← Daftar isi Kejadian (4) · bab 3/15

MENGENAL ANUGERAH UNTUK MENGGENAPKAN TUJUAN ALLAH KIASAN DUA ORANG PEREMPUAN

Kitab Kejadian adalah sebuah kitab yang kaya dengan wahyu ilahi Allah. Semakin saya tinggal di dalam kitab ini, semakin saya menikmati kekayaannya yang manis. Sewaktu kita membaca Kitab Kejadian, kita memerlukan terang ilahi, karena berdasarkan otak manusia kita, mustahil memperoleh apa-apa dari kitab ini, kecuali catatan sejarah dan beberapa cerita yang menarik saja. Ketika saya masih muda, saya senang mendengar cerita-cerita dalam kitab ini. Namun kalau kita sekadar memahami Kitab Kejadian sebagai buku cerita belaka, kita akan kehilangan banyak hal.

(3) Kiasan Dua Orang Perempuan

Sarah dan Hagar adalah istri dan selir Abraham, orang yang dipanggil Allah, mengiaskan dua perjanjian (Gal. 4:24). Jika Rasul Paulus tidak menulis Surat Galatia yang mem-beri tahu kita bahwa kedua perempuan ini adalah kiasan dari dua perjanjian, tidak seorang pun di antara kita yang dapat membayangkan hal semacam ini. Sekalipun ada beberapa orang Kristen mengkritik pengiasan Alkitab, tetapi Paulus justru memelopori mengiaskan Perjanjian Lama. Kalau kita ingin mengapresiasi nilai harta kekayaan yang tersimpan dalam Kitab Kejadian, kita harus menyadari Kitab Kejadian merupakan kitab kiasan. Biografi (riwayat hidup) Abraham adalah sebuah kiasan. Istri dan selirnya lebih-lebih merupakan kiasan yang sangat berarti. Dalam berita ini, kita akan berusaha sedapat mungkin menggali makna kiasan ini.

Sebelum kita melihat kiasan ini, kita perlu melihat beberapa hal tentang Kitab Kejadian. Mengapa Kitab Kejadian demikian manis dan berharga? Sebab kitab ini mengandung banyak benih wahyu ilahi yang ditabur oleh Allah sendiri. Kitab ini mengandung semua aspek utama wahyu ilahi Allah. Dalam pasal 1, kita melihat Allah mempunyai keinginan untuk mengekspresikan diri-Nya melalui manusia. Untuk mencapai tujuan ini, Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26). Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan maksud agar ia menjadi ekspresi Allah dan melalui ekspresi ini Allah mendapatkan pemerintahan, kerajaan, yang di dalamnya Allah melaksanakan kekuasaan-Nya. Inilah maksud akhir hati Allah, kehendak kekal-Nya. Jika Anda membaca Alkitab dengan terang surgawi ini, Anda akan nampak bahwa seluruh Alkitab penuh dengan maksud hati ilahi ini. Agar bisa menggenapkan maksud hati-Nya, supaya diri-Nya terekspresi, dan memiliki pemerintahan-Nya di bumi, Allah memerlukan keturunan dan tanah, yang ke-duanya berhubungan dengan Kristus. Kristus harus tergarap ke dalam umat Allah. Allah ingin sekali mengerjakan ini ke atas diri Adam, akan tetapi Adam gagal. Akhirnya, Allah mengadakan permulaan baru dengan suku bangsa yang baru, yakni suku bangsa terpanggil. Orang pertama dari suku bangsa ini adalah Abraham. Jika Anda membaca biografi Abraham, Anda akan melihat Allah berulang kali mendatanginya dengan janji mengenai dua hal — keturunan dan tanah (12:7; 13:15-16; 15:5, 7, 18). Usia Abraham saat kali pertama dipanggil Allah tidaklah muda; ketika ia menjawab panggilan Allah dengan sepenuhnya, ia sudah berumur tujuh puluh lima tahun.

