← Daftar isi Wahyu (3) · bab 9/18

YERUSALEM BARU (1)

Dalam berita ini dan lima berita berikutnya kita akan membahas berbagai aspek Yerusalem Baru (21:9-27).

I. JALAN UNTUK MELIHAT

VISI YERUSALEM BARU

Pertama-tama, kita perlu mengetahui jalan untuk melihat visi Yerusalem Baru. Seorang dari ketujuh malaikat yang melaksanakan ketujuh malapetaka terakhir menunjukkan Yerusalem Baru kepada Yohanes (ayat 9). Ini me-nandakan penghakiman ketujuh cawan itu adalah untuk Yerusalem Baru.

A. Di Dalam Roh

Ayat 10 mengatakan, “Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar dan tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari surga, dari Allah.” Jika kita ingin melihat visi Yerusalem Baru, kita harus di dalam roh. Sebelum Yohanes melihat visi tentang tujuh gereja, dia juga di dalam roh (1:10). Pasal 1 tidak hanya memberi tahu kita bahwa Yohanes di dalam roh, juga mewahyukan bahwa dia berada di pulau yang disebut Patmos. Jika ini tidak penting, tentu tidak akan dicatat dalam Alkitab. Dengan berada di pulau Patmos dan di dalam roh, Yohanes dapat melihat gereja-gereja, tujuh kaki pelita emas. Meskipun banyak orang membaca dan mempelajari Kitab Wahyu dan bahkan telah membaca berita-berita tentang tujuh kaki pelita emas, mereka tidak melihat apa pun. Penyebabnya ialah mereka tidak berada pada posisi yang benar; tidak di dalam roh.

Supaya dapat melihat sesuatu, kita perlu kedudukan yang benar dengan sudut yang tepat, dan juga kemampuan untuk melihat. Sebelum Yohanes melihat tujuh kaki dian emas, dia mendengar satu suara yang nyaring dan dia berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadanya (1:10, 12). Saya harap banyak orang di denominasi yang membaca berita-berita pelajaran-hayat ini, akan mendengar satu suara yang nyaring dan mereka berpaling untuk melihat. Tetapi, meskipun banyak yang telah mendengar suara itu, mereka tidak mau berpaling. Kalaupun mereka mau berpaling untuk melihat suara itu, mereka kurang mampu melihatnya. Banyak penginjil dari denominasi mempunyai katarak pada mata rohani mereka. Mereka perlu seorang ahli bedah mata untuk menyingkirkan katarak itu, sehingga mereka dapat melihat visi tentang gereja. Bila kita mempunyai posisi yang tepat dengan sudut yang benar dan kemampuan untuk melihat, kita dapat melihat visi tentang tujuh kaki pelita emas. Inilah keadaan Yohanes di pulau Patmos. Karena dia berada pada posisi yang tepat dan karena dia berada di dalam roh, maka dia melihat tujuh kaki pelita emas, begitu dia berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadanya itu.

Prinsipnya sama dengan melihat Yerusalem Baru. Dalam 21:10 Yohanes memberi tahu kita bahwa seorang malaikat membawanya pergi ketika ia berada di dalam roh. Jangan memandang rendah roh Anda; ia mampu melihat Yerusalem Baru. Frasa “di dalam roh” digunakan empat kali dalam Kitab Wahyu (1:10; 4:2; 17:3; 21:10). Setiap kali frasa ini digunakan, ia menerangkan salah satu dari empat visi utama yang menyusun kitab ini. Visi-visi ini adalah visi gereja, visi penghakiman atas dunia, visi Babilon Besar, dan visi Yerusalem Baru. Empat visi ini adalah dua grup. Gereja dan dunia adalah grup pertama, Babilon Besar dan Yerusalem Baru adalah yang kedua. Dunia bertentangan dengan gereja, dan Babilon Besar bertentangan dengan Yerusalem Baru. Seluruh Kitab Wahyu tersusun dari gereja, dunia, Babilon, dan Yerusalem Baru. Setiap kali Yohanes melihat salah satu dari visi-visi ini, dia pasti berada di dalam roh. Di dalam roh, Yohanes melihat gereja-gereja; di dalam roh, dia melihat nasib dunia; di dalam roh, dia melihat Babilon Besar; dan di dalam roh, dia melihat Yerusalem Baru. Saya dapat bersaksi bahwa sekarang pun di hadapan saya ada satu visi yang jelas tentang empat hal ini. Dalam pasal pertama saya melihat tujuh gereja dan dalam pasal terakhir, saya melihat Yerusalem Baru. Di antara pasal-pasal itu, sa-ya melihat dunia dan Babilon Besar.

