu kehidupan yang mengasihi anak-anak Allah. Inilah pemikiran Yohanes dalam surat ini.

Akan tetapi, ketika kita membaca Surat 1Yohanes, kita mungkin tidak mempunyai pengertian tentang mengasihi saudara. Kita mungkin hanya nampak bahwa kita diberi tahu Allah adalah kasih dan kita diperintahkan untuk saling mengasihi. Lalu dengan cara yang alamiah, agamawi, dan etis, kita mungkin mencoba untuk mengasihi orang lain, meniru kasih Allah. Dalam sifat kita sebagai umat manusia ada kecenderungan untuk mengasihi secara demikian. Tetapi kasih semacam ini mungkin bersifat etis, alamiah, dan bahkan kultural.

Banyak orang telah diajarkan untuk mengasihi orang lain dan berbaik hati kepada orang. Tentu saja, banyak orang Kristen berada di bawah pengaruh ajaran semacam ini. Tetapi orang-orang Kristen ini mungkin tidak melihat masalah pengurapan dalam surat ini. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa di dalam mereka ada satu pergerakan, pekerjaan, dan penjenuhan ilahi. Mereka mungkin menekankan ajaran, tetapi mereka tidak menekankan pengurapan batiniah. Kata “pengurapan” adalah sebuah kata kunci dalam surat ini. Kata ini menyiratkan bahwa hari ini Allah Tritunggal adalah minyak urapan majemuk yang bergerak di dalam kita. Minyak urapan ini mencakup proses yang telah dilalui oleh Allah Tritunggal: inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Semua langkah proses ini adalah unsur-unsur dari minyak urapan majemuk ini.

Pengurapan adalah fungsi minyak urapan ini. Ini berarti fungsi minyak urapan ini adalah mengurapi kita dengan Allah Tritunggal. Karena itu, pengurapan mengurapi kita dengan Bapa, Anak, Roh, inkarnasi, keinsanian, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Jadi, ketika kita diurapi oleh pergerakan Roh almuhit yang di dalam kita, kita diurapi dengan semua unsur ini. Ini berarti unsur-unsur yang berbeda dari minyak urapan majemuk diurapkan ke dalam diri kita. Seperti unsur-unsur cat dioleskan pada benda yang dicat, demikianlah unsur-unsur cat ilahi, Roh yang almuhit, disalurkan ke dalam seluruh diri kita.

Seperti yang ditunjukkan dengan kata pengurapan, pengajaran Rasul Yohanes dalam kitab ini sangatlah subyektif dan berhubungan dengan kesatuan organik kita dengan Allah Tritunggal. Hari ini banyak orang Kristen menekankan doktrin yang obyektif, namun ekonomi Allah menekankan pengurapan. Pengurapan di dalam kita sedang menjenuhi kita dengan semua apa adanya Allah Tritunggal, dengan semua yang telah Dia lakukan, dan dengan semua yang telah Dia peroleh dan capai.

Meskipun Surat 1Yohanes menyampaikan satu wahyu yang subyektif, orang-orang yang diduduki dengan doktrin, pengakuan iman, dan kepercayaan yang obyektif mengabaikan wahyu yang subyektif, dan bahkan menyalahkan kita karena mengajarkan hal itu. Pengajaran kita mengenai pengurapan mungkin berbeda dari ajaran tradisional, tetapi jelas alkitabiah. Meskipun berbeda dari ajaran tradisional, ajaran ini tidak berbeda dari apa yang diwahyukan dalam Alkitab.

Sekarang, setelah kita membahas surat ini dari 1Yohanes 1:1-5:3, kita dapat melihat bahwa apa yang diwahyukan dalam surat ini sepenuhnya berhubungan dengan pengurapan. Kita perlu mengingat apa itu pengurapan. Pengurapan adalah pergerakan, pekerjaan, penjenuhan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses di dalam kita menjadi hayat kita, suplai hayat kita, kenikmatan kita, dan segala sesuatu kita. Pengurapan ini, yang terealisasi sepenuhnya dalam persekutuan hayat ilahi, adalah pokok surat ini.