Empat Macam Cara Mengenal Allah
Berdasarkan firman Allah dan pengalaman kita, cara mengenal Allah dapat dibagi menjadi empat, atau ada empat cara untuk mengenal Allah.
CARA PERTAMA —
MENGENAL ALLAH MELALUI BENDA-BENDA CIPTAAN ALLAH
Roma 1:20 mengatakan, “Sebab sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Pengenalan semacam ini seharusnya merupakan pengenalan yang dimiliki oleh semua orang dunia. Karena kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya jelas terekspresi dari segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah, sama seperti yang dikatakan Mazmur 19:2, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Melihat matahari, bulan, bintang-bintang di angkasa, bunga-bunga, rerumputan, pepohonan, serangga-serangga, binatang-binatang melata di bumi, ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan benda-benda ciptaan Allah yang beribu-ribu, berjuta-juta ragamnya, kita seharusnya tergugah dan sadar bahwa dalam alam semesta ini pasti ada satu Pencipta yang Mahakuasa.
Meskipun tidak semua orang mengakui bahwa langit, bumi, dan segala sesuatu diciptakan oleh satu-satunya Allah yang sejati, tetapi sedikitnya harus mengakui bahwa dalam alam semesta ada hikmat, dalam penciptaan terkandung pengertian. Kita tidak usah melihat yang lain, asal melihat beberapa hal di atas diri manusia, mau tak mau kita harus mengakui bahwa di dalamnya penuh hikmat dan pengertian penciptaan. Lihatlah alis di wajah kita yang tumbuh di atas mata, ini sangat berarti. Karena alis bagaikan dua tanggul, dapat menghadang keringat di dahi kita agar tidak mengalir masuk ke dalam mata. Mata berada di atas kepala, tidak berada di kaki; ini juga sangat berarti. Kalau mata berada di kaki, kita tidak dapat melihat tempat yang jauh. Seluruh tulang pada diri kita tumbuh di dalam daging, hanya gigi (yang juga adalah tulang) tumbuh di luar daging; ini juga sangat ajaib. Kalau tidak, bagaimana kita mengunyah makanan? Sebab itu, saya katakan, sekalipun ada orang tidak mengakui adanya Allah, tetapi ia tidak bisa tidak mengakui bahwa dalam alam semesta ada hikmat, dalam penciptaan ada pengertian. Tentu, bagi kita sebagai orang yang percaya, Allah adalah hikmat alam semesta juga pengertian alam semesta. Jika seseorang mempunyai sedikit rasio saja, ia tidak akan menyangkal fakta nyata semacam ini.
Tetapi pengenalan semacam ini hanya membuat orang mengakui adanya Allah dalam otak saja, dalam hati menyetujui ada Allah; ini merupakan pengenalan yang di luar, pengenalan secara logika, pengenalan di otak, pengenalan yang masih dangkal, di permukaan, dan kurang riil.
CARA KEDUA —
MENGENAL ALLAH MELALUI MUJIZAT YANG ALLAH LAKUKAN
Cara ini lebih maju daripada cara yang pertama. Lihatlah ketika orang Israel di Mesir, Allah membangkitkan Musa untuk memimpin mereka keluar dari Mesir; namun orang Israel dan raja Firaun tidak percaya Allah. Sebab itu, Allah melalui mujizat dan tanda ajaib membuat mereka percaya. Kita tampak Allah menyuruh tongkat Musa berubah menjadi ular, tangannya terjangkit kusta, air menjadi darah, seluruh tanah Mesir dipenuhi katak dan kutu, ada lalat, ada juga penyakit sampar pada ternak, ada bencana barah, ada bencana hujan es, ada bencana belalang, ada bencara gelap gulita. Sampai akhirnya Allah dalam semalam membunuh semua anak sulung orang Mesir dan ternak mereka, saat itu Firaun merasakan bahwa Allah orang Israel sungguh-sungguh mempunyai kuasa besar, tidak bisa lagi menahan orang Israel, terpaksa membiarkan mereka pergi dari Mesir guna melayani TUHAN di padang gurun.
