MENGENAL ANUGERAH UNTUK MENGGENAPKAN TUJUAN ALLAH MEWAHYUKAN SEBUTAN ILAHI DAN
PENGGANTIAN NAMA MANUSIA UNTUK
MENGGENAPKAN TUJUAN ALLAH
Ingin memahami Kejadian 17, kita harus mengetahui apa tujuan Allah. Tujuan Allah, yang ditetapkan-Nya dalam masa azali (kekekalan yang lampau), adalah diri-Nya terekspresi di bumi melalui satu manusia korporat. Untuk memiliki manusia korporat sebagai ekspresi-Nya, Allah menciptakan alam semesta dan menurut gambar-Nya menciptakan manusia sebagai inti alam semesta, menghendaki manusia mengekspresikan dan mewakili Dia, sehingga Dia bisa memperoleh wilayah pemerintahan-Nya, untuk menjadi Kerajaan-Nya. Inilah tujuan Allah terhadap Adam dan orang-orang Israel pada waktu yang lampau. Ini juga merupakan kehendak-Nya terhadap gereja pada zaman sekarang. Juga merupakan kehendak-Nya dalam Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, dan sampai selama-lamanya. Sepanjang abad, maksud Allah tetap sama: yaitu agar diri-Nya diekspresikan dan diwakili oleh manusia di bumi.
Untuk menggenapkan tujuan-Nya, Ia memerlukan sekelompok orang. Jika Allah dapat memperoleh sekelompok orang, Ia pasti dapat menggenapkan tujuan-Nya. Tetapi jika Ia tidak dapat memperoleh sekelompok orang, berarti Ia gagal. Namun Allah kita mustahil dikalahkan! Allah menciptakan Adam dan Adam gagal. Kemudian Allah memanggil Abraham untuk menjadi kepala suku bangsa yang baru. Sekalipun Allah hanya memanggil Abraham seorang, tetapi Abraham ini pasti menjadi satu suku bangsa sehingga Allah dapat dinyatakan dan diwakili di bumi. Allah memanggil Abraham untuk tujuan ini. Seorang diri tidak mungkin meng-genapkan tujuan Allah. Sebab yang Allah perlukan bukanlah seorang diri, melainkan sekelompok orang. Abraham yang satu harus dijadikan Abraham yang banyak. Hal ini tidak da-pat dipahami menurut pengertian alamiah manusia atau di-genapkan berdasarkan kemampuan, kekuatan, atau apa adanya alamiah manusia.
(5) Mewahyukan Sebutan Ilahi dan Mengubah Nama Manusia untuk Menggenapkan Tujuan Allah
(a) Keinginan Allah Adalah Menggarapkan Diri-Nya ke Dalam Manusia
Alkitab mewahyukan cara Allah agar manusia mengekspresikan diri-Nya adalah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia. Cara Allah memang luar biasa. Meskipun Allah menginginkan kita berbuat sesuatu bagi-Nya, namun Ia tidak menginginkan kita sendiri yang mengerjakan itu, melainkan Ia masuk ke dalam kita dan melakukan segala sesuatu bagi diri-Nya sendiri melalui kita. Keinginan-Nya ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, menyatukan diri-Nya dengan kita dan kita dengan Dia. Akan tetapi, tidak ada orang yang mau ber-buat demikian bagi Allah. Setiap orang seolah berkata, “Ya Tuhan, jika Engkau menyuruh aku melakukan sesuatu, aku mau melakukannya bagi-Mu. Namun aku tidak dapat me-nerima Engkau masuk ke dalamku, untuk menyingkirkan aku dan menurunkan aku dari takhta. Ketika aku melakukan sesuatu bagi-Mu, aku ingin mengerjakan berdasarkan diriku sendiri.” Namun Allah berkata, “Sebelum kamu ber-buat sesuatu bagi-Ku, Aku harus menggarapkan diri-Ku ke dalammu. Melalui masuk ke dalammu, Aku akan menyalibkan kamu, kemudian Aku akan membuat kamu hidup berdasarkan, bersama, dan untuk-Ku. Bersediakah kamu untuk hal ini?” Abraham tidak menunggu Allah berbuat demikian, malahan seperti yang terungkap dalam Kejadian 16, ia melahirkan seorang putra berdasarkan dirinya sendiri.
