HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH KELEMAHAN YANG TERSEMBUNYI DAN DOA SYAFAAT YANG MEMALUKAN
Alkitab itu sebuah buku yang jujur. Setelah Kejadian 18 dan 19 mencatat pengalaman Abraham terhadap Allah mencapai puncak tertinggi, selanjutnya dalam Kejadian 20 mencatat kelemahannya. Dapatkah Anda percaya, setelah bersekutu intim dengan Allah dan setelah berdoa syafaat yang begitu mulia, Abraham bisa mempunyai pengalaman yang tercatat dalam pasal 20? Sungguh sulit dipercayai dan susah dimengerti, Abraham bisa mempuyai penampilan yang demikian lemah. Sekali lagi kita nampak bahwa Alkitab bukan ditulis oleh manusia. Bila Alkitab ditulis oleh manusia, tentunya penulis tidak akan mencantumkan catatan kelemahan dan ke-kurangan Abraham. Tetapi Alkitab itu sungguh jujur, sehingga Kejadian 20 pun merupakan sebagian dari catatan ilahi.
(6) Kelemahan yang Tersembunyi dan Doa Syafaat yang Memalukan
Ketika saya masih muda, saya suka membaca pasal 18, 21-22 dan 24, tetapi tidak suka membaca pasal 20. Dalam pasal ini tercatat dua hal penting: kelemahan yang tersembunyi dan doa syafaat yang memalukan. Abraham, seorang milik Allah mempunyai kelemahan yang tersembunyi dalam hatinya yang terdalam. Meskipun dalam pasal 18 ia mempunyai doa syafaat yang begitu mulia, namun dalam pasal 20 kita nampak doa syafaatnya yang memalukan.
(a) Kelemahan yang Tersembunyi
1) Pergi Menuju Selatan
Terlebih dulu kita lihat kelemahan Abraham yang ter-sembunyi (Kej. 20:1-16). Dalam ayat 1 kita tahu Abraham “berangkat dari sana menuju ke Selatan”. Abraham pergi menuju ke Selatan berarti ia telah meninggalkan kedudukan bersekutu dengan Allah di dekat pohon tarbantin di Mamre Hebron. Ia seharusnya menetap di Hebron, karena di sana ia dapat bersekutu intim dengan Allah. Tidak ada yang lebih indah daripada ini. Tetapi tidak berselang lama setelah bersekutu intim dengan Allah, ia meninggalkan Hebron dan pergi menuju ke Selatan. Di antara waktu Tuhan berbicara kepada Abraham mengenai kelahiran Ishak dalam 17:21 dan 18:24 dengan waktu kelahiran Ishak dalam pasal 21, tidak lebih dari satu tahun. Mengapa Abraham tiba-tiba meninggalkan Hebron dan menuju ke Selatan dalam setahun ini? Dalam lambang, Selatan menunjukkan mudah, nyaman, dan Utara menunjukkan susah menderita. Selatan itu hangat dan Utara dingin, tetapi Allah justru tinggal di Utara (Mzm. 48:3; 75:7-8; Yeh. 1:4). Walaupun di Utara kita susah tetapi ada penyertaan Allah; di Selatan kita nyaman, tetapi tidak ada penyertaan Allah. Dalam Kejadian 20 Allah tidak menyuruh Abraham pergi ke Selatan. Jadi Abraham bertindak berdasarkan dirinya sendiri.
