MENGENAL ANUGERAH UNTUK MENGGENAPKAN TUJUAN ALLAH KETURUNAN DAN TANAH
Dalam berita ini kita akan melihat satu belokan yang sangat besar pada diri Abraham dalam pengalamannya terhadap Allah. Sampai saat ini, semua perkara yang kita ketahui dari pengalaman Abraham terhadap Allah adalah pengalaman yang lahiriah. Abraham telah dipanggil Allah dan ia menjawab panggilan-Nya untuk pergi ke suatu tempat yang telah Allah tentukan. Ini mutlak merupakan perkara lahiriah. Selanjutnya, pengalaman Abraham yang kedua adalah hidup oleh iman dan menempuh penghidupan bersandar kepada Allah.
Ujian pertama yang dihadapinya dalam menempuh hidup oleh iman adalah bencana kelaparan yang hebat. Melalui ini ia belajar bersandar kepada Allah dalam hal makan. Semua orang, baik orang-orang zaman kuno atau zaman modern; baik orang-orang di benua sebelah Timur atau Barat; tanpa menilik kepandaian, pendidikan, atau jabatan orang-orang itu, semuanya sangat memperhatikan masalah penghidupan atau masalah nafkah. Masalah nafkah secara keseluruhan terletak pada masalah makan, masalah suplai makanan. Dalam Alkitab dan sejarah manusia, sering kali Allah menggunakan masalah makanan untuk mengontrol manusia. Karena itu jangan sombong, begitu Allah menyingkirkan persediaan makanan Anda, Anda akan rebah sambil berkata, “Ya Allah, tolonglah aku!”
Dalam beberapa berita yang lalu kita telah nampak bahwa setelah Abraham tiba di tempat yang Allah inginkan, pelajaran pertama yang harus ia tempuh adalah bersandar kepada Allah dalam persoalan makanan. Sayang ia gagal dalam ujian kali ini dan turun ke Mesir. Di Mesir, barulah ia belajar bagaimana bersandar kepada Allah; setelah itu, ia kembali ke tempat di antara Betel dan Ai. Kemudian, tibalah pelajaran berikutnya yang sejenis dengan pelajaran yang pertama, yaitu masalah nafkah, yang menimbulkan pertengkaran antara para gembala Lot dengan para gembala Abraham. Para gembala ini bertengkar karena masalah penghidupan; mereka bertengkar karena masing-masing ingin memperoleh penghidupan yang lebih baik. Mereka tidak se-nang orang lain merebut mata pencaharian mereka. Pada ujian yang kedua ini Abraham memperoleh kemenangan; karena ia telah belajar dari ujian yang pertama, mengetahui Allah berkuasa atas penghidupan sehari-harinya. Abraham benar-benar mengenal bahwa Allah yang memanggilnya adalah Allah yang Mahatinggi, Tuhan langit dan bumi (Pencipta langit dan bumi). Ia tidak perlu khawatir akan mata pencariannya, karena ia tahu bahwa Allah yang memanggilnya itu pasti memeliharanya.
Begitu juga peperangan antara empat raja dan lima raja, pada dasarnya juga bersangkut-paut dengan masalah makan. Menurut sejarah, semua peperangan di antara umat manusia selalu berkisar pada masalah ini. Semua peperangan baik yang terjadi secara nasional maupun internasional, semuanya hanya untuk satu tujuan — penghidupan. Kejadian 14:11 menunjukkan kepada kita, peperangan empat raja melawan lima raja itu juga karena masalah ini.
Abraham tidak merasa takut terhadap empat raja itu, dengan berani ia berperang melawan mereka, mengalahkan mereka dan memulihkan suplai makanan. Setelah Abraham memperoleh kemenangan atas empat raja itu, Melkisedek datang dengan membawa roti dan anggur (14:18). Roti ini adalah roti yang misteri. Abraham tidak perlu berbuat sesuatu untuk memperolehnya. Ia tidak perlu berperang untuk roti ini. Abraham hanya berperang, memulihkan suplai makanan; kemudian datanglah Melkisedek dengan membawa roti.
Semua pengalaman Abraham hingga akhir pasal 14 adalah pengalaman lahiriah yang bersangkut-paut dengan berkat, pemeliharaan, dan suplai lahiriah. Ketika Abraham turun ke Mesir, Allah memelihara dia secara lahiriah, memberinya ternak dan budak. Kemenangan yang ia peroleh ketika melawan empat raja juga merupakan kemenangan lahiriah. Bahkan barang-barang yang dibawa Melkisedek untuk Abraham juga bersifat lahiriah. Segala sesuatu yang dialami Abraham sampai saat ini adalah lahiriah. Sebelum mendengar perkataan-perkataan ini, mungkin Anda berpikir bahwa sampai akhir pasal 14, Abraham telah mencapai puncak pengalamannya terhadap Allah. Memang ia telah mencapai puncak, tetapi ini adalah puncak tahap permulaannya. Semua yang dialami Abraham sebelum pasal 15 bersifat permulaan. Pada awal pasal 15, Allah baru datang kepadanya untuk memalingkan dia menempuh pengalaman tahap yang lebih tinggi terhadap Allah.
