Daftar isi Dua Belas Bakul (11) · bab 7/12

Perorangan dan Banyak Orang

Pembacaan Alkitab:

2 Kor. 5:13; Rm 9:3; 1 Yoh. 4:7; Yak. 4:7; Ef. 5:22-24; 1 Kor. 12:25; Ef. 5:21; Hos. 7:8.

Beberapa hari ini saya terus memperhatikan satu perkara, yaitu orang Kristen harus menjadi roti yang dibalik. Apa yang disebut dengan roti yang tidak dibalik? Yaitu satu muka ada api, muka yang lain tidak ada api. Roti yang dibalik berarti muka ini dipanggang, dan muka itu juga dipanggang. Ini adalah prinsip yang besar dalam Alkitab. Terhadap banyak perkara orang Kristen harus memperhatikan dua sisi, kalau hanya memperhatikan satu sisi, itu seperti roti yang tidak dibalik; satu muka hangus, tetapi muka yang lain masih seperti bubur; satu muka sudah kering, tetapi muka yang lain masih ada air, masih mentah. Kalau ada saudari yang masak sayur atau masak ikan, di satu muka telah hangus, dan di muka yang lain belum matang, masakan itu pasti tidak dibalik. Ingatlah, dibalik adalah hal yang sangat penting, kalau tidak dibalik pasti satu muka hangus, satu muka yang lain masih belum matang. Arti dibalik tidak lain adalah harus memperhatikan dua aspek. Aspek ini harus diperhatikan, aspek itu juga harus diperhatikan; aspek ini harus belajar menuntut, aspek itu juga harus belajar menuntut.

Pada pembahasan ini yang kita bicarakan bukanlah mengenai prinsip hayat rohani, tetapi mengenai prinsip kehidupan sehari-hari kaum beriman yaitu prinsip kehidupan bersama dengan kehidupan pribadi. Di satu aspek kita harus memperhatikan kehidupan bersama, di aspek lain kita juga harus memperhatikan kehidupan perorangan. Kita di satu aspek adalah anggota Tubuh, di aspek lain juga Tubuh. Sebab itu kita harus memperhatikan kehidupan anggota Tubuh, juga harus memperhatikan kehidupan Tubuh. Kita bukan saja seorang diri, kita masih mempunyai seluruh Tubuh, orang yang begitu banyak.

Sama seperti agama Katolik pada hari ini, semua otoritas berada di tangan Paus, mereka hanya mendengarkan perintah Paus seorang, mereka tidak ada denominasi. Meskipun agama Kristen Protestan hanya bersejarah 500 tahun lebih, tetapi sampai setengah abad yang lalu sudah ada kurang lebih 1500 sekte. Pada hari ini mungkin lebih banyak lagi. Katolik mulai dari dulu sampai sekarang hanya mendengarkan perintah Paus, mereka sangat taat kepada Paus. Lalu Kristen Protestan bagaimana? Sektenya banyak, kepercayaannya banyak berbeda, opininya juga banyak. Katolik menempuh satu jalan ekstrem, hati nurani pribadi tidak ada pendapat, apa yang dikatakan Paus mereka ikuti saja. Kristen Protestan hanya memperhatikan hati nurani diri sendiri, tidak mempedulikan orang lain, kalau ada beberapa hal yang tidak sama, lalu beberapa orang berkumpul dan memasang satu merek, sehingga di sini satu denominasi, di sana satu denominasi. Sebab itu Katolik adalah roti yang tidak dibalik, Kristen Protestan juga roti yang tidak dibalik.

