HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH MEMPERSEMBAHKAN ISHAK (2)
Dalam berita yang lalu kita melihat bagaimana Abraham menurut permintaan Allah mempersembahkan anaknya, Ishak. Kisah yang dicatat dalam Kejadian 22 ini bukan hanya mempunyai makna sejarah, tetapi juga sangat berarti, karena dalam beberapa aspek merupakan gambaran yang hidup dari Kristus. Meskipun kita tidak dapat menemukan judul Kristus ataupun nama Yesus dalam pasal ini, namun banyak aspek tentang Kristus yang dinyatakan dalam pengertian itu. Dalam berita ini kita perlu melihat beberapa aspek Kristus yang digambarkan dalam pasal ini.
(c) Ishak Melambangkan Kristus
Ishak melambangkan Kristus. Kita telah mengetahui bahwa Abraham menjawab panggilan Allah dan pergi ke Gunung Moria untuk mempersembahkan Ishak. Ini adalah sejarah. Akan tetapi, jika kita melihat perkara ini dari sudut pandang wahyu Allah, kita akan melihat bahwa apa yang diperbuat Abraham terhadap Ishak merupakan gambaran hidup dari apa yang diperbuat Bapa terhadap Anak yang dikasihi-Nya. Ketika Abraham melakukan perjalanan ke Gunung Moria bersama Ishak, dua orang pelayan menemaninya. Pada hari ketiga, Abraham menyuruh kedua pembantunya berhenti dan berkata, “Aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu” (ayat 5). Sejak itu, ceritanya telah berbeda. Bukan lagi kisah empat orang: ayah, anak, dan dua orang pembantu; melainkan sekarang adalah kisah Abraham dan anaknya, Ishak. Abraham mengambil kayu untuk kurban bakaran dan meletakkannya ke bahu Ishak, yang memikulnya ke puncak Gunung Moria. Bandingkan hal ini dengan Yohanes 19:17 yang mengatakan, “Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, yang da-lam bahasa Ibrani disebut: Golgota.” Ishak berjalan menuju ke Gunung Moria dengan Tuhan Yesus berjalan menuju ke Golgota adalah berjalan pada jalan yang sama. Sebelum Kristus memikul salib dan berjalan ke Calvary, Golgota, Ishak telah memikul kayu untuk kurban bakaran dan menempuh jalan yang sama. Yesus tersalib di gunung yang sama dengan Ishak, sewaktu diletakkan di atas mezbah. Jadi, kita melihat bahwa Abraham melambangkan Bapa, dan Ishak dengan kayu di atas bahunya melambangkan Putra Tunggal Allah. Ishak seperti seekor anak domba dibawa ke atas mezbah. Yesus juga “seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian” (Yes. 53:7).
Ketika Ishak dan Abraham mendaki Gunung Moria, Ishak berkata, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu?” (ayat 7). Jawab Abraham, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran bagi-Nya, anakku” (ayat 8). Di sini kita melihat anak bersekutu dengan ayah. Tidakkah kalian percaya ketika Yesus memikul salib menuju ke Golgota, Ia juga bersekutu dengan Bapa? Dan tidakkah kalian percaya bahwa Bapa bercakap-cakap dengan Putra-Nya? Saya percaya ini. Jika Anda mengatakan bahwa Alkitab tidak memberi tahu kita tentang hal ini, saya akan mengatakan bahwa Kejadian 22 memberi tahu kita akan hal ini. Kita perlu mempunyai penglihatan dan telinga yang mendengar untuk menangkap suara percakapan surgawi di jalan menuju ke Gunung Moria. Abraham dan Ishak melambangkan Bapa dan Anak, dan persekutuan mereka sepanjang jalan ke Gunung Moria merupakan suatu gambaran yang hidup yang menggambarkan bagaimana Yesus, Anak itu, bersekutu dengan Bapa ketika Ia memikul salib ke Calvary. Meskipun kita tidak memiliki keterangan yang jelas dengan kata-kata yang jelas dalam Perjanjian Baru, kita mempunyai gambaran di dalam Perjanjian Lama, gambaran ini jauh lebih baik daripada 1000 kata-kata. Gambaran dalam Kejadian 22 menggambarkan segala sesuatu yang tidak dapat diterangkan dengan kata-kata. Walaupun penulis Perjanjian Baru tidak melukiskan hubungan mesra antara Bapa dan Putra dalam perjalanan ke Calvary, namun telah digambarkan dengan jelas dalam gambaran Kejadian 22. Betapa perlunya kita semua memperhatikan gambar ini. Seperti yang akan kita lihat, hampir setiap butir yang dilambangkan dalam Kejadian 22 diungkapkan di dalam Yohanes 1.
