Sedikit tentang Anak yang Hilang
Pembacaan Alkitab: Lukas 15:11-32
Saya telah membicarakan topik ini beberapa kali. Kali ini, saya tidak bermaksud membahasnya secara keseluruhan, tetapi hanya ingin membahas beberapa butir saja, sedikit di sana, sedikit di sini.
Ayat 17-19 mengatakan, “Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Ketika seorang berdosa bertobat karena pekerjaan situasi lingkungannya, dia selalu memiliki penilaian yang khusus terhadap keselamatan. Orang yang tidak merindukan keselamatan tidak akan memikirkan atau mempedulikannya sedikit pun. Namun begitu dia menyadarinya, dia segera memikirkan bagaimana caranya agar memperoleh keselamatan dan apa syarat-syaratnya. Kalau Anda bertanya kepada orang-orang berdosa tentang bagaimana mendapatkan keselamatan, Anda akan menemukan bahwa mereka masing-masing memiliki caranya sendiri untuk mendapatkan keselamatan. Allah mempunyai cara penyelamatan-Nya sendiri, orang dosa juga memiliki caranya sendiri. Mungkin, di antara seratus orang dosa akan terdapat seratus pendapat yang berbeda tentang keselamatan. Setiap orang mempunyai pemikiran dan konsepsi sendiri. Anak yang hilang ini juga memiliki caranya sendiri agar diselamatkan. Dia mengira, pada saat bertemu dengan bapanya, bapanya akan memarahinya dengan wajah dingin; sehingga dia akan berkata, “Bagian harta yang bapa berikan kepadaku telah habis kupakai. Aku tidak dapat lagi memakai sepeser pun uang bapa. Tetapi bapa adalah orang yang kaya raya, tentunya mempunyai banyak orang upahan. Jadikanlah aku seorang upahan bapa, sebagaimana orang-orang upahan yang lain.” O, keselamatan dari anak yang hilang ini bukanlah keselamatan yang menjadikannya seorang anak, melainkan sekadar menjadi seorang hamba (budak).
Bagi orang dosa, jalan keselamatan ialah: aku memberikan kepada Tuhan apa yang seharusnya Tuhan terima dan Tuhan memberikan kepadaku apa yang seharusnya kuterima. Aku bekerja untuk Tuhan dan Tuhan memberi upah kepadaku. Berapa banyak aku bekerja untuk Tuhan, sebanyak itu pula Tuhan memberiku upah. Cara berpikir demikian bukanlah cara berpikir seorang anak, melainkan cara berpikir seorang hamba.
Ayat 20-22 mengatakan, “Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hamba-nya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.” Anak yang hilang ini bangkit dan pergi kepada bapanya. Ketika berjumpa dengan bapanya, dia mengucapkan kata-kata seperti yang telah direncanakannya, yakni bahwa dia tidak layak lagi disebut anak. Ketika dia sampai pada kata-kata bahwa dirinya tidak layak lagi disebut anak, dan ingin melanjutkannya, . . . “tetapiayah itu berkata kepada hamba-hambanya . . .” Haleluya! “Tetapiayah itu.” Syukur kepada Allah, beroleh selamat adalah menurut konsepsi Allah, bukan konsepsi kita. Keselamatan setiap orang di dunia ini adalah menurut konsepsi Allah, bukan menurut konsepsi manusia sendiri. Jika menurut konsepsi anak yang hilang, ia hanyalah menjadi orang upahan. Pikiran kita dipenuhi oleh hukum Taurat, selalu berpikir untuk melakukan sesuatu dan kemudian menerima sesuatu.
Anak yang hilang ini telah menyiapkan perkataan yang akan diucapkannya. Tetapi ketika dilihatnya bapanya dan hatinya tersentuh oleh kasih sang bapa, kalimat yang telah dipersiapkannya “Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa,” ini tidak terucapkan. Jika kita membaca seluruh bagian ini dengan teliti, kita akan menemukan bahwa anak ini tidak mengucapkannya dikarenakan bapanya memotong perkataannya. Bapanya merasa telah cukup mendengar perkataan anaknya, dan tidak mau mendengarkan lebih lanjut. “Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hamba-nya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.”
