← Daftar isi Kejadian (4) · bab 14/15

HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH MEMPERSEMBAHKAN ISHAK (1)

Dalam berita ini sampailah kita pada Kejadian 22, di ma-na kita akan melihat puncak pengalaman Abraham terhadap Allah. Pasal ini merupakan lanjutan dari pasal 21. Kedua pasal ini mencantumkan kelahiran Ishak dan persembahan akan Ishak, yang sedikitnya meliputi waktu dua puluhan tahun. Beberapa pelajar Alkitab percaya bahwa ketika Ishak dipersembahkan, sedikitnya ia sudah berusia 20 tahun. Jadi ia telah tumbuh menjadi manusia yang dewasa.

Setiap perkara yang tercatat dalam kedua pasal ini sangatlah bermakna. Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita yang lalu, dalam Kejadian 21:33 “Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal.” Perihal penanaman pohon tamariska ini bukanlah perkara yang tanpa makna. Sekalipun Abraham tentunya sudah mengerjakan banyak hal selama tinggal di Bersyeba, Alkitab hanya mencatat bahwa dia harus memperjuangkan sumur itu, memperoleh kembali dengan suatu harga, menanam pohon tamariska, dan menyeru nama Tuhan, Allah yang kekal. Jika hal-hal ini tidak bermakna, maka catatan Alkitab yang sangat ekonomis tidak akan memasukkannya sebagai bagian dari wahyu ilahi. Adanya fakta bahwa wahyu ilahi mengesampingkan banyak perkara lainnya, tetapi memuat catatan tentang menanam pohon tamariska, ini menunjukkan pentingnya perkara tersebut.

Pusat wahyu Kejadian 2 adalah pohon hayat. Demikian juga, pusat wahyu dalam bagian kedua dari Kejadian 21 adalah pohon tamariska. Jika kita memiliki pengenalan rohani dengan terang ilahi, kita akan nampak bahwa pohon tamariska di sini adalah pengalaman dan ekspresi pohon hayat. Ketika pohon hayat ini belum kita alami dan ekspresikan, maka pohon ini merupakan pohon hayat belaka. Tetapi sekali kita mengalami dan mengekspresikannya, pohon ini menjadi pohon tamariska. Pohon tamariska mempunyai cabang-cabang yang ramping dan berdaun indah yang menunjukkan aliran kelimpahan hayat. Jadi, pohon tamariska yang ditanam di dekat sumur sumpah di Bersyeba menggambarkan aliran kelimpahan hayat yang terpancar keluar sebagai akibat mengalami pohon hayat. Apakah pohon hayat ini men-jadi pohon tamariska dalam pengalaman Anda? Ketika kita mengikuti sidang, pohon hayat ini haruslah menjadi pohon tamariska.

Pada Ismael tidak terdapat pohon yang mengalir dengan kelimpahan hayat; yang ada ialah panah. Tanda hidup Ismael adalah busur pembunuh hayat. Sedang tanda hidup Ishak adalah pohon pengaliran hayat. Sebagai orang Kristen, anak Allah, dan keturunan Abraham, apakah tanda Anda — busur ataukah pohon tamariska? Anda membunuh hayat ataukah hayat dengan kelimpahannya yang mengalir di dalam Anda?

Jika pohon hayat dalam Kejadian 2 itu penting, maka pohon tamariska dalam Kejadian 21 penting juga. Jarang sekali orang Kristen (kalau ada) yang nampak pentingnya pohon tamariska di Bersyeba ini. Meskipun ada sedikit orang yang memberikan perhatian terhadap pohon hayat, namun mereka tidak memperhatikan pohon tamariska. Dahulu memang kita telah nampak pohon hayat, kita belum nampak pohon tamariska. Terima kasih kepada Tuhan, karena hari-hari ini Ia telah memberikan kepada kita visi mengenai pohon tamariska ini. Pada suatu hari, gerakan dalam batin saya mengatakan kepada saya bahwa saya harus mengerti makna pohon tamariska yang terdapat dalam pasal 21. Meskipun pasal ini tidak memboroskan perkataan satu pun, namun telah mengesampingkan pencatatan hal-hal yang lain yang telah Abraham perbuat, malahan dengan khusus mengatakan bahwa ia menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba. Menurut opini kita, boleh jadi perihal penanaman pohon tamariska ini tidak bermakna, mungkin hanya merupakan sejenis cara pengindah pemandangan di zaman kuno. Akan tetapi Alkitab menghubungkan perihal menanam pohon tamariska ini dengan memanggil nama baru Tuhan, yakni Allah yang kekal. Perhatikan kata penghubung “dan” yang dipakai untuk menghubungkan kedua bagian kalimat dalam Kejadian 21:33. Abraham menanam sebatang pohon tamariska dan di sana memanggil nama Yehova, El–Olam. Menurut pikiran manusiawi kita, menanam pohon tidak ada hubungannya dengan perihal memanggil nama Tuhan, terlebih pula tidak ada hubungannya dengan sebutan nama Allah yang baru diwahyukan ini. Namun dalam Alkitab, di sini memberi kepada kita satu dasar yang tepat untuk menyeru nama Tuhan. Jika kita hendak menyeru nama Tuhan, kita memerlukan pohon tamariska. Jika kita tidak memiliki pengalaman pohon tamariska ini, kita hanya dapat menyeru nama lama Allah, Yehova, bukan nama baru-Nya yang tersingkap sebagai El– Olam.

