MENGENAL ANUGERAH UNTUK MENGGENAPKAN TUJUAN ALLAH DENGAN SUNAT
MENGUKUHKAN PERJANJIAN ALLAH
(4) Pengukuhan Perjanjian Allah
Dalam berita ini sampailah kita pada Kejadian 17, sebuah catatan tentang penanggulangan Allah yang penting terhadap Abraham dalam mengukuhkan perjanjian-Nya. Kita telah mengetahui Abraham telah dipanggil, ia mene-rima panggilan, janji dan perjanjian Allah. Setelah Allah memanggil Abraham, Ia memberi Abraham janji, kemudian Ia mengukuhkan janji tersebut melalui membuat perjanjian dengan dia. Tetapi setelah Abraham menerima perjanjian Allah, ia malahan menerima usul istrinya untuk menggunakan kemampuan tubuh dagingnya sendiri melalui Hagar memperoleh seorang keturunan, hasilnya adalah Ismael. Di sini kita nampak tiga hal: usul Sara, pengganti sementara dari Hagar, dan tubuh daging Abraham, sehingga melahirkan Ismael.
(a) Karena Abraham Memakai Tubuh Dagingnya, Allah Tidak Menampakkan Diri Selama Tiga Belas Tahun
Mungkin Abraham mengira bahwa ia memakai tubuh dagingnya untuk melahirkan Ismael bukanlah suatu perkara yang serius, tetapi menurut ekonomi tujuan kekal Allah, hal itu adalah suatu perkara yang serius. Jika kita membandingkan ayat pertama dari pasal 17 dengan ayat terakhir dari pasal 16, kita dapat melihat bahwa di antara kedua pasal itu terdapat sejangka waktu tiga belas tahun, dan selama tiga belas tahun itu tidak ada catatan apa-apa tentang kehidupan Abraham. Ketika Abraham melahirkan Ismael, ia berusia enam puluh delapan tahun, dan tiga belas tahun kemudian, ketika ia berusia sembilan puluh sembilan tahun, Allah menampakkan diri kepadanya lagi. Selama tiga belas tahun yang panjang ini, Abraham, orang yang dipanggil Allah, yang hidup melalui iman dan belajar mengenal anu-gerah untuk penggenapan tujuan Allah, kehilangan penyertaan Allah. Tidak mempunyai penyertaan Allah adalah perkara yang sangat serius.
Setelah Abraham menjawab panggilan Allah, dan mulai menempuh kehidupan melalui iman kepada Allah untuk keberadaannya, ia membuat suatu kegagalan. Karena imannya tidak memadai, ia turun ke Mesir, bahkan di sana ia me-rencanakan akan mengorbankan istrinya. Menurut konsepsi manusia, hal itu lebih buruk daripada melewati Hagar melahirkan Ismael. Tetapi, jika kita membaca pasal-pasal ini dengan saksama, kita akan nampak bahwa Allah lebih tidak berkenan Abraham memakai Hagar untuk melahirkan Ismael daripada sewaktu ia turun ke Mesir. Sudah tentu, turunnya Abraham ke Mesir adalah suatu hal yang tidak baik, tetapi hal itu tidak begitu menyakiti hati Allah seperti saat ia memakai tubuh dagingnya untuk melahirkan Ismael. Turun ke Mesir merupakan kegagalan yang di luar, tetapi mengambil Hagar untuk melahirkan Ismael adalah kegagalan yang di dalam. Kegagalan di dalam lebih serius, karena bukan hanya menyangkut keadaan lingkungan, tetapi juga menyangkut hayat. Perkara Hagar melahirkan Ismael bukanlah perkara benar salah atau melakukan dosa, melainkan perkara hayat. Tidak ada satu pun yang kita perbuat dengan diri kita sendiri adalah hayat. Apa pun yang kita perbuat dengan diri kita sendiri bukanlah hayat. Hayat adalah diri Allah sendiri. Hayat adalah Allah di dalam kita menjadi apa adanya kita. Dalam mengerjakan apa pun, jangan melalui diri kita sendiri, harus berdasar apa adanya Allah yang tergarap ke dalam kita. Semua yang kita kerjakan berdasarkan diri sendiri bukanlah hayat melainkan maut, karena ini adalah hasil dari diri alamiah kita.
Dalam pandangan Allah, diri (ego) alamiah kita lebih kotor dan lebih najis daripada dosa. Sekalipun dosa adalah najis di hadapan Allah, tetapi tidak sedemikian menyalahi Allah seperti keadaan alamiah kita. Walupun kita semua mengakui seriusnya dosa, tetapi tidak banyak orang yang menyadari seriusnya diri alamiah kita. Jika kita berbuat dosa, kita dapat segera mengakuinya di hadapan Allah, tetapi jika kita berbuat suatu perkara yang baik melalui diri alamiah kita, kita tidak merasa telah menyalahi Allah. Andaikata saya membenci seorang saudara, mudah bagi saya untuk mengakui rasa benci itu adalah dosa, dan mengaku dosa ke-pada Allah. Tetapi andaikata saya mengasihi seorang saudara melalui diri alamiah saya sendiri, saya sulit menyadari hal ini menyalahi Allah. Dosa hanya menyalahi kebenaran Allah, tetapi diri alamiah kita menyalahi diri Allah. Allah ingin ma-suk ke dalam kita menjadi hayat dan segala kita, sehingga kita bisa hidup, bekerja, dan mengerjakan segala sesuatu berdasarkan Dia. Akan tetapi, bila yang kita perbuat itu semuanya berdasarkan diri kita sendiri, berdasarkan diri alamiah kita, berarti kita mengesampingkan Dia. Dari sini kita dapat melihat diri alamiah kita bertentangan dengan diri Allah. Bukan hanya bertentangan dengan kebenaran atau ke-kudusan Allah, tetapi juga bertentangan dengan diri Allah sendiri.
