HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH KELAHIRAN DAN PERTUMBUHAN ISHAK
Dalam berita-berita yang lalu kita telah melihat hampir sepuluh pasal dari Kitab Kejadian yang menyangkut pengalaman Abraham terhadap Allah. Dalam pasal-pasal tersebut kita melihat Abraham sebagai orang yang Allah panggil, telah melewati banyak pos dan telah berhasil melalui beberapa tahap. Sekarang dalam Kejadian 21, sampailah Abraham pada pos yang mengagumkan dan menakjubkan. Di sini Ishak dilahirkan.
(7) Kelahiran dan Pertumbuhan Ishak
Tujuan panggilan Allah terhadap Abraham adalah untuk melahirkan keturunan. Perihal keturunan ini pertama kali disebutkan dalam Kejadian 12:7 dan diulang beberapa kali dalam pasal-pasal berikutnya. Hampir dalam setiap pasal Allah menyinggung tentang keturunan ini kepada Abraham. Namun mengapa demikian sulit bagi Abraham untuk memiliki keturunan itu? Ia telah dipanggil sewaktu berumur 75 tahun, namun 25 tahun kemudian, ia masih belum memiliki keturunan itu, sekalipun Allah memanggilnya untuk tujuan tersebut. Karena ia menemui kesulitan untuk memperoleh keturunan, maka ia mengangkat Eliezer, yang ditolak oleh Allah. Kemudian, karena mendengar usul istrinya; ia melahir-kan Ismael melalui Hagar. Tetapi, Allah juga menolak Ismael dan berkata bahwa Ia tidak mau keturunan yang berasal dari budak perempuan Mesir, Ia mau yang berasal dari Sara. Seolah-olah Allah berkata kepada Abraham, “Memang kamu telah melahirkan keturunan, tetapi itu berasal dari sumber yang salah. Aku tidak berkenan akan sumber itu. Aku tidak akan berbuat sesuatu pun dengannya. Kamu boleh mengasihi Ismael dan memeliharanya, namun Aku tidak.” Setelah ke-lahiran Ismael, Allah datang untuk memberi tahu Abraham bahwa ia harus disunat. Pada saat itu Allah juga menguatkan dan mengukuhkan janji-Nya terhadap Abraham. Setelah penyunatan tersebut, Abraham memiliki persekutuan yang intim dengan Allah, menikmati pengalaman yang sangat tinggi dengan Allah dibandingkan dengan orang-orang di dalam sejarah sebelum zaman itu.
Tetapi pada waktu pasal 20, ketika keturunan itu belum juga dilahirkan, raksasa iman seperti Abraham pun tidak da-pat tetap tegak di dalam ujian itu. Seperti yang telah kita lihat dalam berita yang lalu, nampaknya ia bosan terhadap pengalamannya akan Allah dan mengambil liburan. Mungkin Abraham berkata kepada Allah, “Ya Allah, Engkau berulang kali berjanji akan memberikan keturunan kepadaku. Untuk ini, Engkau telah menanggulangi aku hingga aku tidak memiliki sesuatu pun. Engkau telah menolak segala sesuatu yang aku kerjakan. Sekarang aku telah bosan dan ingin suatu perubahan. Aku ingin berlibur.” Kemudian Abraham melakukan perjalanan ke arah Selatan yaitu jalan yang menurun. Seperti orang yang mengambil liburan setelah bekerja keras, Abraham mencari kesenangan. Karena hal ini, kembali ia mengulangi kegagalannya yang lampau. Tetapi Allah melindunginya dengan menimbulkan suatu situasi, sehingga ia tidak dapat mempedulikan kegagalannya, keadaan dan lingkungannya, ia harus berdoa syafaat untuk Abimelekh dan seisi rumahnya. Dalam hal ini tidak ada satu perkara pun yang mendorong hatinya. Bahkan raksasa iman ini ketika berdoa bukannya dengan berani atau dengan roh yang bebas, melainkan dengan rasa malu. Akan tetapi, doa syafaatnya ini terjawab. Bukan hanya istri Abimelekh dan hamba-hamba perempuannya saja yang melahirkan anak, bahkan Sara pun melahirkan Ishak. Satu doa syafaat menghasilkan dua jawaban sekaligus. Ketika kita sampai pada Kejadian 21, kita melihat Abraham kembali dari liburannya dan memulihkan pekerjaannya lagi. Dalam pasal 20 ia mencoba mengambil liburan dan meninggalkan pekerjaan ilahinya, tetapi ia tidak berhasil dan Allah memaksanya mengucapkan suatu doa syafaat. Doa syafaat kali itu membawa dia kembali dari liburannya ke jabatan ilahinya. Sekarang, di dalam pasal 21, Abraham kembali ke “kantor”nya.