Mungkin Abraham ingin mengadakan suatu pergantian suasana atau ingin pergi berlibur. Walaupun Anda menikmati hidup gereja di Anaheim, tetapi pada suatu hari mungkin Anda merasa perlu ada selingan dan ingin bepergian menuju ke Selatan, ke Kota Mexico. Hidup gereja sangat indah dan kita semua sangat menikmatinya. Tetapi ada beberapa orang yang mungkin merasa sedikit bosan dan ingin bertamasya ke Las Vegas (sebuah kota judi yang terkenal di Amerika. Red.). Bila Anda pergi ke Las Vegas dan bertemu dengan seseorang di sana yang menanyakan apa yang Anda kerjakan di rumah, Anda akan sangat sulit menjawabnya dengan jujur. Dua kali Abraham menghadapi situasi semacam itu, ia tidak jujur (bandingkan Kej. 12:9-12). Dalam pasal 12 Abraham menuju ke Selatan sebab tempat di mana Abraham tinggal itu tertimpa bala kelaparan. Kelaparan memberinya alasan untuk pergi ke Selatan yaitu Mesir. Tetapi dalam pasal ini Abraham tidak beralasan. Ia dan istrinya mungkin telah bosan dan ingin berlibur. Seandainya mereka tetap tinggal di dekat pohon tarbantin di Mamre Hebron, Abraham tentu tidak perlu berbohong. Ia berbohong disebabkan posisinya yang keliru. Dengan ini kita nampak kedudukan yang tepat sangatlah penting. Saya tidak percaya ada saudara, siapa pun, dapat berdoabaca atau memberi kesaksian yang hidup dalam sebuah kasino di Las Vegas. Ia tidak mempunyai kedudukan untuk melakukan hal itu. Untuk dapat melakukan sesuatu bagi Allah, kita harus mempunyai kedudukan yang tepat. Ketika Abraham meninggalkan kedudukan bersekutu intim dengan Allah dan pergi ke Selatan, ia kehilangan penyertaan Allah. Alkitab tidak mengatakan di Selatan Allah menampakkan diri kepada Abraham atau Abraham mendirikan mezbah dan me-nyeru nama Tuhan. Ia sama sekali kehilangan kedudukan yang tepat di mana ia dapat bersekutu dengan Allah. Anak-anak muda, kalian harus nampak kalian perlu berada dalam kedudukan yang benar. Bila Anda tinggal di dalam gereja, An-da akan terpelihara dan terlindung, tetapi bila Anda pergi ke Selatan, Anda akan meninggalkan kedudukan yang tepat itu, kehilangan penyertaan Allah. Dengan sendirinya manusia lama Anda akan muncul kembali.
Sebelum pasal 20, Abraham telah disunat. Dalam pasal 20, ia seharusnya adalah orang yang telah disunat, bukan orang yang alamiah lagi, karena ia benar-benar telah ditanggulangi oleh Allah. Beberapa orang Kristen menyatakan bahwa begitu sekali mereka mengalami suatu berkat, tidak mungkin lagi berada dalam daging. Tetapi lihatlah contoh Abraham. Sekalipun ia telah mengalami sunat baik secara jasmani maupun rohani, ketika ia meninggalkan kedudukan yang tepat untuk bersekutu dengan Allah, ia kembali ke dalam daging. Setelah mencapai puncak begitu tinggi dalam mengalami Allah, Abraham, bapak iman itu, berkelakuan sama seperti yang tercatat 20 tahun lebih yang lalu dalam Kejadian 12. Dengan ini kita nampak asalkan kita masih di dalam ciptaan lama, kita dapat melakukan segala sesuatu dalam daging. Bila kita tidak tetap tinggal di dalam persekutuan dengan Allah, kita dapat melakukan perkara yang sama seperti yang dilakukan oleh orang dunia. Jangan berkata bahwa karena Anda telah dilahirkan kembali, telah mengalami baptisan Roh, atau telah mengalami apa yang disebut berkat yang kedua, maka Anda tidak akan kembali ke dalam daging. Tidak peduli berapa banyaknya berkat yang Anda terima dari Allah, bila Anda tidak tetap tinggal di dalam persekutuan dengan-Nya, Anda ada kemungkinan kembali ke dalam daging. Pengalaman Anda membuktikan hal ini memang benar.