Ketika orang Israel tiba di padang gurun, tidak ada air minum, Allah menyuruh batu karang terbelah mengalirkan air. Orang Israel tidak memiliki daging untuk dimakan, Allah menyuruh burung-burung puyuh datang; setiap pagi dari surga turun manna menjadi makanan bagi mereka. Allah melakukan mujizat dan tanda ajaib ini supaya orang percaya kepada-Nya, takwa kepada-Nya. Sayang, meskipun jumlah laki-laki orang Israel yang keluar dari Mesir berjumlah enam ratus ribu orang, yang benar-benar percaya dan takwa kepada Allah, selain Musa, hanya Yosua dan Kaleb dua orang, yang lainnya karena tidak percaya dan murtad, semua rebah mati di padang gurun (Ibr. 3:18). Meskipun Allah dapat melalui mujizat membuat orang mengenal perbuatan-Nya yang besar, tetapi orang belum tentu benar-benar memiliki iman dan hati yang takwa kepada Allah. Demikianlah halnya orang-orang Israel yang rebah di padang gurun. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, jika ada sekelompok orang karena melihat mujizat percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka (Yoh. 2:23-24), karena mereka mengenal Dia melalui mujizat tanda ajaib, yaitu melalui perbuatan Allah. Pengenalan semacam ini masih dangkal, lahiriah, kurang dalam dan riil.
CARA KETIGA —
MEMILIKI PENGENALAN YANG RIIL TERHADAP ALLAH
MELALUI PROSEDUR DAN PRINSIP KERJA ALLAH
Cara ini lebih maju banyak daripada dua cara yang di depan. Pengenalan ini dihasilkan melalui benar-benar telah berkontak dengan Allah, bertemu dengan Allah, dan berurusan dengan Allah. Beberapa tahun awal saya percaya Tuhan, dalam hati sering berpikir bahwa ini mungkin satu-satunya jalan yang paling baik untuk mengenal Allah. Sesungguhnya, saya belum tampak yang lebih dalam daripada ini. Bagaimana kita bisa mempunyai pengenalan yang semacam ini? Yaitu belajar melalui doa membawa setiap perkara ke depan Allah, melihat bagaimana Allah menjawab doa, bagaimana Allah menangani perkara, kemudian perlahan-lahan memahami prosedur dan prinsip kerja Allah. Karena ada pengalaman semacam ini, maka iman kita terhadap Allah bertumbuh besar. Sekarang baiklah saya mengambil beberapa contoh untuk menjelaskan hal ini.
Mari kita lihat lebih dahulu Kejadian 18, yaitu perkara Abraham berdoa syafaat untuk Sodom. Kita tampak Abraham mempunyai satu macam pengenalan terhadap Allah; dia tahu bahwa Allah bekerja dengan adil dan benar, pasti tidak akan memandang sama orang yang benar dengan orang yang jahat. Lagi pula, Allah mempunyai belas kasihan yang sangat besar, Allah mau mengampuni orang-orang yang lain karena adanya orang yang benar. Sebab itu dia berani berdoa di depan Allah, mohon Allah jangan memusnahkan kota itu. Akhirnya, meskipun kota itu tetap dimusnahkan — karena dosa kota itu sangat besar dan jumlah orang benar tidak mencukupi syarat permintaan Abraham, tetapi doanya masih terjawab. Satu-satunya orang benar di kota itu, yaitu Lot, telah diselamatkan. Lihatlah inilah hasil yang didapatkan dari pengenalan terhadap prosedur dan prinsip kerja Allah.
Mari kita melihat lagi kisah di Keluaran 32. Orang Israel di kaki gunung Sinai melakukan dosa menyembah patung anak lembu emas. Menurut keadilan Allah, mereka harus dimusnahkan. Tetapi Musa mengenal hati Allah, dia mohon Allah mengingat akan sumpah yang dikatakan-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Musa mengenal Allah itu Allah yang cemburu, Allah yang adil dan suci. Sebab itu anak lembu emas yang dibuat mereka dibakarnya dan digilingnya sampai halus dan ditaburkannya ke atas air, dan disuruhnya diminum oleh orang Israel. Kemudian ia menyuruh seluruh bani Lewi masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalan kian kemari melalui perkemahan itu, dari pintu gerbang ke pintu gerbang, masing-masing membunuh saudaranya, temannya, dan tetangganya yang menyembah berhala untuk meredakan murka Allah. Keesokan harinya Musa berdiri lagi di tengah-tengah Allah dan umat Israel sebagai pengantara, mengadakan penebusan dosa bagi umat Israel. Dia tahu, dalam prinsip kerja Allah, ada satu penebus dosa pengganti. Saat itu Musa penuh dengan kasih Kristus, bahkan rela namanya terhapus dari kitab yang ditulis Allah, asal umat Israel beroleh selamat. Musa betul-betul seorang yang mengenal prinsip kerja Allah!