Baiklah sekarang kita perhatikan beberapa detail Ishak sebagai lambang Kristus. Ishak adalah putra tunggal Abraham (Kej. 22:2, 12, 16). Ini melambangkan Kristus sebagai Putra tunggal Allah (Yoh. 3:16). Ishak adalah anak yang dikasihi Abraham (ayat 2), Kristus juga adalah Putra yang dikasihi Bapa, kepada-Nyalah Bapa berkenan (Mat. 3:17). Dalam Kejadian 22:5-6 kita melihat Ishak menerima kehendak bapanya; dalam Matius 26:39 kita melihat Kristus memilih kehendak Bapa. Dalam gambaran Kejadian 22 kita mengetahui Ishak, orang yang dewasa, taat sampai mati (ayat 9-10). Menurut catatan pasal ini, dalam hal mempersembahkan Ishak, Abraham tidak pernah berkonsultasi dengan Sara istrinya ataupun dengan Ishak putranya. Abraham membawa putranya, meletakkan kayu di atas bahunya, memimpinnya ke gunung, mengikatnya, dan meletakkannya di atas mezbah. Ia tidak memberi Ishak kesempatan untuk menanyakan sesuatu. Tetapi Ishak menerima kehendak ayahnya dan taat sampai mati. Demikian juga, ketika Tuhan Yesus hampir menderita mati, Ia berkata, “Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39). Dalam Filipi 2:8 kita tahu Kristus taat sampai mati. Perha-tikan pula gambaran itu: Ishak taat sampai diletakkan di atas mezbah. Ia bukan hanya mengikuti ayahnya sampai ke kaki gunung, tetapi juga taat untuk mengangkat kayu, juga ketika diikat, ia tidak melawan. Bahkan ketika ayahnya mengangkatnya ke atas mezbah, mengambil pisau, dan mengayunkan tangannya untuk membunuhnya, ia tidak memberontak. Ia taat sampai mati. Jika kita memperhatikan semua aspek Ishak ini sebagai lambang Kristus yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, kita akan melihat bahwa kesemuanya ini adalah pengaturan kedaulatan Allah yang sesuai dengan perkataan-perkataan jelas dalam wahyu Perjanjian Baru.
Dalam pandangan Allah, Ishak telah dibunuh. Tepat ketika Abraham hampir membunuh anaknya, Malaikat Tuhan dari langit menghalangi dan berseru, “Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia.” Sebenarnya, Malaikat Tuhan di sini adalah Allah sendiri. Ini dapat dibuktikan melalui ayat 12, di sana Malaikat Tuhan berkata kepada Abraham, “Telah Kuketahui sekarang bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” “Ku” di sini adalah Allah sendiri. Perhatikan bahwa Malaikat Tuhan tidak mengatakan “kepada-Nya”, melainkan “kepada-Ku”. Abraham, sang ayah, menyerahkan anaknya sampai mati, akan tetapi Malaikat Tuhan membangkitkannya dari kematian. Demikian juga, Kisah Para Rasul 2:24 mengatakan bahwa Allah membangkitkan Kristus dari maut.
