Kebenaran yang Beraspek Dua
“Saudara-saudaraku yang terkasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada kurban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.”
Filipi 2:12-18
Kita tahu bahwa Surat Filipi ditulis oleh Paulus di penjara. Di penjara, Paulus tidak hanya menulis Surat Filipi, juga menulis Surat Efesus dan Surat Kolose. Ketiga Surat Kiriman yang ia tulis memiliki titik beratnya masing-masing. Surat Efesus membicarakan gereja adalah Tubuh Kristus. Surat Kolose membicarakan bagaimana Kristus di dalam gereja. Surat Filipi tidak membicarakan kebenaran yang dalam seperti Surat Efesus dan Surat Kolose, tetapi menitikberatkan satu perkara, yaitu secara garis besar menghendaki mereka tidak berselisih. Filipi 4:2 mengatakan, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” Karena dua saudari yang menjadi pekerja ini tidak rukun, maka Paulus secara khusus menganjuri mereka.
Surat Filipi khusus membicarakan hal rendah hati, rukun, saling mengasihi. Boleh dikatakan Surat Filipi adalah penjelasan dari 1 Korintus 13:1. Paulus menganjuri orang-orang Filipi, supaya dengan rendah hati seorang menganggap yang lain lebih utama daripada diri sendiri; janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Kemudian membicarakan bagaimana Tuhan mengosongkan diri-Nya sendiri; bagaimana mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia; bagaimana merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di atas salib. Paulus memberi tahu mereka bahwa inilah pikiran yang terdapat dalam Kristus; sebab itu ia menasihati mereka agar menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus. Tetapi segera terjadi satu kesulitan, meskipun mereka berniat demikian, namun tidak bisa melakukannya; mendengar bukan berarti melakukan. Rasul Paulus membicarakan bagaimana Tuhan merendahkan hati, sengaja merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, ini adalah satu hal yang sangat tinggi. Mungkin dua saudari itu berpikir, apakah mereka dapat melakukan perkara yang setinggi ini? Lalu Paulus memberi tahu mereka bagaimana bisa melakukannya, inilah yang dibicarakan dalam ayat 12-18.
Ayat 12 mengatakan, “Saudara-saudaraku yang terkasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir.” “Saudara-saudaraku” adalah sebutan yang sering dipakai Paulus ketika ingin membicarakan suatu perkataan yang sangat penting. Kalau dia menyebut demikian, perkataan selanjutnya pasti merupakan perkara yang penting. “Kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir.” Apa maksud perkataan ini? Maksud Paulus: Dulu ketika aku memberitakan Injil di antara kamu, kamu senantiasa taat kepadaku. Sekarang ada masalah, kamu harus lebih taat kepadaku. Bukan saja ketika aku memberitakan Injil di antara kamu, tidak saja ketika ada aku sebagai teladan di antara kamu, tidak saja ketika kamu berkontak dengan aku, sekarang pun masih perlu taat kepadaku. Sebab itu dalam perkataan ini meliputi tiga hal: Pertama, ketika aku hadir di antara kamu, kamu taat kepadaku; karena aku berkontak dengan kamu. Kedua, sekarang aku tidak hadir di antara kamu, kamu harus lebih taat kepadaku; karena aku tidak hadir, maka aku semakin sungguh-sungguh menyerahkan kamu kepada Allah. Ketiga, sekarang masih ada satu perkara lagi yang harus kamu taati, yaitu mengerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.
Kita harus membaca berkali-kali kalimat “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”. “Takut” boleh diterjemahkan menjadi “takwa”. Takwa adalah terhadap Allah; takut adalah terhadap diri sendiri. Di satu pihak terhadap Allah harus takwa, di pihak lain terhadap diri sendiri harus takut. Pencobaan begitu hebat, sebab itu harus gentar; Allah begitu besar, sebab itu harus takwa. Tetapi bagaimana mengerjakan keselamatan ini? Kita bersyukur kepada Allah! Allah mempunyai jalan untuk mengerjakannya.