Jika Anda ingin melihat visi-visi ini, Anda harus di dalam roh. Jangan melatih pikiran Anda untuk berpikir tentang situasi. Sebaliknya, berpalinglah ke roh dan tinggallah di sana. Jika Anda melatih pikiran Anda dan tidak tinggal tetap di dalam roh, keempat visi ini akan lenyap dari pandangan Anda. Jika kita tinggal di dalam pikiran kita, kita mungkin mengira situasi dunia ini tidak seburuk itu. Tetapi jika kita berpaling ke roh kita dan tinggal tetap di sana, menyeru nama Tuhan Yesus, kita akan dengan jelas melihat tujuh kaki pelita dan fakta bahwa seluruh dunia berada di bawah penghakiman Allah. Semakin lama kita tinggal di dalam roh bersekutu dengan Tuhan, kita akan semakin jelas mengenai situasi dunia. Selanjutnya, kita dapat melihat pelacur itu dan tahu bahwa nasibnya adalah untuk dimusnahkan. Mungkin kita tidak dapat mengerti keseluruhannya atau tidak dapat menerangkannya kepada orang lain, namun kita sendiri telah melihatnya. Kita juga dapat melihat Yerusalem Baru, beserta semua rinciannya, seperti dua belas pintu gerbang dan jalan emas.

Keperluan kita hari ini adalah visi, bukan pengertian. Apa gunanya mengerti kota Anaheim jika Anda tidak pernah melihatnya? Menurut Kitab Wahyu, Rasul Yohanes melihat banyak hal, termasuk Yerusalem Baru. Jadi, Kitab Wahyu yang ditulisnya ini bukanlah sebuah ceramah atau sebuah khotbah, melainkan sebuah gambaran dan pengumuman tentang apa yang dilihatnya. Yohanes mengelilingi alam semesta. Setelah perjalanannya, dia seolah-olah berkata, “Oh, aku telah melihat Iblis dilemparkan ke dalam lautan api dan aku telah melihat Yerusalem Baru!” Kita semua perlu kembali ke dalam roh kita dan melakukan perjalanan keliling semacam itu. Setelah Anda melihat Yerusalem Baru, Anda tidak akan dapat menyangkal fakta yang telah Anda lihat itu.

B. Ke Atas Sebuah Gunung yang Besar dan Tinggi

Ketika Yohanes melihat Yerusalem Baru, dia berada di dalam roh dan juga dibawa ke sebuah gunung yang besar dan tinggi. Gunung yang besar dan tinggi berlawanan dengan padang gurun dalam 17:3. Untuk melihat Babilon, pelacur besar, Yohanes dibawa ke padang gurun. Untuk melihat pengantin perempuan, Yerusalem Baru, dia dibawa ke gunung yang besar dan tinggi. Kita perlu diangkat ke gunung yang tinggi agar kita dapat melihat tempat kediaman Allah bagi penggenapan tujuan kekal-Nya. Agar dapat melihat gereja-gereja, Yohanes cukup berada di pulau Patmos. Tetapi Yerusalem Baru jauh lebih tinggi daripada gereja-gereja, dan agar dapat melihatnya, Yohanes harus dibawa ke sebuah gunung yang tinggi. Yerusalem Baru adalah sebuah kota gunung, dan kita harus berada di atas sebuah gunung agar dapat melihatnya. Kita perlu berada di dalam roh dan naik ke gunung yang tinggi. Inilah cara untuk melihat visi Yerusalem Baru.