Maksud hati Allah terhadap Abraham adalah Dia akan menggarapkan diri-Nya ke dalam Abraham sehingga Abraham bisa melahirkan seorang anak untuk menggenapkan tujuan Allah. Allah tidak bermaksud agar Abraham mengerjakan hal ini berdasarkan kekuatan alamiahnya. Namun, Abraham justru telah memakai kekuatan alamiahnya untuk melahirkan seorang putra guna menggenapkan tujuan Allah. Tidak ada satu perkara pun yang menyalahi Allah lebih daripada memakai cara alamiah seperti itu. Bekerja melalui diri alamiah kita sendiri merupakan perkara yang paling menya-lahi Allah. Bagi Abraham mengawini Hagar tidak terlalu serius. Bahkan istrinya, Sara yang mengusulkan hal ini; ia mengira hal itu akan membantu Abraham memperoleh ke-turunan, karena Abraham telah tua dan ia pun telah tidak berfungsi lagi. Tetapi Allah telah berjanji bahwa mereka akan mempunyai seorang putra. Mereka tidak mengetahui bagaimana merealisasikannya, lalu untuk mudahnya, mereka meng-gunakan Hagar, hamba dari Mesir itu, untuk memperoleh keturunan, tanpa menyadari hal itu sangat menyalahi Allah. Hal itu merupakan suatu penghinaan terhadap Allah. Karena itu, Allah tidak menampakkan diri kepada orang yang telah dipanggil-Nya dan dikasihi-Nya selama tiga belas tahun. Seolah-olah Allah memalingkan muka-Nya dari Abraham dan menolak berbicara dengannya sejangka waktu itu. Alkitab tidak mencatat apa yang terjadi dalam sejangka waktu itu. Kita hanya mengetahui dari ayat terakhir pasal 16 dan ayat pertama pasal 17, tiga belas tahun kemudian Allah baru kembali menyatakan diri kepada Abraham. Menurut catatan Alkitab, selama tiga belas tahun hidup Abraham itu adalah sia-sia. Dalam catatan ilahi, tahun-tahun tersebut sia-sia karena Abraham menggunakan diri alamiahnya melakukan sesuatu untuk menggenapkan tujuan Allah.
(b) Kesempurnaan yang Dituntut
oleh Allah yang Mahakaya dan Mahacukup
Kejadian 17:1 mengatakan, “Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: ‘Akulah Allah Yang Mahakuasa (Mahakaya dan Mahacukup), hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela (sempurna).’” Di sini kita nampak Allah memberi dua pesan kepada Abraham — yaitu Abraham harus hidup di hadapan Allah yang Mahakaya dan Mahacukup dan ia harus sempurna. Dalam pasal 16, Abraham tidak hidup di hadapan Allah, ia hidup di hadapan Sara, Hagar, dan Ismael. Karena ia tidak hidup di hadapan Allah, maka Allah datang dan berfirman kepadanya agar ia hidup di hadapan-Nya dan menjadi sempurna. Allah memberi tahu Abraham agar ia sempurna, ini menunjukkan sebelum itu Abraham dalam keadaan tidak sempurna. Dalam pasal 16, Abraham tidak sempurna, ia kekurangan sesuatu.
Sebelum kita melihat lebih jauh makna hidup di hadapan Allah dan menjadi sempurna, kita perlu mempelajari makna sebutan bagi Allah di dalam 17:1, yaitu “Allah yang Mahakaya dan Mahacukup”. Dalam bahasa Ibrani sebutan ini adalah El-Shaddai. El berarti yang kuat, yang berkuasa, sedang Shaddai mengandung makna dada, buah dada, berarti mahacukup, serba cukup. El-Shaddai adalah persona yang berkuasa yang mempunyai buah dada, persona yang berkuasa yang mempunyai suplai yang serba cukup. Buah dada menghasilkan susu, dan susu merupakan suplai yang serba cukup, yang mengandung air, bermacam-macam mineral dan vita-min, serta mengandung semua yang kita perlukan untuk hidup sehari-hari. Jadi El-Shaddai berarti Sang Mahakuasa yang Mahacukup.
Ketika Abraham melakukan hal itu berdasarkan alamiah dirinya sendiri, ia lupa akan sumber persediaannya. Dengan kata lain, ia lupa Allah adalah sumber persediaannya yang Mahakaya. Karena itu Allah datang kepada Abraham dan seolah-olah berkata, “Akulah yang Mahakuasa yang berbuah dada. Adakah engkau kekurangan sesuatu? Mengapa engkau tidak datang kepada-Ku? Apakah engkau lapar atau haus? Datanglah kepada-Ku. Sumber suplaimu bukanlah dirimu sendiri, melainkan Aku, Mahakuasa yang berbuah dada. Akulah yang Mahakaya dan Mahacukup, yang sanggup menyuplai segala keperluan bagi kehidupanmu dan semua keperluanmu untuk menggenapkan tujuan kekal-Ku. Akulah sumbernya, kamu bukanlah sumbernya. Janganlah kamu hidup berdasarkan kekuatan dirimu sendiri. Kamu harus hidup berdasarkan Aku sebagai sumber suplaimu.”