Alkitab membagi hal keselamatan menjadi tiga masa. Pertama, masa yang lampau, Allah menyelamatkan kita terlepas dari hukuman neraka. Kedua, masa sekarang, Allah menyelamatkan kita terlepas dari kekuatan dosa. Ketiga, masa yang akan datang, Allah membuat kita masuk ke dalam kerajaan menjadi raja bersama Kristus. Saya dapat mengambil beberapa contoh:
Dua Timotius 1:9: “Dialah yang menyelamatkan kita . . .” Ini adalah keselamatan pada masa yang lampau, yang didapat oleh setiap orang yang percaya Tuhan.
Ibrani 7:25: “Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah . . .”Ini adalah keselamatan pada masa kini, yang diperoleh pada hari ini.
Ibrani 9:28: “Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya untuk kedua kalinya bukan untuk menanggung dosa, tetapi untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia.” Ini adalah keselamatan pada masa yang akan datang.
Alkitab menjelaskan ada tiga macam penyelamatan, yang lampau, yang sekarang, dan yang akan datang. Ada orang Kristen yang bisa memperoleh keselamatan yang lampau, tetapi belum tentu memperoleh keselamatan yang sekarang dan yang akan datang. Ada orang Kristen sudah memperoleh keselamatan yang lampau, juga memperoleh keselamatan yang sekarang, dan akan memperoleh keselamatan yang akan datang. Mungkin ada orang yang telah terlepas dari hukuman neraka, tetapi setiap hari masih berdosa. Orang yang telah terlepas dari hukuman neraka, belum tentu kelak akan menjadi raja. Saya akan mengambil tiga ayat Alkitab untuk membuktikan tiga masa keselamatan ini.
Efesus 2:8, “Sebab karena anugerah (kasih karunia) kamu diselamatkan oleh iman.” Ini adalah keselamatan masa yang lampau.
Roma 5:10, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya.” Ini membicarakan keselamatan yang kita dapatkan pada hari ini melalui hayat Tuhan.
Roma 8:24, “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan.” Ini adalah keselamatan masa yang akan datang.
Kita bersyukur kepada Allah bahwa kita telah beroleh selamat! Tetapi masih ada dua keselamatan yang belum rampung, sebab itu kita harus menuntutnya. Ada orang mengira dirinya belum beroleh selamat. Kita memberi tahu dia bahwa begitu seseorang percaya kepada Tuhan, ia pasti mendapatkan keselamatan; itu mengacu kepada terlepas dari hukuman neraka. Kita sudah diselamatkan, tetapi masih perlu terlepas dari kekuatan dosa, masih perlu menuntut kemuliaan kerajaan yang akan datang. Sebab itu, kita harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar.
D.L. Moody adalah seorang penginjil yang hebat, pandaisekali menyelamatkan orang. Tetapi ia berkata, “Dalam seumur hidupku, tidak pernah melihat orang yang malas yang bisa beroleh selamat!” Jika demikian, orang yang ingin terlepas dari hukuman neraka, kalau ia malas, ia tidak bisa mendapatkannya. “Itulah sebabnya dikatakan, ‘Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu’” (Ef. 5:14).
Beberapa minggu yang lalu saya banyak mengatakan bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau kita melakukannya, malah menderita. Asal kita mau takluk, mau percaya, semuanya dikerjakan Kristus bagi kita. Tetapi setelah mendengarkan yang setengah ini, masih ada setengah lagi — mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, yang menjadi tanggung jawab kita. Kalau kita tidak melakukan keselamatan ini, berarti menyimpang. Memang Kristus sudah mati bagi kita, sudah berdarah bagi kita, sudah bangkit dan naik surga bagi kita. Lalu ada sebagian orang mengira, kalau begitu cukup menyembah saja, kemudian menjadi sangat pasif, merasa tidak perlu berdoa, tidak perlu membaca Alkitab, juga tidak perlu mempersembahkan diri. Tetapi kita harus tahu, karena Allah sudah mengerjakan semuanya, maka aku harus lebih gairah; karena Allah sudah mengerjakan semuanya, maka aku harus mengerjakan keselamatanku. Bagaimana cara mengerjakan keselamatan kita? Ayat selanjutnya memberi tahu kita tentang hal ini.
Ayat 13, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:12 dan 13 boleh dikatakan adalah dua aspek kebenaran yang sangat mulia, yang mencakup semuanya. Kalau melihat ayat yang di atas, kita mengira semuanya harus kita kerjakan sendiri; kalau melihat ayat yang di bawah, semuanya dikerjakan oleh Allah. Di satu aspek kita yang harus mengerjakannya, di aspek lain Allah yang akan mengerjakannya. Ini bukan berlawanan, tetapi selaras. Ayat 12 mengatakan kita harus mengerjakannya; ayat 13 mengatakan Allah bekerja supaya kita dapat melakukan apa yang seharusnya kita kerjakan.
Dua ayat Alkitab ini menjelaskan dua aspek kebenaran yang sangat penting dalam Alkitab. Kita tampak dalam Alkitab, di satu pihak ada banyak perintah Allah yang serius; Allah memerintahkan kita berbuat ini, berbuat itu, sepertinya Allah menaruh satu beban yang sulit untuk kita pikul. Kita tidak mampu memikul, mengangkat kaki saja terasa sulit, seperti tertindih sampai tak berkutik sama sekali. Di pihak lain, ada banyak janji Allah, yang menjanjikan ini dikerjakan oleh Allah, itu dikerjakan oleh Allah, semuanya adalah anugerah Allah, semuanya adalah pekerjaan Allah, sepertinya kita tidak perlu melakukan apa-apa. Ada orang karena tidak mengerti dua aspek kebenaran ini, ia menjadi berat sebelah. Ada orang mengira semuanya berhubungan dengan perintah Allah, harus dilakukan oleh dirinya sendiri, lalu melihat perintah Allah sebagai beban yang berat, mau dipikul tidak kuat, tidak dipikul merasa berat, sehingga seperti tertindih sampai tidak bisa berkutik sama sekali. Ada orang lain lagi, mengira semuanya adalah anugerah Allah, semuanya adalah pekerjaan Allah, semuanya dikerjakan oleh Allah, manusia sama sekali tidak perlu menanggung apa-apa, lalu menjadi kendor. Orang yang berat sebelah, tak peduli berat sebelah ke aspek yang mana, menghadapi satu bahaya, yaitu mereka tidak bisa melaksanakan perintah Alkitab, juga tidak bisa mendapatkan janji Alkitab. Kebenaran Allah mementingkan keduanya. Allah bekerja di batin kita, kita bekerja di lahir — mengerjakan apa yang telah Allah kerjakan di batin kita. Kalau hanya Allah yang bekerja di batin kita, tetapi kita tidak mengerjakan di lahir, maka kita tidak mendapatkan apa-apa. Kalau kita sendiri yang mengerjakan di lahir tanpa Allah mengerjakan di batin, kita juga tidak akan mendapatkan apa-apa.
Semua perkara dalam kehidupan menusia, tercakup dalam perkataan “tekad dan bekerja”. Tekad adalah ketetapan di batin; bekerja adalah tindakan di lahir. Yang sudah ditentukan di batin, dikerjakan di lahir, inilah yang dimaksud “tekad dan bekerja”. Tekad mengacu kepada keadaan hati kita; bekerja mengacu kepada kehidupan di lahir kita. Tetapi tekad di batin kita dan bekerja di luar kita, semuanya adalah operasi (pergerakan) Allah di dalam kita, sampai kita mengerjakan perkenan-Nya. Semua tekad bersandarkan operasi Allah; semua pekerjaan kita juga bersandarkan operasi Allah.