(b) Mewahyukan Sebutan Ilahi
Dalam Kejadian 17:1 Allah menampakkan diri dan mewahyukan sebutan ilahi-Nya, yang mengungkapkan diri-Nya sebagai Allah yang bagaimana. Mewahyukan sebutan berarti mewahyukan orangnya, karena sebutan mewakili orangnya. Karena sebutan ilahi Allah menunjukkan persona ilahi-Nya, maka mewahyukan sebutan ilahi sebenarnya adalah mewahyukan persona ilahi. Dalam Kejadian 1:1 Allah diwahyukan sebagai Elohim, yang berarti Sang Mahakuasa, Sang perkasa, terutama yang berkaitan dengan ciptaan Allah. Dalam Kejadian 2 Allah diwahyukan sebagai Yehova, Aku adalah Yang Agung. Nama Yehova berarti “Aku adalah yang AKU adalah”, menyatakan Allah adalah yang ada sendiri dan ada selama-lamanya. Sebutan Yehova ini ditujukan kepada hubungan Allah dengan manusia. Selanjutnya, Allah menyatakan kepada Abraham, Ia adalah Allah Yang Mahatinggi, Tuhan langit dan bumi (Kej. 14:22). Ini terutama berhubungan dengan pemeliharaan Allah terhadap eksistensi umat-Nya. Namun kini dalam pasal 17, Allah datang mewahyukan diri-Nya lebih lanjut, yaitu menyatakan diri-Nya kepada Abraham sebagai El-Shaddai, Sang Mahakuasa yang serba cukup dan berbuah dada.
Keserbaadaan Allah ini terkandung di dalam buah dada ilahinya. Boleh jadi ada pembaca yang kurang senang meng-gunakan istilah “buah dada”. Akan tetapi jika Anda menggu-nakan kata “dada” niscaya kebanyakan orang akan meng-asosiasikan dengan perihal kasih. Namun sebutan ilahi dalam Kejadian 17:1 ini menandakan Allah adalah sumber suplai yang kaya, yang menjadi anugerah umat-Nya supaya mereka bisa menggenapkan tujuan-Nya. Meskipun Ia menghendaki kita menggenapkan tujuan-Nya, namun Ia tidak memerlukan sesuatu pun dari kita. Ia ingin menjadi suplai kita. Allah kita memiliki sumber suplai yang serba cukup dan sumber itu sepertilah “buah dada”. Inilah makna yang dimaksud oleh sebutan “El-Shaddai”. Gizi yang kita terima dari susu sapi masuk ke dalam kita, bahkan menjadi susunan yang membentuk kita. Semua unsur dan bahan-bahan yang terkandung dalam air susu yang kita minum menjadi susunan yang membentuk kita dan jaringan organik kita. Seolah-olah Allah berkata kepada Abraham, “Engkau telah mengenal Aku sebagai Allah Yang Mahatinggi. Meskipun itu sangat ajaib, tetapi itu masih belum cukup. Aku bukan hanya secara obyektif sebagai Allah Yang Mahatinggi bagimu, Aku masih ingin menjadi susu ilahi-Mu secara subyektif. Aku harus menjadi Sang yang kamu minum ke dalam dirimu.”
Mungkin kita dipersulit oleh pemikiran sedemikian ini. Tahun 1958, saya pertama kali memberitakan tentang makan Yesus. Setelah pemberitaan, seorang saudara yang berpendidikan tinggi berkata kepada saya, “Saudara Lee, berita itu sangat baik, hanya istilah ‘makan Yesus’ itu terlalu liar.” Ja-wab saya, “Ya Saudara, saya bukan orang pertama yang menggunakan istilah ini. Dalam Yohanes 6:35 dan 57 Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti kehidupan (hayat),” “siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Apakah Anda dipersulit oleh perumpamaan kekayaan dada Allah dengan ambing (susu) sapi? Meskipun saya lebih suka mengumpamakan Allah seperti ibu yang mesra, lemah lembut dengan dada (ribaan) yang penuh kasih sayang, tetapi seperti yang disiratkan oleh Alkitab, mengumpamakan Allah sebagai sapi dengan ambing (susu) yang kaya, mempunyai makna yang lebih dalam. Kita semua telah ditempatkan di bawah buah dada surgawi ini.
