← Daftar isi Kejadian (4) · bab 6/15

MENGENAL ANUGERAH UNTUK MENGGENAPKAN TUJUAN ALLAH SUNAT UNTUK MENGGENAPKAN

TUJUAN ALLAH

Hampir semua kebenaran ilahi seperti benih tertabur dalam Kitab Kejadian. Dalam berita ini kita sampai kepada satu kebenaran yang besar dan mendasar dalam Alkitab — sunat, yang ditaburkan sebagai benih pada Kejadian 17.

Ingin memahami sunat, kita perlu melihat dua butir utama wahyu ilahi yang tertabur di dalam Alkitab. Yang pertama adalah tujuan Allah yang kekal menginginkan manusia di bumi memiliki ekspresi-Nya dan mewakili-Nya. Per-kara ini diwahyukan oleh seluruh Alkitab, dari Kejadian 1 sampai Wahyu pasal terakhir. Butir kedua, menyangkut cara yang Allah pakai untuk menggenapkan tujuan-Nya. Cara Allah menggenapkan tujuan-Nya ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia sebagai hayat dan segala sesuatu manusia, agar manusia dapat menjadi ekspresi dan wakil-Nya. Penggenapan tujuan Allah bukanlah tergantung kepada apa yang bisa kita perbuat, melainkan tergantung pada Allah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Jika kita nampak dua butir ini, kita dapat mengerti dasar kebenaran di dalam Alkitab.

Untuk menggenapkan tujuan ilahi-Nya, Allah memanggil Abraham keluar dari Ur-Kasdim, tempat setan dan berhala. Seperti yang telah kita lihat, Abraham tidak segera memberikan jawaban yang tegas terhadap panggilan Allah, melainkan menyeret-nyeret kakinya melalui lumpur dan air. Ayahnya membawa dia ke Haran, tempat setengah jalan. Karena belas kasihan Allah, Abraham di Haran hampir menjawab sepenuhnya panggilan Allah, yakni menyeberangi sungai besar, dan sampai di tempat yang Allah kehendaki dia berada. Tempat itu berdekatan dengan kota dosa Sodom. Tidak mudah bagi Abraham menetap di tempat yang Allah kehendaki dia berada, sehingga tidak lama kemudian ia terhanyut ke Mesir. Namun oleh kedaulatan Allah, Abraham yang telah meninggalkan Ur-Kasdim tempat setan, Haran di kota pertengahan jalan, dan telah menang atas Sodom kota dosa, diselamatkan keluar dari Mesir yang duniawi, serta dibawa kembali ke kota pilihan Allah.

Kita perlu mengingat kembali tiga nama orang-orang yang sangat penting, yang bersangkut-paut dengan Abraham — Lot, Eliezer, dan Hagar. Ketika Abraham meninggalkan Haran, ia membawa Lot, dan mungkin sekali memperoleh Eliezer di Damsyik dan Hagar di Mesir. Tidak ada seorang pun di antara tiga orang ini yang menolong Abraham; malahan masing-masing merupakan kesulitan. Allah menolak ketiga orang ini. Melalui kekuatan alamiahnya Abraham berkoordinasi dengan Hagar dan menghasilkan karya besarnya — Ismael. Tetapi Ismael mutlak ditolak oleh Allah.

