HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH BERKOMUNIKASI DENGAN ALLAH YANG BERADA PADA LEVEL MANUSIA
Dalam berita ini kita sampai pada Kejadian 18, yang mencatat keintiman pengalaman Abraham terhadap Allah. Jika kita mengamati secara keseluruhan pengalaman Abraham terhadap Allah dalam pasal 11—24, kita akan nampak pengalamannya dapat dibagi dalam empat bagian besar. Pertama, Abraham dipanggil Allah ketika ia tinggal di tanah yang pe-nuh setan di Ur-Kasdim; dengan tiba-tiba, membuat dia sangat terkejut, Allah yang Mahamulia menampakkan diri kepadanya (Kis. 7:2). Itulah permulaan pengalaman Abraham terhadap Allah.
Kedua, dalam pasal 12—14, Abraham menempuh kehidupan bersandar Allah dengan iman bagi eksistensinya. Ia dipanggil Allah untuk menggenapkan tujuan Allah, tetapi sebagai manusia ia masih memerlukan makanan, perlindungan, dan semua yang diperlukan bagi kelangsungan hidupnya. Sekarang ia merupakan pendatang baru di tanah yang baru itu, tidak memiliki sesuatu. Sebab itu Allah melatihnya agar ia dapat menggunakan iman yang telah Allah infuskan kepadanya untuk hidup bersandar pada Allah bagi eksistensinya.
Berikutnya, pasal 15—17 merupakan bagian yang ketiga, Allah melatihnya mengenal anugerah untuk menggenap-kan tujuan-Nya. Di sini Abraham belajar tidak mengerjakan sesuatu pun oleh dirinya sendiri atau dengan dirinya sendiri, melainkan segala yang dikerjakannya adalah oleh dan de-ngan Allah. Meskipun Allah memerlukannya, namun Allah tidak memerlukan sesuatu yang berasal dari dia. Semua yang Abraham miliki, apa adanya, dan apa yang dapat dikerjakan-nya, secara mutlak tidak diakui oleh Allah. Sedikitnya Allah telah menghabiskan waktu selama lima belas tahun untuk melatih Abraham dalam hal ini. Selama tiga belas tahun Allah tidak menampakkan diri kepadanya, karena ia tidak berlaku dengan sepatutnya. Abraham telah dilatih, didisiplin, dan sudah sangat berkenan pada hati Allah, namun ia tidak hidup di hadapan Allah; ia hidup di hadapan istrinya, orang yang mengusulkan agar ia menggunakan kekuatan tubuh dagingnya untuk melahirkan keturunan bagi kegenapan tujuan Allah. Abraham mengharapkan Ismael, keturunannya, dapat menggenapkan tujuan Allah. Akan tetapi Allah seolah-olah berkata, “Tidak! Aku tidak akan mengakui Ismael. Ia hasil dari usahamu, hasil dari pekerjaanmu. Aku menolaknya, dan kamu tidak seharusnya mempertahankannya. Abram, kamu harus tahu bahwa apa yang dapat kamu perbuat bagi-Ku sama sekali tidak berarti bagi-Ku. Aku hanya memerlukan kamu, bukan kesanggupan dan kekuatanmu. Aku tidak memerlukan Lot, Eliezer, Hagar atau segala sesuatu milikmu. Kamu harus hidup di hadapan-Ku, bukan mengerjakan segala sesuatu berdasarkan dirimu sendiri ataupun oleh dirimu sendiri. Kamu harus dipelihara dan disuplai oleh buah dada ilahi-Ku yang serba cukup. Kemudian barulah kamu dapat menghasilkan sesuatu yang tidak saja untuk-Ku, tetapi juga dari diri-Ku. Aku hanya menerima dan memperkenan apa yang berasal dari diri-Ku sendiri. Tanpa kamu, Aku tidak bisa menghasilkan Ishak. Aku akan menghasilkan Ishak melalui kamu, tetapi bukan yang berasal darimu. Kamu adalah saluran-Ku, bukan sumber. Kapan kala kamu menjadikan dirimu sebagai sumber, berarti kamu menghina Aku. Aku adalah satu-satunya sumber yang serba cukup. Kamu telah mengenal Aku sebagai Allah yang Mahatinggi, Tuhan langit dan bumi. Sekarang kamu harus mengenal Aku sebagai El– Shaddai, sebagai Sang Mahakuasa serba cukup yang berbuah dada. Tinggallah di bawah buah dada-Ku dan menerima suplai serta pemeliharaan secara tetap dan terus-menerus oleh segala sesuatu-Ku yang serba cukup. Inilah caranya hidup di ha-dapan-Ku.” Setelah Abraham belajar mengenal anugerah untuk menggenapkan tujuan Allah, lalu Allah mengubah baik nama maupun sifatnya. Allah mengubah susunan Abraham melalui menyunatnya. Abram diakhiri dan timbullah Abraham. Inilah tiga bagian besar pengalaman Abraham terhadap Allah.