Banyak ayat Alkitab yang mendukung cara pembicaraan kita yang demikian ini. Keluaran 3:8 mengatakan, “Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.” Negeri yang baik adalah lambang Kristus yang almuhit. Pada diri Kristus ini terdapat aliran susu. Sebelum bani Israel memasuki tanah yang permai dan minum air susu, mereka minum air yang dialirkan dari gunung batu yang terbelah yang juga adalah Kristus (Kel. 17:6; 1 Kor. 10:4). Dalam Wahyu 22 kita melihat bahwa di Yerusalem Baru terdapat sebuah sungai yang mengalir dari takhta Allah dan Anak Domba. Jika kita membentangkan ayat-ayat ini bersama, kita akan nampak Allah kita hari ini adalah Allah yang dari diri-Nya mengalir sesuatu yang meleraikan rasa haus kita, yang menyuplai dan memuaskan kita. Entah kita sebut hal-hal itu air susu atau air hayat, semuanya adalah terpancar keluar dari apa adanya Allah untuk menyuplai kita. Karena itu, 1 Korintus 12:13 mengatakan bahwa kita semua diberi minum dari satu Roh, dan Roh ini adalah Allah sendiri (Yoh. 4:24). Sewaktu kita minum Roh, kita justru minum Allah. Begitu kayanya Allah kita, sehingga tidak ada satu pun contoh dan lambang yang sanggup memberikan pengertian yang sempurna tentang Dia. Jadi, Alkitab menggunakan contoh-contoh dan simbol-simbol yang berbeda untuk menyingkapkan bermacam aspek kekayaan-Nya. Air susu dan air hidup, keduanya mewahyukan betapa limpahnya Allah terhadap kita. Prinsip perkara-perkara ini adalah sama: yaitu kekayaan-kekayaan ilahi-Nya mengalir keluar sebagai anugerah yang menyuplai kita untuk menggenapkan tujuan-Nya. Kita semua harus minum dari suplai yang kaya yang mengalir dari Allah kita sehingga kita dapat menggenapkan tujuan ilahi-Nya.
Tidak seorang pun di antara kita yang cukup syarat menggenapkan tujuan Allah. Meskipun agama menganjuri kita melakukan hal-hal tertentu bagi Allah, tetapi apa yang Allah ingin kita lakukan adalah menerima Dia ke dalam kita sebagai suplai kita sehingga Dia bisa menjadi unsur yang menyusun kita, dan kita bisa menjadi satu dengan-Nya. Alkitab mewahyukan bahwa maksud Allah ialah masuk ke dalam kita, dan untuk itu kita harus makan dan minum Dia, menerima segala unsur-Nya menjadi apa adanya kita. Ketika kita menerima unsur-unsur ilahi-Nya ke dalam kita, meng-ambil bagian dengan sifat ilahi-Nya, maka unsur-unsur ilahi ini akan bekerja di dalam dan melalui kita untuk menggenap-kan tujuan-Nya.