(6) Sunat untuk Menggenapkan Tujuan Allah

Dengan latar belakang ini, kita kini melihat perihal sunat (Kej. 17:9-14). Pada Kejadian 17 Abraham telah kehilangan semua tempat di mana dulu ia pernah berada, dan orang-orang penting yang telah diperolehnya. Ur-Kasdim dan Haran telah lewat, ia juga tidak ada hubungan lagi dengan Mesir. Sekalipun ia sudah berada di tanah yang telah dijanjikan oleh Allah akan diberikan kepadanya, tetapi tanah ini masih belum diberikan kepadanya. Jadi, Abraham tidak memiliki Ur-Kasdim, Haran, Mesir, Sodom ataupun sebagian dari tanah yang dijanjikan. Tambahan, Lot memisahkan diri darinya, dan Eliezer maupun Ismael, keduanya ditolak Allah. Tinggal Abraham sendirian dengan Sara. Mereka, kedua orang tua itu, tidak memperoleh apa-apa dan tidak mampu berbuat apa-apa. Mungkin Abraham memandangi Sara dan berkata “Apa yang akan kita perbuat? Kita tidak mempunyai apa-apa, dan kita tidak dapat berbuat apa-apa.” Saat itulah Allah datang, menyatakan diri-Nya kepada Abraham sebagai El-Shaddai, Sang Mahakuasa yang serba cukup. Kemudian Allah memberi tahu Abraham, namanya harus diubah dari Abram menjadi Abraham dan nama istrinya juga harus diubah dari Sarai menjadi Sara. Setelah itu, Allah memberi tahu Abraham bahwa ia harus disunat. Abraham telah kehilangan setiap tempat dan setiap orang. Satu-satunya perkara yang masih tersisa adalah dirinya sendiri. Tetapi Allah datang menanggu-langi diri Abraham, tubuh daging, kekuatan dan kemampuan alamiahnya. Diri sendiri, tubuh daging dan kekuatan alamiah harus dikerat, disunat. Kalau kita adalah Abraham, mungkin akan berkata, “Ya Allah, bukankah Engkau tahu bahwa Engkau telah mengerat banyak dari diriku? Tidak seorang pun di seluruh bumi ini yang seperti aku. Setiap orang memi-liki tempatnya sendiri, sedang aku tidak mempunyai apa-apa. Apa yang akan Engkau perbuat sekarang — menyingkirkan hamba?” Boleh jadi Allah menjawab, “Abraham, kamu benar. Aku telah mengerat Ur-Kasdim, Haran, Mesir, Lot, Eliezer, Hagar, dan Ismaelmu. Kini Aku tidak dapat mengerat apa-apamu lagi, tetapi Aku akan mengerat kamu. Apa yang telah kauperoleh telah dikerat dari dirimu, dan apa adamu sekarang harus dikerat.” Inilah sunat.

Mengapa perlu disunat? Di satu pihak, Allah memerlukan manusia untuk menggenapkan tujuan-Nya. Di lain pihak, Allah tidak menginginkan barang apa pun yang berasal dari manusia. Namun, tidak ada satu pun dari orang-orang yang dipanggil mau mengatakan, “Ya Allah, aku bagi-Mu, tetapi aku tidak ingin sesuatu pun yang berasal dariku bagi-Mu. Aku rela Engkau mengambil semua yang aku miliki dan mengakhiri semua apa adanya aku ini.” Sebaliknya, setiap orang malahan berkata, “Puji Tuhan, Dia memanggilku. Mulai sekarang, apa yang kumiliki dan apa adaku ini adalah bagi-Nya.” Perhatikan contoh Petrus. Selama tiga setengah tahun Tuhan memberi tahu murid-murid-Nya bahwa mereka harus mengasihi-Nya dan mengikuti Dia. Tetapi tidak seorang pun dari murid-murid-Nya yang paham bahwa Tuhan tidak menginginkan sesuatu pun yang berasal dari mereka. Ketika Tuhan memberi tahu murid-murid-Nya bahwa iman mereka akan terguncang karena Dia, Petrus menjawab, “Biar pun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” dan “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau.” (Mat. 26:33, 35). Tuhan memberi tahu Petrus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Mat. 26:34). Seakan-akan Tuhan berkata kepada Petrus. “Petrus, janganlah menyombongkan diri. Kamu tidak memiliki sesuatu yang patut disombongkan. Malam ini kamu akan menyangkal Aku tiga kali.” Petrus benar-benar menyangkal Tuhan tiga kali, dan sangkalan-sangkalannya itu merupakan sunatnya yang sesungguhnya dan riil. Petrus yang angkuh dan yakin akan diri sendiri, tercabik-cabik oleh pisau sunat penyangkalannya terhadap Tuhan.

Kita semua harus tahu, meskipun Allah memerlukan kita bagi pemulihan-Nya, namun Ia tidak menginginkan apa-apa dari kita. Memang sulit bagi kita untuk memahami hal ini. Kita ini, kalau bukan menjauhi Tuhan, pasti mendekati-Nya dengan segala sesuatu yang kita miliki. Seorang saudara berbangsa Jepang mungkin berkata, “Kita, orang-orang Jepang, adalah orang-orang yang paling sabar di bumi. Aku akan melayani Tuhan dengan kesabaran orang Jepangku ini.” Tetapi Tuhan tidak memerlukan kesabaran seperti itu. Beberapa saudari mungkin berkata, “Tuhan tentunya memerlukan kita saudari-saudari, dan kita pun mau bagi-Nya. Sebagai saudari-saudari kami tidak sekasar saudara-saudara, kami sangat lemah lembut dan cermat. Dalam hidup gereja, lemah lembut dan cermat kami ini kami pakai bagi Tuhan.” Saudari-saudari, perihal kalian untuk Tuhan itu mutlak benar, tetapi Anda memakai segala sesuatu yang dari diri Anda bagi Tuhan itu mutlak salah. Karena Allah tidak menginginkan apa-apa yang dari diri kita; kita semua perlu disunat.