Alkitab berdiri di antara keduanya, ada kebebasan pribadi, yaitu pendapat hati nurani; juga harus mendengarkan orang lain, yaitu saling taat. Kita adalah tubuh juga anggota tubuh. Setiap orang di dalam dunia harus menjadi seorang yang berdiri sendiri, di samping itu harus juga taat kepada orang lain. Kita harus mempertahankan kehidupan anggota Tubuh, di samping itu juga memperhatikan kehidupan Tubuh; harus memperhatikan kehidupan korporat juga harus memperhatikan kehidupan pribadi. Kalau hanya memperhatikan satu aspek saja, itu adalah roti yang tidak pernah dibalik. Kalau hanya memperhatikan orang lain, diri sendiri tidak ada pendapat, itu juga adalah roti yang tidak dibalik. Kita di depan Allah harus memperhatikan perorangan juga memperhatikan korporat. Di sini saya akan menyinggung beberapa hal tentang perbedaan kehidupan pribadi dengan kehidupan korporat, tetapi mohon dimaafkan, saya tidak bisa dengan rinci membahasnya.

1. Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah demi Allah,

dan jika kami menguasai diri, hal itu adalah demi kamu

(2 Kor. 5:13)

Tidak menguasai diri adalah gila. Berbuat demikian adalah untuk Allah. Tetapi di aspek lain menguasai diri, adalah untuk manusia. Jadi, satu aspek adalah sangat pribadi, di aspek lain sangat korporat. Menuntut tidak menguasai diri adalah masalah pribadi; menuntut menguasai diri adalah masalah korporat. Misalnya, bangun pagi seorang diri membaca Alkitab, karena mendapat terang dari Tuhan dengan tak sadar menepuk meja beberapa kali. Ini tidak ada masalah. Tetapi kalau hari ini saya di sini teringat satu ayat lalu berdiri memukul meja, bukankah kalian akan berkata saya sudah gila? Paulus gila di hadapan Allah, tetapi berhati-hati atau menguasai diri di depan manusia. Anda tinggal seorang diri di suatu tempat, karena sukacita lalu menepuk meja atau kursi, hal ini di hadapan Allah itu bolehboleh saja. Tetapi kalau kita berada di hadapan orang harus hati-hati. Banyak orang di hadapan Allah sangatlah hati-hati, seperti tidak mengetahui bagaimana caranya berdoa. Sebenarnya, di hadapan Allah, hati kita lebih membara lebih baik. Ketika kita seorang diri di hadapan Allah, boleh sangat bebas, kegila-gilaan, melompat-lompat, terus-menerus menyebut haleluya; tetapi kalau dalam sidang, kalau ada orang lain bersama kita, kalau di tetangga ada orang mendengarkan Anda, Anda jangan berteriak-teriak. Di hadapan orang Anda harus hati-hati, Anda harus menguasai diri. Perkataan saya kelihatannya agak terlalu terus terang, tetapi ini adalah pengajaran Alkitab. Paulus berkata kegila-gilaan kita lebih baik di hadapan Allah saja, sebaliknya perbuatan kita di hadapan orang harus hati-hati.

Hari ini ada keadaan yang sangat tidak baik, yaitu banyak orang memindahkan kegila-gilaan di hadapan Allah ke hadapan manusia. Ini tidak diperbolehkan oleh Alkitab. Di dalam kamar Anda tidak memakai kaos kaki, hanya memakai pakaian dalam, apakah Anda tidak bisa berdoa? Kita tahu kita dapat melakukan itu. Tetapi dalam sidang Anda tentu tidak boleh demikian. Apa yang Anda lakukan di hadapan Allah itu belum tentu bisa dilakukan di hadapan orang, di hadapan orang kita harus menguasai diri.

Apa arti menguasai diri? Menguasai diri adalah hati-hati, menjaga diri. Menguasai diri berarti mempunyai sopan santun; menguasai diri bukan gila; menguasai diri adalah tertib. Kalau Anda dalam kamar tidak berdoa, hanya berdoa di hadapan orang; dalam kamar tidak membaca Alkitab, hanya khusus membaca Alkitab di hadapan orang; itu sama seperti semua barang dagangan telah dikeluarkan, di dalam toko tidak ada barang lagi. Itu bukan gila di hadapan Allah, itu adalah kehidupan yang jatuh, dan tidak bisa diberkati oleh Allah. Kita di hadapan manusia, ada bagian yang hati-hati; di hadapan Allah, ada bagian yang menjadi gila. Demikian barulah roti yang pernah dibalik.

