MENGENAL ANUGERAH UNTUK MENGGENAPKAN TUJUAN ALLAH PERJANJIAN ALLAH DENGAN ABRAHAM
Dalam berita yang lalu, kita telah melihat segala sesuatu yang dialami oleh Abraham sebelum Kejadian 15, semuanya adalah berkat Allah bagi eksistensi hidupnya. Tetapi panggilan Allah kepada Abraham bukan hanya untuk eksistensinya, melainkan juga agar tujuan kekal Allah digenapkan melalui dirinya. Mulai pasal 15, Allah datang dan menunjukkan kepada Abraham betapa Abraham memerlukan anugerah untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Abraham tidak hanya memerlukan berkat lahiriah dalam lingkungannya, tetapi, juga memerlukan anugerah di dalam hayat. Jika kita membaca Kejadian 15—22 dengan cermat, kita akan melihat dalam pasal-pasal ini Allah menanggulangi Abraham dengan maksud membawa dia mengenal bahwa untuk menggenapi tujuan kekal-Nya, dia memerlukan anugerah-Nya. Karena itu, Allah datang bukan hanya untuk memberkati Abraham dengan berkat yang di lahir saja, juga menggarapkan diri-Nya ke dalam Abraham sebagai anugerah agar Abraham mempunyai sesuatu yang konkret untuk menggenapkan tujuan kekal Allah.
Seperti yang telah kita lihat dalam berita di depan, ada dua hal yang diperlukan Abraham untuk menggenapkan tujuan Allah — keturunan dan tanah. Jika Anda membaca Kejadian 15, Anda akan melihat kedua hal ini, keturunan dan tanah, disebut berulang-ulang. Kita mengetahui baik tanah maupun keturunan, semuanya adalah Kristus. Keturunan ini pertama-tama bersifat perorangan, Kristus yang individu, akhirnya menjadi Kristus yang korporat. Galatia 3:16 mewahyukan bahwa Kristus adalah keturunan Abraham. Awal mulanya, keturunan ini adalah Kristus individu, dan akhirnya menjadi Kristus yang korporat — Kristus sebagai Kepala, dan kita semua adalah Tubuh-Nya. Inilah keturunan yang diperlukan untuk menggenapkan tujuan Allah.
Kristus juga adalah tanah itu. Tentang konsepsi Kristus adalah tanah, nampaknya merupakan suatu hal yang baru dan aneh, sebab di waktu-waktu yang lampau banyak di antara kita yang diberi tahu bahwa tanah Kanaan yang indah merupakan suatu lambang, suatu simbol dari surga. Konsepsi itu dipegang oleh kebanyakan orang Kristen. Namun jika kita kembali kepada firman yang murni, kita akan melihat sesungguhnya tanah ini melambangkan Kristus. Dalam perlambangan, tanah adalah tempat umat Allah mendapatkan perhentian, tempat Allah mengalahkan musuh-musuh-Nya dan mendirikan kerajaan-Nya beserta tempat kediaman-Nya, sehingga Allah bisa mendapatkan pengekspresian dan perwakilan. Sekali lagi, ingatlah butir-butir yang berkaitan dengan tanah: tanah adalah tempat umat Allah mendapat perhentian; tempat musuh-musuh Allah dapat dibunuh; satu tempat Allah mendirikan kerajaan-Nya, dan membangun tempat kediaman-Nya agar Ia terekspresikan dan memerintah di bumi yang penuh dengan pemberontakan ini. Apa yang memenuhi syarat sebagai tanah ini? Tidak lain adalah Kristus sendiri. Dalam Kristus, kita memperoleh perhentian dan membunuh musuh-musuh. Dalam Kristus, Allah mendirikan kerajaan-Nya dan membangun tempat kediaman-Nya — gereja, menjadi ekspresi dan wakil-Nya. Sudahkah Anda melihat ke-turunan dan tanah, keduanya ini adalah Kristus. Keturunan yang dijanjikan Allah kepada Abraham pada hari ini adalah Kristus yang korporat; Allah juga menjanjikan tanah, yaitu Kristus yang ajaib yang telah dibangkitkan dan ditinggikan, yang di dalam-Nya kita mendapat perhentian dan membunuh musuh-musuh, dan di dalam-Nya pula Allah membangun kerajaan-Nya serta membangun tempat kediaman-Nya, sehingga Allah diekspresikan dan diwakili.