Benih sunat ini bukannya ditabur dalam Kejadian 12 atau 15, melainkan dalam Kejadian 17, setelah Abraham dikerat habis-habisan. Kemudian Allah menampakkan diri lagi kepada Abraham, mewahyukan diri-Nya sebagai Sang Mahakuasa yang serba cukup yang berbuah dada, dan memberi tahu Abraham agar mengubah namanya. Abraham harus mempunyai perubahan yang tuntas. Seolah-olah Allah berkata, “Abraham, kamu sekarang harus disunat. Tanpa disunat, tidak ada jalan bagi-Ku untuk mencapai tujuan-Ku melalui dirimu. Untuk mendapatkan sekelompok orang bagi tujuan-Ku, haruslah ada keturunan. Dari keturunan itulah akan keluar sekelompok orang, mereka akan mendapatkan tanah yang di dalamnya Aku mempunyai pemerintahan, membangun bait bagi ekspresi-Ku, dan memperoleh perhen-tian. Inilah tujuan-Ku. Namun, untuk mencapai tujuan-Ku ini, Aku tidak memerlukan sesuatu pun yang berasal dari-mu. Aku akan mengerjakan segalanya bagimu dan akan menjadi segalamu. Inilah sebabnya mengapa Aku mengerat setiap tanah dan setiap orang darimu. Kini Aku meminta padamu untuk bersepakat dan bekerja sama dengan-Ku agar supaya menyingkirkan dirimu ini. Aku ingin tubuh dagingmu dikerat, tetapi Aku tidak mau melakukannya secara langsung. Aku ingin kau yang melakukannya bagi-Ku. Aku menginginkan engkau yang mengerat tubuh dagingmu. Maukah engkau bekerja sama dengan-Ku?” Kita jangan sekali-kali menanggapi hal ini hanya sebagai ajaran doktrinal atau sebagai keterangan tentang cerita-cerita dalam Alkitab. Kita semua harus mengenal bahwa keperluan kita hari ini adalah penyunatan diri kita.

Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan, ada sekian banyak orang di antara kita yang telah meninggalkan Ur-Kasdim dan Haran, yang tidak lagi mempedulikan Sodom maupun Mesir; tetapi tinggal di tempat pemulihan Tuhan. Namun, bagaimana Tuhan dapat memiliki keturunan? Bagaimana Ia dapat memiliki tanah, agar Ia mempunyai hidup gereja yang layak menjadi tempat kediaman, pemerintahan, kepuasan, dan perhentian-Nya? Ini bukan karena kita melakukan sesuatu bagi Dia, melainkan hanya oleh pengeratan-Nya terhadap banyak barang yang ada pada diri kita. Kepandaian kita, kearifan kita, kemampuan alamiah, kekuatan alamiah serta semua hakiki alamiah kita harus disingkirkan oleh Tuhan. Setujukah Anda dengan hal ini? Jika setuju, mari angkat pisau sunat dan keratlah daging Anda, manusia alamiah Anda. Ini bukan perkara mengalahkan dosa atau dunia, melainkan perkara mengakhiri diri Anda sehingga Sang serba cukup itu mendapatkan jalan masuk, sehingga menjadi hayat Anda, segala sesuatu Anda, bahkan menjadi diri Anda. Inilah sunat. Semoga Roh membicarakan perkataan ini sampai ke dalam diri kita semua.

