← Daftar isi Kejadian (4) · bab 11/15

HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH KETURUNAN YANG DILAHIRKAN

DARI PERBUATAN SUMBANG

Sebagaimana telah saya tunjukkan berkali-kali, hampir semua benih wahyu ilahi terdapat dalam Kitab Kejadian. Benih adalah bentuk permulaan dari sesuatu. Meskipun berukuran kecil dan bentuknya sederhana, namun sekali benih ditanam ke dalam tanah, niscayalah akan bertumbuh. Ketika benih ini bertumbuh, ia menjadi bentuk yang lain. Awalnya merupakan pucuk, kemudian bertumbuh besar. Walaupun bentuk terakhir dari perkembangannya berbeda dengan bentuk benih itu, tetapi semua prinsip dan aspek utamanya terdapat dalam benih itu. Bila kita ingin memahami Kejadian 19, kita harus memandangnya sebagai sebuah benih yang bertumbuh, berkembang, dan dituai dalam kitab-kitab selanjutnya. Catatan perihal Lot dan anak-anak perempuannya dalam Kejadian 19:30-38 memang merupakan benih yang negatif, berkaitan dengan perbuatan sumbang yang buruk itu, namun dalam segi positifnya, itu menyodorkan kepada kita peringatan yang keras dan tegas.

(5) Keturunan yang Dilahirkan dari Perbuatan Sumbang

Dalam berita ini kita harus melihat sebuah gambar dari perkara yang paling buruk — perbuatan sumbang. Kejadian 19:30-38, mungkin merupakan catatan pertama atas kasus sumbang dalam sejarah manusia, merupakan satu bagian dari bagian hidup dalam persekutuan dengan Allah. Ketika kita melihat hal ini, kita harus membicarakan enam butir: keluarga, ayah, ibu, anak perempuan, keturunan, dan belas kasihan Allah yang dalam dan tidak terukur.

Pertama-tama kita memiliki keluarga, yaitu satu kelompok orang; yang kedua memiliki bapa, pemimpin kelompok ini; yang ketiga memiliki ibu, pembantu pemimpin ini. Setiap pemimpin kelompok memerlukan pembantu. Pembantu yang tepat dalam sebuah keluarga adalah istri, dan dalam Alkitab seorang istri disebut pembantu. Pada aspek peranan, istri dalam keluarga adalah pembantu dalam hayat. Konsepsi ini sesuai prinsip Alkitab. Lihat contoh Sara. Abraham berkeluarga bagi tujuan Allah, karena Abraham sendiri mustahil menggenapkan tujuan Allah. Ia perlu seorang pembantu dalam hayat. Meskipun ia pernah berpaling kepada Hagar untuk mencari bantuan, tetapi Hagar bukan pembantu dalam hayat, melainkan pembantu dalam daging. Sara adalah satu-satunya pembantu, orang yang berfungsi dalam hayat. Tanpa dia, Abraham tidak akan melahirkan Ishak untuk mencapai tujuan Allah. Gereja hari ini adalah keluarga rohani, juga perlu fungsi yang layak dalam hayat untuk melahirkan “Ishak” bagi tercapainya tujuan Allah. Kita akan nampak, pada saat tertentu, kelompok keluarga Lot kehilangan fungsinya dalam hayat karena istrinya menjadi tiang garam. Ia seharusnya asin dan mempertahankan rasa yang sedap, tetapi dikarenakan keduniawiannya, ia kehilangan fungsi dalam hayat. Secara simbol, menjadi tiang garam berarti kehilangan fungsi dalam hayat. Meskipun ada kelompok dan ada pemimpin, namun tidak mempunyai istri yang berfungsi dalam hayat, hanya mempunyai sebatang tiang yang memalukan. Beginilah keadaan sebenarnya banyak kelompok Kristen hari ini. Kelompok-kelompok tersebut mempunyai pemimpin, namun mereka tidak mempunyai istri yang wajar yang mempunyai fungsi sejati dalam hayat.