Kejadian 21 terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, mulai dari ayat 1 sampai ayat 13, seluruhnya diungkapkan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 4:22-31, di sana ia mengiaskan bagian dari kejadian ini. Melalui pengiasan oleh Rasul Paulus ini, orang-orang Kristen setiap zaman yang menuntut bisa memahami kebenaran makna dari bagian pertama Kejadian 21 ini. Saya mengharapkan Paulus juga mengiaskan sisa dari pasal ini, tetapi ternyata ia mendiamkannya. Kebanyakan orang Kristen hanya memperhatikan Kejadian 21:14-34 sebagai suatu cerita tentang berdiamnya Ismael di padang belantara, menjadi seorang pemanah dan tentang perjanjian Abraham dengan Abimelekh mengenai sumur Bersyeba; namun mereka tidak memikirkan bahwa bagian dari firman ini mempunyai banyak makna rohani. Jika bagian pertama dari Kejadian 21 mempunyai makna rohani, maka bagian kedua juga harus mempunyai makna rohani. Di dalam berita ini, kita perlu mengungkapkan makna kedua bagian ini.
(a) Ishak Lahir — Kristus Lahir Melalui Kita
Dalam bagian pertama kita melihat kelahiran Ishak (Kej. 21:1-7). Ishak yang berarti “tertawa” atau “ia akan tertawa” (ayat 3, 6), lahir sesuai dengan janji Allah (Kej. 21:1) pada waktu yang telah ditetapkan, waktu hayat (Kej. 21:2; 17:21; 18:10, 14). Menurut Abraham dan Sara, kelahiran Ishak merupakan suatu perkara yang besar. Apakah makna rohani kelahiran Ishak? Hal ini mudah dimengerti dari kiasan Paulus dalam Galatia 4. Seperti Abraham yang telah dipanggil Allah, kita hari ini juga adalah orang-orang yang dipanggil Allah. Dalam panggilan Allah terhadap kita ada satu tujuan, tujuan yang sama dengan ketika ia memanggil Abraham — melahirkan keturunan. Allah memanggil kita untuk melahirkan Kristus. Jika Anda memperhatikan pengalaman Abraham seperti yang tercatat dalam pasal 11—20, dan membandingkannya dengan pengalaman Anda sendiri, Anda akan merasa heran karena pengalamannya sama dengan pengalaman Anda dan hidupnya merupakan biografi Anda. Biografi kita telah ditulis jauh sebelum kita dilahirkan. Pada zaman atau generasi kapan pun kita berada, kita semua mempunyai biografi yang sama. Seperti Abraham dipanggil untuk melahirkan Ishak, demikian juga kita dipanggil untuk melahirkan Kristus. Kita bukan dipanggil untuk menghasilkan tingkah laku yang baik. Sasaran Allah adalah supaya kita melahirkan Kristus.
Semua kesulitan yang dihadapi Abraham untuk melahirkan Ishak berasal dari pihak Abraham sendiri, bukan dari pihak Ishak. Demikian juga halnya, sebenarnya mudah bagi Kristus untuk datang dan tersalur keluar melalui kita, tetapi kita yang mempunyai banyak problem. Faktanya, diri kita sendiri justru merupakan problem. Kita bukanlah orang yang tepat untuk melahirkan Kristus. Sekalipun kita telah melakukan banyak pekerjaan dan telah berbuat banyak sejak kita diselamatkan, namun sulit bagi kita untuk melahirkan Kristus. Setelah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, saya masih belum mengetahui bagaimana melahirkan Kristus. Bah-kan saya tidak mengerti makna melahirkan Dia. Saya kha-watir banyak di antara kita yang tidak mempunyai pemikiran tentang melahirkan Kristus. Boleh jadi malahan ada yang berkata, “Bukankah Kristus sudah dilahirkan? Mengapa kita harus melahirkan-Nya lagi?” Ya, Kristus memang sudah terlahir, tetapi setiap orang yang beroleh selamat masih harus melahirkan-Nya.
Untuk melahirkan Kristus, kita harus disunat. Hayat dan kekuatan alamiah kita, serta diri kita harus diakhiri. Pengakhiran ini membuka jalan bagi El–Shaddai, Sang serba cukup, masuk ke dalam kita sebagai karunia yang serba cukup untuk melahirkan Kristus. Abraham mengalami hal ini. Dalam Kejadian 21, Abraham mencapai sasarannya dan Ishak dilahirkan, lahir melalui Abraham. Hari ini Kristus, Ishak sejati, perlu kita lahirkan. Baik kehidupan kristiani maupun hidup gereja, semuanya untuk melahirkan Kristus. Kita harus melahirkan Kristus di dalam sidang-sidang kita, di dalam hidup rumah tangga kita, dan di dalam pekerjaan kita.