Dalam pasal 21, Abraham memanggil nama baru Allah El–Olam, Allah yang misterius, tersembunyi, rahasia, tetapi sangat riil, hidup, dan yang ada selamanya. Nama Allah di sini secara tidak langsung mengandung istilah hidup yang kekal, karena Allah yang kekal berarti hidup yang kekal. Abraham mengalami hidup yang kekal, tetapi ia tidak memiliki istilah ini. Orang-orang zaman kuno juga makan vitamin-vitamin, tetapi mereka tidak memiliki pengetahuan secara ilmiah yang menggambarkan vitamin-vitamin tersebut. Karena kita dilahirkan setelah Perjanjian Baru ditulis, maka kita mempunyai istilah hidup yang kekal ini. Tetapi Abraham, yang hidup pada zaman kuno, tidak mempunyai istilah ilahi seperti ini. Ketika ia memanggil nama Yehova, El–Olam, ini berarti ia mengalami Allah sebagai hayat yang selamanya ada dan yang selamanya hidup, sebagai Sang riil dan hidup, bahkan yang misterius dan rahasia.

Kita perlu memperhatikan pengalaman kita sendiri. Setiap kali kita memiliki aliran kelimpahan hayat ilahi, itulah saatnya kita menyeru nama Tuhan Yesus dengan pengertian yang baru. Kita memanggil Tuhan yang sama, tetapi dalam penyeruan kita, kita memiliki perasaan yang segar. Pernahkah Anda berpikir, ketika tangan Anda memegang busur pembunuh hayat, dapatkah Anda menyeru nama Tuhan? Tidak, malahan Anda akan pergi dan mengambil seorang istri Mesir.

(8) Mempersembahkan Ishak

(a) Abraham Diuji Allah

Menurut teks aslinya, dalam Alkitab tidak terdapat pasal-pasal, ayat-ayat ataupun alinea-alinea. Pasal 22 langsung merupakan lanjutan dari pasal 21. Setelah mengatakan Abraham menanam sebatang pohon tamariska dan memanggil nama Tuhan, Allah lalu datang mengujinya (ayat 1, bahasa asli). Allah, tidak seperti Iblis (Satan), Ia tidak pernah mencobai (menggoda) seorang pun. Melainkan Dia menguji kita seperti Ia menguji Abraham. Saya katakan sekali lagi, setelah Abraham menebus sumur yang di Bersyeba, tidak usah diragukan ia pasti melakukan banyak perkara, akan tetapi kecuali perihal menanam pohon tamariska dan menyeru nama Tuhan, Alkitab tidak mencatat perkara-perkara lainnya; bahkan segera membicarakan pengujian Allah terhadap Abraham.

1) Mempersembahkan kepada Allah

Apa yang Telah Allah Berikan Kepadanya di Dalam Anugerah

Sering kali setelah kita memiliki suatu kenikmatan yang sangat indah dengan Tuhan, Ia tidak menyuruh kita melakukan sesuatu bagi Dia, malahan Ia memberi tahu kita agar mempersembahkan kembali kepada-Nya apa yang telah Ia berikan kepada kita. Pada saat-saat demikian Tuhan mungkin berkata, “Kamu telah menerima pemberian-Ku. Sekarang Aku meminta kamu untuk mengembalikannya.” Kita selalu mengira setelah kita mempunyai waktu yang baik dengan Tuhan. Ia akan menyuruh kita melakukan sesuatu bagi-Nya. Kita tidak pernah membayangkan bahwa Dia akan menyuruh kita memberikan kembali kepada-Nya apa yang telah Ia berikan kepada kita. Ketika Abraham menikmati keintiman persekutuan dengan Allah, ia tidak disuruh bekerja bagi Allah. Ia justru menerima tuntutan Allah yang tertinggi — memberikan kembali kepada Allah apa yang telah Allah berikan kepadanya. Sejak awal, Allah tidak pernah menerima apa pun yang dimiliki Abraham. Ia tidak berkenan terhadap Lot, Ia menolak Eliezer dan menyuruh Abraham mengusir Ismael. Sekarang, setelah Eliezer, Lot, dan Ismael dikesampingkan, ia memperoleh Ishak, keturunan yang dijanjikan Allah, dan merasa damai sejahtera. Segala sesuatu yang menyangkut Ishak adalah dari Allah dan oleh Allah. Allah tidak akan lagi mengatakan tidak terhadap apa yang dimiliki Abraham. Namun tiba-tiba Allah datang dan seolah-olah berkata, “Aku tidak akan menolak Ishak. Ia lahir dan berasal dari-Ku. Tetapi Abraham, sekarang kamu harus menyerahkannya kembali kepada-Ku.”