Ini memperlihatkan kepada kita bahwa keselamatan adalah perihal bagaimana Allah memperlakukan kita, dan perlakuan Allah itu bukan menurut konsepsi kita. Jika menurut konsepsi kita, kita akan selamanya menjadi orang upahan. Ketika kita mengingat Tuhan, kita memandang diri kita adalah orang dosa, namun Dia berkata bahwa kita adalah anak. Kita berpikir bahwa kita pantas binasa, tetapi Dia malah menempatkan kita dalam pesta perjamuan. Kita tidak akan pernah cukup untuk mengatakan betapa besar kasih karunia Allah. Meskipun berkali-kali kita mengatakannya, itu tidak akan keterlaluan sehingga memenuhi pikiran kita. Mungkin kita menganggap bahwa diri kita tidak layak disebut anak, namun Dia telah melakukan lebih daripada yang dapat kita bayangkan. Puji syukur kepada Tuhan, karena keselamatan bukan menurut pemikiran kita, melainkan menurut pemikiran-Nya.
Ketika anak yang hilang itu masih jauh, ayahnya telah melihatnya dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Orang Samaria, yang melihat orang yang jatuh ke tangan para penyamun Yerikho, tergerak hatinya oleh belas kasihan (Luk. 10:30-35). Apakah yang dimaksud dengan belas kasihan? Belas kasihan hanya dapat diberikan kepada orang yang berada dalam keadaan hina. Belas kasihan selalu datang dari yang lebih tinggi, diberikan kepada yang lebih rendah yang dalam keadaan kasihan. Jika anak tersebut pulang dalam keadaan yang sangat berkelimpahan, bapanya tidak akan dapat memperlihatkan belas kasihan kepadanya. Bagaimana belas kasihan itu dinyatakan? Ketika sang bapa melihat keadaan anaknya yang mirip pengemis dan memang telah menjadi pengemis, belas kasihan tersebut dinyatakan. Pengemis bisa menjadi seorang anak. Pengemis yang berdiri di muka pintu bisa duduk dalam pesta perjamuan. Pengemis yang jauh dari Allah bisa mendekat kepada-Nya. Ketika keadaan kita sama seperti pengemis, Allah tergerak oleh belas kasihan kepada kita.
Mari kita perhatikan satu hal, si anak menganggap bahwa dirinya tidak layak lagi disebut sebagai anak, dan ia hanya berharap menjadi seorang upahan. Tetapi sang bapa memerintahkan hamba-hambanya untuk mengambil jubah yang terbaik dan memakaikannya kepadanya, mengenakan cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan berarti menyatakan kaya limpah Allah, bukan menyatakan kemiskinan kita. Ada pengkhotbah yang telah berkhotbah selama bertahun-tahun tetapi masih belum memahami arti keselamatan. Keselamatan membicarakan betapa kayanya Allah itu. Sering kali kita merasa tidak layak. Ketika kita sedikit menyadarinya dan berdoa kepada-Nya, kita masih tidak yakin apakah Allah mau mengampuni kita atau tidak. Seolah-olah orang-orang seperti kita ini sama sekali tidak layak meminta kepada-Nya. Tetapi saya berkata kepada Anda, pandangan Anda itu salah. Orang kaya yang memiliki harta yang tak terhitung banyaknya itu tidak memikirkan berapa banyak harta yang telah dihabiskan anaknya, melainkan berapa banyak yang dapat ia berikan kepada anaknya.