Sekalipun Abraham telah berumur tujuh puluh lima tahun, ia masih belum mempunyai seorang anak. Menurut pendapat Allah, itu sangat baik. Pada saat Allah memanggil Anda, jika Anda tidak memiliki apa-apa, itu baik sekali. Ka-rena jika Anda memiliki terlalu banyak, itu akan menghalangi panggilan Allah. Ketika Abraham dipanggil Allah, ia tidak memiliki anak, bahkan ia tinggal di kawasan setan yang terhukum; dari sanalah Allah memanggilnya keluar. Setelah dipanggil, Abraham belum mempunyai anak dan tanah. Misalnya, hari ini ada sepasang suami istri yang tidak mempunyai anak dan tanah. Tidakkah mereka akan berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang paling ka-sihan di bumi ini? Mungkin Abraham berkata kepada istrinya, “Untuk apa kita di sini? Aku telah berusia 75 tahun dan engkau 65 tahun, kita tidak mempunyai anak. Kita telah dipanggil keluar dari negeri kita. Hari ini kita berada di mana? Apakah yang kita lakukan di sini? Ke mana kita akan pergi?” Mereka seolah-olah dalam situasi yang kasihan. Namun, semakin kasihan kita, semakin baik bagi kehendak Allah. Saya berharap, kiranya tidak seorang pun di antara kita yang di dalam mempunyai anak dan di luar mempunyai tanah. Kapan kita baik di dalam maupun di luar tidak memiliki apa-apa, itu sangat bagus. Mengapa? Sebab Allah tidak menginginkan kita memiliki suatu pun untuk menggenapkan tujuan-Nya. Yang Allah kehendaki adalah menggarapkan Kristus ke dalam kita sebagai keturunan, dan kemudian menggarapkan Kristus ke luar kita sebagai tanah. Pertama-tama, keturunan itu harus digarap ke dalam kita; kedua, harus digarap ke luar kita agar menjadi tanah. Keturunan maupun tanah keduanya adalah Kristus.

Kita telah mengetahui, Abraham menjawab panggilan Allah dengan menyeret-nyeret kakinya melewati lumpur dan air. Berhubung Allah belum mengaruniai Abraham seorang anak, maka ia mengajak Lot, kemenakannya, pergi bersama-sama. Abraham tidak bisa mengatakan ia tidak mempunyai apa-apa, sebab ia membawa Lot bersama dia. Selanjutnya, boleh jadi ia keliling melewati Damsyik, bertemu dengan Eliezer, serta membawanya pergi bersama dengannya. Kemudian, boleh jadi setelah Abraham jatuh ke Mesir, ia terhanyut ke hilir, seolah sepotong kayu yang mengapung, ia lalu memperoleh Hagar. Sekalipun ia merencanakan akan mengorbankan istrinya di Mesir, tetapi di bawah kuasa Allah, istrinya terpelihara dan sesuai rencana Allah yang indah, Abraham beroleh banyak kekayaan, termasuk seorang hamba perempuan Mesir yang bernama Hagar. Di Haran, Abraham memungut Lot; di Damsyik ia mendapatkan Eliezer; dan di Mesir ia memperoleh Hagar. Tetapi di tanah permai ia tidak memperoleh apa-apa. Semua yang ia peroleh di tanah permai sekadar janji Allah dalam kata-kata yang jelas mengenai keturunan dan tanah.

Sekalipun Abraham tidak berani dengan sembarangan membantah Allah, namun batinnya mungkin berkata kepada Allah, “Allah, Engkau tidak perlu mengulang-ulangi janji-Mu bahwa Engkau akan memberiku seorang anak laki-laki. Engkau telah memberitahuku bahwa keturunanku akan menjadi su-atu bangsa yang besar. Telah tiga kali Engkau memberitahuku bahwa aku akan memiliki keturunan, namun mengapa Engkau tidak berbuat sesuatu pun? Allah, tidakkah Engkau paham bahwa satu tindakan lebih baik daripada seribu kata-kata? Engkau tidak hanya berjanji, tetapi juga mengadakan perjanjian kepada hamba. Engkau berkata kepadaku bahwa hujan akan turun, namun aku tidak melihat setitik pun air yang jatuh. Engkau berkata pula akan memberikan kepadaku tanah ini. Mengapa tidak memberikan sekarang juga? Engkau selalu mengatakan, ‘Aku akan memberikannya kepadamu, ”tidakkah Engkau tahu bahwa hamba membutuhkannya sekarang juga?” Ini betul-betul merupakan ujian bagi Abraham. Mula-mula Abraham mengandalkan Lot. Akhirnya, Lot menjadi problem baginya dan memisahkan diri. Setelah itu, Abraham menaruh kepercayaan kepada Eliezer, serta memberi tahu Allah, Eliezer akan menjadi ahli warisnya. Ketika Allah berkata kepada Abraham bahwa Eliezer tidak akan menjadi ahli warisnya, mungkin Abraham membalas. “Ya Allah, apa yang sedang Kauperbuat? Engkau terus merampas aku. Engkau selalu mengatakan ini bukan, itu bukan. Engkau tidak memberikan satu pun kata ya.” Agar dapat menguatkan iman Abraham, Allah mengadakan suatu perjanjian dengannya dengan cara yang luar biasa, yaitu menggunakan tiga ternak dan dua burung hidup. Perjanjian yang dibuat Allah ini jauh lebih kukuh daripada sekadar janji yang Allah berikan kepadanya.