Kelahiran Ishak bukanlah berdasarkan kekuatan alamiah Abraham atau menurut waktu Abraham, melainkan berdasarkan pekerjaan anugerah Allah dan menurut waktu Allah, waktu hayat yang telah ditetapkan oleh Allah. Abraham diuji oleh hal ini. Kekuatan alamiahnya mendahului Allah, mencoba melahirkan keturunan yang dijanjikan Allah. Menurut kekuatan alamiahnya, ia mempunyai sejangka waktu pengharapan. Tetapi semua yang dihasilkan oleh kekuatan alamiahnya ditolak Allah. Sebelum kekuatan alamiah Abraham ditanggulangi dan diakhiri, Allah tidak akan dan tidak dapat berbuat sesuatu melalui dia untuk melahirkan keturunan yang diinginkan-Nya bagi kegenapan kehendak-Nya. Karena itu Allah harus menunggu. Ketika Allah menunggu, Abraham diuji. Kejadian ini sama halnya dengan kita dalam hal melahirkan Kristus. Kekuatan alamiah kita selalu menyebabkan Allah harus menunggu. Cara Allah dan waktu-Nya selalu merupakan ujian yang berat bagi hayat alamiah kita. Anugerah (kasih karunia) Allah tidak pernah mengerjakan sesuatu untuk menolong hayat alamiah kita melahirkan Kristus. Ia harus menunggu sampai hayat alamiah kita ditanggulangi dan diakhiri. Sesudah itu, menurut waktu-Nya, Ia akan datang sebagai kekuatan anugerah, melalui diri kita melahirkan apa yang ingin dimiliki-Nya. Jika kita ingin menggenapkan tujuan ilahi panggilan Allah, kita semua harus belajar pelajaran dasar ini. Janganlah mencoba menggenapkan kehendak Allah melalui kekuatan alamiah Anda dan menurut waktu yang Anda sendiri harapkan. Allah mempunyai jalan-Nya dan waktu-Nya. Hanya melalui jalan dan waktu-Nya kita dapat melahirkan Kristus untuk menggenapkan tujuan-Nya.
(b) Ishak Bertumbuh Besar — Kristus Terbentuk di Dalam Kita
Setelah lahir, masih perlu bertumbuh besar. Ayat 8 mengatakan, “Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.” Hanya melahirkan Kristus saja belum cukup. Kristus yang telah kita lahirkan ini harus bertumbuh besar. Dalam beberapa tahun ini, banyak di antara kita yang melahirkan Kristus, tetapi saya tidak tahu apakah Kristus ini telah bertumbuh besar, sudahkah disapih? Ishak bertumbuh besar dan telah disapih dari ibunya, berarti ia bukan lagi anak kecil, melainkan telah bertumbuh menjadi laki-laki muda. Pada hari ia disapih, Abraham mengadakan suatu pesta besar. Kita bisa mengerti makna hal ini menurut pengalaman kita. Ketika dalam hidup gereja kita nampak Kristus bertumbuh besar di dalam diri saudara saudari tertentu, kita semua akan gembira dan mempunyai suatu pesta besar, suatu kegembiraan yang amat besar.
Bukan suatu hal yang mudah untuk memiliki kelahiran Ishak maupun pertumbuhannya. Demikian juga, tidak mudah untuk memiliki kelahiran Kristus maupun pertumbuhan-Nya. Dalam hidup gereja kita perlu memiliki baik kelahiran mau-pun pertumbuhan Kristus. Saya berterima kasih kepada Allah karena Kristus sudah lahir di antara kita, tetapi saya ragu-ragu untuk mengatakan bahwa kita telah memiliki banyak pertumbuhan Kristus. Sungguh hal yang menakjubkan bila nampak Kristus telah dilahirkan oleh saudara-saudara muda, tetapi kita masih sedang menunggu untuk melihat pertumbuhan Kristus di dalam mereka. Kita ingin melihat Kristus yang di dalam mereka disapih dan bukan lagi merupakan seorang bayi. Sekalipun Kristus yang di dalam saudara-saudara itu boleh jadi belum bertumbuh menjadi seorang manusia dewasa, namun setidak-tidaknya sebagai seorang anak laki-laki yang kuat, Kristus harus terbentuk bukan saja di dalam kita, tetapi juga di antara kita (Gal. 4:19). Baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hidup gereja kita perlu mengekspresikan Kristus yang terbentuk ini. Barulah kemudian kita akan mempunyai suatu pesta yang besar untuk menikmati anugerah Allah.
(c) Ismael Mengejek Ishak
Menurut Kejadian 21, bukan melahirkan Ishak yang menimbulkan kesulitan, melainkan pertumbuhannya. Ketika Ishak dilahirkan, Hagar dan anaknya, Ismael, tidak begitu menghiraukan. Tetapi setelah Ishak bertumbuh besar, Ismael mulai “mengejek” Ishak (ayat 9 Tl.). Menurut pengertian Alkitab, ini berarti Ismael menganiaya Ishak. Bahkan Allah menganggap penganiayaan Ismael terhadap Ishak ini sebagai permulaan penganiayaan terhadap umat-Nya yang berlangsung selama 400 tahun (Kej. 15:13; Kis. 7:16). Ejekan Ismael ini merupakan perkara serius, sebab Ishak adalah keturunan yang ditentukan Allah, sedangkan Ismael adalah yang tiruan. Yang tiruan selalu membenci yang ditentukan. Kita, keturunan yang ditentukan juga dibenci oleh yang tiruan. Seperti yang dikatakan Paulus dalam Galatia 4:29, “Tetapi sebagaimana dahulu, dia yang dilahirkan seperti biasanya, menganiaya yang dilahirkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini.” Pertumbuhan Ishak menimbulkan aniaya tersebut.