Dalam pengalaman pribadi kita mungkin ada perkara yang serupa. Suatu kali saya berdoa kepada Allah bagi keselamatan teman yang sudah bertahun-tahun menjadi “anggota gereja”. Kemudian, di dalam saya timbul suatu perasaan mengatakan, biarlah kasihnya dengan sendirinya terarah kepada Allah, sekarang jangan mengganggu dia lagi. Setelah berdoa menyerahkan perkara ini kepada Tuhan, saya tidak lagi memikirkan hal itu. Sekitar setengah tahun kemudian, tiba-tiba saya menerima sebuah surat dari teman itu, bunyinya: Anda sangat mendalami hal-hal rohani, bolehkah memberi tahu aku sedikit tentang hal-hal rohani. Saat itu saya merasakan bahwa Tuhan sudah melakukan pekerjaan yang baik di atas dirinya. Saya percaya, Tuhan pasti segera menggenapkan pekerjaan ini. Saya berdoa mohon Tuhan membimbingnya bertobat dan dilahirkan kembali. Untuk ini saya berdoa selama tiga hari, kemudian menulis surat kepadanya, mohon Roh Tuhan beserta dengan surat itu, supaya setelah ia membaca, segera bertobat dan beroleh selamat. Kurang lebih dua minggu kemudian, saya menerima balasan yang menegaskan bahwa setelah dia membaca surat saya, dia benar-benar bertobat dan beroleh selamat.
Pernah sekali pada suatu cuti kerja, saya beristirahat di rumah karena sakit. Tetapi ketika masa cuti hampir selesai, penyakit saya belum sembuh, dan kelihatannya saya tidak bisa masuk bekerja di rumah sakit (saya adalah seorang dokter). Saya lalu menulis surat mohon perpanjangan cuti dua minggu. Dalam sekejap mata dua minggu sudah hampir berlalu, tetapi keadaan penyakit saya tetap seperti semula. Saat ini saya berurusan dengan Allah, karena saya tahu bahwa Allah itu setia. Saya berkata kepada Allah bahwa saya sudah berjanji kepada rumah sakit untuk kembali bekerja pada hari anu. Perkataan anak Allah harus tepat. Saat ini penyakit pada diri saya masih belum kelihatan membaik. Ya Allah, ini urusan-Mu. Besok, baik saya sembuh atau tidak, saya harus pergi ke rumah sakit. Keesokan harinya, ketika saya bangun pagi, Allah berkata kepada saya, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13). Saya segera bangun, mempersiapkan diri, kemudian berjalan sejauh satu setengah kilo meter ke halte bis. Sesuai dengan janji yang semula, tiba di rumah sakit, sama sekali tidak tertunda. Sungguh tampak pimpinan ajaib Allah di atas diri saya.
Saya percaya pengalaman semacam ini juga sering dialami oleh banyak orang Kristen. Ini bukan saja supaya kita mengenal prinsip kerja Allah, juga menambah iman doa kita. Ini adalah pelajaran yang sangat penting. Saya sering memberi tahu orang bahwa orang Kristen harus selalu melalui doa berurusan dengan Allah, supaya makin mengenal prosedur dan prinsip kerja Allah. Tetapi pengenalan semacam ini, meskipun sangat berharga, sangat penting, masih belum cukup mengarah ke dalam, belum cukup untuk mengenal diri Allah sendiri. Sebab itu, perlu ada cara pengenalan Allah yang keempat.
CARA KEEMPAT —
PENGENALAN YANG DI DALAM,
SUPAYA KITA MENGENAL DIRI ALLAH SENDIRI
Inilah titik berat pembicaraan saya pada hari ini. Hanya pengenalan semacam inilah baru benar-benar mengenal Allah, baru riil, langsung, dan tepat. Allah mengutus Anak-Nya datang supaya kita secara demikian mengenal Dia; karena mengenal Anak Allah berarti mengenal Allah (lihat Yoh 14:9-17). Agar kita memahami lebih jelas, marilah kita lihat satu persatu.
1. Ada sepatah kata yang memberi kesan yang sangat dalam kepada saya,
“Anda sebagai apa, barulah Anda benar-benar mengenal apa.”
Misalnya, Anda tampak burung beterbangan dengan bebas di udara, sebentar terbang ke pepohonan yang hijau, sebentar terbang ke sekelompok bunga-bunga harum. Mungkin Anda berkata, “O, burung-burung itu betapa gembira!” Namun saya akan bertanya, “Apakah Anda burung, bagaimana Anda tahu kalau burung-burung itu gembira?” Ketika Anda melihat sekelompok babi berkecimpung dalam kubangan, bergulung-gulung sehingga seluruh badannya kotor dan bau, mungkin Anda berkata, “Babi-babi yang kotor sekujur badannya itu tentu sangat gundah!” Namun saya akan bertanya, “Apakah Anda babi, bagaimana Anda tahu kalau babi-babi itu gundah? Mungkin mereka merasa sangat gembira!” Sebab itu saya berkata: kalau Anda bukan apa, Anda sulit benar-benar mengenal apa.