Janganlah kita menaruh sedikit kepercayaan pun pada diri kita. Ego (diri) kita sama sekali tidak dapat diandalkan. Kita harus bersandar penyertaan Tuhan dan berkata, “Tuhan, bila Engkau menarik kembali penyertaan-Mu, aku tidak lain hanyalah seekor anjing. Tetapi aku memuji-Mu karena di dalam penyertaan-Mu, aku adalah seorang saleh, seorang umat Allah.” Betapa pentingnya penyertaan Allah bagi kita! Pada pasal 18, ketika Abraham mengantarkan Allah, ia seorang saleh yang begitu elok, seorang yang dapat berdiri di depan Allah dan berbicara berhadapan dengan-Nya bagaikan teman akrab. Tetapi dalam pasal 20, orang yang begitu ajaib itu menjadi sangat hina. Setelah ia meninggalkan kedudukan bersekutu dengan Allah, ia dapat berbohong dan mengorbankan istrinya. Seolah-olah tidak dapat dipercaya, tetapi ia telah melakukannya. Jika kita melihat pengalaman kita yang lalu, kita akan tahu paling sedikit beberapa kali kita pun berbuat demikian. Hal ini menunjukkan kepada kita alangkah pentingnya menetap dalam penyertaan Allah. Perlindungan kita bukan diri kita sendiri, melainkan penyertaan-Nya.
2) Mengulangi Kegagalan yang Lampau
Setelah Abraham meninggalkan penyertaan Allah dan pergi menuju Selatan, ia mengulangi kegagalan yang lampau, yaitu berbohong dan mengorbankan istrinya (20:2; bandingkan 12:11-13). Berbohong adalah satu perkara, dan mengorbankan istri adalah satu perkara yang lain lagi. Walau banyak sauara mungkin berbohong, tetapi mungkin tidak seorang pun mau mengorbankan istrinya. Namun Abraham telah melakukannya. Saya mengagumi Sara. Ia sungguh-sungguh adalah seorang istri yang baik. Ia tidak menggerutu, tetapi hanya menurut saja dusta suaminya.
3) Tersingkapnya Kelemahan yang Tersembunyi
Dalam Kejadian 20:8-13 kita melihat kelemahan Abraham yang tersembunyi itu tersingkapkan. Abraham bukan berbohong secara kebetulan, sejak hari pertama ia mulai mengikuti jalan Allah, ia telah merencanakannya. Abraham memberi tahu Abimelekh, “Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada istriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku” (ayat 13). Bahkan setelah Abraham disunat, kelemahan yang tersembunyi ini masih ada di dalamnya. Pada hari ini dalam prinsipnya, sebagian besar dari kita sama dengan Abraham. Di satu pihak, kita di dalam gereja mengikuti Tuhan; di pihak lain, kita masih menyimpan sesuatu. Andaikata terjadi sesuatu, kita pun memakai rencana yang telah kita tentukan sebelumnya untuk menghadapinya. Apakah Anda bermaksud mutlak terhadap Tuhan? Bila mutlak, tanyalah kepada-Nya, apakah Anda masih menyimpan sesuatu. Sekalipun Anda mungkin tidak percaya bahwa Anda menyimpan sesuatu, ketika Anda berlibur, meninggalkan hidup gereja, hal itu akan tersingkapkan. Banyak saudari muda yang mengikuti Tuhan di dalam gereja mempunyai suatu “simpanan” di dalam diri mereka. Mereka berkata kepada diri sendiri, “Mungkin pada suatu hari akan terjadi sesuatu hal. Bila hal itu terjadi, aku tahu bagaimana menghadapinya.” Inilah “simpanan” yang direncana sejak pertama kali mengikuti Tuhan. Memang benar, dalam hidup gereja kita hidup oleh iman. Tetapi bagaimanakah pada waktu iman kita gagal? Kita menggunakan sesuatu yang kita simpan. Mungkin tidak lama lagi kelemahan Anda akan tersingkapkan. Ini membuktikan sekalipun Anda sudah mengumumkan “mutlak terhadap Tuhan”, tetapi masih belum seratus persen mutlak.
Saya percaya tujuan catatan dalam pasal 20 ini adalah menunjukkan kepada kita, lambat laun kelemahan kita yang tersembunyi itu akan tersingkapkan. Alkitab berbeda dengan buku duniawi mana pun, karena Alkitab mencatat dengan jujur dan sungguh-sungguh segala sesuatu yang menyangkut orang-orang yang menuntut Allah. Tetapi tidak peduli seberapa banyak kita menuntut Allah, kita masih mempunyai sesuatu yang disimpan. Saya takut dan gentar mungkin di dalam diri saya masih terdapat simpanan yang tersembunyi yang pada suatu hari akan terbongkar.
4) Dilindungi oleh Pemeliharaan Allah yang Berdaulat
Dalam Alkitab, dalam perlambangan, Abraham mewa-kili iman dan Sara mewakili anugerah. Dengan kata lain, dalam penyertaan Allah, seorang laki-laki selalu mewakili iman dan istri selalu mewakili anugerah Allah. Abraham ialah bapa iman, dan hidupnya adalah hidup oleh iman. Karena Sara merupakan perlambangan anugerah Allah, maka Ishak dilahirkan dari dia, ini berarti Ishak dilahirkan dari anugerah. Sebaliknya Ismael dilahirkan dari Hagar, dari hukum Taurat, dari perbudakan. Dalam perlambangan, apabila iman gagal, anugerah akan terusak. Hal ini berarti pada waktu di pihak kita iman gagal, di pihak Tuhan anugerah juga dirugikan. Setiap kali Abraham gagal, Sara dirugikan dan ketika Sara dirugikan berarti anugerah dirugikan.
Tidak hanya demikian, anugerah dan kesaksian juga selalu berjalan seiring. Kapan kala kita mempunyai anugerah, waktu itu juga kita mempunyai kesaksian. Ketika Abraham berbohong, waktu itu juga ia tidak menikmati anugerah, dan hilanglah kesaksiannya. Bilamana iman gagal, anugerah dirugikan, maka kesaksian anugerah juga hilang.
Allah datang menyelamatkan Sara dan memulihkannya. Dalam perlambangan, ini berarti Allah datang memperhatikan anugerah dan kesaksian-Nya. Allah tahu bagaimana dengan kedaulatan-Nya melindungi anugerah dan kesaksian-Nya. Kita tidak tahu berapa kali kita dalam bahaya merusak anugerah dan kehilangan kesaksian, sebab kita telah meninggalkan kedudukan yang tepat. Tetapi pada saat-saat yang menentukan, Allah datang membereskan keadaan itu sehingga kesaksian anugerah-Nya itu dapat terlindung. Jika Abraham jelas akan hal ini, ia tentunya tidak akan berbohong. Ia akan percaya Allah sendiri akan memperhatikan anu-gerah dan kesaksian-Nya.
Walau iman Abraham gagal, Allah tetap dengan kedaulatan-Nya melindungi dan memperhatikannya (ayat 3-7, 14-16). Karena pengalaman Abraham telah tidak normal, Allah tidak menampakkan diri kepadanya. Dalam pasal 18 dan 19, Allah menampakkan diri kepada Abraham tetapi tidak kepada Lot. Dalam pasal 20, Ia tidak menampakkan diri kepada Abraham, melainkan kepada Abimelekh dalam suatu mimpi (ayat 3). Ini berarti kedudukan Abraham dalam pasal 20 hampir sama dengan kedudukan Lot dalam pasal 19. Sebab itu Allah menampakkan diri kepada Abimelekh, seorang raja kafir, memberi tahu dia bahwa orang yang berbohong kepadanya adalah nabi Allah. Abimelekh tercengang mendengar salah satu nabi Allah berbohong kepadanya dan mengorbankan istrinya. Dalam pasal ini kita nampak hikmat, kedaulatan, keadilan, dan perhatian Allah. Allah meninggalkan Abraham, seorang pembohong; Allah berbicara kepada Abimelekh, seorang yang dibohongi serta berfirman, “Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami” (ayat 3). Abimelekh sangat terkejut. Kemudian Allah memberi tahu Abimelekh bahwa ia harus mengembalikan istri Abraham dan Abraham akan berdoa untuknya (Kej. 20:7). Allah tidak menggerakkan Abraham untuk berdoa bagi Abimelekh, sebaliknya Ia menunjukkan kepada Abimelekh bahwa Abraham adalah seorang nabi yang mempunyai kedudukan mendoakan raja dan keluarganya. Allah berbuat demikian dan tidak mencela Abraham.
Meskipun Abraham berada di luar penyertaan Allah, Allah tetap melindungi kesaksian-Nya dan memberi Abraham banyak kekayaan (ayat 14-16). Ketika Abraham mengalahkan Kedorlaomer serta raja-raja yang lain dan menyelamatkan Lot, ia menolak menerima sesuatu dari Raja Sodom karena ia mempunyai Allah yang Mahatinggi (14:21-24). Tetapi ketika Abimelekh memberi Abraham domba, lembu, budak-budak, dan perak, Abraham tidak berani mengatakan, “Aku tidak perlu bantuanmu. Aku mempunyai Allah yang Mahatinggi.” Ia tidak memiliki kedudukan untuk mengatakan semuanya ini dan mulutnya telah tersumbat. Saya tidak percaya Abraham berterima kasih kepada Abimelekh karena hadiah-hadiahnya dan merasa gembira menerima semuanya itu. Ketika ia menerima hadiah-hadiah dari Abimelekh di hadapan Sara, ia tentunya malu. Allah dengan hikmat dan kedaulatan-Nya mengembalikan Sara, memperhatikan anugerah dan kesaksian-Nya serta pada waktu yang sama ia mendisiplin Abraham.
(b) Doa Syafaat yang Memalukan
Setelah menerima hadiah-hadiah dari Abimelekh, Abraham berdoa baginya (ayat 17-18). Abimelekh perlu doa syafaat Abraham karena Tuhan telah menutup semua rahim wanita dalam rumah Abimelekh. Apakah Anda dapat membayangkan dalam keadaan yang begitu memalukan ia masih dapat berdoa bagi orang lain? Mungkin Abimelekh berkata kepada Abraham, “Mengapa kamu seorang nabi Allah berbohong kepadaku? Lihatlah akibatnya! Nah, sekarang semua telah beres dan aku pun telah mengembalikan istrimu, aku minta kamu berdoa bagiku.” Sering kali setelah kita mengecewakan Allah, sekalipun tidak ada orang yang mengetahui kegagalan kita, selama beberapa hari kita tidak dapat berdoa. Alangkah lebih sulitnya bagi Abraham untuk berdoa di depan Abimelekh! Tetapi bagaimanapun, Abraham berdoa baginya dan “Allah menyembuhkan Abimelekh dan istrinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak” (ayat 17).
Untuk berdoa syafaat bagi Abimelekh, Abraham harus mengatasi dua hal: mengingat kembali kegagalannya di hadapan Abimelekh dan memikirkan kemandulan istrinya sendiri. Ia harus melupakan kegagalannya di hadapan Abimelekh dan tidak memikirkan kemandulan istrinya. Seandainya saya adalah Abraham, saya akan berkata, “Aku minta maaf Abimelekh, aku telah mengecewakan Allah dan sekarang aku tidak mempunyai iman untuk berdoa bagimu.” Kita semua harus belajar berdoa syafaat bagi orang lain tidak tergantung pada kesuksesan kita, melainkan tergantung pada keperluan. Asalkan Allah menunjukkan suatu keperluan kepada kita, kita harus berdoa syafaat bagi hal itu. Mungkin Abraham berkata kepada Tuhan, “Aku telah gagal, berbohong kepada Abimelekh dan ia mencela aku. Bagaimana aku dapat berdoa syafaat baginya?” Ketika kita berdoa syafaat bagi orang lain, kita harus melupakan diri kita, sekeliling kita, keadaan kita, dan berdoa syafaat seolah-olah tidak ada orang lain di bumi selain kita dan Allah. Meskipun kita mengalami kegagalan, kita harus melatih roh kita, dengan berani berdoa.
