Daftar isi Dua Belas Bakul (11) · bab 8/12

Proses Penyusunan Hayat Allah di dalam Manusia

Pembacaan Alkitab:

Ef. 1:4, 20; 1 Kor. 12:6; 1 Tes 2:13; Flp. 2:13; Ef. 6:17; Gal. 1:16; Ef. 1:17-18; Yoh. 1:4, 9; Ef. 5:13; Gal 4:19; Ef. 4:22-23; Kol. 3:9-10; Rm. 12:2.

Rencana Allah ialah menghendaki Kristus memenuhi segala sesuatu, supaya melalui Kristus, baik yang di surga maupun yang di bumi, semuanya menjadi satu, dan sekali lagi menjadi harmonis dengan diri-Nya. (Keharmonisan yang semula telah dirusak oleh Iblis). Puji syukur kepada Allah, dalam alam semesta ini, manusialah yang terlebih dulu dipilih oleh Allah untuk kembali. Tidak saja demikian, setiap orang yang kembali, yaitu orang yang memiliki hayat Kristus, akan menjadi kepenuhan Dia yang memenuhi segala sesuatu — Kristus (Ef. 1:23), dan akan melalui Kristus ini — Kristus dan gereja — mengekspresikan kemuliaan Allah, sepenuhnya merampungkan rencana Allah, supaya pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga, sekarang mengetahui pelbagai ragam hikmat Allah. Sebab itu Allah sangat menghargai manusia. Ia mengutus Anak-Nya datang, tidak untuk menyelamatkan malaikat, melainkan untuk menyelamatkan orang berdosa. Ia melalui pengaliran darah Anak-Nya di atas salib, menghapus dosa manusia, dan memberikan hidup yang kekal kepada manusia, supaya manusia mempunyai hayat-Nya, dan bersatu dengan diri-Nya.

Tuhan Yesus sendiri adalah Allah bersatu dengan manusia, inilah firman menjadi daging, adalah Imanuel, adalah Allah menjadi satu dengan manusia. Sekarang fakta ini akan terjadi lagi di atas diri orang yang percaya kepada Tuhan. Kita asalnya adalah orang dosa, tetapi syukur kepada Tuhan, masalah dosa sudah dibereskan dengan tuntas oleh karena darah Tuhan. Tuhan di atas salib, tidak saja mengucurkan darah menyelesaikan dosa kita, juga membebaskan hayat-Nya, supaya kita dilahirkan kembali. Biji gandum yang semula (Tuhan sendiri) telah mati, lalu menghasilkan banyak butir (kaum beriman). Ketika Tuhan di bumi, tubuh-Nya adalah bait Allah, hari ini kita melalui dilahirkan kembali juga menjadi bait Allah. Semula Roh Allah berada di dalam Tuhan, Dia adalah Anak tunggal Allah, hari ini Roh Allah juga di dalam kita, jadi kita adalah anak-anak Allah. Semula Allah menyatukan hayat-Nya dengan Tuhan, begitu juga hari ini Allah menyatukan hayat-Nya dengan kita. O, ini adalah fakta yang begitu mulia; Allah telah menjadi satu dengan manusia, supaya manusia bisa menjadi ahli waris Allah, bersama dengan Kristus menerima warisan Allah yang limpah ruah! O, ini di luar dugaan manusia, namun sekarang telah menjadi satu fakta yang tegas. Saya tidak mengetahui harus bagaimana bersyukur kepada Allah, memuji Allah, dan menyembah Allah! Tadinya adalah orang dosa yang akan binasa selamanya, sekarang menjadi anak Allah yang terkasih, kita akan berkata apa lagi!

Sekarang, menurut apa yang kita lihat, saya akan menjelaskan bagaimana caranya hayat Allah masuk ke dalam manusia, bagaimana pertumbuhan hayat Allah di dalam kita. Namun, karena terbatas oleh halaman, terpaksa dengan sangat ringkas menjelaskannya.

PEMILIHAN

Dipandang dari sudut yang lebih jauh, kita telah dipilih di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Hal ini terjadi entah berapa lama yang lalu. Dipandang dari sudut yang agak dekat, Paulus berkata, ia di dalam rahim ibunya sudah dipisahkan. Lihatlah, sebelum Anda dilahirkan, Allah telah memisahkan Anda bagi diri-Nya. Ini berdasarkan pengenalan diri dan pemilihan Allah, yang tidak dapat dicampuri oleh tangan manusia. Ini adalah aspek yang objektif, di sini saya tidak akan banyak membahasnya.

Sekarang saya khusus menghendaki Anda melihat, sebenarnya bagaimana Allah di aspek subjektif bekerja di atas diri kita. Yaitu bagaimana Allah di dalam Kristus melalui Roh Kudus, memasukkan hayat-Nya ke dalam kita, bagaimana hayat Allah bertumbuh di dalam kita, sampai kita serupa dengan Dia. Di sini ada satu jalan yang akan Allah lewati di atas diri kita. Atau, kita memiliki satu jalan untuk memasuki jalan hayat, yang memerlukan kita bekerja sama dengan Allah. Maksud hati Allah ialah ingin menuai Kristus di atas diri kita, akan membangun Kristus di atas diri kita, karena kita adalah ladang garapan Allah, dan bangunan yang dibangun Allah. Benih yang ditabur di sini adalah Kristus, sebab itu yang dituai pasti Kristus juga. Dasar rumah adalah Kristus, yang dibangun di atasnya juga harus Kristus. Singkatnya, jalan ini tak lain adalah bagaimana Allah bekerja, supaya kita menjadi Kristus; atau bagaimana kita bekerja sama, supaya pekerjaan ini bisa rampung dengan lancar tanpa ada sedikit pun halangan. Sebab itu, di aspek subjektif, kita perlu kembali ke semula, yaitu kembali ke masalah keselamatan.

BEKERJA (OPERASI)

Sekarang saya menemukan satu hal, yaitu sebelum seseorang percaya kepada Tuhan, Allah telah bekerja di atas dirinya; pekerjaan ini saya sebut sebagai pekerjaan operasi. Allah bekerja melalui dua hal: (1) Roh Kudus — yang beroperasi, (2) Firman Alkitab — sarana untuk beroperasi (1 Tes. 2:13). Allah melalui Roh dan firman-Nya beroperasi. Misalnya, ada orang memberitakan Injil, memberitakan firman Allah kepada orang yang belum percaya, setelah memberitakan sekali, belum tentu orang yang mendengarkan itu langsung percaya. Meskipun belum percaya, tidak bisa dikatakan bahwa Roh Kudus tidak bekerja melalui firman Allah. Saya sungguh-sungguh percaya, setiap kali orang memberitakan firman Allah bersandarkan Roh Kudus, Roh Kudus pasti beroperasi di balik firman itu; karena setelah diberitakan satu kali, dua kali, atau beberapa kali, akhirnya sampai suatu saat, tiba-tiba orang itu menerima dan beroleh selamat. Di atas diri seseorang, meskipun setelah percaya baru terjadi perubahan subjektif, tetapi di pihak Allah, setiap kali firman-Nya masuk ke dalam manusia, pasti tidak sia-sia.

Sebab itu saudara-saudara yang memberitakan Injil, jangan karena orang yang mendengarkan pemberitaan Anda belum percaya kepada Tuhan lalu Anda kecewa, karena pemberitaan Anda tidak pernah sia-sia. Sebelum orang itu beroleh selamat, Roh Kudus memakai firman Allah beroperasi di dalamnya; ketika orang bertobat, itu hanya kematangan dari operasi itu. Sebab itu sejak orang mendengarkan firman Allah, sampai ia beroleh selamat, saya sebut sebagai masa operasi. Kalau seorang bisa mengerjakan di dalamnya baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya, itu pasti hasil dari operasi Allah (Flp. 2:12-13).

Apakah operasi? Operasi tak lain adalah pekerjaan menggarapkan Allah ke dalam manusia, ini adalah langkah pertama pekerjaan Allah. Istilah operasi dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan sebagai in working. Ketika Allah mulai beroperasi di dalam manusia, di pihak manusia mungkin tidak terasa apa-apa; tetapi begitu operasi ini matang, manusia pun mendapatkan wahyu dan terang, ia melihat sesuatu, dapat bertekad dan melakukan sesuatu. Di atas orang yang baru beroleh selamat, ia akan tampak dirinya adalah orang berdosa, dan Yesus adalah Juruselamat. Karena begitu Allah masuk, terang juga masuk. Hayat ini adalah terang di dalam manusia (Mat. 6:23; Yoh 1:4), sehingga ia mulai tampak dosanya sendiri, dan membenci dosa. Seseorang bisa membenci dosa dan menolak dosa, itu adalah hasil dari operasi Allah. Allah melalui Roh Kudus dan firman-Nya mengalirkan hayat-Nya yang kudus ke dalam manusia, hayat ini mutlak berlawanan dengan dosa; karena terang hayat ini, manusia dapat melihat keadaan sebenarnya dari dosa, tampak sifat jahat dosa, sebab itu dengan sendirinya bisa membenci dosa, tidak berdosa, dan menjauhi dosa.

WAHYU DAN TERANG

Saya pernah mengatakan bahwa operasi adalah langkah pertama pekerjaan Allah. Ketika pekerjaan operasi sudah matang, orang itu pun mempunyai pengenalan yang subjektif, perasaan yang subjektif, dan penglihatan yang subjektif. Inilah wahyu dan terang, atau disebut perasaan hayat. Perkara ini sangat penting, karena semua dasar kemajuan rohani yang sejati terletak di sini; jalan mengenal Allah yang sejati terletak di sini. Allah menyatukan diri-Nya dengan manusia, juga melalui ini. Hal ini boleh dikatakan sebagai kunci yang sesungguhnya dari manusia berubah menjadi Kristus, sebagai inti sari agama Kristen, juga sebagai perbedaan yang paling besar antara agama Kristen dengan agama yang lain. Allah melalui wahyu dan terang menyatakan diri-Nya sendiri, sehingga dengan dirasakan oleh manusia, menyusun diri-Nya ke dalam manusia. Allah mewahyukan diri-Nya ke dalam roh manusia, kemudian membuat pikiran manusia mengerti. Melalui ini manusia berangan-angan mengenal diri Allah. Karena hayat Allah ada di dalam manusia, maka sifat Allah juga mengikuti hayat ini ada di dalam manusia; sifat ini akan melalui terang mengekspresikan dirinya.

Di sini saya tidak menjelaskan lagi apa itu wahyu, apa itu terang, karena telah dibicarakan di depan. Tetapi ada beberapa perkataan perlu diucapkan di sini, yaitu Allah itu roh, Ia melalui Roh Kudus tinggal di dalam roh kita. Sebab itu, wahyu terlebih dulu ada di dalam roh, kemudian Allah menerangi pikiran, setelah itu barulah orang mulai mengerti. Efesus 1:17-18 juga menjelaskan urutan ini, terlebih dulu roh wahyu, kemudian penerangan pikiran. Tetapi ketika mengalaminya, jangan terlalu banyak menganalisis. Sesungguhnya, sewaktu mengalami, hanya merupakan perasaan di dalam saja. Misalnya, menjumpai satu perkara yang tidak benar. Pada mulanya hanya merasa bahwa perkara itu tidak benar, tetapi belum mengetahui di mana letak kesalahannya. Kemudian tidak saja merasakan tidak benar, juga mengerti mengapa tidak benar. Inilah perasaan yang semula ada di dalam roh, namun karena saat itu pikiran belum diterangi, maka tidak bisa menjelaskannya. Setelah pikiran diterangi, baru mengerti seluk beluknya.

Allah senang mewahyukan Putra-Nya di dalam kita, demikian kita baru bisa seperti Paulus, memberitakan Dia — Putra Allah, bukan doktrin yang kosong — kepada orangbanyak. Di sini hendaklah kita bersikap takut dan gentar di hadapan Allah, karena kalau tidak ada wahyu yang berasal dari dalam, tidak akan ada berita yang dapat kita khotbahkan. Paulus adalah orang yang memiliki wahyu Putra Allah, sebab itu ia boleh tidak berunding dengan orang yang milik daging, dan memberitakan kekayaan Kristus kepada orang kafir. Melalui wahyu ia mengenal Putra Allah, hayat Putra Allah juga ada di dalamnya; melalui perasaan batiniah ia mengenal apakah hayat, dan apa yang berasal dari Allah.

PERASAAN HAYAT BARU

Membahas sampai di sini, kita akan kembali melihat perkara yang terjadi saat dilahirkan kembali. Pada saat itu kita telah mendapatkan hayat Allah, mempunyai sesuatu yang mutlak baru di dalam kita. Setelah mempunyai hal ini, kita menjadi orang yang berbeda dengan semua orang dunia (kecuali orang Kristen); juga berbeda dengan aku yang lama. Mari kita perhatikan, perkataan ini sangat penting sekali, yang menyebabkan kita berbeda dengan orang dunia adalah hayat. Ketika hayat ini terwahyukan, kita mempunyai perasaan yang baru. Perasaan baru ini berdasarkan sifat hayat ini. Segala yang berlawanan dengan sifat hayat ini dengan sendirinya dibenci, dilawan, dan ditolaknya. Apa saja yang sesuai dengan sifat hayat ini disenangi, diterima, bahkan timbul resonan, lalu kita mempunyai semacam “ya” di dalam, atau perkataan “amin”. Saya percaya, orang yang mempunyai pengalaman, tahu semua apa yang saya katakan.

Puji syukur kepada Allah, melalui perasaan semacam inilah — terang hayat — Allah menyuruh kita menolak dosa, dunia, nafsu, ego, yaitu segala hal yang berasal dari hayat Adam. Tetapi ini tidak terjadi dalam satu hari saja, melainkan menurut banyaknya terang yang kita terima menentukan taraf penolakannya. Semakin banyak terang (yaitu perasaan hayat), semakin banyak yang ditolak dan dilepaskan. Demikian hayat Tuhan semakin mempunyai kedudukan di dalam orang ini untuk berkuasa sebagai raja, seperti yang dikatakan oleh Paulus bahwa dia adalah orang yang seluruhnya diduduki oleh Kristus (Flp. 3:12, Darby).

Sekarang saya akan sedikit membicarakan garis besar perasaan hayat orang Kristen:

ASPEK TERHADAP MANUSIA DAN PERKARA

Adil/benar (Perasaan Hati Nurani)

Setelah seseorang beroleh selamat, ia mempunyai perasaan adil/benar, perasaan tulus, perasaan suci, dan perasaan benar salah. Sebab itu dalam pengalamannya, khususnya dalam hal berhubungan dengan orang, dalam hal kehidupan sehari-hari, dia sangat adil/benar, sangat jujur, sangat suci, dan perasaan benar salahnya sangat peka. Kalau ada sesuatu yang tidak adil/benar, penipuan, kecemaran, atau perkara yang tidak tepat; dia bisa dengan sungguh-sungguh menangis mencucurkan air mata mengaku salah dan memberi ganti rugi. Hal ini tak lain karena hayat Allah itu adil/benar, tulus, suci, hayat ini tidak memperbolehkan hal-hal yang berlawanan dengannya tetap tinggal di atas diri orang miliknya. Saya percaya inilah pengalaman yang pasti dialami oleh setiap orang yang sungguh-sungguh telah dilahirkan kembali. Ini juga perasaan hayat pada tahap permulaan, yang dirasakan melalui hati nurani (sarana perasaan). Sebab itu ada orang berkata bahwa perasaan hati nurani adalah perasaan Roh Kudus. Kalau seseorang setia dan taat kepada perasaan hati nurani, itu berarti dia sudah meletakkan dasar yang baik pada jalan rohaninya. Kalau tidak, Anda akan tampak bahwa jalan rohaninya di kemudian hari pasti tidak akan baik, karena hati nurani adalah langkah pertama jalan keluar dari hayat. Kalau di sini sudah tersumbat, orang itu akan jatuh ke dalam kegelapan. Semoga saudara saudari yang muda tidak mengabaikan suara hati nurani, karena ini adalah perasaan hayat.