Sering kali kita ingin taat kepada Allah, tetapi tidak bisa; namun Allah berkata, “Aku beroperasi di dalammu, sebab itu kamu bisa taat, dan bisa melakukannya.” Banyak orang Kristen yang sangat menderita, merasa tidak mampu melakukan banyak hal yang diperintahkan Allah. Sering kali mereka berkata kepada Allah, “Sungguh sulit taat kepada-Mu, aku tidak sanggup melakukannya. Aku ingin tidak mengasihi dunia, tetapi tidak bisa tidak mengasihi dunia; aku seharusnya tidak membenci orang, tetapi tidak mampu tidak membenci orang.” Sebenarnya Allah tidak menyuruh Anda menderita, Dia akan beroperasi di dalam Anda, sampai Anda bisa melakukannya. Sebab itu, berkatalah kepada Allah, “Meskipun aku tidak bisa taat, tidak bisa tidak mengasihi dunia, tidak bisa mengasihi orang lain, tetapi aku mohon Engkau bekerja di dalamku, sampai aku bisa taat, bisa membuang dunia, bisa tidak membenci orang lain.” Kalau Anda bisa percaya, setelah berdoa demikian, Anda pasti akan mengalami pengubahan. Apa yang selama tiga atau empat tahun ini tidak bisa Anda kalahkan, begitu Anda pasrah kepada Tuhan, begitu percaya, pasti bisa Anda kalahkan.
Tuan Chapman, ketika mulai bekerja bagi Tuhan, jumlah orang yang mendengarkan khotbahnya makin lama makin banyak; gedung kebaktian juga dibangun lebih besar. Setelah mendengar kabar tentang dirinya, Tuan Moody khusus naik kereta api datang mendengarkan khotbah di balai sidangnya. Tuan Moody memasuki balai sidang, dengan tenang duduk mendengarkan khotbahnya. Selesai sidang, Tuan Chapman melihat Moody datang, segera turun dari mimbar menyambut Tuan Moody, meminta Moody memberi komentar tentang dirinya. Tuan Moody berkata, “Saudara! Yang Anda kerjakan adalah satu kegagalan, bukan kesuksesan, dalam hayat Anda ada yang kurang beres.” Mendengarkan perkataan ini, Chapman tidak senang. Ia berpikir, “Moody, Anda tidak seharusnya mengkritik dengan cara demikian, Anda tidak mempunyai hak untuk berkata demikian.” Bagaimanapun Moody sudah berkata, dan ia sendiri tahu bahwa ada sesuatu yang kurang beres. Ketika ia sadar bahwa dirinya terlalu mengasihi istri dan anak-anaknya, selama dua tiga minggu lamanya ia merasa tidak enak! Akhirnya ia berkata kepada Allah, “Ya Allah! Aku sungguh tidak bisa tidak mengasihi istri dan anak-anakku. Tetapi aku mohon Engkau bekerja sampai aku bisa mengatasinya.” Sejak hari ini, ia baru mengetahui harus bagaimana mengasihi istri dan anak-anaknya. Setelah hari itu, ia bekerja dengan penuh kuat kuasa. Ada orang memintanya bersaksi mengapa bisa demikian, ia berkata, “Kalau diriku bisa memberitakan Injil, bisa berkhotbah, atau ada sedikit kebaikan, aku tahu, semuanya berasal dari ketaatanku pada waktu itu.”
Allah akan bekerja sampai kita bisa melakukannya. Abraham menyuruh hamba tuanya pergi meminang Ribka bagi Ishak. Tentu perlu hamba tuanya itu sekuat tenaganya
mengantar Ribka ke Kanaan. Tetapi unta yang diperlukan dalam perjalanan sudah disediakan oleh Abraham. Orang yang turun ke Yerikho yang dipukuli oleh perampok, dinaikkan ke atas keledai tunggangnya sendiri oleh orang Samaria itu, dan dibawa ke tempat penginapan. Kita mau berjalan, tetapi tidak kuat, karena kita sudah terluka oleh dosa, kita sendiri selamanya tidak ada kekuatan berjalan. Tetapi Allah bekerja di dalam kita, supaya kita benar-benar bisa bertekad, bekerja, dan bisa melakukannya. Apa saja yang bisa merampungkan kehendak atau perkenan Allah yang baik, semuanya merupakan operasi Allah di dalam kita, supaya kita bertekad dan bekerja menggenapkannya. Kalau kita bisa mengingat hal ini dengan baik, sudahlah cukup.
D.M Panton dari Inggris pernah berkata, “Karena Allahtinggal di dalam kita, maka apa saja yang dapat Allah lakukan, juga bisa kita lakukan.” Ada seorang perempuan telah meninggal dunia. Pada kuburannya terpampang sebuah papan yang menulis tentang dirinya, “Dia telah melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan!”
Setiap hari kita selalu menempuh kehidupan yang kelihatannya tidak bisa dilewati. Jika kita ingin memperoleh keselamatan yang sempurna, jika kita ingin supaya hayat kita bersih dan sempurna, itu harus dilakukan oleh Allah sendiri. Banyak orang ingin meniru Kristus, tetapi selamanya tidak akan sukses. Hanya setelah Allah yang mengerjakannya, barulah kita bisa melakukannya. Setiap hari harus memegang teguh bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita. Bukan saya yang melakukan, tetapi Allah yang melakukan, barulah saya bisa melakukannya. Kalau kita tampak yang diperintahkan oleh Alkitab untuk kita lakukan begitu tinggi, lalu kita mencoba melakukannya, kita pasti gagal. Kita cukup hanya mohon Allah bekerja sampai kita mau melakukannya.
D.M Panton menceritakan satu kisah: Seorang dokterberpesan kepada seorang perawat untuk menyuruh pasiennya melakukan sesuatu. Sesuai perkataan dokter, si perawat menyuruh pasiennya melakukan hal itu; tetapi pasien itu berkata, “Aku tidak bisa melakukannya.” Perawat itu memberi tahu dokter bahwa pasien itu tidak mau melakukannya. Dokter itu memeriksa ulang pasien itu, ingin tahu mengapa ia tidak mau melakukannya. Setelah memeriksa, dokter itu berkata, “Pasien ini bukan tidak bisa, juga bukan tidak mau, tetapi tidak bisa mau.” Kesulitan kita adalah di dalam tidak mau, di lahir tidak bisa. Di dalam tidak mau membuang dunia, di lahir tidak bisa membuang dunia. Tetapi Allah bisa beroperasi di dalam kita, sampai kita betul-betul mau, betulbetul mau bekerja menurut perkenan Allah, dan bisa mengerjakannya.
Karena Allah telah menggarap masuk, maka kita harus menggarap keluar; karena Allah sudah beroperasi di batin, maka kita harus melakukan di lahir. Hari ini yang sangat perlu kita perhatikan adalah bagaimana bisa melaksanakannya. Bukan menunggu, bukan berdoa, tetapi sekarang juga melakukannya. Setiap orang yang percaya Tuhan, sudah memiliki Kristus tinggal di dalamnya. “Apakah kamu tidak yakin akan dirimu bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu?” (2 Kor. 13:5).
Kesalahan pada umumnya meliputi dua hal: pertama, mengira harus berbuat baik, berharap bisa berbuat baik, berharap mendapatkan satu hayat yang rohani. Kedua, mengira sudah beroleh selamat, sebab itu tidak perlu menggerakkan satu jari pun; seperti tidak perlu berdoa, tidak perlu membaca Alkitab, tidak perlu mempersembahkan diri; karena Kristus akan dengan sendirinya membuat dia menjadi gairah. Kesalahan orang macam pertama adalah mengira bersandar diri sendiri bisa berbuat baik; kesalahan orang macam kedua adalah mengira setelah beroleh selamat tidak perlu menuntut dengan sekuatnya. Sesungguhnya, orang yang telah beroleh selamat, kalau tidak rajin, tidak bisa memiliki kehidupan rohani. Tetapi kalau tidak percaya Allah, juga tidak bisa mempunyai kesuksesan. Harus percaya Allah yang beroperasi di dalam kita, supaya kita bisa bertekad dan bekerja, sehingga kita dapat berdoa, dapat membaca Alkitab, dapat bersaksi. Terlebih dulu ada iman, kemudian ada tindakan. Harus berusaha keras baru bisa masuk Kerajaan Surga. Orang yang berusaha keras baru bisa mendapatkannya. Hari demi hari kita harus dengan rajin mengerjakan keselamatan kita. Jangan menganggap tidak ada jalan, karena Allah sudah melakukannya; karena kita telah mendapatkan, kita pasti mampu. Saya berikan beberapa contoh:
Ketika Tuhan mengajar murid-murid-Nya, Ia berkata, “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia” (Luk. 17:3-4). Mendengar perkataan ini, segera murid-murid berkata, “Tambahkanlah iman kami!” Murid-murid tahu bahwa mereka tidak dapat melakukan hal ini. Kalau ini dilakukan satu kali, dua kali, tiga kali, sudah cukup berat; apalagi kalau dalam sehari berbuat dosa tujuh kali, lalu tujuh kali minta pengampunan, sungguh mengganggu sekali. Untuk bersabar terhadap hal ini, benar-benar tidak mudah. Sebab itu mereka mohon Tuhan menambahkan iman mereka. Bagaimana jawaban Tuhan kepada mereka? “Jawab Tuhan, ‘Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.’” Apa hubungan hal ini dengan pengampunan? Ini karena di dalamku ada iman, sebab itu aku dapat berkata kepada hati di dalamku yang membenci orang, “Hai benci, pergilah!” Kalau Anda bisa percaya demikian, ketika orang meminta pengampunan kepada Anda, Anda pasti bisa berkata, “Aku mengampunimu.” Karena percaya Allah telah melakukan, maka Anda bisa melakukan. Tidak saja dalam hal mengampuni orang harus terlebih dulu ada iman, membaca Alkitab, berdoa, tidak mengasihi dunia, juga perlu terlebih dulu mempunyai iman. Percaya Allah
Ayat 14 mengatakan, “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Rasul sudah memberi tahu mereka bahwa Allah yang beroperasi di dalam mereka, sehingga mereka mempunyai tekad dan bekerja. Hasil dari operasi ini, jelas sekali, adalah berdamai dengan orang, tidak bersungut-sungut, tidak berbantah-bantahan. Tidak berbantah-bantahan berarti tidak ada keraguraguan. Tidak bersungut-sungut berarti bisa mempercayai orang lain, bisa saling mengasihi. Dalam 2:13 dikatakan hayat Allah bekerja di dalam kita, sebab itu dalam ayat 14 ada kerukunan yang sempurna.
Tidak hanya Filipi menyatakan demikian, Efesus dan Kolose juga mempunyai contoh yang sama. Setelah Efesus 3:19 mengatakan, “Supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah,” (ayat 20-21 adalah perkataan puji-pujian). Efesus 4:2-3 segera membicarakan “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera.” Kekuatan Allah beroperasi di dalam, begitu terwujud di tengah-tengah kaum beriman, itulah kerukunan. Kolose 1:11 berkata, “Dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.” Kuasa kemuliaan adalah kekuatan Allah yang mahabesar. Kita mengira kalau mendapatkan kuasa kemuliaan, kita bisa melakukan satu perkara yang ajaib, melakukan satu mujizat, melakukan satu perkara yang tidak pernah terpikir oleh manusia. Siapa tahu, ternyata hasilnya adalah tekun dan sabar. Inilah pernyataan kekuatan Allah yang paling tinggi.