Ketika Allah menjanjikan keturunan kepada Abraham, Abraham segera percaya kepada Allah (15:6). Saat Abraham percaya kepada Allah mengenai janji keturunan itu, imannya kepada Allah sangatlah berharga, dan Allah menghitung iman ini sebagai kebenarannya. Waktu itu, Abraham dibenarkan berdasarkan iman, yaitu iman yang percaya bahwa Allah akan memberinya keturunan untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Ketika Abraham dengan demikian percaya kepada Allah perihal janji itu, Allah berkenan kepadanya. Tetapi, setelah itu, waktu Allah berjanji lagi kepada Abraham akan memberi tanah bagi dia, Abraham kurang beriman dan berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” (ayat 8). Sekalipun ia bisa mempercayai Allah berkaitan dengan janji tentang keturunan, tetapi ia tidak mempercayai Allah berkaitan dengan janji tentang tanah itu.
Prinsip yang sama terjadi pada hari ini. Mempercayai Kristus sebagai keturunan itu mudah, tetapi untuk mempercayai Kristus sebagai tanah itu sulit sekali. Lebih mudah percaya Kristus sebagai hayat kita daripada percaya Kristus sebagai hidup gereja (church life) kita. Banyak orang Kristen yang percaya Allah berkaitan dengan Kristus menjadi hayat mereka, tetapi ketika mereka membicarakan tentang hidup gereja (church life) adalah tanah permai, di atas tanah ini kita memperoleh perhentian, membunuh musuh-musuh, memberi Allah kedudukan mendirikan kerajaan-Nya, dan membangun tempat kediaman-Nya, mereka mengatakan hal itu tidak mungkin kita miliki pada hari ini. Banyak orang Kristen yang seolah-olah berkata, “Memang mungkin kita bisa hidup berdasarkan Kristus, tetapi tidak mungkin mempunyai hidup gereja.” Lebih mudah bagi mereka untuk percaya Kristus sebagai hayat mereka daripada percaya gereja sebagai kehidupan mereka. Mereka tidak bisa percaya hari ini sudah ada kemungkinan memiliki hidup gereja. Maka sekali lagi kita nampak, kita sama dengan Abraham, yaitu mudah untuk mempercayai Allah memberi keturunan, tetapi sulit untuk mempercayai Allah memberi tanah. Apakah Anda memiliki Kristus sebagai keturunan? Apakah Anda juga memiliki Kristus sebagai tanah? Bukanlah suatu perkara sederhana memiliki Kristus sebagai sebidang tanah untuk berdiam, dan yang memungkinkan kita memiliki hidup gereja, se-hingga Allah bisa memiliki kerajaan-Nya beserta tempat kediaman-Nya untuk menjadi ekspresi dan perwakilan-Nya.
Beberapa tahun yang lalu, sebelum kita masuk ke dalam hidup gereja, kita membicarakan tentang hidup berdasarkan Kristus, tetapi diri kita sendiri tidak berada di dalam perhen-tian. Kita berada di dalam kehidupan yang penuh kegelisahan, hingga suatu hari, bersandar anugerah-Nya, kita masuk ke dalam gereja. Ketika kita masuk ke dalam gereja, kita mulai merasakan berada di dalam perhentian. Sebelum kita masuk ke dalam hidup gereja, sulit bagi kita untuk membunuh musuh-musuh, tetapi setelah kita masuk ke dalam hidup gereja, kita akan mengalami betapa mudahnya membunuh musuh-musuh. Dalam hidup gereja Kerajaan Allah dibangun, tempat kediaman-Nya dibangun dan Allah diekspresikan serta diwakili. Inilah penggenapan tujuan kekal Allah pada hari ini.