Setelah ini, boleh jadi di antara Abraham dan Sara terdapat banyak persekutuan yang menyedihkan. Mungkin Abraham berkata kepada istrinya, “Sara, telah bertahun-tahun Allah menjanjikan bahwa kita akan mempunyai ke-turunan. Namun di mana keturunan itu? Allah juga berjanji memberi kita tanah. Bahkan untuk menguatkan iman kita, Ia membuat perjanjian dengan kita. Kita tidak bisa mengatakan bahwa perjanjian itu tidak dapat kita percayai atau sandari, sebab aku telah mempersembahkan ternak dan burung-burung seperti yang Tuhan perintahkan kepadaku. Hanya kita masih belum mempunyai apa-apa.” Pada saat-saat seperti itu, seorang istri sering kali seperti Sara. Istri umumnya lebih teliti dan memandang perkara-perkara dengan cara yang lebih rinci. Boleh jadi ketika Abraham mengatakan hal-hal itu dengan sedihnya, Sara menyodorkan sebuah usul yang bagus kepadanya, “Abraham, kita tidak boleh mengatakan bahwa perkataan Allah itu tidak patut dipercayai, tetapi tengoklah kita telah tua. Tidakkah Allah mengatakan yang lahir dari dirimu akan menjadi keturunan-mu? Sekarang aku mempunyai usul yang bagus. Tentunya ini adalah pengaturan Allah, sehingga di Mesir kita mendapatkan Hagar. Mengapa engkau tidak pergi kepadanya dan memperoleh anak dari dia? Dengan demikian kita memperoleh keturunan untuk menggenapkan kehendak Allah.” Jika kita ini Abraham, mungkin kita akan menjawab, “Sungguh usulan ini bagus sekali. Aku tidak pernah memikirkan hal itu, terima kasih kepada Allah atas kebijaksanaanmu yang mengusulkan rencana seperti ini.” Abraham menuruti nasihat Sara dan lahirlah Ismael. Mungkin, setelah Ismael lahir, Abraham berkata, “Siapa yang bisa menyangkal anak ini? Ia benar-benar lahir dari diriku. Tidakkah Anda percaya bahwa inilah pengaturan Allah yang mengaruniakan Hagar di Mesir, dan dalam faktanya ia telah melahirkan seorang anak laki-laki, bukan perempuan? Allah telah mengatur perkara ini dalam tiga aspek — memberi kita Hagar, menyebabkan dia hamil, dan memberi kita seorang anak laki-laki melalui dia. Puji Tuhan! Ini pasti adalah pengaturan Allah.” Akan tetapi, setelah kelahiran Ismael, Allah malahan men-jauhi Abraham selama tiga belas tahun (Kej. 16:16; 17:1).

Di satu pihak, mungkin selama periode itu Abraham me-rasa sangat senang karena telah memperoleh anak, tetapi di lain pihak, ia menderita karena kehilangan pernyataan diri Allah. Mungkin ia berkata kepada istrinya, “Mengapa kita kehilangan pernyataan diri Allah? Apa yang telah terjadi? Kita tidak turun ke Mesir lagi, atau berbuat sesuatu yang salah. Kita bertindak sesuai usulmu untuk memiliki keturunan guna menggenapkan tujuan Allah. Apa kesalahan kita? Kita mempunyai anak, namun kehilangan kehadiran Allah.” Nanti, dalam berita selanjutnya, kita akan nampak setelah tiga belas tahun, Allah akhirnya datang dan berkata kepada Abraham, “Akulah Allah Yang Serba Cukup; hiduplah di hadapan-Ku dan jadilah sempurna” (Kej. 17:1 Tl.). Allah se-olah-olah berkata kepada Abraham, “Abraham, engkau harus sempurna. Sekalipun engkau tidak berbuat sesuatu yang salah, tetapi engkau tidak sempurna.” Kemudian Allah mem-beri tahu bahwa keturunan yang akan dilahirkan itu bukan saja berasal dari dirinya, tetapi juga lahir dari istrinya, Ia akan memberi Abraham seorang anak laki-laki (Kej. 17:16). Ismael berasal dari Abraham, tetapi bukan lahir dari Sara. Abraham sangat tidak rela melepaskan Ismael, maka katanya kepada Allah, “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” (Kej. 17:18). Allah menjawab Abraham, “Tidak, melainkan istrimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak” (Kej. 17:19). Seolah-olah Allah berkata kepada Abraham, “Abraham, engkau salah paham terhadap-Ku. Keturunan itu bukan saja harus berasal dari dirimu, tetapi juga harus lahir dari Sara. Dan namanya haruslah Ishak, bukan Ismael.” Allah menolak Ismael.

