HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH SEBATANG TIANG GARAM
Berita sebelum ini membahas tentang Lot, orang benar yang gagal. Dalam berita ini kita akan membicarakan istri Lot, yang menjadi sebatang tiang garam (Kej. 19:26). Kejadian 19 mungkin merupakan catatan satu-satunya dalam sejarah manusia mengenai tiang garam, dan kita pun perlu melihat-nya dengan saksama. Tiang garam ini bukan diciptakan oleh Allah, tetapi istri Lot yang berubah menjadi sebuah tiang garam. Dalam firman-Nya yang tercatat pada Lukas 17, yang diutarakan ketika orang-orang menanyakan tentang kedatangan Kerajaan Surga, Tuhan Yesus berkata dengan menekankan, “Ingatlah akan istri Lot!” (Luk. 17:32). Perkataan ini sangat berarti. Dalam arti tertentu, Tuhan seolah-olah berkata kepada murid-murid-Nya, “Jangan membicarakan kerajaan, lebih baik kalian mengenal, seperti apakah zaman itu ketika kerajaan datang. Zaman itu seperti zaman Nuh dan zaman Lot. Keduanya melambangkan hari kedatangan-Ku.” Jadi, dalam firman Tuhan yang ditekankan dengan berat, mantap, dan menggugah itu, menyebutkan tiga zaman: zaman Nuh, zaman Lot, dan zaman pada waktu Tuhan datang kembali.
Dalam beberapa berita yang lalu, ketika kita menyinggung tentang Nuh, kita telah menunjukkan bahwa ia hidup pada zaman yang memperdaya orang. Orang-orang zaman itu sudah diperdaya, diracuni, dan dibius oleh hawa nafsu mereka dan pelesiran yang jahat. Dalam Lukas 17:27, ketika Tuhan menyebut zaman Nuh, Ia menyebut masalah perkawinan. Namun ketika Ia menyebut zaman Lot, tidak menyebut masalah perkawinan. Sebab perkawinan di Sodom telah bejat sama sekali dan orang-orang melampiaskan habis-habisan hawa nafsu Sodomi mereka. Dalam Lukas 17:28 dan 30, Tuhan berkata, “Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: Mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun . . . Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan.” Setelah mengatakan ini dan sebelum mengingatkan kita akan istri Lot, Tuhan berkata pula, “Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali” (Luk. 17:31). Atap-atap rumah di Palestina berbentuk rata. Tuhan berkata, “Pada waktu Aku datang, kalau kamu berada di atas rumah, janganlah turun ke dalam rumah untuk mengambil barangmu. Kalau kamu demikian, kamu akan tertinggal. Kalau kamu sedang bekerja di ladang, jangan kembali ke rumah. Kamu harus melupakan segala sesuatu selain Aku.” Selanjutnya Tuhan lalu menekankan, “Ingatlah akan istri Lot!”
Hari ini, sama seperti orang-orang di zaman Nuh dan zaman Lot, orang-orang Kristen banyak yang terbius dan terpedaya, sehingga kehilangan perasaan yang wajar terhadap perihal Allah. Bahkan ada yang mengajarkan kepada orang-orang beriman bahwa mereka mungkin akan terangkat ketika sedang bermain sepak bola. Tetapi menurut wahyu kitab suci, ketika Tuhan kembali, Ia tidak akan mengambil orang saleh siapa pun yang tengah berbagian dalam hiburan atau pelesiran dunia. Kita, orang-orang Kristen, adalah tanaman Allah, yang bertumbuh berdasarkan Kristus sebagai benih hayat (Mat. 13:3-8, 18-23). Tidak ada orang Kristen yang telah matang dalam pertumbuhan hayat yang masih berbagian dalam kesenangan duniawi apa pun. Orang Kristen yang masih berbagian dalam kesenangan duniawi itu belumlah masak, masih hijau, dan mentah. Tuhan tidak akan menuai mereka dari ladang. Orang-orang Kristen yang hari ini masih terpedaya perlu mendengar firman-Nya yang demikian jelas.