d. Hidup dalam Persekutuan dengan Allah
(1) Berkomunikasi dengan Allah yang Berada pada Level Manusia
Segera setelah ini, kita dibawa ke dalam bagian yang mulia — hidup dalam persekutuan dengan Allah (18:1 — 24:67). Abraham telah dipanggil, ia telah belajar bagi kelangsungan hidupnya dengan iman kepada Allah. Ia pun telah mengenal anugerah, untuk penggenapan tujuan Allah. Sekarang ia dibawa masuk dalam tahap persekutuan secara terus-menerus dengan Allah. Bagian keempat dari pengalamannya dapat ditemukan dalam pasal 18—24. Segala perkara yang diwahyukan dalam ketujuh pasal ini merupakan aspek keintiman persekutuan Abraham dengan Allah.
Dalam bagian pengalamannya yang pertama, Allah menampakkan diri kepada Abraham sebagai Allah yang mulia. Dalam bagian yang kedua, Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang Mahatinggi, Tuhan langit dan bumi. Dalam bagian ketiga, Ia datang kepada Abraham sebagai El–Shaddai, seba-gai Sang Mahakuasa serba cukup yang berbuah dada. Dan pada bagian keempat Allah datang dengan cara yang sangat lain — sebagai manusia. Ketika Abraham sedang duduk di depan pintu kemahnya sewaktu hari panas terik, ia melihat tiga orang mendatanginya (ayat 1-2). Dalam bahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan dengan “orang” di dalam ayat 2 itu berarti orang biasa, umat manusia. Allah menampakkan diri kepada Abraham dalam keadaan seperti itu. Mulanya, Abraham tidak mengetahui bahwa salah satu dari ketiga orang itu adalah TUHAN, Yehova, dan dua orang lainnya adalah malaikat.
Dari semua bentuk penampakan Allah ini — yaitu se-bagai Allah yang mulia, sebagai Allah yang Mahatinggi, se-bagai El–Shaddai, dan sebagai orang biasa — manakah yang lebih Anda sukai? Apakah Anda lebih menyukai Allah menyatakan diri kepada Anda sebagai Allah yang mulia? Jika Ia datang dalam keadaan demikian, pastilah Anda akan menjadi takut. Ataukah Anda lebih menyukai Ia datang sebagai Allah yang Mahatinggi? Jika Presiden Amerika datang kepada saya dan berkata, “Akulah Presiden Amerika yang mahatinggi datang mengunjungi rakyat kecil”, saya akan merasa cang-gung. Tetapi jika ia datang sebagai orang awam sama seperti saya, saya akan berkata, “Tuan, apa kabar? Silakan masuk dan beristirahatlah, makanlah sedikit makanan.” Jika ia datang dengan keadaan yang demikian, dan kemudian baru menyatakan bahwa dirinya adalah Presiden Amerika, barulah saya akan mempunyai waktu yang indah bersamanya. Dari keempat cara penampakan diri Tuhan di atas, saya lebih suka kalau Ia datang kepada saya dalam wujud manusia biasa, bukan di dalam mulia ilahi-Nya, dalam posisi kemahatinggian-Nya, ataupun dalam keserbaadaan-Nya.
Kita semua perlu mengalami Allah kita sampai tingkatan yang seperti ini. Pada permulaan pengalaman kita, kita merasakan Dia sebagai Allah yang mulia. Tetapi semakin kita mengalami Dia, semakin kita menyadari Ia datang dalam rupa manusia, sama seperti kita. Jika Allah tidak datang kepada Abraham dalam rupa manusia, bagaimana Abraham dapat disebut sebagai teman Allah? Kejadian 18 mewahyukan Abraham dan Allah saling bercakap-cakap sebagai teman. Abraham berkata kepada-Nya, “Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini” (ayat 3-4). Abraham menyediakan air bagi Allah untuk membasuh kaki-Nya, dan Allah beristirahat di bawah pohon di depan kemah Abraham.