Dalam Galatia, Paulus memberi tahu kita, Sara dan Hagar, kedua perempuan itu merupakan sebuah kiasan yang menyimbolkan dua perjanjian. Hanya melalui wahyu Allah, Paulus bisa nampak hal ini. Kalau bukan Paulus yang memberi tahu ini, pernahkah kalian membayangkan bahwa Sara itulah simbol perjanjian anugerah, dan Hagar itulah simbol perjanjian hukum Taurat? Kita jangan puas hanya mengenal cerita-cerita dalam Kitab Kejadian, lebih-lebih kita harus berusaha dengan keras untuk memahami makna kiasan itu.

Dalam Galatia 3:17 Paulus berkata, “Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya.” Empat ratus tiga puluh tahun ini meliputi jangka waktu mulai dari Kejadian 12:1 sampai pada waktu pemberian hukum Taurat dalam Keluaran 20. Sebelum hukum Taurat diberikan, sudah ada sebuah kiasan. Dengan kata lain, sebelum hukum Taurat diberikan, Allah sudah memberi satu gambar tentang apa yang akan terjadi berkaitan dengan hukum Taurat empat ratus tiga puluh tahun kemudian. Kita semua harus nampak hal ini.

(a) Sara, Perempuan Merdeka, Menandakan Perjanjian Janji (Anugerah)

Sara, perempuan yang merdeka, menandakan perjanjian janji (Gal. 4:23). Perjanjian janji yang Allah tetapkan dengan Abraham merupakan perjanjian anugerah. Dalam perjanjian itu Allah menjanjikan akan memberi Abraham keturunan, sama sekali tidak bermaksud menyuruh Abraham berbuat sesuatu agar mendapatkan keturunan. Allah akan mengerjakan sesuatu ke dalamnya sehingga ia akan melahirkan seorang keturunan yang menggenapkan tujuan-Nya. Ini adalah pekerjaan Allah, bukan pekerjaan Abraham. Inilah anugerah. Sara sebagai perempuan yang merdeka, istri Abraham yang resmi, merupakan sebuah simbol perjanjian anugerah itu. Ia melahirkan Ishak bukan berdasarkan kekuatan manusia, melainkan berdasarkan anugerah Allah.

(b) Hagar, Perempuan Hamba, Menandakan Perjanjian Hukum Taurat

Hagar, perempuan hamba, menandakan perjanjian hukum Taurat (Gal. 4:25). Ketika anak-anak Israel melalaikan pekerjaan anugerah Allah di atas diri mereka, dan mencoba menyenangkan Allah berdasarkan diri mereka sendiri, saat itulah hukum Taurat diturunkan. Kapan manusia mengabaikan anugerah Allah, ia akan selalu bergairah mengerjakan sesuatu untuk mencari perkenan Allah, dan ini mendatangkan hukum Taurat, yang disimbolkan oleh Hagar, perempuan hamba, istri Abraham yang tidak resmi. Berhubung ia bukan istri yang resmi, maka ia tidak seyogianya dibawa masuk. Apa yang dilahirkannya tidak mungkin tinggal di dalam ekonomi Allah. Ini menandakan hukum Taurat tidak seharusnya masuk, dan yang dihasilkan oleh hukum Taurat tidak mendapatkan tempat di dalam perampungan tujuan Allah. Hagar melahirkan Ismael, yang ditolak oleh Allah, sebab kelahiran itu berdasarkan daya upaya manusia, bukan berdasarkan anugerah Allah. Hasil usaha manusia melalui hukum Taurat tidaklah mempunyai bagian apa pun di dalam pencapaian tujuan Allah.