(4) Sebatang Tiang Garam
Catatan istri Lot menjadi tiang garam terdapat di bagian mengenai hidup dalam persekutuan dengan Allah. Dalam Kejadian, bagian ini mencakup pasal 18—24, merupakan catatan mengenai hidup dalam persekutuan dengan Allah, namun terdapat pula catatan hitam mengenai orang beroleh selamat yang gagal, istrinya dan kedua putrinya. Lot semestinya mempunyai anak perempuan lebih dari dua orang, tetapi ketika malaikat-malaikat tiba di Sodom, mereka tidak menemukan yang lainnya. Kejadian 19:15 mengatakan, “Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: ‘Bangunlah, bawalah istrimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini.’” Seolah-olah malaikat berkata, “Lot, kami hanya dapat menemukan dua orang anakmu, kami diutus Allah ke sini untuk menyelamatkan kamu dan seluruh keluargamu, tetapi hanya ini saja yang kami te-mukan. Tugas kami adalah untuk memusnahkan kota ini. Sekarang kamu, istrimu, dan putri-putrimu harus melarikan diri.” Ayat berikutnya mengatakan Lot berlambat-lambatan, ragu-ragu bahkan enggan meninggalkan kota itu. Karena ia berlambat-lambatan, malaikat lalu memegang tangannya dan tangan istrinya dan tangan kedua putrinya, sebab Tuhan hendak mengasihani dia, lalu kedua orang itu menuntunnya keluar kota dan melepaskannya di sana. Ketika malaikat memba-wa mereka berempat keluar kota, mereka berpesan, “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang” (ayat 17). Tetapi ayat 26 mengatakan bahwa istri Lot “yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam”. Istri Lot telah diselamatkan, karena ia telah ditarik keluar dari kota itu dan diselamatkan dari kemusnahan. Namun, meskipun ia telah diselamatkan dari kebinasaan, ia menjadi tiang garam. Menjadi tiang garam sudah tentu bukan hal yang baik, melainkan hal yang memalukan.
Sebagaimana telah saya katakan berkali-kali, Kitab Kejadian memuat hampir semua benih kebenaran ilahi. Tiang garam dalam Kejadian 19:26 dapat dipandang sebagai benih, yang pertumbuhannya terdapat dalam Lukas 17:32. Di sana Tuhan memperingatkan kita akan istri Lot, dan dalam 1 Yohanes 2:28 kita diberi tahu pada waktu Tuhan datang mungkin kita akan dipermalukan. Tuaian dari benih ini terdapat dalam Wahyu 16:15, di sana Tuhan berkata, “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.” Tuhan akan datang seperti pencuri, sebelumnya tidak memberi tahu sedikit pun kepada manusia. Bila waktu itu kita telanjang, kita akan dipermalukan. Maka benih dipermalukan itu tertabur dalam Kejadian 17, bertumbuh dalam Lukas 17 dan 1 Yohanes 2, kemudian dituai dalam Wahyu 16. Beban saya dalam berita ini adalah untuk memberi tahu bahwa Kitab Kejadian tidak hanya memiliki benih Abraham, tetapi juga memiliki benih Lot dan istrinya yang menjadi tiang garam, pertanda yang memalukan.
Konsepsi dasar atas berita ini ialah orang yang benar-benar telah beroleh selamat masih mungkin dipermalukan. Janganlah mendengarkan ajaran-ajaran pada zaman ini yang memperdaya kita. Banyak ajaran kekristenan hari ini yang membius orang, orang-orang yang menerima ajaran semacam itu tidak lagi jernih pikirannya, juga tidak hidup dalam roh. Dalam berita ini kita perlu mendengarkan firman Tuhan yang jelas dan terang, firman ini akan membuat pikiran kita terang dan menghidupkan roh kita.
(a) Istri Lot
Telah kita tunjukkan, istri Lot tidak diragukan telah diselamatkan dari kebinasaan. Hal ini diwahyukan dengan sangat jelas, tidak ada yang bisa membantahnya. Tetapi kita nampak, ketika dia berjalan mengikuti suaminya dan menoleh ke belakang, seketika itu juga dia menjadi tiang garam. Dia berjalan di belakang suaminya, menunjukkan bahwa dia masih tidak rela meninggalkan Sodom, bahkan kurang senang mengikuti suaminya keluar dari Kota Sodom. Jika dia dengan senang hati meninggalkan Kota Sodom, pasti akan berjalan di samping suaminya. Sebelum dia menoleh ke belakang dan menjadi tiang garam, dia sudah tertinggal di belakang suaminya. Dalam hal ini saya ingin berbicara kepada para istri. Untuk urusan dosa, sangatlah baik kalau para istri tidak suka mengikuti suami; tetapi dalam hal rohani, tidaklah baik jika para istri berlambat-lambatan mengikuti suami. Dalam hal rohani, para istri sebaiknya berjalan bersama suami. Jangan tertinggal di belakang. Bila Anda tertinggal di belakang, jangan-jangan akan menderita seperti istri Lot, menjadi tiang garam. Ini adalah satu peringatan bagi kita semua.