Sedikit sekali orang Kristen yang dapat berpikir bahwa Allah sudi datang dalam wujud manusia biasa, beristirahat di bawah naungan sebuah pohon, dan membasuh kaki-Nya dengan air yang disediakan manusia. Menurut pikiran Anda, manakah yang lebih menyenangkan — Allah duduk di atas takhta dan menantikan kita datang membungkukkan diri serta menyembah-Nya, atau Allah yang duduk di bawah pohon sambil membasuh kaki-Nya? Sebelum kaki Tuhan Yesus diba-suh dengan air mata perempuan di rumah Simon (Luk. 7:38, 44), kaki Allah telah dibasuh di depan kemah Abraham. Ke-tika Yesus berada di rumah Simon sedang kaki-Nya dibasuh dan diurapi, para iman Yahudi menyembah Allah di Bait Suci. Di manakah Allah pada saat itu — di Bait Suci Yerusalem atau di rumah Simon? Sudah tentu Ia berada di rumah Simon. Demikian juga halnya, di manakah Allah dalam Kejadian 18 — duduk di takhta-Nya menunggu Abraham menyembah-Nya atau membasuh kaki-Nya di bawah pohon di depan kemah Abraham? Betapa menakjubkan, Ia dengan rupa manusia biasa, menerima pembasuhan kaki-Nya di depan kemah Abraham! Dalam pengalaman Anda, di manakah Allah Anda berada? Duduk di atas takhta di surga atau menerima pembasuhan kaki-Nya di depan pintu kemah Anda? Anda lebih suka mempunyai Allah yang duduk di atas takhta menunggu Anda berkata, “Kudus, kudus, kudus” kepada-Nya, atau Anda lebih senang mempunyai Allah yang duduk di depan pintu kemah Anda? Pada kedudukan setingkat dengan Abraham dan dengan rupa manusia, Allah datang ke hadapan Abraham. Ketika Ia datang dalam keadaan yang demikian, maka Ia dan Abraham dapat menjadi teman. Dalam pasal ini tidak ada sujud menyembah atau rasa takut, melainkan suatu keintiman yang manis. Betapa eloknya! Siapakah Allah Anda hari ini? Apakah Ia hanya Allah yang mulia, Allah yang Mahatinggi, dan El–Shaddai, ataukah Allah yang dalam rupa manusia biasa sama seperti adanya kita ini?
Saya tidak mengatakan bahwa Allah dalam Kejadian 18 adalah manusia yang biasa, melainkan mengatakan bahwa Ia berada dalam rupa manusia biasa. Salah satu dari ketiga orang yang menampakkan diri kepada Abraham dalam Kejadian 18 adalah Allah Yehova. Ayat 13 menyebut “TUHAN”, kata Ibraninya ialah Yehova. Yang datang ke hadapan Abraham dalam rupa manusia ialah Allah Yehova.
Bertahun-tahun yang lalu ketika saya membaca Kejadian 18, saya banyak disulitkan. Dalam pasal ini Abraham benar-benar sudah nampak Tuhan, tetapi Perjanjian Baru mengatakan tidak seorang pun pernah nampak Allah (Yoh. 1:18). Sebenarnya Abraham bukannya melihat Allah dalam rupa ilahi-Nya, melainkan nampak Allah dalam rupa manusia. Allah menyatakan diri kepadanya dalam rupa manusia. Sama halnya ketika Tuhan Yesus berada di bumi. Orang-orang bu-kannya melihat Allah dalam rupa ilahi-Nya, melainkan melihat Allah dalam rupa manusia Yesus itu. Pertama, Allah menyatakan diri kepada Abraham dalam mulia ilahi-Nya. Kemudian Ia datang dalam kedudukan kemahatinggian-Nya dan sebagai El–Shaddai, Sang Mahakuasa yang berbuah dada. Terakhir Ia datang dalam rupa manusia. Abraham bukannya nampak rupa Allah, melainkan nampak rupa manusia. Ia melihat tiga orang dan pada mulanya ia tidak menyadari bahwa salah satu dari tiga orang itu adalah Yehova.