Meskipun Allah terpaksa meninggalkan Abraham dan pergi kepada Abimelekh, Abraham tetap lebih tinggi daripada Abimelekh. Walaupun ia telah gagal, Abimelekh jauh di ba-wahnya. Alkitab mengatakan bahwa yang lebih rendah selalu diberkati oleh yang lebih tinggi (Ibr. 7:7). Karena Abraham lebih tinggi daripada Abimelekh, ia dapat berdoa syafaat baginya.
Tidak hanya demikian, kita tidak boleh menganggap karena Allah tidak menjawab doa kita untuk keperluan kita sendiri, lalu kita tidak bisa berdoa untuk orang lain. Andaikata saya adalah Abraham, mungkin saya berkata, “Abimelekh, kamu mohon kepadaku berdoa bagimu. Aku telah berdoa bagi istriku selama bertahun-tahun, tetapi tidak mendapat satu pun jawaban. Karena itu, aku tidak yakin Allah akan menja-wab doaku bagimu dan aku tidak berani berdoa bagimu.” Kita perlu melupakan doa-doa kita yang tidak ada jawabannya dan berdoa bagi orang lain. Jika kita tidak mau berdoa bagi orang lain, mungkin Allah tidak mau menjawab doa-doa kita untuk keperluan kita sendiri. Janganlah mengatakan oleh karena keperluan Anda sendiri belum terpenuhi, maka Anda tidak dapat berdoa bagi orang lain. Ketika Abraham melupakan keperluannya dan berdoa bagi Abimelekh serta keluarganya, tidak saja keperluan mereka terpenuhi, keperluan Abraham sendiri juga terpenuhi. Bila Anda melupakan keperluan Anda dan berdoa bagi keperluan orang lain, Allah akan tidak ha-nya menjawab doa Anda bagi mereka, tetapi juga doa Anda bagi diri Anda sendiri. Ia akan memperhatikan keperluan Anda.
Doa syafaat Abraham bagi Abimelekh adalah doa yang memalukan. Dalam situasi yang begitu memalukan, sulit se-kali bagi seseorang untuk berdoa syafaat. Alkitab tidak mem-beri kita catatan yang lengkap tentang apa doa syafaat bagi Abimelekh seperti mencatat doa syafaatnya bagi Lot. Mungkin roh Abraham kurang berani dan kurang kuat. Bagaimanapun ia berdoa juga bagi Abimelekh, dan doa syafaatnya terjawab. Dengan ini kita nampak meskipun kita mungkin tidak ada keberanian dalam roh kita, asalkan kita berdoa syafaat bagi orang lain seturut petunjuk Allah, tentu doa syafaat kita akan terjawab. Saya dapat bersaksi akan hal ini dari pengalaman saya. Berkali-kali saya dalam kesulitan, saya berdoa bagi kesulitan saya, tetapi saya tidak mendapatkan jawaban. Namun orang yang memiliki kesulitan yang sama datang kepada saya, mohon saya mendoakan mereka. Setelah saya berdoa bagi mereka, Allah tidak saja menjawab doa saya untuk keperluan mereka, tetapi juga doa saya untuk keadaan saya sen-diri.
Kita semua harus belajar tidak berdoa menurut kemenangan diri kita. Setelah kita menang, mudah sekali berdoa, tetapi tidak demikian pada waktu kita gagal. Walaupun saya tidak mendorong siapa pun untuk gagal, saya berkata dengan sungguh-sungguh, kita tidak seharusnya terganggu oleh kegagalan kita. Allah tidak melihat kegagalan kita, tetapi Ia melihat apa adanya kita. Di hadapan Allah kita semua adalah manusia baru. Inilah apa adanya kita, dan kita harus berdoa menurut ini. Selama kita masih dalam ciptaan lama, kita masih mungkin jatuh dan gagal. Tetapi kita dapat melupakan kegagalan kita dalam ciptaan lama ini dan berdiri pada kedudukan ciptaan baru. Ketika Abraham berdiri pada kedudukannya sebagai nabi Allah, ia dapat berdoa bagi Abimelekh.