c. Mengenal Anugerah
untuk Menggenapkan Tujuan Allah
Kejadian 15:1 mengatakan, “Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: ‘Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.’” Ketika Allah datang dan mengatakan kata-kata ini, Abraham masih dalam tahap permulaan atau tingkat dasar. Setelah peristiwa ia mengalahkan raja-raja, terjadilah perseteruan yang hebat antara dia dengan orang-orang pengikut raja-raja itu. Ketika Abraham berperang melawan musuh-musuhnya, ia sangat tegas dan berani. Tetapi setelah memperoleh kemenangan dan pulang ke rumah, ia mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “Apa yang telah kuperbuat? Mungkin orang-orang itu akan datang kembali. Lalu apa yang harus kuperbuat? Aku hanya memiliki tiga ratus delapan belas orang, sedangkan jumlah mereka jauh lebih banyak.” Abraham mulai merasa takut. Sering kali kita juga sama dengan Abraham. Ketika kita beriman, kita dengan tegas berkata, “Haleluya bagi Allah yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi (Tuhan langit dan bumi). Aku bersumpah demi Dia.” Setelah memperoleh kemenangan dan berseru haleluya di dalam sidang, setiba di rumah, Anda mulai berpikir dan berkata kepada diri sendiri: “Apa yang telah ku perbuat? Apa yang akan kuperbuat kalau musuh-musuh kembali?”
Dalam 15:1 Allah menampakkan diri kepada Abraham dan berkata, “Janganlah takut.” Allah berkata demikian kepada Abraham, berarti Abraham takut akan musuh-musuhnya. Seolah-olah Allah berkata, “Abraham, kau tidak perlu takut, Akulah perisaimu. Tenanglah, aku juga upahmu yang sangat besar.” Abraham yang saat itu masih dalam tingkat dasar, merasa khawatir akan dua hal, yaitu kalau-kalau musuhnya kembali menyerang dia dan dia belum mempunyai anak. Mungkin Abraham berkata, “Lihatlah aku, aku sudah tua; perhatikanlah istriku dia pun hampir-hampir tidak berfungsi lagi. Kami tetap belum mempunyai anak. Tuhan, tidakkah Engkau tahu bahwa usia kami sudah lanjut? Kapan Engkau akan memberi kami seorang anak?” Ketika Allah menampakkan diri kepadanya, Abraham khawatir akan dua hal ini.
Di hadapan Allah, kita tidak dapat menyembunyikan keinginan kita. Jika kita diberi kesempatan, cepat atau lambat kita akan mengutarakan apa yang terkandung dalam hati kita. Karena itu, dalam 15:2, Abraham berkata, “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” Dalam kata-kata selanjutnya Abraham berkata kepada Tuhan dengan tidak begitu sopan, “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku” (Kej. 15:3). Seolah-olah Abraham berkata, “Tuhan, aku tidak mempunyai anak, sebab Engkau tidak memberi anak kepadaku. Engkau harus bertanggung jawab akan hal ini. Mengapa aku tidak mempunyai anak? Sekarang Engkau datang dan berkata kepadaku bahwa Engkau akan memberi upah yang besar kepadaku. Apa gunanya Engkau memberiku upah yang besar kalau aku tidak mempunyai anak?”
Abraham berkata kepada Tuhan bahwa anak yang di rumahnya adalah Eliezer orang Damsyik, yang akan menjadi ahli warisnya. Dalam Alkitab terjemahan baru Darby, catatan kakinya mengatakan “anak yang di rumahku” berarti “seorang hambanya”. Ini berarti Eliezer berasal dari Damsyik. Mungkin ketika Abraham melewati Damsyik, ia mendapatkannya di sana. Tidak seorang pun di antara kita yang menjawab panggilan Allah dengan tegas dan singkat, kita semua menarik lumpur membawa air, bertele-tele. Sampai-sampai Abraham mengalami dua kali kematian anggota keluarga dekatnya, yaitu kematian Haran saudaranya dan Terah ayahnya. Akhirnya Abraham tidak dapat menunda lagi, barulah ia menjawab panggilan Allah. Di Haran ia menerima panggilan untuk kedua kalinya. Ketika pergi, ia membawa Lot, keponakannya, beserta dengan dia, dan saat melewati Damsyik ia mengambil Eliezer. Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham dan mengatakan bahwa Allah adalah perisai dan upah yang besar bagi Abraham, Abraham seolah-olah menjawab, “TUHAN Allah, aku tidak mempunyai anak, sebab Engkau tidak memberikan anak kepadaku. Orang yang kuinginkan menjadi ahli waris dan pemilik rumahku adalah pelayanku, Eliezer.”