Disebabkan keluarga Lot telah kehilangan fungsi dalam hayat, keluarga itu mempunyai anggota yang tidak wajar — anak-anak perempuannya. Saya segan menyebut anggota anak perempuan dari kelompok Lot karena kata “anak perempuan” adalah suatu istilah yang baik. Orang macam apakah mereka? Sesungguhnya mereka adalah anak perempuan atau istri atau ibu? Saya hampir tidak tahu bagaimana menyebut mereka. Apabila Anda menyebut mereka anak perempuan, Anda tentu mengatakan mereka adalah anak perempuan yang sumbang. Boleh jadi mereka itu ibu, tetapi ibu yang sumbang. Saya merasa malu untuk mengatakan apa yang mereka perbuat. Setelah meniduri ayah mereka, anak perempuan yang sulung lalu mendorong anak yang kedua melakukan perkara yang sama. Alangkah memalukan! Inilah anggota-anggota kelompok Lot. Banyak organisasi Kristen hari ini mempunyai anggota-anggota yang tidak beres semacam itu. Seperti anak perempuan Lot, mereka ingin sekali mempunyai keturunan, tetapi bukan dengan cara yang sepatutnya. Mungkin mereka berkata, “Mari kita menyelamatkan jiwa-jiwa,” tetapi mereka memperoleh jiwa-jiwa itu melalui persumbangan rohani.

Dalam Kejadian 19:30-38 ada kelompok, pemimpin, pembantu dalam hayat, anggota-anggota, dan keturunan dari perbuatan sumbang. Puji Tuhan, pada akhirnya, belas kasihan Allah yang dalam dan tidak terukur itu ternyata pada salah satu keturunan yang dihasilkan dari perbuatan sumbang ini. Rut seorang Moab, seorang keturunan Lot dengan anak perempuannya, menjadi moyang (nenek buyut) Daud, dan seorang leluhur Kristus. Bukankah ini belas kasihan Allah yang dalam dan tidak terukur? Namun, ketika kita mendengar ini, janganlah kita berkata, “Biarlah kita berbuat ja-hat supaya timbul yang baik.”

(a) Keluarga — Kelompok

Sekarang mari kita melihat enam butir ini dengan lebih terperinci. Seturut prinsipnya, segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Kejadian merupakan suatu benih. Boleh kita katakan, kemah Abraham, tempat ia bersekutu intim dengan Allah pada level manusia merupakan sebuah miniatur dari tabernakel yang Allah pesan kepada keturunan Abraham untuk membangunnya sebagai tempat kediaman Allah di bumi. Kemah Abraham merupakan benih, dan tabernakel yang didirikan oleh umat Israel di padang belantara merupakan pertumbuhannya. Bait yang dibangun di Kanaan, tanah yang subur permai merupakan perkembangan benih yang lebih lanjut. Gereja hari ini sebagai tempat kediaman Allah yang riil di bumi, juga perwujudan dari kemah Abraham, tabernakel, dan bait yang dilukiskan dalam Perjanjian Lama. Akhirnya, Yerusalem Baru adalah tuaian terakhir dari benih ini. Wahyu 21:3 mengatakan kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Jadi, dalam Kejadian 18 kita mendapatkan benih itu, dan dalam Wahyu 21 kita mendapatkan tuaiannya.

Dalam prinsip yang sama, pada masa Abraham dan Lot, Allah di bumi memiliki sekelompok umat. Umat-Nya ini terdiri dari dua keluarga, yakni keluarga Abraham dan keluarga Lot. Inilah benih atau miniatur umat Allah pada zaman-zaman berikutnya. Pertama-tama bangsa Israel adalah perkembangan dari benih umat Allah, dan hari ini gereja merupakan lanjutan dari perkembangan itu. Akhirnya, di Yerusalem Baru kita akan nampak seluruh orang tebusan dari zaman ke zaman merupakan hasil tuaian raya dari umat Allah di bumi. Di sini kita sekali lagi memiliki benih, perkembangan, dan tuaiannya. Dengan ini kita nampak apa yang terkandung dalam benih pasti dijumpai juga dalam perkembangannya.

Semula, keluarga Abraham dan keluarga Lot adalah satu, sebagai umat Allah. Tetapi, sampai suatu saat, perpecahan masuk sehingga mereka terpisah. Ketika mereka masih menjadi satu, mereka bukan sebuah “kelompok”; tetapi mereka adalah umat Allah, yakni satu kelompok umat Allah. Setelah perpecahan masuk, menghasilkan kelompok bebas. Kelompok bebas pada zaman dulu adalah benih dan miniatur kelompok bebas hari ini. Hari ini kelompok bebas di antara umat Allah sebenarnya adalah kelanjutan dari perkembangan benih ini. Perpecahan yang ditabur oleh Lot berkembang setelah zaman Salomo, saat itu bangsa Israel pecah dan timbul kelom-pok bebas. Kelompok bebas itu adalah Kerajaan Israel, yang selamanya tidak diakui oleh Allah. Allah hanya mengakui Yehuda karena Yehuda berdiri pada kedudukan yang benar. Prinsip tersebut sama pada zaman gereja. Seluruh gereja haruslah merupakan satu kelompok umat Allah. Pada zaman permulaan, gereja adalah satu, unik. Tetapi perpecahan masuk sekali demi sekali, mengakibatkan banyak kelompok bebas. Kita memuji Tuhan, perpecahan ini tidak akan berlarut terus sampai langit dan bumi baru. Melalui kembalinya Tuhan, perpecahan ini akan diakhiri.