(d) Ishak Digantikan oleh Domba Jantan
Ishak digantikan oleh anak domba jantan, yaitu oleh seekor anak domba. Ayat 13 mengatakan, “Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai kurban bakaran pengganti anaknya.” Di sini kita melihat bahwa sang anak tidak dibunuh, melainkan seekor domba jantan, seekor anak domba. Siapakah yang dibunuh di atas kayu salib — Putra Allah ataukah Anak Domba Allah? Anak Domba Allahlah yang dibunuh. Kristus adalah Putra Allah, tetapi ketika Ia dibunuh di atas salib, Ia digantikan oleh Anak Domba Allah. Yohanes 1:14 mengatakan tentang Putra Allah, katanya, “Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa.” Sedang Yohanes 1:29 mengatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Di sini kita melihat Putra Allah digantikan oleh Anak Domba Allah. Anak Domba Allah, bukan Putra Allah, telah disalibkan. Sewaktu penyaliban, Putra digantikan oleh Anak Domba.
Dalam Kejadian 22:8 Abraham menubuatkan bahwa Allah akan menyediakan seekor anak domba sebagai kurban bakaran. Anak domba kekal telah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali (1 Ptr. 1:19-20). Dalam Kejadian 22:13 kita melihat “seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam belukar”. Dalam Alkitab tanduk menyatakan daya berperang, akan tetapi daya ini tersangkut dalam belukar. Belukar menyatakan keinsanian. Kita adalah belukar, Kristus adalah Anak Domba Allah, tersangkut di dalam kita dan tidak dapat melepaskan diri. Ia tersangkut oleh keinsanian-Nya sehingga Ia bisa dipersembahkan sebagai pengganti kita. Kristus sebagai Anak Domba Allah merelakan tanduknya tersangkut oleh sifat keinsanian. Ketika kita melihat gam-baran yang jelas ini, kita semua harus berkata, “Tuhan, terima kasih. Engkau rela tertangkap karena kami.”
Di atas salib, Putra Allah digantikan oleh Anak Domba Allah. Pada segi positifnya, menurut pengertian ilahi, Putra Allah tidak pernah disalibkan. Domba Allahlah yang disalibkan. Tidak seorang pun dapat menyalibkan Putra Allah. Terpujilah Dia, karena Dia rela menjadi Anak Domba kecil dan menaruh tanduk-Nya di antara manusia serta membiarkan diri-Nya kita tangkap. Jadi, kita melihat bahwa apa yang diperbuat oleh Putra Allah ini bukan hanya menjadi Anak Domba Allah, melainkan juga digantikan oleh Anak Domba Allah. Sekalipun kita tidak mempunyai gambaran seperti dalam Perjanjian Baru, namun kita bisa melihatnya dalam Perjanjian Lama. Selain kata-kata jelas dalam keempat Injil, kita memerlukan gambaran dalam Perjanjian Lama.
1). Disediakan oleh Yehova-Jireh
Domba jantan yang menggantikan sang anak di atas mezbah disediakan oleh Yehova-Jireh (ayat 14). Nama Yehova-Jireh mempunyai dua makna: Yehova akan menyediakan dan Yehova akan melihat. Di sini bukan hanya ada persediaan, tetapi juga ada visi. Di dalam persediaan kita mempunyai visi. Pandanglah salib: betapa persediaan dan visi yang kita miliki di sana. Saya dapat mempersaksikan bahwa pada salib saya memiliki baik persediaan maupun visi. Sebelum disalib, saya kekurangan, tetapi pada salib saya memperoleh persediaan ilahi. Sebelum disalib, saya buta, tidak memiliki visi, tetapi pada salib, melalui persediaan saya dapat melihat. Sekarang penglihatan saya sangat jelas. Saya bukan hanya mempunyai persediaan, tetapi juga terang. Bahkan banyak orang muda dapat bersaksi sebelum mereka datang kepada salib, mereka miskin dan buta. Tetapi suatu hari mereka datang kepada salib dan menemukan persediaan serta visi. Semoga Roh hikmat menolong kita mengerti akan arti yang dalam dari fakta ini bahwa Putra Allah digantikan oleh Anak Domba Allah, yang tanduk-Nya tersangkut oleh keinsanian.