Allah senang menyatakan diri kepada kita dengan cara yang demikian. Ia tidak datang dalam rupa Allah, melainkan dalam rupa manusia, dan tidak mengumumkan Dia adalah Allah Yehova. Allah bercakap-cakap dengan Abraham seperti seseorang bercakap-cakap dengan orang yang lain. Tiba-tiba Ia bertanya kepada Abraham, “Di manakah Sara istrimu?” Hal ini mungkin mengejutkan Abraham dan mungkin ia lalu berpikir, “Orang ini mengenal istriku! Bagaimana ia bisa mengenalnya? Bukankah ia pendatang baru?” Kemudian Tuhan berkata, “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu hayat” (ayat 10 Tl.). Mungkin Abraham bertanya, “Siapakah Engkau? Engkau pasti adalah El–Shaddai yang memberiku janji tentang kelahiran Ishak” (17:19, 21). Mungkin Abraham masih ragu-ragu akan hal ini hingga Allah berkata, “Sara, istrimu akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Mendengar hal ini Sara pun tertawalah. Tak seorang pun yang mengetahui sewaktu Sara tertawa di dalam hatinya, tetapi Tuhan berkata, “Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua?” (ayat 13). Pada saat itu Tuhan dengan jelas menyatakan kepada Abraham bahwa Dia adalah Allah dengan berkata, “Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN (Yehova)?” (ayat 14). Ketika Sara menyangkal bahwa ia telah tertawa, TUHAN pun berkata, “Tidak, memang engkau tertawa!” (ayat 15). Ini menyatakan bahwa Dialah Tuhan yang Mahatahu, Allah yang mengetahui segala sesuatu, bahkan segala yang ada di dalam hati manusia. Saat ini Abraham baru jelas bahwa orang ini adaah Allah yang Mahakuasa, El–Shaddai. Sama halnya, murid-murid Yesus secara berangsur-angsur mengenal manusia Yesus ini adalah Allah.
Kita semua perlu mengalami Allah secara demikian. Kita tidak lagi menganggap bertemu dengan Allah sebagai liturgi keagamaan dengan berkata, “Sekarang saatnya menyembah Allah, maka aku harus berpakaian rapi, menyisir rambut, dan dengan khidmat berjalan ke gereja, di sana aku akan bertemu dengan Allah.” Jika kita menempuh jalan ini, Allah tidak akan menampakkan diri kepada kita. Sering kali Allah mengunjungi kita ketika kita sedang duduk-duduk di depan pintu kemah kita. Sekalipun kita tidak bersiap-siap menyembah Allah, kita nampak seseorang mendatangi kita dan memintanya tinggal sejenak bersama kita. Akhirnya barulah kita tahu bahwa orang ini adalah Allah. Punyakah Anda pengalaman seperti ini? Menurut agama, Allah mengun-jungi orang-orang yang ada di dalam gedung kebaktian atau kapel. Tetapi Allah sering mengunjungi kita dengan cara yang biasa sekali, cara yang biasa ini bahkan kelihatan luar biasa dalam mata keagamaan. Saya menyukai Allah yang menyatakan diri kepada Abraham dalam rupa manusia di depan pintu kemahnya. Banyak saudara saudari yang mengalami ini ketika mereka memasak atau sedang mencuci pakaian, Allah datang kepada mereka seperti sahabat karib dalam suasana yang sangat intim. Banyak saudara juga memiliki pengalaman yang sama seperti ini. Ketika mereka sedang mengerjakan pekerjaan mereka atau sedang beristirahat di rumah, Allah datang kepada mereka sebagai seorang teman yang sangat intim, sehingga timbullah percakapan yang intim dengan Tuhan. Inilah pengalaman kita ketika Tuhan datang mengunjungi kita pada level kita, sehingga kita dapat berkomunikasi dengan-Nya seperti seorang teman yang intim.
Pada keempat pengalaman Abraham itu, di manakah Anda berada? Apakah Anda mengalami Allah sebagai Allah yang mulia, sebagai Allah yang Mahatinggi, sebagai El– Shaddai, ataukah sebagai Dia yang di dalam rupa manusia biasa itu? Adakah Anda hidup di dalam persekutuan yang intim dengan Allah pada level manusia? Betapa manisnya ketika Allah datang kepada kita bukan di dalam kemuliaan ilahi-Nya ataupun di dalam posisi kemahatinggian-Nya, me-lainkan di dalam rupa manusia!
