KEBAJIKAN KELAHIRAN ILAHI UNTUK MEMPRAKTEKKAN KASIH ILAHI (4)
Pembacaan Alkitab: 1Yoh. 4:7-15
Satu Yohanes 4:1-6 adalah satu bagian yang disisipkan yang di dalamnya kaum beriman diperingatkan untuk membedakan roh-roh. Ini berarti 1Yohanes 4:7 adalah lanjutan langsung dari 1Yohanes 3:24. Satu Yohanes 4:7-21 adalah lanjutan dari 1Yohanes 2:28-3:24, lebih jauh menekankan kasih persaudaraan, yang sudah dibicarakan dalam 1Yohanes 3:10-24, sebagai satu syarat yang lebih tinggi dari kehidupan yang tinggal dalam Tuhan.
ALLAH — SUMBER KASIH
Dalam 4:7 Yohanes mengatakan, “Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” Di sini Yohanes mengatakan bahwa kasih berasal dari Allah. Ini menunjukkan bila kita mengasihi orang lain, kasih kita haruslah sesuatu yang berasal dari Allah. Kasih kita terhadap saudara-saudara tidak boleh berasal dari diri kita; tetapi haruslah kasih yang berasal dari Allah. Kaum beriman, yang dilahirkan dari Allah dan mengenal Allah, saling mengasihi secara kebiasaan dengan kasih yang berasal dari Allah sebagai ekspresi Allah.
Kelahiran Ilahi
Adalah Faktor Dasar Kasih Persaudaraan
Dalam ayat 7 Yohanes mengatakan bahwa setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah. Penekanan rasul di sini masih adalah kelahiran ilahi, yang melaluinya hayat ilahi disalurkan ke dalam kaum beriman, yang memberi mereka kemampuan hayat untuk mengenal Allah. Kelahiran ilahi ini adalah faktor dasar kasih persaudaraan, yaitu syarat yang lebih tinggi dari kehidupan yang tinggal dalam Tuhan. Kita telah nampak bahwa tulisan-tulisan Yohanes menekankan kelahiran ilahi (3:9; 4:7; 5:1, 4, 18; Yoh. 1:12-13), yang adalah kelahiran kembali kita (Yoh. 3:3, 5). Melalui kelahiran ilahi kita telah menerima hayat ilahi, yang adalah hayat kekal (1Yoh. 1:2), sebagai benih ilahi yang ditanamkan ke dalam diri kita (3:9). Dari benih ini seluruh kekayaan hayat ilahi bertumbuh dari dalam kita. Dengan inilah kita tinggal di dalam Allah Tritunggal dan memperhidupkan hayat ilahi dalam kehidupan insani kita. Karena itu, kelahiran ilahi adalah dasar dari kehidupan kristiani kita.
Mengenal Allah dengan Hayat Ilahi
Menurut perkataan Yohanes dalam 1Yohanes 4:7, setiap orang yang mengasihi tidak hanya lahir dari Allah, tetapi juga mengenal Allah. Pengenalan ini timbul dari hayat ilahi (Yoh. 17:3) yang diterima dari kelahiran ilahi. Kata “mengenal” di sini juga menyiratkan pengalaman dan kenikmatan. Kita tidak dapat mengenal Allah tanpa mengalami dan menikmati Dia. Ini menunjukkan, pengenalan ini adalah satu pengenalan berdasarkan pengalaman, bukan satu pengetahuan obyektif tentang Allah. Kita mengenal Allah karena kita telah mengalami Dia dan menikmati Dia.
MENGENAL ALLAH ADALAH KASIH
Dalam ayat 8 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” Tidak mengenal Allah berarti tidak mengalami Dia atau menikmati Dia. Jika Anda telah mengalami dan menikmati Allah yang adalah kasih, tentu saja kasih akan timbul dari Anda.