2) Melambangkan Kristus sebagai Pengganti Kita
Anak Domba Allah yang menggantikan Putra Allah adalah Pengganti kita (1 Ptr. 3:18). Seperti Domba jantan di-bunuh sebagai pengganti Ishak, demikian juga Anak Domba Allah menderita kematian tersalib karena kita. Ketika masih anak-anak, saya mendengar orang mengabarkan Injil, memberi tahu bahwa Kristus menderita sampai mati bagi kita, saya tidak bisa mengerti sepenuhnya. Hanya ketika saya melihat gambaran yang jelas dari Kejadian 22, barulah saya mengerti bagaimana Kristus menjadi Pengganti kita. Domba jantan dibunuh bagi Ishak. Inilah gambaran yang menunjuk-kan bahwa Kristus, Anak Domba Allah telah tersalib di atas salib bagi kita. Kita semua seharusnya naik ke atas salib, akan tetapi Allah dengan Anak Domba Allah menggantikan kita. Karena ini kita semua harus berkata, “Puji Tuhan! Anak Domba Allah, yang adalah Putra Allah, menjadi Pengganti kita.”
Karena Anak Domba Allah menjadi Pengganti kita, maka Dia menjadi agung dan penting. Dalam Kitab Wahyu, satu-satunya sebutan Kristus adalah Anak Domba. Ketika di dalam Wahyu 5 Rasul Yohanes melihat tidak ada seorang pun baik di bumi maupun di surga yang layak membuka gulungan kitab itu, ia pun menangis. Kemudian berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadanya, “Jangan menangis! Lihatlah, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya” Segera setelah ini, Yohanes melihat seekor anak domba: “Lalu aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba.” Dalam Kejadian 22 kita melihat benih dari Anak Domba itu. Benih ini berkembang dalam Yohanes 1:29 dan dituai dalam Kitab Wahyu. Akhirnya, takhta Allah menjadi takhta Allah dan Anak Domba yang darinya mengalir sungai air kehidupan dan seberang-menyeberang sungai itu tumbuh pohon hayat (Why. 22:1-2). Semuanya ini membuktikan bahwa Alkitab bukannya dibuat oleh manusia, melainkan sungguh-sungguh adalah wahyu ilahi. Betapa tepatnya gambaran tentang Kristus yang diwahyukan dalam Kejadian 22!
(e) Abraham Diberkati oleh Allah
1) Bertambah Banyak Keturunan
Abraham diberkati Allah. Berkat di sini bukanlah benda-benda materi. Banyak di antara kita pada waktu yang lampau mempunyai kesan yang keliru, dengan mengira bahwa menerima pekerjaan yang bagus atau benda-benda materi yang menguntungkan berarti Allah telah memberkati kita. Kita semua diberi tahu untuk menghitung berkat-berkat kita satu per satu, menghitung perkara-perkara seperti titel, kemajuan, istri, rumah, dan anak-anak kita. Meskipun saya tidak bisa mengatakan bahwa hal-hal seperti itu bukan berkat, namun saya tegaskan, semuanya itu bukanlah berkat emas, melainkan berkat lumpur. Dalam Kejadian 22, Allah tidak memberkati Abraham dengan berkat-berkat seperti itu. Sebaliknya, Ia memberkatinya dengan keturunan yang sangat banyak, kata-Nya, “Maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut” (ayat 17). Saya tidak memperhatikan berkat yang berupa materi, saya memperhatikan perkembangbiakan. Saya mengharapkan pertama-tama di Amerika Serikat tumbuh 50 gereja, kemudian menjadi 100, dan akhirnya menjadi 1000. Saya juga mengharapkan melihat bahwa dari Amerika Serikat terjadi perkembangbiakan menyebar sampai ke Afrika, Australia, Eropa, dan kemudian balik ke Yerusalem. Inilah berkat yang ingin saya lihat.
Abraham diberkati dengan dua golongan orang, pertama seperti bintang di langit (Kej. 22:17; 15:5), dan kedua seperti pasir di tepi laut (Kej. 22:17), yang juga seperti debu tanah (Kej. 13:16).