(a) Setelah Penyunatan Abraham
Persekutuan Abraham dengan Allah dimulai setelah ia disunat dan dirinya diakhiri (17:24-27). Ia bukan hanya su-dah dipanggil dan belajar hidup oleh iman kepada Allah bagi eksistensinya, tetapi juga belajar menolak dan menyangkal kekuatan alamiahnya, dalam setiap perkara belajar percaya kepada Allah untuk penggenapan tujuan Allah. Setelah ia menjadi orang yang demikian, ia mulai mempunyai kehidupan dalam persekutuan dengan Allah. Dalam keadaan Abraham sudah disunat, Allah datang mengunjungi dia, dan sebagai seorang yang tersunat, Abraham mempunyai persekutuan yang intim dengan Allah yang mengunjunginya. Ia tidak perlu pergi kepada Allah, Allah yang datang mengunjunginya. Agama selalu menyuruh orang pergi menyembah Allah, tetapi Kejadian 18 mewahyukan Allah datang mengunjungi orang yang tersunat. Orang yang tersunat tidak perlu pergi ke tempat ibadah atau katedral; kemahnya menjadi tabernakel Allah, tempat Allah menikmati pelayanan makanan dan air dari orang yang tersunat. Hal ini bisa terjadi setelah daging kita disunat dan orang alamiah kita diakhiri, kemudian Allah datang mengunjungi kita, dan kita melayani-Nya dengan air dan makanan agar persekutuan kita dengan Dia terasa intim dan segar bagi Dia.
(b) Sebagai Teman Allah
Ketika Abraham hidup di dalam persekutuan dengan Allah, Allah menganggapnya sebagai seorang teman (Yak. 2:23; Yes. 41:8; 2 Taw. 20:7). Percakapan antara Abraham dengan Allah dalam pasal ini mirip dengan percakapan antara dua orang teman. Ini terjadi di dekat pohon tarbantin di Mamre di Hebron, tempat tinggal Abraham yang Allah perkenan (13:18). Nama Hebron dalam bahasa Ibrani berarti persekutuan, komunikasi, dan persahabatan. Di tempat persekutuan dan persahabatan inilah terjadi persekutuan, yaitu Allah datang mengunjungi Abraham sebagai seorang teman, dan Abraham pun menyambut Allah sebagai seorang teman, menyediakan air bagi Allah untuk membasuh kaki-Nya, untuk menyegarkan Dia, dan memberi Allah makan dengan ma-kanan yang berlimpah untuk kepuasan-Nya. Abraham melakukan semuanya ini di dalam persekutuan yang intim dengan temannya di depan pintu kemahnya di bawah naungan pohon tarbantin, bukannya di dalam persembahan keagamaan kepada “Allah” di katedral ataupun di gedung kebaktian di bawah pelayanan seorang “imam” atau seorang “pendeta”.
Ketika Abraham sedang duduk-duduk di depan pintu kemahnya untuk menyejukkan dirinya dari teriknya hari itu, Allah mendatanginya beserta dua malaikat-Nya. Ketika ia nampak mereka mendatanginya, ia pun lari untuk menyambut mereka dan memintanya untuk tinggal bersama dia, ia menyediakan air untuk membasuh kaki mereka dan melayani mereka dengan makanan yang berlimpah, tiga buah roti dari tepung yang terbaik yang dipanggang, seekor anak lembu yang empuk dan baik, dadih dan susu (ayat 4-8). Pada zaman dulu, tiga sukat sama dengan satu efa. Menurut 1 Samuel 1:24 dan Hakim-hakim 6:19, ukuran biasa untuk suatu makanan adalah satu efa tepung yang baik. Mengapa kemudian 18:6 dan Matius 13:33 menyebutnya tiga sukat, bukannya satu efa? Karena baik dalam Kejadian 18 maupun dalam Matius 13, tiga sukat tepung yang baik menyatakan kebangkitan Kristus di dalam keinsanian-Nya. Kristus yang sedemikian ini adalah tepung yang baik yang dipanggang menjadi roti, menjadi makanan baik bagi Allah maupun manusia. Abraham juga menyediakan anak lembu yang empuk. Anak lembu ini, seperti anak lembu yang gemuk yang dipakai untuk memberi makan anak yang hilang dalam Lukas 15:23. Ini juga melambangkan Kristus. Selain itu Abraham juga melayani Allah dan kedua malaikat itu dengan dadih dan susu. Allah minum susu dari tanah yang indah lebih dulu daripada umat Israel. Roti, anak lembu, dadih, dan susu semuanya menyatakan kelimpahan Kristus yang almuhit untuk memuaskan Allah dan manusia.