Menurut ekonomi Allah, seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang istri. Jadi, usul Sara supaya Abraham mempunyai keturunan melalui Hagar mutlak bertentangan dengan ekonomi Allah. Hagar bukan istri yang resmi, melainkan seorang gundik. Hagar, gundik Abraham, merupakan simbol hukum Taurat. Dari sini kita dapat mengetahui posisi hukum Taurat adalah posisi gundik. Sedangkan anugerah adalah istri yang resmi, ibu dari keturunan yang tepat (Gal. 4:26, 28, 31). Hukum Taurat adalah gundik, ibu dari orang-orang yang ditolak menjadi ahli waris. Menurut kebiasaan zaman kuno, orang laki-laki memungut selir hanya dikarenakan istri mereka tidak dapat melahirkan anak. Ini sangat bermakna. Sebelum anugerah bekerja, kalau Anda tergesa-gesa, Anda akan bersatu dengan hukum Taurat. Sara merupakan simbol anugerah, simbol perjanjian janji; sedang Hagar merupakan simbol hukum Taurat. Anugerah adalah istri yang resmi, sedang hukum Taurat adalah selir.

(c) Perjanjian Janji (Anugerah) Dibuat Lebih Dulu

Janji disampaikan dalam Kejadian 12:2, 7; 13:15-17; 15:4-5, sedangkan perjanjian dibuat dalam Kejadian 15:7-21. Menurut maksud Allah, perjanjian janji datang lebih dulu. Allah tidak berniat memasukkan hukum Taurat, agar manusia berusaha keras untuk memeliharanya guna menggenapkan tujuan-Nya. Maksud Allah yang semula ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia, kemudian melalui manusia menggenapkan tujuan-Nya.

(d) Perjanjian Hukum Taurat Dibawa Masuk di Kemudian Hari

Perjanjian hukum Taurat dibawa masuk di kemudian hari melalui daya upaya daging dalam Kejadian 16. Apa yang kita miliki dalam Kejadian 16 adalah daya upaya daging yang membawa masuk Hagar, perlambangan hukum Taurat. Janji telah diberikan ketika Abraham dipanggil dalam Kejadian 12, lebih kurang tahun 1921 SM sedangkan hukum Taurat di-turunkan dalam Keluaran 20, empat ratus tiga puluh tahun kemudian, yaitu setelah orang Israel keluar dari Mesir, lebih kurang tahun 1491 SM (Gal. 3:17). Anugerah selalu datang lebih dulu, tetapi hukum Taurat ikut datang di kemudian hari sambil merusak. Sedikit sekali orang Kristen yang mengetahui bahwa posisi hukum Taurat itu sebagai selir, yang bertentangan dengan ekonomi Allah, dan buah hasilnya ditolak oleh Allah. Namun, mereka malahan sangat menghargai hukum Taurat dan mencoba dengan sekuat tenaga mereka untuk memeliharanya, membuat diri mereka menjadi Ismael, anak-anak perempuan hamba.

(e) (Ismael) Hasil Daya Upaya Daging Melalui Hukum Taurat

Tanpa kecuali, setiap orang Kristen seperti Abraham. Setelah kita diselamatkan, kita mulai tahu bahwa Allah menghendaki kita menempuh hidup seperti Kristus, hidup yang surgawi, hidup yang berkemenangan, hidup yang terus-menerus diperkenan Allah dan memuliakan Allah. Ya, Allah memang menginginkan kita menempuh hidup yang demikian. Tetapi Ia akan menggarapkan Kristus ke dalam kita, untuk menggantikan kita menempuh hidup yang surgawi, yang memperkenankan dan memuliakan Dia. Kita semua memperhatikan maksud hati Allah namun melalaikan anugerah. Maksud hati Allah mengehendaki kita menempuh hidup yang surgawi untuk kemuliaan Allah, dan anugerah adalah Allah menggarap Kristus ke dalam kita untuk menggenapkan tujuan-Nya. Pertama-tama kita bersandar kepada Lot, yang kita bawa dari latar belakang alamiah kita, dan ingin menggunakannya untuk menggenapkan tujuan Allah dalam menempuh hidup surgawi guna memuliakan Allah. Sewaktu Allah tidak mengizinkan kita bersandar kepada Lot, lalu kita berpaling kepada Eliezer, mengharapkan ia dapat membuat kita menempuh hidup yang surgawi untuk kemuliaan Allah. Akhirnya Allah memberi tahu kita, “Aku tidak mau itu. Aku tidak menginginkan segala sesuatu yang obyektif, Aku menginginkan sesuatu yang subyektif yang berasal dari da-lammu.” Begitu menyadari apa yang Allah inginkan, kita mulai menggunakan tenaga kita sendiri, kekuatan alamiah kita, untuk menggenapkan tujuan Allah. Kita semua mempunyai seorang Hagar, yaitu hamba yang selalu bersedia bekerja sama dengan kita. Kita mungkin tidak mempunyai hukum Taurat yang diberikan oleh Musa, tetapi kita mempunyai banyak sekali hukum buatan kita sendiri.