Dalam masa Kejadian 17, Allah perlu mewahyukan sebutan ilahi-Nya ini kepada Abraham. Dalam Kejadian 16, Abraham melakukan sesuatu bukan untuk tujuannya sendiri, melainkan untuk menggenapkan tujuan Allah. Namun, apa yang diperbuat Abraham bagi penggenapan tujuan Allah itu dilaksanakan oleh apa adanya alamiahnya dan kekuatan alami-ahnya. Berhubung ia melakukan sesuatu bagi Allah berdasarkan kekuatan alamiahnya, maka Allah tidak memperkenankannya, dan menyembunyikan diri terhadapnya selama tiga belas tahun. Setelah lewat potongan waktu yang begitu lama, Allah datang dan seolah berkata, “Abraham, kamu harus tahu bahwa Aku adalah Allah yang serba cukup yang berbuah dada. Kamu harus minum suplai yang keluar dari buah dada ini, dan jangan mengerjakan sesuatu berdasarkan kekuatan alamiah atau kemampuan alamiahmu. Dengan kekuatan alamiahmu mengerjakan sesuatu bagi-Ku berarti menghina Aku. Aku tidak ingin mendapatkan sesuatu dari dirimu. Aku menginginkan dan memerlukan kamu. Tetapi Aku tidak mau kamu menggunakan kekuatan dan kemampuan alamiahmu untuk melahirkan keturunan yang dijanjikan itu. Kamu harus berdasarkan suplai-Ku melahirkan seorang keturunan. Hentikan kekuatan alamiahmu, tolaklah apa adanya alamiahmu, dan singkirkanlah kemampuan alamiahmu. Berhubung Aku ini Sang Mahakuasa yang serba cukup, maka janganlah kamu melakukan sesuatu berdasarkan dirimu sendiri atau melakukan sesuatu terpisah dari-Ku. Terpisah dari diri-Ku, kamu tidak bisa menggenapkan tujuan-Ku, sebab terpisah dari diri-Ku, kamu tidak dapat mengerjakan apa-apa bagi ekonomi-Ku. Abraham, untuk menggenapkan tujuan-Ku, kamu harus minum suplai yang keluar dari buah dada-Ku dan menerima-Ku ke dalammu. Sekarang Aku bukannya sebagai Allah Yang Mahatinggi atau sebagai Tuhan langit dan bumi saja. Kamu sudah lama mengetahui hal ini. Sekarang ini di hadapanmu Aku sebagai El–Shaddai, Sang Mahakuasa yang serba cukup dengan buah dada yang mengalirkan suplai yang kaya bagimu. Abraham, kamu harus berperilaku di hadapan-Ku. Ini berarti kamu harus minum dari buah dada-Ku dan hidup ber-dasarkan Aku.” Perkataan ilahi sangat dalam artinya, kita tidak boleh memahaminya secara permukaan saja. Untuk mendapatkan apa yang diwahyukan di sini, kita harus menyelam ke dalamnya. Alangkah baiknya, Allah menyatakan diri-Nya kepada Abraham sebagai Sang Mahakuasa yang berbuah dada yang penuh dengan suplai yang serba cukup supaya umat-Nya bisa menggenapkan tujuan-Nya.
(c) Penggantian Nama Orang
Segera setelah sebutan ilahi diwahyukan kepada Abraham, Allah memberi tahu kepadanya bahwa namanya harus diubah (Kej. 17:5). Ini sangat bermakna. Bukan hanya nama Allah yang harus diungkapkan kepada kita, bahkan nama kita juga perlu diubah, berarti kita perlu diubah. Nama Abram harus diubah menjadi Abraham. Seperti yang kita terangkan pada berita yang lalu, “Abram” berarti “bapa yang agung” dan “Abraham” berarti bapa orang banyak, yaitu bapa yang berkembang biak, “bapa atas banyak bangsa”. Jika Anda mempunyai kesempatan memilih di antara menjadi agung dan berkembang biak, manakah yang Anda pilih? Maukah Anda melepaskan terjunjung tinggi ke surga, dan rela memilih di-tekan sampai rata, sehingga bisa berkembang biak? Menurut konsepsi lahiriah kita, kita semua ingin diagungkan daripada diperbanyak. Diperbanyak itu akan menyusahkan. Karena bertambah banyak anak kita, bertambah banyak pula ma-salah kita. Masing-masing orang suka sekali diagungkan; tetapi, Allah tidak ingin mengagungkan kita, melainkan melipatgandakan atau mengembangbiakkan kita, menjadikan kita bapa banyak orang. Maukah Anda dilipatgandakan?