Sekalipun Alkitab tidak menyebutkan Abraham menyediakan makanan ini kepada Allah sebagai suatu persembahan, namun sebenarnya ia telah berbuat demikian. Tahun-tahun selanjutnya, ketika anak-anak Israel pergi merayakan pesta tahunan, mereka mempersembahkan kepada Allah hasil-hasil tanah Kanaan, hasil-hasil tiap-tiap hayat tumbuh-tumbuhan atau hayat binatang. Pada prinsipnya, dalam Kejadian 18, Abraham melakukan hal yang sama. Kapan kala kita menikmati persekutuan yang indah dengan Allah, menikmati persekutuan yang intim dengan-Nya, pada saat itu bukan hanya Allah menyuplaikan Kristus kepada kita, kita pun mempersembahkan Kristus kepada Allah, mempersembahkan kepada-Nya kelimpahan Kristus bagi kenikmatan-Nya. Dengan kata lain, kita mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai tiga sukat tepung yang baik, sebagai anak lembu yang empuk dan baik, dan sebagai dadih dan susu. Terima kasih kepada Tuhan, setidak-tidaknya kita memiliki pengalaman seperti ini. Ketika kita menikmati keintiman persekutuan dengan Allah, kita tidak hanya menerima Kristus dari Allah, kita pun mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai makanan Allah. Kita mempersembahkan Kristus di dalam kebangkitan keinsanian-Nya sebagai tiga sukat tepung yang baik, kita mempersembahkan Kristus sebagai anak lembu yang empuk dan baik, dan kita menyediakan semua kelimpahan Kristus ini kepada Allah sebagai kenikmatan-Nya. Sering kali Kristus yang saya nikmati dalam sidang pemecahan roti tidak sebanyak Kristus yang saya persembahkan kepada Allah bagi kenikmatan Allah. Ketika tamu-tamu datang mengunjungi rumah Anda, Anda tentu tidak mengharapkan mereka memberi makanan kepada Anda. Sebaliknya, Anda lebih senang memberi makanan kepada mereka. Terutama saudari-saudari suka melayani mereka dengan makanan dan memperhatikan tamu-tamu itu makan. Semakin banyak yang dimakan oleh tamu-tamu itu, saudari-saudari itu semakin senang. Kita semua perlu ada dalam keintiman persekutuan dengan Allah sedemikian, supaya kita bukan hanya menikmati Kristus, tetapi juga mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kenikmatan-Nya. Persekutuan yang tertinggi bukan ketika kita menikmati Kristus lebih banyak di hadapan Allah, melainkan ketika Allah Dia di dalam kita menikmati lebih banyak daripada yang kita nikmati. Pertemuan yang ter-tinggi dan terkaya dalam gereja adalah bila dalam pertemuan itu kita mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kenikmatan-Nya.