Halangan yang terbesar bagi pergerakan Tuhan dalam hidup gereja dalam pemulihan-Nya adalah kemampuan alamiah kita. Yang menghalang-halangi pergerakan Tuhan bukanlah apa yang tidak bisa kita perbuat; malahan justru apa yang sanggup kita perbuat. Abraham memakai kekuatan alamiahnya, mengakibatkan Allah menjauhinya selama tiga belas tahun. Penghalang yang alangkah besar. Sekalipun Abraham telah dikerat sangat banyak, ia masih memiliki tubuh daging, kemampuan, dan kekuatan alamiah. Oleh dan melalui tubuh dagingnya ia bersama Hagar melahirkan Ismael. Sampai Kejadian 17 tibalah saatnya bagi Allah untuk menjamah unsur penghalang tubuh daging Abraham. Seolah-olah Allah berkata, “Abraham, Aku telah mengambil banyak darimu. Hanya satu perkara yang tertinggal, yang masih menghalang-halangi anugerah-Ku bekerja di dalammu — yaitu tubuh dagingmu. Aku ingin menyingkirkan dagingmu, namun berhubung ini merupakan perkara subyektif yang di dalam dirimu, maka Aku tidak mau memaksamu. Aku menghendaki kerja samamu dengan-Ku untuk mengerat dirimu, menyunat dirimu bagi-Ku. Abraham, tidak ada suatu pun yang kauperbuat berdasarkan dirimu yang dapat Kuperke-nan. Malahan itu hanya menyakiti dan mempermalukan-Ku. Selama kekuatan alamiahmu masih tinggal, Aku tidak mendapatkan jalan masuk ke dalammu dan melahirkan Ishak. Abraham, kekuatan alamiahmu, tubuh dagingmu, harus di kerat.” Perkara sunat dalam Kejadian 17 ini sangat memegang peranan.

Apakah makna sunat? Sunat adalah menyingkirkan diri Anda. Allah mempunyai rencana dan mempunyai orang-orang yang terpanggil, tetapi terbentur satu penghambat yang membuat Dia tidak bisa masuk untuk melahirkan keturunan — yaitu tubuh daging kita. Banyak di antara kita telah mencapai titik penanggulangan tubuh daging yang sangat menentukan ini. Tahun demi tahun, sudah sekian banyak kita terkerat, tetapi tubuh daging kita, kekuatan alamiah kita, kemampuan alamiah kita masih tetap tinggal. Kalau kita tetap bertahan memakai tubuh daging kita, niscayalah Ishak tidak akan terlahir melalui diri kita, bahkan terkandung pun tidak. Jadi, keperluan kita adalah disunat dan mengakhiri diri sendiri, tubuh daging. Inilah yang disebut sunat di dalam Alkitab.

(a) Makna Sunat

1) Menanggalkan Tubuh Daging Kita

Apakah makna sunat? Pertama adalah menanggalkan tubuh daging kita (Kel. 2:11, 13a; Ul. 10:16; Yer. 4:4a; Kis. 7:51). Kebanyakan orang Kristen hari ini memperbincangkan tentang mengalahkan dosa, namun itu bukanlah penanggulangan yang mendasar. Penanggulangan yang mendasar adalah menanggalkan tubuh daging. Tubuh daging ini mencakup daging yang berdosa. Di dalam Alkitab, tubuh daging bahkan mencakup lebih banyak daripada ini. Tubuh daging juga meliputi kekuatan, kemampuan, tenaga, dan talenta ala-miah kita. Terlebih pula tubuh daging mencakup orang ala-miah, yaitu ego, “aku” kita. Karena itu, menanggalkan tubuh daging berarti menanggalkan si “aku”; yang berarti mengakhiri diri sendiri.

Bertahun-tahun yang lalu, saya menuntut perihal mengalahkan dosa, tetapi saya hanya sukses sebagian saja, sampai suatu hari saya nampak bahwa keperluan saya bukanlah mengalahkan dosa, melainkan mengakhiri diri saya ini. Saya mulai nampak, begitu “aku” diakhiri, semuanya pasti beres. Inilah sebabnya mengapa Paulus mengatakan siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa (Rm. 6:7). Semakin kita berusaha mengalahkan dosa, semakin kita terjerat dan disu-sahkan oleh dosa. Jalan terbaik untuk mengalahkan dosa adalah mati dan dikubur. Dengan demikian dosa tidak ada hubungan dengan kita. Jadi, penanggulangan yang mendasar dalam Alkitab bukanlah mengalahkan dosa, melainkan mengakhiri diri kita ini.