Di sini, izinkanlah saya menyisipkan beberapa kalimat. Orang yang tidak mempedulikan suara hati nuraninya akan terperosok ke dalam kegelapan dan pertumbuhan hayat rohaninya akan mengalami pukulan yang mematikan. Sebab itu, mutlak perlu menaati hati nurani; setiap orang Kristen harus selalu mempunyai hati nurani yang murni terhadap Tuhan atau manusia. Tetapi ada dua hal yang perlu diwaspadai; (1) Hati nurani yang lemah. Ada orang yang hati nuraninya telah ditanggulangi sampai suatu taraf sehingga bahkan terhadap perkara-perkara yang benar pun merasa tidak bisa dilakukannya. Sama seperti saya pada sejangka waktu dulu, sampai tidak berani menginjak lantai rumah orang lain, karena merasakan belum mendapatkan izin dari pemiliknya, kalau saya menginjak, berarti tidak benar. Teh yang disajikan di rumah orang lain juga tidak berani saya minum, jika tuan rumah belum mempersilakan saya minum. Keadaan hati nurani yang lemah ini perlu diselamatkan oleh pengetahuan. Karena keadaan demikian, adakalanya bisa jatuh ke dalam tuduhan yang tidak berarti. Keadaan ini perlu mengenal khasiat darah adi. (2) Jatuh ke dalam keadaan membenarkan diri, membandingkan, merasa puas diri, dan lain sebagainya. Ketika berbagai tuntutan hati nurani sudah dijawab atau dipenuhi, orang mudah merasakan dirinya cukup baik, merasa puas, kemudian meremehkan orang lain, melihat dirinya lebih kuat daripada orang lain. Akibatnya, ia berhenti dalam hayat pada tahapan hati nurani atau berhenti pada tahapan hati nurani dalam hayat, dan tidak bisa menjamah hayat yang lebih dalam. Orang Kristen semacam ini sangat adil/benar, pandai membicarakan benar salah. Tetapi orang jenis ini harus diselamatkan terlepas dari keadaan membenarkan diri ini. Jika ia bisa merendahkan diri, tidak percaya kepada “adanya” dirinya, Allah akan memberikan lebih banyak terang kepadanya, supaya dia tampak: seringkali Allah tidak saja tidak di dalam “salah”, juga tidak di dalam “benar”. Orang yang mengenal bahwa Allah juga tidak di dalam “benar” adalah orang yang bahagia. Daya pembeda rohaninya telah berbeda dengan orang Kristen pada umumnya.

Saya rasa perasaan hati nurani orang Kristen adalah permulaan perasaan hayat. Kalau dalam tahap perasaan ini ada penyakitnya, hari depan rohaninya telah tamat. Saya mengamati banyak orang Kristen, ditinjau dari usaha penuntutan mereka, tidak bisa dikatakan kurang, tetapi begitu menjamah perkara rohani yang lebih dalam, mereka sama sekali tidak paham. Terhadap perkara dunia mereka pandai, berilmu, berbakat, tetapi begitu membicarakan perkara hayat yang lebih dalam, sepertinya ada satu tirai, seolah-olah dua orang yang berbahasa lain. Dua orang yang saling tidak mengerti bahasa masing-masing membicarakan satu masalah, akibatnya, saling tidak memahami. Ini disebabkan langkah pertama jalan keluar hayat — hati nurani — ada penyakit, sehingga jatuh ke dalam kegelapan, sehingga Allah tidak bisa memberikan terang yang lebih banyak kepadanya. Kalau terang tidak bertambah banyak, pertumbuhan hayat akan terhenti.

ASPEK TERHADAP ALLAH

Takwa dan Ibadah

Ketika saya mulai menjadi orang Kristen, saya mengetahui sedikit istilah takwa, ibadah, menyembah, dan lain sebagainya, tetapi dalam realitas rohani, saya tidak mengetahui apa-apa, sebab itu dalam kehidupan juga tidak ada penanggulangan. Kemudian, karena persekutuan dengan Allah makin akrab, perasaan takwa kepada Allah juga makin bertumbuh besar. Sering kali, ketika melihat saudara-saudara dengan berani mengkritik orang-orang rohani yang lebih senior, di dalam saya selalu merasakan lebih baik tidak mengucapkan kata-kata semacam itu. Adakalanya saya sendiri juga tergerak mengikuti membicarakan sedikit, tetapi saat itu juga di dalam ada satu perasaan menahan, perasaan yang tidak cocok, takut saya bisa salah. Meskipun orang lain salah, namun karena takwa kepada Allah, saya juga tidak berani berkata sembarangan. Bukan saja membicarakannya, memikirkannya saja tidak berani; karena “siapa aku”, sehingga begitu berani membicarakan orang lain dengan sembarangan?

Daud, dalam Perjanjian Lama, meskipun dia pernah melakukan dosa yang besar, tetapi dia adalah seorang yang takwa kepada Allah. Dia memiliki beberapa kali kesempatan untuk membunuh orang yang memusuhinya, yaitu Saul, tetapi karena dia adalah seorang yang takwa kepada Allah, dia tidak berani turun tangan membunuh orang yang diurapi Allah. Paulus, dalam Perjanjian Baru, juga sama. Ketika Imam Besar Ananias dengan tidak menuruti hukum Taurat menyuruh orang memukul Paulus, Paulus juga menegur dia, “Hai tembok yang dikapur putih.” Kemudian, ketika ada orang memberitahu dia, “Engkau mengejek Imam Besar Allah,” ia segera lunak dan berkata, “Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu,” mengaku dirinya salah. Di sini saya merasakan bahwa Paulus adalah seorang yang takwa kepada Allah. Meskipun Imam Besar itu tidak baik, tetapi ia adalah Imam Besar Allah. Sebab itu, begitu menjamah Allah, begitu berhubungan dengan Allah, segera lunak; orang yang demikian adalah orang yang takwa kepada Allah.

Ibadah juga merupakan suatu perasaan hayat terhadap Allah. Apakah seseorang melatih dirinya dalam hal ibadah? Ini sering dapat dilihat dari sikap dan tutur katanya; yaitu melihat pinggangnya — pinggang batiniah — kendur atau tidak. Kalau pinggang seseorang terikat, bicaranya juga terikat; kalau tidak, pasti tidak terikat. Ada orang tidak hanya dalam pembicaraan terbiasa kendur, ketika berkhotbah pun kurang berada di hadapan Allah. Saudara-saudara, perhatikanlah, ketika kita berkhotbah, kita tidak saja di hadapan manusia, lebih-lebih di hadapan Allah. Tetapi ada orang sewaktu berkhotbah, ia hanya berada di hadapan manusia, sehingga dalam khotbahnya ia kendur, melontarkan banyak kata-kata humor, yang membuat semua hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Saya tidak melarang orang mengucapkan humor, tetapi orang yang berkhotbah harus mempunyai sikap ibadah, merasakan dirinya berada di hadapan Allah lebih daripada di hadapan manusia, demikian baru mirip orang yang ibadah. Tentunya pada hidup sehari-hari juga harus berlatih ibadah, ini lebih penting. (Cara berlatih adalah bersekutu dengan Allah; boleh melihat buku “Hidup Bersama Allah”, “Kata-kata Mutiara Lawrence” dan lain-lain. Di sini tidak banyak saya singgung).

Penyembahan

Mengenal penyembahan juga baru dimulai setelah hayat mencapai taraf tertentu. Ketika seseorang di batinnya betulbetul tampak dirinya “tidak memiliki apa-apa” dan tampak kealmuhitan Allah, barulah tampak kehinaan manusia dan keagungan Allah; merasa Allah begitu unggul, begitu kaya, begitu mulia dan kudus, sebaliknya manusia begitu kecil, rendah, “tidak ada apa-apa”, dan sia-sia. Demikian ia akan merendah, tak dapat berkata apa-apa, hanya menyembah dan memberikan segala mulia bagi Allah. Saat demikian, ia baru sedikit menjamah apa yang disebut penyembahan. Pengalaman ini hanya dapat dipahami, tidak bisa diutarakan; tetapi orang yang pernah mengalaminya mengetahui. Sebab itu, tidak saya uraikan terlalu banyak di sini.

PERASAAN HAYAT YANG LEBIH DALAM

Kalau ingin dengan jelas membicarakan pengalaman ini, sering kali merupakan satu perkara yang sulit. Bagi orang yang mendengar, selain ia mempunyai pengalaman yang sama, baru bisa sungguh-sungguh mengetahui; kalau tidak, saya khawatir setelah mendengar dan mengingat satu seri kata-kata itu, lalu mengira dirinya sudah mengetahui, dan merasakan dirinya sebagai orang semacam itu. Sesungguhnya yang ia miliki hanya dalam otak, bukan pengalaman dalam hayat. Sering kali orang tidak saja dirinya sudah mengetahui, juga menyampaikan kata-kata yang belum “sungguh-sungguh” ia ketahui kepada orang lain.

Sebab itu saya mohon kalian mendengar perkataan selanjutnya ini, sekali-kali jangan memakai kekuatan otak untuk mengingat-ingat, tetapi perlu dengan hayat yang di dalam menyentuhnya. Kalau telah menyentuh sesuatu, di dalam Anda akan ada reaksi, ada resonan, dan ada keharmonisan. Ini sudah cukup. Kalau tidak, biarkanlah dia pergi.

Perasaan Terpisahnya Roh dan Jiwa

Perasaan yang lebih dalam boleh dikatakan adalah perasaan terpisahnya roh dan jiwa. Di sini, di dalam dirinya ada satu kekuatan membedakan yang bertumbuh, hari demi hari makin tampak bahwa hal-hal yang dulu dianggap baik, yang sangat bisa membantunya, sekarang tidak lagi dirasakan begitu, dan terasa di dalamnya tidak ada seberapa besar kadar rohani. Demikian, hal-hal yang membuatnya gembira dan bergejolak, mendapat bantuan, sekarang terasa tidak demikian lagi. Dengan takjub dia menemukan bahwa di dalam dirinya ada satu macam kekuatan membedakan, dapat merasakan apa yang berasal dari roh, berasal dari hayat Allah, berasal dari tempat yang dalam sekali; juga merasakan apa yang dipandang oleh banyak orang sebagai hal-hal yang indah, bisa menarik orang, gairah, berbakat, berpengetahuan, pandai, dan lain sebagainya, tak lain berasal dari alamiah manusia. Kalau Anda meminta dia mengutarakan bagaimana dia mengetahuinya, dia juga tidak bisa mengucapkan, tetapi dia tahu. Dia mempunyai pengetahuan semacam ini, bukan karena mempelajari, menganalisis, melainkan dengan sendirinya di batinnya bisa membedakan.

Ini juga boleh dikatakan sebagai satu perasaan dari sumber. Di atas dirinya atau orang lain, baik dalam pembicaraan atau perilaku, dia menjamah sumbernya, bisa merasakan apakah sumbernya. Adakalanya dia bertemu dengan orang yang sangat lemah-lembut, sangat rendah hati, tetapi dia dapat merasakan bahwa ini bukan yang berasal dari hayat, melainkan dari perbuatan manusia. Sebaliknya, adakalanya dia bertemu dengan orang yang tidak begitu “rendah hati”, “sopan-santun”, tetapi dia merasakan ada hayat. Dalam sidang doa, ada orang berdoa dengan gairah, sampai mengucurkan air mata, tetapi tidak menjamah batin, malah terasa dingin. Adakalanya orang dengan suara lembut berkata beberapa kata, tetapi terasa menyentuh batin. Ini boleh dikatakan lubuk batin menjamah lubuk batin, menjamah sumbernya.

Ketika Tuhan berada di bumi, perasaan batin-Nya sangat peka. Ketika banyak orang mengerumuni Dia, Dia tahu kalau ada orang yang menjamah diri-Nya. Perempuan yang sakit pendarahan itu tidak bisa tidak mengakui bahwa dialah yang menjamah-Nya. Ketika Petrus berkata bahwa Dia adalah Kristus, Tuhan berkata bahwa Bapalah yang memberikan wahyu kepadanya. Kemudian Petrus menganjuri Tuhan agar jangan pergi ke Yerusalem. Tuhan segera menegur dia, mengatakan Petrus adalah Iblis. Tuhan tidak berhenti pada diri Petrus. Tuhan mengenal sumbernya.

Singkatnya, sumbernya hanya dua. Satu adalah Roh Kudus, yaitu Allah; yang satu lagi adalah daging (belakangnya adalah Iblis). Kalau menjamah Roh Kudus, di dalam Anda timbul urapan minyak, dirisan, penuh dan mantap, hasilnya adalah hayat dan damai sejahtera. Kalau menjamah daging, Anda akan merasa kering, sia-sia, sumpek, mati, dan sunyi, akibatnya adalah maut dan tidak ada damai.

Perasaan Taat kepada Wewenang

Dalam perasaan yang lebih dalam, masih ada semacam perasaan lain yang ajaib, yaitu perasaan taat kepada wewenang. Perasaan semacam ini tidak membicarakan alasan (orang Kristen yang hidup dalam beralasan tidak memiliki perasaan demikian), bersifat mutlak, karena di dalam wewenang ada Allah. Ia tidak saja taat kepada wewenang hayat, juga taat kepada wewenang kedudukan. Perasaan semacam ini sangat berharga, karena Allah mendirikan alam semesta berdasarkan wewenang, tata tertib di surga terpelihara berdasarkan wewenang, kedudukan setiap anggota tubuh dalam Tubuh Kristus juga terpelihara berdasarkan wewenang. Tetapi dalam alam semesta, atas hal wewenang ini, Iblis melanggarnya. Sebab itu Allah hendak melalui hayat dan ada di dalam kaum beriman, yang bertumbuh hingga taraf tertentu dan yang mempunyai perasaan taat kepada wewenang, supaya gereja memulihkan wewenang yang telah hilang. Itulah sebabnya perempuan perlu di hadapan malaikat melakukan kesaksian ini (1 Kor. 11:10). Saudara-saudara, ini bukan perbuatan manusia, juga bukan berasal dari hukum Taurat, melainkan berasal dari hayat, yang spontan.

Perasaan Surgawi

Masih ada semacam perasaan lain lagi yang unggul, yang kita sebut sebagai perasaan surgawi. Hayat yang berasal dari Allah memang mutlak surgawi, melampaui yang duniawi dan yang bumiah, karena hayat ini ada bersama Kristus di atas takhta. Kedudukan takhta bukan saja ada wewenang, lebih-lebih bersifat surgawi. Dalam hayat ini ada semacam perasaan yang melampaui manusia, perkara, dan benda. Dia boleh bertemu dengan orang-orang dunia, melakukan perkara dunia, juga memiliki hal-hal dunia, tetapi di antara dia dengan dunia terdapat suatu pemisahan. Dia seperti semacam orang yang meskipun beristri, seperti tidak beristri; meskipun memakai barang-barang dunia, seperti tidak memakai barang-barang dunia; meskipun berjual beli, seperti tidak berjual beli; karena hatinya tidak di dalam dunia ini, juga tidak melekat pada manusia, perkara, dan benda-benda dunia. Dia bisa sewaktu-waktu meletakkan segala sesuatu, naik ke hadirat Kristus. Dalam pengalamannya, terhadap banyak perkara yang duniawi dan bumiah, dia memiliki satu naluri yang menolak dan membenci keadaan itu. Sebab itu, ketika mendapatkan atau kehilangan barang-barang dunia, orang lain mungkin merasa sangat tertarik, tetapi dia tidak merasa tertarik; orang lain merasa sedih sekali, ia tidak merasa begitu sedih. Baik mendapatkan atau kehilangan, seolah-olah tidak ada kaitan yang besar. Sepertinya yang ia dapatkan itu adalah orang lain yang mendapatkan, dan kehilangannya adalah kehilangan orang lain; dengan dia tidak ada hubungan yang sangat dalam. Dia dapat “memandang ringan” banyak hal. Keunggulannya ini sedikit seperti “orang-orang yang menyingkirkan diri dari dunia”, yang tidak berebut dengan dunia, tidak mengikuti model dunia.

KRISTUS TERBENTUK

Saya pernah mengatakan bahwa hayat Kristus yang ada di dalam kita, ternyata melalui perasaannya; perasaan ini juga berdasarkan sifat hayat ini. Misalnya, hayat ini kudus, hal-hal yang berlawanan dengan kekudusan pasti ia tolak, tentang, dan benci. Titik permulaan perasaan ada di dalam roh; saat orang ini jelas akan perasaan ini, ia jelas di dalam hati nurani dan pikirannya. Lalu, apakah sebenarnya tujuan perasaan ini? Jawaban saya ialah supaya hayat Kristus terbentuk (Gal. 4:19), bertumbuh di dalam kita, akhirnya supaya kita serupa Dia (Rm. 8:29).

Kristus yang ada di dalam kebanyakan orang Kristen sama seperti telur ayam. Memang telur ayam mempunyai hayat, tetapi Anda tidak bisa menunjukkan bagian mana adalah kepala dan bagian mana adalah kaki. Tetapi saya juga pernah melihat ayam kecil yang telah terbentuk di dalam telur, keadaannya sangat berbeda dengan sekadar telur ayam; karena bisa dibedakan dengan jelas kepala, kaki, sayap, dan lainnya. Demikian juga Kristus di dalam beberapa orang Kristen, bagaikan telur ayam yang belum ada bentuknya, memang ada hayat, tetapi kurang jelas. Sebab itu banyak orang meragukan apakah dirinya memiliki hayat. Tetapi ketika sehari lewat sehari, Allah menerangi dia, membuat dia makin mengenal diri sendiri, makin menyangkal diri (inilah pekerjaan salib), juga mengenal bahwa di dalam dirinya benar-benar ada hayat; maka dalam perbuatannya manusia lama akan semakin tertanggalkan, dan manusia baru — Kristus — akan semakin dikenakan. Dia makin mirip Tuhan. Inilah hayat Kristus tertampil dari diri seorang. (Taraf penampilannya tidak bisa melebihi terang yang ia lihat, juga tidak bisa melebihi kasih karunia yang di dalam. Tentunya di dalam hayat yang paling tinggi, masih ada cara pengutaraan yang lain, yang tidak saya sebut di sini).

Terbentuk di sini tidak lain berarti memiliki garis. Misalkan di sini ada sebuah cangkir. Begitu melihat, Anda segera mengenal ini adalah cangkir, karena di sini ada garis; yang di dalam garis adalah cangkir, yang di luar garis adalah udara. Barang-barang yang mempunyai bentuk, semua terpisah dari hal-hal di sampingnya oleh garis. Demikian juga dengan hal-hal rohani. Sampai suatu saat, seseorang berangsur-angsur tampak bahwa yang di dalam garis adalah Kristus dan yang di luar garis bukan Kristus; yang di luar itu adalah yang palsu, atau barang pengganti. Atas dirinya ia bisa mengenal apa itu Kristus dan apa itu bukan Kristus; bahkan atas diri orang lain, juga bisa mengenalnya. Sebab itu, ada orang yang berlagak rohani, ia dapat menipu diri sendiri, juga bisa menipu orang lain; tetapi di depan orang yang benar-benar rohani, ia tidak bisa menipunya. Karena orang yang rohani tidak sekadar mendengar perkataan yang seolah rohani, ia akan menyentuh yang di dalam, menyingkapkan sebenarnya mengenal atau tidak terhadap perkara yang sejati, mengenal atau tidak terhadap realitas rohani.

Terbentuknya Kristus adalah secara berangsur-angsur, menurut seberapa banyak wahyu dan terang yang ia terima. Hari ini Kristus terbentuk di dalam. Kelak ketika Tuhan datang lagi, itulah saatnya transfigurasi tubuh, bahkan yang di luar pun akan mirip Dia.

PENGUBAHAN

Untuk memudahkan pembahasan, kita terpaksa memisahkan wahyu, terang, terbentuk, dan pengubahan; tetapi dalam pengalaman, wahyu adalah untuk pembentukan, pembentukan adalah untuk pengubahan. Kristus dengan berangsur-angsur terbentuk di dalam kita, kita pun berangsur-angsur berubah serupa Dia; kedua hal ini sesungguhnya terjadi bersamaan, tidak bisa dipisahkan. Tetapi dalam pengubahan perlu kerjasama manusia. Menaati terang yang di dalam adalah syarat untuk segalagalanya. Di dalam saya tampak berapa banyak, sebanyak itu pikiran saya akan diperbaharui, bersamaan dengan itu, sebanyak itu pula pengubahan terjadi. Pengubahan seseorang terjadi melalui pembaruan pikiran. Mengapa Efesus 4:23 mengatakan “dibarui di dalam roh pikiran” (Tl.)? Karena pekerjaan Roh Kudus selalu dimulai dari titik pusat ke lingkaran. Sebab itu roh — khususnya bagian yang berhubungan dengan pikiran — terlebih dulu diperbarui, kemudian pembaruan ini mencapai pikiran (Rm. 12:6). Demikianlah orang itu berangsur-angsur berubah dalam perilakunya.

Ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus dan dilahirkan kembali, pikirannya mengalami pengubahan untuk kali pertama, juga sangat besar, inilah yang disebut bertobat. Arti bertobat adalah perubahan pikiran. Asalnya pikiran orang itu mengarah kepada dosa, dunia, diri sendiri, dan ia tertipu oleh Iblis. Sekarang melalui pekerjaan Roh Kudus, pikiran orang itu berubah mengarah kepada Allah. Pertobatan ini adalah permulaan perubahan pikiran. Kemudian terus setiap hari diperbarui, menurut terang yang dilihat, makin lama makin diperbarui, makin lama makin mengarah kepada Allah, makin lama makin mengerti maksud hati Allah. Sesungguhnya, pikiran adalah mata hati batin manusia. Saat bertobat adalah saat mata hati tercelik. Pembaruan membuat mata hatinya makin terang. Seberapa banyak mata hatinya diterangi, sebanyak itu juga pertumbuhan hayat. Sebab itu, pembaruan pikiran adalah satu hal yang sangat penting. Karena semua pengubahan berdasarkan ini.

SERUPA DIA

Sasaran pengubahan adalah mirip Tuhan. Kristus adalah model kaum beriman di atas gunung. Semakin banyak seseorang berubah, berarti semakin banyak barang-barang dalam Adam yang dibersihkan. Inilah salib yang lebih dalam mematikan hayat jiwa. Hasilnya, hayat Kristus dapat menjadi tuan, menjadi raja, berkuasa di dalam manusia, dapat dengan leluasa terekspresi dari diri orang ini. Inilah pekerjaan utama Roh Kudus di dalam manusia pada hari ini, juga satu-satunya pekerjaan yang paling mustika. Demikianlah Allah di dalam Kristus menyusun diri-Nya ke dalam manusia melalui Roh Kudus, atau menjadi satu dengan manusia, supaya manusia diubah menjadi orang yang berada di dalam pemerintahan Allah, mencapai tujuan semula Allah menciptakan manusia. Saat ini, batin manusia penuh dengan hayat Kristus (ini barulah pemenuhan Roh Kudus secara riil), di luar juga mengenakan Kristus, sehingga Kristus tertampil. Hal ini bisa kita alami hari ini. Mengenai sepenuhnya mirip dengan Kristus perlu menunggu kedatangan kembali Tuhan, yaitu tubuh kita tertebus, mendapatkan tubuh yang mulia; saat itulah baru sepenuhnya mirip dengan Tuhan. Saat itu, hal-hal yang didatangkan oleh maut, di atas diri kita semuanya akan tertelan oleh hayat.

Sekarang izinkan saya dengan setulusnya memberi tahu Anda, jika seseorang tidak menjamah jalan pertumbuhan hayat ini, atau jalan yang dilalui oleh Allah, ia tidak akan memiliki jalan yang lain. Jalan kita adalah Kristus — Kristus yang terwahyu di dalam — selain Dia tidak ada jalan, karena di bawah kolong langit tidak diberi jalan yang lain. Saudara-saudara, saya tidak takut mengulangi; sekali lagi saya katakan: Kristus terwahyu, terbentuk di dalam kita, hayat alamiah kita terhapus, tersingkirkan, adalah satu-satunya jalan pertumbuhan hayat. Banyak orang tidak memperhatikan ini, sebaliknya menuntut pengetahuan dalam otak, karunia rohani. Saya tidak mengatakan hal itu jelek, tetapi saya akan berkata bahwa itu bukan Allah sendiri. Sebab itu, banyak orang seperti apa? Seperti mobil yang berputar-putar di lapangan, telah mengeluarkan banyak waktu dan tenaga ke sana ke mari, namun tetap berada di tempat asalnya, tidak ada kemajuan. Orang yang benar-benar mendapatkan kasih karunia memasuki jalan ini, dia sepertilah kereta api yang diletakkan di atas rel, asalkan ia terus maju ke depan dengan setia, pada suatu hari ia pasti mencapai tujuannya. Tetapi di lain pihak saya akan berkata: tidak tergantung pada orang yang berkehendak, tidak tergantung pada orang yang berlari, melainkan tergantung Allah yang memberi belas kasihan. Semoga kita berdiri pada posisi yang kasihan, biar Allah mempunyai kesempatan membelaskasihani kita.

I.C.H.