(d) Hagar dan Ismael Diusir
Sara, yang mewakili anugerah, tidak mau menerima ejekan Ismael kepada Ishak dan berkata, ”Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak” (ayat 10). Ketika saya membaca ayat ini semasih muda, saya tidak setuju dengan Sara; saya pikir ia terlalu cemburu dan tidak adil. Bukankah ia yang mengusulkan Abraham agar mempunyai anak melalui Hagar dan sekarang ia menyuruh Abraham supaya mengusir Hagar dan Ismael. Menurut pengertian masa muda saya, saya akan mengusir Sara. Tetapi pada suatu hari, ketika saya memikirkan hal ini, Allah memarahi saya. Hari itu saya membela Hagar dan Ismael serta bersimpati kepada Abraham, karena “hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu” (ayat 11). Sekalipun saya berpikir bahwa Abraham harus menjawab Sara dan mengatainya terlalu kejam, namun ia tidak mengatakan sesuatu pun kepadanya. Nampaknya Allah telah datang dan berkata kepada Abraham, “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak” (ayat 12). Hakim surgawi membuat keputusan terakhir, memberi tahu Abraham untuk melakukan apa yang diminta Sara. Hanya Ishak, bukan Ismael yang dihitung sebagai keturunan. Dalam pasal 20 Abraham telah membuat Allah kecewa, namun dalam pasal 21 dengan cepat ia menaatinya. Ayat 14 mengatakan bahwa pada keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, lalu disuruhnya Hagar dan Ismael pergi.
Kita perlu melihat makna rohani pengusiran Hagar dan Ismael. Seperti semua orang Kristen, sejak hari Anda beroleh selamat, Anda mencoba berbuat baik. Tetapi Allah akan menanggulangi Anda, sering kali Anda didisiplin dan dikerat. Jika Anda adalah seorang saudara yang sudah menikah, tidak dapat disangsikan lagi bahwa Allah menggunakan istri Anda sebagai pisau yang tajam untuk mengerat hayat alamiah Anda. Setiap istri merupakan pisau yang tajam di tangan ilahi Allah. Banyak suami Kristen yang hanya dapat ditanggulangi dan didisiplin secara keseluruhan me-lalui pengeratan pisau istrinya. Tidak seorang suami pun yang bisa melarikan diri darinya. Saya senang bahwa di dalam gereja lokal Allah menggunakan istri sebagai pisau untuk menanggulangi hayat alamiah suaminya. Dengan jalan ini, kita para saudara bisa belajar pelajaran membenci hayat alamiah kita dan semua perkara yang baik yang dapat kita kerjakan.
Kita mungkin membenci hayat alamiah kita dan semua yang dapat kita kerjakan, namun kita tidak membencinya secara mutlak. Dalam lubuk batin kita, kita masih meng-hargai dan berkata, “Ismael yang kuhasilkan ini sangat baik, ia lahir dariku.” Konsepsi semacam inilah yang selalu me-nunda kelahiran Ishak. Hanya setelah melalui penanggulangan demi penanggulangan, dan kegagalan demi kagagalan, akhirnya lahirlah Ishak.
Kristus telah lahir di dalam hayat kekristenan kita, tetapi kita masih memiliki Ismael, ragu-ragu membuang perbuatan baik kita. Banyak di antara kita yang bermegah atas kebaikan alamiah kita dengan mengatakan, “Aku tidak suka menyombongkan diri seperti beberapa saudara dan saudari. Aku berterima kasih kepada Allah karena aku dilahirkan sudah rendah hati.” Saudari-saudari mungkin mengkritik yang lain dengan berkata, “Aku tidak pernah bergunjing seperti saudari anu. Aku tidak dilahirkan demikian.” Bahkan beberapa saudara penatua dan yang disebut pemberita firman tidak dapat menahan diri dari kecongkakan yang berkaitan de-ngan sifat alamiah mereka. Mungkin mereka berkata kepada diri sendiri, “Saudara anu mudah marah. Maka aku bersyukur kepada Allah karena sifat lahiriahku lebih baik daripada dia.” Sekalipun Anda tidak mengutarakannya, namun hal ini telah tersembunyi dalam batin Anda.