Demikian juga hari ini, kita bisa mengetahui hal-hal manusia karena kita adalah manusia. Selain itu kita juga anak-anak Allah, sebab itu kita juga bisa mengetahui hal-hal Allah. (Catatan: anak lembu adalah lembu, anak domba adalah domba; dengan penuh khidmat saya katakan: anak Allah tentunya juga Allah). Ini bukan perkataan saya, melainkan perkataan Alkitab. Mari kita lihat 1 Korintus 2:11-12, dengan jelas mengatakan dua hal ini. Pertama membicarakan roh manusia mengetahui hal-hal manusia; kedua mengatakan Roh Allah mengetahui hal-hal Allah. Lagi pula roh yang kita terima bukan roh dunia, melainkan roh yang berasal dari Allah, supaya kita mengetahui hal-hal yang dikaruniakan Allah kepada kita. Lihatlah, di dalam orang Kristen bukan hanya ada roh manusia yang bisa mengetahui hal-hal manusia, juga ada Roh Allah untuk mengetahui hal-hal Allah. Sungguh puji syukur kepada Tuhan, kita tidak hanya memiliki Roh Allah, dalam ayat 16 juga memberi tahu kita bahwa kita mempunyai pikiran Kristus. Pikiran ini membuat kita bisa mengerti hal-hal Allah.
2. Anda ingin mengenal suatu barang tertentu,
perlu berdasarkan organ yang tertentu pula
Misalnya, Anda ingin mengenal warna, Anda perlu memakai mata. Kalau Anda ingin mengenal suara, perlu memakai telinga. Kalau Anda ingin membedakan rasa, perlu memakai lidah. Kalau Anda ingin mencium bau, harus memakai hidung. Kalau Anda memakai mata untuk mendengar, itu tidak mungkin. Begitu juga adalah mustahil kalau Anda ingin membedakan warna dengan telinga; karena Anda memakai organ yang salah. Sama halnya, jika tidak memakai roh Anda untuk mengenal Allah, ini tidak mungkin; karena Allah itu Roh. Anda tidak bisa dengan otak Anda mengenal Dia. Tak peduli otak Anda seberapa pandai, seberapa hikmat, itu tidak mungkin terjadi.
Mungkin Anda pernah mendengar cerita ini. Ada seseorang yang buta sejak lahir, tentu dia tidak pernah melihat matahari. Ada orang berkata kepadanya, model matahari itu bulat, seperti satu gong yang besar. Suatu hari, dia mendengarkan suara gong, dia mengira itu adalah matahari. Ada pula orang berkata kepadanya, matahari memancarkan terang sama seperti terang lilin. Suatu hari, dia menjamah lilin, dia mengira itu adalah matahari. Lihatlah, pemahaman orang buta ini terhadap matahari sangat berbeda dengan matahari itu sendiri. Sebab itu kalau manusia ingin dengan otaknya yang pandai membayangkan Allah, ini sama dengan kesalahan orang buta itu. Sebab itu dari zaman kuno sampai hari ini, entah berapa banyak ilmuwan, filsuf, yang berotak cemerlang, mereka boleh mendapatkan suatu penemuan yang ajaib, filsafat yang unggul, tetapi terhadap hal-hal Allah, mereka sama sekali tidak bisa memahami. Penyebab utama ialah karena mereka memakai organ yang salah. Sebab itu kalau orang ingin mengenal Allah, satu-satunya sarana adalah memakai roh yang ada di dalam manusia yang bersatu dengan Roh Allah; mengenal Allah melalui persekutuan dan intuisi.
3. Mengenal Allah melalui perasaansifat hayat Allah
Kita tahu bahwa setiap macam hayat makhluk hidup mempunyai sifat khasnya sendiri. Misalnya, sifat macan tutul bengis, sifat domba lemah lembut, sifat merpati penurut, sifat ular licik, sifat babi kotor, . . . Kita boleh melalui sifat khas hayat, sifat khas makhluk hidup mengenal hayat mereka; karena ekspresi setiap macam hayat berdasarkan ciri khas sifat makhluk hidup itu. Manusia adalah salah satu makhluk hidup, dengan sendirinya mempunyai sifat khasnya. Sejujurnya, sifat khas manusia adalah bisa berbuat dosa; karena sejak lahir manusia sudah mempunyai sifat dosa. Lalu bagaimana dengan Allah? Saya dengan hormat mengatakan, Allah juga makhluk hidup, hanya bukan yang tercipta, melainkan yang paling tinggi; sebab itu Allah juga mempunyai sifat khasnya. Sifat Allah adalah bajik, kasih, belas kasihan, lemah lembut, sabar, bersamaan itu juga kudus, membenci dosa, cemburu, membenci yang jahat, adil, benar, setia, dan juga rohani. Di dalam diri seorang Kristen yang telah dilahirkan kembali, ada sifat dosa manusia, juga ada sifat kudus Allah. Dua Petrus 1:4 mengatakan bahwa kita “boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi.” Sebab itu dalam diri setiap orang Kristen ada dua sifat hayat yang mutlak bertolak belakang; yang satu adalah sifat hayat berdosa, satu lagi adalah sifat hayat yang kudus yang didapatkan ketika dilahirkan kembali. Keduanya ada di dalam orang Kristen.
Inilah sebabnya orang Kristen memiliki pengalaman “Keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging” (Gal. 5:17). Sebelum seseorang beroleh selamat, meskipun juga mengalami pertentangan antara rasio dan nafsu, tetapi sangat berbeda dengan Galatia 5. Pertentangan Roh Kudus dengan daging yang disebut di sini sesungguhnya adalah pertentangan antara sifat Allah dengan sifat manusia; keduanya sama seperti air dengan api yang tidak bisa berdampingan. Melalui sifat Allah yang di dalam kita, kita bisa mengenal Allah adalah Allah yang bagaimana. Misalnya, sifat Allah membenci dosa, kalau kita berbuat dosa, hayat Allah yang di dalam kita akan merasa sangat menderita; kalau tidak mengaku dosa agar menerima pembasuhan darah Kristus, di dalam kita tidak akan ada damai. Sebab itu, orang Kristen yang membiarkan hayat Allah memerintah, dia bisa tidak berbuat dosa, bukan karena dikendalikan oleh hukum yang di luar atau karena tidak ada lingkungan untuk berbuat dosa, melainkan karena sifat hayat Allah yang di dalamnya membenci dosa. Misalnya, hayat Allah itu surgawi, kalau Anda mengasihi dunia, Dia di dalam Anda akan merasa tidak nyaman, membuat Anda tidak bisa mengasihi dunia. Sebab itu, orang Kristen bisa benar-benar tidak mengasihi dunia, bukan karena dunia itu tidak menarik, juga bukan karena dunia itu tidak indah, melainkan karena di dalamnya ada satu hayat surgawi yang sama sekali tidak menaruh minat terhadap dunia. Misalnya, hayat Allah yang di dalam kita itu kudus, adil, dan benar. Kalau Anda memikirkan perkara yang najis, atau melakukan perkara yang tidak benar, hayat Allah yang ada di dalam Anda pasti akan mencela Anda, membuat Anda tidak tenteram. Kesemuanya ini adalah perasaan hayat Allah beroperasi di dalam kita, dan perasaan-perasaan ini berdasarkan sifat hayat Allah. Atau, yang Anda pikirkan, yang Anda ucapkan, yang Anda kerjakan, kalau semua itu berlawanan dengan sifat hayat Allah, ia akan beroperasi di dalam Anda, melawan Anda, mengaduk Anda, sehingga Anda tidak tenteram. Kalau Anda menaati perasaan hayat ini, ia akan menyuruh Anda merasakan hayat, damai sejahtera, urapan minyak, pendirisan, penuh dengan penyertaan Allah.
LANGKAH PERTAMA MENGENAL ALLAH
Mungkin ada orang bertanya, apa langkah pertama untuk mengenal Allah? Kita terlebih dulu akan bertanya, “Setelah Anda percaya Tuhan, di dalam Anda bertambah satu barang apa? Atau dengan kata lain, apa yang membuat Anda berbeda dengan sebelum Anda percaya Tuhan Yesus? Anda harus tampak, di dalam Anda telah bertambah satu barang, yaitu hayat Allah. Setelah Anda percaya Tuhan, di dalam Anda masuk satu majikan yang baru, ia sering mengurusi Anda. Sebelum Anda percaya Tuhan, Anda boleh berbicara dan berperilaku dengan sembarangan, sekarang Anda akan selalu dan di mana saja diurusi olehnya, sehingga Anda tidak sebebas dulu lagi. Ketahuilah, inilah cerita hayat Allah di dalam Anda. Anda boleh melalui perasaan yang baru ditambahkan ini untuk mengenal Allah. Dia ada di dalam Anda membuat Anda memiliki perasaan, namun yang berbeda dengan sebelum Anda percaya Tuhan. Saudara saudari, kalian harus setiap saat memperhatikan perasaan baru ini, karena inilah perasaan hayat. Inilah perasaan hayat Allah yang ditambahkan ke dalam Anda ketika Anda dilahirkan kembali, yang asalnya tidak Anda miliki. Asal Anda berperilaku menurut perasaan ini, berarti Anda mengikuti Roh Kudus, taat kepada Allah, akhirnya Anda akan mendapatkan damai sejahtera dan sukacita. Perasaan ini pada mulanya datang melalui organ hati nurani; ketika hayat Anda bertumbuh besar, perasaan ini datang bersama dengan Allah sendiri. Satu Yohanes 2:27 mengatakan tentang “Pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu,” juga mengacu kepada hal ini. Kalau Anda mengikuti perasaan hayat Allah, Anda akan mengalami pendirisan dan pengurapan oleh minyak urapan; minyak urapan ini mengajar kita melalui pengurapan. Ketika Anda menjamah minyak urapan, Anda merasakan terdiris dan nyaman. Di mana ada minyak urapan, di sanalah ada pengajaran Tuhan, penyertaan Tuhan pun ada di sana. Kalau kita terus belajar hidup dalam pengajaran minyak urapan, berarti kita menempuh hidup dalam Kristus. Demikian, jika Tuhan menyatakan diri, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia (Lihat 1 Yoh. 2:28).