Allah berkata kepada Abraham, “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu” (Kej. 15:4). Seakan-akan Allah berkata kepada Abraham, “Aku tidak mau Lot, Aku juga tidak mau orang ini. Haruslah anak kandungmu sendiri, bukan seorang hambamu.” Kemudian Tuhan berfirman kepadanya, “‘Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firman-Nya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu’” (Kej. 15:5). Pada saat inilah Abraham percaya kepada TUHAN. Ayat 6 mengatakan “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kepercayaan Abraham oleh Allah diperhitungkan sebagai kebenarannya, dan saat itu juga Abraham dibenarkan. Inilah pembenaran oleh iman.
Abraham mendapatkan keturunan, sama sekali bukan perkara yang di lahir, tetapi sepenuhnya adalah perkara yang di batin. Abraham ingin membuat perkara ini sebagai perkara lahir, karena Eliezer adalah sesuatu yang di luar dirinya, bukan sesuatu yang berasal dari dirinya. Kita perlu melihat perbedaannya. Pada hari ini, sangat sedikit orang Kristen yang memperhatikan pengalaman batiniah, kebanyakan mereka hanya memperhatikan pengalaman-pengalaman lahiriah. Hal-hal yang diajarkan oleh orang-orang Kristen hari ini, paling banyak hanya sampai pada akhir Kejadian 14. Mungkin beberapa orang akan membantah hal ini dengan berkata, “Bukankah mereka telah dibenarkan melalui iman dan bukankah perkara pembenaran ini tercantum dalam pasal 15?” Ya, mereka memang telah dibenarkan melalui iman, tetapi hal ini pun telah mereka buat menjadi perkara lahiriah.
Dalam pasal 14 Abraham percaya Allah adalah Allah yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi (Tuhan langit dan bumi); tetapi dalam pasal 14 Abraham tidak dibenarkan melalui iman ini. Allah tidak menghitung iman seperti ini sebagai kebenarannya. Iman yang bagaimanakah yang dihitung sebagai kebenaran Abraham? Yaitu iman yang percaya Allah sanggup mengerjakan sesuatu ke dalam dirinya untuk melahirkan keturunan. Percaya Allah akan menyuplai keperluan sehari-hari kita dan makanan kita memang baik, tetapi iman seperti ini bukanlah iman yang berharga dalam pandangan Allah. Iman yang bagaimanakah yang berharga dalam pandangan Allah? Yaitu Iman yang percaya Dia sanggup mengerjakan diri-Nya ke dalam kita untuk melahirkan Kristus. Hari ini banyak orang Kristen hanya mempunyai iman yang percaya bahwa Allah dapat mengerjakan hal-hal yang di lahir bagi mereka. Misalnya, percaya Allah sanggup memberi mereka kesehatan, kesembuhan, pekerjaan yang baik, kenaikan pangkat, dan lain-lain. Banyak orang Kristen hanya memiliki iman semacam ini. Walaupun iman seperti ini baik, tetapi bukanlah iman yang indah dan berharga dalam pandangan Allah. Allah tidak menghitung iman seperti ini sebagai kebenaran untuk Abraham. Iman yang dihitung sebagai kebenaran untuk Abraham adalah percaya Allah sanggup mengerjakan sesuatu ke dalamnya un-tuk menghasilkan keturunan. Dalam Kejadian 15, Abraham bukan percaya Allah dapat memberinya makanan, ternak, ataupun budak-budak yang lebih banyak. Ia percaya Allah bisa mengerjakan sesuatu ke dalamnya dan menghasilkan keturunan.
Iman yang bagaimanakah yang Anda miliki? Kebanyakan orang Kristen menghargai iman yang percaya Allah akan memberi semua yang mereka perlukan untuk kehidupan sehari-hari. Itulah iman yang percaya Allah sebagai Allah yang Mahatinggi, sebagai Pencipta (Tuhan) langit dan bumi. Mungkin Anda berpikir bahwa Anda akan dipuaskan bila mempunyai iman seperti itu. Setelah membaca berita yang lalu, Anda mencoba percaya kepada Allah yang Mahatinggi, percaya kalau Allah kita adalah Pencipta langit dan bumi. Tetapi dalam pandangan Allah, iman seperti itu bukanlah iman yang sangat indah dan berharga. Kita perlu mempunyai iman yang percaya Allah akan mengerjakan diri-Nya ke dalam kita, iman yang percaya keturunan surgawi akan dilahirkan oleh sesuatu yang telah digarapkan ke dalam kita. Semoga perkara ini dapat terukir ke dalam diri kita!