1) Meninggalkan Saksi dan Kesaksian Allah

Kita telah melihat Lot meninggalkan Abraham adalah benih perpecahan dan kelompok bebas hari ini. Siapakah penyebab perpecahan itu? Kesalahannya bukan terletak pada Abraham, melainkan pada Lot. Anggota keluarga Lot mung-kin membantah, “Bukankah kami umat Allah juga? Mengapa kamu, anggota keluarga Abraham, selalu mengatakan kamulah umat Allah?” Ya, benar, keluarga Lot adalah sebagian dari umat Allah, tetapi mereka telah meninggalkan saksi dan ke-saksian Allah yaitu Abraham dan kesaksian yang ia lakukan. Saksi dan kesaksian Allah berada dalam kemah Abraham dekat pohon tarbantin Mamre di Hebron, bukan berada dengan Lot di Kota Sodom. Dalam pasal 18 dan 19 kita nampak Allah dan dua malaikat itu senang tinggal bersama Abraham, serta menikmati jamuan dan persekutuan intim dengan dia. Namun ketika kedua malaikat pergi ke Sodom kota kejahatan, Allah tidak pergi bersama mereka. Ia tetap tinggal beserta Abraham. Kedua kelompok itu sama-sama adalah umat Allah, tetapi di manakah penyertaan Allah? Hanya di dalam keluarga Abraham. Penyertaan Allah di keluarga Abraham disebabkan keluarganya adalah teladan umat Allah, dan mempunyai kedudukan kesaksian Allah yang tepat. Meskipun Lot merupakan salah satu umat Allah, namun ia tidak berada di atas kedudukan yang tepat dekat pohon tarbantin Mamre di Hebron. Ia malahan di Sodom, di atas kedudukan perpecahan dan kelompok-kelompok bebas. Seluruh umat Allah, sebagai kelu-arga-Nya, haruslah tinggal dekat pohon tarbantin Mamre di Hebron, di sana Allah dapat mengunjungi mereka seperti sahabat dan intim. Di sini kita menemukan perbedaan antara gereja dan kelompok-kelompok bebas: semua kelompok bebas adalah umat Allah, tetapi gereja berada dekat “pohon tarbantin di Mamre” di “Hebron”, terus-menerus menikmati pe-nyertaan Allah yang intim. Bagaimana dengan kelompok-kelompok bebas itu? Mereka sama dengan keluarga Lot, Allah tidak berhimpun bersama mereka. Mereka adalah umat-Nya, dan Ia memperhatikan mereka, tidak lupa akan mereka, namun penyertaan-Nya tidak ada pada mereka. Setelah malaikat berangkat ke Sodom menyelamatkan Lot dan keluar-ganya, Allah tetap beserta dengan Abraham, teman terka-sih-Nya. Di manakah Anda sekarang — bersama keluarga Abraham di Hebron ataukah beserta kelompok bebas Lot di Sodom?

Bukankah Alkitab mengatakan bahwa Lot seorang yang benar? Memang, dalam 2 Petrus 2:7-8 dengan jelas dikatakan Lot itu orang benar. Bukankah orang-orang dalam kelompok-kelompok bebas pun diselamatkan? Tentu. Tetapi lihatlah situasinya: orang-orang dalam kelompok-kelompok bebas berada di tempat yang dihakimi oleh Allah. Hal ini bisa kita ketahui dengan jelas dalam terang wahyu ilahi. Misalnya Anda hidup di zaman Abraham dan Lot, dalam kelompok manakah Anda berada? Mungkin Anda akan berkata, “Engkau mengatakan kelompok Lot suatu perpecahan. Bukankah kelompok Abraham suatu perpecahan juga? Keduanya bukan keseluruhan. Keduanya sama saja. Mengapa Anda begitu membedakan antara keluarga Abraham dengan keluarga Lot, sedangkan keduanya adalah umat Allah? Berhubung keduanya adalah umat Allah, maka hari ini aku akan bersama Lot dan besok mengunjungi Abraham.” Boleh saja Anda beserta dengan Lot, tetapi Allah tidak mau beserta Lot. Inilah yang membuat perbedaan yang sangat besar.

