Karya Agung Allah
“Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaranpelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, kamu menaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kita semua juga termasuk di antara mereka, ketika kita hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kita yang jahat. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh anugerah kamu diselamatkan — dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan anugerah-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
Efesus 2:1-10
Sebelum saya menguraikan bagian Alkitab ini, saya ingin Anda memperhatikan Efesus 1. Pasal 1 dapat dibagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama membicarakan apa yang diterima orang menurut kekayaan kasih karunia Allah — rasul memberi tahu orang-orang beriman tentang berapa banyak yang mereka terima, yakni Allah dalam Kristus telah mengaruniakan kepada mereka segala berkat rohani di dalam surga (ayat 1-14). Bagian kedua adalah doa rasul Paulus. Meskipun mereka telah menerima, rasul tetap berdoa untuk mereka karena khawatir mereka tidak tahu apa yang telah mereka terima. Dengan demikian mereka akan mengerti kuat kuasa-Nya yang telah membangkitkan Tuhan Yesus dari kematian (ayat 15-23).
Pasal 2 adalah penjelasan tentang kuat kuasa kebangkitan yang ada dalam pasal sebelumnya. Pasal ini menjelaskan secara menyeluruh pertanyaan yang berfokus pada keselamatan. Ayat 1-10 pertama-tama membicarakan keadaan kita sebelum percaya Tuhan; kedua, ayat-ayat tersebut menceritakan apa yang telah disempurnakan oleh Kristus; ketiga, menjelaskan bagaimana kita dapat memperoleh apa yang telah dirampungkan oleh Kristus; dan keempat, membicarakan apa yang seharusnya kita perbuat setelah menerima apa yang telah dirampungkan oleh Kristus. Sekarang kita akan mengamati bagian ini ayat per ayat.
KEADAAN KITA SEBELUM PERCAYA
Ayat 1 mengatakan, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Pasal 1 menyuruh kita memperhatikan betapa hebat kekuatan-Nya dan kuat kuasa-Nya. Pasal 2 diawali dengan memberi tahu kita, orang seperti apakah kita sebelum diselamatkan. Jika kita ingin melihat apa itu keselamatan, dan jika kita ingin bertumbuh secara rohani, yang terpenting bagi kita adalah mengetahui orang seperti apakah kita semula. Alkitab tidak hanya mengatakan bahwa kita adalah orang berdosa yang berbuat dosa dan melakukan kejahatan, juga dikatakan bahwa kita telah mati! Kita selalu berpikir bahwa kita hanyalah orang berdosa dan yang kita butuhkan adalah perbaikan. Namun, kita tidak menyadari bahwa kita adalah orang-orang mati yang tidak dapat diperbaiki.
Apakah yang tidak dimiliki oleh orang mati? Hayat. Kita telah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita. Kita bukan hanya jahat, berbuat dosa, tetapi juga kekurangan hayat. Kematian meliputi dua hal: pertama, tidak memiliki hayat; dan kedua, tidak dapat menghasilkan hayat. Jadi, menurut hakiki kita yang semula, terhadap Allah, kita tidak pernah dapat menjadi serupa dengan Allah. Ada hayat, baru ada kemungkinan pertumbuhan, kekuatan, dan kesatuan organik. Karena kita tidak memiliki hayat Allah, kita mati terhadap kekudusan, kekuatan, dan kemuliaan Allah; kita tidak dapat menjadi kudus, kuat, dan mulia seperti Dia. Hanya sesuatu yang hidup baru dapat hidup; tidak ada sesuatu yang mati dapat hidup. Semula, kita telah mati. Kalau kita tidak menerima hayat, kita tidak mungkin memiliki suatu kehidupan yang kudus.
Allah berkata bahwa kita telah mati. Saya ingin bertanya, apakah kematian kita itu seperti kayu atau batu? Bukan, kayu atau batu yang mati itu akan tetap sama sepanjang waktu. Namun, kematian tubuh kita semakin membusuk dan rusak. Kita semakin lama semakin rusak. Allah tidak ingin kita memperbaiki diri, karena kita telah mati. Kita seharusnya tidak mencoba memperbaiki sesosok mayat. Kita tidak memiliki kekuatan untuk berbuat baik. Kita tidak dapat mengalahkan dunia. Kita tidak dapat melawan godaan-godaan, karena kita telah mati.