Saya ingin memberikan sebuah ilustrasi, meskipun mungkin tidak terlalu cocok. Saya pernah bertemu dengan anak orang kaya. Saya dengan sungguh-sungguh menganjuri dia agar mau bertobat dan percaya kepada Allah. Suatu hari, dia mempertemukan saya dengan ayahnya. Saya berkata kepada ayahnya agar tidak menghalangi anaknya percaya kepada Tuhan. Bila anaknya telah percaya kepada Tuhan, ia tidak akan menghambur-hamburkan uang dengan seenaknya lagi. Tetapi ayahnya berkata, “Aku memiliki sejumlah besar uang. Aku tidak takut dia menghabiskan uangku.” Ayahnya tidak khawatir kalau anaknya menghabiskan banyak uangnya. Allah kita juga tidak khawatir kalau kita menghabiskan banyak. Kita menganggap bahwa Allah hanya memiliki seratus dolar, dan kita memakai seratus satu dolar. Kita selalu merasa takut bahwa bila kita telah menghabiskan semuanya, selanjutnya tidak akan ada lagi yang bisa kita pakai. Namun apa yang dimiliki oleh Bapa kita adalah “uang”, jangan mencoba membatasi Allah. Kita harus tahu, keselamatan menunjukkan betapa kayanya Allah itu, dan Dia menyediakannya agar kita menggunakannya terus-menerus.
Ada orang mungkin berpikir, “Aku tidak mampu mengalahkan dosa tertentu. Aku benar-benar telah putus asa.” Tetapi dapatkah kita berkata kepada Allah bahwa Allah tidak mampu berbuat apa pun terhadap dosa itu? Adakalanya, sebagai orang Kristen, kita menampilkan kehidupan yang tidak baik, sering lemah, dan berdosa. Hati nurani kita pun menyatakan bahwa kita sudah habis. Tetapi hati nurani hanya menyatakan keadaan kita, sedangkan darah menyatakan cara Allah memperlakukan kita. Hati nurani menyatakan keadaan kita, darah menyatakan bagaimana Allah memperlakukan kita. Hati nurani kita telah dipercik dengan darah. Yang kita miliki bukan hanya hati nurani, juga bukan hanya semangkok darah, melainkan hati nurani yang telah dipercik dengan darah. Bukan memisahkan darah dari hati nurani, juga bukan memisahkan hati nurani dari darah, melainkan hati nurani yang telah dipercik dengan darah, yaitu hati nurani yang lebih putih daripada salju, putih bersih.
Allah menyediakan jubah bagi kita, Dia tidak khawatir kita akan menjualnya; menyediakan cincin bagi kita, tidak khawatir kita akan menggadaikannya; menyediakan sepatu untuk kita pakai, tidak takut kita akan memakainya hingga rusak. Anak-anak Allah harus selalu tampak rapi dan elok. Persediaan Allah selalu cukup untuk anak-anak-Nya.
Ayat 23 mengatakan, “Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita.”Di ayat sebelumnya disinggung tentang jubah, cincin, dan sepatu; semua itu hanya dapat dinikmati oleh sang anak, karena sebuah jubah hanya dapat dikenakan pada satu orang; sebuah cincin hanya dapat dikenakan pada jari tangan satu orang; sepasang sepatu hanya dapat dipakai oleh satu orang. Tetapi seekor lembu tambun tidak habis dimakan hanya oleh satu orang. Karena itu, “Marilah kita makan dan bersukacita.” Hari ini saya ingin memberikan satu konsepsi kepada Anda semua, yakni sukacita Allah! Pada malam saya beroleh selamat, semakin memikirkannya, saya makin bersukacita; semakin bersukacita, semakin bernyanyi. Meskipun tidak dengan nada dan irama yang baik, saya tidak mempedulikannya. Inilah sukacita seorang dosa yang beroleh selamat. Akan tetapi, ayat Alkitab di sini memberi tahu kita: Allah bersukacita, sukacita Allah Juruselamat! Kita selalu berpikir, betapa sukacitanya kita ketika melihat seorang dosa beroleh selamat. Kita tidak tampak, betapa sukacitanya Allah ketika Ia menyelamatkan seorang dosa. Jika kita tampak ini, barulah kita bisa mengerti hati Allah.