Walaupun Kitab Kejadian mencakup hampir semua benih kebenaran alkitabiah, tetapi tidak memuat benih tentang mengatasi dosa. Penanggulangan dosa yang sesungguhnya bukanlah mengatasinya, melainkan menyingkirkan diri kita, menyunat diri kita. Begitu kita disunat dan diri kita diakhiri, kita pasti tidak ada masalah dengan dosa. Kapan Anda masih mencoba mengalahkan dosa, berarti diri Anda masih hidup. Kapan Anda mengakhiri diri Anda, niscaya Anda sudah tidak berurusan dengan dosa. Karena itu, ini bukan soal menanggulangi dosa atau mencoba mengatasi dosa, melainkan soal mengakhiri diri kita sendiri. Inilah makna negatif dari sunat.

2) Membawa Kita ke Dalam Kebangkitan

Makna positif dari sunat adalah membawa kita ke dalam kebangkitan (Kol. 2:12). Sunat selalu dilakukan pada hari kedelapan (17:12). Dalam perlambangan, angka delapan menyatakan kebangkitan. Berarti kita tidak mungkin memiliki sunat tanpa kebangkitan. Sunat haruslah di dalam kebangkitan, dan ini selalu mengantar kita ke dalam kebangkitan, sepertinya kematian membawa orang ke dalam kebangkitan. Di satu pihak, kita telah disalib beserta Kristus dan telah dikubur beserta-Nya. Di lain pihak, penyaliban dan penguburan mengantar kita ke dalam kebangkitan-Nya. Kapan kala kita sudah diakhiri dan diantar ke dalam kebangkitan, kita akan menjadi orang yang baru. Kita tetap adalah kita, tetapi sekarang kita adalah orang yang lain, sebab kita memiliki hayat, sifat, dan konstitusi (susunan) yang lain. Kita adalah orang-orang yang ada dalam kebangkitan. Hanya dalam kebangkitan inilah kita baru mampu menggenapkan tujuan kekal Allah. Dengan kekuatan alamiah, kita tidak dapat diperkenan oleh Allah atau menggenapkan tujuan-Nya. Diri kita dan kekuatan alamiah kita harus dikerat melalui sunat. Kemudian dalam kebangkitan kita akan menjadi orang yang lain.

3) Sama dengan Baptisan

Sunat dalam Perjanjian Lama sama dengan baptisan di Perjanjian Baru (Kol. 2:11-12). Baik baptisan maupun sunat, keduanya bertujuan sama — yaitu mengakhiri orang alamiah kita dan membawa kita ke dalam kebangkitan. Mengapa kita setelah percaya ke dalam Tuhan Yesus perlu dibaptis? Sebab kita mengetahui orang lama kita sudah disalibkan bersama-Nya dan kita harus dikubur, sehingga kita bisa menjadi satu dengan Dia dalam kebangkitan-Nya. Karena itu, sunat Abraham mempunyai arti yang sama dengan baptisan kita. Baik sunat maupun baptisan, keduanya mempunyai prinsip yang sama. Abraham dibenarkan dalam Kejadian 15, tetapi disunat dalam Kejadian 17. Sebagaimana sunat menjadi tanda Abraham dibenarkan, begitu pula baptisan menandakan kita diselamatkan. Bagaimanakah kita bisa membuktikan bahwa kita telah diselamatkan? Melalui menempuh kehidupan baptisan, yakni kehidupan orang yang telah disalibkan, dikubur, dan dibangkitkan. Jika kita menempuh kehidupan yang demikian, setiap orang dapat menyaksikan bahwa atas diri kita ada pertanda keselamatan.

4) Sama Halnya dengan Perubahan Nama Manusia

Sunat sama halnya dengan perubahan nama orang (17:5-6, 15-16). Seperti yang telah kita lihat, mengubah nama ialah mengubah orang. Ketika nama Abram diubah, orangnya juga berubah. Terlebih pula pada diri Yakub. Ketika nama Yakub diubah menjadi Israel, orangnya juga berubah (32:27-28). Perubahan nama ini hanya bisa digenapi melalui sunat, melalui pengakhiran diri kita, dan diantar ke dalam kebangkitan. Maka kita bukan lagi orang alamiah, melainkan orang yang dibangkitkan. Diri kita diakhiri dan diantar ke dalam kebangkitan, itulah pengubahan orang yang sesungguhnya. Sebab itu, sunat sama dengan pengubahan nama. Sekarang kita paham mengapa pengubahan nama dan sunat, keduanya diwahyukan dalam pasal yang sama. Kedua perkara ini sebenarnya sama. Pengubahan nama dan sunat, keduanya berarti mengakhiri manusia lama kita dan mengantar kita ke dalam kebangkitan, sehingga kita menjadi orang yang lain.

