Potongan Jalan yang Terakhir
“Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Menjelang malam perahu itu sudah di tengah danau, sementara Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka, ‘Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!’ Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda. Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti walaupun sudah mengalami peristiwa roti itu, dan hati mereka tetap tidak peka.”
Markus 6:45-52
Potongan ayat Alkitab ini sering membantu saya, juga terus menerus membantu saya. Di depan potongan ayat Alkitab ini, membicarakan Tuhan Yesus dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan mengenyangkan lima ribu orang. Di belakang potongan ini, membicarakan Tuhan Yesus menyembuhkan banyak orang. Tiga perkara ini merupakan satu lambang besar dari sejak Tuhan Yesus mati di atas salib sampai mendirikan Kerajaan; membicarakan bagaimana Tuhan (1) mati bagi kita, (2) naik ke surga menjadi Imam Besar bagikita, (3) kelak akan datang lagi dan mendirikan Kerajaan.
Injil Yohanes 6 juga mencatat Tuhan dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan mengenyangkan lima ribu orang, namun perkataan di sana sedikit lebih banyak. Di sana mengatakan setelah Tuhan Yesus membagi roti dan ikan, lalu ada satu kebenaran yang sangat penting, yaitu “Akulah roti yang telah turun dari surga” (ayat 41). Maksud Tuhan: Sebagaimana hari ini kamu dikenyangkan karena makan roti ini, demikian juga kamu akan dikenyangkan karena makan daging-Ku, minum darah-Ku, dan mendapatkan hidup yang kekal. Sebab itu perkara Tuhan membagikan roti melambangkan Tuhan mati bagi kita, membelahkan Tubuh-Nya, mengalirkan darah adi-Nya.
Markus 6:46 mengatakan, “Ia pergi ke bukit untuk berdoa.” Ini melambangkan Tuhan Yesus naik ke surga menjadi Imam Besar, di hadapan Allah berdoa bagi kita.
Markus 6:53-56 melambangkan Tuhan Yesus datang kembali mendirikan Kerajaan-Nya untuk menyembuhkan banyak orang yang sakit.
Yang akan saya bicarakan hari ini adalah perkara Tuhan menyuruh murid-murid menyeberang laut. Perkara ini terselip di belakang salib, dan di depan kerajaan. Ini adalah perkara pada hari ini, yaitu perkara dalam zaman gereja. Artinya, setelah salib dan sebelum kerajaan, ada perkara apa, dan kita harus mempunyai sikap yang bagaimana. Hari ini saya tidak menekankan apa yang Tuhan kerjakan untuk kita, tetapi menekankan kita harus bagaimana.
Ayat 45, “Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.” Saudara saudari, ayat ini memberi tahu kita bahwa kita masing-masing mempunyai jalan-Nya. Kata “memerintah” di sini sama dengan kata “menguasai” dalam 2 Korintus 5:14. Tuhan mendesak murid-murid naik ke perahu. Tuhan mati bagi mereka, Tuhan juga mendesak mereka berjalan. Tuhan mempunyai satu jalan bagi murid-murid, Tuhan memerintahkan murid-murid berjalan. Seumur hidup orang Kristen yang paling penting adalah mencari jalan yang ditetapkan oleh Tuhan, dan dengan setia menempuh jalan itu. Hari ini di antara orang yang percaya Tuhan, terdapat satu perkara yang tidak baik, yaitu banyak orang yang tidak mencari jalan yang ditentukan bagi mereka. Ada orang yang menemukannya, tetapi tidak menempuh jalan itu; sebab itu dalam kehidupan mereka ada sekian banyak kematian dan keterbatasan rohani, dalam pekerjaan Allah ada sekian banyak benturan dan perselisihan. Pekerjaan yang paling penting bagi setiap orang yang beriman adalah dengan tenang menunggu, berdoa, mempersembahkan diri, dan taat menyerahkan diri ke tangan Allah, sepenuh hati mencari petunjuk Allah, mau tunduk kepada-Nya, mau hanya menuruti kehendak-Nya, mohon Dia menunjukkan kepada kita jalan yang ditentukan bagi kita pribadi; kemudian mengeluarkan segala harga dengan sepenuh hati berjalan di atasnya.
Dari Lukas 9:10 kita mengetahui tempat membagi roti adalah Betsaida. Dari peta kita mengetahui ada dua Betsaida, satu di timur laut Kepernaum, yang satu lagi di barat daya Kapernaum. Tuhan memerintahkan mereka dari Betsaida yang di timur laut menyeberang ke Betsaida yang di barat daya.