Abraham sungguh luar biasa. Jika saya adalah dia, saya akan berkata, “Tuhan, apa yang Kauperbuat? Engkau tidak memperkenan Lot, Engkau juga menolak Eliezer dan Ismael. Sekarang menginginkan Ishak, orang yang berasal dari-Mu itu, untuk dikembalikan kepada-Mu. Sedemikian rupakah aku Engkau rampas?” Jika saya adalah Abraham, saya tidak akan mempersembahkan Ishak. Saya akan menggelengkan kepala sambil menjawab, “Tidak, ini pasti bukan dari Tuhan. Memang logis bagi-Nya meminta Eliezer, dan masuk akal pula Ia menuntut Ismael. Tetapi mana mungkin Allah menginginkan aku menyerahkan kembali Ishak kepada-Nya? Allah bukannya tanpa maksud. Ia berjanji memberiku keturunan, dan janji-Nya telah dikukuhi serta dipenuhi. Mengapa sekarang Ia mau membuang semua yang telah Ia kerjakan bagiku?” Benar, Allah adalah Allah yang bertujuan, dan dalam hal Ia meminta Abraham untuk mengembalikan Ishak kepada-Nya pun terkandung maksud tujuan-Nya yang tertentu.

Banyak orang Kristen, bahkan juga pekerja-pekerja Kristen, tidak pernah belajar mempersembahkan kembali kepada Allah apa yang telah Ia berikan kepada mereka. Sudahkah kalian menerima suatu pemberian? Janganlah memegang erat-erat barang tersebut. Cepat atau lambat Allah akan datang dan berkata, “Persembahkanlah kembali kepada-Ku pemberian yang Kuberikan kepadamu itu.” Apakah Allah telah memberi pekerjaan yang sukses? Pada satu waktu, Allah akan berkata, “Pekerjaan ini adalah Ishak yang Kube-rikan kepadamu. Sekarang Aku ingin kau mempersembahkannya kembali kepada-Ku.” Tetapi, banyak pekerja Kristen yang tidak mau melepaskan tangan atas pekerjaan yang telah diberikan kepada mereka. Bagaimanapun, semua yang telah Allah berikan kepada kita, bahkan apa yang telah Ia garap ke dalam kita dan melalui kita, harus dipersembahkan kembali kepada-Nya.

2) Mempersembahkan kepada Allah Anak Tunggal yang Disayangi

Dalam ayat 2 Allah berkata kepada Abraham, “Ambil-lah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai kurban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Allah menyuruh Abraham mempersembahkan Ishak putra tunggal yang dikasihinya. Betapa berat bagi Abraham harus melakukan hal ini! Jika kita ini dia, kita pasti berkata, “Tuhan, aku telah berusia 120 tahun lebih dan Sara pun hampir mati juga. Mana boleh Engkau meminta aku mempersembahkan kembali apa yang telah Kaukaruniakan kepadaku?” Jika Anda tidak mempu-nyai pengalaman ini, pada suatu waktu, Anda akan mengalaminya. Kita dapat memberikan kesaksian, memang beberapa waktu yang lampau Allah meminta kembali apa yang telah Ia berikan kepada kita. Pemberian, kekuatan, pekerjaan, dan kesuksesan yang Ia berikan kepada kita harus dipersembahkan kembali kepada-Nya. Ini merupakan suatu ujian yang riil. Boleh jadi mudah bagi Abraham untuk memberikan Lot ataupun Eliezer. Bahkan mengusir Ismael pun bukanlah hal yang sulit. Akan tetapi mempersembahkan putra tunggal yang dikasihinya sungguh merupakan perkara yang sulit baginya. Suatu hari, setelah kita sangat menikmati Tuhan, Ia akan menyuruh kita untuk mengembalikan baik karunia, pekerjaan, ataupun kesuksesan yang telah Ia berikan kepada kita. Mungkin Allah berkata, “Sekarang tibalah saatnya bagi-Ku untuk meminta sesuatu darimu. Aku tidak menyuruhmu bekerja bagi-Ku atau pergi ke lapangan misi. Aku meminta agar kamu mempersembahkan kembali apa yang telah Kuberikan kepadamu.” Inilah jalan yang harus kita tempuh hari ini.