(b) Tidak Tergantung pada Daging

dan Huruf yang di Lahir, Melainkan

Tergantung pada Hati dan Roh yang di Batin

Roma 2:28-29 mengatakan, “Sunat sejati bukanlah sunat yang dilakukan secara lahiriah, . . . sunat sejati ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara harfiah.” Sunat bukanlah perkara lahiriah, melainkan perkara batiniah (Flp. 3:3). Sama halnya dengan baptisan. Baptisan bukan hanya merupakan suatu upacara atau tatacara, tetapi harus-lah merupakan suatu realitas yang batiniah. Baiklah saya kisahkan kepada kalian sebuah kisah yang saya dengar 40 tahun yang lalu. Di Amerika Tengah, suatu gereja Katolik menerima dan membaptis banyak anggota yang belum beroleh selamat. Pada suatu hari, seorang pastor memercikkan tetesan air ke atas kepala seorang anak laki-laki dan mengubah namanya menjadi Yohanes. Pada waktu itu, gereja Katolik mempertahankan setiap hari Jumat orang-orang Katolik hanya diperbolehkan makan ikan, tidak boleh makan daging. Pada suatu hari Jumat, Yohanes ini hanya mempunyai persediaan makanan daging. Pastornya telah memercikkan air ke atas kepalanya dan mengubah namanya menjadi Yohanes, lalu ia mengira ia boleh juga melakukan hal yang sama terhadap daging itu. Lalu ia memercikkan air ke atas daging itu serta menyebut daging itu sebagai ikan. Setelah itu ia mulai merebus daging itu. Ketika ia sedang merebus daging, pastor lewat rumahnya, tercium olehnya aroma daging rebusan itu, lalu ia marah kepada Yohanes dan menanyakan apa yang sedang dilakukannya. Yohanes menjawab, “Aku tidak berbuat apa-apa yang salah. Ini bukan daging; ini ikan. Tidakkah engkau ingat ketika engkau memercikkan air ke atasku sambil mengubah namaku menjadi Yohanes? Aku hanya menuruti caramu dan memercikkan air ke atas daging ini serta menyebutnya ikan.” Ini bukanlah baptisan yang sesungguhnya atau pengubahan nama yang sejati. Baptisan seyogianya merupakan realitas batini yang di dalam roh, bukannya formalitas luaran yang memercikkan tetesan air di atas kepala seseorang.

(c) Sunat Kristus

Kolose 2:11 mengatakan tentang “sunat Kristus”. Sunat yang sesungguhnya adalah di dalam Kristus. Sunat Kristus, seperti baptisan, berarti mengakhiri orang lama kita dan menjadikan kita ciptaan baru, orang yang baru. Galatia 6:15 mengatakan, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Surat Kolose mewahyukan bahwa Kristus itulah bagian kita yang kekal (1:12), hayat kita (3:4), dan harapan mulia kita (1:27), kita harus hidup berdasarkan Dia sebagai keturunan ini, dan hidup di dalam Dia sebagai tanah (2:6). Jika kita ingin berperilaku di dalam Kristus, janganlah kita sampai diganggu oleh perkara-perkara lain. Jalan untuk hidup oleh Kristus dan berperilaku di dalam Kristus adalah dikubur bersama Dia. Kita yang telah dikubur bersama Kristus telah dibawa masuk ke dalam kebangkitan-Nya, bukan karena usaha kita, melainkan oleh pengoperasian Allah, yaitu pengoperasian yang berdasarkan Roh Allah. Ketika kita nampak bahwa kita telah diakhiri bersama Kristus, dikubur bersama-Nya, dan dibawa ke dalam kebangkitan-Nya, Roh yang berhuni di dalam ini pasti akan dengan suatu operasi menegaskan apa yang kita nampak, menyuplai kelimpahan Kristus ke dalam kita, sehingga kita menjadi orang yang di dalam kebangkitan. Ini bukan perkara pengajaran saja, melainkan pengoperasian Allah, pekerjaan Roh yang hidup yang di dalam kita. Inilah sunat Kristus.