Kita juga perlu mengetahui apakah Yerusalem Baru itu. Yerusalem Baru adalah perampungan sempurna dari pekerjaan pembangunan Allah sepanjang abad. Dimulai dari Adam dan berlanjut selama hampir 60 abad, Allah telah melakukan banyak pekerjaan pembangunan. Hasil pekerjaan ini adalah Yerusalem Baru, tempat kediaman kekal Allah.

Kita telah nampak bahwa dari Adam sampai akhir Kerajaan Seribu Tahun dibagi dalam empat zaman: zaman nenek moyang, dari Adam sampai Musa; zaman hukum Taurat, dari Musa sampai Kristus; zaman anugerah, dari kedatangan Kristus kali pertama sampai pemulihan segala sesuatu pada kedatangan Kristus kali kedua; dan zaman kerajaan, dari kedatangan Kristus kali kedua sampai akhir Kerajaan Seribu Tahun. Selama zaman-zaman itu, Allah telah melaksanakan pekerjaan pembangunan-Nya, dan akan terus melanjutkannya. Namun, banyak orang Kristen justru tidak memperhatikan pembangunan Allah; mereka hanya memperhatikan agama manusia. Puji Tuhan, kita telah diselamatkan dari situasi yang kasihan itu! Sekarang kita tidak di dalam agama, kita berada di dalam pembangunan Allah. Pada masa kini, pembangunan itu adalah gereja, dan pada masa kekekalan adalah Yerusalem Baru. Kita berada di dalam gereja dan kita sedang menuju Yerusalem Baru. Syukur kepada Tuhan bahwa kita mempunyai penampakan yang demikian jelas tentang Yerusalem Baru, tujuan akhir kita.

II. DALAM LANGIT BARU DAN BUMI BARU

Dalam ayat 2 Yohanes berkata, “Aku juga melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.” Yerusalem Baru adalah susunan hidup dari semua orang kudus tebusan Allah sepajang zaman. Dia adalah pengantin perempuan Kristus, menjadi pasangan-Nya (Yoh. 3:29); juga kota kudus Allah, menjadi tempat tinggal-Nya, kemah-Nya (ayat 3). Inilah Yerusalem surgawi (Ibr. 12:22) yang Allah siapkan bagi kita dan yang dirindukan oleh Abraham, Ishak, dan Yakub (Ibr. 11:10, 16). Ia juga adalah Yerusalem yang di atas dan yang adalah ibu kita (Gal. 4:26).

Yerusalem Baru ini akan turun dari surga ke bumi. Ayat 2 dan 10 mengatakan bahwa Yerusalem baru “turun dari surga, dari Allah”. Allah tidaklah bermaksud memiliki sebuah tempat tinggal yang kekal di surga; Dia bermaksud tinggal di bumi. Agama bermimpi pergi ke surga, namun Allah bermaksud turun ke bumi. Hari ini pun, kediaman Allah yang terbaik bukanlah surga, melainkan gereja di bumi. Hari ini Allah mempunyai dua tempat kediaman: surga dan gereja. Allah berhuni di surga dengan malaikat-malaikat-Nya, dan Dia juga berhuni di bumi dengan anak-anak-Nya. Jika Anda seorang Bapa, Anda lebih senang ting-gal dengan malaikat-malaikat — pelayan-pelayan atau dengan anak-anak Anda? Jika pelayan-pelayan tinggal di sebuah gedung dan anak-anak tinggal di gubuk kecil, Anda lebih senang tinggal di gedung atau di gubuk? Tentu saja Anda akan lebih senang tinggal di gubuk bersama anak-anak Anda. Demikian juga Allah. Betapa Dia ingin berhuni di dalam gereja! Meskipun penampilan gereja tidak mengagumkan atau megah, anak-anak Allah ada di sana, dan Allah merasa nikmat dengan mereka. Akhirnya, “gubuk” yang kecil dari gereja akan diubah menjadi Yerusalem Baru, yang akan jauh lebih bagus daripada gedung mana pun.