a) Hayat Bertumbuh karena Sumur Sumpah dengan Menyeru Nama Allah yang Kekal

Allah tidak memberi tahu Abraham mempersembahkan seorang bayi atau seorang anak kecil, melainkan seorang laki-laki yang dewasa. Hayat Ishak adalah hayat yang bertumbuh karena sumur sumpah dengan menyeru nama Allah yang kekal (Kej. 21:33-34). Kejadian 21:34, yaitu ayat terakhir dari pasal 21 mengatakan, “Dan masih lama Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri orang Filistin.” Berarti Abraham tinggal di sana selama jangka waktu tertentu. Sejangka waktu itulah Ishak bertumbuh besar oleh sumur yang di Bersyeba, tumbuh karena hayat penanaman dan menyeru nama Tuhan, Allah yang kekal. Orang yang Allah suruh agar Abraham persembahkan itu adalah laki-laki dewasa, yang hi-dup bersamanya di dalam hayat penanaman dan penyeruan. Hayat di Bersyeba membuat Ishak menjadi kurban bakaran, bukan seorang pemanah.

b) Dipersembahkan kepada Allah di Gunung Moria Tempat Bait Allah Didirikan

Ketika Allah memberi tahu Abraham untuk mempersembahkan Ishak, Ia menyuruhnya pergi ke tanah Moria, di sana mempersembahkan Ishak di atas salah satu gunung (ayat 2). Dari Bersyeba ke tanah Moria memerlukan waktu dua hari. Gunung tempat Ishak dipersembahkan kemudian disebut Gunung Sion, tempat bait Allah didirikan (2 Taw. 3:1).

Ketika masih muda dan membaca Kejadian 22:2, saya menjadi bingung. Saya merasa heran mengapa Allah demikian menyusahkan. Saya berkata, “Tuhan, Engkau mengaruniai Abraham seorang putra dan menyuruhnya mempersembahkan kembali kepada-Mu. Itu semua benar, tetapi bukankah tidak masuk akal untuk pergi ke tempat yang sejauh itu. Bukankah Engkau Mahahadir. Bukankah Engkau ada di Bersyeba. Mengapa Engkau menyuruh Abraham pergi ke gunung yang sedemikian jauh?” Pada mulanya, Allah bahkan tidak mengatakan kepada Abraham di gunung yang mana dia harus mempersembahkan Ishak, hanya dikatakan “pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu”. Namun Allah menyuruh Abraham menempuh perjalanan yang sedemikian jauh untuk mempersembahkan Ishak, bukanlah mau menyusahkan. Ia tidak pernah menyusahkan, melainkan Ia selalu bermakna. Akhirnya Gunung Moria menjadi pusat tanah permai, dan keturunan Abraham harus pergi ke gunung itu tiga kali setahun untuk mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah (Ul. 16:16; Mzm. 132:13). Jadi, kita mengetahui bahwa Kejadian 22 merupakan suatu benih.

Kita tidak dapat dan tidak boleh mempersembahkan kepada Allah kurban bakaran yang dikehendaki-Nya di tempat pilihan kita sendiri. Kita harus meninggalkan tempat kita dan pergi ke tempat pilihan Allah. Ismael, pemanah, pergi ke Selatan ke arah Mesir dan mengawini seorang perempuan Mesir. Ishak, kurban bakaran adalah jenis orang yang lain. Ia tidak turun ke Mesir; ia naik ke atas, ke Moria. Jika Anda memeriksa peta, Anda akan melihat bahwa Moria berada di sebelah Utara Bersyeba. Di sini kita melihat dua jenis orang — pemanah dan kurban bakaran. Anda mau menjadi yang mana?

c) Menjadi Kurban Bakaran bagi Kepuasan Allah

Gambaran dalam Kejadian 22 sangat menggugah orang. Tangan Abraham membawa api dan pisau. Ishak mengangkat kayu-kayu guna membakar persembahan bakaran, sambil bertanya, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu?” Ia tidak mengetahui bahwa dirinya itulah justru yang akan menjadi kurban.

Tahukah Anda bahwa nasib Anda adalah menjadi kurban bakaran? Menjadi kurban bakaran berarti dibunuh dan dibakar. Pertumbuhan, kehidupan, dan penyeruan kepada nama El–Olam di Bersyeba semuanya adalah bagi pembentukan kurban bakaran sehingga memungkinkan kita dibakar di atas mezbah di Gunung Moria. Air di Bersyeba adalah untuk api di Gunung Moria. Semakin kita minum air sumur Bersyeba, semakin kita bertumbuh. Dan semakin kita bertumbuh, berarti kita semakin dipersiapkan untuk dibakar di Gunung Moria. Jadi, pemulihan Tuhan tidak pernah merupakan suatu gerakan manusia; ini justru jalan sempit. Pada masa Kejadian 22, Ishak adalah satu-satunya orang yang hidup dan berjalan dalam jalan sempit ini. Jangan mengharapkan akan ada banyak orang yang mau menempuh jalan gereja. Kebanyakan orang lebih suka menjadi pemanah, disebabkan hal itu merupakan suatu “pelesiran”. Dari satu as-pek, kelihatannya kehidupan di Bersyeba dan menyeru nama Tuhan adalah membosankan. Bahkan akhirnya, setelah kita menikmati saat yang baik dengan Tuhan, Dia malah meminta kita mempersembahkan Ishak kita kepada-Nya. Ia tidak akan membiarkan kita mempersembahkan Ishak di Bersyeba. Kita harus menempuh perjalanan yang panjang dan mendaki Gunung Moria. Kehidupan gereja yang normal tidak akan menghasilkan pemanah-pemanah, melainkan menghasilkan kurban-kurban bakaran. Kita semua harus menjadi kurban bakaran. Sekalipun jalan ini sempit, tetapi inilah jalan untuk menang.