Orang yang tidak mengenal Allah tidak memiliki kemampuan hayat ilahi untuk mengenal yang diterimanya dari kelahiran ilahi. Orang semacam itu, yang tidak dilahirkan dari Allah dan tidak memiliki Allah sebagai hayatnya, tidak mengasihi dengan Allah sebagai kasih, karena dia tidak mengenal Allah sebagai kasih.
Dalam kitab ini Yohanes dua kali mengatakan kepada kita bahwa Allah adalah kasih (4:8, 16). Pertama-tama surat ini mengatakan Allah adalah terang (1:5), kemudian mengatakan Allah adalah kasih. Kasih, sebagai hakiki esens Allah, adalah sumber anugerah; terang, sebagai hakiki ekspresi Allah, adalah sumber kebenaran. Ketika kasih ilahi ternyata kepada kita, kasih itu menjadi anugerah; ketika terang ilahi menyinari kita, terang itu menjadi kebenaran. Kedua hal ini ternyata secara demikian dalam Injil Yohanes. Kita menerima anugerah dan kebenaran melalui penyataan Putra (Yoh. 1:14, 16-17). Kini dalam Surat Kiriman Yohanes, kita datang dalam Putra kepada Bapa dan menjamah sumber anugerah dan kebenaran. Sumber-sumber ini, kasih dan terang, adalah Allah Bapa sendiri untuk kenikmatan kita yang lebih dalam dan lebih baik dalam persekutuan hayat ilahi dengan Bapa dalam Putra (1:3-7), melalui berdiamnya kita di dalam Dia (2:5, 27-28; 3:6, 24).
Ungkapan “Allah adalah kasih,” seperti “Allah adalah terang” (1:5) dan “Allah adalah Roh” (Yoh. 4:24), digunakan sebagai keterangan, bukan dalam arti kiasan. Dalam hakikiNya Allah adalah Roh, adalah kasih, dan adalah terang. Roh menunjukkan hakiki persona Allah; kasih, hakiki esens Allah; dan terang, hakiki ekspresi Allah. Kasih dan terang berhubungan dengan Allah sebagai hayat, hayat yang dari Roh (Rm. 8:2). Allah, Roh, dan hayat sebenarnya adalah satu. Allah adalah Roh, dan Roh adalah hayat. Dalam hayat ini ada kasih dan terang. Ketika kasih ilahi ternyata kepada kita, ia menjadi anugerah; ketika terang ilahi menyinari kita, ia menjadi kebenaran. Injil Yohanes mewahyukan bahwa Tuhan Yesus telah membawa anugerah dan kebenaran kepada kita sehingga kita dapat memiliki hayat ilahi (Yoh. 3:14-16). Surat 1Yohanes mewahyukan bahwa persekutuan hayat ilahi membawa kepada kita sumber anugerah dan kebenaran, yaitu kasih ilahi dan terang ilahi. Dalam Injil Yohanes, Allah di dalam Putra datang kepada kita sebagai anugerah dan kebenaran, agar kita menjadi anak-anakNya (Yoh. 1:12-13); dalam suratnya, kita, anak-anakNya, dalam persekutuan terang Bapa, datang kepada Bapa untuk berbagian dalam kasih dan terangNya. Ini adalah pengalaman hayat ilahi yang lebih jauh dan lebih dalam. Setelah menerima hayat ilahi dalam Injil Yohanes dengan percaya kepada Putra, kita harus melanjutkan untuk menikmati hayat ini dalam suratnya melalui persekutuan hayat ini.
KASIH ALLAH DINYATAKAN KEPADA KITA
Dalam 4:9 Yohanes selanjutnya mengatakan, “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup olehNya.” Dalam ayat ini kita nampak maksud dan sasaran Allah dalam mengutus Anak: Allah mengutus AnakNya agar kita bisa mendapatkan hayat dan hidup olehNya. Jika kita tidak mempunyai hayat melalui Dia, kita tidak bisa hidup oleh Dia. Allah mengutus PutraNya ke dalam dunia, agar kita menerima Dia sebagai hayat. Sekarang kita hidup oleh Dia.
Dalam ayat 9 Yohanes mengatakan bahwa dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita. Secara harfiah, kata “di tengah-tengah kita” dalam bahasa Yunaninya adalah “di dalam kita”, yaitu di dalam perkara kita, atau dalam hubungannya dengan kita. Dalam hal Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia agar kita bisa mendapatkan hayat dan hidup olehNya, kasih Allah yang tinggi dan terhormat dinyatakan di tengah-tengah kita.
ALLAH MENGUTUS PUTRA-NYA
SEHINGGA KITA BISA HIDUP OLEH DIA
Dalam 4:9 Yohanes mengatakan bahwa Allah mengutus Putra tunggalNya ke dalam dunia. Seperti dalam 1 Timotius 1:15, “dunia” di sini mengacu kepada tempat beradanya umat manusia yang telah jatuh. Kita, orang-orang yang jatuh, bukan hanya penuh dosa dalam sifat dan tindakan kita (Rm. 7:17-18; 1:28-32), tetapi juga mati dalam roh kita (Ef. 2:1, 5; Kol. 2:13). Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan hanya menjadi satu pendamaian bagi dosa-dosa kita, agar kita dapat diampuni (1Yoh. 4:10), tetapi juga menjadi hayat kita, agar kita dapat hidup oleh Dia. Dalam kasih Allah, Putra Allah bukan hanya menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita oleh darahNya (Ef. 1:7; Why. 1:5), lebih-lebih dengan hayatNya menyelamatkan kita dari kematian (1Yoh. 3:14-15; Yoh. 5:24). Dia bukan hanya Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa kita (Yoh. 1:29); Dia juga adalah Putra Allah yang memberikan hayat kekal kepada kita (Yoh. 3:36). Dia mati karena dosa-dosa kita (1 Kor. 15:3) agar kita mendapatkan hayat kekal dalam diriNya (Yoh. 3:14-16) dan hidup olehNya (Yoh. 6:57; 14:19). Dalam hal ini kasih Allah, yang adalah esensNya, telah dinyatakan.
SATU KURBAN PENDAMAIAN
BAGI DOSA-DOSA KITA
Dalam 4:10 Yohanes mengatakan, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus AnakNya sebagai (kurban) pendamaian bagi dosa-dosa kita.” Kata “inilah” mengacu kepada fakta berikut: bukan kita yang telah mengasihi Allah, melainkan Dia yang telah mengasihi kita dan mengutus AnakNya sebagai kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita. Dalam fakta ini terdapat kasih Allah yang lebih tinggi dan lebih terhormat.
Kata “kurban pendamaian” menyatakan bahwa Tuhan Yesus Kristus mempersembahkan diriNya kepada Allah se-bagai kurban untuk dosa-dosa kita (Ibr. 9:28), bukan hanya untuk menebus kita, lebih-lebih untuk memuaskan tuntutan Allah, mendamaikan hubungan antara kita dengan Allah. Karena itu, Dia adalah kurban untuk pendamaian kita di hadapan Allah.
Dalam 4:9 kita melihat bahwa Allah mengutus PutraNya agar kita dapat hidup oleh Dia. Dalam 1Yohanes 4:10 kita nampak bahwa Allah mengutus PutraNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Jika kita merenungkan ayat-ayat ini bersama-sama, kita akan nampak bahwa pengutusan Allah terhadap PutraNya sebagai kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita bukanlah sasaran, melainkan satu prosedur untuk mencapai sasaran, dan sasaran itu adalah agar kita boleh mempunyai hayat dan hidup oleh Putra. Karena itu, Allah mengutus PutraNya sebagai kurban pendamaian bagi kita dengan maksud agar melalui PutraNya kita boleh mempunyai hayat dan hidup.
SALING MENGASIHI
DAN MENGEKSPRESIKAN ALLAH
Dalam 4:11 Yohanes melanjutkan, “Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi.” Ini adalah mengasihi dengan kasih Allah seperti Dia mengasihi kita.
Satu Yohanes 4:12 mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasihNya sempurna di dalam kita.” Kata “melihat” menunjukkan bahwa jika kita saling mengasihi dengan kasih Allah, seperti Dia mengasihi kita, kita mengekspresikan Dia dalam esensNya, sehingga orang lain dapat melihat apa adanya Dia secara esensial atas diri kita.
Tidak ada seorang pun pernah melihat Allah, tetapi jika kita saling mengasihi dengan Allah sebagai kasih, kita akan menyatakan Allah. Karena Allah dinyatakan di dalam kasih kita terhadap satu sama lain, maka orang lain akan dapat melihat Allah di dalam kasih ini.
Dalam ayat 12 Yohanes mengatakan bahwa jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita. Saling mengasihi adalah syarat kita untuk tinggal di dalam Allah (4:13), dan tinggalnya kita di dalam Allah adalah syarat untuk tinggalnya Dia di dalam kita (Yoh. 15:4). Maka, ketika kita saling mengasihi, Allah tinggal di dalam kita, dan kasihNya ternyata dengan sempurna di dalam kita.
“Kasih Allah” dalam 1Yohanes 2:5 adalah kasih Allah di dalam kita yang menjadi kasih kita terhadapNya, dengan kasih inilah kita mengasihi Dia. “KasihNya” dalam 1 Yohanes
4:12 adalah kasih Allah dalam kita yang menjadi kasih kita terhadap satu sama lain, dan dengan kasih inilah kita saling mengasihi. Ini menunjukkan bahwa kita harus menerima kasih Allah sebagai kasih kita dan dengan kasih ini kita mengasihi Allah dan saling mengasihi.
KASIH ALLAH DISEMPURNAKAN DI DALAM KITA
Dalam ayat 12 Yohanes juga membicarakan tentang kasih Allah disempurnakan di dalam kita. Kasih Allah telah sempurna di dalam diri Allah, tetapi sekarang kasih ini perlu disempurnakan di dalam kita. Dalam hal ini, kasih Allah perlu menjadi pengalaman kita. Jika kasih Allah tetap di dalam Allah, ia akan disempurnakan di dalam diri Allah sendiri.
Tetapi bila kasih ini menjadi pengalaman dan kenikmatan kita, kasih ini akan disempurnakan di dalam kita. Kasih yang telah disempurnakan di dalam Allah perlu disempurnakan di dalam kita melalui kenikmatan kita atas kasih ini.
Kata “disempurnakan” dalam 1Yohanes 4:12 dalam bahasa Yunaninya adalah teleioo, yang berarti melengkapkan, menggenapkan, menyelesaikan. Dalam diri Allah, kasih Allah itu sendiri sudah sempurna dan lengkap. Namun dalam diri kita, kasih Allah itu perlu disempurnakan, dilengkapkan dalam ekspresinya. Kasih Allah ternyata kepada kita dalam hal Allah mengutus AnakNya untuk menjadi kurban pendamaian dan hayat bagi kita (4:9-10). Tetapi jika kita tidak saling mengasihi dengan kasih ini, seperti yang ternyata kepada kita, yaitu jika kita tidak mengekspresikannya dengan saling mengasihi berdasarkan kasih yang dengannya Allah mengasihi kita, kasih itu tidak akan terekspresi dengan sempurna dan lengkap. Kasih ini sempurna dan lengkap dalam ekspresinya ketika kita mengekspresikannya dalam kehidupan kita dengan membiasakan diri saling mengasihi dengan kasih ini. Kehidupan kita yang saling mengasihi dalam kasih Allah adalah kesempurnaan dan kelengkapan kasih ini dalam ekspresinya di dalam kita. Dengan demikian, dalam kehidupan kita dalam kasih Allah, orang lain dapat melihat Allah terekspresi dalam esens kasihNya.
MENGETAHUI KITA TINGGAL DI DALAM DIA DAN DIA DI DALAM KITA
Dalam 4:13 Yohanes mengatakan, “Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita, karena Ia telah mengaruniakan RohNya kepada kita.” Kata “Demikianlah” berarti dari fakta Allah memberikan RohNya kepada kita, kita tahu bahwa kita tetap berada di dalam Dia dan Dia di dalam kita. Roh itu, yang telah Allah berikan untuk tinggal di dalam kita (Yak. 4:5; Rm. 8:9, 11), adalah saksi dalam roh kita (Rm. 8:16), bersaksi bahwa kita tinggal di dalam Allah dan Allah tinggal di dalam kita. Roh yang berhuni, yaitu Roh yang tinggal di dalam kita adalah unsur dan ruang lingkup dari saling mendiami, saling huni, antara kita dengan Allah. Oleh Roh itu, kita dijamin bahwa kita dan Allah adalah satu bahwa kita saling huni, mendiami satu sama lain. Ini dibuktikan dalam kehidupan kita, kehidupan yang terbiasa saling mengasihi dengan kasihNya.
Dalam ayat 13 Yohanes menyatakan bahwa kita dapat mengetahui bahwa kita tinggal di dalam Allah. Tinggal di dalam Allah adalah berdiam di dalamNya, menetap dalam persekutuan kita denganNya, agar kita dapat mengalami dan menikmati berhuninya Dia di dalam kita. Ini adalah mempraktekkan keesaan kita dengan Allah berdasarkan pengurapan ilahi (2:27), dengan menempuh kehidupan yang mempraktekkan kebenaranNya dan kasihNya. Itu semua terlaksana dengan pekerjaan Roh majemuk yang almuhit, yang tinggal di dalam roh kita, dan yang adalah unsur dasar pengurapan ilahi.
ALLAH MENGARUNIAKAN ROH-NYA KEPADA KITA
Dalam ayat 13 Yohanes juga mengatakan bahwa Allah “telah mengaruniakan RohNya kepada kita.” Dalam bahasa Yunani “kata-kata RohNya kepada kita” secara harfiah berarti “yang berasal dari RohNya kepada kita”. Allah telah mengaruniakan yang berasal dari RohNya kepada kita. Ini sangat mirip dan merupakan pengulangan dari perkataan dalam 1Yohanes 3:24, yang membuktikan bahwa ini tidak berarti Allah telah memberi kita sesuatu dari RohNya, seperti berbagai karunia dalam 1 Korintus 12:4, tetapi bahwa Dia telah memberikan Roh itu sendiri sebagai karunia yang almuhit (Kis. 2:38). “Dari RohNya” adalah ungkapan yang menyiratkan bahwa Roh Allah, yang telah Allah berikan kepada kita, adalah serba lengkap, tidak terukur (Flp. 1:19; Yoh. 3:34). Melalui suplai Roh yang serba lengkap dan tidak terukur ini, kita tahu dengan kepastian yang penuh bahwa kita dan Allah adalah satu dan saling tinggal.
KASIH ALLAH MENJADI SUSUNAN DIRI KITA
Seperti telah kita lihat 4:11-13, kita nampak bahwa kita tidak boleh mengajar kaum saleh mengasihi dengan kasih alamiah mereka sendiri, dengan kasih yang adalah sesuatu yang di luar Allah sendiri. Sebaliknya, kita semua perlu melihat bahwa Allah tinggal di dalam kita, dan kita tinggal di dalam Dia. Ini adalah masalah saling huni, berbaur, kesatuan yang organik. Allah tidak hanya di dalam kita, lebih-lebih Dia tinggal di dalam kita, berhuni di dalam kita. Melalui perbauran ini, kesatuan organik ini, Dia menjadi kita, dan kita menjadi Dia. Sebab itu, karena Allah adalah kasih, kasih ini menjadi susunan diri kita. Kita menjadi apa adanya Dia, kasih kita kepada orang lain sebenarnya adalah Allah sendiri; kita mengasihi orang lain dengan Allah sebagai kasih. Karena Allah tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam Dia, maka kita mengasihi dengan Allah sendiri sebagai kasih.