Jika Anda mengetahui sejarah dan nubuat mengenai keturunan Abraham, Anda akan melihat mereka terdiri dari dua golongan, yang satu surgawi dan yang lain bumiah. Kita, orang Kristen, adalah bintang-bintang; dan orang-orang Yahudi, umat bumiah Allah, adalah pasir, debu. Akhirnya, orang-orang Yahudi akan menjadi imam-imam Allah di bumi dan mengajar semua bangsa. Ini dinubuatkan dengan jelas dalam Zakharia 8:20-23. Mengapa orang-orang Yahudi digambarkan sebagai pasir dan debu tanah? Laut menyatakan bumi yang dirusak oleh Iblis, sedang debu tanah berasal dari bumi yang diciptakan Allah. Orang-orang Yahudi telah dipulihkan dalam ciptaan Allah. Karena itu, mereka dinyatakan dengan pasir yaitu debu di tepi laut. Sekalipun mereka adalah umat yang di bumi, namun mereka bukanlah debu tanah yang di bawah laut, melainkan debu tanah, pasir yang di tepi laut. Mereka terpisah dari laut yang telah rusak, dari dunia yang telah dirusak Iblis. Namun, bintang-bintang bukan saja terpisah dari dunia yang telah rusak, tetapi juga yang surgawi.
Menurut Wahyu 20:8-9, pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, Gog dan Magog akan berperang melawan perkemahan orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Perkemahan orang-orang kudus adalah perkemahan dari semua bintang surgawi, dan kota yang dikasihi, Yerusalem, adalah kota pasir yang terpisah. Dua kategori keturunan Abraham, yang pada waktu itu memperhatikan kesenangan Allah di alam semesta, akan diserang oleh Gog dan Magog yang berada di bawah dorongan Iblis. Hal itu akan merupakan perang yang terakhir di alam semesta, perang antara umat Iblis dengan keturunan-keturunan Abraham.
Benih bintang ditabur dalam Kejadian 22, dan akan dituai dalam Wahyu 20 dan 21. Yerusalem Baru tersusun dari dua belas suku bangsa Israel, yang mewakili kaum saleh Perjanjian Lama, dan dua belas rasul, yang mewakili kaum beriman Perjanjian Baru. Yang diwakili oleh rasul-rasul adalah bintang-bintang surgawi, dan yang diwakili oleh kedua belas suku bangsa adalah pasir di tepi laut. Akhirnya dua kategori orang ini akan bersama-sama dibangun menjadi Yerusalem Baru yang kekal. Sebab itu, Yerusalem Baru yang kekal akan merupakan perampungan sempurna dari keturunan Abraham. Inilah berkat Allah kepada Abraham.
Setelah melihat hal ini, kita perlu berkata, “Puji Tuhan, berkat Allah bukanlah rumah yang bagus, mobil, gelar, naik pangkat, istri ataupun anak. Melainkan suatu perkembangbiakan umat saleh dalam pemulihan Allah dan perkembangbiakan gereja-gereja.” Saya berharap pada suatu hari, sebagian dari Yerusalem Baru adalah perkembangbiakan kita karena berkat Allah yang diberikan kepada kita. Pada waktu itu, semua mobil dan rumah akan lenyap. Hanya perkembangbiakan dalam berkat Allahlah yang akan tetap ada selamanya. Kita akan melihat perkembangbiakan yang merupakan berkat Allah dalam Yerusalem Baru untuk selama-lamanya.
Di sini, di dalam Kejadian 22 kita melihat suatu prinsip dasar, yaitu apa pun yang diberikan Allah kepada kita akan dikembangbiakkan. Allah memberi Abraham seorang Ishak, dan Abraham mempersembahkannya kembali kepada Allah. Kemudian Ishak yang satu ini dikembangbiakkan sampai sebanyak jumlah bintang-bintang dan pasir yang tidak dapat dihitung. Jika Abraham tidak mempersembahkan Ishak kembali kepada Allah, ia hanya akan memiliki satu Ishak saja. Tetapi dengan mempersembahkannya kembali kepada Allah, Ishak akan dikembangbiakkan sampai menjadi Yerusalem Baru. Inilah jalannya karunia Allah dikembangbiakkan di dalam kita — mempersembahkan kembali kepada Allah apa yang telah diberikannya kepada kita.