(1) Dua Hal yang Dilakukan Allah bagi Orang yang Dipanggil
(a) Bagi Kelangsungan Hidupnya
Sebelum pasal 15, Abraham telah mengalami Allah sebagai Pelindung dan Pemberi banyak benda materi (12:16). Abraham telah memberikan pilihan kepada Lot dan telah memperoleh kemenangan atas keempat raja. Namun, tidak ada satu pun dari hal-hal yang diperbuatnya itu bertujuan bagi penggenapan kehendak Allah; itu hanya bersangkut-paut bagi kelangsungan hidup Abraham (12:10; 14:24). Ia mengalami semua itu secara lahiriah, di dalam lingkungannya, bukan mengalami secara batiniah di dalam hayat.
(b) Supaya Dia Menggenapkan Tujuan Allah
Tahukah Anda, apakah tujuan Allah? Tujuan Allah adalah mendapatkan sekelompok orang yang mempunyai gambar-Nya untuk mengekspresikan Dia, yang mempunyai otoritas penguasaan-Nya untuk mewakili-Nya, dan bagi kerajaan-Nya mendapatkan bumi. Mulai dari Kejadian 1:26, kita nampak tujuan Allah yang kekal adalah mendapatkan sekelompok orang yang mempunyai gambar-Nya untuk mengekspresikan Dia, mempunyai otoritas penguasaan-Nya untuk mewakili-Nya, serta bagi kerajaan-Nya mengambil alih bumi. Ketika Allah memanggil Abraham, Ia berjanji kepada Abraham akan memberi berkat agar Abraham dapat mengekspresikan Allah dan menjadi bangsa yang besar sehingga melalui dia Allah akan mendapatkan kerajaan-Nya di bumi. Inilah tujuan Allah yang kekal. Tetapi segala sesuatu yang terjadi pada Abraham sebelum Kejadian 15 tidak ada satu pun yang berhubungan dengan penggenapan tujuan Allah. Mulai pasal 15—24 barulah kita mempunyai catatan yang menunjukkan kepada kita bagaimana Allah mengerjakan sesuatu ke dalam diri Abraham, sehingga ia sanggup menggenapkan tujuan Allah. Hal ini bukan lagi hanya pengalaman lahiriah di dalam lingkungannya, melainkan pengalaman batiniah di dalam hayat.
Kebanyakan orang Kristen hari ini hanya memperhatikan eksistensi mereka, bukan lagi tujuan kekal Allah. Di antara kita banyak juga yang masih tidak mempunyai kesan yang dalam terhadap tujuan kekal Allah ini. Banyak yang masih mengharapkan Tuhan memberi mereka pekerjaan yang lebih baik, suami atau istri yang baik, pendidikan yang baik, atau naik pangkat yang tinggi. Semua ini hanya untuk kelangsungan hidup Anda, tidak ada satu pun yang mempunyai hubungan langsung dengan penggenapan tujuan Allah. Sebelum pasal 15, setiap pengalaman adalah bagus-bagus, penuh pertolongan dan menguntungkan bagi eksistensi Abraham, yang membuat dia hidup dengan baik sebagai manusia, tetapi tidak ada satu pun dari benda-benda itu yang langsung berhubungan dengan penggenapan tujuan Allah. Perhatikan keadaan Abraham. Apakah ternak yang didapatkan Abraham sewaktu di Mesir bisa mengekspresikan Allah? Apakah budak-budak perempuan yang ia dapatkan itu bisa mewakili Allah? Walaupun Allah memberi Abraham sangat berlimpah-limpah, tetapi tidak satu pun dari yang dimilikinya itu berguna untuk penggenapan tujuan Allah. Eksistensi adalah satu perkara, sedangkan penggenapan tujuan Allah meru-pakan perkara yang lain lagi. Hari ini prinsip kita juga sama. Pendidikan, pekerjaan, dan rumah kita, semuanya baik untuk eksistensi kita, tetapi tidak ada satu pun yang layak untuk menggenapkan kehendak Allah.
(2) Dua Hal yang Diperlukan untuk Menggenapkan Tujuan Allah
(a) Keturunan
Sekarang kita perlu melihat dua hal yang diperlukan untuk menggenapkan tujuan Allah pada zaman Abraham. Hal yang pertama adalah keturunan (Kej. 15:1-6; lihat juga Kej. 13:16; 22:17-18; 12:2). Maksud Allah memanggil Abraham adalah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Seperti yang telah kita lihat, tujuan-Nya adalah mendapatkan sekelompok orang yang dalam gambar-Nya mengekspresikan diri-Nya dan memiliki otoritas-Nya untuk mewakili diri-Nya. Tetapi Abraham tidak mempunyai keturunan, bagaimana mungkin Abraham bisa menggenapkan tujuan Allah tanpa keturunan? Allah memerlukan keturunan. Ia perlu melalui keturunan ini mendapatkan sekelompok orang.