Sabar terhadap orang beriman yang cerewet, lebih sulit daripada berdoa kepada Allah, mohon mendapatkan jawaban dari-Nya. Sabar itu sulit, tetapi kekuatan Allah membuat kita mampu melakukannya. Ketiga Surat Kiriman ini sama-sama membicarakan begitu orang Kristen mendapatkan operasi dan kepenuhan kekuatan Allah, ia bisa berdamai dengan orang, bisa tekun dan sabar.
Ayat 15 mengatakan, “Supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” “Tidak beraib” berarti tidak ada orang yang mempergunjingkannya. “Tiada bernoda” berarti sederhana di dalam, tidak bercabang hati. “Bengkok” berarti tidak lurus. “Sesat” berarti telah terlepas dari sendi, tidak dapat bergandengan. “Angkatan” bahasa aslinya dapat diterjemahkan “bangsa”. Jadi, ayat ini secara garis besar berarti, orang Kristen terhadap bangsa yang bengkok yang telah terlepas dari sendi ini, tidak seperti mereka; tetapi sederhana, tidak beraib. Ia seperti terang dalam dunia. “Bercahaya” adalah pernyataan dari hayat.
Ayat 16 mengatakan, “Sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.” Berpegang pada firman kehidupan dapat diterjemahkan menjadi menyajikan firman hayat. Ada orang beriman yang mengira bahwa dirinya tidak perlu membuka mulut bersaksi, cukup dengan perbuatan baik memimpin orang. Tetapi ini adalah perkataan yang diucapkan oleh orang beriman yang bisu. Kita seharusnya menyajikan firman hayat. Kita seharusnya mengeluarkan firman hayat, atau secara khusus harus memperlihatkan kepada orang lain. Kita tidak saja bersaksi dengan hayat, juga bersaksi dengan mulut. Alkitab tidak pernah berkata hanya bersaksi dengan hayat, tidak dengan mulut. Di antara famili kita, di antara teman kita, di antara orang yang berkontak dengan kita. Kita harus membuka mulut bersaksi; kalau tidak, kita tidak menyajikan firman hayat. Memang Matius pernah berkata, “Kamu adalah terang dunia.” Tetapi bersamaan dengan itu ia memberi tahu kita, harus mengaku nama Tuhan. Kalau Anda bisa percaya, bisa melakukan, kiranya Anda percaya bahwa Anda tidak hanya bisa bercahaya, juga bisa bersaksi di tengah-tengah orang yang tinggal bersama Anda. Maksud Paulus, kalau Anda bisa demikian, berarti sudah sempurna.
“Hari Kristus” mengacu kepada hari Kristus berkuasa. “Berlomba” mengacu kepada mencari orang berdosa, memberitakan Injil kepada mereka. “bersusah-susah” mengacu kepada melayani kaum beriman, merawat mereka, mengajar mereka. Maksud rasul, kalau mereka bisa demikian, maka pada hari Kristus, ia dapat bermegah bahwa ia tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.
Ayat 17 mengatakan, “Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada kurban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.” “Kurban dan ibadah imanmu” adalah “mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup” dalam Roma 12:1. Maksud Paulus, karena mereka bisa demikian, maka ia rela mengurbankan jiwanya, bahkan rela menemani mereka mati. Kalau mereka benar-benar mempersembahkan diri sebagai kurban kepada Allah, Paulus mengurbankan jiwanya pun juga rela.
Tadinya Paulus sudah bersukacita, tetapi Paulus masih ingin bersukacita bersama mereka.
Ayat 18 mengatakan, “Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.” Ayat yang di atas mengatakan tadinya Paulus bersukacita, bahkan menghendaki bersukacita bersama mereka. Ayat ini mengatakan kamu harus bersukacita, dan bersukacita bersama dengan Paulus. Orang yang benar-benar di bawah operasi kuat kuasa Allah, selain sukacita, tidak mempunyai apa-apa lagi.
Saudara saudari, kita harus percaya bahwa Allah telah melakukan, karena itu kita juga bisa melakukan. Sekarang cukuplah kalau kita bisa dan mau melakukan.