Baiklah kita melihat beberapa contoh hukum Taurat buatan kita sendiri ini. Mungkin sekali Anda mengatakan bahwa Anda tidak akan marah-marah lagi terhadap suami Anda atau bersikap negatif terhadapnya. Inilah hukum Taurat Anda yang kesatu. Hukum Taurat Anda yang kedua adalah sebagai seorang wanita Kristen atau istri Kristen, Anda harus manis, menyenangkan, dan rendah hati. Hukum Taurat Anda yang ketiga ialah jangan sekali-kali mengkritik orang lain, dan yang keempat, selalu mengasihi orang dan tidak boleh membenci mereka. Hukum-hukum buatan Anda sendiri inilah Hagar-hagar Anda. Entah sukses atau tidak dalam memelihara hukum-hukum buatan sendiri itu, tidak ada bedanya dalam pandangan Allah, sebab sekalipun kita bisa memeliharanya, di dalam pandangan Allah tidaklah terhitung. Pada tahun-tahun yang lampau, beberapa saudari hampir saja berhasil memenuhi hukum-hukum buatan mereka sendiri. Mereka mempunyai watak yang kuat, kemauan yang keras, dan maksud hati yang kokoh, sehingga sepanjang hari mereka mencoba dengan sebaik-baiknya mengontrol diri mereka supaya berlaku manis, menyenangkan, dan rendah hati. Bahkan saudari-saudari ini mungkin sudah memperoleh kesuksesan dalam hal ini, tetapi yang mereka hasilkan tidak lebih dari Ismael. Saudari-saudari ini sangat senang dengan Ismael mereka, mereka merasa bangga akan dia. Prinsip ini berlaku juga pada diri saudara-saudara.

Sekalipun kita memperoleh Ismael yang kita pandang amat baik, namun batin kita tetap merasakan kehilangan sesuatu. Kita kehilangan penyertaan Allah. Tidak saja demikian, Ismael ini akan selalu mengolok-olok hal-hal rohani (Kej. 21:9 Tl.). Di satu pihak, kita tidak menyukai unsur pengolok ini, tetapi di lain pihak, karena Ismael ini dihasilkan oleh kita sendiri, maka kita tetap merasa bahwa ia ti-dak terlalu buruk. Tetapi dengan hilangnya penyertaan Allah, kita menemukan diri kita berada dalam kerepotan. Seperti halnya hari ini keturunan-keturunan Ismael merupakan sebuah problem bagi Israel, demikian juga Ismael yang kita hasilkan merupakan sebuah problem bagi kita. Begitu kita jelas akan hal ini, niscaya kita akan berdoa, “Tuhan, peliha-ralah aku di dalam janji-Mu. Janji-Mu akan dipenuhi hari ini atau beberapa tahun lagi, itu tidak menjadi masalah. Aku hanya ingin memperhatikan janji-Mu saja.” Mengatakan demikian mudah, tetapi menempuh hidup yang demikian tidaklah mudah.

Sebagaimana dalam kehidupan orang Kristen, demikian juga dalam pekerjaan orang Kristen. Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa setelah seseorang beroleh selamat, ia perlu menginjil dan berbuah. Tetapi, betapa banyaknya usaha dan kekuatan alamiah yang digunakan dalam apa yang disebut mendapatkan jiwa! Bermacam-macam Hagar, yaitu yang diperoleh dari Mesir, semuanya dipakai untuk memukat jiwa-jiwa. Setiap cara pemukat jiwa yang bersifat duniawi adalah Hagar. Ya, Anda boleh menggunakan Hagar untuk mendapatkan jiwa-jiwa, namun jiwa macam apakah yang Anda peroleh? Mereka tentunya bukan Ishak, melainkan Ismael. Menurut Perjanjian Baru, berbuah dan menginjil yang tepat adalah berdasarkan pengaliran hayat batiniah, Allah menggarapkan Kristus ke dalam kita, melewati kita, dan keluar lagi dari diri kita. Ini berarti, penginjilan yang tepat adalah berdasarkan Kristus sebagai anugerah kita.