Seorang bapa yang agung hanya bagus untuk dipamerkan, ia tidak bisa menggenapkan tujuan Allah. Untuk menggenapkan tujuan Allah, haruslah ada banyak orang. Sebab itu, kita perlu diperbanyak, bukan diagungkan. Kebanyakan orang Kristen hari ini ingin menjadi tokoh-tokoh rohani, dan agama sangat menganjuri mereka demikian. Ketika masih muda, saya diajari dan dianjuri supaya menjadi tokoh rohani, saya tidak pernah diberi tahu bahwa saya perlu diperbanyak. Meskipun kecenderungan alamiah kita ingin diagungkan, na-mun Allah akan mengubah nama kita dari bapa yang agung menjadi bapa yang berkembang biak. Betapa perlunya konsepsi kita diubah! Orang banyak yang bagaimana yang Tuhan inginkan? Yaitu gereja, satu manusia korporat. Allah memerlukan gereja, yaitu orang banyak. Jika Anda tetap seorang diri, Allah tidak akan menemukan jalan untuk menggenapkan tujuan-Nya. Kita perlu melupakan nama lama kita dan diubah dari yang agung menjadi yang diperbanyak. Diperbanyak adalah untuk menggenapkan tujuan Allah, bukan untuk hal-hal lain. Ini bukan untuk perluasan atau perkembangan pekerjaan kita, melainkan supaya Allah di bumi mendapatkan ekspresi dan perwakilan.
Mengubah nama berarti mengubah manusianya. Ini bukan berarti misalnya saya ini asalnya seekor katak, sekarang Anda mengubah nama saya dengan ikan. Boleh saja Anda memanggil saya ikan, tetapi saya tetap adalah katak. Perubahan nama yang tepat adalah perubahan manusianya. Jika manusia kita telah diubah, sebutan kita pasti juga ikut berubah.
Dalam hidup gereja hari ini, kita tidak memerlukan bapa yang agung, tetapi memerlukan bapa-bapa yang berkembang biak. Inilah sebabnya mengapa Tuhan memimpin kita untuk memiliki hidup bersama di dalam sekian banyak keluarga. Tidak mudah bagi satu keluarga hidup bersama-sama dengan beberapa orang muda, karena kita semua suka hidup sendirian dan tinggal sendirian. Kalau para suami jujur, mereka akan mengakui bahwa kadang kala mereka merasa hidup bersama istrinya juga merupakan suatu kelebihan, mereka lebih senang sendirian. Namun, bilamana kita tinggal sendirian, mana mungkin kita bisa memelihara orang-orang muda? Pengubahan nama sangat menolong untuk hidup bersama. Mengapa pertambahan terjadi demikian lambat di dalam hidup gereja yang wajar? Tidak lain karena di antara kita kurang orang yang menjadi bapa juga kurang keluarga-keluarga untuk merawat orang-orang baru. Kita perlu keluarga-keluarga bapa yang berkembang biak untuk merawat orang banyak.
Salah satu syarat sebagai penatua adalah suka memberi tumpangan (1 Tim. 3:2). Jika Anda tidak suka memberi tumpangan berarti Anda tidak suka merawat orang lain, melainkan hanya mementingkan kekudusan diri Anda, maka Anda tidak memenuhi syarat sebagai penatua. Jika kita ingin menjadi orang yang memberi tumpangan, nama kita harus diganti, dari bapa yang agung menjadi bapa yang berkembang biak. Hanya bapa yang berkembangbiaklah yang suka memberi tumpangan. Semakin kita memelihara orang lain, semakin baik bagi hidup gereja. Ini adalah pengubahan nama yang sejati dan pengubahan persona kita yang sejati.
Bukan hanya nama Abram yang harus diubah, tetapi juga nama Sarai. Sarai berarti putri rajaku, nama ini harus diubah menjadi Sara, yang berarti putri raja. “Putri rajaku” harus diubah menjadi “putri raja”, menjadi “ibu bangsa-bang-sa”. Karakter Anda yang khas harus diubah menjadi yang umum, sehingga Anda dapat menjadi ibu bangsa-bangsa dan memelihara banyak orang.
Setiap saudara senang menjadi bapa yang agung, sedang setiap saudari ingin menjadi “putri rajaku”. Ketika nama kita Sarai, kita selalu berkata, “Suamiku, rumahku, hariku, anak-anakku, kedudukanku, fungsiku dalam sidang, segala sesuatuku.” Meskipun para saudari bisa mengatakan “putri rajaku,” namun Allah menghendaki mereka dengan sederhana berubah menjadi “putri raja”, tanpa “ku”; menjadi yang umum, bukan yang istimewa. Kita tidak seharusnya diagungkan, melainkan dikembangbiakkan; bukan khusus, melainkan umum. Khusus selalu diikuti keagungan; keduanya merupakan pasangan yang baik. Dalam hidup gereja, kita tidak seharusnya menjadi orang yang diagungkan atau dikhususkan. Kita semua harus dikembangbiakkan dan menjadi umum, menjadi “bapa sejumlah besar bangsa” atau “ibu bangsa-bangsa” (Kej. 17:5, 16).