Istri Lot berubah menjadi tiang garam, ini menunjukkan dia sudah kehilangan fungsinya, bahkan menjadi pertanda yang memalukan. Garam kalau berbentuk butiran-butiran kecil akan sangat berguna. Makin halus butirannya, makin baik kegunaannya. Sebaliknya, tidak ada seorang pun yang menggunakan garam dalam bentuk tiang. Tuhan Yesus berfirman bahwa kita sebagai orang-orang yang beroleh selamat dan dilahirkan kembali adalah garam dunia (Mat. 5:13). Kegunaan kita adalah membasmi kuman-kuman yang meru-sak dunia. Tetapi kalau kita telah menjadi tawar (Luk. 14:34), berarti kita menjadi sama seperti istri Lot, telah kehilangan kegunaan kita. Istri Lot adalah umat Allah, seharusnya penuh dengan rasa asin dan dapat membunuh kuman-kuman yang merusak di sekelilingnya; tetapi dia telah kehilangan rasa asinnya, telah menjadi tawar, menjadi tidak berguna. Dia telah menjadi pertanda yang memalukan.
Ketika menulis Kitab Kejadian, Roh Allah tidak ingin menulis nama istri Lot. Istri Abraham, Sara, ditulis berulang kali, tetapi nama istri Lot sekalipun tidak disebut. Nama ini tidak ada harganya untuk disebut. Orang saleh yang malang ini berjalan di belakang suaminya, menoleh ke belakang ke arah Sodom. Mungkin dia ingin melihat anaknya, rumahnya, atau barang-barangnya yang lain. Semua harta miliknya tertinggal di Sodom. Meskipun tubuh jasmaninya telah ditarik keluar dari kota itu, namun minat, suasana hati, keinginan, dan jiwanya masih berada di Kota Sodom. Begitu dia menoleh ke belakang untuk melihat tempat itu, Tuhan mengubahnya menjadi tiang garam. Ini menjadi contoh peringatan bagi kita semua.
Dalam Lukas 17 Tuhan Yesus mengambil contoh istri Lot untuk memperingatkan murid-murid-Nya. Namun, hari ini sedikit sekali orang Kristen yang hidup di bawah peringatan ini. Akan tetapi kita harus memperhatikan peringatan ini, yaitu orang yang benar-benar telah beroleh selamat, pada saat Tuhan menampakkan diri kelak, ada kemungkinan mendapat malu. Saya sungguh tidak ingin menjadi tiang garam. Bagaimana dengan Anda? Menjadi tiang garam bukanlah hal yang mulia, melainkan hal yang memalukan. Orang beriman berubah menjadi tiang garam yang tidak memiliki hayat, berdiri di udara terbuka, tidak terpakai untuk apa-apa, hanya untuk menderita sengsara, sungguh memalukan.
(b) Orang yang Tidak Mutlak Mengikuti Tuhan
Lukas 14:25-33 menyinggung tentang kemutlakan orang yang mengikuti Tuhan. Kita harus mutlak ikut Tuhan. Meskipun Alkitab mengajar kita untuk mencintai sesama manusia; tetapi dalam Lukas 14:26 Tuhan Yesus sendiri berkata, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Kalau seseorang tidak mutlak, tidak akan dapat mengikuti Tuhan dengan tepat. Ayah, ibu, istri, anak-anak, saudara laki-laki atau perempuan kita, bahkan nyawa diri kita sendiri adalah yang nomor dua, hanya Tuhanlah yang nomor satu, dan kita harus dengan mutlak mengikuti Tuhan. Yang dimaksud Tuhan karena Dia kita membenci sanak keluarga kita, bukan berarti benar-benar benci, melainkan benci yang mengasihi.