Hari ini banyak sekali Hagar di dalam kalangan kekristenan. Apakah Anda ingin menempuh kehidupan orang Kristen berdasarkan diri Anda? Lebih baik Anda hentikan kehidupan semacam itu. Apakah Anda berniat menginjil dengan cara duniawi? Lebih baik Anda menghentikan itu juga. Hentikanlah penempuhan kehidupan orang Kristen berdasarkan diri sendiri. Hentikan pekerjaan bagi Tuhan dengan cara-cara duniawi. Kemudian Anda mungkin berkata, “Kalau aku berhenti berarti habislah diriku.” Memang demikian. Ini-lah yang justru diharapkan oleh Allah. Meskipun Abraham pada usia tujuh puluh lima dengan mutlak menjawab panggilan Allah, tetapi Allah tidak mengerjakan sesuatu pun terhadapnya sampai ia berusia sembilan puluh sembilan tahun. Sebab selama itu ia masih mempunyai kekuatan alamiahnya. Ia mempunyai Lot dan Eliezer sebagai sandarannya dan Hagar sebagai pelengkap kekuatan alamiahnya. Allah terpaksa menjauhi dia. Demikian pula jika kita masih memiliki Lot dan Eliezer sebagai sandaran, dan memiliki Hagar yang membantu usaha kita, Allah tidak dapat berbuat apa-apa. Selama kita masih mempunyai kekuatan untuk menghasilkan Ismael, Allah tidak dapat berbuat suatu pun. Setelah Ismael dihasilkan, Allah menjauhi kita untuk sejangka waktu. Ketika Abraham berusia sembilan puluh sembilan tahun, menurut perhitungannya, ia seolah sudah mati. Roma 4:19 mengatakan, “Walaupun ia mengetahui bahwa tubuhnya sudah sangat lemah (seperti mati), karena usianya telah kira-kira seratus tahun.” Roma 4 juga mengatakan bahwa rahim Sara telah tertutup. Baik Abraham maupun Sara, keduanya yakin sepenuhnya bahwa diri mereka sudah tamat dan tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam keadaan itulah Allah datang.

Semua pengkhotbah kebangunan rohani mendorong orang hidup bagi Kristus dan bekerja bagi Kristus. Tetapi ministri kita malahan menyuruh orang berhenti dari penempuhan kehidupan orang Kristen berdasarkan diri sendiri, dan meng-hentikan pekerjaan kekristenan melalui cara-cara duniawi. Janganlah merasa dipersulit oleh perkataan ini. Tidak peduli seberapa besar seruan kita menganjuri orang-orang untuk berhenti, hampir-hampir tidak ada seorang pun yang mau berhenti. Berbahagialah orang-orang yang mau berhenti dari mencoba menempuh kehidupan orang Kristen berdasarkan dirinya sendiri atau bekerja bagi Tuhan melalui cara-cara duniawi. Tidak mudah untuk menghentikan daya upaya Anda dalam penempuhan hidup kekristenan dan gairah alamiah Anda dalam pekerjaan kekristenan. Dipanggil oleh Allah itu mudah, tetapi sangatlah sulit menghentikan gairah alamiah Anda. Misalnya Tuhan datang mau menghentikan Anda, mungkin Anda berkata, “Jangan Tuhan. Lihatlah situasi hari ini. Hampir-hampir tidak ada seorang pun yang bekerja bagi-Mu atas beban yang kulakukan. Seolah-olah hanya aku seorang diri saja. Bagaimana mungkin aku berhenti bekerja bagi-Mu?” Tetapi berbahagialah orang yang mau berhenti, karena kapan kala Anda berhenti, Allah akan datang. Akhir dari manusia adalah permulaan dari Allah. Kapan kala hayat alamiah manusia kita berakhir, mulailah hayat Allah.

Ketika Abraham berusia delapan puluh enam tahun, kekuatannya masih terlalu besar, menyebabkan Allah harus menunggu tiga belas tahun lagi. Boleh jadi Allah duduk di surga sambil memandangi Abraham serta berkata, “Abraham, sekarang kamu berusia delapan puluh enam tahun, namun Aku masih harus menunggu tiga belas tahun lagi.” Anda ber-doa mohon Allah mengerjakan sesuatu, tetapi Allah malahan mengharapkan Anda menghentikan diri Anda. Ketika Anda berkata, “Oh Tuhan, tolonglah aku mengerjakan sesuatu,” namun Allah berkata, “Lebih baik kamu berhenti saja.” Sewaktu Abraham sibuk di dunia ini, Allah mungkin mengamat-amatinya serta berkata, “Abraham yang kasihan, kamu tidak perlu sesibuk itu. Maukah kamu berhenti dan membiarkan Aku yang menangani? Cobalah berhenti, biar Aku yang mengerjakannya. Karena kamu tidak mau berhenti, maka Aku terpaksa harus menunggu kamu mencapai usia sembilan puluh sembilan tahun.” Allah menantikan Abraham hingga ia merasa seperti orang yang sudah mati dan tidak berfungsi lagi. Kemudian Allah datang dan berkata, “Sekarang inilah permulaan-Ku. Sekarang inilah saat-Ku memulai sesuatu.”