1) Bukan Apa yang Dimiliki Abraham
Abraham sama seperti kita dan kita sama seperti dia. Ketika Abraham mengetahui bahwa ia perlu keturunan, ia memakai Eliezer sebagai pelengkapnya (Kej. 15:2-4). Seolah-olah Abraham berkata, “Sekarang aku mengerti, aku harus mempunyai keturunan untuk mendapatkan sekelompok orang bagi Allah. Karena aku sudah tua dan istriku hampir sudah tidak berfungsi, maka keturunan itu pasti adalah apa yang kumiliki.” Tetapi Allah tidak pernah memakai benda-benda yang kita miliki untuk menggenapkan tujuan-Nya. Apa pun yang kita miliki, semuanya tidak baik untuk hal ini. Janganlah berpikir bahwa apa yang Anda miliki itu baik untuk menggenapkan tujuan Allah. Yang Anda miliki tidak lain adalah Eliezer. Tidak satu pun yang Anda miliki itu terhitung. Tidak satu pun dari milik kita yang berguna bagi penggenapan tujuan Allah. Apa pun yang kita miliki, jika bukan dari Allah, yang terbaik pun paling-paling adalah sesuatu yang berasal dari Damsyik.
2) Melainkan Apa yang Allah Janji Akan Allah Kerjakan
Keturunan yang diperlukan untuk penggenapan tujuan Allah haruslah yang dijanjikan Allah, yang akan dilahirkan melalui Abraham, yaitu sesuatu yang Allah kerjakan ke dalamnya, sehingga ia sanggup melahirkan keturunan (Kej. 15:4-5). Lalu siapakah sebenarnya keturunan ini? Jika Anda mendoa-bacakan Kejadian 15 serta Galatia 3, Anda akan melihat bahwa keturunan ini adalah diri Kristus sendiri. Tidak satu pun yang kita miliki dapat melahirkan Kristus. Pendidikan kita, hasil kerja kita, keterampilan kita, dan lain sebagainya, semuanya tidak berarti apa-apa. Semua itu tidak lain adalah Eliezer, bukanlah Kristus yang dilahirkan setelah Allah mengerjakan sesuatu ke dalam kita. Tidak satu pun dari hal-hal itu yang bersifat subyektif, semua adalah hal-hal yang obyektif dalam lingkungan kita. Eliezer Anda mungkin adalah pendidikan perguruan tinggi Anda, bahkan dalam hidup gereja pun Anda masih bersandar kepada Eliezer ini, berarti Anda masih bersandar pada pendi-dikan perguruan tinggi Anda. Kita semua pernah melewati Damsyik, dan sekurang-kurangnya membawa seorang Eliezer. Tetapi itu bukanlah keturunan yang Allah inginkan. Keturunan ini haruslah merupakan sesuatu yang Allah kerjakan di dalam kita, bukan sesuatu yang kita bawa. Apa pun yang kita bawa dari Damsyik, tidak akan melahirkan Kristus. Hanya sesuatu yang Allah kerjakan ke dalam kita baru bisa melahirkan Kristus sebagai keturunan.
Untuk menggenapkan tujuan Allah, kita harus mempunyai Kristus yang digarapkan ke dalam kita. Inilah sebabnya mengapa Paulus berkata bahwa Kristus diwahyukan di dalam dia (Gal. 1:15-16), Kristus tinggal di dalam dia (Gal. 2:20). Kristus terbentuk di dalam dia (Gal. 4:19), dan baginya hidup adalah Kristus (Flp. 1:21). Paulus memperhidupkan Kristus. Ketika ia sebagai Saul dari Tarsus, ia melewati “Damsyik” agama Yahudi, dan memperoleh banyak perkara. Semua yang diperolehnya saat itu tidak lain adalah Eliezer. Tuhan berkata kepada Paulus bahwa ia harus melupakan semuanya itu — semuanya itu adalah kotoran, sampah, makanan anjing — ia harus membuang semuanya itu. Tidak satu pun yang telah Paulus miliki itu mampu melahirkan Kristus. Hanya kalau Allah tergarap ke dalamnya barulah da-pat melahirkan Kristus. Seolah-olah Tuhan berkata kepada Paulus, “Perkara-perkara yang kaumiliki, yang berlatar belakang agama Yahudi tidak akan melahirkan Kristus. Hanya yang Kukerjakan ke dalammu sajalah yang akan melahirkan Kristus. Yang Kukerjakan ke dalammu adalah anugerah-Ku.” Akhirnya Paulus berkata, “Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku” (1 Kor. 15:10).