Dalam Kejadian 17, bukan perkara Allah yang Mahatinggi atau Pencipta langit dan bumi seperti dalam Kejadian 14, melainkan secara mutlak merupakan perkara Allah Maha-kuasa yang berbuah dada. Ketika Abraham merasa gentar terhadap musuh-musuhnya, Allah datang dan berkata, “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar” (Kej. 15:1). Pada waktu itu Allah seolah-olah berkata kepada Abraham, “Kamu tidak perlu takut kepada musuh-musuhmu. Akulah perisai dan perlindunganmu.” Tetapi setelah Abraham melakukan sesuatu berdasarkan diri alamiahnya sendiri untuk menggenapkan tujuan Allah, yaitu mengerjakan sesuatu yang melawan diri Allah, Allah seolah-olah datang dan berkata, “Akulah El-Shaddai, Mahakuasa yang berbuah dada. Janganlah melakukan sesuatu bersandarkan dirimu sendiri atau berdasarkan dirimu sendiri. Kamu harus tahu, Akulah suplaimu.” Buah dada bukanlah sebuah senjata untuk membunuh orang, tetapi mengalirkan air susu ke dalam kita sebagai suplai kita. Penyuplaian Allah harus seperti air susu yang mengalir ke dalam kita. Allah tidak menginginkan Anda menggunakan kekuatan Anda melahirkan keturunan untuk menggenapkan tujuan Allah; Ia menghendaki Anda minum air susu-Nya, menyesap unsur diri-Nya ke dalam Anda, sehingga Anda sanggup melahirkan keturunan. Jika kita tidak mempunyai Perjanjian Baru, kita tidak dapat mengerti dengan jelas tentang sebutan Allah, tetapi sekarang kita bisa mengerti tentang sebutan ini dengan jelas. Hari ini kita dapat terus-menerus hidup melalui menerima suplai dari Sang Mahakuasa yang berbuah dada. Ada-kah Anda setiap hari menerima suplai dari buah dada ilahi ini? Ini bukannya perisai bagi perlindungan untuk melawan musuh, melainkan suplai dari buah dada untuk melahirkan keturunan. Juga bukan perkara menerima pekerjaan yang bagus sebagai pengganti pekerjaan yang kurang bagus, melainkan memberi kita suplai. Bila suplai ini masuk ke dalam kita, akan menjadi suatu unsur untuk menghasilkan keturunan guna menggenapkan tujuan kekal Allah. Suplai apakah yang kalian terima dari hari ke hari? Kita menerima suplai dari Sang Mahakuasa yang berbuah dada ilahi. Hari demi hari kita berada di bawah buah dada-Nya dan mempunyai suplai yang mahacukup. Allah bagi kita adalah Sang Mahakuasa yang Mahakaya dan Mahacukup.
Dalam Kejadian 17:1 Allah memberi tahu Abraham agar hidup di hadapan-Nya. Apakah artinya ini? Ini berarti menikmati Tuhan. Hidup di hadapan Tuhan berarti kita terus-menerus menikmati Dia dan menerima suplai buah dada-Nya. Inginkah Anda hidup di hadapan-Nya, menerima suplaian buah dada ilahi-Nya yang mahakaya dan mahacukup? Hidup di hadapan Allah bukan berarti kita hidup di hadapan-Nya dengan penuh rasa takut seperti di hadapan Sang Kudus. Tidak, Sang Mahakuasa dengan buah dada yang mahacukup menyuplai semua keperluan sehari-hari kita. Sambil menikmati suplaian-Nya, kita hidup di hadapan-Nya.
Allah juga memberi tahu Abraham agar ia menjadi sempurna (Tl.). Apakah artinya sempurna? Bagi Abraham tidak sempurna bukan berarti ia tidak baik, melainkan ia kekurangan Allah. Tanpa Allah, tidak seorang pun di antara kita dapat menjadi sempurna. Tanpa Allah, tidak ada ke-sempurnaan. Tanpa Dia, kita selalu kekurangan sesuatu. Tidak peduli bagaimanapun sempurnanya kita di dalam diri kita sendiri, kita masih kekurangan Allah dan perlu menjadi sempurna berdasarkan dan melalui Allah. Jika kehidupan rumah tangga Anda tanpa Allah, maka kehidupan rumah tangga Anda tidak sempurna. Tanpa Allah tidak ada kesempurnaan. Misalnya tangan Anda hanya memiliki empat jari. Sekalipun tangan itu sangat indah, tetapi karena tidak mempunyai ibu jari, tetap tidak sempurna. Jika pada suatu hari ke tangan Anda ditambahi ibu jari, tangan Anda baru menjadi sempurna. Karena itu, sempurna berarti perlu Allah ditambahkan ke dalam kita. Hidup di hadapan Allah berarti kita menikmati Dia, dan sempurna berarti mempersilakan Allah ditambahkan ke dalam kita. Pernahkah Anda nampak bahwa kesempurnaan Anda adalah diri Allah sendiri? Pernahkah Anda nampak bahwa bagaimanapun baiknya atau bagaimanapun sempurna-nya Anda di pandangan manusia, tanpa Allah, Anda kekurangan sesuatu? Kita tidak mempunyai faktor sempurna di dalam diri kita sendiri, karena faktor sempurna adalah diri Allah sendiri. Allah harus ditambahkan ke dalam hayat kita. Jika Dia tidak ditambahkan ke dalam hayat kita, hayat kita tetap tidak sempurna.
