Kasih Kristus
“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.’ Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”
Rm. 8:35-39
“Sebab kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”
2 Kor. 5:14-15
“Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari-Nya semua keluarga yang di dalam surga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”
Ef. 3:14-19
Ketiga potongan firman di atas mempunyai satu frase yang sama, yaitu “Kasih Kristus”. Alkitab berulangkali menyinggung tentang kasih Kristus, tetapi hanya dalam tiga tempat ini dengan tegas menggunakan frase “kasih Kristus”. Yang lainnya membicarakan tentang kasih Allah. Sebenarnya, kasih Kristus adalah kasih Allah. Roma 8:35 mengatakan, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” Ayat 39 diakhiri dengan, “. . . tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Jadi, kita tahu bahwa kasih Kristus dan kasih Allah adalah dwitunggal. Yang akan saya bicarakan di sini adalah kasih Kristus yang diberikan kepada tiga macam orang.
1. Kasih Kristus dalam Roma 8 adalah bagi Orang yang Menderita
Setiap orang beriman di dunia ini mempunyai pengalaman yang khusus, kesukaran yang khusus, lingkungan yang khusus. Maksud Paulus ialah apa pun masalah Anda, jawabannya adalah kasih Kristus. Sekalipun Anda menghadapi seratus macam kesukaran yang berbeda, penyelesaiannya tetap adalah kasih Kristus. Beberapa orang beriman mungkin sedang menghadapi pencobaan, ada yang mungkin sedang dalam penderitaan yang berat, yang lain mungkin sedang mengalami penganiayaan, dan lainnya lagi sedang mengalami kelaparan. Sekalipun ketelanjangan, bahaya pedang, dan lain-lainnya datang menimpa, semua itu tetap tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, karena kasih Kristus sanggup menghadapi segala macam keadaan. Tahukah Anda, banyak orang setelah ditangkap oleh kasih Kristus, mereka sanggup melalui apa saja yang tidak sanggup dilalui oleh orang lain!
Seorang janda mungkin hidup dalam kesukaran yang besar karena kematian suaminya. Dia mungkin tidak sanggup membayar uang sewa rumah dan semua miliknya mungkin telah digadaikan. Namun dalam keadaan seperti itu, dia masih tetap bisa tersenyum. Kapan dia tersenyum? Pada saat dia memandangi anaknya yang belum berusia satu tahun, ia tersenyum. Alasannya Ia tersenyum karena kasih.
Saya sungguh-sungguh menghargai firman Allah dalam Roma 8:37, “Dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang!” Kita lebih daripada orang-orang yang menang dalam semuanya itu, bukan di luar semuanya itu. Jika semuanya itu tidak terjadi, tidak perlu ada yang menang. Banyak orang berpikir, jika tidak ada pencobaan, tidak ada penderitaan yang berat, atau tidak ada penganiayaan, dan sabagainya, mereka tentu bisa menang. Tetapi firman Allah mengatakan, “Dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang.” Kasih Kristuslah yang membuat kita sanggup mengatasi semuanya itu. Semuanya itu pahit, tetapi karena kita telah merasakan kasih Kristus, kita tidak lagi merasakan kepahitannya.
2. Kasih Kristus dalam 2 Korintus 5 adalah bagi Orang yang Sebagai Hamba
Kasih Kristus ini adalah bagi mereka yang menjadi hamba, yang melayani Tuhan. “Sebab kasih Kristus menguasai kami” (ayat 14). Dalam teks aslinya, kata “menguasai” mengandung arti sesuatu yang berada di atas air dihanyutkan oleh aliran air yang deras. Inilah arti yang dimaksudkan di sini. Kasih Kristus seperti kekuatan arus air yang kuat yang menghanyutkan kita. David Livingstone mengatakan, “jika seseorang bisa pergi ke Afrika untuk urusan jual beli budak, apakah kasih Kristus tidak bisa menggugah seseorang untuk pergi ke Afrika? Demikianlah seseorang itu pergi. Karena orang itu digugah oleh kasih Kristus, dia mengesampingkan nyawanya (hayatnya), hasilnya, entah berapa banyak orang yang mendapatkan hayat karena dirinya. Tentu saja hanya kasih Kristus yang dapat “menguasai” manusia. Memang, kasih tidak dapat dilihat dengan mata jasmani, tetapi begitu seseorang merasakan kemanisan dan keindahan kasih ini, tidak mungkin tidak ia dihanyutkan oleh arus kasih itu.
“Kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (ayat 1415). Kata “mengerti” di sini dalam bahasa aslinya berarti “memutuskan” atau “menetapkan”. Kasih Kristus menguasai kita, karena kita telah memutuskan dua hal. Pertama, jika Kristus telah mati untuk semua orang, maka kita semua telah mati. Kasih Kristus tidak dapat dipisahkan dari kematian Kristus; adanya kasih Kristus dikarenakan kematian Kristus. Kedua, mereka tidak lagi hidup untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk Tuhan yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Inilah tujuannya. Mau tak mau aku harus hidup untuk Dia, karena kasih Kristus menguasai aku. Aku tidak dapat lagi berpegang pada pendirianku sendiri.
Seringkali kita merasa betapa sulitnya bersaksi kepada orang berdosa. Seolah-olah wajah kita telah memerah sebelum kita mengucapkan apa-apa. Ketika saya baru beroleh selamat, saya ingin bersaksi kepada seorang teman sekolah. Namun pada saat bertemu dengannya, rasanya sulit sekali membuka mulut. Saya sekali demi sekali menemuinya, namun setiap kali pula saya merasa sulit membuka mulut untuk berbicara tentang Yesus. Akan tetapi, begitu kita dikuasai oleh kasih Kristus, kita tidak bisa tidak bersaksi. Jika kita boleh memilih, kita lebih suka memilih tidak bersaksi. Tetapi begitu kita dikuasai oleh kasih Kristus, kita tidak bisa tidak harus bersaksi. Puji Tuhan, kasih-Nya menguasai kita.
Seringkali kita merasa bahwa memberitakan Injil bukanlah hal yang mudah. Dalam pemberitaan Injil, kelaparan dan penganiayaan tidak dapat dihindari. Saya pernah diancam dengan todongan pistol untuk tidak memberitakan tentang Yesus lagi. Namun saya lebih suka menghentikan laras pistol dengan tubuh saya daripada berhenti berbicara tentang Kristus. Kasih-Nya menghanyutkan saya. Saya sering mendorong kaum muda untuk mempersembahkan diri mereka kepada Tuhan. Karena Dia telah mengasihi kita. Ada saudara-saudara yang bertanya, “Apa yang harus kami lakukan supaya dapat menjadi pemberita-pemberita Injil?” Kalau tidak harus melakukannya, lebih baik tidak menjadi pemberita Injil. Jika tidak memiliki perasaan “celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor. 9:16), lebih baik tidak menjadi pemberita Injil. Karena Anda tidak tahan lagi, maka yang lain pun tidak tahan lagi. Pemberitaan Injil kita haruslah dikarenakan dorongan dan penguasaan kasih Kristus. Saya tidak mendesak setiap orang agar menjadi pengkhotbah sepenuh waktu. Akan tetapi, setiap orang beriman harus bersaksi. Saudara saudari, pernahkah Anda memberi tahu orang tentang kasih Kristus? Pernahkah Anda merasakan kasih Allah membakar bagaikan api yang membara di dalam Anda, sehingga Anda mau tidak mau harus berbicara tentang kasih-Nya? Saudara saudari, hari ini kiranya kasih Kristus memenuhi kita, menguasai kita.
3. Kasih Kristus dalam Efesus 3 adalah bagi Orang yang Sebagai Pelajar
Efesus 3:14-19 “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa . . . sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih . . . , supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, kasih Kristus — panjang, lebar, tinggi, dalam, dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan, . . . supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Tl.). Di sini, kasih Kristus adalah bagi mereka yang sebagai pelajar. Paulus adalah orang yang terpelajar. Mungkinkah Paulus membuat kesalahan tatabahasa atau menulis kurang baik? Mereka yang telah membaca teks asli dari Perjanjian Baru setuju bahwa seluruh surat yang ditulis Paulus, menggunakan tatabahasa yang rumit dan sulit. Tetapi dalam Efesus 3, ketika dia berbicara tentang kasih Kristus, tata bahasanya salah; tulisannya bukanlah bahasa Yunani yang baik. Setelah menulis frase, “bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami Kasih Kristus,” ia berhenti. Sesudah itu, dia menulis empat kata-kata berikut: “panjang, lebar, tinggi, dan dalam.” Kelihatannya tidak ada kaitan antara teks di depan dan di belakangnya. Saudara saudari, ini adalah keadaan sesungguhnya dari pembicaraan tentang kasih Kristus. Ketika Paulus menulis sampai di sini, dia tidak tahu bagaimana melanjutkannya, maka dia pun berseru, “panjang! lebar! tinggi! dan dalam!”. Dia tidak dapat mengutarakannya. Sekalipun kita menggunakan hikmat berbahasa yang terbaik untuk melukiskan kasih Kristus, apa yang orang lain pahami akan jauh berbeda dari yang sesungguhnya. Pada saat kita membahas kasih Kristus, sepertinya pikiran kita tak berdaya, kita tidak tahu bagaimana mengutarakannya.
Kata “memahami” memiliki arti yang sama dengan kata “mengenal”. Kasih Kristus tidak terpahami, hari demi hari, saat kita hidup di bumi, kita perlu belajar tentang panjang, lebar, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus. Ada seorang pengkhotbah, suatu hari ketika dia sedang berkhotbah, dia merasa ada suatu beban sedang menekan dirinya. Dia ingin berbicara, tetapi tidak dapat mengutarakan sepatah kata pun. Kemudian dia meminta agar orang-orang mendoakan dia. Sementara semua orang sedang berdoa, seorang kulit hitam berkali-kali mengulangi kata-kata, “Yesus yang mustika!” Pengkhotbah itu mendengar orang tersebut demikian berdoa selama lebih dari satu jam. Setelah itu, pengkhotbah itu berkata, “Pada hari ini, aku tidak memiliki doktrin untuk dikhotbahkan, tetapi aku mendengar satu kalimat dari sebuah doa: “Yesus yang mustika!”.
Karena kasih Kristus menguasai kita, kita mengasihi Dia, meskipun kita tidak pernah melihat Dia. Karena iman, kita tahu bahwa Dia sungguh mustika.