Misalnya saya tinggal di padang rumput, di sekitar tidak ada orang lain, sampai-sampai orang yang menjaga lembu dan domba pun tidak ada. Lalu saya di sana berteriakteriak berdoa dengan suara keras, itu boleh saja, siapa pun tidak akan menjamah Anda. Kalau saya tinggal di sebuah rumah di tengah-tengah masyarakat, meskipun saya seorang diri tinggal di rumah itu, lalu pada tengah malam berteriak-teriak, bukankah tetangga akan berkata, “Mungkin ada orang sakit, atau ada orang meninggal?” Ingatlah, gila hanya bisa di hadapan Allah, tetapi di hadapan orang harus memperhatikan mengendalikan diri; mengendalikan diri di hadapan orang, tetapi perlu juga belajar gila di hadapan Allah. Banyak orang di hadapan orang mengendalikan diri, di hadapan Allah juga mengendalikan diri; di hadapan orang tidak ada semangat, di hadapan Allah juga tidak ada semangat. Paulus gila di depan Allah, tetapi dia tidak tampan (tidak menarik) di depan orang. Surat yang dia tulis bahasanya berat, tetapi ketika di hadapan orang, dia tidak begitu menarik. Dia sangat biasa sekali. Kita harus belajar gila di hadapan Allah, tetapi mengendalikan diri di hadapan manusia.

Ada seorang saudara sangat pandai berdoa. Beberapa tahun yang lalu, karena sakit, saya pergi beristirahat di tempat tinggalnya, kamarnya persis di sebelah saya. Pada malam hari, karena badan saya demam, semalaman tidak bisa tidur. Lampu kamarnya terus menyala. Lalu saya mengetuk pintunya dan bertanya mengapa dia tidak tidur, dia menjawab, “Akan tidur.” Tetapi lewat beberapa waktu lagi, saya lihat dia masih belum tidur. Sampai jam dua malam dia baru tidur. Saya tidak melarang doa semalam suntuk, tetapi kita harus ingat, kegilaan hanya di hadapan Allah saja. Kalau gila di hadapan orang, orang lain tidak akan tahan. Anda tidak tidur, tetapi orang lain ingin tidur. Anda suka tidur terlambat, orang lain tidak suka terlambat. Keesokan harinya saya bertemu dengan dia, kemudian saya berkata, “Saudara, bukan karena kemarin malam saya tidur kurang enak lalu menganjuri Anda, tetapi kalau terus demikian, tidak mendatangkan kebaikan bagi Anda, juga tidak memdatangkan kebaikan bagi orang lain.” Dia tidak percaya perkataan saya; kemudian, dia muntah darah. Oh, gila di depan Allah itu boleh, tetapi gila di hadapan manusia, adalah roti yang tidak di balik.

Saudara-saudara, kiranya kalian tidak menyalahkan saya karena berkata terus terang. Semoga kalian bisa ingat kedua aspek ini, di satu aspek lincah di hadapan Allah, di aspek lain sangat biasa di hadapan manusia. Kalau Anda ingin menjadi orang Kristen yang istimewa, lakukanlah di hadapan Allah saja. Jangan memamerkan semua mustika Anda di hadapan manusia. Jangan ketika berbicara sepertinya mempunyai satu nada yang istimewa; ketika berjalan sepertinya mempunyai satu gaya yang istimewa. Di hadapan orang kita harus sangat biasa. Orang lain berpakaian, saya juga berpakaian, orang lain makan, saya juga makan. Kita harus menjadi roti yang dibalik. Kalau kita gila di hadapan Allah, juga gila di hadapan manusia, itu roti yang tidak dibalik. Kita harus tampak kedua sisi sama-sama mustikanya. Allah berkenan kepada kedua hal ini, yaitu bergairah di hadapan Allah, sangat biasa di hadapan manusia.