Dari perkataan yang diucapkan Tuhan sendiri dalam potongan firman ini, kita nampak bahwa kita harus mutlak mengikuti Tuhan. Ini bukan masalah menyembah Allah pada hari Minggu, juga bukan masalah menuruti kesenangan sendiri untuk mempelajari dan membaca Alkitab di rumah. Membaca Alkitab di rumah mungkin saja menjadi semacam kegemaran atau hiburan. Dalam pandangan Allah, pembacaan Alkitab Anda di rumah mungkin tidak ada bedanya dengan bermain bola basket. Ketika Anda membaca Alkitab, sepertinya Anda memakai ruang baca Anda menjadi lapangan basket; Anda sedang bermain bola basket Alkitab Anda. Dalam hal mengikuti Tuhan, Anda tidak mutlak. Saya bukan bercanda, saya berbicara yang sebenarnya. Saya bukan hanya berkata kepada orang lain, tetapi juga kepada diri saya sendiri. Tuhan bisa bersaksi bagi saya, saat saya menyiapkan berita ini, Tuhan bertanya kepada saya. “Kamu sendiri bagaimana? Aku menyuruhmu menyampaikan berita ini, tetapi dalam hal mengikuti Aku, apakah kamu benar-benar mutlak?” Semoga Tuhan membelaskasihani saya. Saya tidak ingin menyampaikan berita kepada orang lain, namun saya sendiri ditolak. Semoga Dia juga membelaskasihani seluruh orang beriman. Kita sangat perlu perkataan Tuhan yang jelas, agar kita tidak tertipu lagi! Jika kita percaya Yohanes 3:16, kita juga harus percaya Lukas 14:26-35. Banyak berita disampaikan atau buku-buku kecil diterbitkan mengenai Yohanes 3:16, tetapi di mana berita atau buku-buku yang membicarakan tentang Lukas 14:26-35? Dalam pemulihan Tuhan, kita tidak boleh menyembunyikan kebenaran apa pun terhadap umat Allah.
Mereka yang tidak mutlak dalam hal mengikuti Tuhan akan berubah menjadi tidak berguna. Silakan beri tahu saya, hari ini ada berapa banyak orang Kristen yang di dalam tangan Tuhan benar-benar berguna bagi ekonomi Allah? Dipandang dari segi ekonomi Allah, kebanyakan orang Kristen telah menjadi tidak berguna. Mereka sudah menjadi seperti garam yang tawar (Luk. 14:34).
Orang Kristen yang telah tawar ini, menurut Lukas 14:35, mereka “tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk (tumpukan kotoran), dan orang membuangnya saja.” Ladang di sini adalah tempat untuk menghasilkan sesuatu bagi Allah, tempat Allah menggenapkan kehendak-Nya. Sedangkan pupuk (tumpukan kotoran) dalam alam semesta ini adalah telaga api; semua yang kotor dan yang najis akan dibuang ke dalam telaga api. Lukas 14:35 terutama mengacu kepada zaman kerajaan. Pada zaman kerajaan, ada ladang yang dipakai untuk mencapai kehendak Allah, juga ada telaga api, yaitu tumpukan kotoran. Agama Kristen umumnya mengajar orang dengan mengatakan ada dua tempat, yaitu surga dan neraka. Tetapi dalam Injil Lukas ini Tuhan menyebutkan tempat ketiga, mengatakan bahwa garam yang sudah menjadi tawar tidak ada lagi gunanya, baik untuk ladang maupun untuk tumpukan kotoran, terpaksa dibuang di luar. Di mana tempat istri Lot yang telah menjadi tiang garam? Di surga atau di Sodom? Tidak di kedua tempat itu, ia ada di tempat ketiga. Setelah Anda membaca Injil Lukas dari awal sampai akhir, nampakkah Anda dalam pasal ini ada tiga tempat? Anda akan berada di mana? Di ladang, di tempat tumpukan kotoran, atau dibuang di tempat ketiga?
Dalam Matius 25:30 Tuhan berkata bahwa hamba yang tidak berguna itu dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap. Kegelapan di luar ini tentu adalah tempat ketiga. Tempat apa ini? Di mana? Alkitab tidak menyebutkannya. Meskipun demikian, Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa bila Anda adalah hamba yang malas, pada saat Tuhan datang kembali, ladang tidak cocok bagi Anda, karena Anda sudah tidak berguna; tumpukan kotoran juga tidak sesuai, karena Anda sudah beroleh selamat; lalu, di mana tempat Anda? Di tempat ketiga, yaitu di tempat selain dari kerajaan yang mulia dan telaga api. Tidak banyak orang Kristen yang tahu bahwa dalam Alkitab terdapat tempat ketiga yang dise-diakan bagi orang yang telah beroleh selamat tetapi gagal. Namun perkataan ini jelas sekali dalam Alkitab.