2) Dengan Kristus sebagai Satu-satunya Keturunan
Akhirnya berkat Allah terhadap Abraham menghasilkan Kristus sebagai benih satu-satunya di mana semua bangsa di bumi akan diberkati (ayat 18; Gal. 3:16). Dalam Galatia 3:16 Paulus hanya membicarakan satu keturunan saja — Kristus. Kita semua termasuk dalam keturunan yang satu ini. Bukankah kita semua ada di dalam Kristus? Mengertikah Anda makna sesungguhnya dari ungkapan pendek “di dalam Kristus”? Ungkapan ini berkali-kali dipakai dalam Perjanjian Baru. Di dalam Kristus kita telah dibenarkan. Di dalam Kristus kita dikuduskan. Di dalam Kristus kita mempunyai nama sebagai anak. Segala sesuatu yang bersangkutan dengan diri kita ada di dalam Kristus. Haleluya, kita di dalam Kristus! Kita sungguh-sungguh sebagian dari Kristus. Akhirnya, semua bintang surgawi dan pasir yang di bumi akan berada di dalam Kristus. Seperti yang telah kita tunjukkan pada waktu lampau, Yerusalem Baru akan menjadi Kristus korporat yang besar. Di dalam keempat Injil kita memiliki Kristus yang individu, tetapi pada akhir Kitab Wahyu kita mempunyai Kristus yang korporat yang mencakup semua orang beriman sejati.
Di dalam Kristus, keturunan yang satu-satunya ini, semua bangsa di bumi akan diberkati. Bukankah Amerika, Jerman, Jepang, China, dan Inggris mendapat berkat? Ini adalah berkat Allah. Semoga kita semua mengharapkan berkat yang kita terima dari Allah adalah perkembangbiakan yang menghasilkan Kristus, keturunan satu-satunya itu. Perkembangbiakan ini akan menyebar ke Eropa, Afrika, dan seluruh bumi, dan perkembangbiakan ini harus Kristus saja. Semua gereja di bumi akan menjadi perkembangbiakan Kristus.
(f) Kristus Diwahyukan dalam Tiga Cara
Dalam Kejadian 22 Kristus diwahyukan dalam tiga cara: sebagai Malaikat Tuhan (ayat 11-12, 15-18; Kel. 3:2-6), sebagai domba jantan (ayat 13; Yoh. 1:29), dan sebagai keturunan Abraham (ayat 18; Gal. 3:16). Ketika Abraham mengangkat tangannya untuk membunuh Ishak, Malaikat Tuhan mencegahnya. Kemudian Abraham nampak seekor anak domba jantan, lalu membunuhnya, dipersembahkan menggantikan Ishak. Kemudian hal ini menjadi suatu berkat perkembangbiakan. Perkembangbiakan ini menghasilkan Kristus sebagai keturunan satu-satunya. Di sini kita melihat Malaikat Tuhan mencegah, domba jantan menggantikan, dan keturunan itu membawa berkat. Ketiganya adalah Kristus. Hal ini sangat misterius, karena Kristus adalah segala sesuatu. Kristus adalah persona yang memberi tahu Abraham untuk tidak membunuh anaknya. Kemudian Ia segera menjadi domba jantan yang terperangkap dalam belukar untuk menggantikan anaknya. Setelah penyaliban, Ia menjadi satu-satunya ketu-runan di dalam berkat Allah. Malaikat Tuhan (yang adalah Kristus), akhirnya menghasilkan keturunan (yang juga adalah Kristus). Kristus itulah segala sesuatu. Kita bukannya mempunyai Kristus yang kecil, yang terbatas, melainkan mempunyai Kristus yang besar, yang tidak terbatas. Dia adalah segala sesuatu. Puji Tuhan!
?