HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH SUATU DOA SYAFAAT YANG MULIA
(2) Suatu Doa Syafaat yang Mulia
Dalam berita ini kita akan membicarakan suatu benih wahyu ilahi lain yang tertanam dalam Kitab Kejadian, yaitu benih doa syafaat. Dalam 17 pasal pertama Kitab Kejadian, tidak terdapat catatan tentang doa syafaat. Meskipun kita bisa menduga bahwa Melkisedek pernah di belakang berdoa syafaat bagi Abraham, tetapi hal ini tidak tercatat. Alkitab pertama kali dengan jelas menyinggung doa syafaat adalah dalam Kejadian 18, dan Abrahamlah orang pertama yang melakukan doa syafaat. Catatan doa syafaat ini bukan hanya merupakan satu benih, melainkan mencakup pula sejumlah perkembangan. Dalam Kejadian 18 tidak hanya terdapat kisah doa syafaat, tetapi juga terdapat wahyu yang jelas tentang prinsip dasar doa syafaat. Doa syafaat adalah suatu hal yang besar dalam Alkitab. Tanpa doa syafaat, ekonomi (pengelolaan) Allah takkan rampung. Hari ini Kristus menjadi Imam Besar rajani dan ilahi kita, ministri-Nya yang unggul adalah ministri doa syafaat. Roma 8:34 dan Ibrani 7:25 keduanya memberi tahu kita Kristus berdoa syafaat bagi kita. Karena perkara doa syafaat ini demikian penting, maka dalam seluruh berita ini kita akan membicarakan prinsip dasar doa syafaat.
(a) Menurut Wahyu Allah
Prinsip pertama doa syafaat ialah harus menurut wahyu Allah (Kej. 18:17, 20-21). Satu-satunya doa syafaat yang terhitung dalam pandangan Allah ialah doa yang menurut wahyu-Nya. Hal ini berarti doa syafaat yang tepat itu tidak dimulai oleh kita, tetapi dimulai oleh Allah dalam wahyu-Nya. Hal ini jelas sekali digambarkan dalam Kejadian 18. Abraham bukan karena prihatin kepada Lot, lalu pada suatu pagi berlutut berdoa syafaat bagi dia kepada Allah yang duduk di atas takhta di surga. Tidak! Waktu hari panas terik, ketika Abraham sedang duduk-duduk menyejukkan diri di depan pintu kemahnya, Allah datang kepadanya dalam wujud manusia. Karena Allah tidak datang kepada Abraham dalam kemuliaan dan keagungan-Nya, maka pada mulanya Abraham tidak tahu bahwa Allah Yehovalah yang mengunjunginya; sesaat kemudian, barulah Abraham menyadari bahwa Dia adalah Allah. Walaupun demikian, Abraham tidak gentar, ia sangat tenang bercakap-cakap dengan Allah seperti bercakap-cakap dengan seorang teman akrab. Percakapan ini tentunya berlangsung beberapa jam, yaitu selama me-nunggu mempersiapkan makanan dan ditambah selama waktu makan. Bahkan ketika Allah dan kedua malaikat-Nya hendak pergi, Abraham tidak cukup hanya mengucapkan selamat jalan, lebih-lebih mengantar mereka sampai menempuh jarak yang mungkin tidak dekat. Di sini kita nampak Allah kita bukan hanya Allah yang mengasihi, tetapi juga Allah yang menguji orang. Walaupun Ia mengasihi kita dan mengetahui segala sesuatu, Ia sering kali menguji kita. Ia mengetahui hati kita, mengetahui bagian diri kita yang terdalam, walaupun demikian sering kali Ia tidak mengatakan apa-apa. Dengan menguji kita, Allah mengait keluar sesuatu yang tersembunyi di dalam kita.