Di sini, saya perlu menerangkan apa perbedaan antara anugerah dan berkat. Anugerah yang dianggap oleh kebanyakan orang Kristen adalah berkat. Apakah berkat itu? Berkat adalah kemakmuran, keuntungan, dan berkecukupan. Banyak orang Kristen menggunakan bentuk kata sifat pada kata anugerah. Mereka suka berkata, “Oh, Allah sungguh penuh anugerah kepada kita.” Tetapi ini terlalu jauh dari makna anugerah yang sesungguhnya. Kata Ibrani untuk anugerah di dalam Bilangan 6:25 berarti melakukan atau membungkukkan diri untuk memberikan sesuatu kepada orang yang rendah. Misalnya, raja mungkin dengan sangat penuh rahmat membungkukkan diri memberi sesuatu kepada seorang pengemis. Inilah arti anugerah. Tetapi di dalam Alkitab, anu-gerah adalah diri Allah sendiri yang masuk ke dalam diri kita menjadi kenikmatan kita. Yohanes 1:17 mengatakan, “Sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran (realitas) datang melalui Yesus Kristus.” Yohanes 1:14 mengatakan “Firman itu telah menjadi manusia . . . penuh anugerah dan kebenaran.” Sedangkan Yohanes 1:16 mengatakan: “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah.”
Berkat adalah untuk eksistensi (kelangsungan hidup) kita, sedang anugerah adalah untuk menggenapkan tujuan Allah. Kita memerlukan berkat Allah untuk eksistensi kita. Jika Allah tidak memberkati kita, kita akan kehilangan pekerjaan, kesehatan, bahkan hayat fisik kita. Saya tidak ragu akan hal ini, karena eksistensi saya menunjukkan bahwa saya sepenuhnya di bawah berkat Allah.
Jika hanya untuk eksistensi kita saja, semuanya adalah kesia-siaan di atas kesia-siaan. Apakah yang kita kerjakan di sini? Apakah hanya untuk menempuh hidup bagi eksistensi kita saja? Jika hanya demikian saja, ini adalah kesia-siaan di atas kesia-siaan. Semua mobil, rumah, gelar, dan pekerjaan kita adalah kesia-siaan. Mungkin ada sebagian orang berkata, “Puji Tuhan, kita mempunyai tiga putra dan dua putri. Anak laki-lakiku menjadi Doktor di bidang kedokteran, sedangkan anak perempuanku menjadi guru besar. Sungguh berkat yang amat besar!” Itulah berkat bagi eksistensi Anda dan keluarga Anda. Itu merupakan eksistensi yang sia-sia di atas kesia-siaan, jika eksistensi itu bukan untuk penggenapan tujuan Allah. Yang lain mungkin berkata, “Lima tahun yang lalu, aku hanya berpenghasilan lima ribu dolar setahun, tetapi tahun yang lalu aku berpenghasilan dua puluh lima ribu dolar. Sungguh berkat yang amat besar!” Jika semuanya itu bukan untuk penggenapan tujuan Allah, berkat semacam ini juga membuat mereka hidup di dalam kesia-siaan di atas kesia-siaan.
Baru-baru ini, di suatu pagi hari, Tuhan membangunkan saya dan menunjukkan kepada saya bahwa seluruh kitab dalam Perjanjian Baru tidak pernah berakhir dengan kata-kata: “Berkat menyertaimu”, atau “Berkat menyertai rohmu”. Tetapi, hampir semua Surat Kiriman selalu berakhir dengan kata-kata: “Anugerah menyertai kamu” (Gal. 6:18; Ef. 6:24; Flp. 4:23; Kol. 4:18). Mengatakan “Berkat menyertai kamu”, berarti Anda merasa berkelimpahan dalam harta benda. Tetapi Alkitab tidak pernah mengatakan seperti itu. Injil Yohanes tidak menyebut Firman menjadi daging penuh dengan berkat, atau berkat datang bersama Kristus. Tidak ada kitab yang berakhir dengan “Berkat menyertai kamu”.
Perjanjian Lama mengutamakan berkat, tetapi dalam Perjanjian Baru berkat untuk jasmani segera digantikan dengan berkat rohani. Efesus 1:3 mengatakan Allah dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga dan pada ayat yang terakhir dari Surat Efesus ini menyebut: “Anugerah menyertai semua orang yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus.” Ayat penutup dari seluruh Alkitab juga menyinggung anugerah. Wahyu 22:21 bukan mengatakan: “Berkat Allah yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi menyertai kamu sekalian.” Melainkan mengatakan, “Anugerah Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian.” Ingatkah Anda akan berkat yang diberikan oleh imam-imam kepada orang Israel dalam Bilangan 6:24-26? Perkataan di sana berbunyi demikian, “TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau anugerah; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Sebaliknya dalam 2 Korintus 13:13, Paulus juga memberkati dengan kategori yang lain, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Saya ulangi, berkat adalah untuk eksistensi kita, sedang anugerah adalah untuk penggenapan tujuan Allah.
3) Janji Allah dan Dihitungnya Iman Abraham sebagai Kebenaran
Setelah Allah menolak usulan Abraham, Allah berjanji akan berbuat sesuatu bagi Abraham, agar ia dapat melahirkan keturunan dari dirinya sendiri, bahkan sebanyak bintang-bintang di langit (Kej. 15:5). Abraham beriman kepada Allah dan ia percaya akan apa yang Allah firmankan. Iman yang sedemikianlah yang Allah hitung sebagai kebenarannya (Kej. 15:6). Iman seperti inilah yang percaya Allah akan bekerja di dalam kita untuk melahirkan Kristus, keturunan itu. Iman semacam inilah yang berharga bagi Allah dan yang menjadi kebenaran kita dalam pandangan Allah. Inilah iman untuk menerima anugerah Allah, bukan untuk menerima berkat-Nya.