Meskipun dari Bersyeba ke Gunung Moria merupakan suatu perjalanan yang jauh bahkan menyebabkan beberapa penderitaan, namun ini mendatangkan berkat. Dalam berita berikutnya kita akan melihat berkat dari hayat yang tumbuh karena sumur di Bersyeba dan dipersembahkan kepada Allah di Gunung Moria. Saya mengenal banyak saudara muda yang sedang bertumbuh yang memasuki hidup gereja dengan hati tulus. Meski hati mereka tulus, namun mereka me-ngira pada suatu hari, setelah menempuh semua pengalaman yang penting dan menerima semua visi, mereka akan menjadi “sesuatu” dalam pemulihan Tuhan. Dengan kata lain, mereka berharap akan menjadi raksasa rohani. Berangsur-angsur, setelah setahun lewat setahun, saya mengetahui apa yang terkandung dalam hati mereka, karena mereka sendiri datang kepada saya dan menceritakan perihal diri mereka. Se-orang saudara berkata, “Ketika aku datang menempuh hidup gereja, kedatanganku benar-benar tulus polos. Tetapi aku menginginkan pada suatu hari, setelah aku digenapi, diperlengkapi, cukup syarat, berpengalaman, dan telah nampak semua visi, aku akan berguna di tangan Tuhan. Tetapi sekarang Allah memberi tahu aku bahwa Dia bermaksud membakar aku.” Apakah Anda berharap pada suatu hari Anda akan menjadi seorang pemanah yang kuat? Jika demikian, Tuhan akan berkata kepada Anda, “Aku tidak mau Ismael, seorang pemanah. Aku menginginkan Ishak, suatu kurban bakaran. Janganlah mencoba mengerjakan sesuatu untuk-Ku. Aku dapat mengerjakan apa yang Kukehendaki. Aku hanya menginginkan kamu menjadi kurban bakaran.” Kehidupan di Bersyeba hanya menghasilkan kurban bakaran. Semakin kita tinggal di dalam hidup gereja, semakinlah kita terbawa dari Bersyeba ke Moria, dari air yang menumbuhkan ke api yang membakar. Apakah Anda bertumbuh? Syukur kepada Allah atas hal ini. Tetapi pertumbuhan Anda menyiapkan Anda untuk dibakar. Suatu hari, kita semua harus melewati proses pembakaran ini sebagai kurban bakaran.

Dalam bahasa Ibrani, kurban bakaran berarti kurban yang naik. Setelah kurban bakaran dibakar, timbullah bau yang harum yang membubung kepada Allah untuk kepuasan-Nya. Membubung, bukan menyebar. Sebagai kurban bakaran, kita tidak seharusnya tersebar, melainkan membubung kepada Allah melalui pembakaran.

Pengalaman dalam Kejadian 22 tidak dapat terjadi langsung setelah Kejadian 21. Tentunya ada perjalanan yang panjang dari Kejadian 12—21. Banyak di antara kita ketika memasuki hidup gereja, itu adalah pasal 12 kita, bukannya pasal 22 kita. Abraham harus melalui perpisahan dengan Lot, menolak Eliezer, dan mengusir Ismael, serta melahirkan Ishak. Sekalipun Allah telah menjanjikan keturunan kepada Abraham, namun Ia tidak akan memberikannya sebelum Abraham tersisih seluruhnya dengan Lot, Eliezer, dan Ismael. Ishak barulah terlahir setelah itu. Akan tetapi kelahiran Ishak bukanlah tujuan terakhir. Ishak perlu bertumbuh dan dipersembahkan.

Seperti yang telah kita ketahui, Ishak bukannya tumbuh di padang gurun, melainkan di Bersyeba, tumbuh secara normal melalui kehidupan yang menyeru nama Tuhan. Sampai saat yang tertentu, Allah datang dan menyuruh Abraham mempersembahkan Ishak. Nampaknya Allah itu menyusahkan Abraham. Tetapi Allah tidak akan menyusahkan Abraham secara itu kecuali Abraham sudah memenuhi syarat. Ketika Allah datang dan menyulitkan Anda seperti itu, itulah suatu kehormatan, karena hal itu membuktikan bahwa Anda sudah memenuhi syarat. Allah tidak meminta Abraham untuk mem-persembahkan Lot sebagai kurban bakaran, Ia pun tidak per-nah menuntut Abraham untuk mempersembahkan Eliezer atau Ismael. Allah malahan menyuruh Abraham mengusir Ismael. Hanya keturunan yang dijanjikan, dikukuhkan, dan dihasilkan dari Allah itulah orang yang benar dan tepat. Orang ini adalah orang yang dibesarkan oleh sumur di Bersyeba dan menyeru nama Tuhan. Allah seolah-olah berkata kepada Abraham, “Kamu mengasihi Ishak, Aku juga mengasihinya. Sekarang kamu harus memberikannya kepada-Ku.” Akhirnya Ishak menjadi nenek moyang dari semua bangsa yang terpilih, juga menjadi nenek moyang Kristus. Kehendak kekal Allah tidak dapat dirampungkan oleh siapa pun selain oleh Ishak, orang yang di bawah rawatan Abraham dan dipersembahkan kepada Allah.