Seperti apakah kematian ini? Ini bukan kematian jasmani, bukan kematian biasa. Ini adalah kematian di dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa. Pelanggaran dalam bahasa aslinya berarti sesuatu yang melampaui batas. Misalnya, dalam pertandingan lari, sepanjang lintasan ada garis-garis lurus untuk menentukan batas. Melewati batas garis-garis tersebut akan merupakan pelanggaran aturan permainan, dan akan didiskualifikasi dari pertandingan itu. Melewati batas ini disebut pelanggaran. Dosa-dosa adalah hal yang cemar dan kotor. Pelanggaran tidak seserius dosa-dosa. Seumur hidup kita, kita tempuh di antara kedua hal tersebut — pelanggaran-pelanggaran atau dosa-dosa. Tidak berbuat dosa, tidak mengasihi dunia, dan tidak goyah karena godaan berada di luar kemampuan kita, sebab kita telah mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa.
Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa manusia itu telah mati. “Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup . . . Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup” (Yoh. 5:24-25). Tuhan mengatakan bahwa ketika seorang yang berdosa diselamatkan, dia tidak hanya memperoleh hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, tetapi juga pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Tuhan juga mengatakan kepada kita bahwa orang yang berdosa bukan hanya sebagai orang berdosa, tetapi juga adalah orang yang mati. Inilah sebabnya Dia mengatakan bahwa orang yang mati akan mendengar suara Anak Allah.
Karena seseorang telah mati, dia mutlak tidak memiliki harapan atas kekudusan, kebenaran, kekuatan, dan kemuliaan Allah. Tidak ada kemungkinan bagi dia untuk mencapai hal-hal tersebut. Karena kita tahu bahwa manusia telah mati, maka hal pertama yang harus diatasi adalah kematian. Kita tidak takut akan dosa, tetapi kita takut akan kematian. Para dokter mengetahui bahwa dalam banyak macam makanan terkandung sedikit racun. Tetapi seorang manusia yang hidup secara aktif tidak takut terhadap racun itu. Ia tidak berusaha menghindari racun itu, melainkan berusaha memiliki hidup yang kuat yang dapat memerangi racun itu. Dosa tidak bisa mati, tetapi hayat yang lincah dapat mengalahkan dosa.
Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Dia tidak pernah berbuat dosa. Apakah karena Dia memiliki sebuah keluarga yang istimewa? Atau apakah karena Dia memiliki lingkungan yang sangat baik? Apakah masyarakat pada waktu itu baik sekali? Apakah karena dunia tidak menggoda-Nya? Atau Iblis tidak menguji-Nya? Kita tahu bahwa penyebabnya bukan hal-hal itu. Bukan karena Tuhan tidak mendapatkan kesukaran-kesukaran, tetapi karena Tuhan memiliki hayat Allah; dosa dan kejahatan tidak dapat menyentuh-Nya. Inilah sebabnya kita tidak takut akan dosa, melainkan takut akan kematian. Dosa tidak bisa mati, tetapi kita dapat mengalahkannya dengan hayat.
Efesus 2:2 mengatakan, “Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, kamu menaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.” Ayat 1 membicarakan kematian, dan ayat 2 membicarakan perilaku. Ayat 1 membicarakan keadaan manusia pada mulanya adalah mati, ayat 2 membicarakan apa yang dilakukan oleh manusia.
“Di dalamnya” mengacu kepada pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa dalam ayat 1. Semula, manusia melakukan pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa sebagai suatu jalan untuk ditempuh. Kita harus jelas. Kita telah mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa serta tidak memiliki kekuatan dan hayat; karena itu kita hidup di dalam pelanggaran dan dosa-dosa. Dunia menyuruh kita untuk bertirakat dan memperbaiki diri sendiri. Maka kita berpikir bahwa jika kita lebih banyak berdoa dan membaca Alkitab, kita akan mengalahkan dosa. Tetapi karena kita telah mati, kita hanya bisa hidup dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa.
Alkitab mengatakan bahwa kita memiliki tiga musuh: (1) dunia, (2) Iblis, (3) daging. Dalam ayat ini disebutkan dua musuh yaitu dunia dan Iblis. Ayat berikutnya menyebut daging.
DUNIA
“Mengikuti jalan dunia ini” dapat diterjemahkan “mengikuti zaman dunia ini”. Ini menunjukkan kepada kita bahwa manusia dikendalikan oleh dunia. Bukankah kita senang mengikuti mode? Dosa berbeda dari masa ke masa. Setiap generasi mempunyai dosanya sendiri; demikian pula, setiap periode mempunyai dosa-dosanya sendiri. Ketika kita telah mati dalam pelanggaran dan dosa, kita menyukai mode atau zaman dunia ini.
IBLIS
“Penguasa kerajaan angkasa” adalah Iblis. Bumi adalah untuk manusia, dan angkasa adalah untuk Iblis. Tuhan pernah mengumpamakan Iblis dengan burung-burung di udara. “Penguasa” adalah “roh” yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang (anak-anak) durhaka.” “Orang-orang durhaka” adalah orang-orang dunia. Alkitab menyebut tentang anak-anak terang dan anak-anak Kerajaan Allah. Secara khusus, anak-anak diberi predikat kata-kata sifat tersebut. Mereka adalah “anak-anak terang”, karena mereka melakukan hal-hal dalam terang; “anak-anak Kerajaan Allah”, karena mereka akan mewarisi Kerajaan itu. Jadi, mengatakan “anak-anak durhaka” berarti bahwa keinginankeinginan orang-orang tersebut bertentangan dengan Allah.
Sangatlah mudah untuk berbuat dosa. Seseorang tidak perlu berpuasa selama tiga hari tiga malam untuk berdosa. Dia tidak perlu berusaha keras atau bertekad. Karena ada roh jahat yang bergerak di dalam hati manusia, maka mudah sekali manusia berbuat dosa.
Ayat ini menolong kita untuk menyadari bagaimana diri kita semula “mengikuti jalan dunia ini”, kita mengasihi dunia; dan “mengikuti penguasa angkasa”, kita menaati Iblis.
DAGING
Efesus 2:3 mengatakan, “Sebenarnya dahulu kita semua juga termasuk di antara mereka, ketika kita hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kita yang jahat. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.” Ayat 1 mengatakan, “kamu”; ayat 2 juga mengatakan, “kamu”. Tetapi ketika sampai pada ayat 3 dikatakan, “kita”. Paulus mencakupkan dirinya sendiri. Dia tidak ingin menyesatkan pikiran orang-orang Efesus bahwa hanya orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Efesus yang digambarkan dalam ayat 2 dan 3, dan bahwa Paulus, sebagai seorang rasul, orang Yahudi, dan Farisi, berbeda dengan mereka. Paulus ingin agar yang lain pun melihat bahwa seorang rasul dan orang Yahudi pun pada dasarnya sama seperti orang-orang bukan Yahudi, mati dalam pelanggaranpelanggaran dan dosa-dosa.
Apakah yang kita perbuat di antara mereka? Kita bukan hanya mengasihi dunia dan menaati Iblis, tetapi juga “hidup di dalam nasfu daging”. “Hidup” dalam bahasa aslinya menyiratkan kegiatan. Pada dasarnya, manusia mondar mandir dari pagi hingga malam, itu tidak lain merupakan kegiatan daging.
“Menuruti” sebenarnya berarti “memuaskan”. Menuruti kehendak daging dan pikiran berarti memuaskan kehendak daging dan pikiran. Kehendak daging mengarah kepada hal-hal yang berada di luar, dan kehendak pikiran ada dalam pikiran. Jadi, kita menuruti kehendak daging dan pikiran, berarti kita memuaskan diri kita sendiri secara lahir dan batin.
Saudara saudari, kita harus melihat dengan jelas bahwa nasib akhir kita adalah: “pada dasarnya kita adalah orang-orang (anak-anak) yang harus dimurkai sama seperti mereka yang lain.” Pada dasarnya kita sama seperti mereka yang lain. Karena itu, nasib kita sama seperti mereka yang lain — orang-orang yang harus dimurkai, menantikan hukuman dan murka Allah! Jika hanya ini yang kita miliki, betapa sengsaranya kita! Tetapi puji syukur kepada Allah bahwa ada dua kata setelah ini yang mengubah keadaan: “tetapi Allah”.
KESELAMATAN DI DALAM KRISTUS
Efesus 2:4 mengatakan, “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita.” Oh! Saya telah mati di dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa serta tidak dapat mengalahkan godaan dunia, bujukan, Iblis dan kebobrokan daging. Tetapi Allah mempunyai penyelamatan. Saudara saudari, ingatlah, ayat ini tidak mengatakan, “Tetapi aku,” yang berarti aku harus bertekad, menolak dosa, dan percaya Tuhan secara begini atau begitu. Namun ayat ini mengatakan, “Tetapi Allah”. Puji Tuhan! Ada, “Tetapi Allah!” Allah kaya dengan rahmat! Karena kasih-Nya yang besar yang dilimpahkan-Nya kepada kita, Dia datang untuk menyelamatkan kita.
Ayat 5 mengatakan, “Telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh anugerah (kasih karunia) kamu diselamatkan.” Inilah kasih yang besar yang dilimpahkan-Nya kepada kita. Kristus telah mati dan bangkit kembali tiga hari kemudian. Yang menghidupkan Kristus adalah hayat Allah di dalam Kristus. Bilur-bilur di punggung-Nya, mahkota duri di kepala-Nya, dan luka-luka karena paku di tangan dan kaki-Nya, semua telah disembuhkan; hanya bekas luka-Nya yang masih ada. Adakah dokter yang dapat menyembuhkan luka parah semacam itu dan menyembuhkannya dengan begitu cepat? Tidak ada. Kristus dihidupkan dengan cara ini karena Dia memiliki hayat Allah. Ketika kita mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa, Allah memberi kita hayat dengan cara yang sama seperti hayat Allah yang diberikan kepada Kristus untuk menghidupkan-Nya dari kematian. Jadi, diselamatkan berarti hayat Allah masuk ke dalam seseorang yang mati dan membuatnya hidup.
Saudara saudari, apakah Anda mengira bebas dari dosa-dosa dan kejahatan adalah hal yang sulit? Apakah Anda mengira menyangkal dunia adalah hal yang sulit? Apakah Anda mengira menentang Iblis adalah hal yang sulit? Ada beberapa contoh orang yang dirasuk Iblis. Ketika Tuhan mengatakan kepada murid-murid bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, Petrus mengatakan, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau” (Mat. 16:22). Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku” (ayat 23). Petrus, setelah dirasuk Iblis, mulai memperlihatkan rasa takut akan penderitaan. Yudas mengkhianati Tuhan karena Iblis masuk ke dalam hatinya (Luk. 22:3). Ananias dan Safira menahan sebagian uang karena Iblis menguasai hati mereka — mereka senang dengan nama baik karena persembahan, tetapi mereka tidak bersedia sepenuhnya mempersembahkan diri (Kis. 5:3). Kita menganggap beberapa hal amat sangat sulit hanya karena sebuah alasan: kita telah mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa.
Justru ketika kita seperti itu, Allah menghidupkan kita bersama Kristus! Dengan cara yang sama seperti Allah memberikan hayat ke dalam Kristus dan membuat Kristus hidup, Dia juga sedang memberikan hayat ke dalam kita dan membuat kita hidup. Ketika godaan datang, kita tidak perlu berjuang. Kita harus menyadari bahwa kematian sedang merajalela dan hanya hayat yang dapat mengalahkannya. Misalnya, jika kita ingin marah-marah, kita seharusnya tidak mengatakan kepada diri kita sendiri bagaimana kita harus berusaha untuk mengendalikannya; sebaliknya, kita harus mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan, semoga hayat-Mu memenuhi aku.” Saudara saudari, untuk mengalahkan dosa, kita memerlukan hukum Roh hayat, bukan kebenaran kita sendiri. Kita menempatkan kebenaran melawan dosa dan hayat melawan kematian; tetapi Allah mengalahkan kematian dengan hayat, juga mengalahkan dosa dengan hayat. “Sebab hukum Roh hayat telah memerdakakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” Ada perbedaan antara dosa dengan maut; namun, untuk mengalahkan dosa dan maut, kita hanya membutuhkan hayat.
Efesus 2:6 mengatakan, “Dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga.” Saudara saudari, Kristus telah menebus kita bukan hanya agar kita menerima hayat baru, tetapi juga dibangkitkan. Apakah perbedaan antara menghidupkan dalam ayat 5 dengan membangkitkan dalam ayat 6? Tahukah kita perbedaan itu? Menghidupkan dan membangkitkan tidak berbeda dalam apa yang kita peroleh secara riil; namun secara makna menghidupkan berbeda dengan membangkitkan. Ayat 5 mengatakan Allah menghidupkan kita bersama Kristus. Kita telah mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa, dan Allah memberi kita hayat yang membuat kita hidup. Ayat 6 mengatakan Dia membangkitkan kita bersama Kristus. Allah membuat kita mati bersama Kristus sehingga kita mati terhadap dosa. Karena itu, Allah membangkitkan kita bersama Kristus sehingga kita akan hidup bagi Dia. Alkitab membicarakan dua hubungan kita dengan dosa; kita mati dalam dosa (Ef. 2:1), dan kita telah mati bagi dosa (Rm. 6:2). Mati dalam dosa berarti: di dalam dosa, manusia kita bagaikan telah mati, menyukai apa yang merupakan perbuatan dosa dan kejahatan. Ini bagaikan orang yang menikmati opium; dia mengisap opium sepanjang hari. Seluruh pikirannya dipenuhi dengan opium. Kita mengatakan bahwa orang seperti itu mati dalam opium. Mati bagi dosa berarti telah memutuskan hubungan dengan dosa. Dosa tidak dapat lagi menggoda kita karena kita telah mati. Jika orang yang suka menikmati opium tidak lagi menikmatinya, dia seperti orang yang mati bagi opium; opium tidak dapat menggodanya lagi. Mereka yang telah mati dalam dosa-dosa perlu dihidupkan bersama Kristus; mereka yang telah mati bagi dosa perlu dibangkitkan bersama Kristus.
Puji syukur kepada Allah! Kita telah memperoleh semua hal tersebut. Kita telah dihidupkan bersama Kristus, dan kita telah dibangkitkan bersama Kristus. Allah telah menghidupkan dan membangkitkan kita bersama Kristus. Bukan hanya itu, Dia juga telah memberikan tempat bersama Kristus di surga.
Efesus 2:1-3 mengatakan bahwa kita berada dalam tiga macam keadaan ketika kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa: (1) mengikuti jalan dunia ini, (2) mengikuti penguasa kerajaan angkasa, dan (3) di dalam hawa nafsu daging. Allah telah menyelamatkan kita supaya kita di dalam Kristus Yesus mengalahkan Iblis, supaya kita mendapatkan hayat kebangkitan untuk menaklukkan daging, supaya kita duduk di surga untuk mengalahkan dunia. Keselamatan Allah membuat kita sanggup mengalahkan ketiga musuh tersebut: daging, Iblis, dan dunia. Ketika kita duduk di surga, kita berada dalam kemenangan yang sempurna.
Kita telah dihidupkan, dibangkitkan, dan didudukkan bersama Kristus di surga. Saya ingin Anda memperhatikan butir yang paling penting: Anda telah dihidupkan bersama Kristus, Anda telah dibangkitkan bersama Kristus, dan Anda telah didudukkan bersama Kristus di surga. Seseorang mungkin mengatakan kepada Anda bahwa Anda seharusnya dibangkitkan bersama Kristus. Tetapi ketahuilah: Anda telah dibangkitkan bersama Kristus. Seseorang mungkin mendorong Anda untuk mencari hidup yang naik (ke surga), tetapi ketahuilah; Anda telah didudukkan di surga. Ketika Kristus dibangkitkan, kita juga dibangkitkan bersama-Nya. Ketika Kristus didudukkan di surga, kita didudukkan bersama-Nya di surga. Syukur kepada Allah, karena kita bersama-sama telah memperoleh semua hal tersebut!
Jika sore ini Anda tergoda untuk marah, Anda mungkin mengira bahwa kemenangan atas godaan bukanlah melalui perjuangan tetapi melalui hayat, dan dengan berpikir demikian Anda mungkin berdoa kepada Allah, “Ya Allah, hidupkanlah aku, bangkitkanlah aku, dan dudukkanlah aku di surga.” Apakah benar jika Anda berbuat demikian? Jika Anda berbuat demikian, ketahuilah, Anda sama sekali belum mengerti tentang keselamatan Allah.
Apakah keselamatan? Keselamatan adalah yang Allah rampungkan bagi kita. Allah telah menghidupkan kita bersama Kristus, membangkitkan kita, dan mendudukkan kita bersama-Nya di surga. Saya tidak perlu meminta Allah menghidupkan saya, membangkitkan saya, atau mendudukkan saya di surga. Dia telah melakukan hal-hal ini. Inilah iman. Iman adalah percaya bahwa apa yang telah dilakukan Allah adalah benar. Tidak percaya adalah menganggap bahwa Anda harus melakukan sesuatu. Sugesti adalah membayangkan hal-hal yang tidak ada seolah-olah menjadi ada; tetapi iman adalah melihat hal-hal yang tidak kelihatan. Walau kita tidak melihatnya, itu tidak berarti hal-hal itu tidak ada.
Karena itu, dalam Kristus kita telah dihidupkan, telah dibangkitkan, dan telah didudukkan di surga. Ketika godaan datang, kita seharusnya berkata dengan berani, “Godaan tidak dapat menyentuhku, karena aku telah dibangkitkan.” Ketika dunia datang, kita seharusnya berkata dengan berani, “Aku telah naik ke surga.” Inilah keselamatan. Ini bukan perjuangan. Agar orang-orang Efesus tidak salah paham, setelah kata-kata, “telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita,” Paulus segera melanjutkan dengan penjelasan: “oleh anugerah (kasih karunia) kamu diselamatkan.” Dalam ayat 8 dengan khusus dikatakan lagi, “Karena anugerah kamu diselamatkan.” Apakah artinya ini? Dengan alasan apakah dia mengatakan hal ini? Ada satu alasan yang bagus. Paulus khawatir kita mengira hidup itu sangat sulit. Kita mungkin tidak mengetahui bagaimana kita dapat hidup dan bagaimana kita mendapatkan hayat ini. Dia mengatakan bahwa hal-hal ini adalah pekerjaan Allah. Ini melalui kasih karunia — bukan karena aku ingin dihidupkan, tetapi Allah yang menghidupkan aku; bukan aku ingin dibangkitkan, tetapi Allah yang membangkitkan aku; bukan aku ingin duduk di surga, tetapi Allah telah mendudukkan aku di surga. Semua yang Allah sediakan bagi kita adalah karena kasih karunia. Setengah yang pertama adalah pekerjaan Allah; setengah yang kedua hanya membutuhkan percayanya kita. Percaya bukan menggunakan perasaan; jika menggunakan perasaan, pasti gagal. Hari ini kita harus mengingat hal ini dengan baik bahwa keselamatan paling sedikit mencakup tiga bagian ini: (1) dihidupkan bersama Kristus, (2) dibangkitkan bersama Kristus, dan (3) didudukkan bersama Kristus di surga.
Ayat 7 mengatakan, “Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan anugerah-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.” Ayat ini menyatakan tujuan keselamatan-Nya. Apakah kebaikan Allah terhadap kita? Ini disebutkan sebelumnya, yaitu ketika kita mati dalam dosa, Allah menghidupkan kita bersama Kristus, membangkitkan kita bersama Kristus, dan mendudukkan kita bersama Kristus di surga. “Masa yang akan datang” adalah zaman-zaman yang akan datang; ini untuk suatu peragaan terhadap para malaikat. Karena kapan ada orang yang telah mati dan hidup kembali? Tetapi kebaikan Allah terhadap kita melalui Kristus telah membuat orang yang mati menjadi hidup kembali.
SYARAT KESELAMATAN
Ayat 8 mengatakan, “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Diselamatkan adalah pengalaman atas Efesus 2:5-6. Berdasarkan apa keselamatan datang? Berdasarkan anugerah. Roma 11:6 mengatakan, “Jika hal itu terjadi berdasarkan anugerah, maka bukan lagi berdasarkan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka anugerah itu bukan lagi anugerah.” Di sini memberi tahu kita apa anugerah itu. Anugerah berarti Anda tidak perlu berbuat apa pun. Kalau tidak, anugerah karunia bukan lagi anugerah.
Anugerah dapat menyelamatkan kita dari godaan-godaan dunia, bujukan Iblis, dan hawa nafsu daging. Semuanya adalah pekerjaan Allah. Pondasi pekerjaan Allah adalah kasih karunia Allah, tetapi juga “oleh iman”. Saluran anugerah ini adalah iman. Misalnya, kabel listrik adalah untuk transmisi listrik. Anugerah seperti listrik, dan iman seperti kabel listrik. “Karena anugerah” menunjukkan bahwa ini adalah pekerjaan Allah. “Oleh iman” menunjukkan bahwa iman adalah saluran yang melaluinya anugerah teralir.
Terhadap apa kita harus beriman? Puji syukur kepada Allah! Dia telah menghidupkan kita bersama Kristus, Dia telah membangkitkan kita bersama Kristus, dan Dia telah mendudukkan kita bersama Kristus di surga. Ini bukan khayalan psikologis. Ini bukan sesuatu yang kita katakan dengan mulut saja. Ini adalah suatu pembicaraan karena iman terhadap apa yang telah dirampungkan Allah dalam Kristus. Jangan mengizinkan Iblis sesaat pun mengatakan kepada Anda bahwa Anda belum dihidupkan. Anda harus mengatakan, “Aku telah dihidupkan.” Jangan biarkan dunia mengatakan kepada Anda bahwa Anda belum naik ke surga. Anda harus mengatakan, “Aku sudah duduk di surga.” Saudara saudari, dulu bagaimana cara Anda diselamatkan, demikian juga pada hari ini, Anda yang sangat lemah dan tidak sanggup, dijamin oleh Firman Allah bahwa Anda telah disalibkan, dibangkitkan, dan didudukkan di surga. Jika Anda percaya kepada apa yang telah Allah kerjakan, segala sesuatu akan beres.
Namun, ada satu masalah, yaitu masalah iman. Misalnya, saya ingin bertanya apakah Anda percaya bahwa Anda telah dihidupkan, telah dibangkitkan, dan telah naik ke surga? Anda mungkin mengatakan percaya. Tetapi pada sore hari, ketika godaan datang, jika Anda hanya mengatakan dengan mulut, “Aku telah dihidupkan, aku telah dibangkitkan, aku telah naik ke surga,” ini tidak akan manjur sama sekali. Anda akan menjadi tidak berdaya. Seolah-olah semua iman telah hilang. Apa yang seharusnya Anda lakukan? Terima kasih kepada Allah! Walaupun Anda tidak dapat percaya, anugerah-Nya dapat bekerja sedemikian rupa sehingga Anda dapat percaya; karena “Itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Bukan hanya keselamatan yang bukan usaha kita sendiri, bahkan “iman” ini juga bukan hasil usaha kita sendiri; ini adalah pemberian Allah. Ada dasar Alkitabnya mengatakan bahwa Allah memberi iman kepada kita. Dua Korintus 4:13 mengatakan, “Namun karena kami memiliki (mendapatkan) roh iman yang sama.” Filipi 1:29 mengatakan, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa kita dapat percaya karena menerima karunia untuk percaya.
Apakah ini berarti bahwa Allah percaya bagi kita? Bukan. Lalu bagaimana kita dapat percaya? Inilah Allah yang mengasihi dan bekerja di dalam kita sehingga kita dapat percaya. Allah mengubah sifat dasar kita, dan Allah memberi kita suatu wahyu yang jelas sehingga kita dapat percaya. Setidaknya kita seharusnya memiliki iman yang memohon Allah membuat kita percaya.
Efesus 2:9 mengatakan, “Itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri.” Kita tidak dapat melakukan kebaikan sedikit pun. Ini semua karena anugerah. Kita tidak dapat memegahkan diri. Saudara saudari, masalah kita yang terburuk adalah kita semua ingin mencoba. Kita semua berharap dapat melakukan dengan baik. Kita harus percaya kepada apa yang telah dirampungkan oleh Kristus, bahwa kita terpisah dari dunia dan bahwa kita memiliki suatu kehidupan yang terpisah. Keselamatan bukanlah hasil pekerjaan kita. Jika seseorang bergantung kepada pekerjaan bahkan sekecil apa pun, dia pasti akan gagal karena posisinya salah. Ingatlah bahwa Anda telah mati, dan bahwa Anda tidak mampu merampungkan kebenaran dan kekudusan Allah. Anda harus beriman kepada apa yang telah dirampungkan Allah. Anda seharusnya juga mengetahui bahwa “iman” ini bahkan diberikan kepada Anda oleh Allah.
TUJUAN KESELAMATAN
Ayat 10 mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Dalam alamiah kita terdapat satu kesalahan besar, satu kesalahan yang membencikan. Semula kita mengira bahwa keselamatan adalah hasil pekerjaan; sekarang kita berpikir bahwa karena keselamatan adalah oleh anugerah, maka kita tidak perlu memperhatikan apa-apa lagi. Seolah-olah kita bahkan tidak perlu berdoa. Yang harus kita lakukan hanyalah tidur dan membiarkan Kristus meraih kemenangan bagi kita. Akibatnya, kita dengan mudah menjadi orang yang malas. Kesalahan sebelumnya adalah menganggap pembenaran dan pengudusan sebagai suatu pekerjaan; kesalahan sesudahnya adalah mengira bahwa begitu kita diselamatkan kita tidak perlu melakukan apa pun. Tetapi Paulus mengatakan bahwa Allah telah menyelamatkan kita untuk melakukan pekerjaan baik, yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya, supaya kita hidup di dalamnya.