Apa tujuan Allah mengunjungi Abraham dalam Kejadian 18? Tentu Ia bukan datang untuk makan, bukan pula untuk menegaskan janji-Nya mengenai Sara akan melahirkan seorang anak laki-laki. Allah datang kepada Abraham dengan maksud hendak mencari orang yang berdoa syafaat. Di atas takhta-Nya, Allah telah memutuskan untuk menghukum Kota Sodom yang jahat. Tetapi Allah sekali-kali tidak lupa akan Lot, salah satu umat-Nya yang masih berada di kota itu; walaupun Lot sendiri tidak menyadari bahwa dirinya harus diselamatkan dari Sodom. Apa daya Allah? Ia harus mencari orang untuk berdoa syafaat bagi Lot. Allah tahu tidak ada seorang pun di bumi selain Abraham yang begitu memperhatikan Lot dan mengerti hati Allah. Sebab itu, Allah datang pada Abraham dengan maksud mencari orang yang berdoa syafaat. Tanpa orang yang berdoa syafaat bagi umat-Nya, Allah tidak dapat bekerja. Allah mempunyai prinsip ilahi-Nya. Salah satu di antaranya ialah tanpa doa syafaat Ia tidak dapat menyelamatkan orang. Keselamatan setiap orang Kristen semuanya dikarenakan doa syafaat. Allah tidak tinggal diam di atas takhta-Nya menunggu doa syafaat yang demikian. Sebaliknya, Ia turun dalam bentuk manusia mengunjungi Abraham, sehingga Abraham dapat dengan mudah bercakap-cakap dengan Dia dan berdoa syafaat bagi Lot. Dalam Kejadian 18 Abraham tidak berdoa kepada Allah atau menyeru nama Allah. Ia bercakap-cakap dengan Allah seperti dengan seorang teman akrab. Jadi, dalam pasal ini maksud tujuan Allah mengunjungi Abraham ialah supaya Abraham menerima beban untuk berdoa syafaat bagi Lot seturut maksud hati Allah.
Sekalipun Allah “tinggal” di depan pintu kemah Abraham selama beberapa jam, bahkan telah berbincang banyak hal dengan dia, tetapi Allah tidak mengatakan sepatah kata pun tentang tujuan kedatangan-Nya ialah untuk mencari orang yang berdoa syafaat. Kita juga sering demikian. Mungkin Anda menginginkan seorang saudara melakukan sesuatu bagi Anda, sebagai orang yang bijaksana, Anda takkan langsung menyuruh dia melakukan kehendak Anda begitu Anda menjumpai-nya. Mula-mula Anda membicarakan hal-hal lain untuk me-ngetahui keadaan hatinya. Sampai pada akhir kunjungan Anda, ketika saudara itu mengantar Anda sampai di pintu atau di jalan, barulah Anda secara terbuka mengutarakan maksud hati Anda. Tetapi apabila ia agaknya tidak mau lama-lama beserta dengan Anda dan hanya berkata, “Sampai jumpa pula pada sidang nanti malam”; Anda mengetahui hatinya sangat tawar dan ia takkan senang melakukan maksud hati Anda. Tetapi jikalau ia berkata, “Aku ingin bersamamu sejenak lagi,” bolehlah Anda mengutarakan isi hati Anda kepadanya.
Ketika Allah datang kepada Abraham, Abraham menyambut-Nya, menyediakan air dan menyajikan makanan yang lezat bagi-Nya. Walaupun Allah berkata-kata dengan Abraham selama waktu penyiapan makanan dan waktu makan, tetapi Ia tidak memberitahukan maksud kedatangan-Nya. Setelah Allah dan kedua malaikat-Nya itu berdiri dan hendak pergi meninggalkan kemah, Abraham mengantar mereka, baru pada waktu itulah Allah mengutarakan maksud-Nya. Ketika Abraham berjalan dengan mereka, Tuhan berkata, “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?” (Kej. 18:17). Allah tidak dapat menyembunyikan kehendak-Nya kepada Abraham, teman-Nya yang terkasih dan orang yang terpanggil.