Ketika Kristus yang telah dilahirkan di dalam hayat kekristenan kita mulai bertumbuh besar, kebaikan alamiah kita akan mengejeknya. Kemudian anugerah yang ada di dalam kita akan berkata, “Usirlah Taurat! Usirlah hamba perempuan dan apa yang telah dia hasilkan dengannya melalui usaha daging itu.” Maukah Anda melakukan hal ini? Mungkin kelihatannya Anda melakukan hal ini, tetapi secara sembunyi-sembunyi Anda masih memegang erat Hagar dan Ismael, memegang hukum dan tindak-tanduk alamiah Anda, dan kebaikan-kebaikan Anda. Hari ini tidak banyak orang Kristen yang mempunyai keberanian berkata seperti Sara, “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya.” Tidak banyak orang Kristen yang mau mengatakan, “Usirlah Taurat, daya upaya daging, dan semua sukses usahaku.” Namun agaknya kita tetap melekat pada sukses kita dan kebaikan alamiah kita. Tetapi cepat atau lambat Allah akan memaksa kita meninggalkan Taurat, daya upaya kita, dan semua yang telah kita hasilkan. Saudara-saudara dan saudari-saudari akan mulai bangun serta berkata, “Mulai sekarang di sini tidak akan ada lagi Hagar dan Ismael. Mereka harus pergi.” Seperti Abraham, mereka akan menyuruh mereka pergi dengan bekal roti dan air saja (ayat 14). Cepat atau lambat kita harus melakukan hal ini. Pada suatu pagi hari, kita harus bangun memberi sekirbat air pada hukum Taurat dan berkata, “Hukum Taurat, pergilah engkau, dan bawalah yang satu ini, hasil pertolonganmu kepadaku. Janganlah kau tinggalkan dia bersamaku, sebab aku tidak menginginkannya lagi. Dulu aku mengasihi Ismael, tetapi sekarang aku melepaskan-nya.” Hukum Taurat dan hasil daya upaya daging harus mutlak ditinggalkan.
(e) Dua Sumur — Dua Sumber Kehidupan
Dalam bagian pertama pasal ini, kita mempunyai dua benih, dua macam persona dan dua kehidupan. Tanpa bagian kedua, kita tidak dapat mengetahui sumber maupun hasil dari kehidupan mereka. Dalam bagian kedua kita melihat dua sumur, satu untuk Ismael (ayat 14-21) dan satu lagi untuk Ishak (ayat 22-34). Karena Alkitab tidak membuang sedikit perkataan pun, maka catatan tentang dua sumur dari dua macam kehidupan ini sangat berarti dan penuh makna rohaninya.
(1) Sumur bagi Ismael
a) Di Padang Gurun Dekat dengan Mesir
Sumur Ismael, sumber kehidupannya, terletak di padang gurun dekat dengan Mesir (ayat 19-21; 25:12, 18). Dalam Alkitab, padang gurun selalu menyatakan tempat yang ditolak oleh Allah. Allah tidak pernah menyukai padang gurun. Maka selama kita berada di padang gurun, Allah menolak kita. Gambaran yang paling baik untuk hal ini adalah perihal pengembaraan bani Israel di padang gurun. Menurut perlambangan, padang gurun juga menyatakan jiwa kita. Jika kita hidup di dalam jiwa kita, berarti kita tersesat di padang gurun yang ditolak Allah. Padang gurun di mana terletak sumur Ismael lokasinya dekat dengan Mesir. Ia dapat dengan mudah melintasi dari tempatnya menuju ke Mesir. Ini berarti bila kita hidup di dalam jiwa kita, di dalam orang alamiah kita, kita mengembara di padang gurun dan dengan mudah terhanyut ke dalam keduniawian.
b) Menjadikan Ismael seorang Pemanah
Sumber kehidupan Ismael menjadikannya seorang pemanah (ayat 20). Perbedaan antara seorang pemanah dan seorang petani yaitu: seorang petani menumbuhkan hayat sedang seorang pemanah membunuh hayat. Seorang pemanah adalah seorang pemburu yang kejam seperti juga Nimrod dalam Kejadian 10:8-12, seorang pembunuh di padang gurun. Bahkan bagian dari firman ini menggunakan perkataan “Jarak sepemanah” menggambarkan jarak antara tempat di mana Hagar duduk dan tempat di mana ia membuang anaknya (ayat 15-16). Jadi dalam bagian perkataan ini mewahyukan, jika kita tinggal di padang gurun jiwa kita dan minum air dari sumur Ismael, sumber kehidupannya, kita akan menjadi pemanah yang menggunakan panah pembunuh hayat untuk membangun kerajaan kita sendiri, bukannya menjadi petani yang menumbuhkan hayat untuk membangun Kerajaan Allah.
c) Membuatnya Bersatu dengan Mesir
Sumber kehidupan Ismael bahkan membuatnya bersatu dengan Mesir, yaitu jatuh ke dunia (ayat 21). Hagar berasal dari Mesir; dari sumbernya sendiri ia mengambil seorang istri bagi Ismael. Sebagai orang Mesir, ia menginginkan seorang perempuan Mesir sebagai menantunya. Dengan mengambil seorang istri bagi Ismael dari tanah Mesir, Hagar mengikatnya dengan perkara-perkara Mesir. Dari semuanya ini kita melihat adanya sebuah sumur, sumber kehidupan yang dapat menjadikan kita seorang pemburu yang buas yang membunuh hayat, dan dapat membuat kita bersatu dengan dunia.
2) Sumur Ishak
Puji Tuhan karena ada sumur yang lain — sumur bagi Ishak (Kej. 21:22-34). Banyak ayat dalam Alkitab yang membicarakan sumur positif ini. Mazmur 36:9 mengatakan, “Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu.” Tuhan senang memberi kita minum dari sungai kesenangan-Nya. Dalam Yohanes 4:14 Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepada-nya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.” Ini berarti bahwa diri Allah menjadi hayat kita. Dalam Yohanes 7:37-38 Tuhan Yesus berbicara tentang minum, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Selanjutnya, dalam 1 Korintus 12:13, Rasul Paulus mengatakan bahwa kita semua diberi minum dari satu Roh, yaitu dari satu sumur. Bahkan pasal terakhir dalam Alkitab juga menulis tentang minum, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, ‘Marilah!’ Siapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata, ‘Marilah!’ Siapa yang haus, hendaklah ia datang, dan siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Why. 22:17). Sumur ilahi ini harus menjadi sumber dalam kehidupan kita.