d) Dikembalikan di Dalam Kebangkitan untuk Menggenapkan Tujuan Kekal Allah

Setelah Ishak dipersembahkan, ia lalu dikembalikan di dalam kebangkitan untuk menggenapkan tujuan kekal Allah (Kej. 22:4, 12-13, 16, 18). Setelah dikembalikan di dalam kebangkitan, Ishak menjadi orang yang lain. Ia bukan lagi Ishak yang alamiah, melainkan Ishak yang dibangkitkan. Ini sangat membesarkan hati. Setelah kita mempersembahkan kepada Allah apa yang telah kita terima dari-Nya, Ia lalu mengembalikannya kepada kita di dalam kebangkitan. Se-tiap karunia, berkat rohani, pekerjaan, dan kesuksesan yang kita terima dari Allah haruslah mengalami ujian maut. Akhirnya, semuanya itu akan kembali kepada kita di dalam kebangkitan. Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24). Misalkan, Allah memberi karunia alamiah tertentu. Itu adalah sebutir benih gandum. Jika Anda menyimpan karunia alamiah ini, tanpa pernah dipersembahkan kepada Allah, ia akan tetap sebagai gandum sebutir saja. Tetapi jika Anda mempersembahkannya kembali kepada Allah, dan sesudah melewati kematian, benih ini akan kembali kepada Anda di dalam kebangkitan bahkan menjadi berkat. Hal ini bukan tergantung kepada apa yang dapat kita perbuat dan apa yang ingin kita perbuat bagi Allah. Semuanya tergantung pada pertumbuhan kita untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran dan kemudian bangkit dari kematian menjadi karunia yang dibangkitkan. Hal ini bukan perkara berguna bagi Allah, melainkan perkara di bawah berkat Allah. Berkat Allah selalu datang di dalam kebangkitan. Perihal sebutir gandum diperbanyak menjadi 100 butir gandum adalah berkat Allah. Jika Anda mempersembahkan sebutir gandum Anda kepada Allah, dan membiarkan Allah menaruhnya ke dalam kematian, benih ini akan dikembalikan kepada Anda di dalam kebangkitan. Kemudian Anda akan melihat perbanyakan dan berkat yang besar. Inilah jalan Allah.

(b) Ketaatan Abraham demi Iman

Dalam Kejadian 22 kita mengetahui ketaatan Abraham demi iman. Sewaktu saya masih muda dan membaca pasal ini, saya tidak mengerti mengapa Abraham sebagai manusia dan sebagai seorang ayah bisa setega itu. Ketika ia disuruh mempersembahkan putra kesayangannya kepada Allah, ia segera melakukannya. Dalam pasal ini tidak disebutkan istri Abraham. Menurut catatan di sini, kita tidak diberi tahu bahwa Abraham berbicara dengan istrinya mengenai mem-persembahkan Ishak. Kepada kita hanya diberi tahu bahwa Abraham menjawab perintah Tuhan dengan segera dan berani, bangun pagi-pagi dan pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Allah.

1) Percaya kepada Allah

yang Membangkitkan Orang dari Maut

Dalam Perjanjian Lama kita tidak dapat mengetahui mengapa Abraham menaati Allah dengan cepat dan tegas. Dalam Perjanjian Baru kita nampak bahwa Abraham percaya kepada Allah yang membangkitkan orang dari maut (Ibr. 11:17-19; Yak. 2:21-22). Ia mempunyai iman yang memastikan bahwa Allah akan membangkitkan Ishak yang akan ia bunuh. Ia telah menerima janji yang tegas bahkan dikukuhkan bahwa perjanjian Allah pasti terlaksana pada Ishak dan ia akan menjadi bangsa yang besar (Kej. 17:19-21). Jika Abraham mempersembahkan Ishak di atas mezbah, membunuhnya serta mempersembahkannya sebagai kurban bakaran kepada Allah, lalu Allah tidak membangkitkannya dari kematian, maka perkataan Allah akan kosong. Iman Abraham adalah berdasarkan janji Allah yang kukuh. Abraham tentunya berkata, “Kalau Allah mengingini Ishak, maka aku hanya tahu membunuhnya saja. Allah akan membangkitkannya demi menggenapkan janji-Nya.”