(c) Menerima Wahyu dari Allah
Karena Abraham menikmati persekutuan yang manis seperti ini dengan Allah, ia menerima juga wahyu dari Allah tentang kelahiran Ishak dan pemusnahan Kota Sodom. Ini adalah dua perkara dasar yang akan Allah tanggulangi atas diri kita. Kelahiran Ishak berhubungan dengan Kristus, sedangkan pemusnahan Kota Sodom berhubungan dengan penghakiman Allah terhadap dosa. Ishak harus datang dan Sodom harus musnah. Ini berarti Kristus harus datang dan dosa harus enyah. Hari ini Allah bukan hanya sedang merampungkan rencana-Nya untuk menggenapkan tujuan-Nya, tetapi sebagai Tuhan atas seluruh umat manusia, Ia juga menghakimi dosa. Prinsip ini sama dengan yang terjadi dalam setiap aspek kehidupan kita; dalam kehidupan pernikahan kita, kehidupan rumah tangga kita, kehidupan pribadi kita, kehidupan kristiani kita, dan hidup gereja (church life) kita. Yang diperhatikan Allah adalah melahirkan Kristus melalui kita dan mengakhiri semua hal dosa. Ia ingin menghasilkan Kristus dan memusnahkan “Sodom” yang ada dalam kehidupan rumah tangga, kehidupan pekerjaan kita, bahkan kehi-dupan kristiani dan hidup gereja kita. Semua wahyu yang telah kita terima dan yang akan kita terima dari Allah kebanyakan menyangkut dua hal ini. Jika Anda memperhatikan pengalaman Anda sendiri, Anda akan menemukan memang demikianlah halnya. Ketika Anda telah menerima wahyu dari Allah selama persekutuan Anda dengan Dia, itu selalu menyangkut Kristus di pihak positifnya dan dosa di pihak negatifnya. Di pihak positifnya kita nampak Kristus lebih banyak dan berkata, “Aku telah melihat sesuatu yang baru di dalam Kristus. Aku sangat benci karena aku tidak lebih banyak hidup berdasarkan Dia.” Inilah wahyu tentang ke-lahiran Ishak, wahyu tentang Kristus dilahirkan dalam ke-hidupan kita. Tetapi di pihak negatif kita nampak dosa-dosa kita dan berkata, “Oh Tuhan, ampunilah aku. Sungguh masih banyak rasa egois, rasa gundah, rasa iri hati di dalamku. Aku memiliki sangat banyak kegagalan, kekurangan, bahkan perkara-perkara dosa. Tuhan, aku menghakimi perkara-perkara ini, dan menginginkan semuanya ini dimusnahkan!” Hal ini, dalam prinsipnya merupakan penghakiman Allah dan pemusnahan dosa. Dalam kehidupan kristiani kita, Kristus harus dibawa masuk dan “Sodom” harus dimusnahkan. Demikian juga, dalam hidup gereja, Kristus harus bertambah dan dosa harus dimusnahkan.
1) Mengenai Kelahiran Ishak Melalui Sara
a) Janji Dikukuhkan
Bagaimana Kristus dapat dilahirkan? Pertama, ada janji. Janji mengenai kelahiran Ishak dibuat bagi Abraham dalam Kejadian 17:19, 21, dan dikukuhkan dalam Kejadian 18:10. Allah tidak hanya berjanji kepada Abraham mengenai kelahiran Ishak melalui Sara, bahkan di seluruh Alkitab, terutama dalam Perjanjian Baru, ada janji Allah yang kaya mengenai Kristus. Kita memiliki janji bahwa Kristus akan menjadi hayat kita, suplai kita, dan segala sesuatu kita. Betapa banyaknya janji-janji mengenai Kristus dalam Perjanjian Baru! Semua janji ini digenapkan melalui kunjungan anugerah Allah.
b) Waktu Hayat, Waktu yang Ditetapkan
Kelahiran Ishak adalah pada waktu hayat, pada waktu yang telah ditetapkan (Kej. 17:21; 18:10, 14). Kristus selalu bertambah di dalam kita dan akan terlahir melalui kita pada waktu hayat. Kita perlu memiliki sebanyak-banyaknya waktu hayat seperti ini. Saya ingin setiap hari memilikinya sekali. Waktu hayat selalu merupakan waktu yang ditetapkan, waktu yang ditetapkan oleh Allah. Allah yang membuat penetapan, bukan Abraham. Hari ini hal ini juga berlaku untuk kita, yang membuat penetapan-penetapan adalah Allah, bukan Anda atau saya. Pengalaman-pengalaman kita yang lalu dapat menolong kita untuk mengerti hal ini. Setiap kali Allah datang mengunjungi kita untuk melahirkan Kristus, waktu itu adalah waktu yang ditetapkan, waktu hayat.
c) Abraham Telah Menjadi Tua Seperti Mati
dan Sara Telah Tak Berfungsi Lagi
Waktu hayat bagi Abraham dan Sara adalah waktu ketika mereka telah tidak memiliki sesuatu pun. Ishak dilahirkan pada saat Abraham telah tua seperti mati dan Sara telah tidak berfungsi lagi (ayat 11-13 Tl.). Demikian juga, ketika kita telah tidak mempunyai sesuatu apa pun, itulah waktu yang terbaik, waktu yang telah Allah tetapkan bagi kita untuk mendapatkan lebih banyak hayat.