Sekalipun Kristus telah lahir dan bertumbuh besar, dalam hidup gereja kita masih harus tahu adanya dua sumber atau dua jenis kehidupan yang berbeda. Jenis kehidupan yang manakah yang Anda miliki — kehidupan Ismael atau kehidupan Ishak? Masih belum cukup hanya dengan mengatakan Anda memiliki kehidupan Ishak. Anda harus menguji jenis air yang manakah yang Anda minum tiap hari. Apakah Anda minum dari sumur Ismael? Jika demikian, sumur itu akan membuat Anda melangkah ke dunia. Ataukah Anda minum dari sumur Ishak, sumur yang melambangkan sumur ilahi, sumur Kristus, sumur Roh? Jika Anda minum dari sumur ini, air ilahi yang mengalir dari dalamnya akan menggenapkan perkara yang besar.
a) Di Bersyeba, Berdekatan dengan Tanah Filistin
Sumur Ishak terletak di Bersyeba, berdekatan dengan tanah Filistin (Kej. 21:25-32). Sumur ini, tidak seperti sumur Ismael, tidak dekat dengan Mesir, melainkan berbatasan dengan tanah Filistin dan tanah indah Kanaan. Bersyeba terletak di tanah Filistin yang akhirnya menjadi bagian paling Selatan tanah yang kudus. Ketika menggambarkan peta dari tanah yang kudus, Alkitab malah menggunakan ungkapan “dari Dan sampai Bersyeba” (1 Sam. 3:20), sebab jarak dari Dan yang di Utara sampai Bersyeba yang di Selatan seluruhnya termasuk dalam tanah Kanaan. Dalam Alkitab, Filistin mempunyai makna yang istimewa. Tempat ini bukanlah tempat yang secara mutlak menolak Allah; tempat ini menerima Allah, tetapi menangani perkara-perkara Allah menurut kepandaian manusia, tidak menurut ekonomi (pengelolaan) Allah. Perhatikan sebuah gambaran tentang bagaimana orang Filistin menangani tabut (1 Sam. 6:1-9). Mereka tidak menolaknya, mereka menerima, tetapi mereka menanganinya dengan cara alamiah kepandaian mereka. Demikian juga dalam Kejadian 20 dan 21, kita melihat Abimelekh, raja Filistin, ia tidak menolak Allah, melainkan menerimanya dalam kepandaiannya sendiri. Abraham menerima Allah menurut ekonomi-Nya; sedang Abimelekh menerimanya menurut kepandaian manusia. Inilah makna negeri Filistin.
b) Dengan Kurban Tujuh Ekor Anak Domba Betina — Kristus Menggenapkan Penebusan
Sumur Ishak merupakan sumur yang ditebus (Kej. 21:28-30). Sumur yang digali oleh Abraham ini pernah hilang, dirampas dengan kekerasan oleh hamba-hamba Abimelekh (Kej. 21:25). Kemudian Abraham menebusnya dengan tujuh ekor anak domba betina. Dalam perlambangan, domba-domba ini melambangkan kegenapan penebusan Kristus, menyatakan air hidup ilahi telah ditebus, dibeli kembali melalui kegenapan penebusan Kristus. Hari ini, seluruh bangsa hidup oleh sumber yang tidak ditebus; kita hidup oleh sumber yang telah ditebus. Air hidup yang kita minum hari ini bukanlah yang alamiah, melainkan yang ditebus dengan harga penebusan Kristus yang sempurna.
c) Berdasarkan Suatu Perjanjian — Perjanjian Baru
Sumur Ishak juga memerlukan suatu perjanjian (Kej. 21:31-32). Perjanjian ini merupakan benih Perjanjian Baru. Air hidup kita hari ini bukan saja air yang telah ditebus, tetapi juga air yang dijanjikan. Ismael minum air liar, air tanpa tebusan dan tanpa perjanjian. Tetapi semua air yang dimi-num Ishak adalah air yang ditebus, air perjanjian. Karena kita mengenal Kristus, maka sumber kehidupan kita juga adalah air yang telah ditebus dan air perjanjian.
d) Untuk Pertanian
Di Bersyeba, Abraham juga menanam sebatang pohon tamariska (Kej. 21:33). Pohon tamariska adalah sejenis pohon “willow”, yang daunnya sangat indah, sering tumbuh dekat air, dan memberi kesan akan aliran kelimpahan hayat. Setelah membuat perjanjian atas sumur di Bersyeba, Abraham menanam sebatang pohon tamariska, yang menyatakan air yang diminumnya mengalir dengan limpah. Tuhan Yesus berkata, siapa percaya kepada-Nya dari dalamnya akan mengalir aliran-aliran air hidup.
Hidup gereja hari ini adalah sumur yang di Bersyeba. Ketika Anda minum dari sumur ini dan hidup olehnya, maka Anda akan seperti pohon tamariska yang penuh dengan kelimpahan hayat. Begitu orang-orang datang kepada Anda, mereka tidak akan merasakan kekeringan, tetapi disegarkan oleh air hayat. Bersyeba yang berarti “sumur sumpah”, adalah tempat di mana gereja berada. Gereja harus berada di tempat sumur sumpah, juga penuh dengan pohon tamariska. Kita semua perlu menjadi tamariska yang mengalirkan hayat. Jika Anda memandang cabang-cabang pohon tamariska, teringatlah Anda akan aliran kelimpahan hayat. Puji Tuhan, dalam gereja-gereja lokal ada pohon-pohon tamariska sejati!
Di sini, di Bersyeba, ada tanaman, sedang pada Ismael, di padang gurun ada semak belukar yang liar. Banyak kelompok kekristenan hari ini seperti padang gurun. Mereka membuat orang-orang menjadi liar. Tetapi hidup gereja yang nor-mal membuat orang-orang menjadi tanaman. Sudahkah Anda ditanam? Ketika Anda telah ditanam, Anda takkan liar lagi.
Bagian firman ini dengan jelas mewahyukan adanya dua sumber kehidupan. Yang satu adalah sumber alamiah di padang gurun jiwa kita, sedang yang lainnya adalah sumber yang telah ditebus di taman roh kita. Di Bersyeba, Abraham memperjuangkan sumur ilahi sehingga kita bisa memiliki baik kehidupan kekristenan maupun hidup gereja yang normal.
e) Menyeru Nama Yehova, Sang Mahakuasa yang Kekal
Kejadian 21:33 mengatakan kepada kita bahwa Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, selain itu juga mengatakan, “Di sana memanggil nama TUHAN, Allah yang kekal (Yehova, El–Olam).” Di sini kita melihat nama lain yang khusus bagi Allah — Yehova, El Olam. Pada pasal 17 kita melihat El–Shaddai, Sang Mahakuasa yang serba cukup. Di sini kita melihat El–Olam. Dalam bahasa Ibrani Olam berarti kekekalan atau kekal. Akan tetapi, akar kata dalam bahasa Ibraninya berarti menyembunyikan, bersembunyi atau terselubung dari pandangan. Segala hal yang diselubungi secara spontan menjadi rahasia. Akhirnya Abraham mengalami Allah sebagai Sang kekal, sebagai persona yang misterius. Kita tidak dapat melihat atau menjamah-Nya, namun Ia sangat riil. Keberadaan-Nya adalah kekal, karena Ia tidak mempunyai awal maupun akhir. Ia adalah Allah yang kekal (Mzm. 90:2; Yes. 40:28).
Di sini kita menemukan benih lain yang kemudian ber-kembang dalam Perjanjian Baru. Allah yang dialami Abraham dalam pasal 21 sama dengan yang diwahyukan di dalam Yohanes 1:1, 4, “Pada mulanya ada Firman . . . dan Firman itu adalah Allah . . . dalam Dia ada hidup.” Hidup (hayat) ini adalah El–Olam. Allah yang misterius dalam kekekalan ini adalah hayat kekal kita. Hayat kekal ini adalah Sang ilahi yang sangat tersembunyi, terselubung, misterius, rahasia, namun sangat riil, selamanya ada, dan selamanya hidup, tanpa permulaan dan tanpa akhir. Nama El–Olam mengandung arti hayat yang kekal. Di sini bukannya Allah diwahyukan kepada Abraham, melainkan dialami olehnya sebagai hayat yang kekal. Melalui pohon tamariska di Bersyeba, Abraham dapat mempersaksikan kepada seluruh alam semesta bahwa dia mengalami Sang tersembunyi, yang selamanya hidup, sebagai hayat misteriusnya. Di Bersyeba ia menyeru nama Yehova, tetapi tidak mengalami-Nya sebagai Allah yang misterius, yang selamanya hidup. Tetapi dalam pasal 21 ini, setelah mempunyai banyak pengalaman, dia dengan Ishak di Bersyeba, di bawah pohon tamariska, mengalami Sang Misterius, yang selamanya hidup sebagai hayat yang di dalam dan menyeru, “Oh Yehova, El–Olam!” Sekalipun tidak seorang pun dapat melihat Sang Misterius ini, namun Ia sa-ngat riil dalam pengalaman Abraham. Dia yang kita miliki di batin kita hari ini adalah El–Olam, Sang tersembunyi, rahasia, terselubung, misterius, dan yang selamanya hidup. Ia adalah hayat kita. Kita bisa memiliki kenikmatan yang sama dengan Abraham hanya dengan menyeru “Oh Tuhan Yesus!”