Roma 4:17 menyinggung tentang Abraham, dituliskan bahwa Allah yang ia percayai adalah “Allah yang menghidupkan orang mati dan menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” Di sini kita melihat bahwa Abraham percaya kepada Allah atas dua hal: menghidupkan (membangkitkan) orang mati dan menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Kelahiran Ishak berkaitan dengan Allah menjadikan yang tidak ada menjadi ada, sedang dikembalikannya dia berkaitan dengan Allah menghidupkan orang mati. Berhubung Abraham mempunyai iman seperti ini, maka ia segera menaati perintah Allah. Ibrani 11:17-19 mengatakan bahwa ketika Abraham diuji, ia mempersembahkan Ishak demi iman, “Ia berpikir bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.”

2) Bertindak Menurut Wahyu Allah

Dalam hal menaati Allah demi iman, Abraham telah bertindak sesuai dengan wahyu Allah (Kej. 22:3-4, 9-10). Setiap perkara yang diperbuat Abraham dalam pasal ini adalah mutlak berasal dari Allah. Abraham tidak pernah memprakarsai sesuatu atau melakukan sesuatu seturut konsepsinya. Tidak satu pun yang diperbuat berdasarkan keinginan atau pengertiannya sendiri. Allah memberi tahu Abraham apa yang harus ia perbuat, bagaimana, dan di mana harus diperbuat. Setiap aspek tindakannya dalam mempersembahkan Ishak, ia lakukan menurut wahyu dan instruksi Allah.

a) Ke Gunung Moria, Tempat Pilihan Allah

Abraham pergi ke Gunung Moria, tempat pilihan Allah. Dalam ayat 2 Allah memberi tahu Abraham supaya pergi ke tanah Moria dan mempersembahkan Ishak pada salah satu gunung yang akan ditunjukkan kepadanya. Ayat berikutnya kita diberi tahu bahwa Abraham “berangkat dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya”. Sebelum Abraham berangkat, tentunya Allah sudah memberi tahu kepadanya gunung mana yang dipilih-Nya. Ayat 4 memberi tahu kita bahwa “ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangannya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.” Abraham tidak bertindak menurut konsepsi atau pilihannya sendiri; ia melakukan segala sesuatu menurut wahyu Allah.

Apa yang diperbuat Abraham dalam Kejadian 22 merupakan suatu benih yang penting dalam Alkitab. Seperti yang telah saya tunjukkan, keturunan Abraham, anak-anak Israel, diperintahkan Allah untuk pergi ke Gunung Moria tiga kali setahun, menyembah Allah dan di sana mempersembahkan kurban bakaran mereka kepada-Nya. Kita pun telah mengetahui bahwa Gunung Moria menjadi Gunung Sion, pusat tanah permai. Abraham adalah orang pertama yang menyembah Allah dengan kurban bakaran di Gunung Sion. Akhirnya, kita semua menyembah Allah di Gunung Sion. Di satu pihak, da-lam hidup gereja hari ini, sebagai keturunan-keturunan Abraham yang sejati, kita berada di Gunung Sion; di lain pihak, kita sedang di tengah jalan menuju Sion. Apa yang di-perbuat Abraham dalam pasal 22 adalah benih. Keturunan-keturunannya, umat Israel, merupakan perkembangan benih ini, dan kita hari ini merupakan perkembangan yang lebih lanjut lagi dari benih ini. Kita semua, termasuk Abraham mempunyai bagian dalam tuaian benih itu. Mungkin pada suatu hari kita akan berjabat tangan dengan Abraham di Gunung Sion yang kekal dan berkata kepadanya, “Engkau pernah berada di Gunung Sion zaman kuno, kami pun pernah berada di Gunung Sion Perjanjian Baru, dan sekarang kita semua bersama-sama di sini di Gunung Sion yang abadi.”

b) Perjalanan Tiga Hari

Ayat 4 menyatakan bahwa Abraham menempuh perjalanan selama tiga hari, karena kita diberi tahu bahwa pada hari ketiga ia melihat tempat yang ditentukan itu dari jauh. Dalam pandangan Allah dan menurut perasaan Abraham, Ishak telah disembelih tiga hari. Pada hari ketiga Abraham bukan hanya mempersembahkan Ishak, tetapi juga memperolehnya kembali. Karena itu, hari ketiga benar-benar merupakan tanda kebangkitan. Ini sangat bermakna bahwa Alkitab tidak menyebutkan hari kedua atau hari keempat. Jika Anda melihat peta, Anda akan nampak bahwa jarak antara Bersyeba dan Moria kira-kira 55 mil. Menurut metode perjalanan kuno, dari Bersyeba ke Moria memerlukan waktu perjalanan dua hari lamanya. Pada hari ketiga Abraham menaruh Ishak di atas mezbah, dan kemudian apa yang dipersembahkannya kepada Allah itu diperolehnya kembali di dalam kebangkitan. Ini sangat menakjubkan. Kita semua harus jelas akan benih ini. Puji Tuhan bahwa hari ini kita inilah Ishak, bukannya Ismael. Kita semua bukan berjalan ke arah Selatan menuju ke Mesir; kita berjalan menuju Utara ke arah Gunung Sion.