Abraham tetap tinggal di hadirat Allah, bahkan setelah ke-dua malaikat itu berangkat ke Sodom, Abraham tetap berdiri di hadapan-Nya (Kej. 18:22), saat itulah Allah membukakan diri kepadanya. Allah tidak langsung membukakan diri kepada Abraham, tetapi dengan cara memberi isyarat membuka diri kepadanya. Allah tidak berkata, “Abraham, tidak lama lagi Aku akan memusnahkan Sodom. Lot berada di sana, Aku sangat memperhatikannya. Aku datang supaya kamu berdoa syafaat baginya.” Allah tidak begitu sederhana. Sebaliknya Ia berkata, “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya” (18:20-21). Walaupun Allah tidak mengatakan sepatah kata pun tentang Lot, tetapi maksud-Nya membicarakan Sodom adalah untuk Lot. Kedua teman ini membicarakan Lot, namun tidak seorang pun yang menyebut namanya. Mereka membicarakannya secara rahasia, secara isyarat. Abraham tahu Lot yang Allah perhatikan dan ia mendoakannya dengan tidak menyebut namanya. Bagaimanapun, Allah tahu maksud Abraham seperti Abraham tahu maksud Allah.
Janganlah mengira wahyu Allah mengenai doa syafaat datang secara mendadak atau mukjizat serupa “pentakosta”. Agar dapat menerima wahyu dari hati Allah, kita harus menempuh suatu proses yang panjang. Kita harus keluar dari Ur-Kasdim, kemudian melewati berbagai tempat hingga sampai di depan pintu kemah dekat pohon tarbantin di Mamre Hebron. Pertama kali pada waktu Allah memanggil Abraham, Ia menyatakan diri kepadanya sebagai Allah yang mulia. Saat itu Abraham belum siap atau belum layak untuk menerima wahyu dari hati Allah. Ia tidak berada dalam persekutuan yang akrab dengan Allah. Sekalipun setelah membunuh Kedorlaomer dan raja-raja lain, Abraham belum dapat bercakap-cakap dengan Allah begitu akrab. Dalam pasal 15 dan 16 kita melihat walaupun Abraham seorang yang mencari Allah dan mengasihi-Nya, tetapi ia masih sangat berada dalam dagingnya. Dalam pasal 17 ia telah disunat dan berakhirlah alamiahnya, namanya diganti dari Abram ke Abraham, dan ia menjadi orang yang lain. Kemudian, dalam pasal 18 Allah datang kepadanya di dekat pohon tarbantin di Mamre Hebron bukan sebagai Allah yang mulia, atau sebagai Allah yang Mahatinggi, Tuhan langit dan bumi, bukan juga sebagai El-Shaddai, melainkan sebagai orang yang menikmati hidangan lezat dengan teman karib-Nya. Ketika itu Allah mendapatkan orang yang sesuai dengan hati-Nya. Dalam Kejadian 18 doa syafaat yang mulia dari Abraham di hadapan Allah bukan doa seorang di atas bumi kepada Allah di surga, melainkan suatu percakapan antara dua teman. Allah turun dari surga, merendahkan diri, mengenakan bentuk manusia dan bercakap-cakap dengan Abraham. Akhirnya, Ia menunjukkan kepada Abraham bahwa Ia adalah Allah yang Mahakuasa, namun mereka tetap bercakap-cakap seperti teman. Pada waktu Abraham dalam keadaan ini, dia sudah siap dan layak menerima wahyu dari hati Allah mengenai maksud hati-Nya. Doa syafaat adalah suatu percakapan yang intim dengan Allah seturut pengungkapan maksud hati-Nya. Inilah prinsip pertama doa syafaat.