Istilah “buatan” (karya agung), menurut bahasa aslinya, digunakan dua kali dalam Perjanjian Baru. Ini berarti yang terbaik dalam seumur hidup. Misalnya, di antara lukisanlukisan dari seorang pelukis, satu yang terbaik dalam hidupnya merupakan karya agungnya. Frase “kita adalah buatan (karya agung) Allah” menunjukkan bahwa kita adalah karya-Nya yang terbaik; tidak dapat menjadi lebih baik. Allah telah menghidupkan kita, membangkitkan kita, dan mendudukkan kita bersama Kristus.
Di manakah Allah menciptakan karya agung ini? Di dalam Kristus Yesus. Ini menunjukkan kepada kita bahwa ketika Tuhan dihidupkan, Allah meletakkan kita di dalam Dia. Ketika Tuhan bangkit dan naik ke surga, Allah juga meletakkan kita di dalam Dia. “Diciptakan” di sini sama seperti “ciptaan baru” dalam 2 Korintus 5:17.
Manusia mengatakan, “Jika aku melakukan perbuatan baik, aku akan memperoleh keselamatan.” Tetapi Allah mengatakan, “Karena kamu telah memperoleh keselamatan, kamu harus berbuat baik.” Melakukan pekerjaan-pekerjaan baik muncul setelah memperoleh kebangkitan dan naik ke surga; Anda melakukan pekerjaan-pekerjaan baik karena Anda telah menjadi karya agung Allah. Anda harus melakukan pekerjaan-pekerjaan baik, berdoa, membaca Alkitab, dan bersaksi kepada orang lain. Namun, jika Anda mengira hidup Anda akan lebih baik dengan melakukan hal-hal tersebut, Anda keliru. Sebaliknya, mengakui bahwa Anda telah memiliki hayat yang baik, karena itu Anda melakukan yang baik. Seseorang harus lebih dulu percaya bahwa dia dikuduskan, baru dia harus melakukan yang baik. Beberapa orang jatuh ke dalam bahaya mengucapkan perkataan, “Kristus telah melakukan segala sesuatu. Karena itu, aku tidak perlu melakukan apa pun.” Ini salah. Sebaliknya, kita seharusnya mengatakan, “Karena Kristus telah melakukannya, aku pun seharusnya melakukannya.” Paulus mengatakan, “Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku” (Kol. 1:29). Paulus berusaha keras dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat di dalam dirinya. Semakin ada pekerjaan yang di dalam, akan semakin ada usaha yang keras di luar. Pikiran Allah lebih tinggi daripada pikiran kita. Kita tidak boleh menyimpang ke pihak mana pun — tidak dapat bersandarkan kelakuan untuk beroleh selamat, dan juga tidak dapat tidak melakukan apa pun hanya disebabkan kita diselamatkan karena anugerah.
Efesus 2:10 mengatakan, “Yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya.” “Hidup” di sini bertolak belakang dengan “kamu hidup di dalamnya” dalam ayat 2. Karena kita telah mati, kita hidup mengikuti orang-orang mati; karena kita hidup, kita hidup mengikuti orang-orang yang hidup. Terlebih dulu kita mati, kemudian kita berbuat dosa; terlebih dulu kita dihidupkan, kemudian kita melakukan. Anda seharusnya mengatakan dengan tegas, “Aku sanggup melakukan, karena aku telah dihidupkan.” Sudahkah Anda percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat? Jika Anda percaya, Anda telah pindah dari dalam maut ke dalam kehidupan. Sekarang Anda dapat melakukan.
Saudara saudari, kita harus percaya bahwa kita telah beroleh keselamatan dan bahwa kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Semoga Allah memberkati kita dan Firman-Nya, sehingga kita boleh hidup di dalam apa yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Kita seharusnya berdoa dengan lebih tekun, membaca Alkitab dengan lebih rajin, dan mempersembahkan diri kita sendiri dengan lebih sungguh-sungguh. Semoga Allah memberkati kita, sehingga kita boleh siap dan hidup untuk perampungan kehendak-Nya.