Mengapa Allah menuntut Abraham agar ia menjadi sempurna? Karena Allah dulu dan sekarang tetap adalah Sang Mahakuasa yang Mahakaya dan Mahacukup, maka tidak ada alasan atau maaf bagi kita untuk tidak sempurna. Apa pun kekurangan kita, Allah adalah yang kita perlukan. Apakah Anda kekurangan kekuatan? Allah itulah kekuatan kita. Apakah Anda perlu tenaga? Allah itulah tenaga kita. Kita perlu apa, Allah adalah apa yang kita perlukan. Jadi, keserbalimpahan Allah menuntut kita menjadi sempurna. Tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi miskin, karena kita mempunyai deposito yang besar di bank surgawi.
Secara riil, menjadi sempurna berarti kita tidak bersandar kekuatan tubuh daging kita, melainkan dalam hidup dan pekerjaan kita, kita bersandar kepada Sang Mahakuasa yang Mahakaya dan Mahacukup. Kita tidak seharusnya bersandar diri alamiah kita atau kekuatan tubuh daging kita. Atas segala sesuatu kita harus bersandar keserbalimpahan Allah. Sebagai contoh, banyak di antara kita yang disusahkan oleh temperamen kita. Mengapa adakalanya kita marah-marah? Sebab pada saat itu kita tidak bersandar kepada Allah. Seharusnya ketika kita marah-marah, itulah saatnya kita dipaksa belajar satu pelajaran — jangan sekali-kali meninggalkan Allah, harus setiap saat bersandar kepada Allah. Ja-ngan sekali-kali mencoba mengatasi temperamen Anda. Jika Anda melupakan temperamen Anda dan setiap saat bersandar kepada Allah, temperamen Anda dengan sendirinya akan dikalahkan. Setiap ketidaksempurnaan kita disebabkan oleh satu hal: yaitu kita menjauhkan diri dari Sang Mahakuasa yang Mahakaya dan Mahacukup. Saat kita meninggalkan Dia, keadaan kita seperti alat-alat listrik yang tidak dapat berfungsi karena terputus dari sumber listriknya. Kita semua harus belajar memelihara diri kita secara terus-menerus berada di dalam Allah. Inilah jalan untuk menjadi sempurna.
Ketika masih muda, saat membaca Kejadian 17:1 saya menyadari bahwa diri saya tidak sempurna. Saya kekurangan kebaikan hati, kerendahan hati, kesabaran, kasih, dan banyak kebajikan lainnya. Karena itu, dalam doa saya berketetapan, dengan pertolongan Tuhan saya akan mempunyai kasih, kesabaran, kerendahan hati, kebaikan hati, dan kebajikan baik lainnya yang tidak saya miliki. Tetapi, saya harus mengatakan kepada Anda bahwa saya tidak pernah berhasil. Setiap kali saya membaca Kejadian 17:1, saya tidak mengerti apa makna menjadi sempurna ini. Akhirnya saya mengerti, faktor kesempurnaan di dalam hayat kita adalah diri Allah sendiri dan kita perlu memiliki Allah makin banyak ditambahkan di dalam kita. Apa yang ada pada kita, paling banyak hanyalah empat jari, kita tidak mempunyai ibu jari. Tidak peduli dengan cara apa saja kita melatih keempat jari kita untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan, tetap tidak sempurna, karena mereka tanpa ibu jari. Tangan kita perlu ditambahkan ibu jari baru menjadi sempurna.
(c) Perubahan Nama
Sekarang marilah kita melihat perihal perubahan nama. Dalam Kejadian 17:5 Allah berkata kepada Abraham, “Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.” “Abram” berarti “bapa agung”, sedangkan “Abraham” berarti “bapa dari banyak orang”. Walaupun Abram berarti bapa agung, tetapi ia bukan bapa banyak orang, bapa banyak bangsa. Karena itu dalam Kejadian 17:5, namanya diubah dari bapa agung menjadi bapa banyak orang. Dalam bahasa Ibrani, nama Abram tersusun dari 4 huruf yang bila dinyatakan dalam huruf-huruf bahasa Indonesia adalah A-b-r-m. Sedang nama Abraham mendapat mendapat tambahan satu huruf “h”. Ini berarti empat ditambah satu. Empat adalah angka penciptaan, sedangkan satu adalah angka Sang Pencipta. Karena itu, empat jari ditambah satu ibu jari akan membentuk satu tangan yang lengkap. Jadi manusia ditambah Allah sama dengan kesempurnaan. Empat ditambah satu sama dengan lima, angka pertanggungjawaban. Tidak peduli, bagaimanapun baiknya kita, tetap seperti angka empat, kita masih kekurangan angka satu. Untuk menjadi angka lima, pertanggungjawaban untuk menggenapkan tujuan Allah yang kekal, Allah harus ditambahkan ke dalam kita. Apakah makna perubahan nama Abraham ini. Ini berarti Allah ditambahkan ke dalamnya. Sebelum Kejadian 17, Abraham hanyalah Abram, orang yang tidak mempunyai Allah yang ditambahkan ke dalamnya. Tetapi dalam Kejadian 17, karena Allah ditambahkan ke dalamnya, maka bukan hanya namanya saja yang telah diubah, diri orangnya juga telah berubah. Satu huruf yang unik ditambahkan kepada empat huruf, Allah ditambahkan ke dalam manusia. Allah merupakan faktor penyempurna. Tanpa Dia kita tidak akan sempurna. Kita semua memerlukan Allah ditambahkan ke dalam kita. Ini barulah kesempurnaan.