Agar Allah mewahyukan kehendak hati-Nya kepada seseorang, orang itu harus sudah siap. Meskipun berjuta-juta orang telah masuk ke dalam nama Tuhan, tetapi sedikit sekali yang telah siap, didisiplin, dilatih, disunat, dan diakhiri. Sekalipun kita tidak begitu serupa dengan Abraham, tetapi kerap kali kita mempunyai pengalaman yang sama. Ketika kita mau menyingkirkan ego kita dan menolak daging kita, ajaib sekali, Allah datang pada kita bagaikan seorang teman. Kita tidak berdoa kepada-Nya atau menyeru nama-Nya, kita berbicara dengan Dia seperti seorang teman karib.
Untuk memenuhi prinsip pertama doa syafaat, yaitu menurut wahyu intim dari maksud hati Allah, kita perlu melalui suatu proses yang panjang. Kita perlu ditanggulangi, disunat, diakhiri. Kemudian kita akan siap bersekutu intim dengan Allah. Allah akan datang kepada kita pada kedudukan manusia bukan pada kedudukan Allah, sama seperti ia datang kepada Abraham. Misalnya, hari ini Allah mengunjungi Anda secara itu, dan Anda menyajikan makanan, berbicara di hadapan-Nya. Alangkah baiknya perbincangan dengan Allah yang demikian ini! Ketika kita demikian bersekutu dengan Allah, kita tidak merasa sedang berbicara dengan Allah yang Mahakuasa, Mahaagung, tetapi dengan seorang yang lain. Inilah makna doa syafaat menurut wahyu Allah. Doa syafaat ini selalu intim, rahasia, dan secara tidak langsung.
(b) Kelihatannya untuk Sodom, Sesungguhnya untuk Lot
Setelah Allah mewahyukan kehendak hati-Nya kepada Abraham, Abraham segera mengerti maksud hati Allah. Kelihatannya Abraham mendoakan Sodom, sesungguhnya ia mendoakan Lot. Abraham datang mendekat dan berkata, “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?” (Kej. 18:23). Di sini tersirat Lot. Seolah-olah Abraham berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau tahu bahwa di Sodom, kota jahat yang akan Kaumusnahkan itu, terdapat satu orang benar? Mungkin juga terdapat orang-orang benar lain besertanya. Apakah Engkau bermaksud memusnahkan yang benar dengan yang fasik?” Allah tidak menyebut nama Lot kepada Abraham, namun Abraham mengerti. Demikian pula, Abraham tidak menyebut Lot kepada Allah, tetapi Allah tahu. Mereka saling berbicara secara rahasia. Tidak seorang luar pun tahu mereka sedang membicarakan apa, namun mereka saling mengerti karena mereka teman baik. Bagaimana kita dapat membuktikan Abraham sesungguhnya berdoa syafaat bagi Lot? Buktinya dalam Kejadian 19:29, “Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu.” Di sini tidak mengatakan Allah ingat pada Lot, tetapi Allah ingat kepada Abraham. Dari ayat ini jelas sekali kita tahu Allah menjawab doa Abraham dengan menyelamatkan Lot dari Sodom. Maka, sesungguhnya doa syafaat Abraham dalam pasal 18 bukan untuk Kota Sodom, melainkan untuk Lot.
Pada prinsipnya, doa syafaat Abraham untuk Lot sama seperti doa syafaat gereja dalam Perjanjian Baru. Pada zaman Abraham, umat Allah di bumi terdiri dari dua keluarga, keluarga Abraham dan Lot. Sebagian dari umat Allah, yaitu keluarga Lot telah hanyut ke dalam Kota Sodom yang jahat. Demikian pula sebagian umat gereja telah hanyut ke dalam dunia. Sebagaimana Abraham berdoa syafaat bagi sebagian umat Allah yang hanyut ke dalam Sodom, kita juga harus berdoa syafaat bagi saudara dan saudari yang hanyut ke dalam dunia. Doa syafaat Abraham adalah doa yang pertama kali menyerupai doa syafaat dalam hidup gereja.