Kolose 3:9-10 memberi tahu kita bahwa kita harus menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru. Inilah perubahan nama yang sesungguhnya, makna sunat yang sebenarnya dan pengalaman baptisan yang sejati. Mengerat daging berarti menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Sebagai manusia baru kita akan memiliki keturunan untuk menggenapkan tujuan Allah. Lebih dari itu, ketika kita berada dalam manusia baru, kita pun berada di tanah itu, yaitu gereja. Kesemuanya ini adalah perkara mengalami Kristus. Sewaktu kita nampak bahwa kita sudah diakhiri bersama Kristus dan dibawa ke dalam kebangkitan-Nya, maka Roh yang berhuni di batin itu akan beroperasi di dalam kita, melaluinya menegaskan perkara ini, sehingga kita dapat menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Demikian, Allah mendapatkan keturunan dan tanah untuk menggenapkan tujuan kekal-Nya.

(d) Bukan Aku, Melainkan Kristus

Galatia 2:19b-20 mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup; melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Perubahan nama yang sesungguhnya adalah mengubah “aku” menjadi “Kristus”. Inilah makna sunat dan baptisan. Sunat Kristus menggenapkan satu perkara — mengubah aku menjadi Kristus. Sehingga bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.

(e) Bukan Aku, Melainkan Anugerah Allah

Akhirnya, “bukan aku, melainkan Kristus” menjadilah “bukannya aku, melainkan anugerah Allah” (1 Kor. 15:10). Rasul Paulus berkata bahwa ia lebih berjerih payah dari-pada rasul-rasul lainnya, namun tetap bukan dia, melainkan anugerah Allah. Apakah anugerah itu? Seperti yang telah kita lihat, anugerah adalah Allah mendatangi kita sebagai segala sesuatu kita.

Dalam Kejadian 18:10 dan 14 kita nampak satu pengungkapan yang amat istimewa, “Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah (hayat) Sara mempunyai seorang anak laki-laki.” Apakah artinya? Sebenarnya tidak perlu bagi Allah untuk datang sendiri supaya Sara mempunyai anak. Jika kita ini Abraham, mungkin kita akan berkata, “Tuhan, Engkau tidak perlu berbuat sebanyak itu. Engkau boleh tetap tinggal di surga dan mengucapkan satu kata saja, maka Sara akan melahirkan seorang anak laki-laki.” Tetapi Tuhan berkata kelahiran Ishak merupakan kedatangan-Nya, kehadiran-Nya. Nampaknya kedatangan Allah sama dengan kelahiran Ishak. Allah seolah-olah berkata, “Kelahiran Ishak itulah kedatangan-Ku. Ishak bukanlah keluar dari dirimu, tetapi dari kedatangan-Ku. Di saat Aku kembali kepadamu, Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki. Kedatangan-Ku itulah kelahiran Ishak.” Saya tidak mengatakan Ishak itulah Allah atau Allah itulah Ishak. Yang saya maksud ialah nampaknya kembalinya Allah sama dengan kelahiran Ishak. Ishak itu manusia luar biasa. Meskipun ia itu manusia, namun kela-hirannya adalah hasil dari kunjungan Allah. Apakah kunjungan Allah itu? Yaitu anugerah. Sebab itu, baik Abraham maupun Sara dapat berkata, “Bukannya aku, melainkan anugerah Allah.”

Allah menyebut waktu kelahiran Ishak itu sebagai waktu yang telah ditetapkan. Penetapan ini dibuat dalam 17:21, ketika Allah berkata, “Perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.” Waktu yang ditetapkan itu disebut Allah “waktu hayat” (Tl.). Allah berkata bahwa menurut waktu hayat, Ia akan kembali dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki. Ini sangat bermakna. Setiap hal yang kita perbuat haruslah menurut waktu hayat dan oleh kunjungan Allah: Keturunan yang kita lahirkan haruslah merupakan kedatangan Tuhan dalam kunjungan anugerah-Nya. Kunjungan anugerah-Nya ini adalah kelahiran Ishak. Ini membuktikan hanya Kristus yang Allah garap ke dalam kita yang dapat menjadi keturunan yang memperoleh tanah bagi penggenapan tujuan Allah. Hal ini adalah mutlak perkara anugerah. Bukan aku, melainkan Kristus. Bukan aku, melainkan anugerah Allah. Puji Tuhan, kita benar-benar memiliki Kristus. Bukan aku, melainkan anugerah Allah yang tergarap ke dalam kita sehingga kita dapat melahirkan keturunan dan mendapatkan tanah. Kita memiliki Kristus sebagai keturunan kita dan hidup gereja sebagai tanah kita. Kesemuanya ini adalah hasil dari sunat.