Ayat 29 mengatakan, “Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.” Inilah perkataan anak yang sulung kepada bapanya. Anak yang sulung ini ingin bapanya memberi dia suatu sukacita. Namun anak bungsu itu malah membuat bapanya bersukacita karena dia telah kembali dari menghambur-hamburkan harta. Anak yang sulung itu telah menunaikan tugasnya di rumah bapanya, tetapi kesalahannya ialah ia menginginkan bapanya memberinya sukacita. Kehendak bapanya ialah agar dia turut bersukacita bersama bapanya. Allah kita menghendaki kita bersukacita bersama-Nya. Kita harus bersimpati kepada keinginan hati-Nya. Anak yang sulung menginginkan seekor anak kambing untuk menyenangkan dirinya sendiri, tetapi di dalam cara-Nya, Allah tidak pernah memberikan suatu barang kepada seseorang untuk dinikmati seorang diri. Allah selalu menghendaki kita menikmati bersama-Nya.
Saya membandingkan kedua kejadian di atas dan memperlihatkan kepada kalian: yang satu adalah “ciuman” dan lainnya adalah “pesta”. Bapa merangkul dan mencium anaknya; dan ciuman sedemikian membuat hati sang anak mendapatkan kenyamanan, mendapatkan kepuasan. Begitu ia dicium bapanya, tahulah ia bahwa bapanya telah mengampuni semua dosanya dan tidak mengingat dosanya lagi; ia mendapatkan kebebasan pengampunan dosa, mendapatkan kepuasan. Begitu sang anak duduk di pesta, hati bapanya mendapatkan sukacita, mendapatkan kepuasan. Karena dia telah mendapatkan kembali anaknya. Banyak orang yang tidak tahu, betapa sukacitanya Allah ketika ada orang yang beroleh selamat. Mereka mengira bahwa Allah menyelamatkan mereka karena permohonan mereka yang sungguh-sungguh kepada Allah, tanpa mengetahui, sebenarnya Allah senang menyelamatkan manusia. Allah bersukacita tatkala Ia menyelamatkan manusia.
Ketika kita mendengar perkataan Bapa yang mengatakan, “Dosamu sudah Kuampuni,” kita memiliki damai dan sukacita. Jika kita tidak mendapatkan kebebasan pengampunan dosa, kita sangatlah kasihan. Hari ini, setiap orang yang ada di sini, telah mendengar, “Dosamu sudah Kuampuni.” Semua telah mendapatkan damai, tidak perlu bertanya kepada siapa pun, juga tidak perlu meminta bukti apa pun dari Allah. Cukuplah satu kalimat dari Allah. Sekali Dia berkata mengampuni, tentu mengampuni. Akan tetapi, sungguh kasihan, kita hanya memiliki sukacita separuh, kita belum masuk ke dalam sukacita Bapa, menikmati sukacita Bapa, sehingga Allah bersukacita karena kita. Sukacita karena Allah, inilah baru penyembahan. Ada orang berkata dengan sangat baik, “Penyembahan bukanlah bersyukur, penyembahan adalah memandang Allah sebagai sukacita.” Kita semua bersukacita dengan sukacita Allah. Mazmur 43:4 mengatakan, “. . . Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku.” Kita semua harus menjadikan Allah sebagai sukacita dan kegembiraan kita.
Ayat 24 mengatakan, “Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria.” Allah berkata, bahwa kita harus bersukacita. Mengapa? Ada dua alasannya. Pertama, karena anak ini telah mati dan menjadi hidup kembali; kedua, karena anak ini telah hilang dan didapat kembali. Inilah sebabnya kita harus bersukacita. Mati dan bangkit kembali adalah hal yang didapatkan oleh diri anak itu; hilang dan didapat kembali adalah hal yang didapatkan oleh bapanya. Tadinya adalah anak, sekarang kembali menjadi anak. Tadinya manusia adalah ciptaan Allah, namun kemudian jatuh, sepertilah mati. Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan manusia, membuat manusia bangkit dari kematian; inilah mati dan bangkit kembali. Akan tetapi, yang saya tekankan adalah telah hilang dan didapat kembali.