PENGENALAN ORANG ZAMAN KERAJAAN TERHADAP ALLAH
Ibrani 8:11 menyinggung tentang dua pengenalan: pertama, “Kenallah Tuhan”; kedua, “akan mengenal Aku”. Pengenalan yang kedua adalah pengenalan intuisi di dalam yang kita bicarakan di depan, yaitu mengenal Allah melalui perasaan hayat yang di dalam. Pengenalan batiniah ini seperti orang mengenal dirinya sendiri, bahkan lebih dalam mengenal dirinya sendiri, karena berasal dari wahyu Roh. Kita bersyukur kepada Allah, pada suatu hari kelak, pada zaman kerajaan, seluruh orang Israel akan dari lubuk batinnya mengenal Allah. Hari ini gereja bisa lebih dulu mengalami pengenalan semacam ini, inilah berkat istimewa yang diterima oleh gereja, adalah karya agung Allah dalam zaman kasih karunia.
MENGENAL ALLAH LEBIH DARIPADA SEKADAR BERHADAPAN WAJAH
Banyak orang mungkin sangat mendambakan pengalaman Musa berbicara dengan Allah muka dengan muka. Mungkin ada orang yang setiap hari berpikir, betapa baiknya kalau bisa lahir pada saat Tuhan Yesus berada di bumi; demikian boleh dengan mata kepala sendiri melihat Tuhan. Tetapi saudara saudari terkasih, ketahuilah, hari ini pengenalan kita terhadap Allah melampaui pengenalan Musa pada hari itu ketika bertemu Allah muka dengan muka. Karena dalam pengalaman Musa, Allah adalah Allah, dia adalah dia. Keduanya terpisah, di antara mereka ada sekatan waktu dan ruang; paling banyak hanya bisa mengenal perbuatan Allah, tidak bisa mengenal diri Allah sendiri. Saat Tuhan Yesus di bumi, orang-orang yang langsung melihat Tuhan, mungkin sama seperti dua orang murid yang pergi ke Emaus, belum tentu bisa mengenal Dia, juga tidak bisa setiap waktu beserta Dia. Hari ini Allah telah masuk ke dalam kita, tinggal di dalam kita, kita juga tinggal di dalam Allah; antara kita dengan Allah sangat dekat, bahkan bergandeng menjadi satu, tidak ada sekatan waktu dan ruang. Setiap waktu kita beserta dengan Allah, juga mengenal diri Allah. Tidak saja demikian, Allah masih bisa melalui wahyu dan terang Roh Kudus sehari demi sehari menyusun diri-Nya ke dalam kita, supaya kita semakin lama semakin berubah seperti Dia. Asalnya mustika ini berada di dalam bejana, akhirnya, kita berubah sepenuhnya seperti Dia, bejana juga berubah menjadi mustika. O, ini adalah satu fakta yang sangat mulia. Puji dan hormat bagi Dia!
GARIS PENGENALAN ALLAH
Garis pengenalan terhadap Allah adalah dari titik pusat sampai ke lingkaran, dengan kata lain, dari roh ke jiwa (khususnya pikiran dalam jiwa). Kita terlebih dulu mengenal Allah melalui wahyu dan terang, kemudian mengenal Allah melalui perasaan hayat dan penglihatan di dalam. Inilah garis Allah di dalam kita supaya kita mengenal diri-Nya. Saya rasa, di sini saya akan membicarakan lebih banyak tentang wahyu, terang, perasaan, dan penglihatan, keempat hal ini.