Kejadian 20 merupakan suatu pasal yang berharga, karena itu kita perlu menggunakan banyak waktu untuk menelaah seluruh butir yang penting yang terkandung di dalamnya antara lain: kelemahan tersembunyi orang yang mencari Allah, bagaimana ia dicela oleh Abimelekh, bagaimana disingkirkan oleh Allah untuk sementara waktu; ia berdoa syafaat bagi Abimelekh dan keluarganya serta bagaimana Allah menjawab doanya. Bila Anda merenungkan pasal ini selama beberapa jam, roh Anda akan dikenyangkan. Pada hari ini ketika saya merenungkan pasal 20 ini, saya menemukan bahwa kita lebih memerlukan pasal ini daripada pasal 18. Meskipun pasal 18 itu indah, tetapi pasal 20 sangat berharga, karena pasal ini mengajar kita beberapa pelajaran yang berharga.
Pasal ini mengajar kita berdoa syafaat bagi orang lain tanpa tergantung pada kondisi kita, tetapi tergantung pada kedudukan kita, tergantung pada apa adanya kita. Kita adalah nabi Allah, ciptaan baru, anggota Tubuh Kristus. Karena dalam hidup gereja kita adalah anggota Tubuh Kristus, ini memberi kita kedudukan untuk berdoa syafaat bagi orang lain. Lupakan lingkungan dan kegagalan Anda. Bila Anda terus mempertahankan perasaan-perasaan Anda, mulut Anda akan tersumbat, Iblis (Satan) akan mengalahkan Anda, sehingga Anda akan tenggelam selama berhari-hari. Ini sangat serius. Kita harus melupakan kegagalan kita dan keperluan kita dan berdiri pada kedudukan yang tepat untuk berdoa syafaat bagi orang lain menurut petunjuk Allah, serta bagi orang lain percaya kepada Allah.
Kita juga harus belajar mengenal diri sendiri. Janganlah mengira bahwa setelah Anda mencapai tingkat setinggi yang tercatat dalam Kejadian 18-19 itu, Anda tidak akan memiliki problem apa pun, lalu kita dapat minta izin berlibur dan meninggalkan persekutuan dengan Allah. Janganlah mengandalkan diri Anda yang usang. Sekalipun ego Anda yang usang telah ditanggulangi oleh Allah, bahkan sudah seluruhnya di sunat, tetap masih tidak dapat dipercayai. Tidak peduli kita merasa atau tidak, dalam jalan kita mengikuti Tuhan, dalam hati kita yang terdalam, masih tersimpan sesuatu. Pada suatu hari, simpanan ini, simpanan alamiah kita yang lemah ini akan tersingkapkan. Janganlah heran ketika hal itu terjadi. Bersiaplah menerima anugerah, melupakan kegagalan Anda serta keperluan Anda dan berdoa syafaat bagi orang lain. Anda adalah anggota Tubuh Kristus, adalah bagian dari manusia baru, adalah seorang saleh dalam pemulihan Tuhan, Anda harus berdiri pada kedudukan ini dan berdoa; meskipun Anda dengan rasa malu berdoa. Doa syafaat Anda mungkin Anda lakukan dalam perasaan malu, tidak ada kemuliaan di dalamnya, tetapi Allah akan tetap menjawabnya. Tidak saja Allah menjawab doa syafaat Anda yang memalukan itu, bahkan Ia akan menjawab doa bagi keperluan Anda sendiri yang belum terjawab sebelumnya. Alangkah ajaibnya hal ini!
Pada waktu Abraham, nabi Allah ini, berbohong kepada orang lain, orang-orang lain menjadi mati. Tetapi ketika ia melupakan kegagalannya di hadapan mereka dan berdoa syafaat bagi mereka, mereka menerima hayat dan ia sendiri pun disegarkan kembali. Demikian pula, bila kita melupakan kegagalan kita dan berdoa syafaat bagi keperluan orang-orang yang di hadapan mereka kita gagal, kita tidak saja akan menyuplai hayat kepada mereka, bahkan menyuplai diri kita sendiri. Kiranya kita semua mendapat pelajaran-pelajaran yang tercantum dalam pasal ini.