3) Allah Melalui Kristus Membuat Perjanjian dengan Abraham untuk Memperkuat Janji-Nya
Karena Abraham merasa sulit untuk mempercayai janji Allah mengenai tanah itu, Allah terpaksa membuat perjan-jian dengan Abraham. Dalam Kejadian 15:19-21 kita nampak Allah melalui Kristus membuat perjanjian (covenant) untuk memperkuat janji (promise)-Nya. Cara Allah membuat perjanjian dengan Abraham sangat istimewa. Bagian dari firman ini sulit kita pahami. Kita harus mengetahui bahwa Allah terpaksa membuat perjanjian ini dengan Abraham. Bagi Allah, Dia tidak perlu berbuat demikian. Jika Abraham segera percaya akan janji tanah itu, Kejadian 15 pasti lebih singkat daripada yang ada sekarang. Juga tidak perlu banyak hal yang disebutkan di sana, seperti pemotongan menjadi dua bagian atas sapi betina, kambing betina, dan domba jantan; persembahan burung tekukur dan burung merpati; waktu Abraham tidur dengan nyenyak; turunlah gelap-gulita yang mengerikan meliputinya; Allah seperti perapian yang berasap beserta suluh yang berapi melewati potongan-potongan daging, dan disebutnya pula tentang 400 tahun. Dalam perkara-perkara di atas, nampaknya tidak ada satu pun yang menyenangkan. Waktunya bukan pada waktu matahari terbit, tetapi pada saat matahari terbenam, dan Allah hadir dalam suasana yang tidak penuh kasih, melainkan seperti perapian yang berasap serta suluh yang berapi. Jika kita menyaksikan pandangan seperti itu, mungkin kita mati ketakutan, tidak sanggup menahannya dan merasakan semuanya begitu mengerikan. Tetapi bagaimanapun, suasana itu mengandung suatu bau yang wangi karena Allah membuat perjanjian dengan orang yang dipanggil dan yang dikasihi-Nya, Ia tidak bermaksud menakut-nakutinya.
Telah banyak waktu yang saya pakai untuk mencoba mengerti potongan dari firman ini. Pada mulanya saya tidak bisa memahaminya, karena saya kekurangan pengalaman. Saya memeriksa beberapa buku, tetapi tidak ada satu pun dari buku-buku itu yang menguraikan sesuatu yang memberikan bantuan mengenai perkara ini. Tetapi melalui penga-laman bertahun-tahun, akhirnya Tuhan menunjukkan kepada saya makna sesungguhnya dari potongan firman ini. Peristiwa dalam pasal 15 adalah penggenapan dari suatu perjanjian, adalah catatan pembuatan perjanjian oleh Allah; perjanjian pertama yang dibuat Allah adalah dengan Nuh (9:8-17), perjanjian dengan pelangi sebagai tandanya. Kejadian 15 ini merupakan perjanjian kedua yang dibuat Allah dengan manusia. Kita perlu dengan baik-baik mengingat kenyataan ini dalam pikiran kita.
a) Tiga Ternak Menandakan Kristus yang Tersalib
Ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Allah memberi tahu kepadanya untuk mengambil seekor lembu betina, seekor kambing betina, seekor domba jantan, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati (Kej. 15:9). Tiga ternak ini semuanya berumur tiga tahun, kemudian dipotong menjadi dua, tetapi burung-burung itu tidak dipotong; mereka dibiarkan hidup. Dengan demikianlah Allah menetapkan perjanjian dengan Abraham, dan ini menandakan dengan jalan inilah Abraham dapat menggenapkan tujuan kekal Allah.
Kita perlu melihat makna tiga ternak dan dua burung itu. Secara lambang, benda-benda yang dipersembahkan manusia kepada Allah melambangkan Kristus. Berdasarkan prinsip ini, tidak dapat disangsikan lagi kelima kurban persembahan itu juga melambangkan Kristus. Kristus, pertama adalah Kristus yang tersalib, Kristus yang terpotong (tersembelih); dan yang kedua, Dia adalah Kristus yang bangkit, Kristus yang hidup. Jika kita nampak hal ini, kita akan mengerti tiga ternak yang dipotong dan dibunuh, melambangkan Kristus yang tersalib. Kristus yang tersalib ini adalah Dia yang menjadi daging, yang dalam keinsanian-Nya hidup di bumi. Yohanes 1 mengatakan bahwa firman yang adalah Allah telah menjadi daging (ayat 14); kemudian menyebut Dia sebagai Anak Domba Allah (ayat 29). Anak Domba Allah ini adalah juga Firman Allah yang telah menjadi daging itu. Jadi tiga ternak dalam Kejadian 15 menyatakan Kristus di dalam keinsanian-Nya tersalib bagi kita.