Dalam Injil Lukas 15 terdapat tiga perumpamaan tentang domba yang hilang, dinar yang hilang, dan anak yang hilang. Renungkanlah, siapakah yang kehilangan? Kita selalu berpikir, betapa kasihannya domba yang hilang dan tersesat; mungkin ia tersesat ke daerah yang tandus dan berbatu, mungkin tersesat ke daerah semak duri. Namun kita lupa bahwa yang kehilangan domba adalah gembala, yang menderita adalah gembala, yang kasihan adalah gembala. Kita selalu berpikir, entah di mana dinar yang hilang itu; namun kita lupa bahwa yang kehilangan satu dinar itu adalah perempuan itu, yang menderita kerugian adalah perempuan itu. Sampai pada perumpamaan yang terakhir, kita pun berpikir betapa menderitanya si anak yang hilang, bagaimana dia terlunta-lunta dan tunawisma, begitu menderita kelaparan sampai-sampai ampas kacang yang ingin ia makan pun tidak ia dapatkan. Memikirkan betapa berkat yang anak ini terima ketika dia mau berpaling, kita lalu bersukacita. Namun, siapakah yang kehilangan anak itu? Bukan sang anak, melainkan sang bapa. Bapalah yang menderita, bapalah yang dirugikan, bapalah yang mengeluarkan darah dan keringatnya, seolah-olah telah sia-sia mengeluarkan banyak harga untuk mendidik anaknya. Itulah sebabnya sang bapa berkata, “Anakku ini telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria.” Pernahkah kita berpikir, begitu kita sekali berpaling, sekali taat, hal ini bisa membuat Allah bersukacita? Titik puncak Injil bukanlah memperlihatkan kepada kita apa yang didapatkan oleh orang dosa yang beroleh selamat, melainkan memperlihatkan kepada kita apa yang didapatkan Allah. Anda melihat bahwa “uang” telah dihamburkan, namun yang dirugikan adalah Allah. Sepatutnyalah kita menyerahkan seluruh diri kita kepada Allah. Berapa banyak yang telah kita berikan kepada Allah? Jangan mengira tidaklah mengapa kalau Anda sedikit dingin dan tawar. Ketahuilah, Allah yang menderita kerugian. Jangan mengira tidaklah mengapa sedikit mengasihi dunia dan berbaur dengan dunia. Ketahuilah, itu sangat besar kaitannya dengan Allah; itu merugikan Allah. Setiap kali Anda datang ke hadapan Allah, sekali lagi mempersembahkan diri kepada Allah, sekali lagi melepaskan diri sendiri, hal itu akan membuat Allah mendapatkan sesuatu, berarti Anda membuat hati Allah bersukacita.
Yang terhitung bukanlah banyak atau sedikitnya yang didapat atau yang hilang, melainkan Allah mendapatkan sesuatu. Setiap kali saya memikirkan, ketika saya memilih jalan yang taat kepada Allah, dan itu bisa menyenangkan hati Allah, betapa indahnya itu. Allah bisa menciptakan alam semesta, Allah bisa memberikan sesuatu kepada manusia, namun Allah juga berkemungkinan kehilangan tempat dalam hati manusia! Allah tidak pernah memaksa hati manusia! Saya rasa, sebagai Allah yang Mahabesar, Allah yang bagi-Nya tidak ada yang mustahil, Allah yang serba ada, Allah Sang Pencipta, Dia ingin mendapatkan sesuatu dari diri saya yang tak lebih daripada ulat kecil dan debu tanah, betapa sukacitanya ini! Dia berkata, “Kita patut bersukacita!” (ayat 32). Kembalinya seorang anak yang hilang telah membuat Allah bersukacita. Allah yang meliputi seluruh alam semesta ini akan bersukacita karena sedikit ketaatan Anda. Taat bukanlah memaksa Anda, menekuk lutut Anda, melainkan supaya Anda masuk ke dalam sukacita Allah, agar Allah bersukacita karena Anda. Betapa ajaibnya ini! Kiranya hari ini kita semua masuk ke dalam sukacita Allah, memberikan sukacita kepada Allah.