Kita harus ingat, dalam perkataan Tuhan, dalam wahyu lengkap yang menyangkut manusia, ada tiga tempat: satu tempat bagi yang beroleh selamat, satu tempat bagi yang binasa, satu tempat lagi bagi yang mendapat malu. Di mana tempat istri Lot? Walaupun dia sudah diselamatkan, namun ia berada di tempat ketiga, yaitu tempat yang memalukan. Inilah ajaran Tuhan Yesus dalam Injil Lukas.
(c) Orang Beriman yang Hidup
dalam Keduniawian seperti Orang Dunia,
dan yang Ingin Menyelamatkan Jiwanya Sendiri
Kalau orang beriman hidup dalam keduniawian sama seperti orang dunia, dan yang ingin menyelamatkan jiwanya sendiri, yaitu hayat jiwanya, ia akan bernasib sama seperti istri Lot yang mendapat malu, yang pada saat kedatangan Tuhan kembali akan kehilangan jiwanya (Luk. 17:28-33). Demikianlah keadaan kebanyakan orang Kristen. Meskipun mereka adalah kaum beriman, namun corak hidup mereka seperti corak orang dunia, menurut arus orang dunia berbe-lanja dan berpakaian. Karena kehidupan, perilaku, dan tindakan mereka sama seperti orang dunia, maka mereka tidak berbeda dengan orang dunia.
Menyelamatkan jiwa berarti tidak mau menderita bagi Tuhan. Orang Kristen yang menyelamatkan jiwanya sendiri, senang mencari kenikmatan pelesiran bagi diri sendiri. Mereka berkata, “Apa salahnya melihat pertandingan olahraga? Itu bukan dosa.” Itu memang bukan dosa, tetapi duniawi. Saya tidak berkata bahwa orang Kristen tidak boleh berolahraga untuk kesehatan tubuhnya. Kita perlu berolahraga. Tetapi olahraga macam apa pun, bila dijadikan pertandingan atau hiburan pelesiran, itu sudah menjadi duniawi. Bila Anda menikmati itu, merasa itu sangat menarik, berarti Anda sedang menyelamatkan jiwa Anda. Ingin mendapatkan kenikmatan jiwani atau duniawi yang mana pun berarti menyelamatkan jiwa.
Hari ini bukan saatnya bagi orang Kristen untuk mencari kesenangan baik jiwani maupun duniawi, melainkan saatnya kita menderita di dalam jiwa, di dalam psikologis kita. Asal kita bisa mempertahankan hidup, sudahlah cukup. Kita tidak seharusnya mencari kesenangan duniawi atau hiburan jiwani. Sejak selesainya Perang Dunia II, siapa yang pernah menyampaikan berita yang demikian jelas? Selama tiga puluh satu tahun yang lalu, saya terus memperhatikan, saya tidak pernah mendengar perkataan Tuhan yang jelas atau peringatan yang disampaikan kepada orang Kristen bahwa di bumi ini, hidup kita bukan untuk kesenangan duniawi atau hiburan jiwani. Kita harus mau menderita ka-rena kehilangan berbagai kesenangan rekreasi dan hiburan. Di rumah Anda menikmati musik tertentu; mungkin itu adalah Anda sedang menyelamatkan jiwa Anda. Banyak orang Kristen tidak bisa terlepas dari televisi; menonton televisi itu mungkin juga sedang menyelamatkan jiwa mereka. Saya tidak menerapkan agama atau hukum Taurat, tetapi dengan sungguh-sungguh saya berkata bahwa hari ini bu-kanlah saatnya bagi kita untuk mencari kesenangan rekreasi baik secara jiwani maupun duniawi; hari ini adalah saat-saat keprihatinan bagi jiwa kita. Penderitaan jiwa kita adalah untuk keselamatan jiwa kita. Bila Anda tidak mau menderita untuk keselamatan jiwa Anda, Anda akan sama seperti istri Lot yang mendapat malu, dan akan kehilangan jiwa Anda pada saat Tuhan datang kembali.