(c) Menurut Hati Allah
Karena semua doa syafaat yang tepat adalah menurut wahyu yang berasal dari hati Allah, tentu juga menurut hati Allah. Doa syafaat bukan berdoa menurut firman Allah. Telah saya tunjukkan, sekalipun Allah tidak menyebut nama Lot, Abraham mengerti apa yang ada dalam hati Allah. Abraham tidak berdoa menurut firman Allah yang di luar, tetapi menurut maksud hati Allah yang di dalam. Doa syafaat yang tepat harus selalu menjamah hati Allah. Ketika Abraham berdoa syafaat, Allah senang dan mungkin berkata dalam hati, “Alangkah baiknya Aku telah mendapatkan seorang di bumi yang mengetahui maksud hati-Ku.”
Sekali lagi saya katakan, doa syafaat yang tepat selalu dimulai oleh kunjungan Allah pada level manusia. Setiap kali kita mempunyai perasaan yang dalam bahwa Allah menghampiri kita pada level manusia, itulah saatnya Allah akan memulai suatu doa syafaat supaya kita laksanakan. Untuk ini kita harus belajar tinggal lebih lama dalam hadirat Allah. Sekalipun Ia akan pergi, kita harus tetap tinggal dalam penyertaan-Nya dan berkata, “Tuhan, aku tidak mau kehilangan penyertaan-Mu. Aku ingin lebih lama beserta-Mu.” Makin bertahan (lama) Anda diam di depan hadirat-Nya, Allah akan membuka hati-Nya dan mengait keluar kedambaan-Nya. Kita telah nampak Abraham tidak segera mengatakan selamat tinggal kepada Tuhan, tetapi berjalan serta-Nya sampai jauh. Ini menunjukkan makna tertentu, Allah sangat manusiawi. Kalau kita mau berlama-lama diam dalam penyertaan-Nya, Ia akan begitu ramah dan tidak mau meninggalkan kita. Saya telah berkali-kali mengalami hal ini. Saya tidak meninggalkan penyertaan-Nya dan Ia pun tidak meninggalkan saya. Akhirnya, Allah membuka hati-Nya kepada saya hingga timbullah doa syafaat yang tepat.
Doa syafaat bukan hanya doa, melainkan suatu perca-kapan yang intim. Dalam pasal ini Abraham tidak berdoa, ia sedang berbicara dengan kawan akrabnya pada level manusia, katanya, “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?” Seolah-olah Abraham ber-kata kepada Allah, “Apakah ini cara-Mu? Biarlah aku meng-ingatkan Engkau bahwa Engkau tidak boleh berbuat begini. Mungkin di kota itu ada lima puluh orang benar. Karena lima puluh orang benar itu, dapatkah Engkau tidak memusnahkan kota itu?” Ini suatu percakapan. Kemudian sambung Abraham, “Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehing-ga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu!” (Kej. 18:25). Inilah suatu tantangan yang kuat bagi Tuhan. Pernahkah Anda menyatakan tantangan seperti itu kepada Allah? Sedikit sekali yang pernah berbuat demikian. Namun ketika Anda bersekutu intim dengan Allah pada level manusia dan mengerti maksud hati-Nya, Anda dapat menantang-Nya dengan berkata, “Tuhan, apakah ini cara-Mu berbuat?” Ini bukan lagi berdoa atau memohon, melainkan menantang Allah dalam suatu percakapan yang sangat ramah. Tuhan menjawab Abraham, firman-Nya, “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam Kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka” (Kej. 18:26). Prinsip dasar doa syafaat yaitu percakapan yang menantang, bukan doa atau permohonan. Allah ingin kita menantang-Nya. Ketika Abraham menantang Allah, mungkin Allah berkata, “Aku telah menemukan seorang di bumi yang sangat mengerti hati-Ku, ia tidak berdoa, bertanya, atau memohon, ia menantang-Ku. Aku hendak me-lakukan apa yang dikatakannya, karena Aku telah ditantang oleh teman-Ku yang terkasih. Sekarang Aku memperhatikan Lot jauh daripada memperhatikan diri-Ku sendiri.” Pernahkah Anda mengalami doa syafaat semacam ini? Pernahkah Anda berbicara dengan Allah semacam ini? Pernahkah Anda berbicara dengan Allah secara menantang dengan berkata, “Tuhan, apakah ini cara-Mu berbuat? Bukankah Tuhan yang menghakimi seluruh bumi ini melakukan kebenaran? Membunuh yang benar dengan yang fasik, inikah cara-Mu? Tentu tidak!” Inilah doa syafaat yang sesungguhnya.