d) Pekerjaan Allah yang Menakjubkan dan Ajaib
Dalam ayat 14 Tuhan berkata, “Adakah sesuatu apa pun yang ajaib (atau menakjubkan) untuk TUHAN?” (Tl.). Setiap pengalaman terhadap Kristus adalah sesuatu yang menakjubkan di mata kita, suatu pekerjaan Tuhan yang ajaib. Bagaimana mungkin Sara dapat melahirkan Ishak? Secara manusiawi hal itu tidak mungkin. Jika hal itu terjadi di atas diri kita, perkara itu juga merupakan sesuatu yang menakjubkan dan mengherankan di pandangan kita. Pengalaman orang Kristen selalu seperti ini, sebab kehidupan kristiani adalah kehidupan yang tidak mungkin. Sangat ajaib, semua hal yang tidak mungkin itu menjadi mungkin karena Kristus! Kita dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain, karena Kristus dalam pengalaman kita terhadap-Nya adalah menakjubkan dan ajaib.
2) Mengenai Pemusnahan Kota Sodom
a) Abraham Berjalan Bersama-sama dengan Allah untuk Mengantarkan Dia
Wahyu kedua yang diterima Abraham adalah perihal pemusnahan Sodom (ayat 16-21). Setelah menikmati keintiman persekutuan dengan Abraham, Allah dan dua malaikat itu merasakan puas, menjadi kuat dan segar kembali. Ayat 16 mengatakan, “Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka.” Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka dalam suatu jarak yang cukup jauh, untuk menuntun mereka, dan mengantar mereka pergi. Sering kali ketika tamu-tamu mengunjungi kita, sewaktu pulang kita berjalan bersama mereka dan mengantar mereka ke mobil mereka, kemudian menatap kepergian mereka. Abraham mengantarkan pengunjungnya seperti seorang mengantarkan temannya pergi.
b) Allah Tidak Menyembunyikan Maksud-Nya kepada Abraham
Ketika Abraham berjalan bersama-sama dengan Allah un-tuk mengantarkan-Nya, “Berpikirlah TUHAN: Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?” (ayat 17). Allah tidak dapat menyembunyikan maksud-Nya tentang menghakimi Sodom itu, kata-Nya, “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya” (ayat 20-21). Hati Allah prihatin terhadap Lot, tetapi Ia tidak dapat berbuat sesuatu baginya tanpa adanya seorang yang berdoa syafaat. Seperti yang akan kita lihat dalam berita berikutnya, Allah sedang mencari seorang yang berdoa syafaat. Meskipun Allah tidak menyebut nama Lot, tetapi dalam hati-Nya Ia mengetahui bahwa Abraham mengerti apa yang akan dilakukan-Nya. Allah dan Abraham saling bercakap-cakap dalam suasana yang rahasia, tidak satu pun dari mereka yang menyinggung nama Lot. Orang luar tidak akan mengerti apa yang mereka maksudkan, tetapi mereka saling mengerti.
(d) Masih Tetap Berdiri di Hadapan Allah
Ayat 22 mengatakan, “Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN.” Ketika kedua malaikat itu pergi, Abraham tidak mengucapkan selamat jalan kepada Tuhan. Tidak, ia masih berdiri di hadapan Tuhan. Seperti yang akan kita lihat, tujuan Abraham tetap di hadapan Tuhan adalah untuk berdoa syafaat. Dalam Kejadian 18 kita melihat bahwa Abraham, orang yang telah disunat ini, telah berdamai dengan Allah. Sekalipun Abraham tidak mengharapkan kunjungan seperti ini, tetapi Allah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia biasa, dan bercakap-cakap dengan dia seperti seorang teman. Di dalam persekutuan yang demikian intim ini sedikit pun tidak berbau agama. Di dalam persekutuan yang demikian ini Abraham menerima wahyu dari Allah, di pihak positifnya mengenai kelahiran Ishak, dan di pihak negatifnya mengenai pemusnahan Sodom. Kemudian setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan Sodom, Abraham masih berdiri di hadapan Allah. Allah telah menemukan seseorang yang kepadanya Dia bisa mencurahkan isi hati-Nya. Dalam pasal ini kita melihat keinginan hati-Nya. Dalam pasal ini kita melihat pengalaman kita yang paling manis dan paling intim dengan Allah, adalah sama seperti pengalaman yang kita miliki dengan teman kita yang terintim.