Jika kita membaca Kejadian 15 bersama-sama dengan Kitab Imamat, kita dapat melihat lembu betina dipakai untuk kurban keselamatan (pendamaian) (Im. 3:1). Mengapa kurban keselamatan (pendamaian) datang lebih dulu? Karena ketika Allah membuat perjanjian dengan orang yang dipanggil-Nya, perlu ada suatu pendamaian. Ketika membuat suatu perjanjian atau persetujuan kerja sama di antara dua pihak, perlu ada pendamaian. Demikian juga ketika Allah membuat perjanjian dengan orang yang dipanggil-Nya, pertama-tama perlu ada kurban pendamaian, dan Kristus adalah kurban pendamaian itu. Kambing betina melambangkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita (Im. 4:28; 5:6). Tidak peduli betapa baiknya kita, orang yang dipanggil Allah, kita tetap orang yang berdosa. Jadi, setelah kurban keselamatan (pendamaian), kita memerlukan kurban penghapus dosa. Haleluya, masalah dosa telah dibereskan! Dosa itu telah diangkut oleh Kristus yang menjadi kambing betina kita, menjadi kurban penghapus dosa. Sesudah kurban penghapus dosa diperlukan kurban bakaran, kurban yang menandakan segala sesuatu adalah bagi Allah (Im. 1:10). Setelah kurban pendamaian ada kurban penghapus dosa, dan setelah kurban penghapus dosa ada kurban bakaran. Kristus adalah kurban-kurban yang dilalui oleh Allah, ketika Ia membuat perjanjian dengan orang yang dipanggil-Nya.
Mengapa tiga ternak itu semuanya berumur tiga tahun? Karena Kristus bukannya dibunuh di dalam maut, melainkan di dalam kebangkitan. Dia dijadikan kurban persembahan bukan di dalam kematian-Nya, melainkan di dalam kebangkitan-Nya. Mengenai hal yang bersangkutan dengan penyaliban-Nya, Tuhan pernah berkata kepada orang-orang Yahudi, “Runtuhkan Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19). Tuhan dibunuh ketika Ia “berusia tiga tahun”, yang berarti Ia dibunuh di dalam kebangkitan. Bahkan sebelum Ia dibunuh, Ia sudah di dalam kebangkitan, karena Ia selalu di dalam kebangkitan (Yoh. 11:25). Karena itu, ketika Ia dibunuh, Ia dibunuh di dalam kebangkitan dan inilah sebabnya mengapa Ia dapat bangkit kembali. Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah di dalam kebangkitan. Ia di dalam kebangkitan terpaku di atas salib. Tidak peduli bagaimana kuatnya Anda, jika Anda dibunuh, Anda akan mati di dalam kematian, bukan di dalam kebangkitan. Tetapi Tuhan Yesus dibunuh di dalam kebangkitan.
b) Dua Ekor Burung Menandakan Kristus yang Bangkit
Dua ekor burung tidak dibunuh, menandakan Kristus yang bangkit, Kristus yang hidup (Im. 14:6-7). Kristus yang bangkit ini terutama mengenai keilahian-Nya, sebab menurut Alkitab burung merpati di dalam perlambangan menyatakan Roh Kudus (Yoh. 1:32). Karena itu, ternak melambangkan Kristus di dalam keinsanian-Nya, sedang burung melambangkan Dia di dalam keilahian-Nya. Jadi, burung-burung di dalam Kejadian 15 menandakan Kristus yang surgawi, Kristus yang datang dari surga, yang pernah hidup dan yang tetap hidup. Kristus pernah mati tersalib, namun Ia tetap hidup. Ia telah dibunuh dalam keinsanian-Nya, tetapi Ia hidup dalam keilahian-Nya. Ia adalah manusia yang hidup di bumi, yang pernah dibunuh; Ia juga yang surgawi yang terbang tinggi di atas segala tingkat langit, sekarang Ia tetap hidup. Keinsanian-Nya membuat Ia cocok menjadi setiap macam kurban, keilahian-Nya membuat Ia cocok menjadi yang hidup. Dia di dalam keinsanian-Nya berkorban bagi kita, sedang di dalam keilahian-Nya Dia hidup bagi kita.
Secara perlambangan, burung tekukur menandakan hayat penderitaan dan anak burung merpati menandakan hayat yang percaya, hayat iman. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Dia selalu hidup menderita dan percaya. Di dalam hayat penderitaan-Nya Dia adalah burung tekukur, sedangkan di dalam hayat beriman-Nya Dia adalah anak burung merpati.