Hidup gereja sangat tergantung pada perubahan nama. Jika saudara-saudara masih mempertahankan keagungan dan saudari-saudari masih mempertahankan menjadi khusus, bagaimana kita bisa memiliki hidup gereja? Kita hanya dapat memiliki agama dengan kebaktian hari Minggu pagi, datang berhimpun satu minggu satu kali, saling bertegur sapa satu sama lain, kemudian saling menempuh jalannya sendiri-sendiri, dan sampai jumpa di hari Minggu yang akan datang. Supaya memiliki hidup gereja, perlu ada sekelompok orang bersama terbangun dan erat bersatu, yang benar-benar me-ngerti dan mempraktekkan hidup bersama. Ketika para sau-dara tidak lagi ingin diagungkan, hanya ingin dilipatgandakan; dan para saudari tidak lagi ingin diistimewakan, hanya ingin menjadi umum; barulah kita bisa bersama-sama menempuh hidup gereja yang tepat untuk menggenapkan tujuan Allah. Pada saat itu kita akan hidup bersama dari hari ke hari, senantiasa berhimpun bersama, senantiasa menempuh hidup gereja. Ini bukan doktrin semata. Pengubahan nama bukan hanya pengubahan istilah, melainkan pengubahan apa adanya kita, pengubahan manusia kita. Jadi, kita boleh mengubah judul berita ini menjadi “Pengungkapan Apa Adanya Ilahi Allah dan Pengubahan Manusia untuk Menggenapkan Tujuan Allah”. Meskipun apa adanya ilahi Allah telah diungkapkan, namun bila kita tetap tidak berubah, maka pengungkapan diri-Nya tidak akan membawa faedah apa-apa bagi kita. Pengungkapan-Nya tergantung pada pengubahan kita. Kita perlu diubah, bukan sekadar nama, tetapi juga manusia kita. Dengan demikian, kita baru bisa menikmati Allah yang diungkapkan dan minum dari buah dada-Nya yang berlimpah.
Perihal pengubahan nama berarti pengubahan manusia, juga terlihat pada kasus Yakub dan Petrus. Untuk menggenapkan tujuan Allah, nama Yakub diubah menjadi Israel (Kej. 32:27-28); si pemegang tumit, si perampas (Yakub), telah di ubah menjadi Pangeran Allah (Israel). Jika Yakub tetap sebagai seorang perampas, ia tidak akan dipakai Allah untuk menggenapkan tujuan ilahi. Yakub harus diubah menjadi pangeran Allah. Bagi pembangunan gereja, nama Petrus, yang tadinya Simon, harus diubah menjadi Kefas, artinya batu (Yoh. 1:42). Manusia alamiah Petrus adalah lumpur, ia harus diubah menjadi batu, bahkan batu mulia, bagi pembangunan Allah (1 Ptr. 2:5), untuk menggenapkan tujuan ilahi.
(d) Anugerah yang Cukup
Untuk Menggenapkan Tujuan Allah
Bersandarkan belas kasihan Tuhan, kita tidak percaya pada diri sendiri, juga tidak percaya kepada orang lain. Kita tidak mempercayai orang, sebab kita telah tahu tidak seorang pun memenuhi syarat menggenapkan tujuan Allah. Apa pun yang kita hasilkan tidak lain hanyalah Ismael. Hidup gereja yang wajar tidak ada hubungannya sama sekali dengan perkara yang manusiawi atau alamiah. Hidup gereja yang wajar adalah menggenapkan tujuan Allah yang kekal melalui suplai dari diri Allah sendiri yang kaya. Apa pun yang sang-gup kita perbuat tidak berarti sedikit pun di dalam penggenapan tujuan Allah yang kekal. Yang perlu bagi penggenapan tujuan Allah ialah suplai yang keluar dari buah dada ilahi. Sebab itu, kita harus menanggalkan diri kita sendiri, menga-baikan kekuatan dan kemampuan alamiah kita, dan hidup di hadapan Allah, minum dari kelimpahan buah dada-Nya. Kalau kita berbuat demikian, dengan sendirinya beberapa unsur dari apa adanya ilahi-Nya akan tergarap ke dalam kita dan menghasilkan keturunan untuk menggenapkan tujuan-Nya. Inilah hidup gereja yang tepat.