Hari ini, banyak orang Kristen yang hanya memperhatikan berkat, tidak memperhatikan anugerah. Sekalipun sekarang ini adalah zaman Perjanjian Baru, namun banyak orang Kristen yang masih hidup dalam zaman Perjanjian Lama, yang hanya memperhatikan berkat, bukan anugerah. Dalam pemulihan Tuhan, kita tentu juga memerlukan berkat. Kita dapat terus berkumpul, ini adalah berkat yang amat besar. Tetapi lebih daripada itu, kita memerlukan anugerah. Kita memerlukan Allah datang dan berkata, “Apa yang kaumiliki itu tidak terhitung. Apa pun yang sanggup kaukerjakan dan yang akan kauperbuat, juga tidak terhitung. Aku akan mengerjakan sesuatu ke dalam engkau, yang akan melahirkan keturunan itu. Apakah engkau percaya akan hal ini?” Jika kita percaya akan hal ini, iman ini berharga bagi Allah. Iman ini bukanlah iman yang percaya Allah dapat memberi segala keperluan untuk eksistensi kita. Iman seperti ini adalah iman yang percaya Allah akan mengerjakan diri-Nya ke dalam kita untuk melahirkan Kristus, keturunan yang unik itu, keturunan yang diperlukan untuk menggenapkan kehendak Allah.
(b) Tanah
Hal kedua yang diperlukan untuk menggenapkan tujuan Allah adalah tanah (Kej. 15:17-21; lihat juga 12:7; 13:14-15, 17; 17:8).
1) Definisi Tanah
Apakah tanah itu? Banyak orang Kristen yang mengira tanah itu adalah surga, dan memandang kematian jasmani sebagai Sungai Yordan. Konsepsi seperti ini sama sekali tidak sesuai dengan pengertian Alkitab yang tepat. Pada zaman Abraham, tanah adalah tempat di atasnya ia dapat hidup. Abraham memerlukan tempat untuk hidup di atasnya dan untuk hidup bersandar tanah itu. Sebab itu, tanah adalah tempat umat Allah berdiam dan mempertahankan kelangsungan hidup. Selanjutnya, pada zaman Abraham, tanah adalah tempat Abraham mengalahkan semua musuhnya agar Allah mempunyai kerajaan di bumi. Selain itu, tanah adalah tempat Allah memiliki kediaman untuk mengekspresikan diri-Nya. Jadi dari sini kita melihat ada lima hal yang bersangkutan dengan tanah, yaitu tanah adalah tempat kediaman umat Allah, tempat bagi mereka untuk mempertahankan kelangsungan hidup, tempat Allah mengalahkan musuh-musuh, tempat Allah memiliki kerajaan-Nya, dan tempat Allah memiliki kediaman untuk mengekspresikan diri-Nya. Akhirnya, di tanah ini, Kerajaan Allah didirikan, bait bagi kediaman Allah didirikan, dan kemuliaan Allah dinyatakan. Semuanya ini adalah bentuk miniatur penggenapan tujuan Allah. Hal ini benar-benar berbeda dengan eksistensi Abraham. Di satu pihak adalah untuk eksistensi Abraham dan di lain pihak supaya Abraham memperoleh keturunan dan tanah bagi penggenapan kehendak Allah.
Hari ini, bagi kita, apakah tanah ini? Tak dapat disangsikan lagi, tanah ini adalah Kristus yang hidup di da-lam kita dan tempat di dalamnya kita hidup. Hari ini kita harus hidup di dalam Kristus dan hidup bersandar Kristus. Tetapi banyak orang Kristen yang tidak mempraktekkan hal ini. Yang mereka perhatikan bukan tergarapnya persona Kristus ke dalam mereka sebagai keturunan, atau dalam hidup mereka tidak menjadikan Kristus sebagai tanahnya untuk menggenapkan tujuan Allah. Bagi mereka, Kristus bukanlah tanah tempat mereka berdiam dan sandaran hidup, bukan juga sebagai tanah yang di atasnya mereka menumpas semua musuh. Di mana kita dapat membunuh musuh-musuh kita? Di dalam Kristus, tanah kita. Kristus adalah tempat kita membunuh Kedorlaomer kita dan raja-raja lainnya, Kristus juga tanah untuk Kerajaan Allah, supaya tempat kediaman Allah dapat dibangun di atasnya.