Ada dua ekor burung. Angka dua berarti kesaksian, memberikan kesaksian (Kis. 5:32). Dua ekor burung itu memberikan kesaksian tentang Kristus sebagai yang dibangkitkan, hidup di dalam kita dan hidup bagi kita (Yoh. 14:19-20; Gal. 2:20). Yesus yang hidup adalah suatu kesaksian, Dia senantiasa memberikan kesaksian. Dalam Wahyu 1 Tuhan Yesus berkata, “Aku adalah yang hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya” (ayat 18). Ia hidup selama-lamanya adalah kesaksian-Nya, karena kesaksian Yesus selalu berhubungan dengan perkara-perkara yang hidup. Jika salah satu gereja lokal tidak hidup, gereja itu tidak mempunyai kesaksian Yesus. Semakin kita hidup, semakin kita menjadi kesaksian Yesus yang hidup.
Ada tiga ternak dan ada dua burung, jumlah seluruhnya lima. Angka lima adalah angka pertanggungjawaban, yang menunjukkan Kristus yang tersembelih dan yang bangkit, sekarang memikul semua tanggung jawab itu bagi penggenapan tujuan kekal Allah.
c) Iblis (Satan) dan Malaikat-malaikatnya seperti Unggas Datang dari Udara, untuk Membuat Kristus Tidak Efektif
Ketika kurban persembahan disiapkan, unggas-unggas dari udara datang hendak memakannya (ayat 11). Ini menyatakan Iblis (Satan) dan malaikat-malaikatnya datang untuk membuat Kristus tidak efektif bagi hidup gereja (Gal. 5:2, 4). Hari ini Iblis dan malaikat-malaikatnya (2 Kor. 11:13-15) bekerja sekuat tenaga merebut kenikmatan orang-orang Kristen terhadap Kristus yang diperlukan untuk menempuh hidup gereja (Kol. 2:8). Sebagaimana Abraham mengusir unggas-unggas itu, kita juga harus mengusir unggas-unggas itu, mengusir Iblis dan malaikat-malaikatnya, jauh dari apa adanya Kristus yang diperlukan untuk hidup gereja.
d) Allah yang Mengadakan Perjanjian Itu Lewat
di Antara Potongan-potongan Kurban Persembahan
Melalui lewat di antara potongan-potongan kurban persembahan yang melambangkan Kristus, Allah membuat perjanjian dengan Abraham (ayat 17-18; bandingkan dengan Yer. 34:18-19). Setelah Abraham memotong-motong kurban persembahan dan mengaturnya, “menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan” (ayat 11-12). Ketika Abraham berada dalam suasana yang demikian, Allah datang. Ayat 17 mengatakan, “Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu” (ayat 18). Allah tidak datang dengan penuh kasih, tetapi datang sama seperti perapian yang berasap dan suluh yang berapi. Perapian untuk memurnikan se-dang suluh untuk penerangan. Di tengah-tengah suasana yang gelap, Allah datang untuk memurnikan dan menerangi kita. Keadaan ini sering terjadi di dalam hidup gereja. Dengan tiba-tiba matahari terbenam, malam yang gelap meliputi kita, banyak orang saleh mengantuk, tidak berfungsi, dan terjadi kesulitan di berbagai aspek. Dalam waktu yang penuh penderitaan ini, kita mulai curiga dan berkata, “Apakah ini? Adakah sesuatu yang salah pada diri kita?” Pada waktu seperti ini, Allah selalu datang sebagai perapian untuk me-murnikan dan membakar kita, juga datang sebagai suluh yang menerangi kita. Orang-orang sering berkata kepada me-reka yang menempuh hidup gereja, “Mengapa kalian bisa mempunyai terang yang sedemikian banyak? Bukan main terang yang ada di antara kalian! Betapa terang suluh yang menyala-nyala itu!” Terang terutama berasal dari penderitaan. Perhatikan keadaan Abraham: matahari terbenam, malam tiba, Abraham tidur nyenyak, dan Allah tiba, bukan sebagai seorang penghibur, tetapi sebagai perapian yang membakar dan sebagai suluh yang menerangi. Di satu pihak Allah membakar kita hingga kita menderita; di pihak lain Dia menerangi kita sehingga kita di bawah sorotan-Nya. Pada saat seperti ini, meskipun kita di dalam malam yang gelap, kita dapat melihat dengan sangat jelas.
Dalam situasi seperti inilah Allah lewat di antara potongan-potongan daging kurban persembahan dan dengan demikian diberlakukanlah perjanjian Allah. Allah membuat perjanjian dengan Abraham dengan cara lewat di antara potongan-potongan daging kurban persembahan itu sebagai perapian berasap dan suluh yang berapi. Dengan cara inilah Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham, memperkuat janji-Nya kepada Abraham, sehingga menggenapkan tujuan kekal-Nya.
e) Orang yang Terpanggil Melalui Mempersembahkan Kristus kepada Allah, Bersatu dengan Kristus
Dalam Perjanjian Lama, orang-orang yang mempersembahkan kurban kepada Allah menumpangkan tangan mereka di atas kurban persembahan, ini menandakan keesaan mereka dengan kurban tersebut. Allah menyuruh Abraham mempersembahkan ternak dan burung kepada-Nya, menyiratkan Abraham harus bersatu dengan segala kurban yang dia persembahkan kepada Allah. Seolah-olah Allah berkata kepadanya, “Abraham, engkau harus bersatu dengan ternak dan burung-burung yang kaupersembahkan kepada-Ku itu. Engkau harus menjadi satu dengan ternak dan burung-burung itu.” Hal ini menyatakan, kita juga terpotong di dalam pemotongan Kristus dan tersalib di dalam penyaliban-Nya. Orang alamiah kita, daging kita, dan diri kita harus dibelah dan disalibkan. Ketika kita bersatu dengan Dia di dalam penyaliban-Nya, kita juga bersatu dengan Dia di dalam kebangkitan-Nya. Kita mati di dalam kematian-Nya (Rm. 6:5a, 8a) dan hidup di dalam kebangkitan-Nya (Rm. 6:5b, 8b) untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Kita diakhiri dalam penyaliban-Nya, kemudian kita bertunas atau ada permulaan kehidupan yang baru di dalam kebangkitan-Nya. Dengan jalan inilah kita bisa menggenapkan tujuan kekal Allah.
Orang alamiah tidak mungkin bisa menempuh hidup gereja. Di antara kita ada berbagai macam saudara dan saudari. Secara manusiawi, tidak mungkin kita bersatu. Tetapi di dalam gereja kita benar-benar disatukan oleh Kristus yang tersalib dan bangkit. Kita sedemikian bersatu di dalam-Nya sehingga Iblis pun tidak dapat tidak mengakui bahwa kita adalah satu. Orang lama kita diakhiri dalam penyaliban Kristus. Kapan saja orang lama saya yang telah diakhiri itu muncul lagi dari kubur, saya segera menghardik-nya, “Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu telah diakhiri. Kamu tidak patut datang kemari!” Kita semua telah diakhiri di dalam penyaliban Kristus dan bertunas di dalam kebangkitan Kristus. Di dalam kebangkitan-Nya kita semua hidup, tetapi bukan hidup bersandar diri sendiri, melainkan hidup bersandar Kristus yang bangkit; Dia hidup di dalam kita, sehingga kita dapat menempuh hidup gereja.
Sekarang kita nampak bagaimana Allah dapat memperoleh keturunan dan tanah yang sedemikian ajaib; keturunan adalah umat, tanah adalah wilayah. Di dalam wilayah ini dan dengan keturunan ini, Allah dapat mendirikan kerajaan-Nya dan membangun tempat kediaman-Nya bagi ekspresi dan perwakilan-Nya. Bagaimana Allah dapat melakukan hal ini? Hanya melalui tersembelihnya Kristus sebagai kurban pendamaian, kurban penghapus dosa, dan kurban bakaran kita, serta yang bangkit menjadi hayat kita. Sekarang kita, orang-orang terpanggil yang mempersembahkan Kristus kepada Allah dan yang bersatu dengan-Nya, adalah esa dengan Kristus. Kristus mati disalib lalu bangkit, kita pun mati disalib dan bangkit bersama-sama dengan Dia. Kita tersalib di dalam penyaliban-Nya dan dibangkitkan di dalam kebangkitan-Nya. Sekarang kita semua dapat memproklamirkan, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Melalui fakta ini, hari ini kita dapat hidup dan menempuh hidup gereja. Di dalam hidup gereja, kita memiliki Kristus di dalam kita menjadi keturunan, dan Kristus yang di luar kita sebagai tanah. Bagaimana kita bisa memasuki tanah yang semacam ini, bisa memasuki hidup gereja semacam ini? Hanya melalui Kristus yang tersalib dan bangkit, melalui lembu betina, kambing betina, domba jantan, tekukur, dan burung merpati. Di satu pihak, kita semua telah tersalib, di lain pihak, kita semua hidup. Dengan demikian Allah bisa mendapatkan keturunan dan tanah untuk menggenapkan tujuan kekal-Nya. Haleluya kita memiliki Kristus yang sedemikian sebagai keturunan, sebagai sandaran kita untuk hidup, Dia juga sebagai tanah, agar kita hidup di dalam-Nya.
4) Penderitaan Keturunan yang Dijanjikan
a) Ditandai dengan Gelap gulita yang Mengerikan
Kejadian 15:12-16 mengisahkan penderitaan keturunan yang dijanjikan. Penderitaan ini ditandai dengan gelap gulita yang mengerikan yang meliputi Abraham. Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abraham dengan nyenyak, dan turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. Dalam kegelapan itulah Allah bernubuat tentang keturunan Abraham, kata-Nya, “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya . . . tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini.” (Kej. 15:13, 16). Allah seolah-olah berkata kepada Abraham, “Abraham, engkau seharusnya jangan sangsi bahwa Aku akan memberikan tanah kepadamu. Keturunanmu akan mewarisi tanah itu. Tetapi anak cucumu akan menderita sengsara empat ratus tahun.” Nubuat Allah ini sangat bermakna. Dalam hidup gereja hari ini, pada suatu waktu matahari dapat terbenam, malam yang gelap gulita akan datang dan kebanyakan orang akan tertidur, saat itu mereka tidak berfungsi dan tidak berguna. Saat seperti ini adalah saat penderitaan. Di sini, di atas diri Abraham kita melihat tiga hal: matahari terbenam, Abraham tertidur dengan nyenyak, dan gelap gulita yang mengerikan turun meliputinya. Pada masa seperti ini, orang-orang yang terpanggil oleh Allah berada di bawah penderitaan. Allah berkata kepada Abraham, keturunannya akan menderita seperti itu selama empat ratus tahun. Empat ratus tahun itu merupakan suatu malam yang panjang, suatu zaman kegelapan, saat itu kaum Israel tertidur, tidak berfungi dan menderita sengsara. Tertidurnya Abraham menandakan empat ratus tahun itu bagi orang Israel, adalah malam hari yang dilewati oleh mereka.
b) Dari Ismael Menganiaya Ishak Hingga Keluar dari Mesir
Sejarah membuktikan keturunan Abraham menderita sengsara dalam jangka waktu empat ratus tahun yang di-awali dengan penganiayaan terhadap Ishak oleh Ismael (Kej. 21:9; Gal. 4:29) kira-kira tahun 1891 SM hingga orang Israel keluar dari Mesir kira-kira tahun 1491 SM (Kel. 3:7-8; Kis. 7:6). Penganiayaan kepada Ishak oleh Ismael merupakan awal dari aniaya terhadap keturunan Abraham yang berlangsung terus hingga empat ratus tahun. Apakah makna angka empat ratus tahun ini? Angka ini tersusun dari sepuluh kali empat puluh. Dalam Alkitab, angka empat puluh adalah angka pencobaan, penderitaan, dan ujian. Jadi empat ratus tahun berarti 10 kali pencobaan. Sebelum orang Israel diuji di padang belantara selama empat puluh tahun, mereka telah diuji selama empat ratus tahun. Mulai dari penganiayaan Ismael terhadap Ishak, keturunan yang dijanjikan itu, hingga keluarnya orang Israel dari Mesir adalah empat ratus tahun. Mengapa kemudian Keluaran 12:40-41 dan Galatia 3:17 mengatakan empat ratus tiga puluh tahun? Empat ratus tiga puluh tahun ini dimulai dari Kejadian 12:1-6, yaitu mulai tahun 1921 SM. Mulai hari itu, sejak Abraham dipanggil dalam Kejadian 21 hingga penganiayaan terhadap Ishak oleh Ismael persis tiga puluh tahun. Masa itu merupakan masa orang yang dipanggil Allah berdiam di tanah orang asing. Walaupun Abraham masih di Kanaan, tetapi baginya tanah itu merupakan tanah asing, dan tetap menjadi suatu tanah yang asing bagi orang yang dipanggil oleh Allah sampai hari ketika mereka memasukinya sebagai tanah yang permai. Penganiayaan terhadap keturunan dimulai tiga puluh tahun setelah Abraham dipanggil dalam Kejadian 12 dan berlangsung terus hingga empat ratus tahun.