Hasil atau buah dari daya upaya daging ialah Ismael, tetapi Ismael justru ditolak oleh Allah (17:18-19; 21:10-12a; Gal. 4:30). Ismael tidak hanya ditolak oleh Allah, ia juga menghalangi penyataan diri Allah. Pengalaman kita hari ini memberi tahu hal yang sama. Ismael kita memutuskan persekutuan kita dengan Allah dan membuat kita tidak bisa mengalami penyataan diri Allah. Dari sini kita nampak bahwa masalahnya bukanlah apa yang kita lakukan atau apa adanya kita, melainkan sepenuhnya terletak pada apakah kita memiliki penyertaan Allah atau tidak. Apakah Anda setiap saat memiliki penyataan diri Allah. Kita harus melupakan perbuatan kita dan pekerjaan kita, namun memperhatikan penyataan diri Allah. Ketika kita mempunyai penyataan diri Allah, kita berada di dalam anugerah, di dalam perjanjian anugerah. Tetapi kebanyakan orang Kristen hari ini hanya memperhatikan perbuatan dan pekerjaan mereka, bukan memperhatikan penyataan diri dan penyertaan Allah. Bisa saja mereka menghasilkan banyak Ismael, namun mereka tidak mempunyai penyertaan Allah. Yang kita perlukan adalah penyertaan Allah. Yang kita perlukan bukannya buah luaran dari pekerjaan lahiriah kita, melainkan penyataan diri Allah yang batiniah. Apakah Anda memiliki penyertaan Allah di dalam Anda? Inilah ujian yang paling penting.

(f) (Ishak) Hasil Janji Berdasarkan Anugerah

Hasil janji anugerah Allah adalah Ishak, dia adalah keturunan untuk menggenapkan tujuan Allah (Kej. 17:19; 12:21b). Keturunan untuk menggenapkan tujuan Allah ini tidak lain adalah diri Kristus yang digarapkan oleh Allah ke dalam kita, melalui kita, dan keluar lagi dari kita. Apa yang Allah garapkan ke dalam diri kita adalah yang membawa Kristus masuk sebagai keturunan (Gal. 3:16). Keturunan ini akhirnya menjadi tanah kita, sehingga kita mempunyai keturunan yang sebagai hayat kita dan tanah yang sebagai kehidupan kita. Di dalam, kita mempunyai Kristus sebagai keturunan yang olehnya kita hidup; di luar, kita mempunyai Kristus sebagai tanah yang di dalamnya kita hidup. Inilah hidup gereja dengan Kristus sebagai hayat kita. Dan inilah satu-satunya jalan bagi kita untuk menggenapkan tujuan Allah.

Tidak seyogianya kita menganggap lagi kisah di dalam Kejadian ini sebagai semacam nubuat belaka, tetapi harus menganggapnya sebagai salah satu kiasan dari realitas situasi pada hari ini. Anugerah, hukum Taurat, dan kekuatan alamiah kita, semuanya ada di sini, dan kita selalu tergoda memakai kekuatan alamiah kita bekerja sama dengan Hagar untuk menghasilkan Ismael bagi penggenapan tujuan Allah. Namun kita mempunyai pengaman — yaitu memeriksa apakah kita mempunyai penyertaan Allah di dalam hidup sehari-hari kita dan pekerjaan kekristenan kita. Pengaman ini bukanlah berapa banyak hasil dan buah yang kita miliki, melainkan penyertaan Allah. Sudahkah Anda mempunyai jaminan, keyakinan bahwa hari ke hari Kristus tergarap ke dalam Anda sebagai hayat batiniah yang olehnya Anda hidup? Adakah Anda mempunyai kepastian bahwa Kristus ini menjadi ruang lingkup yang di dalamnya Anda hidup? Ruang lingkup ini ialah hidup gereja. Kita perlu mempunyai keturunan dan tanah, kehidupan orang Kristen yang tepat ditambah hidup gereja. Kita perlu sekali hidup berdasarkan Kristus pada batin dan hidup di dalam Kristus pada lahir. Inilah jalan yang tepat bagi kita untuk menggenapkan tujuan Allah. Kita perlu melihat hal ini bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri. Biografi Abraham adalah otobiografi kita, dan kiasan dua perempuan itu adalah sebuah penjelasan hidup kita. Hari ini kita hidup, kita memerlukan Kristus sebagai keturunan dan tanah.