Wahyu, Terang, Perasaan, dan Penglihatan
Kita pernah beberapa kali menyinggung empat hal ini, juga memberi sedikit penjelasan, tetapi belum membicarakannya dengan tuntas hubungan dari keempat hal ini.
Dulu saya sering mendengar orang berkata bahwa di antara orang Kristen, hal yang paling penting adalah wahyu; apa saja yang berasal dari wahyu adalah perkara rohani yang sejati. Agama Kristen adalah satu agama wahyu; tanpa wahyu, tidak ada agama Kristen.
Ada juga orang berkata bahwa orang Kristen lebih-lebih perlu terang; harus hidup dalam terang, berperilaku menurut terang. Kalau berada di dalam kegelapan, ia akan lebih kasihan daripada orang yang berbuat dosa; karena orang yang berbuat dosa masih bisa merasakan salah, tetapi orang yang di dalam kegelapan, meskipun berbuat salah tidak juga mengetahuinya; ini sangat kasihan. Sebab itu, di tengah-tengah orang Kristen, hal yang sama pentingnya dengan wahyu adalah terang.
Ada juga orang berkata, harus memperhatikan perasaan hayat yang di dalam. Asal mengikuti perasaan hayat yang di dalam, berarti mengikuti Allah, jangan sekali-kali mengesampingkannya, tidak mempedulikannya, kalau tidak hayat tidak ada jalan keluar, juga selamanya tidak bisa bertumbuh besar. Sebab itu orang Kristen perlu juga menghargai perasaan batiniah ini.
Ada sekelompok orang berkata, orang harus mempunyai penglihatan. Di satu pihak melihat keadaan dirinya yang sesungguhnya, di pihak lain melihat kemustikaan diri Tuhan. Kalau tidak melihat diri sendiri, tidak akan bisa membersihkan diri sendiri, karena tidak tahu bahwa pada dirinya terdapat hal-hal yang perlu disingkirkan, sehingga pertumbuhan hayat akan terhalang. Di samping itu kalau tidak melihat kemustikaan Tuhan, tidak akan mau memandang segala sesuatu sebagai sampah, agar mendapatkan Kristus; demikian ia adalah orang yang sangat kasihan. Sebab itu penglihatan yang sesungguhnya juga sangat penting.
Lihatlah, tiap-tiap orang mempunyai pendapatnya sendiri, tiap-tiap orang mempunyai hal-hal yang diperhatikannya. Dan keadaan ini pada awalnya sungguh membuat saya yang masih hijau ini menjadi binggung. Kemudian, karena belas kasihan Tuhan, saya mulai mengerti sedikit, saya menemukan hubungan antara keempat hal ini — wahyu, terang, perasaan, dan penglihatan.
Allah adalah Allah yang memberi wahyu, yang menyingkapkan rahasia (lihat Dan. 2:47). Dia sering melalui Roh kudus memberi wahyu kepada kita (1 Kor. 2:10 Tl.). Allah berkenan memberikan Roh wahyu kepada kita, supaya kita mendapatkan wahyu rohani, supaya kita benar-benar mengenal Dia (Ef. 1:17).
Roh kita adalah tempat mendapatkan wahyu. Rasul Yohanes dalam roh mendapatkan wahyu (lihat Why. 1:10). Pikiran kita adalah tempat mendapatkan terang (Ef. 3:18; 2 Kor. 4:4).
Sebab itu wahyu dan terang diberikan oleh Allah; Allah secara aktif, juga objektif memberikannya. Wahyu Allah berada di dalam roh kita, terang Allah menyorot ke dalam pikiran kita. Ketika Allah memberi wahyu, kita masih merasa heran, tetapi begitu mendapatkan terang, pikiran kita segera mengerti apa yang diwahyukan Allah. Dengan kata lain, dengan roh kita sebagai tempat Allah memberi wahyu; dengan pikiran kita sebagai sarana Allah memberi terang. Di sini kita tampak Allah menghendaki kita mengetahui maksudnya, terlebih dulu dari roh, kemudian ke pikiran — jiwa —; dari dalam mengarah ke luar. (Biasanya pengetahuan yang kita terima, dari telinga sampai pikiran, dari luar sampai ke dalam).