Oleh karena nama seseorang adalah realitas orang itu, maka perubahan nama Abraham menyatakan perubahan dirinya. Nama asalnya menyatakan ia adalah bapa agung. Sekarang Allah mengubah namanya yang menunjukkan ia akan menjadi bapa banyak orang. Apa yang diperlukan Allah untuk menggenapkan tujuan kekal-Nya bukanlah bapa agung, melainkan bapa banyak orang; bukan keagungan individu, melainkan suatu persona yang dapat berlipat ganda; suatu persona dengan banyak orang sebagai pelipatgandaannya. Allah memerlukan sejumlah besar orang untuk menggenapkan tujuan-Nya, dan untuk ini Ia memerlukan bapa yang bereproduksi. Kebanyakan orang Kristen ingin menjadi orang rohaniwan yang agung. Namun semakin mereka menuntut kerohanian seperti ini, keadaan mereka semakin tidak berbuah, semakin menyendiri, tidak menghasilkan keturunan.
Tetapi Allah memerlukan kita menjadi berlipat ganda dalam menghasilkan keturunan, tidak memerlukan kita menuntut keagungan dalam kerohanian. Untuk itu kita perlu perubahan nama, yaitu perubahan persona kita. Bapa agung harus diubah menjadi bapa orang banyak. Orang yang menuntut kerohanian pribadi harus diubah menjadi orang yang beranak cucu banyak. Ini perlu mengakhiri diri yang menuntut rohani. Bahkan diri yang demikian ini harus diakhiri untuk menggenapkan tujuan Allah, sehingga kita bisa menjadi persona yang berlipat ganda (bukan orang yang agung).
Dalam Kejadian 17:15 kita nampak nama Sara juga diubah. “Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: ‘Tentang istrimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.’” “Sarai” berarti “putri rajaku” dan “Sara” berarti “putri raja”. Kata “ku” di belakang “putri raja” menunjukkan suatu yang sempit, terbatas; tetapi “putri raja” mempunyai arti yang luas. Nama Sarai diubah menjadi Sara, berarti yang terbatas menjadi yang luas, supaya ia menjadi ibu banyak bangsa. Dalam Kejadian 17:16 Allah berfirman, “Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari pada-nya.” Ketika Allah ditambahkan ke dalam kita, kita akan menjadi lebih lapang dan lebih besar. Jika Allah tidak ditambahkan ke dalam kita, kita bukan hanya tidak sempurna, bahkan sempit. Meskipun Anda adalah seorang saudara atau saudari, jika Anda tidak memiliki Allah ditambahkan ke dalam Anda, Anda tetap adalah seorang saudara atau saudari yang sempit. Jika Anda seorang suami yang tidak memiliki Allah ditambahkan ke dalam Anda, Anda adalah seorang suami yang sempit. Jika Anda adalah istri yang tidak memiliki Allah ditambahkan ke dalam Anda, Anda juga adalah seorang istri yang sempit. Apakah yang dapat melapangkan Anda? Hanya diri Allah sendiri. Jika Anda ingin menjadi orang yang lapang, memiliki pandangan yang luas serta pikiran, hati, dan roh yang lapang, Anda memerlukan Allah untuk melapangkan Anda.
Tidak peduli siapa kita, asal kita tidak memiliki Allah ditambahkan ke dalam kita, kita selalu hanya akan berkata, “kesenanganku”, “keuntunganku”, “masa depanku”, “pertumbuhan hayatku”, “penuntutanku terhadap Tuhan”, “fungsiku dalam sidang gereja”, dan sebagainya. Kalau Allah tidak melapangkan kita, kita tidak bisa memperhatikan orang lain. Nama kita, yang semula “putri rajaku” harus diubah menjadi “putri raja”. Kita berkata, “Inilah hariku, rumahku, waktuku, iniku, ituku,” karena kita kekurangan Allah. Namun, begitu kita memiliki Allah ditambahkan ke dalam kita, kita akan segera menjadi luas. Bila kita memiliki Allah bertambah ke dalam kita, kita tidak hanya akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa, tetapi juga menjadi putri raja banyak bangsa, sehingga tujuan kekal Allah bisa tergenapkan. Kita semua perlu perubahan seperti ini, perubahan yang datangnya melalui bertambahnya Allah ke dalam kita untuk melapangkan manusia kita yang sempit.