Jika kita melihat hal ini, kita akan mengetahui betapa banyaknya orang Kristen yang kehilangan sasaran dan hanya mencari berkat Allah saja. Kita tidak perlu menaruh perhatian yang terlampau besar terhadap eksistensi kita atau perihal berkat Allah, sebab Bapa kita mengetahui apa yang kita perlukan. Kita seharusnya membiarkan Dia memelihara kita. Dia sekali-kali tidak akan meninggalkan kita atau membiarkan kita (Ibr. 13:5).
Mengenai tujuan Allah, janganlah kita memperhitungkan apa yang kita miliki atau apa yang dapat kita perbuat. Apa yang kita miliki adalah Eliezer dan yang dapat kita lakukan adalah Ismael. Eliezerlah yang dimiliki Abraham dan Ismael yang dapat diperbuat oleh Abraham, dan tidak satu pun di antara mereka yang terhitung bagi perampungan tujuan Allah. Apa pun yang kita miliki dan yang kita perbuat, tidak satu pun yang terhitung. Hanya diri Allah sendiri yang terhitung. Setelah sejangka waktu, ketika kita benar-benar tidak mempunyai sesuatu apa pun, Allah akan mengerjakan diri-Nya ke dalam kita, hasilnya kita akan melahirkan Kristus sebagai keturunan dan juga akan membawa kita ke dalam Kristus yang sebagai tanah itu. Kristus seharusnya adalah keturunan di dalam kita. Kristus juga seharusnya menjadi tanah tempat kita hidup. Tidakkah kita memiliki Kristus di dalam kita? Ya, tetapi Dia harus menjadi keturunan. Apakah hari ini kita tidak di dalam Kristus? Ya, tetapi kita harus hidup di dalam Kristus yang sebagai tanah itu.
Pada hari ini, tanah juga adalah gereja, karena gereja adalah perluasan Kristus. Tubuh Kristus, gereja, adalah perluasan Kristus. Di dalam gereja kita hidup dalam Kristus dan bersandar kepada Kristus; di dalam gereja kita membunuh musuh-musuh dan di dalam gereja kita mempunyai Kerajaan Allah serta tempat kediaman Allah. Karena alasan inilah, begitu kita datang ke dalam gereja, kita segera merasakan bahwa kita berada di rumah. Sekarang kita tidak berkelana lagi, kita telah mempunyai satu tempat, di sini kita dapat berdiam dan hidup, di sini kita juga dapat membunuh musuh-musuh kita, di sini kita mempunyai Kerajaan Allah serta tempat kediaman Allah. Sebelum kita datang ke dalam gereja, kita belum mempunyai kehidupan kristiani yang wajar; tetapi, setelah datang ke dalam gereja, perubahan yang positif terjadi dalam hidup kita! Sebelum datang ke dalam gereja, terasa amat sulit mengalahkan musuh, tetapi setelah masuk ke dalam gereja, menjadi sangat mudah mengalahkan musuh. Kedorlaomer takut akan gereja. Di mana kita dapat membunuh semua musuh kita? Di Kanaan. Apakah Kanaan pada hari ini? Yaitu gereja, yang merupakan perluasan dari Kristus. Di mana kerajaan dan tempat kediaman Allah hari ini? Juga di dalam gereja. Gereja yang merupakan perluasan Kristus adalah “tanah permai” kita hari ini.
Baik keturunan maupun tanah, keduanya adalah Kristus. Keturunan adalah Kristus yang di dalam kita dan tanah adalah Kristus yang di dalamnya kita hidup. Kristus tinggal di dalam kita sebagai keturunan dan kita hidup di dalam Kristus sebagai tanah. Dialah keturunan dan tanah untuk menggenapkan tujuan kekal Allah.
2) Allah Berjanji, tetapi Abraham Kekurangan Iman
Dalam pasal ini, Allah bukan hanya mengulangi janji-Nya kepada Abraham mengenai keturunan, tetapi juga mengulangi janji kepadanya mengenai tanah. Janji tentang keturunan tercakup dalam 6 ayat pertama. Abraham percaya Tuhan tentang janji mengenai keturunan. Meskipun janji tentang tanah dengan pasti diucapkan oleh Allah dalam ayat 7, tetapi Abraham kurang beriman untuk mempercayai Allah mengenai janji tentang tanah ini. Dari sini kita dapat melihat bahwa mempercayai Allah tentang janji keturunan lebih mudah daripada mempercayai Allah tentang janji tanah. Kristus hidup di dalam kita sebagai benih lebih mudah daripada kita hidup di dalam Kristus sebagai tanah. Menerima Kristus sebagai keturunan yang hidup di dalam kita lebih mudah daripada menerima Kristus sebagai tanah bagi kita untuk menempuh hidup gereja bagi Kerajaan Allah beserta tempat kediaman Allah. Karena Abraham sama seperti kita, kurang beriman kepada Allah dalam perkara ini, Allah terpaksa membuat perjanjian dengannya untuk menegaskan janji-Nya akan tanah itu. Dalam berita yang akan datang kita akan melihat lebih mendetail lagi perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham.