HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH SEORANG BENAR YANG GAGAL
Alkitab itu sebuah buku yang indah. Di sela-sela catatan kisah Abraham terdapat pula kisah Lot yang negatif. Ada sejangka waktu yang cukup lama saya tidak mengerti mengapa Alkitab memuat kisah negatif itu. Ada beberapa ayat dalam Kejadian 19 yang secara manusiawi saya tidak suka membicarakannya, namun wahyu kudus Tuhan sangatlah ekonomis, tidak mungkin memboroskan satu kata pun, karena itu, setiap kata dalam Alkitab sangatlah penting. Lalu apa tujuan Kejadian 19? Yaitu memberi kita suatu contoh peringatan. Saya mempunyai beban yang berat dalam berita ini. Banyak di antara kita terutama kaum muda perlu nampak contoh peringatan ini. Kita perlu contoh yang demikian karena situasi hari ini tidaklah lebih baik daripada Sodom pada waktu itu.
Kita bersyukur kepada Tuhan, firman-Nya tidak hanya memberi tahu kita sejarah Abraham yang positif, tetapi juga sejarah Lot yang negatif. Dalam seluruh Alkitab tidak ada catatan yang selengkap riwayat hidup Abraham. Catatan ini memperlihatkan kepada kita bagaimana Abraham dipanggil oleh Allah, bagaimana ia menjawab panggilan Allah, bagaimana ia hidup bersandarkan iman kepada Allah, bagaimana ia ditanggulangi melalui disunat, dan bagaimana ia dibawa ke dalam persekutuan yang intim dengan Allah, bekerja sama dengan Allah yang pada level manusia. Saya suka akan catatan ini, yang mengisahkan seorang yang jatuh diselamatkan dan diubah, kemudian dibawa ke dalam persekutuan yang indah dengan Allah yang mulia dan kudus pada level manusia. Namun di sela-sela catatan ini, terdapat pula catatan Lot yang hitam, negatif. Ini akan kita bicarakan secara terperinci dalam berita ini, agar menjadi peringatan bagi diri kita sendiri juga bagi anak-anak kita serta sanak saudara kita.
(3) Seorang Benar yang Gagal
Jika kita membaca 2 Petrus 2:6-9, kita akan nampak bahwa Petrus sangat berkesan baik terhadap Lot. Dalam ayat 8 Petrus menyebut dia “orang benar” yang “jiwanya yang benar” itu tersiksa karena perbuatan fasik orang-orang di Sodom. Dalam ayat 9 ia menggambarkan Lot sebagai seorang yang takwa. Menurut pandangan Petrus, Lot itu benar dan takwa. Meskipun kita sulit mempercayai hal ini, karena ca-tatan Lot dalam Kejadian begitu negatif, tetapi kita harus tetap percaya, karena Alkitab memberi tahu kita demikian. Jika Anda tetap mengatakan bahwa Lot tidak benar dan tidak takwa, saya akan bertanya kepada Anda, bagaimana diri Anda sendiri? Apakah Anda lebih benar dan lebih takwa daripadanya? Dalam satu arti, Lot memang lebih benar dan lebih takwa daripada sebagian besar orang di antara kita. Tetapi walaupun ia telah beroleh selamat, benar, dan takwa, ia adalah seorang benar yang gagal.
(a) Secara Pasif Dibawa ke Jalan Allah oleh Orang Lain
Bila kita melihat sejarah Lot, kita akan nampak bahwa ia secara pasif dibawa ke jalan Allah oleh orang lain (Kej. 11:3; 12:5), dibawa oleh kakeknya dan pamannya ke jalan Tuhan. Kakeknya membawa dia dari Ur-Kasdim ke Haran, kemudian berhenti di tengah-tengah jalan karena kakeknya tidak mau maju terus. Ketika Allah mengambil pergi kakeknya, maka Abraham, paman Lot itu membawa dia dari Haran ke Kanaan. Sekalipun dalam pandangan Allah hal itu baik bahwa kakek dan paman dapat membawa anakcucu dan keponakan mereka ke jalan Allah, namun ia secara pasif dibawa orang, tidaklah terlalu baik Lot mempunyai permulaan yang sangat lemah. Dalam hal rohani ia tidak mempunyai permulaan yang aktif dan positif. Anak-anak muda, tidaklah baik pasif terhadap hal-hal ilahi atau pasif dalam hal mengikuti Tuhan. Lot adalah benar dan takwa, namun ia gagal karena ia mempunyai permulaan yang sangat lemah dan pasif. Permulaan yang pasif itu menyebabkan dia akhirnya gagal.
(b) Tidak Pernah Mengalami Penampakan Diri Allah
Lot tidak pernah mengalami penampakan diri Allah. Saya telah berkali-kali membaca ayat-ayat mengenai Lot, namun saya tidak menemukan sedikit pun petunjuk yang menyatakan bahwa Allah pernah menampakkan diri kepada Lot. Walaupun Allah dan dua malaikat-Nya mengunjungi Abraham, namun hanya dua malaikat itu saja yang datang kepada Lot. Apakah ini berarti Allah tidak adil atau berat sebelah? Tentu tidak! Allah itu adil dan tidak pandang bulu. Allah tidak menampakkan diri kepada Lot karena Lot pasif, tidak aktif mencari Tuhan, dan hidup dalam kota yang jahat. Ia tidak mengikuti Allah secara langsung, tetapi secara tidak langsung dan tidak berjalan dalam jalan Allah. Lot tidak sama dengan Abraham. Lot tidak pernah berhubungan langsung dengan Allah. Allah tidak pandang bulu, tetapi Ia benar-benar memandang kelakuan kita, apakah kita aktif atau pasif mencari Dia. Bila Anda mencari Dia, Dia akan menampakkan diri kepada Anda. Tetapi bila Anda tidak mencari Dia, Dia tidak akan membuang-buang waktu-Nya. Allah tidak me-nampakkan diri kepada Lot bukan kesalahan Allah, melainkan kesalahan Lot. Allah mau menampakkan diri kepada Anda, tetapi apakah Anda mencari Dia dan berjalan dalam jalan-Nya? Apakah Anda mempunyai hati mencari Allah secara positif dan aktif serta berjalan dalam jalan Allah? Jika ya, Allah tidak akan membuat Anda kecewa. Ia pasti akan menampakkan diri kepada Anda.
(c) Tidak Pernah Berinisiatif dalam Memilih Jalan Allah
Lot tidak pernah berinisiatif menempuh jalan Allah. Saya tidak dapat menemukan sebuah ayat pun yang menunjukkan Lot pernah berinisiatif dalam hal ini. Alkitab mengatakan kakek Lot membawa dia ke Haran, tetapi tidak mengatakan Lot berniat mengikutinya. Mereka berdua jauh berbeda. Saya menaruh sedikit prihatin kepada anak-anak muda di antara kita. Banyak di antara mereka mau menempuh hidup gereja (church life) karena ada orang lain yang membawa mereka. Mereka tidak mengambil inisiatif sendiri untuk menempuh hidup gereja. Ketika saya menengok kembali lima puluh tahun yang lampau, saya dapat bersaksi bahwa mereka yang berinisiatif memilih jalan gereja tetap kuat sampai hari ini. Tetapi mereka yang tidak berinisiatif, hanya secara pasif dibawa ke dalam jalan gereja, lambatlaun tentu jatuh. Saya dapat memberi Anda seratus nama-nama mereka yang pernah akrab dengan saya dan telah menerima bantuan ministri saya, tetapi lambatlaun jatuh, sebab mereka tidak mempunyai permulaan yang kuat dan tidak secara aktif mengikuti Tuhan. Lot seharusnya berkata kepada Abraham, “Paman Abraham, tidak peduli engkau memilih jalan Allah atau tidak, aku tetap akan memilihnya. Walaupun aku lebih muda dari-padamu, aku akan menjadi pemimpin dalam hal mengikuti Allah dan mengajak engkau mengikuti aku.” Berkata demikian bukan menunjukkan kesombongan, melainkan keaktifan.
(d) Hubungannya dengan Allah
Dipengaruhi oleh Orang Lain
Hubungan Lot dengan Allah terpengaruh oleh orang lain (Kej. 13:1). Ketika orang lain naik, dia naik; ketika orang lain turun, dia ikut turun. Lot bagaikan sebatang kayu terapung. Ketika pemimpin rohaninya hanyut ke Mesir, ia juga hanyut ke sana mengikutinya. Ia mutlak dipengaruhi oleh orang lain. Ketika Abraham hanyut ke Selatan menuju Mesir dan dunia, Lot seharusnya mencegah dia dan berkata, “Paman Abraham, bila engkau berjalan menurun, aku tetap akan berjalan naik.” Tetapi kita lihat tidak ada kencenderungan demikian dalam seumur hidup Lot. Saya khawatir saat ini dalam hidup gereja terdapat kayu terapung semacam ini. Apakah hubungan Anda dengan Allah karena penampakan diri Allah secara langsung atau karena pengaruh orang lain? Janganlah mengira Lot tiba-tiba hanyut ke Sodom. Tidak, itu adalah perkembangan yang lambatlaun, dimulai dari permulaan yang sangat lemah. Ketika Anda membaca kisah ini, kalau Anda merasa Anda tidak mempunyai permulaan yang kuat, janganlah berkecil hati, karena Anda masih belum terlambat untuk membangun fondasi yang kukuh.
(e) Karena Harta Benda Materi
Meninggalkan Pengaruh Rohani Orang Lain
Lot meninggalkan pengaruh rohani orang lain karena harta benda materi (Kej. 13:5-13). Ketika hanya ada pengaruh rohani, Lot masih dapat bertahan. Tetapi ketika Lot berhadapan dengan pilihan antara pengaruh rohani dan benda materi, ia memilih benda materi. Prinsipnya sama pada hari ini. Benda materi yaitu duniawi merupakan suatu pengujian bagi mereka yang hanya mengikuti kerohanian orang lain. Seperti Lot, meskipun mereka benar, tetapi tetap memilih benda materi.
Dalam perselisihan antara Lot dan Abraham dalam pasal 13, Alkitab tidak menunjukkan Abraham yang bersalah. Tetapi saya percaya perasaan Lot yang sangat dalam telah terluka. Di sini saya ingin berkata sepatah kata kepada para saudara yang memimpin. Menanggulangi saudara merupakan suatu hal yang sulit. Abraham tidak bersalah apa pun terhadap Lot, tetapi hanya karena ia telah menanggulangi Lot, selanjutnya Lot tidak mau kembali kepadanya lagi. Abraham tidak pernah melupakan Lot. Ketika ia mendengar Lot tertawan oleh Kedorlaomer, ia memimpin pasukan melawan raja-raja dan menolong Lot. Pada waktu ia mengetahui Allah hendak memusnahkan Sodom, ia berdoa syafaat bagi Lot. Dalam Kejadian 19:27-28, Abraham bangun pagi-pagi melihat ke Sodom dan Gomora karena ia begitu memprihatinkan Lot. Bagaimanapun, karena perasaannya terluka, Lot tidak mau kembali kepada Abraham, mungkin dia berkata, “Aku tidak ada hubungan dengan engkau lagi. Walaupun engkau telah melepaskan aku dari tawanan, aku selamanya tidak akan kembali kepadamu.” Setelah Lot diselamatkan dari Kota Sodom, ia tidak mempertimbangkan untuk kembali kepada Abraham. Jika ia kembali, tentu hidupnya tidak akan berakhir dengan begitu kasihan.
Saya mempunyai beban yang berat untuk memberi tahu saudara saudari muda, kalian harus sadar, berselisih dengan generasi yang lebih senior dan meninggalkan mereka amatlah bahaya! Pada waktu masih kanak-kanak bila saya dimarahi oleh ibu saya, saya tidak akan mau menyapa dia selama beberapa hari. Saya salah dan saya tahu bahwa dia memarahi saya di dalam kasih, tetapi hanya karena ia memarahi saya, saya tidak mau melihat mukanya. Prinsipnya sama dalam hidup gereja. Walaupun orang lain mungkin mengasihi kita, kita tidak suka dicela oleh mereka. Saya telah mendapat pelajaran, mencela orang lain akan menimbulkan permusuhan. Bila saya berkata terus terang di dalam kasih kepada seseorang saudara, perkataan saya yang terus terang itu melukai mereka. Mungkin inilah sebabnya mengapa Lot tidak mau kembali kepada Abraham. Dalam Alkitab tidak ada pertanda Lot berterima kasih kepada Abraham yang te-lah menyelamatkannya dari tawanan. Mungkin dia tidak mau melupakan perasaannya yang luka dan merendahkan diri. Kita tidak seharusnya mempertahankan perasaan manusia semacam itu. Janganlah seperti Lot, kita harus mau merendahkan diri, tanpa mempedulikan muka kita dan kembali kepada Abraham, serta tinggal bersamanya. Semakin cepat dan semakin banyak kita melakukan hal ini, semakinlah baik.
(f) Hanyut ke Dalam Situasi yang Jahat
dan Berdosa di Hadapan Allah
Lot hanyut ke dalam situasi yang jahat dan berdosa di hadapan Allah (Kej. 13:11-12). Begitu Anda meninggalkan sumber pengaruh rohani, secara otomatis Anda akan berjalan menurun. Anda tidak akan berjalan naik lagi. Janganlah sekali-kali meninggalkan pengaruh rohani yang tepat, sebab hal itu merupakan perlindungan bagi Anda. Bila Anda melepaskannya, Anda akan kehilangan perlindungan Anda dan seperti Lot akan hanyut menurun ke dalam Sodom. Sekalipun Lot mengetahui Sodom adalah jahat dalam pandangan Allah, akhirnya ia tetap masuk ke dalam tempat yang jahat itu dan tinggal di dalamnya.
Ur-Kasdim tempat berhala, Mesir tempat kekayaan dan kesenangan duniawi, dan Sodom kota yang penuh dosa. Ketiga tempat ini membentuk suatu segi tiga mengelilingi tanah Kanaan. Kita, orang-orang yang terpanggil oleh Allah, tinggal di dalam segi tiga ini. Kita harus berhati-hati, supaya kita tidak jatuh kembali ke kota berhala, menurun ke tempat kesenangan duniawi, atau hanyut ke dalam kota yang penuh dosa. Walaupun Lot menjauhi tanah berhala dan tempat kesenangan duniawi, tetapi ia hanyut bagaikan sebatang kayu terapung ke dalam kota yang penuh dosa.
(g) Tertawan sebagai Peringatan dari Allah yang Berdaulat
Tertawannya Lot adalah suatu peringatan dari Allah yang berdaulat (Kej. 14:11-12). Allah membelaskasihani dia, tidak membiarkan dia tinggal dalam Sodom dengan nyaman. Sebagai suatu peringatan dan pengajaran, Allah membuat dia tertawan.
(h) Diselamatkan dari Tawanan
oleh Pemenang Tuhan, tetapi Tidak Mendapat
Bantuan untuk Kembali ke Jalan Allah
Meskipun Lot telah diselamatkan dari tawanan oleh pemenang Tuhan, namun ia tidak mendapat bantuan untuk kembali ke jalan Allah (Kej. 14:12-16). Untuk sejangka waktu yang panjang saya tidak mengerti mengapa Lot tidak kembali ke jalan Allah. Mungkin ia terlalu keras kepala. Janganlah mengira orang pasif itu penurut. Hampir semua orang pasif adalah pemberontak. Lot tidak mendapatkan pelajaran dan ia tidak kembali ke jalan Allah.
(i) Kembali Tinggal dalam Kota Jahat, yang Dikutuk oleh Allah dan yang Akan Dimusnahkan oleh Penghukuman Allah
Lot kembali tinggal dalam kota jahat yang dikutuk Allah dan yang akan dimusnahkan oleh hukuman Allah (Kej. 19:1-13). Lot tidak pergi mengunjungi, melainkan tinggal di sana. Ketika dua malaikat itu datang hendak melaksanakan hukuman Allah atas Sodom, Lot sedang duduk di pintu gerbang kota itu; berlawanan dengan Abraham yang duduk di pintu kemahnya. Menurut adat zaman dahulu, orang yang duduk di pintu gerbang kota ialah salah satu penatuanya, karena hanya penatualah yang berhak duduk di sana. Lot menjadi salah seorang pemimpin di Sodom! Andaikata Tuhan atau malaikat-malaikat-Nya datang mengunjungi Anda, di manakah mereka akan menemukan Anda? Anda sedang duduk di pintu kemah atau di pintu gerbang dunia yang jahat? Tempat di mana Anda duduk itu menentukan dapat tidaknya Tuhan mendatangi Anda.
Malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah Lot (Kej. 19:2). Bandingkan hal ini dengan Tuhan dan malaikat-Nya ke-tika mengunjungi Abraham pada pasal sebelumnya. Ketika Abraham memohon mereka tinggal, mereka segera setuju. Tetapi dalam kisah Lot, dua malaikat itu tidak mau masuk ke dalam rumah Lot dan tinggal di dalamnya, karena rumah itu berada di dalam kota yang begitu jahat. Setelah Lot memaksa mereka, barulah mereka masuk dan tinggal sertanya (19:3).
Ketika malaikat-malaikat tinggal di dalam rumah Lot, orang-orang Sodom dari berbagai tempat kota itu datang hendak melampiaskan hawa nafsu Sodom mereka (19:4-11). Orang Sodom adalah homoseks, seperti yang Paulus katakan dalam Roma 1:24 dan 27. Hari ini banyak terdapat orang-orang Sodom sedang melampiaskan lebih banyak hawa nafsu Sodom. Orang-orang Sodom seakan-akan tidak mempunyai roh, mereka seperti binatang yang liar.
Lot bahkan mau mengorbankan dua anak perempuannya untuk memuaskan hawa nafsu orang-orang Sodom (19:7-9). Terpaksa atau tidak, sebenarnya ia tidak harus berbuat demikian. Ini menunjukkan perasaan moralitas Lot telah terbius. Kita dapat menggunakan bau bawang sebagai perumpamaan akan hal ini. Bila kita makan bawang sepanjang hari, maka penciuman kita terhadap bawang akan kebal. Bila kemudian ada seseorang yang mempunyai penciuman yang peka masuk di tengah-tengah orang pemakan bawang itu, tentu ia segera tercium bau bawang itu. Lot dan anak-anak-nya tinggal dalam rumah bawang Sodom selama bertahun-tahun dan perasaan moralitas mereka telah terbius. Sampai-sampai Lot mempertimbangkan untuk mengorbankan anak-anak perawannya guna menyelamatkan dua orang tamunya. Bagaimana ia dapat mempertimbangkan hal semacam itu? Meskipun ia adalah seorang yang benar, nyatanya perasaan moralitas dan perasaan malunya telah hilang.
Untuk menghadapi situasi yang jahat ini, malaikat menghukum orang-orang Sodom dengan cara membutakan mereka (Kej. 19:11). Ini menunjukkan orang-orang di Sodom itu buta dan dalam kegelapan. Semua orang Sodom adalah buta. Jika seseorang tidak buta, bagaimana ia dapat menjadi seorang Sodom; ini menunjukkan bahwa dosa membutakan orang.
(j) Anak-anaknya pun Telah Bejat
Anak-anak Lot telah menjadi bejat karena tinggal dalam kota yang jahat. Perkataan malaikat dalam Kejadian 19:12 menunjukkan bahwa Lot juga mempunyai anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki. Dalam pasal 18 Abraham memperkirakan dalam keluarga Lot paling sedikit ada sepuluh orang. Malaikat berkata kepada Lot, “Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu pe-rempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, bawalah mereka keluar dari tempat ini, sebab kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya” (Kej. 19:12-13). Lot tentu memberi tahu menantu laki-lakinya dan anak-anaknya bahwa Allah akan segera menghakimi kota itu, tetapi ketika Lot memberitakan Injil kepada mereka, ada di antara mereka yang tidak percaya firman Tuhan ini, dan mereka menganggap sebagai lelucon. Ayat 14 mengatakan, “Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya, ‘Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab TUHAN akan memusnahkan kota ini.’ Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja.”
Anak-anak Lot lainnya juga tidak mempunyai perasaan moralitas (Kej. 19:30-35). Lihatlah anak-anak perempuannya, apa yang mereka perbuat setelah lari dari kota itu! Setelah lari dari Sodom, Lot dan anak-anak perempuannya masih membawa arak (Kej. 19:32). Jika mereka tidak membawa arak, bagaimana mereka bisa mempunyainya dalam gua persembunyian? Mereka benar-benar sudah terbius oleh keadaan dosa di Sodom! Pada tahun 1963 saya mengunjungi beberapa orang saleh di Las Vegas, mereka membela diri mereka atas tinggalnya mereka di kota itu dengan kata-kata, “Tidak ada salahnya kami tinggal di kota judi ini, karena kami di sini sebagai suatu kesaksian bagi Tuhan.” Saya tidak berban-tahan dengan mereka, tetapi dalam diri saya yang terdalam berkata, “Bila Anda tinggal di sini bertahun-tahun, anak-anak Anda akan tidak mempunyai perasaan benci terhadap perjudian.” Hari ini banyak orang muda telah terbius. Lihatlah cara mereka berpakaian, tidak mempunyai perasaan moralitas atau perasaan malu. Sering kali ketika saya sedang berjalan di jalanan, saya harus menutup mata, karena ada gadis-gadis muda yang tidak mempunyai perasaan malu, pada tubuh mereka tidak ada perlindungan. Perasaan malu dan moralitas di seluruh dunia telah terbius, bahkan telah hilang. Sebagian anak muda dibesarkan dalam suasana dosa, perasaan moralitas mereka telah terbius. Tetapi jika mereka mau masuk ke dalam hidup gereja dan tinggal dalam suasana yang bersih murni itu selama beberapa bulan, mereka tidak akan kembali lagi ke dunia yang penuh dosa. Mereka akan tidak tahan baunya.
Kita hidup dalam zaman yang jahat, karena itu kita perlu perlindungan. Keluarga kita dan anak-anak kita harus terlindung. Kita semua harus lari dari Sodom dan menutup pintu kita terhadap suasana yang jahat itu. Jika tidak, keturunan kita akan terbius. Setelah Sodom dimusnahkan, mengapa Lot dan anak-anaknya dapat melakukan perbuatan itu? Karena perasaan moralitas mereka telah jatuh begitu rendah. Bila kita tetap tinggal dalam udara segar, kita segera dapat mencium bau busuk amoral meskipun bau itu hanya sedikit saja, tetapi bila kita tidak bisa merasakan bau busuk, berarti perasaan moralitas kita telah terbius.
(k) Lot Beroleh Selamat Karena Doa Syafaat Pemenang
Lot beroleh selamat karena doa syafaat pemenang (Kej. 19:15-25, 29). Bahkan setelah malaikat memberi tahu Lot bahwa Sodom akan dimusnahkan, Lot masih berlambat-lambat di sana. Karena ia tidak mempunyai kemauan untuk lari dari kota itu, maka malaikat memegang tangannya dan menarik dia keluar. Ayat 16 mengatakan ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan istri, dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab Tuhan hendak mengasihani dia, lalu kedua orang itu menuntunnya keluar kota dan melepaskannya di sana. Lot tidak setia, tetapi pada Tuhan ada belas kasihan. Tuhan menarik dia keluar dari Sodom bagaikan kayu yang dicabut keluar dari api.
(l) Istrinya Diselamatkan dari Kemusnahan,
tetapi Menjadi Tiang Garam
Istri Lot diselamatkan dari kemusnahan, tetapi menjadi tiang garam (Kej. 19:15-17; Luk. 17:32). Dalam bentuk serbuk, garam amat berguna. Tetapi garam dalam bentuk batangan, tidak berguna. Istri Lot menjadi tiang garam, itu berarti ia telah tidak berguna lagi dalam tangan Allah dan telah menjadi satu tanda keaiban. Hari ini kekristenan hanya membantu orang-orang memperhatikan masalah keselamatan dan kebinasaan, tetapi Alkitab mewahyukan bahwa di samping masalah keselamatan dan kebinasaan, terdapat pula masalah kemuliaan dan keaiban. Istri Lot tidak binasa, dia telah diselamatkan dari kemusnahan, tetapi pada akhirnya dia menjadi sesuatu yang memalukan. Sebab itu Tuhan berkata dalam Lukas 17:32, “Ingatlah akan istri Lot!” Ini memperingatkan kita, walaupun kita telah beroleh selamat, pada waktu Tuhan datang kembali kita mungkin mendapat aib seperti istri Lot. Sekalipun kita telah diselamatkan, mungkin kita akan dipermalukan pada hari kedatangan Tuhan (1 Yoh. 2:28).
Dalam Lukas 17:28-33 Tuhan memperingatkan kita jangan menoleh ke belakang. Mengapa istri Lot menoleh ke belakang? Karena beberapa anaknya, terutama anak-anak perempuannya masih ada di Sodom dan karena rumahnya dan pakaiannya berada di sana juga. Jika Anda membaca Kejadian 19 secara saksama, Anda akan melihat dia ada di belakang Lot. Sebagai sepasang suami istri, seharusnya mereka berjalan berbarengan, dia tidak boleh di belakang suaminya. Tetapi oleh karena di belakang, dia menoleh ke belakang dan menjadi tiang garam. Dia menoleh ke belakang dan melihat ke tempat yang disukainya, lalu menjadi suatu tanda keaiban untuk menjadi peringatan bagi kita. Hal ini bukanlah suatu cerita atau teori. Dari kisah ini kita melihat adanya masalah keselamatan dan masalah keaiban. Ketika hari penghakiman tiba, Anda berbagian dalam kemuliaan atau dalam keaiban? Kita tidak akan binasa karena keselamatan kita sudah pasti. Tetapi contoh ini menunjukkan bahwa kita masih mungkin dipermalukan.
(m) Hasil Seumur Hidupnya Melahirkan Orang-orang Moab dan Orang-orang Amon
Hasil seumur hidup Lot ialah melahirkan orang-orang Moab dan orang-orang Amon (orang Ben Ami), kedua bangsa ini ditolak oleh Allah, bahkan sampai generasi mereka yang kesepuluh (Kej. 19:36-38; Ul. 23:3). Betapa kasihan kesudahan hidup Lot! Dia tidak menghasilkan Ishak, tetapi menghasilkan orang-orang Moab dan orang-orang Amon yang ditolak oleh Allah. Dari kisah Lot kita nampak sebuah catatan seorang benar yang gagal. Sepanjang kisah putih Abraham yang menang, terdapat pula kisah hitam Lot yang gagal. Kisah seumur hidup Lot hendaklah menjadi suatu peringatan yang keras bagi kita semua.