ALLAH MENGUTUS PUTRA-NYA
SEBAGAI JURUSELAMAT DUNIA
Dalam 4:14 Yohanes melanjutkan, “Dan kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus AnakNya (PutraNya) menjadi Juruselamat dunia.” Seperti dalam 1Yohanes 4:9 dan Yohanes 3:16 “dunia” di sini mengacu kepada umat manusia yang telah jatuh.
Bapa mengutus Putra untuk menjadi Juruselamat kita adalah tindakan luaran, yang membuat Dia dapat tinggal di dalam kita dan kita di dalam Dia melalui pengakuan kita terhadap Putra (4:15). Rasul-rasul telah melihat hal ini dan mempersaksikannya. Ini adalah kesaksian luaran. Di samping itu, tindakan batiniah Allah terhadap kita adalah mengutus RohNya untuk tinggal di dalam kita sebagai bukti batiniah bahwa kita tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita (4:13).
Dalam 1Yohanes 4:9-10 dan 14 Rasul Yohanes tiga kali mengatakan bahwa Allah telah mengutus PutraNya. Allah mengutus Putra sehingga kita dapat hidup melalui Dia; Dia mengutus Putra sebagai kurban pendamaian atas dosa-dosa kita; dan Dia mengutus Putra sebagai Juruselamat dunia.
MENGAKU BAHWA YESUS ADALAH PUTRA ALLAH
Dalam 4:15 Yohanes mengatakan, “Siapa yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak (Putra) Allah, Allah tetap berada di dalam Dia dan dia di dalam Allah.” Allah Bapa mengutus PutraNya sebagai Juruselamat dunia agar manusia bisa percaya kepadaNya dengan mengaku bahwa Yesus adalah Putra Allah, sehingga Allah bisa tinggal di dalam mereka dan mereka tinggal di dalam Allah. Tetapi orang-orang Cerintus yang bidah tidak mengakui hal ini. Sebab itu, mereka tidak memiliki Allah tinggal di dalam mereka, mereka pun tidak tinggal di dalam Allah. Siapa yang mengakui hal ini, Allah tinggal di dalamnya dan dia tinggal di dalam Allah. Dia menjadi satu dengan Allah dalam hayat dan sifat ilahi.
Kita mungkin mengharapkan Yohanes mengatakan bahwa siapa pun yang mengakui Yesus adalah Putra Allah mempunyai pengampunan dosa-dosa, atau mempunyai hayat kekal. Akan tetapi, di sini Yohanes mengatakan bahwa siapa pun yang mengakui Yesus adalah Putra Allah, Allah tinggal di dalam Dia dan dia di dalam Allah. Kita harus memakai ayat ini dalam pemberitaan Injil. Kita harus mengatakan kepada orang-orang bahwa jika mereka percaya kepada Tuhan dan mengaku bahwa Yesus adalah Putra Allah, dosa-dosa mereka akan diampuni dan mereka akan diselamatkan. Kita juga harus mengatakan kepada mereka bahwa jika mereka mengaku bahwa Yesus adalah Putra Allah, Allah akan masuk ke dalam mereka dan tinggal di dalam mereka, dan mereka pun dapat tinggal di dalam Allah. Inilah pemberitaan Injil yang tertinggi. Pernahkah Anda memberitakan Injil dengan cara ini? Dalam pemberitaan Injil kita marilah kita mengatakan kepada orang-orang bahwa jika mereka percaya kepada Tuhan Yesus, mengakui bahwa Dia adalah Putra Allah, Allah akan masuk ke dalam mereka untuk tinggal di dalam mereka, dan mereka akan tinggal di dalam Allah.