Di samping keluarga Abraham yang berada pada kedudukan yang tepat, yang dapat bersekutu intim dengan Allah, masih ada pula satu kelompok bebas. Situasi hari ini adalah perkembangan lanjut dari benih ini. Kita harus bersikap jujur dan adil terhadap kelompok-kelompok bebas. Adakah kesaksian Allah di tengah-tengah mereka? Tidak, Allah tidak diekspresikan di dalam kelompok bebas. Mereka berbuat sesuka hati mereka, dan di sana tidak ada saksi Allah dan kesaksian-Nya. Keluarga Lot menjadi kelompok bebas semacam itu dikarenakan meninggalkan Abraham dan apa yang disaksikan oleh Abraham. Kalau saya ini Lot, serta memiliki penerangan yang kita lihat pada hari ini, saya pasti akan berkata, “Paman Abraham, sekalipun engkau memaksa aku meninggalkan engkau, aku tidak akan mau pergi. Kalau engkau tidak menyukai aku, aku tetap akan memelukmu, menciummu, dan besertamu, berhubung engkau adalah saksi Allah dan kesaksian Allah beserta denganmu. Aku tidak akan sekali-kali membuang kesaksian ini.” Hari ini, kita harus mempunyai sikap yang demikian. Meskipun kita tidak senang dengan saudara-saudara dalam gereja, namun kita harus berkata, “Saudara-saudara, walaupun aku tidak senang dengan kalian, dan mungkin kalian jahat kepadaku, tetapi aku tidak akan sekali-kali mau meninggalkan kesaksian Allah.” Sumber, akar masalah kelompok bebas zaman dulu adalah kelompok ini meninggalkan saksi Allah dan kesaksian-Nya.

Banyak orang di antara kita dapat bersaksi, sewaktu kita meninggalkan denominasi, kita merasa amat girang bagaikan berada di surga. Tetapi sangat berbeda dibandingkan dengan kita meninggalkan gereja. Kalau Anda meninggalkan gereja, kegembiraan Anda akan lenyap dan tidak akan pulih lagi sampai Anda kembali kepada kesaksian Allah. Saya bukan sembarangan mengatakan ini. Tanpa kecuali, semua yang meninggalkan gereja, pasti akan kehilangan sukacita mereka. Begitu seseorang meninggalkan gereja, sulitlah untuk kembali lagi. Tengoklah Lot; sekalipun ia telah diselamatkan sesudah raja-raja yang menawannya dikalahkan, ia tetap menolak untuk kembali kepada Abraham. Bahkan setelah ia terluput dari kemusnahan Sodom, ia tetap tidak mau kembali kepadanya. Nanti kita akan lihat, Lot tetap mempunyai pilihannya sendiri. Kita bersukacita setelah meninggalkan denominasi, tetapi akan kehilangan sukacita begitu meninggalkan gereja. Hal ini dapat membuktikan gereja yang ada penyertaan Allah itu apa, dan denominasi yang tidak ada penyertaan Allah itu apa. Meskipun kita tidak dapat membedakan antara mereka dengan pikiran kita, namun kita dapat membedakannya dengan perasaan hayat di dalam roh kita.

2) Terhanyut ke Dalam Kota Kejahatan

Setelah kelompok Lot meninggalkan saksi dan kesaksian Allah, mereka terhanyut ke dalam Sodom kota kejahatan (Kej. 13:12-13, 19:1). Jika Anda meninggalkan hidup gereja, Anda pasti akan mengalami kegagalan. Sebagaimana sebatang kayu yang terapung tidak dapat menguasai arahnya sendiri kecuali terbawa oleh arus; begitu juga Anda akan terhayut oleh arus dunia sehingga terapung menuju ke bawah sampai Anda menemukan diri Anda terjatuh ke dalam kota kejahatan.

3) Meskipun Sudah Diselamatkan

Namun Masih Mempunyai Kesenangan Sendiri

Setelah Lot diselamatkan dari kemusnahan Sodom, ia te-tap mempunyai kesenangan diri sendiri (Kej. 19:20-23). Ia mohon kepada malaikat yang menyelamatkannya untuk memperbolehkan dia pergi ke Zoar, sebuah kota kecil. Allah itu penuh belas kasihan dan malaikat mengabulkan permintaan Lot. Bila Anda menyelidiki sejarah kelompok-kelompok pembantah, Anda akan nampak keadaan yang sama. Mula-mula, mereka di kota besar, Allah tidak memberkati mereka. Kemudian setelah Allah turun tangan, mereka pindah ke Zoar, yaitu sebuah kota kecil jauh dari kesaksian Allah. Awalnya mereka meninggalkan kesaksian Allah dan terhanyut ke dalam keadaan yang dihakimi oleh Allah, kemudian dengan tetap memiliki pilihan mereka sendiri, pergi menuju tempat yang kecil.

4) Terpencil Lebih Jauh dari Saksi-saksi dan Kesaksian Allah

Akhirnya Lot berhuni di dalam sebuah gua (Kej. 19:30). Seperti Lot, beberapa kelompok bebas, setelah meninggalkan kota besar dan pergi ke kota kecil, mereka tinggal dalam sebuah gua. Mereka telah memencilkan diri mereka dari umat Allah yang lain, menolak bersekutu dengan mereka. Mungkin mereka berkata, “Mengapa kalian mengatakan kalian gereja dan kami bukan?” Kalau mereka itu gereja, mereka tidak seharusnya tinggal di dalam gua melainkan keluar bersekutu dengan umat Allah. Namun mereka hanya mempedulikan kelompok kecil mereka di dalam gua itu saja. Apa yang mereka miliki hanyalah hidup gua semata, bukan hidup gereja.

(b) Ayah — Pemimpin

1) Karena Ingin Memperoleh Keturunan

Dimabukkan oleh Arak Dunia

Sekarang mari kita melihat ayah, yaitu orang yang memimpin. Di dalam gua, Lot mabuk karena minum anggur (Kej. 19:32-35). Sebagaimana yang pernah saya singgung, aneh sekali, orang-orang yang melarikan diri ini mempunyai arak anggur di dalam gua. Mereka begitu tercandu anggur sehingga mereka harus membawa sertanya ketika melarikan diri dari Sodom. Arak anggur itulah obat yang membius mereka. Ketika mereka berada di dalam gua, putri-putri Lot tidak memiliki persekutuan yang wajar dengan ayahnya, “Ayah, ibu kita telah menjadi tiang garam dan kami tidak bersuami. Bagaimana mungkin kita mempunyai keturunan? Kita harus berbuat sesuatu. Marilah kita berdoa bersama-sama.” Kalau mereka demikian, tidak akan ada perbuatan yang sumbang. Mereka tidak bersekutu di dalam roh atau berdoa kepada Tuhan. Anak perempuannya yang lebih tua itu lebih berpengalaman dengan obat Sodom dan lebih sering terbius, mengajukan usulan kepada yang lainnya agar membuat ayahnya mabuk dengan arak dan ditiduri sehingga mereka mempunyai keturunan darinya. Apabila Anda melihat situasi hari ini, akan mengetahui hampir semua pemimpin di setiap kelompok bebas telah minum sedikit “arak”. Seorang pemimpin yang tepat harus sadar dan tegas. Seyogianya Lot berkata kepada putrinya yang menghampiri dengan arak, “Apa yang kaulakukan? Ayo, buang semua itu.” Tetapi Lot bukanlah seorang yang sadar; ia malahan minum sampai tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Mabuknya mencapai taraf ditiduri putrinya sendiri pun tidak tahu sama sekali. Sebagian besar pemimpin kelompok bebas mabuk oleh “arak”, sehingga berkata, berbuat, dan memberi keputusan dalam keadaan mabuk. Karena banyak pemimpin dalam kondisi mabuk, maka sebagian besar anggota kelompok mereka menjadi terbius.

2) Tidur Lelap

Setelah Lot mabuk, ia tertidur lelap. Keadaan yang sama mencengkeram kelompok-kelompok bebas hari ini. Terhadap kesaksian Allah, pemimpin-pemimpinnya tertidur dan terlena. Mungkin mereka sangat aktif dalam hal-hal yang mereka tuntut, namun terhadap kesaksian Allah mereka tertidur.

3) Terbius

Lagi pula, Lot itu terbius, kehilangan perasaan hayatnya (Kej. 19:33b, 35b). Ketika putri pertamanya masuk tidur ber-samanya “Ia tidak mengetahui kapan anaknya tidur dan kapan ia bangun.” Perkara yang sama ini dilakukan oleh anak perempuannya yang kedua. Dosa apa yang dapat melebihi dosa ini? Ia sama sekali tidak merasa berhubungan dengan putrinya. Hari ini banyak pemimpin kelompok bebas juga telah kehilangan perasaan hayat. Mereka telah melanggar prinsip-prinsip pemerintahan yang ditentukan oleh Allah, namun masih tidak sadar.

(c) Ibu — Pembantu dalam Hayat

Kita telah nampak ibu yang sebagai istri, yang seharusnya membantu dalam hayat, telah menjadi tiang garam karena keduniawiannya (Kej. 19:26). Sewaktu keluarga Lot masuk ke dalam gua, mereka kehilangan fungsi hayat, berhubung tidak ada fungsi istri yang tepat. Akibatnya, mereka berpaling kepada perbuatan yang sumbang, perkara yang begitu dosa menggantikan fungsi hayat yang telah hilang. Ini pun merupakan keadaan di antara banyak apa yang disebut organisasi Kristen. Mereka telah kehilangan fungsi Tubuh Kristus, fungsi hayat yang tepat, malahan dengan cara-cara dunia mengisi kekurangan itu. Mereka seperti kelompok Lot, tidak mungkin menghasilkan “Ishak” yang tepat untuk menggenapkan tujuan Allah. Berhubung dengan perbuatan yang sumbang mereka memperoleh keturunan, lalu mereka meng-hasilkan orang-orang “Moab” dan orang-orang “Amon”.

(d) Putri-putri — Anggota-anggota Keluarga

Kita telah melihat pemimpinnya mabuk dan terbius, telah kehilangan fungsi hayat. Tetapi para putri, yakni para anggota kelompok bebas ini masih menginginkan berbuah dan berkembang biak. Mereka tidak memiliki kepemimpinan yang normal ataupun fungsi hayat, namun mereka memilih cara yang salah untuk memperoleh keturunan. Hal tersebut benar-benar terjadi di antara banyak kelompok bebas hari ini. Agar dapat berbuah, kita harus hidup berdasarkan Kristus, memperhidupkan Kristus, berdoa, dan membantu orang-orang menerima firman Allah yang hidup sehingga mereka bisa dilahirkan kembali. Inilah caranya menghasilkan buah yang tepat yaitu “Ishak” untuk menggenapkan tujuan Allah. Tetapi tengoklah situasi hari ini: ada kelompok-kelompok yang menggunakan musik rock, dansa, drama, film-film, dan pertandingan-pertandingan untuk memuaskan keinginan perkembangbiakan mereka. Dalam pandangan Allah inilah perbuatan sumbang rohani. Kelompok-kelompok bebas mengambil cara-cara demikian dikarenakan “istri” duniawinya telah kehilangan fungsinya. Dalam gereja, kita memerlukan fungsi hayat untuk menghasilkan keturunan. Begitu seseorang kehilangan istri yang tepat yang mempunyai fungsi hayat, mereka pasti memakai cara yang buruk dan duniawi untuk mencapai perkembangan. Itulah cara “yang sumbang” yang mendatangkan “orang-orang Moab” dan “orang-orang Amon”.

1) Kehilangan Perasaan Moralitas

Anak-anak perempuan Lot kehilangan perasaan moralitas karena telah terbius oleh arus jahat dunia ini. Bila mereka mempunyai perasaan moralitas, tentu mereka tidak akan timbul pikiran meniduri ayah mereka. Putri sulung meniduri ayahnya tanpa perasaan malu, bahkan mendorong adiknya melakukan hal yang sama. Mereka membicarakan perkara ini satu sama lain dengan tenangnya tanpa merasa salah sedikit pun. Ketika mereka semua masih berada di Sodom, Lot sampai-sampai menawarkan untuk mengorbankan putrinya bagi kepuasan hawa nafsu orang-orang Sodom. Orang yang mempunyai perasaan moralitas rohani yang tepat, bagaima-na mungkin mengusulkan hal semacam itu? Ia seharusnya berkata, “Biarlah mereka membunuh aku dan tamu-tamuku, aku tidak akan mau berbuat demikian terhadap putri perawan-ku.” Di manakah perasaan moralitas Lot? Lot telah terbius. Akibatnya, yaitu anak-anak perempuannya, juga tidak mempunyai perasaan moralitas, bahkan sifat kemanusiaan mereka merosot sampai taraf yang terendah. Beberapa kelompok bebas hari ini telah jatuh terbius oleh arus jahat dunia, sehingga mereka sekadar memperhatikan sukses, tidak segan-segan menggunakan cara apa pun. Mereka perlu firman Allah yang jelas untuk menawarkan racun mereka.

2) Tidak Segan-segan Menggunakan Cara Apa pun untuk Memperoleh Keturunan

Anak-anak perempuan Lot yang terbius tidak segan-segan menggunakan cara apa pun untuk memperoleh keturunan (Kej. 19:31-35). Mereka hanya mempedulikan tujuan saja, tidak mempedulikan caranya. Banyak organisasi Kristen yang demikian. Mereka berkata, “Apa salahnya menginjil dengan cara ini asalkan kita membawa orang-orang kepada Kristus? Kami telah memperoleh banyak orang. Berapa jiwakah yang telah kauselamatkan?” Mereka hanya memperhatikan hal memperoleh jiwa-jiwa, tidak memperhatikan cara yang tepat.

3) Melakukan Perbuatan yang Sumbang

Para putri Lot melakukan perbuatan yang sumbang, yang melanggar prinsip pengaturan yang ditentukan oleh Allah (Kej. 19:36). Di sini kita perlu membaca Matius 7:21-23. Tuhan berkata bahwa ketika Ia datang kembali, ada beberapa orang Kristen yang disebut pekerja akan berkata, “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?” (Mat. 7:22). Kalau mereka tidak melaku-kan semua ini, tentunya mereka tidak dapat berkata demikian. Tuhan tidak menyangkal mereka melakukan perkara-perkara itu. Namun, dalam Matius 7:23 Tuhan mengatakan bahwa Ia akan berterus-terang kepada mereka dan berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” Tuhan berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” Artinya, “Aku tidak pernah berkenan kepada kamu karena kamu adalah pekerja yang tidak benar.” Atlet perlombaan lari haruslah tepat berlari pada jalurnya. Tidak peduli seberapa cepat mereka berlari, tidak boleh tidak mengikuti peraturan yaitu berlari di luar garis-garis batas. Demikian pula kita memerlukan prinsip pengaturan atas aktivitas rohani kita. Masalahnya bukan ber-nubuat, mengusir setan, atau melakukan mukjizat-mukjizat, melainkan kehendak Bapa (Mat. 7:21). Aktivitas rohani kita haruslah melaksanakan kehendak Bapa. Penginjilan kita, mencintai satu sama lain, dan semua apa yang kita lakukan haruslah ada kehendak Bapa. Kapan kala pada lubuk roh kita tidak yakin apa yang kita perbuat adalah kehendak Bapa, janganlah melakukannya. Kalau tidak ada keyakinan dan kita melakukannya, itu adalah melanggar prinsip pengaturan dan membuat persumbangan rohani. Dalam pandangan Allah, dianggap tidak benar. Tuhan tidak pernah berkenan kepada pekerja-pekerja yang tidak benar itu.

(e) Keturunan dari Perbuatan Sumbang

Anak perempuan Lot melahirkan keturunan dari perbu-atan sumbang. Nama kedua putra mereka sangat bermakna. Yang pertama, Moab, artinya “dari ayah” (Kej. 19:37). Ketika putri Lot yang sulung menamai putranya “dari ayah” ia ber-kata, “Aku memperoleh seorang anak dari ayah.” Dia memberi anaknya sebuah nama supaya ia ingat peristiwa ini. Anak perempuan yang kedua melahirkan seorang putra yang dinamai Ben Ami, artinya “Anak sanak keluargaku” (Kej. 19:38). Anak-anak perempuan Lot berpikir, asal mempunyai keturunan bagi keluarganya, maka semuanya baik saja. Apabila mereka tidak mempunyai keturunan, tentu “kelompok bebas” mereka akan berakhir. Situasi hari ini benar-benar sama. Banyak kelompok bebas hanya memperhatikan kelangsungan hidup keluarga mereka, yaitu kelangsungan hidup kelompok mereka. Mereka tidak mengindahkan kehendak Allah, juga tidak mempedulikan cara yang benar, sehingga melalui aktivitas yang sumbang melahirkan keturunan.

Keturunan yang dihasilkan oleh perbuatan sumbang ini, melalui perzinaan menyebabkan kerusakan yang besar terhadap umat Allah (Bil. 25:1-5). Ketika umat Allah sedang mengembara di padang belantara, datanglah orang-orang Moab. Mula-mula, mereka mengupahi Bileam, nabi orang kafir, untuk mengutuki umat Allah (Bil. 22:2-7), tetapi Allah mengubah kutukan itu menjadi pemberkatan (Bil. 23:11, 24:10). Kemudian, Bileam menganjuri orang-orang Moab untuk menyesatkan orang-orang Israel kepada penyembahan berhala dan kelakuan perzinaan (Bil. 31:16). Penyembahan berhala selamanya mendatangkan perzinaan; karena kedua “saudara perempuan” yang jahat ini selalu berdampingan. Dalam kekristenan hari ini terdapat pengajaran Bileam yang tercantum dalam Wahyu 2:14. Tuhan memberi tahu gereja di Pergamus, gereja Tuhan yang jatuh dan duniawi bahwa ada beberapa orang di antara mereka yang menganut ajaran-ajaran Bileam, yaitu ajaran-ajaran yang merugikan umat Allah melalui penyembahan berhala dan perzinaan.

Allah menghukum bangsa Israel dengan berat atas penyembahan berhala dan perzinaan mereka bersama orang-orang Moab, dan memberi tahu Musa, “Tangkaplah semua orang yang mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka di hadapan TUHAN di tempat terang, supaya murka TUHAN yang menyala-nyala itu surut daripada Israel” (Bil. 25:4). Tidak saja demikian, Allah juga menolak orang-orang Moab dan orang-orang Amon dengan kebencian kudus dan ilahi, dan memerintahkan bangsa Israel untuk tidak mengikhtiarkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka sampai selama-lamanya, serta mengumumkan, “Seorang Amon atau seorang Moab janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan keturunannya yang kesepuluh pun tidak boleh masuk jemaah TUHAN sampai selama-lamanya” (Ul. 23:3-6). Segala sesuatu yang berkaitan dengan orang Moab dan orang Amon ada di bawah kutukan Allah, dan orang Israel dilarang mengikhtiarkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka.

Dalam Kejadian 16—21 terdapat tiga macam kelahiran: kelahiran Ismael, kelahiran Moab dan Ben Ami, serta kelahiran Ishak. Kelahiran Ismael ialah dari kekuatan daging dan kelahiran Amon dan Ben Ami dari perbuatan sumbang. Tetapi kelahiran Ishak dari anugerah Allah. Ismael dilahirkan dari ikhtiar daging, sebab itu ditolak oleh Allah. Moab dan Ben Ami dilahirkan dari perbuatan sumbang merupakan sesuatu yang memalukan dalam sejarah. Hanya Ishaklah dilahirkan dari anugerah Allah, dipakai untuk merampungkan tujuan Allah. Kita semua harus memeriksa diri kita, keturunan macam apakah yang kita lahirkan — Ismael, Moab, atau Ishak. Boleh jadi kita mempunyai sejumlah perkembangan dan buah; apakah itu Ismael, Moab, atau Ishak?

(f) Belas Kasihan Allah yang Dalam dan Tidak Terduga

Walaupun orang-orang Moab ditolak oleh Allah sampai sepuluh turunannya, namun atas Rut kita nampak belas kasihan Allah yang dalam dan tidak terduga (Rut. 1:2, 4-5, 8, 15-19, 22, 4:13, 17). Elimelekh suami Naomi, membawa keluarganya dari Yehuda untuk mencari kesejahteraan dan kebahagiaan bangsa Moab. Setelah Elimelekh meninggal, dua anak laki-lakinya “memperistri perempuan Moab” (Rut 1:4). Sesaat dua putranya itu meninggal, maka tinggallah Naomi berikut dua menantu perempuannya di Moab. Ketika Naomi berangkat pulang ke Yehuda, Rut menolak berpisah dengannya, katanya, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (Rut 1:16). Berhubung mencari Allah dengan mutlak, Rut seorang janda Moab ma-suk ke dalam jemaah kudus umat Allah, diperistri Boas dan menjadi buyut Raja Daud. Akhirnya, tidak saja masuk ke dalam jemaah kudus umat Allah, ia pun termasuk dalam silsilah Tuhan Yesus Kristus, menjadi moyang Tuhan Yesus dan memiliki bagian dalam inkarnasi-Nya (Mat. 1:1, 5). Inilah belas kasihan Allah yang dalam dan tidak terduga. Belas kasihan Allah menunggu kita mencari Dia dan umat-Nya. Janganlah menetap di Moab — datanglah ke Yehuda. Jemaah Allah dan inkarnasi Kristus berada bersama umat-Nya yang di Yehuda. Kedudukan yang tepat amatlah penting. Anda harus mengubah pendirian dan kedudukan Anda. Seandainya Anda mau berada dalam jemaah yang kudus dan mengambil bagian dalam inkarnasi Kristus, Anda harus keluar dari Moab dan bersama umat Allah di Yehuda.

Lot, seorang umat Allah, bersama dengan keluarganya telah meninggalkan saksi Allah dan kesaksian-Nya. Hasilnya hidupnya melahirkan bangsa Moab dan bangsa Amon. Rut, seorang janda Moab yang mencari Allah, datang kepada umat Allah dan kesaksian Allah. Hasilnya, hidupnya melahirkan Kristus. Belas kasihan Allah yang alangkah ajaib, selalu tersedia bagi orang yang mencari-Nya! Bahkan seorang keturunan Moab, orang yang dilahirkan dari perbuatan sumbang, melalui penebusan bisa mengambil bagian dalam inkarnasi Kristus.