Untuk nampak hal ini, kita harus mempunyai kehidupan di Bersyeba, sebab hanya kehidupan di sinilah yang membangun dan membuat kita memenuhi syarat menjadi kurban bakaran bagi kepuasan Allah dan menerima visi. Nama Mo-ria berarti “visi dari Yah”, yaitu visi dari Yehova, visi dari Tuhan. Ini mengandung dua arti — yaitu kita melihat Allah dan Allah melihat kita. Tidak disangsikan bahwa di Gunung Sion, Abraham melihat Allah dan Allah melihat dia. Demikian pula, di Gunung Sion hari ini kita pun mempunyai visi. Tidak ada awan di sini. Kita bukan di dalam kegelapan; kita di dalam visi. Hidup gereja adalah visi di mana kita melihat Allah dan Allah melihat kita.

Para penerjemah dipersulit harus bagaimana menerje-mahkan ayat 14 ini, mereka ragu-ragu apakah harus diterjemahkan “di atas gunung Tuhan akan tertampak” atau “di atas gunung Tuhan akan tersedia”. Menurut King James Version, ayat 14 berbunyi, “Dan Abraham menamai tempat itu, Yehova jireh; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang, di atas gunung Tuhan akan tertampak.” Terjemahan lainnya berbunyi, “Di atas gunung Tuhan akan disediakan”. Terjemahan lain lagi berbunyi “di atas gunung Tuhan Dia akan melihat”. Ayat ini memang sulit diterjemahkan, tetapi mudah dipakai menurut pengalaman kita. Sering kali persediaan Allah itulah visi-Nya. Setiap kali kita berpartisipasi di dalam dan menikmati persediaan Allah, kita pasti mempunyai visi. Kita nampak Allah dan Allah pun nampak kita. Karena kita berada di dalam persediaan-Nya dan memiliki visi, maka segala sesuatu menjadi jelas, tidak ada yang kabur, dan tidak ada sekatan antara kita dengan Dia.

Di manakah persediaan Allah hari ini? Dalam hidup gereja di atas Gunung Sion. Kita semua dapat bersaksi betapa persediaan ini ada di dalam hidup gereja. Ketika kita menikmati persediaan ini, betapa luar biasa visi yang kita peroleh! Kita nampak Allah. Kita nampak kekekalan. Di sini, dalam hidup gereja, segala sesuatu seperti kristal yang bening, dan tembus cahaya di mata Allah maupun di mata kita, tanpa suatu pun yang kabur. Kita tidak pernah memiliki pengalaman ini di dalam kekristenan. Selama kita berada di sana, kita seolah dipenjarakan di bawah tanah yang pada setiap sisinya tidak tembus cahaya. Namun, hari ini, dalam hidup gereja di Gunung Sion, kita memiliki persediaan yang penuh dan visi yang penuh. Kita melihat Allah dan terlihat oleh-Nya; Allah melihat kita dan terlihat oleh kita. Dalam persediaan Allah, segala sesuatunya tembus cahaya.

c) Mendirikan Mezbah dan Mempersembahkan Ishak

Abraham tiba di lingkungan yang primitif, mendirikan mezbah di atas gunung, dan mempersembahkan Ishak putra tunggalnya di sana (Kej. 22:9-10). Mendirikan mezbah di sana bukanlah mudah, mempersembahkan putra satu-satunya dengan membunuhnya jauh lebih sulit lagi. Tetapi inilah yang justru dilakukannya. Ia bertindak serius di hadapan Tuhan. Kita harus mendirikan mezbah dan mempersembahkan apa yang diminta Allah. Dan ini pasti menuntut kita membayar harga.

Kita telah melihat catatan tentang ketaatan Abraham demi iman. Berdasarkan iman yang diinfuskan kepada ke-seluruhan dirinya oleh Allah itulah yang memberinya ketaatan ini. Dan iman yang terinfus inilah yang membawanya ke Gunung Moria di mana ia menikmati persediaan Allah dan mendapatkan visi yang mutlak tembus cahaya dari Allah. Pada saat itu, tidak ada seorang pun di bumi ataupun di alam semesta yang sejelas Abraham terhadap perkara-perkara Allah. Di sana, di Gunung Moria, Abraham mengalami persediaan Allah dan menerima visi yang jelas. Segala sesuatu bening dan jelas di mata-Nya. Jangan kita membaca Kejadian 22 sekadar sebagai sebuah cerita. Kita harus menerima terang ilahi dari dalamnya dan melihat bahwa pengalaman Abraham sedang terulang di antara kita hari ini. Syukur kepada Tuhan, kita mempunyai Bersyeba dan Moria hari ini. Kita bukan jalan menurun ke Mesir; kita berjalan menanjak ke Gunung Moria, di mana kita akan menikmati persediaan Allah dan memiliki visi Allah yang jernih.