Pada suatu hari saya membaca perkataan yang diucapkan Nyonya Pen Lewis, dia berkata, “Roh merasakan, pikiran tampak.” Akal budi saya segera terbuka. Saya tahu, ketika Allah memberi wahyu dalam roh saya, saya mempunyai perasaan di dalam roh. Jadi, wahyu diberikan oleh Allah, bersifat objektif; perasaan bersifat subjektif, yang saya rasakan. Sesungguhnya keduanya merupakan hal yang sama. Ketika hal yang Allah wahyukan menerangi di dalam kita, dan terang itu menyoroti dalam pikiran kita, akal budi kita segera terbuka, kita segera mempunyai perasaan juga mempunyai penglihatan. Jadi, terang berasal dari sesuatu yang diwahyukan, yang objektif. Tetapi penglihatan di dalam kita itu subjektif. Keduanya sama-sama di dalam pikiran. Lalu, bagaimana terjadinya dari roh ke pikiran, dari wahyu berubah menjadi terang, dari perasaan berubah menjadi penglihatan? Demikian: sesuatu yang terwahyu di dalam roh memancarkan terang, melalui terang menyorot ke dalam pikiran kita. Sebab itu terang adalah sesuatu yang melewati jembatan. Kita tampak benda-benda material di dunia dalam prinsip yang sama. Apa saja yang kita lihat, bukankah karena benda itu melalui terang matahari terpantul ke dalam mata kita, demikianlah kita tampak benda-benda itu? Bagaimana kita bisa tampak terang matahari yang kuat dan jauh? Bukankah melalui terang yang menyorot ke dalam mata kita? Sebab itu saya berkata, kalau pikiran kita bisa tampak, bisa memahami hal-hal dalam roh, ini karena hal-hal yang terwahyu itu memancarkan terang, dan terang menyorot ke dalam pikiran kita. Itulah sebabnya saya sebut terang adalah sesuatu yang melewati jembatan.
Saya rasa untuk menerapkan keempat hal ini, paling baik mengambil satu contoh yang riil. Misalnya, kita mengenal bahwa di dalam kita ada satu sifat jahat. Pada satu masa, saya suka main biola. Ketika saya terbenam dalam bermain biola, tiba-tiba dalam batin timbul satu perasaan, membuat saya berdebar-debar, sepanjang hari merasa tidak nyaman. Saat itu saya sungguh merasa putus asa, kesal, menganggap ini sungguh tidak pada tempatnya. Saya lalu beralasan, bukankah ini suatu hiburan yang bermutu tinggi? Mengapa tidak boleh ada sedikit hiburan? Meskipun demikian, sampai saya meletakkan biola, barulah di dalam saya terasa ada damai sejahtera yang sesungguhnya. Pada mulanya saya tidak mengerti, kemudian Roh Kudus menampakkan kepada saya, barulah saya mengerti bahwa ini juga adalah kegemaran daging, yang menyebabkan saya tidak bisa memusatkan hati mengasihi Allah. Allah adalah Allah yang cemburu, Dia tidak menghendaki kita di luar diri-Nya memiliki berhala lain, memiliki kesenangan lain. Nyatalah, ketika saya merasa tidak tenteram, itu adalah di dalam saya Allah memberi wahyu, memberi perasaan. Ketika saya mengerti mengapa saya tidak tenteram, itu adalah Allah di dalam pikiran saya memberi penerangan, agar saya mengerti. Saat ini saya bisa menjelaskan mengapa saya tidak tenteram, juga bisa menjelaskan kepada orang lain agar diketahui. Ketika saya hanya mempunyai perasaan roh dan masih belum bisa mengungkapkan penyebabnya, kalau pikiran saya tenang, bisa menolak alasan-alasan, tidak ada keadaan bergejolak, juga tidak membiarkan perkara lain seperti dipenuhi oleh kekhawatiran dunia, tipu daya kekayaan, dan berbagai macam nafsu, saya bisa lebih cepat mengerti maksud yang ada di dalam roh, saya tidak akan berkelana di padang gurun, berputar-putar jauh, membuang-buang waktu.
PENJELASAN
Mohon saudara saudari khusus memperhatikan perkataan terakhir ini. Ini ditujukan kepada orang yang mempunyai pengalaman. Kalau Anda pernah mempunyai pengalaman yang demikian, perkataan-perkataan ini akan membantu Anda melihat lebih jelas, dengan sendirinya berfaedah bagi Anda. Kalau Anda kekurangan pengalaman demikian, hanya memakai otak mengingat beberapa kata ini, atau sembarangan memberi tahu orang lain, bagi Anda, hanya menambah sedikit pengetahuan atau analisis dalam otak, tidak memberi faedah apa-apa kepada Anda, bahkan merugikan Anda. Sebab itu saya mohon saudara saudari menaruh perhatian yang khusus. Semoga Anda membawa perkataan ini ke depan Allah, menengadah kepada Roh-Nya agar sekali lagi menerjemahkannya ke dalam Anda, supaya Anda mendapatkan terang lagi, dan terhadap Allah mempunyai pengenalan yang sesungguhnya, mempunyai pengalaman yang dalam!