Hal ini bukan hanya merupakan suatu doktrin saja, karena dalam hidup gereja hari ini prinsipnya masih sama. Sementara kita menikmati Kristus di dalam kita sebagai keturunan dan di luar kita sebagai tanah, malam yang gelap meliputi kita dan beberapa pencobaan dan ujian pun mungkin akan datang. Apakah tujuan semuanya ini? Tujuannya agar di tengah-tengah malam yang gelap itu, ketika orang-orang yang dipanggil kurang berfungsi dan menderita, Allah datang sebagai perapian yang berasap untuk memurnikan kita dan sebagai suluh yang berapi untuk menerangi kita, sehingga kita dapat menggenapkan tujuan-Nya melalui keturunan dan tanah itu.
c) Tandanya Allah Menggenapkan Perjanjian-Nya
Sewaktu Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Allah dengan kedaulatan-Nya membuat lingkungan yang gelap, di dalam lingkungan yang gelap itu ia berkata kepada Abraham bahwa keturunannya akan menderita aniaya selama empat ratus tahun. Sebab itu nubuat yang di kemudian hari telah digenapkan ini adalah tandanya Allah menggenapkan perjanjian yang Dia buat di sini. Penganiayaan terhadap keturunan yang dijanjikan adalah tandanya Allah akan menggenapkan perjanjian-Nya. Melalui penderitaan seperti yang Allah nubuatkan, umat Allah harus percaya Allah akan menggenapkan perjanjian-Nya. Hal ini sama de-ngan keadaan kita pada hari ini. Penderitaan gereja pada masa-masa kegelapan adalah tanda yang kuat bahwa Allah akan dengan Kristus sebagai keturunan dan tanah menggenapkan perjanjian-Nya bagi perwujudan hidup gereja.
Dalam Kejadian 15:18 Allah membuat perjanjian dengan Abraham dan berkata, “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari Sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, Sungai Efrat.” Kepada keturunan Abraham diberikan tanah yang sangat luas, dari Sungai Mesir sampai sungai yang besar itu, Sungai Efrat. Bangsa Israel hari ini hanya memiliki sebidang tanah yang sempit, sebenarnya tanah yang dijanjikan itu jauh lebih luas daripada yang sekarang ini. Secara perlambangan, ini berarti setelah semua pengalaman penganiayaan, hidup gereja akan diperluas dan menjadi sangat luas. Kemudian kita akan memiliki keturunan yang lebih kaya dan hidup gereja yang lebih luas. Keturunan yang di dalam kita akan lebih kaya, tanah di luar kita akan lebih luas. Di sinilah kita akan menggenapkan tujuan kekal Allah.
Kejadian 15 sebenarnya adalah pasal yang sangat sulit dimengerti, tetapi saya percaya oleh belas kasihan Tuhan, sekarang telah menjadi jelas bagi kita. Dalam pasal ini kita mempunyai keturunan dan tanah. Di sini kita mempunyai Kristus sebagai yang tersalib, yang dibangkitkan, dan yang hidup. Di sini juga kita mengalami keesaan kita dengan Kristus. Dalam pasal ini ada empat ratus tahun penderitaan serta kedatangan Allah sebagai perapian dan suluh. Di sini Allah membuat perjanjian-Nya, supaya kita bisa meng-genapkan tujuan kekal-Nya. Bagaimana Allah membuat perjanjian-Nya? Dengan tersalibnya Kristus sebagai kurban pendamaian, kurban penghapus dosa, dan kurban bakaran, serta yang bangkit dari kematian sebagai yang hidup; juga dengan jalan kita mempersembahkan Kristus, dan dengan sepenuhnya kita bersatu dengan-Nya di dalam penyaliban dan kebangkitan-Nya; dan dengan cara kita memahami akan datang malam yang gelap, penuh penganiayaan, dan kedatangan Allah sebagai perapian dan suluh untuk memurnikan dan me-nerangi kita. Dalam Kejadian 15 ini, kita berada dalam perjanjian yang dibuat melalui Kristus yang memungkinkan kita menggenapkan tujuan kekal Allah. Di sinilah, di dalam hidup gereja, kita menikmati Kristus sebagai keturunan dan sebagai tanah yang permai. Di sini juga kita menikmati Dia sebagai anugerah yang serba cukup untuk menggenapkan tujuan kekal Allah.