Dalam ayat 27-32 kita lihat Abraham meneruskan pembicaraan dengan Allah mengenai syarat pengampunan kota itu harus ada beberapa orang benar. Setelah Allah berkata, “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam Kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” Abraham bertanya jikalau kurang lima orang dari jumlah itu, apakah Tuhan akan memusnahkan kota itu? Tuhan menjawab, “Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.” Jumlah empat puluh lima itu dikatakan oleh Tuhan bukan oleh Abraham. Seolah-olah Tuhan berkata, “Empat puluh lima orang sudah cukup, tetapi Aku tidak menemukan begitu banyak.” Lalu Abraham bertanya bagaimana kalau empat puluh, dan firman Tuhan, “Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu.” Ketika Abraham mengusulkan apabila tiga puluh, Tuhan berkata bahwa Ia akan mengampuni Sodom bila ada tiga puluh di sana. Kemu-dian, Abraham mengurangi jumlahnya sampai dua puluh. Sekali lagi Tuhan berkata bahwa Ia tidak akan memusnahkan kota itu karena yang dua puluh itu. Akhirnya, hingga jumlah yang terendah, Abraham mengusulkan kepada Tuhan yang keenam kali, untuk mengampuni kota itu bila terdapat sepuluh orang benar di sana. Allah berkata bahwa oleh karena yang sepuluh itu Ia tidak akan memusnahkan kota itu. Abraham telah enam kali mengajukan usul kepada Tuhan, mengurangi jumlah lima puluh sampai sepuluh. Setelah itu, ia tidak berbeban lagi mengusulkan untuk yang ketujuh kali. Mungkin penyertaan Allah menuntun dia untuk tidak bertanya lagi. Ketika Allah memberi tahu Abraham bahwa Ia tidak akan memusnahkan kota itu karena sepuluh orang yang benar (Kej. 18:32), Abraham sangat kecewa. Lot mempunyai istri, mempunyai dua anak perempuan yang belum menikah dan beberapa anak perempuan yang telah menikah serta suami mereka. Menurut perkiraan Abraham, paling sedikit tentu ada sepuluh orang dalam keluarga Lot, termasuk menantu laki-lakinya. Yang menyebabkan Abraham heran dan kecewa ialah ketika ia mendengar bahwa hanya sepuluh orang benar pun tidak ada di Sodom.