Kita semua perlu diubah dari “putri rajaku” menjadi “putri raja”, diubah dari konsepsi kerohanian kita yang sempit menjadi yang lapang dan umum, sehingga kita bukan lagi “putri rajaku”, melainkan “ibu bangsa-bangsa”, memperhatikan orang lain dan memiliki keturunan bagi penggenapan tujuan Allah. Hal ini juga memerlukan pengakhiran manusia lama dan manusia alamiah kita, sehingga kita diubah menjadi manusia baru, menghasilkan keturunan, memperhatikan banyak orang, agar tujuan Allah tergenapkan melalui banyak orang. Bagi tujuan kekal Allah kita perlu menjadi “bapa sejumlah besar bangsa” dan “ibu bangsa-bangsa”. Kita perlu diubah menjadi orang yang terus berkembang biak dan sedang berkembang biak, serta menjadi orang yang lapang dan umum.
(d) Mengukuhkan Perjanjian Melalui Sunat
Supaya Allah tertambah ke dalam kita dan supaya kita menjadi lapang, kita perlu disunat. Perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham dalam Kejadian 15 dikukuhkan dalam Kejadian 17 oleh sunat. Sebenarnya tidak perlu bagi Allah untuk mengukuhkannya sekali lagi, karena Allah sudah satu kali mengukuhkannya, tetapi di pihak Abraham masih memerlukan pengukuhan. Allah setia terhadap janji-Nya, namun Abraham tidak demikian, ia menggunakan kekuatan alamiah-nya untuk melahirkan Ismael. Karena penyebab timbulnya kesulitan adalah Abraham memakai tenaga alamiahnya dengan Hagar untuk melahirkan Ismael, maka Allah menghendaki Abraham disunat untuk mengukuhkan sekali lagi perjanjian-Nya (17:9-11, 13).
Dalam Perjanjian Baru kita dapat melihat makna sunat. Makna rohani dari sunat adalah mengerat (menanggalkan) tubuh daging, menolak diri sendiri dan orang lama kita. Kolose 2:11-12 mengatakan, “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga melalui kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” Sunat adalah perkara menanggalkan tubuh daging, yaitu manusia lama kita, bukan perkara pemberesan dosa. Sesungguhnya, sunat tidak ada sangkut pautnya dengan pemberesan dosa; sunat adalah disalibkan dan dikubur beserta Kristus. Sunat berarti mengakhiri diri Anda sendiri, mengakhiri tubuh daging Anda. Dalam Kejadian 16 Abraham menggunakan tubuh dagingnya, tetapi dalam Kejadian 17, Allah menghendaki tubuh dagingnya di tanggalkan. Dalam Kejadian 16 ia menggunakan kekuatan alamiahnya, tetapi dalam Kejadian 17 kekuatannya diakhiri. Inilah sunat.
Problem yang sama juga terjadi pada hari ini. Asal kekuatan alamiah kita masih ada, sulit bagi Allah untuk menjadi segala sesuatu kita guna menggenapkan tujuan-Nya. Allah hendak masuk ke dalam kita untuk menjadi segala sesuatu kita, tetapi tubuh daging kita, kekuatan alamiah kita, manusia lama kita, dan ego kita yang usang, menghalangi diri Allah menjadi segala sesuatu kita. Ego ini, manusia lama ini, harus diakhiri, juga harus disunat, yaitu disalibkan. Saya ingin memberi tahu kalian kabar baik, yaitu manusia lama kita sudah disalibkan (Rm. 6:6). Terhadap Abraham, orang lama ini harus disalibkan; tetapi terhadap kita, orang lama ini sudah disalibkan. Kita semua harus mengetahui hal ini, menghitungnya dan menerimanya melalui iman. Melalui iman kita mendeklarasikan bahwa tubuh daging kita, manusia alamiah kita dengan kekuatannya, telah disalibkan. “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19b-20a). Kita semua perlu hidup berdasarkan pengenalan bahwa manusia lama kita dan ego kita telah disalibkan. Jika kita mendeklarasikan ini dan hidup menurut ini, Allah yang bangkit segera memiliki jalan untuk masuk ke dalam kita dan menjadi segala sesuatu kita guna merampungkan ekonomi-Nya.
Sunat merupakan suatu tanda, cap dibenarkan oleh iman (Rm. 4:11). Tetapi, banyak orang Kristen yang mengabaikan tanda ini. Sekalipun mereka mengerti dan mendeklarasikan bahwa mereka telah dibenarkan melalui iman, namun setelah dibenarkan melalui iman mereka tidak memiliki tanda pengakhiran diri sendiri. Bagaimana Anda dapat menunjukkan kepada orang lain bahwa Anda telah dibenarkan oleh Allah? Anda harus menempuh suatu kehidupan yang mengakhiri diri sendiri. Anda harus menunjukkan bahwa Anda tidak lagi hidup bersandarkan diri sendiri, melainkan hidup bersandarkan Kristus. Dengan demikian kehidupan Anda akan menjadi suatu tanda bahwa Anda telah dibenarkan. Menempuh kehidupan tersalib di dalam kebangkitan Kristus adalah tanda kita dibenarkan. Andaikata saya, seorang yang telah beroleh selamat dan dibenarkan oleh Allah, masih hidup, bertindak, bekerja bersandarkan diri saya sendiri, dan berbuat segala sesuatu bersandarkan diri sendiri, maka sulit bagi orang lain untuk melihat bahwa saya adalah orang yang telah dibenarkan, malahan orang lain akan menyangsikan apakah saya telah beroleh selamat. Tetapi, jika saya hidup dengan hayat tersalib, mengesampingkan diri sendiri dan menerima Kristus sebagai hayat saya, maka tidak seorang pun akan sangsi bahwa saya telah dibenarkan melalui iman; setiap orang akan berkata, “Puji Tuhan! Tidak dapat disang-sikan lagi bahwa di sini ada seorang saudara yang telah dibenarkan oleh Allah.” Kehidupan yang mengakhiri diri sendiri merupakan tanda dan cap dari pembenaran kita.