Kita telah nampak keturunan dan tanah, keduanya adalah Kristus. Kini kita perlu mengetahui keturunan dan tanah tidak hanya Kristus saja, bahkan juga kita. Setelah minum suplai Allah yang kaya limpah, kita semua akan menjadi keturunan dan tanah. Akhirnya keturunan menjadi tanah. Untuk menggenapkan tujuan-Nya, Allah memerlukan orang-orang yang mendapatkan tanah. Di atas tanah itu, Allah bagi nama-Nya akan membangun sebuah kerajaan dengan tempat kediaman-Nya. Inilah tujuan Allah. Berhubung kita sebagai keturunan, yakni orang-orang yang menggenapkan tujuan Allah, maka kita sebagai keturunan akan berubah menjadi tanah. Allah berada di antara dan di dalam kita, Allah memiliki pemerintahan-Nya, dan di dalam pemerintahan ini, Allah memiliki kerajaan yang di dalamnya Ia boleh mendirikan tempat kediaman-Nya.
Melalui menikmati kelimpahan Allah dan melalui Allah tergarap ke dalam kita, kita menjadilah keturunan dan tanah. Allah dan kita, kita dan Allah, adalah satu dalam hal menghasilkan keturunan dan mendapatkan tanah. Ini ada-lah perkara surgawi yang berada di bumi. Inilah Betel, pintu gerbang surga dengan tangga surgawi yang menghubungkan bumi dengan surga serta membawa datang surga turun ke bumi. Di sini kita memiliki Allah dan manusia, manusia dan Allah, bergandengan menjadi satu, saling menjadi tempat tinggal satu sama lain. Bagaimanakah ini terjadi? Yaitu berdasarkan pengungkapan apa adanya yang ilahi dan pengubahan manusia. Begitu kita diubah, kita memenuhi syarat untuk menikmati Allah yang diungkapkan sebagai anugerah kita. Allah telah diungkapkan, tetapi Allah yang diungkapkan ini memerlukan orang yang telah diubah. Entah kita siapa atau apa, kita semua perlu diubah dari karakter yang alamiah menjadi karakter yang rohani, dari sumber kita kepada buah dada ilahi, mendapatkan suplai ilahi yang kita perlukan, untuk menggenapkan tujuan ilahi. Kita harus melupakan diri kita, menghentikan sumber suplai alamiah kita, hidup di hadapan Allah, dan sepanjang hari minum Dia. Dengan demikian kelimpahan apa adanya yang ilahi yang diungkapkan akan tergarap ke dalam diri kita sebagai anugerah yang serba cukup, supaya kita bisa menggenapkan tujuan ilahi. Rasul Paulus bekerja lebih keras daripada semua rasul; namun itu bukannya dia, melainkan anugerah Allah yang menyertainya. Karena anugerah Allah, ia adalah sebagaimana ia ada sekarang (1 Kor. 15:10). Berdasarkan menikmati anugerah Tuhan yang cukup ia pakai (2 Kor. 12:9), ia di dalam ministrinya menggenapkan tujuan Allah. Paulus benar-benar minum dari buah dada ilahi, menerima suplai anugerah yang serba cukup. Dia tidak memakai kekuatan alamiahnya untuk melahirkan Ismael, tetapi menikmati suplai kekayaan anugerah yang serba cukup, membawa masuk banyak Ishak. Dia berdasarkan “bukan lagi aku sendiri, melainkan Kristus” (Gal. 2:20), hidup dan bekerja. Pengubahan nama yang sesungguhnya adalah dari aku berubah menjadi Kristus, Dialah El–Shaddai, Penyuplai anugerah yang serba cukup. Bukan aku, melainkan Kristus, barulah dapat menggenapkan tujuan Allah.