Yerusalem Baru adalah sebuah kota yang sangat luas, panjangnya, lebarnya, dan tingginya 12.000 stadia (ayat 16 Tl.). Dua belas ribu stadia kira-kira 1360 mil (2176 km), jarak dari San Diego ke Seattle. Jarak dari pantai timur ke pantai barat Amerika Serikat kira-kira 3000 mil. Jadi, panjang Yerusalem Baru hampir separuh Amerika Serikat. Satu kota yang hebat sekali! Tingginya sekitar 7 juta kaki (2100 km). Kota ini, yang jauh lebih ajaib dari yang dapat kita bayangkan, sesungguhnya akan turun dari surga ke bumi. Tentu saja bumi pada waktu itu adalah bumi baru (ayat 1, 24, 26).

III. KOTA KUDUS

Yerusalem Baru adalah kota kudus (ayat 2, 10). Sebagai kota kudus Allah, Yerusalem Baru adalah kudus, suci, tersisih mutlak bagi Allah, dan dijenuhi dengan sifat kudus Allah untuk menjadi tempat kediaman-Nya. Kota kudus ini sepenuhnya diresapi dan berbaur dengan Allah. Kota besar ini, yang lebih dari 1360 mil panjang, lebar dan tingginya, akan tersisih sama sekali untuk Allah dan diresapi dengan Dia. Suatu hari, kita dengan riil akan ada di sana. Hari ini kita melihat Yerusalem Baru dalam sebuah visi, tetapi kelak kita akan ada di dalamnya. Betapa gembiranya kita! Tentu, kita akan mengingat kembali visi yang kita lihat sewaktu kita masih di bumi.

IV. PENGANTIN PEREMPUAN KRISTUS

Ayat 2 mengatakan bahwa Yerusalem baru “berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suami-nya”, dan dalam ayat 9 salah seorang malaikat berkata, “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.” Dalam Perjanjian Lama dan Baru, Allah mengumpamakan umat pilihan-Nya dengan seorang istri (Yes. 54:6; Yer. 3:1; Yeh. 16:8; Hos. 2:19; 2 Kor. 11:2; Ef. 5:31-32). Istri adalah untuk kepuasan Allah di dalam kasih. Sebagai Pengantin Perempuan Kristus, Yerusalem Baru berasal dari Kristus, suaminya, dan men-jadi pasangan-Nya; sebagaimana Hawa berasal dari Adam, suaminya, dan menjadi pasangannya (Kej. 2:21-24). Dia dipersiapkan melalui mengambil bagian dalam kekayaan hayat dan sifat Kristus.

Ayat 9 membicarakan pengantin perempuan dan istri. Pengantin perempuan terutama adalah untuk hari pernikahan, sedangkan istri adalah untuk seumur hidup. Yerusalem Baru akan menjadi pengantin perempuan dalam Kerajaan Seribu Tahun selama seribu tahun, yang seperti satu hari (2 Ptr. 3:8); dan akan menjadi istri dalam langit baru dan bumi baru untuk selama-lamanya, dari zaman ke zaman, tanpa akhir. Pengantin perempuan dalam zaman kerajaan hanya mencakup para pemenang (3:12; 19:7-9), tetapi istri dalam kekekalan mencakup seluruh umat tebusan Allah (21:9).

Karena Yerusalem Baru adalah pengantin perempuan, kita tidak sepatutnya mengganggapnya sebuah kota materi. Tidak mungkin suatu benda materi menjadi pengantin perempuan. Allah tidak pernah menikah dengan suatu benda. Dia akan menikah hanya dengan sesuatu yang hidup. Pengantin perempuan tersusun dari seluruh kaum saleh yang ditebus, dilahirkan kembali, dan diubah oleh Allah. Dalam Yerusalem Baru tidak akan ada kayu, batu bata, atau debu. Sebaliknya akan ada emas, mutiara, dan batu permata yang telah diubah.

V. KEMAH ALLAH

Ayat 3 mengatakan, “Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata, ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.” Dalam Perjanjian Lama dan Baru, Allah juga mengumpamakan umat pilihan-Nya sebagai tempat kediaman bagi diri-Nya (Kel. 29:45-46; Bil. 5:3; Yeh. 43:7, 9; Mzm. 68:19; 1 Kor. 3:16-17; 6:19; 2 Kor. 6:16; 1 Tim. 3:15). Pasangan (jodoh) adalah untuk kepuasan Allah dalam kasih; tempat kediaman adalah untuk perhentian Allah dalam ekspresi. Kedua aspek ini akan rampung sempurna dalam Yerusalem Baru. Di dalamnya, Allah akan mendapatkan kepuasan yang paling penuh dalam kasih dan perhentian yang paling nyaman dalam ekspresi, sampai kekal. Sebagai tempat tinggal Allah, Yerusalem Baru adalah kemah Allah bersama manusia sampai kekal. Ia adalah tempat tinggal Allah di antara manusia — bangsa-bangsa untuk mengekspresikan Dia. Kemah yang dibuat oleh Musa adalah lambang dari kemah ini (Kel. 25:8-9, Im. 26:11). Lambang ini pertama-tama digenapi dalam Kristus sebagai kemah Allah di tengah-tengah manusia (Yoh. 1:14), dan akhirnya akan digenapi sepenuhnya dalam Yerusalem Baru, yang adalah perluasan Kristus sebagai tempat tinggal Allah. Kemah ini juga adalah tempat tinggal kekal umat tebusan Allah. Allah akan menaungi kita dengan Kristus. Jadi, Yerusalem Baru adalah tempat tinggal bersama bagi Allah dan kita.

Tempat tinggal seseorang mengekspresikan orang itu sendiri. Tidak ada tempat lain yang dapat mengekspresikan sepenuhnya diri kita selain tempat tinggal kita. Jika Anda ingin mengenal seseorang, kunjungilah rumahnya. Jika rumahnya tidak rapi, tahulah Anda bahwa orang itu bukanlah orang yang rapi. Tetapi jika rumahnya sangat rapi, bersih dan teratur, Anda tahu orang macam apa yang tinggal di sana. Seandainya saya suatu pagi mengunjungi rumah Anda, dan mendapati tempat tidur Anda tidak rapi. Tidak peduli berapa banyak ceramah Anda kepada saya tentang kerajinan dan kerapian, dari tempat tidur Anda yang tidak rapi itu saya tahu bahwa Anda adalah orang yang malas. Sebagaimana rumah kita mengekspresikan kita, maka Yerusalem Baru, kemah Allah, akan mengeks-presikan Dia. Setiap bagian kota ini dibangun dengan rapi, bersih, dan tepat. Setiap aspeknya mengekspresikan Allah. Hari ini gereja sebagai tempat tinggal Allah juga adalah ekspresi-Nya. Gereja adalah untuk kepuasan Kristus dan untuk tempat tinggal Allah. Di dalam gereja, miniatur Yerusalem Baru yang akan datang, Kristus dipuaskan dan Allah diekspresikan.

Umat manusia yang dipulihkan, bangsa-bangsa, akan hidup di sekeliling Yerusalem Baru sebagai kemah Allah, dan mereka akan menikmati Allah di sana.

VI. FIRDAUS ALLAH

Yerusalem Baru juga adalah firdaus Allah. Menurut Alkitab, firdaus bukan hanya satu. Banyak orang Kristen menganggap taman Eden sebagai Firdaus (Kej. 2:8). Tetapi Alkitab tidak menyebut Taman Eden sebagai Firdaus. Jadi, dalam Alkitab hanya ada dua Firdaus, Firdaus yang disebut oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 23:43 dan Yerusalem Baru.

Kepada penyamun yang memohon Tuhan mengingatnya ketika Tuhan datang sebagai Raja, Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). Kita perlu mempelajari sejumlah ayat-ayat yang lain, baru dapat menentukan tempat Firdaus ini. Lukas 23:43 mewahyukan bahwa segera setelah kematian-Nya, Tuhan Yesus pergi ke Firdaus. Kisah Para Rasul 2:27 dan 31 mewahyukan bahwa setelah Tuhan Yesus mati, Dia pergi ke alam maut, dan Matius 12:40 menyatakan bahwa alam maut ada di dalam “rahim bumi”. Ke sanalah Tuhan Yesus pergi selama 3 hari dan 3 malam setelah kematian-Nya. Dalam alam maut ada satu bagian yang menyenangkan yang disamakan dengan pangkuan Abraham, tempat Lazarus pergi (Luk. 16:23). Jadi, Firdaus yang disebutkan oleh Tuhan dalam Lukas 23:43 adalah bagian yang menyenangkan dari alam maut. Menurut firman Tuhan dalam Lukas 16, ada 2 bagian dalam alam maut, dan di antara bagian-bagian itu ada satu jurang yang lebar. Ketika Lazarus mati, dia pergi ke bagian yang menyenangkan dari alam maut ini, tempat Abraham berada. Tetapi ketika hartawan itu mati, dia pergi ke bagian yang menderita.

Beberapa guru Kristen, seperti Dr. Scofield, percaya bahwa pada saat kebangkitan Kristus, bagian alam maut yang menyenangkan itu dipindahkan ke langit ketiga. Alkiab Referensi Scofield mencantumkan keterangan dari Lukas 16:23 tentang hal ini. 2 Korintus 12:2-4 juga dipakai sebagai dasar untuk berkata demikian. Beberapa orang menafsirkan perkataan Paulus dalam ayat-ayat ini berarti Firdaus yang sekarang ada di langit ketiga. Tetapi, jika Anda membaca bagian firman ini dengan cermat menurut teks bahasa Yunaninya, Anda akan nampak bahwa hal itu membuktikan yang sebaliknya. Dalam pasal ini Paulus memper-saksikan bahwa dia telah menerima satu visi yang lengkap tentang alam semesta, yang dibagi menjadi 3 bagian: langit, bumi, dan wilayah di bawah bumi (lihat Flp. 2:10). Paulus telah mengetahui hal-hal di bumi, hal-hal di surga, dan hal-hal di Firdaus. Inilah pengertian yang tepat tentang 2 Korintus 12:2-4 (lihat berita 20). Firdaus, bagian yang menyenangkan dari alam maut, masih di dalam alam maut, di bawah bumi.

Juga ada pengajaran yang mengatakan bahwa kaum saleh Perjanjian Lama di dalam Firdaus akan dipindahkan ke surga pada hari kebangkitan Kristus, itu tidak tepat. Pada hari Pentakosta, lima puluh hari setelah kebangkitan Tuhan, Petrus berkata, “Daud tidak naik ke surga” (Kis. 2:34). Bahkan pada waktu itu, Daud masih belum di surga. Jadi, pengajaran tradisional mengenai masalah ini tidaklah tepat, tidak dapat dipercaya. Menurut firman yang tepat dalam Alkitab, ada satu bagian yang menyenangkan dalam alam maut, yang disebut Firdaus, tempat roh-roh dan jiwa-jiwa yang tidak bertubuh dari orang yang diselamatkan pada waktu sekarang ini berada, menunggu waktu kebangkitan. Pada prinsipnya, jiwa yang tidak bertubuh berarti telan-jang, dan tidak ada orang yang telanjang dapat datang ke hadirat Allah. Jadi, roh-roh dan jiwa-jiwa kaum saleh yang meninggal yang ada di bagian yang menyenangkan dari alam maut, menunggu hari kebangkitan supaya mereka dapat mengenakan satu tubuh kebangkitan yang mulia dan ber-pakaian kembali.

Yerusalem Baru sebagai Firdaus Allah berbeda dengan Firdaus dalam alam maut. Firdaus Yerusalem Baru adalah yang kekal, jauh lebih unggul daripada Firdaus dalam alam maut, yang hanya sebuah tempat sementara. Firdaus Allah di Yerusalem Baru adalah pahala bagi para pemenang dalam zaman kerajaan (2:7), dan satu bagian yang umum bagi seluruh umat tebusan Allah dalam kekekalan (21:7). Seluruh kaum saleh yang mati akan dibangkitkan, akan mengenakan satu tubuh kebangkitan, dan akhirnya akan masuk ke dalam Yerusalem Baru, yang adalah Firdaus mereka.