Perjanjian tentang keturunan dan tanah untuk menggenapkan tujuan Allah dikukuhkan dengan sunat (17:2-8). Untuk menggenapkan tujuan kekal Allah yang menghendaki manusia mengekspresikan dan mewakili Dia, kita perlu memiliki Kristus sebagai keturunan dan tanah kita. Untuk memiliki Kristus sebagai keturunan dan tanah bagi kegenapan tujuan Allah, kita perlu disunat dan menempuh kehidupan yang tersalib. Sunat adalah untuk menggenapkan tujuan Allah. Jika tubuh daging, diri (ego), dan manusia lama kita telah diakhiri, pintu terbuka bagi Allah untuk masuk dan melahirkan Ishak.
Di antara orang-orang Yahudi, sunat dilakukan pada hari kedelapan (Kej. 17:12). Hari kedelapan adalah hari pertama dalam minggu yang baru dan merupakan suatu permulaan yang baru, permulaan yang baru di dalam kebangkitan. Kapan saja kita menempuh kehidupan yang tersalib, kita mempunyai permulaan baru di dalam kebangkitan. Kapan kita menyangkal dan menolak diri kita sendiri serta menempuh kehidupan yang tersalib, segera kita memiliki permulaan yang baru di dalam kebangkitan. Sekalipun Anda telah menikah bertahun-tahun, jika hari ini Anda mulai menempuh kehidupan yang tersalib, maka dalam pernikahan Anda akan ada permulaan yang baru di dalam kebangkitan, dan kehidupan pernikahan Anda akan diperbarui. Kapan ada sunat, ada pula hari kedelapan. Dengan kata lain, kapan kita menempuh kehidupan yang tersalib, kita ada di dalam kebangkitan.
Semua orang yang tidak disunat berada di luar perjanjian ini. Dalam Kejadian 17:14 Allah berkata kepada Abraham, “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak di kerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” Demikian juga pada hari ini. Jika kita tidak menempuh kehidupan yang tersalib, kita terputus dari Kristus, dari hidup gereja, dan dari suplai buah dada ilahi. Kapan kala kita tidak mau disunat, kita putus hubungan dengan peng-genapan tujuan kekal Allah. Hari ini kenikmatan kita akan Allah, hidup kita yang berdasarkan Kristus, praktek kita dalam hidup gereja, semuanya tergantung pada satu hal — sunat, menempuh kehidupan tersalib.
(e) Janji Tentang Kelahiran Ishak
Dalam Kejadian 17:15-21 kita nampak janji tentang kelahiran Ishak diberikan dengan lebih mantap daripada sebelumnya. Kita mengetahui itu lebih mantap karena nama Ishak sudah disebut dan ibunya sudah ditunjuk. Dalam pasal-pasal sebelumnya, Allah berkata bahwa Ia akan memberi Abraham keturunan dan Abraham akan melahirkan keturunan itu, tetapi Allah tidak menyebutkan keturunan keluar dari Sara. Ia pun tidak mengatakan keturunan itu bernama Ishak. Tetapi dalam ayat-ayat ini, Allah berjanji dengan lebih mantap bahwa keturunan itu adalah Ishak dan Ishak akan dilahirkan oleh Sara.
1) Setelah Abraham Menjadi Tua dan Keadaannya Seperti Orang Mati dan Sara Tidak Berfungsi Lagi
Janji tentang kelahiran keturunan itu dikukuhkan dengan mantap pada waktu Abraham tua dan keadaannya seperti orang mati dan Sara tidak berfungsi lagi. Mungkin Abraham berkata kepada Sara, “Sara, aku telah berusia seratus tahun dan engkau sembilan puluh tahun. Aku akan mati dan engkau pun telah tidak berfungsi lagi. Kita berdua tidak mempunyai apa-apa, kita pun tidak dapat melakukan apa-apa.” Sungguh amat bagus bila kita tidak mempunyai sesuatu pun, karena dengan demikian Sang Mahakuasa yang memiliki buah dada akan datang dan mengerjakan segala sesuatu bagi kita. Saya mau menjadi berusia seratus tahun dan menjadi tidak memiliki apa-apa. Dengan menjadi tidak memiliki apa-apa akan membuka kesempatan yang terbaik bagi Dia, yang Mahakuasa, yang Mahakaya, dan yang Mahacukup, memberi makanan dan menyuplai kita dengan segala apa yang disenangi-Nya. Bahkan sampai hari ini, ketika Allah hendak memberi kita satu bagian air susu yang baru, kita mungkin berkata, “Tidak, aku masih mempunyai beberapa cara, sejumlah kekuatan, sejumlah tenaga.” Kita semua perlu menjadi berusia seratus tahun. Tetapi janganlah coba-coba bertindak seolah-olah Anda sudah berusia seratus tahun. Se-telah membaca berita ini yang memberi tahu Anda perlu menjadi orang yang berusia seratus tahun dan menjadi tidak memiliki apa-apa, lalu Anda mungkin berpura-pura menjadi orang yang berusia seratus tahun. Tetapi Anda tidak dapat dalam waktu semalam menjadi tidak memiliki apa-apa. Tuhan mengetahui kita masih memiliki berapa banyak. Namun, prinsipnya kita semua perlu menjadi tidak memiliki apa-apa, sehingga Sang Mahakuasa yang Mahakaya dan Mahacukup itu dapat masuk menjadi segala-gala kita, dengan buah dada-Nya yang serba cukup menyuplai apa yang kita perlukan.