Saudara tadi itu telah menikah. Saya bertanya kepada saudara yang lain bagaimana keadaannya sekarang? Ada orang memberi tahu saya: istrinya telah menyiapkan makanan, dia tidak juga datang untuk makan. Pukul 12:00 dia belum makan siang, sampai pukul 14:00 belum makan siang juga, bahkan sampai pukul 17:00 atau 18:00 masih perlu diberi tahu untuk makan siang. Dia begitu tergila-gila di hadapan Allah, tetapi di hadapan manusia tidak menguasai diri. Itu bukan sikap yang harus dimiliki oleh seorang Kristen. Jangan mengira karena bergairah lalu boleh makan siang pada pukul 18:00. Kalau Anda adalah orang yang sendirian, sampai pukul 24:00 baru makan siang juga tidak mengapa. Tetapi kalau Anda mempunyai istri, atau ada orang lain sedang menunggu Anda, sebaiknya Anda menuruti waktu yang telah ditentukan. Sopan santun di antara manusia juga tidak boleh dibongkar. Di satu aspek, di hadapan Allah kita harus sekuatnya bergairah; di aspek yang lain, di tengah-tengah orang kita harus sekuatnya memikirkan atau mempedulikan saudara saudari yang lain.

2. Harus tunduk kepada Allah, juga saling tunduk seorang kepada yang lain

(Yak. 4:7; Ef. 5:21)

Surat Yakobus memberi tahu kita bahwa kita harus tunduk kepada Allah. Surat Efesus memberi tahu kita, “Rendahkanlah (tundukkanlah) dirimu seorang kepada yang lain.” Saudara-saudara, apakah kalian tampak di sini membicarakan pula dua aspek, di satu aspek mengatakan harus tunduk kepada Allah, di aspek lain mengatakan harus saling tunduk seorang kepada yang lain. Tunduk adalah masalah perorangan, saling tunduk adalah perkara yang perlu dilakukan di tengah-tengah saudara-saudara. Hari ini di dalam kekristenan ada semacam orang sebagai roti yang tidak pernah dibalik. Terhadap suatu perkara, asal disetujui oleh saudara saudari, meskipun itu adalah ajaran yang salah, bahkan yang bidah, tetap mereka terima. Apa saja yang disetujui oleh suara terbanyak, itu diikuti, sehingga perintah Allah, ajaran Alkitab semua dikesampingkan. Demikian adalah roti yang tidak pernah dibalik. Sekalipun di aspek manusia sudah diatur baik, tetapi jika tidak mempedulikan di aspek Allah, tetap adalah roti yang tidak pernah dibalik. Ada lagi semacam orang, tidak peduli bagaimana pendapat saudara saudari, hanya mempedulikan bagaimana Allah berbicara, lalu melakukannya; seperti saudara tadi hanya mempedulikan bagaimana Allah berbicara, mengira bergairah saja sudah cukup, sedikit pun tidak mempedulikan istrinya, ini juga satu roti yang tidak pernah dibalik.

Ada banyak perkara adalah kehendak Allah, tetapi sering masih dibatasi oleh tangan manusia, saat itu perlu menunggu. Hanya mengetahui kehendak Allah sudah cukup, tetapi kesaksian dari dua atau tiga saudara saudari juga baik. Kalau satu jari bergerak, bisakah mengatakan hanya satu jari yang bergerak, bukankah berarti kita yang bergerak? Bukankah satu anggota tubuh bergerak, anggota tubuh yang lain juga bersama bergerak? Satu anggota tubuh tidak bisa bergerak sendirian, karena meskipun banyak anggota, tetapi tubuh hanya ada satu.

Saya khusus berbicara kepada beberapa sekerja. Karena di China banyak pekerjaan yang baru dimulai, tentunya ada banyak kerawanan yang harus diwaspadai. Kita tidak saja dalam perbuatan harus belajar tunduk, dalam doktrin pun perlu belajar tunduk. Kalau tidak, akan terjadi bergolonggolongan, seperti yang terjadi di denominasi. Misalnya, Anda terlebih dulu mendapatkan sedikit terang, Allah berkata betul, lalu Anda tidak peduli yang lain, langsung memberitakannya. Namun saudara yang bersama dengan Anda tidak melihat sejelas Anda, jadi Anda harus menunggu sampai mereka setuju, baru memberitakannya. Kalau tidak, pasti akan terjadi bergolong-golongan. Anda berkata, Allah yang memberi wahyu kepada Anda. Dia berkata, aku tidak melihat dengan jelas, mungkin itu adalah bidah. Pada saat yang demikian, Anda harus menanti. Alkitab berkata, tunduklah kepada Allah; Alkitab juga berkata, tundukkanlah dirimu seorang kepada yang lain. Ketika pandangan saudara-saudara tidak sama, jangan berdebat, sehingga timbul perpecahan; belajarlah menunggu, berdoa, pelan-pelan mempelajari lagi. Izinkan saya mengucapkan perkataan yang sangat terus terang, tidak ada satu hal yang bisa membantu orang mempunyai kemajuan rohani daripada menunggu. Kalau itu adalah perkara yang sejati, menunggu sejangka waktu lagi tetap masih sejati. Kalau itu salah, haruslah menunggu, untung mau menunggu, baru tidak berbuat kesalahan. Tetapi, selain kita benar-benar menyangkal diri, mau memikul salib, kita tidak akan bisa menunggu. Menunggu dengan lemah lembut, perlu kasih karunia Allah. Kita harus belajar pelajaran ini.

Bagaimanapun kita harus menuruti firman Allah, kehendak Allah, dan perintah Allah. Di antara saudara saudari, ada masalah yang bisa ditunggu; tunggulah. Tetapi kalau terus mempedulikan menunggu sehingga mengesampingkan tunduk kepada Allah, itu adalah roti yang tidak dibalik. Banyak masalah karena banyak orang tidak setuju, lalu tidak tunduk, itu adalah roti yang tidak dibalik. Kalau terhadap suatu hal, dalam kebenaran sudah sangat jelas, dalam pengajaran Alkitab juga sangat jelas, hanya ada halangan daging, demikian tidak perlu menunggu persetujuan orang lain baru tunduk. Saling tunduk ada batasannya, yaitu Anda berniat tunduk, dia juga berniat tunduk, baru perlu menunggu. Kalau saudara tertentu terhadap suatu masalah tidak tampak dengan jelas dan perlu saya menunggu sebentar, saya mau menunggu. Karena saya tahu bahwa dia adalah orang yang tunduk kepada Allah, yang mencari perkenan Allah. Sebab itu saling tunduk baru bisa diadakan di antara orang yang mau tunduk. Kalau dia adalah seorang yang belum pernah tunduk kepada Allah, menunggu seumur hidup juga tidak akan mendapatkan persetujuannya, maka tidak perlu menunggu dia. Kalau tidak, dia adalah roti yang tidak dibalik, dan Anda akan terseret olehnya.

Saudara-saudara, di hadapan Allah kita harus sekuatnya mengeluarkan harga, tunduk kepada-Nya. Bersamaan dengan ini, terhadap saudara saudari, kalau perlu menunggu, harus menunggu. Melakukan pekerjaan seorang diri saja, selamanya bukanlah sikap Allah dalam gereja. Kisah Para Rasul 13:1-3 berkata, “Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, . . . mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.” Orang-orang dalam denominasi akan berkata, inilah pentahbisan, inilah kelas paderi. Tetapi bolehkah pengajar-pengajar mentahbiskan rasul? Pasti tidak. Penumpangan tangan di sini adalah saya berbagian dengan Anda. Pada zaman Perjanjian Lama, orang menumpangkan tangan ke atas kurban persembahan, artinya, ia pergi sama dengan aku yang pergi, ia mati sama dengan aku yang mati. Penumpangan tangan di sini berarti, mereka menyatakan simpati kepada Barnabas dan Paulus. Paulus dan Barnabas mendapatkan kesehatian nabi dan pengajar di Antiokhia baru pergi. Sebab itu di kemudian hari dia baru bisa kembali ke Antiokhia, memberi tahu jemaat segala perkara yang mereka lakukan oleh karunia Allah sesuai dengan amanat yang semula diberikan kepada mereka oleh banyak orang. Ini adalah satu prinsip yang sangat penting. Perlu tunduk kepada Allah, juga perlu tunduk kepada saudara. Tidak saja perlu melihat bagaimana Allah, juga perlu melihat bagaimana saudara-saudara. Tidak saja dalam pekerjaan perlu demikian, dalam sidang juga perlu demikian. Prinsip saling tunduk seorang kepada yang lain, mampu memimpin kita menempuh jalan yang sangat panjang. Kita harus tunduk kepada Allah, kita juga perlu mendapatkan persetujuan dari saudara saudari.

Pada suatu hari, saya hendak pergi memberitakan Injil ke suatu desa. Di sana ada penyamun, pernah terjadi pembunuhan. Beberapa saat sebelum saya berangkat, ada dua saudari tua menganggap saya tidak seharusnya ke sana, lalu membatalkan kapal saya, juga mengembalikan uang sewa rumah saya. Saya pribadi mengetahui Allah menyuruh saya pergi ke sana, tetapi saya juga mengetahui kehendak Allah menyuruh saya taat kepada mereka. Tetapi daging selalu sangat tergesa-gesa, namun kalau Tuhan berbuat demikian, lebih baik saya taat. Kemudian ada saudara lain yang pergi ke sana, dan menyelamatkan banyak orang; meskipun saya tidak ada bagian, tetapi saya juga menerimanya dengan baik. Kita seharusnya tunduk kepada Tuhan, namun kalau tidak tunduk kepada saudara, adalah roti yang tidak pernah dibalik. Haruslah sisi ini dibalik, dan sisi itu juga dibalik; kalau tidak begitu adalah roti yang tidak pernah dibalik.

3. Supaya jangan terjadi perpecahan dalam Tubuh,

tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan

(1 Kor. 12:25)

Ketika kita mempelajari Surat Korintus, kita sudah tampak apa yang disebut Tubuh Kristus. Kita pribadi mungkin mengalami kemajuan, tetapi tidak ada satu kemajuan yang tidak berhubungan dengan Tubuh. Misalnya mulut kita yang makan, itu berarti saya yang makan. Bisakah berkata mulut saya yang makan, bukan saya yang makan? Perkara yang dikerjakan tangan, adalah perkara yang dikerjakan oleh diri saya, jalan yang ditempuh oleh kaki, adalah jalan yang ditempuh oleh saya. Gerakan satu anggota Tubuh, adalah gerakan orang itu. Saya pernah berkata, misalnya saya mengambil sehelai cek untuk mengambil uang di bank, ketika kasir bank memberi uang, saya dengan tangan menerima; bisakah dia berkata, “Aku memberikan uang kepada Anda, tidak bisa memberikan uang kepada tangan Anda?” Coba pikirkan, adakah karyawan yang demikian? Tangan saya menerima uang, berarti saya yang menerima uang, siapa pun mengakui hal ini.

Salah satu kebenaran yang sangat penting dalam Alkitab adalah: Satu anggota Tubuh bertumbuh besar, seluruh tubuh bertumbuh besar. Dua mata melihat berarti diri Anda yang melihat; dua telinga mendengar, berarti diri Anda yang mendengar; mulut Anda berbicara, berarti diri Anda yang berbicara; tangan Anda bekerja, berarti diri Anda yang bekerja. Satu anggota Tubuh bekerja, seluruh Tubuh mendapatkan faedah. Sebab itu, tidak ada seorang pun yang bisa menempuh kehidupan yang menyendiri. Apa yang dilakukan atau dikerjakan oleh satu anggota Tubuh, pasti berhubungan dengan seluruh Tubuh; sebab itu harus saling memperhatikan. Anda tidak bisa menyendiri, menganggap diri Anda tidak berhubungan dengan anggota Tubuh yang lain. Janganlah kegagalan Anda seorang menyebabkan seluruh Tubuh gagal. Mata buta berarti orang itu buta. Tuhan berkata, Anda harus bersaksi; tetapi Anda membisu. Ketahuilah, kemunduran atau kegagalan Anda adalah kemunduran atau kegagalan seluruh Tubuh. Yang makan adalah mulut, tetapi yang mendapatkan nutrisi adalah seluruh diri kita; yang mencium bau adalah hidung, tetapi yang merasakan bau itu adalah seluruh diri kita; yang mendengarkan musik adalah telinga, tetapi yang merasakan kemerduan musik adalah seluruh diri kita. Tubuh ini (Tubuh Kristus), mempunyai satu pandangan universal, juga mempunyai satu pandangan lokal. Kalau dalam satu sidang ada kerugian, berarti gereja yang rugi. Sebagaimana apa yang Anda makan, cium, dan dengar, berhubungan dengan seluruh tubuh, begitu juga baik buruk, maju mundur satu orang Kristen juga berhubungan dengan seluruh gereja.

Kita seharusnya mau seorang diri mengikuti Tuhan, bersamaan dengan itu juga harus mempedulikan maju mundurnya saudara saudari. Ada orang yang terlalu menyendiri, terbiasa seorang diri menerjang, tidak mempedulikan saudara saudari yang lain, ia lupa bahwa dirinya hanya satu anggota Tubuh saja. Biarlah saya berkata dengan terus terang, kita seharusnya seperti seekor burung yang terbang di angkasa, maju seorang diri, tunduk kepada Allah seorang diri; di samping itu kita seharusnya juga dengan sangat lemah lembut menantikan saudara saudari yang lain bersama-sama menempuh jalan yang di depan, bersama-sama tunduk kepada Allah.

Saudara saudari, apakah kalian telah melihat hubungan antara satu anggota Tubuh dengan seluruh Tubuh? Tiga butir yang saya katakan di atas bertujuan supaya kita tampak apa yang disebut kehidupan pribadi, dan apa yang disebut kehidupan bersama. Kita seharusnya memelihara bagian kehidupan pribadi, bersamaan dengan itu juga memperhatikan bagian kehidupan bersama. Di satu pihak mau mengeluarkan harga apa pun supaya Allah mendapatkan sesuatu; di pihak lain juga mau mengeluarkan harga apa pun untuk mendapatkan kesehatian saudara saudari. Anda sekali-kali jangan menganggap bisa memonopoli segalanya akan beres. Karena seluruh tubuh bukan semuanya mata, seluruh tubuh juga bukan semuanya telinga. Kita tidak seharusnya menghapus bagian yang berkaitan dengan Allah, kita juga tidak seharusnya menghapus bagian yang berkaitan dengan manusia. Semoga Allah memberkati kita, supaya kita mengetahui pentingnya kehidupan pribadi, juga mengetahui pentingnya kehidupan bersama. Semoga kita tidak karena kehidupan pribadi menghapus kehidupan bersama, juga tidak karena kehidupan bersama, menghapus kehidupan pribadi. Biarlah kita menjadi roti yang dibalik. Kalau hanya memanggang satu sisi, dan tidak pernah dibalik, itu tidak diperkenan oleh Allah.