Ketika Abraham tinggal di Bersyeba, ia tentu menger-jakan banyak perkara. Tetapi di sini Alkitab hanya memberi tahu kita satu perkara — yaitu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba dan menyeru nama Yehova, El–Olam. Melalui catatan yang pendek ini kita dapat melihat dua perkara. Pertama, penanaman pohon tamariska pasti sangat bermakna; kedua, penanaman pohon tamariska ini berhubungan dengan menyeru nama Yehova, El–Olam. Se-perti yang telah kita tunjukkan, Kejadian 1 dan 2 bukan hanya merupakan laporan tentang penciptaan Allah, tetapi juga merupakan catatan hayat, dengan pohon hayat sebagai pusatnya. Demikian juga bagian dari firman ini bukan hanya merupakan catatan tentang sejarah Abraham, tetapi juga me-rupakan catatan hayat, yang menunjukkan berdasarkan sumber apa Abraham hidup. Ia hidup berdasarkan menyeru nama Yehova, El–Olam, berdasarkan mengalami Allah yang kekal, yang tersembunyi sebagai hayatnya. Dalam perkataan Perjanjian Baru, ia telah mengalami hayat kekal itu mengalir dengan segala kelimpahannya seperti pohon tamariska yang mengekspresikan kelimpahan dari sumur yang olehnya dia hidup. Seperti pohon hayat adalah pusat dari pasal 1 dan 2, maka pohon tamariska adalah pusat dari catatan di sini. Kita boleh mengatakan pohon tamariska adalah pohon hayat yang kita alami. Pohon ini adalah ekspresi dari pohon hayat. Kehidupan kristiani kita dan hidup gereja yang wajar, keduanya adalah pohon tamariska, mengekspresikan pohon hayat yang olehnya kita hidup. Dan ini terjadi bersamaan dengan menyeru nama Tuhan yang adalah hayat kekal kita, Yehova kita, El–Olam kita.
f) Membuat Ishak Menjadi Kurban Bakaran
Sumber air hidup ini membuat Ishak menjadi suatu kurban bakaran (22:2, 9). Sumber yang diminum Ismael menjadikan dia seorang pemanah, orang yang hidup di dalam kekejaman bagi dirinya sendiri. Tetapi sumber kehidupan Ishak menjadikan dia suatu kurban bakaran, yang dipersembahkan bagi kepuasan Allah.
g) Memimpin untuk Mempersembahkan
kepada Allah di Gunung Moria
Sumber kehidupan ini memimpin Ishak naik ke Moria, bukannya turun ke Mesir (Kej. 22:2). Sumber kehidupan Ismael memimpin orang berjalan menurun, tetapi sumber Ishak memimpin orang naik ke Gunung Moria, yang kemudian Yerusalem dibangun di sana. Naiknya ke Moria ini memisahkan umat Allah dari bangsa Filistin. Kita juga perlu dari Bersyeba naik ke Yerusalem bukan hanya memiliki hidup gereja di Bersyeba, tetapi juga di Yerusalem. Akhirnya, sumber kehidupan yang normal akan membuat kita semua menjadi Ishak dan akan memimpin kita ke Yerusalem Baru.
Di sini kita memiliki benih lain dari wahyu ilahi. Ismael hidup di padang gurun dan bersatu dengan Mesir, tetapi Ishak hidup di daerah pertanian dan dipimpin ke Moria. Bah-kan akhirnya Gunung Moria menjadi Gunung Sion, tempat Bait Allah didirikan (2 Taw. 3:1), menjadi pusat tanah permai yang diberikan Allah kepada Abraham dan keturunannya. Setelah keturunannya mengikuti jalan Ismael dan turun ke Mesir, Allah membawa mereka keluar dari tanah itu dengan maksud membawa mereka masuk ke tanah permai Kanaan. Akan tetapi ketidakpercayaan mereka membawa mereka mengembara di padang gurun di mana Ismael hidup. Akhirnya Allah membawa anak-anak mereka masuk ke tanah permai dan memilih Yerusalem, yang dibangun di atas Gunung Moria, sebagai pusat khusus bagi mereka yang menyembah-Nya. Akibatnya, semua orang Israel setiap tahun dibawa naik tiga kali ke Gunung Moria, tempat Ishak dibawa naik. Jadi, dibawanya Ishak ke Gunung Moria merupakan benih yang bertumbuh menjadi naiknya semua anak Israel ke Gunung Sion.
Dari Abraham keluar dua macam orang: yang pertama diwakili oleh Ismael yang hidup di padang gurun dan bersatu dengan Mesir; yang lainnya diwakili oleh Ishak yang hidup di Bersyeba dan yang dibawa ke Gunung Moria. Hari ini juga terdapat dua macam orang Kristen; yang satu seperti Ismael, hidup bagi diri mereka sendiri di padang gurun jiwa mereka dan bersatu dengan dunia; sedang yang lainnya seperti Ishak, hidup bagi Allah di dalam roh mereka dan di dalam gereja dan dibawa ke Sion. Karena itu orang-orang Kristen sejati pun dapat seperti Ismael, hidup di dalam dan bagi diri sendiri serta bersatu dengan dunia. Kita harus bersandar kepada belas kasihan Tuhan, seperti yang dilambangkan oleh Ishak, hidup di dalam roh dan di dalam gereja, sehingga kita bisa mencapai tujuan Allah.