2) Bukan Berdasarkan Tenaga Alamiah Abraham,
Melainkan Berdasarkan Kunjungan Allah
Setelah Abraham dan Sara tidak memiliki apa-apa, Allah menjanjikan Ishak akan dilahirkan oleh Sara (Kej. 17:16, 19, 21). Ini berarti kelahiran Ishak bukanlah hasil dari keku-atan Abraham dan Sara, melainkan secara mutlak merupa-kan hasil dari kunjungan anugerah Allah. Dalam Kejadian 18:10, 14 dengan jelas kita nampak bahwa kelahiran Ishak disebabkan oleh kembalinya Allah kepada Abraham pada waktu hayat. Kunjungan-Nya yang penuh anugerah kepada Abraham meliputi perawatan dan suplai kepadanya dengan semua apa adanya Allah. Allah menjadi buah dada dari susu yang di perlukan Abraham untuk melahirkan Ishak. Ishak bukan dilahirkan dari unsur-unsur yang ada di dalam diri alamiah Abraham, melainkan dilahirkan oleh suplai Allah yang Mahacukup yang berasal dari buah dada ilahi.
3) Ismael, Keturunan yang Dilahirkan
Melalui Tubuh Daging, Ditolak oleh Allah
Ismael, keturunan yang dihasilkan berdasarkan daging, ditolak oleh Allah (Kej. 17:8; 21:10). Apa pun yang kita perbuat berdasarkan kemampuan kita atau oleh diri alamiah kita sendiri, pasti ditolak oleh Allah. Sekalipun Anda berbuat sesuatu yang bagus dan sesuai dengan hukum, tetapi itu akan ditolak Allah. Kapan kala kita hidup, bertindak-tanduk, bekerja berdasarkan diri alamiah kita dan dengan manusia lama kita, semuanya itu akan ditolak. Tidak banyak orang Kristen yang menyadari bahwa kebaikan alamiah mereka juga akan ditolak oleh Allah. Kapan kala kita bertindak berdasarkan diri alamiah, kekuatan alamiah, kemampuan alamiah, atau apa pun yang dikerjakan manusia alamiah, tidak peduli hal itu baik atau buruk, akan ditolak Allah.
4) Ishak, Keturunan yang Dilahirkan Berdasarkan Anugerah Allah, Ditetapkan Untuk Menggenapkan Kehendak Allah
Hanya Ishak, keturunan yang dilahirkan dengan anu-gerah Allah, dan berasal dari suplai buah dada ilahi, yang ditetapkan untuk menggenapkan tujuan kekal Allah (Kej. 17:19, 21; 21:12; Rm. 9:7-9). Allah hanya akan menghormati apa yang keluar dan berasal dari Dia, sebab hanya keturunan yang dilahirkan dari diri-Nya melalui suplai anugerah-Nya yang dapat menggenapkan kehendak-Nya. Ini berarti Allah hanya menghormati Kristus, bukan segala sesuatu yang berasal dari diri kita sendiri — segala sesuatu dari manusia alamiah kita. Hanya Kristus yang menjadi suplai anugerah kita yang berasal dari pengalaman kita terhadap buah dada ilahi, yang dapat menggenapkan tujuan Allah. Hanya Kristus inilah akan ditetapkan sebagai keturunan sejati untuk menggenapkan tujuan Allah. Ismael kita ditolak, tetapi Ishak kita, Kristus, telah dan akan ditetapkan dalam ekonomi Allah.
Sekarang kita bisa melihat apakah anugerah itu. Anugerah berarti Allah memasukkan unsur-unsur-Nya ke dalam kita menjadi suplai kita, dan suplai ini menjadi unsur yang oleh-Nya kita melahirkan Ishak untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Setelah Abraham dipanggil, ia belajar hidup berdasarkan iman kepada Allah bagi eksistensi-Nya. Kemudian, mulai dari Kejadian 15, Allah mulai melatihnya mengenal anugerah untuk menggenapkan tujuan Allah. Kita telah melihat hal ini dengan jelas dalam pasal 15—17. Diri kita sendiri, tubuh daging, kekuatan alamiah, manusia alamiah, dan manusia lama kita harus diakhiri sehingga kita bisa menerima Allah sebagai suplai kita dan diri ilahi Allah dapat di-garapkan ke dalam kita menjadi unsur untuk menghasilkan Ishak, untuk menggenapkan janji Allah. Inilah anugerah.