(d) Menurut Hukum Allah yang Adil
Tantangan Abraham kepada Allah adalah menurut hukum Allah yang adil (Kej. 18:23-25). Abraham berkata kepada Tuhan, “Engkau adalah Hakim segenap bumi, apakah Engkau akan berbuat demikian? Ini tentu bukan hukum-Mu yang adil.” Doa syafaat yang tepat bukan menurut kasih Allah atau menurut anugerah-Nya, melainkan menurut keadilan-Nya. Tantangan yang terkuat kepada Allah bukan berkata kepada-Nya, “Allah bukankah Engkau Allah yang mengasihi?” Kalau kita mengatakan demikian, Allah akan berkata, “Ya, Aku Allah yang mengasihi, tetapi mengasihi itu tergantung kepada-Ku. Ketika Aku senang, Aku mengasihi. Tetapi ketika Aku tidak senang, Aku tidak mengasihi. Apa salahnya jika Aku demikian?” Kita tidak dapat menjawab apa-apa. Hendaklah kita berkata kepada Allah, “Allah, bukankah Engkau Allah yang adil?” Bila kita menantang Allah menurut keadilan-Nya, Allah akan menjawab, “Tentu, Aku Allah yang adil.” Ia tidak akan berkata, “Kalau Aku senang, Aku akan adil, tetapi kalau Aku tidak senang, Aku tidak akan adil.” Jika begini di manakah keadilan Allah? Kita harus menantang Allah menurut keadilan-Nya, karena keadilan-Nya lebih mengikat Dia daripada kasih dan anugerah-Nya. Allah tidak harus mengasihi atau menganugerahi, tetapi Ia harus bertanggung jawab kepada keadilan-Nya. Tidak ada yang mengikat Allah sekukuh keadilan-Nya. Setiap pendoa yang baik tahu cara yang berhasil untuk mengikat Allah, yaitu menantang Dia menurut keadilan-Nya. Hendaklah kita mengatakan, “Apakah hakim segenap bumi akan berbuat demikian? Dan Allah akan menjawab, “Tidak, sebagai Allah yang adil, Aku takkan berbuat begitu, namun kamu harus mengatakan kepada-Ku jumlah yang tepat untuk membenarkan kota itu. Jika kamu mengatakan jumlah itu, Aku akan bertindak benar dan adil seturut kebenaran dan keadilan-Ku. Aku tidak akan memusnahkan kota itu.” Doa syafaat yang tepat tidak memohon kepada Allah menurut kasih-Nya, tetapi menantang Allah menurut hukum Allah yang adil. Saya percaya, dalam pemulihan Tuhan banyak orang akan dibawa ke dalam doa syafaat demikian ini. Ketika Allah turun mengunjungi Abraham pada level manu-sia, Ia sedang mencari seorang pendoa syafaat. Hari ini sekali lagi Allah telah turun pada level manusia, bukan mencari perorangan, melainkan mencari orang korporat. Saya percaya dalam waktu yang tidak lama lagi, di bumi akan terdapat sekelompok orang yang sepenuhnya seperti Abraham yang mengetahui hati Allah dan berdoa syafaat secara menantang di dalam penyertaan-Nya. Kita boleh berkata kepada Allah, “Tuhan, tahukah Engkau bahwa Kau telah tegas berjanji kepada kami dalam Perjanjian Baru untuk menyelesaikan pekerjaan baik yang telah Engkau mulai itu?” Abraham tidak meratap mohon Allah mengampuni Sodom oleh karena Lot, tetapi ia menantang-Nya. Demikian pula, kita seharusnya tidak menangis sambil memohon, tetapi menantang Allah. Ia tidak mau mendengar tangisan kita. Ia mau mendengar doa syafaat kita yang menantang.
(e) Mengutarakan Maksud Hati Allah
Doa syafaat Abraham mengutarakan maksud hati Allah akan Lot. Karena itu, ia berdoa menurut maksud hati Allah, dengan sendirinya doanya adalah mengutarakan maksud hati Allah. Doa syafaat yang tepat selalu mengutarakan mak-sud hati Allah. Inilah satu prinsip doa syafaat yang lainnya lagi. Jika doa syafaat kita dimulai dengan wahyu Allah yang kita nampak dalam persekutuan intim dengan-Nya, apa yang kita katakan kepada-Nya dalam doa syafaat kita, itulah mengutarakan maksud hati-Nya, mengumandangkan maksud hati-Nya. Doa syafaat yang sejati bukan mengutarakan maksud kita, melainkan maksud Allah. Bukan pula menuntut sesuatu menurut maksud kita, melainkan menuntut tergenapnya maksud Allah.