Ayat 46 berkata, “Setelah berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.” Ini adalah satu gambar yang menyatakan bagaimana Tuhan meninggalkan murid-murid-Nya, naik ke surga, di sebelah kanan Bapa melakukan pekerjaan doa syafaat; dan murid-murid yang ditinggalkan di bumi, menempuh jalan yang Ia tentukan bagi mereka.
Ayat 47-48 berkata, “Menjelang malam perahu itu sudah di tengah danau, sementara Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan hendak melewati mereka.” Bagaimana keadaan murid-murid di atas penempuhan ini? “Menjelang malam”, hari sudah malam, perahu berada di tengah laut. Kristus adalah terang dunia, tetapi sudah meninggalkan dunia ini. Ketika Ia datang lagi, Dia akan menjadi Bintang Timur dan Matahari. Sejak Kristus naik ke surga sampai datang kembali, dunia ini terus berada dalam masa malam yang panjang. Menurut pandangan manusia, dunia ini semakin lama semakin terang, semakin lama semakin maju. Tetapi menurut firman Allah, “hari sudah jauh malam” (Rm. 13:12). Allah tidak berkata dunia sangat terang, sangat maju, tetapi firman Allah berkata, hari sudah jauh malam. Sekarang kita berada dalam malam yang gelap ini. Sebab itu kita merasakan sekeliling kita semuanya gelap. Apakah Anda merasakan sekeliling semuanya gelap? Kalau Anda tidak mengetahui apa yang disebut gelap, kalau Anda tidak merasakan sekeliling semuanya gelap, mungkin Anda sudah dilebur oleh dunia. Kalau kita berjalan di dalam terang, sering dekat dengan Allah, hidup dalam Kristus, terus-menerus menghakimi pekerjaan daging, dan menurut pimpinan Roh Kudus, dengan sendirinya kita akan memahami bahwa dunia ini benar-benar adalah satu dunia yang gelap.
“Perahu itu sudah di tengah danau”. Perjalanan kita belum mencapai tujuan. Meskipun masalah hidup yang kekal dan mati yang kekal kita sudah beres, tidak akan menjadi masalah lagi; namun sejarah kita di dalam dunia ini, apakah kita setia sampai kesudahan atau gagal, setia sampai kesudahan, atau berubah di tengah jalan, ini belum pasti. Perahu masih di tengah danau, belum masuk ke dalam pelabuhan, sebab itu masih ada kerawanan, masih ada kemungkinan terjadi perubahan. Kita tidak boleh terlalu percaya diri, mengira kesudahan kita sudah pasti. Kita sedang dalam perjalanan, meskipun menggembirakan, namun bagaimana penempuhan kita, dan bagaimana kesudahan kita, masih suatu tanda tanya.
Bagaimana penempuhan murid-murid, mereka mengalami apa saja? “Betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal”. Saudara saudari, kalau di pihak Anda ada angin sakal, pasti di pihak yang berlawanan dengan Anda ada orang yang mendapat angin buritan. Jika dari timur laut menuju ke barat daya ada angin sakal, dari barat daya menuju ke timur laut pasti ada angin buritan. Kalau jalan yang ditempuh orang Kristen tidak berlawanan dengan arah angin, saya curiga apakah jalan mereka itu adalah jalan yang ditentukan Tuhan. Kita seharusnya menempuh jalan yang ditentukan Tuhan. Tuhan sudah memutuskan kedudukan kita di dunia. Ia berkata, “Sebab itulah dunia membenci kamu.” Jalan kita melawan arah angin. Kalau kita tidak pernah ditentang, ditertawai, atau dianiaya orang dunia, kedudukan kita yang ada sekarang pasti bukan pemberian Tuhan. Kita seharusnya mengalami angin sakal, kita tidak seharusnya menempuh jalan angin buritan. Kalau seseorang menurut jalan yang ditentukan Tuhan, dari timur laut menuju ke barat daya, pasti ada angin sakal. Kalau tidak demikian, saya meragukan apakah jalan yang ia tempuh sudah benar.
“Betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal”. Setiap orang beriman yang setia pasti merasakan perkara ini — betapa payahnya mendayung karena angin sakal! Beberapa tahun belakangan ini, pencobaan lebih banyak dan lebih hebat daripada dulu. Orang-orang milik Tuhan, sepertinya banyak perkara, tubuh mereka sering lemah, sering sakit; keluarga mereka banyak urusan, banyak kesulitan; usaha mencari nafkah lebih sulit daripada dulu; masyarakat semakin lama semakin memberi tekanan dan serangan kepada mereka; setan, roh jahat lebih-lebih sekuatnya menimbulkan gelombang, ingin menganiaya orang beriman, ingin membasmi orang beriman. O, semuanya itu adalah angin sakal! Kalau Anda ingin berdiri teguh pada jalan yang ditentukan Tuhan, pasti merasakan angin sakal, sungguh sengsara! Mari kita tinjau bagaimana keadaan gereja beberapa tahun ini? Tidak kelihatan ada orang yang dibangunkan oleh Tuhan dan dipakai secara besar-besaran oleh Tuhan. Berbagai macam bidah lebih banyak daripada dulu. Bujukan roh jahat lebih banyak daripada dulu. Keadaan duniawi lebih hebat daripada dulu. Dalam zaman yang begini, kalau Anda tetap berada pada jalan yang ditentukan Tuhan, sedikit pun tidak membelok, bagaimana bisa mendapatkan angin buritan? Bagaimana bisa tidak merasa sengsara?
Tetapi kita lebih baik menderita daripada berkelana; lebih baik payah mendayung daripada terhanyut; lebih baik menempuh jalan yang sulit, daripada menempuh jalan yang mudah tetapi berkelana. Kalau kita ingin angin buritan, tidak perlu kembali, asal berhenti mendayung, langsung ada angin yang menghantar kita kembali ke tempat asal. Terhanyut tidak perlu tenaga. Kalau kita ingin berdiri teguh, akan merasakan sulit. Asal kita mau sedikit kompromi, sedikit kendur, sedikit santai, sedikit mundur, angin akan menghantar kita kembali, tidak perlu mengeluarkan tenaga. Mengasihi dunia tidak perlu mengeluarkan tenaga. Berdiri bagi Tuhan, setia bagi Tuhan, pasti mengalami angin sakal, akan merasakan mendayung dengan payah.
Saudara saudari, untuk kembali ke tempat asal sangat mudah. Sekarang saatnya kita memilih, saatnya kita setia. Semoga kita menempuh jalan yang ditentukan Tuhan.
Murid-murid sepanjang malam mendayung; mereka terus mendayung sampai jam tiga malam. Kalau mereka kembali, mereka merasa malu; bukankah lebih baik kembali ke Kapernaum menunggu sebentar, dan istirahat sebentar? Tetapi mereka tidak berbuat demikian.
Jam tiga adalah saatnya malam paling gelap, akhir dari malam hari, juga saatnya kita harus bertahan. Saya tahu Anda menghadapi pencobaan, karena saya juga menghadapi pencobaan; saya tahu Anda ada ujian, karena saya juga ada ujian. Sekarang bukan saatnya untuk menegur, karena pencobaan terlalu besar. Sekarang bahaya yang paling besar, pencobaan yang paling besar, adalah sedikit dingin, sedikit kompromi, sepertinya sedikit mengantuk. Sekarang kita memang terlalu letih. Pada mulanya, karena dorongan kasih, masih ada sedikit kekuatan bertahan; sekarang, sepertinya sudah terlalu lama, terlalu sulit, lalu menjadi tawar. Saya melihat banyak orang beriman, beberapa tahun yang lalu penuh semangat, gigih berjuang dalam medan perang, sekarang telah tawar, telah mundur. Karena angin sakal terlalu keras. Sedikit tawar lebih sulit dikalahkan daripada pencobaan apa pun. Kita masih bisa mengalahkan dosa, tetapi dalam perjalanan yang melawan angin sakal sedemikian, karena merasa terlalu letih, lalu condong agak tawar sedikit.
Saudara saudari, kalau semula Tuhan pernah sekali menggerakkan kita, memerintahkan kita menempuh satu jalan; kalau Tuhan pernah memerintahkan kita menyeberang laut ke sisi sana, kita tidak boleh berhenti. Kalau kita berhenti, arus air laut akan menghantar kita ke tempat yang lebih jauh dari Tuhan, angin buritan juga akan menghantar kita ke tempat yang lebih jauh dari Tuhan. Kita lebih baik menderita, tetapi tidak mau terhanyut. Sekarang perlu dorongan yang positif. Paulus berkata kepada Timotius, “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.” “Mengobarkan” dalam bahasa aslinya berarti diaduk-aduk (khususnya terhadap tumpukan bara api, supaya lebih membara). Saudara saudari, semoga kasih kita yang semula, sekarang diaduk-aduk, sehingga kasih itu dikobarkan lagi. Mungkin Anda telah jatuh, sekarang bangunlah. Penulis Surat Ibrani melihat bahwa di antara saudara-saudara Ibrani “ada yang kelihatannya ketinggalan”, hati yang semula untuk Tuhan kelihatannya sudah mundur, sebab itu ia menganjuri mereka “kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah.” Tuan Muller berkata, “Kunci rahasia seseorang bila ingin mendapatkan kesuksesan yang besar di hadapan Allah, tergantung pada tetap bertahan, bahkan sampai pada setengah jam yang terakhir.” Saudara saudari pernahkah Anda mengalahkan banyak pencobaan? Meskipun gelap sungguh terlalu pekat, tetapi tidak akan lama lagi. Yesaya 21:12 mengatakan, “Pengawal itu berkata: Pagi akan datang, tetapi malam juga . . . .” Meskipun sekarang berada pada malam hari, tetapi pagi segera datang. Saya harap, meskipun Anda berada dalam keadaan yang demikian, tetaplah bertahan bahkan sampai pada setengah jam yang terakhir. Mata kita jangan hanya menatap pada malam hari, jangan hanya melihat pada kesulitan. Hari ini kalau Anda tidak berjalan, itu sangatlah rugi; hari ini kalau Anda terlalu kendur atau santai itu sangat disayangkan, karena kita segera akan tiba di seberang.
Nyonya Penn-Lewis berkata, “Banyak orang beriman berkata bahwa mereka menjumpai banyak tekanan. Peperangan hari ini sepertinya sehari lebih hebat dari sehari, sepertinya satu-satunya sasaran serangan Iblis adalah kita saja. Sekarang masalahnya, apakah Anda bisa bertahan pada setengah jam terakhir. Daniel 7:25 berkata, ‘Ia . . . akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi.’ Menganiaya, dengan kata lain adalah “mengikis”. Sekarang pekerjaan pengikisan Iblis terhadap kaum saleh sudah mulai. Kita lebih sulit mengenal Iblis yang mengikis kaum saleh daripada Iblis yang mengaum seperti singa.”
Ketika saya di Kuling, sering berjalan-jalan di pinggir sungai kecil, sering melihat ada batu yang sebesar ember, di tengahnya ada satu lubang. Lubang itu terjadi karena terkikis oleh banyak batu-batu kecil yang terbawa oleh arus air sungai dari sehari ke sehari. Terhadap anak-anak Allah, Iblis juga demikian. Dia tidak sekaligus membunuh Anda, melainkan sehari lewat sehari mengikis Anda.
Saudara saudari, meskipun kita bisa merasa sengara, bisakah bertahan sedikit lagi? Bisakah Anda bertahan pada setengah jam yang terakhir? Bisakah kalian berjaga-jaga bersama Tuhan dalam sejangka waktu yang pendek? O, hari ini adalah waktu kita, waktu kita bertahan. Kalau ada orang belum pernah merasakan angin sakal, ia sangat kasihan! Kalau ada orang tidak pernah merasakan kepahitan dunia, kebobrokan dunia, penganiayaan dunia, berarti ia tidak pernah bergerak! Hanya ketika Anda dengan setia maju, Anda baru merasakan sulit, baru merasakan angin bertiup dari lawan arah. Pada saat inilah akan ada satu suara berkata kepada Anda, “Terlalu sengsara, kendurlah sedikit, istirahatlah sebentar!” Tetapi saya memberi tahu Anda, sekarang tidak boleh istirahat, karena sudah berjalan cukup jauh.
“Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan hendak melewati mereka.” Tuhan akan melihat apakah kita setia, menjaga diri, atau mengkhianati Tuhan. Tuhan akan melihat kita maju atau mundur. Mata Tuhan sedang melihat saya, juga melihat Anda. Tuhan memperhatikan setiap langkah kita. Tuhan mengetahui seberapa banyak pencobaan kita, seberapa banyak kesulitan yang kita alami. Tuhan tidak akan membiarkan kita mendapatkan kesulitan lewat dari jam tiga. Saat malam paling gelap, Ia datang. Dia sudah mati bagi kita, Dia telah naik ke surga berdoa bagi kita, bersamaan dengan itu Dia juga melihat kesulitan kita, saat malam paling gelap, Ia datang.
Dalam ayat 48 masih ada satu perkara yang paling istimewa, yaitu Tuhan “hendak melewati mereka.” Banyak orang membaca sampai di sini merasa heran, seolah-olah Tuhan bukan ingin datang ke tempat murid-murid. Menurut pandangan pada hari ini, kelihatannya tidak ada masalah, kalau Tuhan memerintahkan murid-murid-Nya ke Betsaida, tentu Tuhan turun dari bukit dan pergi ke Betsaida. Tuhan tidak mungkin pergi ke lain tempat untuk menantikan mereka. Tuhan mencari mereka menurut jalan yang diperintahkan kepada mereka. Kalau mereka berubah haluan, ketika Tuhan datang, Tuhan tidak akan bertemu dengan mereka. Jika mereka salah jalan, Tuhan tidak akan berhenti di persimpangan jalan menantikan mereka. Ini sangat serius! Saya sering berpikir, kalau Tuhan memerintahkan saya pergi ke Shanghai, tetapi saya pergi ke Nanking, ketika Dia datang, saya tidak bisa terangkat. Karena orang yang terangkat berada pada jalan yang diperintahkan oleh Tuhan. Kalau tidak berada di jalan yang diperintahkan Tuhan, akan kehilangan kesempatan terangkat. Setiap orang di antara kita harus memikul tanggung jawab kita sendiri, sebenarnya kita berjalan di mana.
Ayat 51 mengatakan, “Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda . . . .” Begitu Tuhan datang, semuanya beres. Puji syukur kepada Tuhan, meskipun angin datang dari lawan arah, tetapi tidak akan selamanya berlawanan arah; meskipun mendayung dengan payah, tetapi tidak akan selamanya mendayung. Tuhan mungkin sudah berada di perjalanan. Saudara saudari, kita bisa tahan menderita di dunia, karena di belakang kita Tuhan sudah mati bagi kita, di depan kita Tuhan akan datang kembali; di belakang ada kasih Tuhan mendorong kita, di depan ada pengharapan Tuhan menarik kita. Ada satu misionaris berkata, “Aku mempunyai Tuhan sebagai bagianku, sebab itu aku bisa meninggalkan segalanya bagi Tuhan.” Mata Tuhan sedang memandang kita, janganlah takut penderitaan, kalau hari ini kita karena takut penderitaan lalu berubah arah, maka penderitaan yang dulu sudah kita pikul akan sia-sia semua.
Ada seorang yang sangat berbobot di dalam Tuhan berkata, “Kita membaca 2 Tesalonika 2:3 dan 2 Timotius 3:1-13 akan mengetahui, sebelum Tuhan datang kembali, pasti terjadi murtad, dan masa yang sukar, lagi pula orang jahat dan penipu akan bertambah jahat. Perkara-perkara kemurtadan ini bukan mengacu kepada pendidikan, aktivitas agama, pendeta yang bertalenta, kemewahan gedung kebaktian, kemajuan daya pikir dan material, melainkan mengacu kepada iman dan pengakuan terhadap kuat kuasa Allah. Pada hari ini ada beberapa denominasi yang ternama cenderung kepada apa yang disebut ilmu pengritikan yang tinggi (sebenarnya adalah ketidakpercayaan yang rendah), menyangkal pekerjaan Allah yang supernatural, seperti dilahirkan kembali, dikuduskan, doa terjawab, melalui Roh Kudus memberi wahyu kepada orang tentang hal-hal rohani, dan lain-lain.”
Sebelum hari Tuhan datang, pasti timbul kebohongan besar dan perkara-perkara yang salah, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan. Lagi pula perkara “secara lahiriah menjalankan ibadah” pasti semakin bertambah. Iman berkurang, tidak saja karena mencintai dunia dan menyangkal firman Allah, juga karena iman palsu yang dibuat oleh Iblis. Ada seorang saudara berkata, “Pekerjaan-pekerjaan Iblis akan menjadi satu pengaruh yang tidak kelihatan, memenuhi udara di sekitar kita; akan menjadi satu ibadah lahiriah, tetapi di dalam penuh dengan roh jahat, penuh dengan bayang-bayang alam maut. Roh-roh jahat ini akan sekuatnya melukai, mengganggu, dan menekan anak-anak Allah. Mereka akan mempengaruhi tubuh kita, menekan situasi hati kita, membutakan pikiran kita. Berbagai perasaan yang aneh dan ujian yang supernatural akan menimpa kita, supaya kita tanpa alasan yang jelas menjadi tidak mempunyai minat dan kekuatan untuk mengarahkan diri kepada Allah; roh menjadi lemah, pikiran tumpul, tekad kabur, secara luar biasa menginginkan perkara yang dilarang oleh Allah, dan dengan heran sekali senang pelesiran dan kebiasaan duniawi. Susah mempunyai khotbah yang bebas dan berkuasa, susah mendengarkan khotbah, dan susah berlutut berdoa dengan tekun dan berkesinambungan. Ketika dunia ini semakin dekat waktunya, suasana atau atmosfer demikian ini harus kita perangi.” O, biarlah kita perkasa di dalam Tuhan! Iblis pasti dengan kekuatan yang luar biasa menudungi pikiran dan tekad kita, sehingga kita sulit dengan mesra berjalan bersama Allah, sebaliknya mudah hidup mengikuti daging, sulit setia melayani Allah, sulit berdoa dengan sepenuh hati. Sepertinya yang ada di dalam kita, semuanya bangun menentang kita mengikuti Tuhan Yesus sampai garis akhir, dan membujuk kita mengadakan perjanjian perdamaian dengan dunia.
Atmosfer yang mengitari kita akan menarik kita meninggalkan Allah, akan membuat kita tidak gairah berdoa, membuat kesadaran rohani kita tumpul, tidak bisa tampak arti sungguhnya perkara surgawi, juga tidak tampak penyertaan Tuhan yang mulia, membuat kita mudah mengabaikan persekutuan dengan Allah, dan sulit mempertahankan persekutuan dengan Allah.
Kita sudah merasakan hal-hal ini mulai mempengaruhi kita. Nafsu dunia dengan berbagai cara merajut jaring untuk menjerat kita, bahkan merajut lebih kuat dan kukuh di atas diri banyak orang beriman. Banyak hal yang tidak dapat dilakukan pada satu generasi yang lalu, sekarang bukan saja dilakukan, bahkan dilakukan dengan terang-terangan tanpa merasa malu. Banyak tempat penyembahan kepada Allah, tidak saja menolak perkara rohani, tidak ada kebangunan rohani, bahkan membawa masuk berbagai pelesiran dan perkara yang patut dipertanyakan.
Menurut keadaan umum, di setiap pelosok dunia muncul keadaan kelunturan iman dan penyimpangan dari jalan yang benar. Tentunya kita mengakui, ada juga beberapa tempat yang terkecuali, yang benar-benar diberkati Allah; tetapi secara keseluruhan, keadaan gereja-gereja di dunia memberikan kepada kita satu gambar yang menyedihkan.
Melihat hal-hal ini, mau tak mau harus menggugah gereja Allah bangun, bersemangat, berpaling untuk bersekutu dengan Allah, dalam sisa waktu ini, mencari perkenan Allah, mempersiapkan diri “menghadap takhta pengadilan Kristus; memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri” (2 Kor. 5:10; Rm. 14:12).
Saudara saudari, yang kita bicarakan di atas sungguh-sungguh benar. Saya tidak mengetahui bagaimana perasaan kalian? Saya setiap hari merasakan bahwa seluruh dunia sedang menentang kita. Kita hanya ada dua sikap, bertahan atau kendur. Dunia masih menyambut Anda, Iblis juga menyambut Anda, tetapi Tuhan memerintahkan Anda menyeberang ke Betsaida yang di sisi sana. Kalau sekarang kita tidak setia, selamanya tidak akan setia. Banyak anak-anak Allah rela menderita bagi Tuhan, rela menempuh jalan yang sunyi bagi Tuhan, apakah kita seperti yang dibicarakan oleh syair yang dibuat oleh seorang saudara dari Inggris, “Orang lain menyeberangi lautan darah menuju ke tempat Tuhan, apakah saya ingin ditandu ke tempat Tuhan!” Musa berkata kepada bani Gad dan Ruben, “Masakan saudara-saudaramu pergi berperang, dan kamu tinggal di sini?” (Bil. 32:6). Saudara saudari, orang lain dengan setia menderita, bisakah kita duduk tenang? Memang ada penderitaan, tetapi itu jauh lebih baik daripada terhanyut. Setiap orang harus setia melayani Tuhan, menempuh jalan yang diperintahkan oleh Tuhan, mencapai ke seberang.