Ada ajaran salah yang mengajarkan pada saat Tuhan datang nanti, semua orang Kristen akan serentak diangkat. Ajaran semacam itu membuat kerohanian umat Tuhan mati rasa. Lukas 17:34-35 mengatakan, “Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” Mungkin Anda berdalih, “yang dibawa adalah orang beriman, sedang yang ditinggalkan bukan orang beriman.” Itu adalah tafsiran Anda. Dua orang sedang bersama-sama, di satu tempat yang sama, mengerjakan pekerjaan yang sama, hanya Tuhan yang tahu siapa di antara keduanya yang sungguh-sungguh bagi Tuhan. Bacalah Lukas 17:22-37 seluruhnya, Anda akan tahu bahwa perkataan ini bukan ditujukan kepada orang yang belum percaya, melainkan ditujukan kepada murid-murid Tuhan. Perkataan ini memberi tahu mereka saat-saat kedatangan Tuhan kelak. “Dua” yang tercantum dalam ayat 34 dan 35 ditujukan kepada dua orang murid Tuhan; satu diangkat, satu ditinggal. Yang diangkat tentu bukan yang seperti istri Lot, murid yang ditinggal akan sama seperti istri Lot. Perkataan ini sangatlah jelas.
(d) Anak-anak Allah yang Tidak Tinggal di Dalam Tuhan Menurut Pengajaran Pengurapan
Anak-anak Allah yang tidak tinggal di dalam Tuhan menurut pengajaran pengurapan akan mendapat malu pada saat Tuhan datang kembali (1 Yoh. 2:27-28). Kita yang ada di dalam pemulihan Tuhan, tahu apa yang dimaksud dengan pengajaran pengurapan. Tetapi apakah kita tinggal di dalam Tuhan menurut pengajaran urapan yang ada di dalam kita? Surat 1 Yohanes 2:27-28 menasihati kita untuk tinggal di dalam Tuhan menurut pengajaran pengurapan. Misalnya, Anda ingin membeli suatu barang, namun pengajaran pengurapan mengatakan, “Jangan.” Bisakah Anda berkata, “Amin, ya Tuhan”? Kalau Anda demikian, baik sekali. Tetapi sebaliknya, kalau Anda berkata, “Tuhan, aku tidak membeli barang yang tidak baik.” Mungkin Tuhan menjawab, “Aku tidak peduli kamu membeli barang yang baik atau tidak baik. Jangan membeli.” Kita harus dengan sederhana berkata, “Amin, Tuhan, aku tinggal di dalam-Mu menurut pengajaran pengurapan.” Kita perlu secara demikian tinggal di dalam Tuhan.
Jika kita tidak tinggal di dalam Tuhan menurut pengajaran pengurapan, kita akan dipermalukan dan dijauhkan dari-Nya pada hari kedatangan-Nya (1 Yoh. 2:28 Tl.). Merasa malu adalah satu perkara dan dipermalukan adalah perkara yang lain. Ayat ini tidak mengatakan kita akan merasa malu, melainkan kita akan dipermalukan. Perhatikan, King James Version mengatakan “di hadapan-Nya”, tetapi bahasa Yunaninya mengatakan “jauh dari hadapan-Nya”. Di sini kata depan bahasa Yunaninya adalah “apo”, berarti “jauh dari”. Bila kita tinggal di dalam Tuhan menurut pengurapan minyak, niscaya kelak ketika Ia datang, kita akan beroleh keyakinan, keberanian, kepastian, dan damai sejahtera, tidak akan dijauhkan dari-Nya. Sekali lagi, lain dengan King James Version, bahasa Yunani tidak berarti “pada waktu kedatangan-Nya” tetapi juga berarti “dalam penyertaan-Nya”. Bahasa Yunani, penyertaan itu adalah “parousia”, yang mengandung arti kedatangan. Mungkin kita memiliki kedatangan namun tidak dalam penyertaan-Nya. Misalnya, Presiden Amerika Serikat mungkin akan datang ke Anaheim malam ini, tetapi hanya sedikit orang yang masuk ke dalam penyertaannya, yaitu dalam parousianya. Tuhan Yesus akan datang, tetapi apakah Anda layak berada dalam penyertaan-Nya? Bila Anda hidup secara duniawi, mencintai dunia, Tuhan dianggap paling belakang di dalam hidup Anda, bagaimanakah Anda dapat dibawa ke dalam penyertaan-Nya ketika Ia datang? Kita harus tinggal dalam Tuhan menurut pengurapan minyak yang di dalam, sehingga pada saat kedatangan-Nya, kita di hadapan-Nya, dan dalam penyertaan-Nya, mempunyai keyakinan, keberanian, kepastian, tidak dipermalukan dan dijauhkan dari-Nya.
Kelak ketika Tuhan menyatakan diri, Dia akan menanggulangi kaum beriman-Nya. Apabila kaum beriman-Nya hari ini mengikuti Dia dengan tinggal di dalam-Nya menurut pengurapan yang di dalam, saat itu mereka akan memperoleh damai sejahtera, keberanian, kepastian, dan keyakinan, serta akan dibawa ke dalam parousia-Nya, dalam penyertaan-Nya. Jika mereka hari ini tidak tinggal di dalam-Nya, maka pada kedatangan-Nya kelak, mereka akan dipermalukan dan dijauhkan dari Dia. Dipermalukan dan dijauhkan dari Dia ber-arti ditaruh ke tempat ketiga, bukan di ladang bagi penggenapan tujuan Allah, juga bukan di tumpukan kotoran dalam lautan api. Itu adalah tempat yang memalukan di luar penyertaan-Nya. Seorang beriman yang dipermalukan dan dijauhkan dari-Nya tidaklah binasa, ia tetap sebagai orang yang telah diselamatkan, hanya ia harus menderita dipermalukan. Dipermalukan menjadi suatu penanggulangan dan pendisiplinan baginya. Itu merupakan hukuman Tuhan yang Mahakuasa terhadap umat-Nya yang gagal. Perkara ini sangat jelas dan sangat serius.
(e) Kaum Beriman yang Tidak Berjaga-jaga Menantikan Kedatangan Tuhan dan Hidup Secara Layak
Kaum beriman yang tidak berjaga-jaga menunggu kedatangan Tuhan dan hidup secara layak akan menderita dipermalukan (Why. 16:15). Dalam Wahyu 16:15 Tuhan memberi tahu kita agar memperhatikan pakaian kita. Pakaian dalam Alkitab selalu bermakna hidup dan perilaku kita. Kita harus memiliki perilaku yang bersih, dan pakaian rohani kita harus murni, putih dan diperkenan Allah. Kita harus berjaga-jaga sambil menunggu kedatangan Tuhan dan menjaga pakaian kita tetap bersih. Bila kita menempuh hidup yang bersih, kita pasti tidak akan telanjang pada waktu Ia datang dan orang-orang pun tidak akan nampak malu kita. Ayat ini juga mencantumkan Tuhan datang seperti pencuri. Ia tidak datang seperti seorang pengunjung yang sebelumnya mengumumkan kedatangannya. Ia datang ketika kita tidak mengira pencuri akan datang. Saya pernah diberi tahu bahwa pencuri sering kali datang sekitar jam tiga atau jam empat pagi, yaitu pada waktu orang-orang lagi tertidur nyenyak. Kita memerlukan kewaspadaan dan berjaga-jaga. Kalau tidak, Tuhan akan datang seperti pencuri dan kita akan kedapatan telanjang. Sekali lagi ini memberi tahu kita bahwa orang yang telah beroleh selamat mungkin saja dipermalukan pada saat Tuhan datang kembali.
(f) Umat Allah yang Tidak Hidup
dan Berperilaku Menurut Ekonomi-Nya
Umat Allah yang tidak hidup dan berperilaku menurut jalan-Nya, yaitu tidak menurut ekonomi-Nya, akan gagal menggenapkan tujuan-Nya, akan dipermalukan. Sebagaimana kita telah nampak, inilah arti tiang garam. Janganlah menerima hal ini hanya sebagai “Kursus Pelajaran Alkitab”, melainkan sebagai peringatan bagi kita semua. Bahkan kita yang dalam pemulihan Tuhan, tidak boleh kendur atau acuh tidak acuh. Kita harus waspada serta memandang situasi ini sangat serius. Kita perlu mempunyai hidup dan perilaku yang menggenapkan tujuan Allah. Kelak Tuhan datang menampakkan diri, kita akan berada dalam parousia-Nya dan tidak dibuang di tempat yang ketiga, tempat yang memalukan.