(f) Merampungkan Kehendak Allah
Doa syafaat harus pula merampungkan kehendak Allah. Walaupun Allah hendak menyelamatkan Lot, tetapi tanpa adanya doa syafaat Abraham, Allah tidak berdaya melaksanakan kehendak-Nya. Doa syafaat yang tepat selalu menyiapkan jalan bagi Allah untuk merampungkan kehendak-Nya. Allah berharap menyelamatkan Lot dari Sodom, tetapi Ia harus mencari jalan untuk melakukan hal ini. Maka Ia mengunjungi Abraham dengan tujuan agar Abraham dapat berdoa syafaat bagi Lot. Abraham sangat mengerti hati Allah, dan Allah pun membuka hati-Nya kepadanya. Segera Abraham merespon maksud hati Allah dalam suatu doa syafaat yang menantang. Doa syafaat semacam ini adalah pengutaraan maksud hati Allah dan merampungkan kehendak-Nya.
Doa syafaat yang menantang semacam ini sangatlah dibutuhkan dalam hidup gereja pada hari ini. Semua berita yang Tuhan berikan kepada kita itu untuk merampungkan kehendak-Nya. Dalam pelajaran hayat ini kita bukan hanya bermaksud mempelajari Alkitab, tetapi yang terutama bagi pemulihan Allah, memberitakan firman Tuhan pada hari ini. Setelah membaca berita ini, kami yakin bahwa banyak orang saleh yang terkasih akan memberi respon terhadap firman-Nya dan mempunyai pengenalan yang penuh terhadap doa syafaat yang sesungguhnya, sehingga gaung yang kuat memenuhi pemulihan Tuhan. Mulai hari ini, kita akan melatih roh kita untuk berdoa syafaat bagi gereja dengan menantang Allah me-nurut maksud hati-Nya. Kita tahu maksud hati-Nya adalah menyelamatkan umat-Nya keluar dari kota yang jahat, menyelamatkan Lot hari ini dari keadaan yang terkutuk. Bila kita sangat dekat dengan Allah, bersekutu intim dengan-Nya, kita dapat mengerti hati-Nya dan mengumandangkan maksud hati-Nya dalam doa syafaat yang mulia. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat keefektifan doa syafaat Abraham. Dalam Kejadian 19:27-29 kita nampak bahwa Abraham bangun pagi-pagi, memandang kota itu dan berprihatin terhadap Lot. Dalam Kejadian 19:29 dengan jelas kita diberi tahu Allah ingat Abraham dan “mengeluarkan Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggang-balikkan itu”. Doa syafaat yang efektif ini akan makin dikenal dan dilaksanakan di tengah-tengah kita dalam hidup gereja.
(g) Hingga Allah Telah Selesai Berfirman
Pasal ini tidak berakhir dengan “Abraham berbicara”, tetapi berakhir dengan “Allah berbicara”. Ayat 33 mengatakan, “Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham.” Catatan di sini merupakan catatan doa syafaat Abraham, tidak mengatakan Abraham sudah selesai berbicara, tetapi Allah yang selesai berfirman. Doa syafaat yang tepat selalu Allah yang berbicara. Seolah-olah kita berbicara, namun sesungguhnya Allah yang berfirman dalam pembicaraan kita.
Saya suka dengan ayat ini yang mengatakan TUHAN pergi setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham. Sering kali dalam doa kita, kita mengatakan “amin”, ini seolah-olah kita mengatakan sampai jumpa lagi kepada Allah. Saya dapat ber-saksi, beratus-ratus kali saya mengatakan sampai jumpa lagi kepada Tuhan sebelum Ia selesai berfirman kepada saya. Saya berdoa beberapa saat lalu mengatakan, “Amin,” artinya sampai jumpa lagi. Namun di dalam kedalaman roh saya, saya merasa Allah berkata, “Kamu sedang apa? Aku belum selesai berbicara denganmu. Mengapa kamu tidak tinggal sebentar lagi?” Banyak di antara kita mempunyai pengalaman yang demikian. “Amin” kita, sampai jumpa lagi kita diucapkan terlalu cepat. Kita perlu tinggal dalam penyertaan Allah hingga Ia selesai berfirman kepada kita. Doa syafaat kita haruslah mengutarakan apa yang Allah katakan.