← Daftar isi Wahyu (3) · bab 8/18

LANGIT BARU DAN BUMI BARU

Setiap kali kita membaca Alkitab sampai pada Wahyu 21 dan 22, kita segera merasa bahwa kita memasuki satu kawasan yang lain. Karena dalam dua pasal ini, alam semesta telah diperbarui. Tidak hanya kaum beriman di dalam Kristus, tetapi juga langit dan bumi telah diperbarui. Dalam berita ini kita akan membahas langit baru dan bumi baru (21:1-8).

I. EMPAT ZAMAN DALAM

LANGIT LAMA DAN BUMI LAMA

Karena zaman Allah belum genap sebelum pasal 21, maka langit baru dan bumi baru belum muncul pada saat itu. Sebelum akhir pasal 20, pekerjaan penanggulangan Allah terhadap ciptaan-Nya belumlah genap. Kedatangan langit baru dan bumi baru dalam 21:1 menyatakan bahwa zaman Allah telah lengkap.

Dalam kekekalan yang lampau Allah menetapkan untuk memiliki satu ekspresi yang korporat agar diri-Nya mendapatkan ekspresi dan kemuliaan yang sepenuhnya (Ef. 3:9-11; 1:9-11). Karena itu, Dia menciptakan langit, bumi, dan umat manusia. Sejak penciptaan manusia, telah ada empat zaman: zaman nenek moyang (sebelum hukum Taurat), dari Adam sampai Musa (Rm. 5:14); zaman Hukum Taurat, dari Musa sampai Kristus (Yoh. 1:17); zaman anugerah, dari kedatangan kali pertama Kristus sampai “pemulihan segala sesuatu” pada kedatangan Kristus kali kedua (Kis. 3:20-21); dan zaman kerajaan, dari kedatangan Kristus kali kedua sampai akhir Kerajaan Seribu Tahun (Why. 11:15; 20:4, 6). Allah telah memakai keempat zaman ini untuk menggenapkan tujuan-Nya dengan menyempurnakan dan melengkapi umat pilihan-Nya, sehingga mereka dapat menjadi ekspresi korporat-Nya yang kekal. Keempat zaman ini adalah milik langit lama dan bumi lama. Meskipun zaman kerajaan adalah zaman pemulihan, tetapi masih terjadi dalam langit lama dan bumi lama, karena pekerjaan penyempurnaan dan pelengkapan Allah dalam umat pilihan-Nya baru selesai pada akhir zaman itu. Ketika Allah melalui zaman kerajaan menyelesaikan pekerjaan ini, langit lama dan bumi lama akan lenyap oleh api dan dibarui menjadi langit baru dan bumi baru (2 Ptr. 3:10-13), di mana Yerusalem Baru akan datang sebagai ekspresi kekal Allah.

A. Zaman Nenek Moyang

Mari kita melihat keempat zaman ini dengan lebih terinci. Banyak pengajar Alkitab mengatakan bahwa dari Adam sampai akhir seribu tahun ada tujuh zaman. Saya juga setuju dengan pendapat itu. Tetapi, ketujuh zaman itu sebenarnya adalah rekaan manusia. Menurut Alkitab, tidak ada tujuh zaman dari Adam sampai akhir Kerajaan Seribu Tahun; hanya ada empat. Zaman pertama adalah dari Adam sampai Musa (Rm. 5:14). Inilah penyebutan zaman pertama secara alkitabiah. Ada orang membagi zaman pertama ini ke dalam berbagai zaman yang lain: zaman tanpa dosa, zaman hati nurani, zaman pemerintahan manusia, dan zaman janji. Tetapi semua itu harus dianggap sebagai bagian dari satu zaman, bukan sebagai empat zaman yang berbeda. Dalam setiap zaman, ada orang-orang tertentu yang diperlengkapi oleh Allah. Dalam zaman pertama, nenek moyang dilengkapi. Mereka dilambangkan dengan bintang-bin-tang dari mahkota di atas kepala wanita universal yang terang (12:1).

B. Zaman Hukum Taurat

Zaman yang kedua, dari Musa sampai Kristus, adalah zaman hukum Taurat. “Sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus” (Yoh. 1:17). Pada zaman hukum Taurat, Allah menghasilkan kaum saleh Perjanjian Lama dan menyempurnakan beberapa orang dari mereka, seperti Musa, Yosua, Harun, Samuel, Daud, dan nabi-nabi. Kaum saleh ini dilambangkan dengan bulan di bawah kaki perempuan cemerlang dalam Wahyu 12.

C. Zaman Anugerah

Zaman yang ketiga, dari kedatangan kali pertama Kristus sampai pemulihan segala sesuatu pada kedatangan Kristus kali kedua (Kis. 3:20-21), adalah zaman anugerah. Pada zaman ini Allah menghasilkan kaum beriman Perjanjian Baru dan menyempurnakan banyak orang dari antara mereka. Mereka dilambangkan oleh matahari yang menyelubungi perempuan itu. Karena itu, dalam tiga zaman yang pertama, Allah memperlengkapi para nenek moyang, kaum saleh Perjanjian Lama, dan kaum beriman Perjanjian Baru.

D. Zaman Kerajaan

Zaman keempat adalah zaman kerajaan, zaman pemu-lihan. Zaman ini akan dimulai pada kedatangan Kristus kali kedua dan berakhir pada akhir Kerajaan Seribu Tahun (11:15; 20:4, 6). Selama zaman kerajaan, Allah akan memperlengkapi sisa bani Israel dan kaum beriman yang belum matang. Allah itu penuh hikmat. Pada zaman yang kedua, zaman hukum Taurat, Dia tidak merampungkan perlengkapan atas bani Israel, karena mereka tidak memberi-Nya kesempatan untuk melakukan hal itu. Mereka tidak membiarkan Allah memperlengkapi mereka. Sebab itulah, Allah menunda perlengkapan atas bani Israel sampai zaman keempat. Pada waktu itu perlengkapan itu akan dirampung-kan sepenuhnya. Selama zaman kerajaan, Allah juga akan memperlengkapi orang-orang Kristen yang belum matang. Banyak orang Kristen tidak membiarkan Allah memperlengkapi mereka selama zaman anugerah. Karena itu, Tuhan terpaksa menunda perlengkapan atas mereka sampai zaman berikutnya. Jadi dalam zaman kerajaan masih ada satu pekerjaan yaitu memperlengkapi bani Israel dan orang-orang Kristen yang belum matang.

Menurut Alkitab, ada empat zaman dalam alam semesta lama. Setelah zaman tersebut, perlengkapan atas umat Allah akan diselesaikan seluruhnya, dan Allah akan mempunyai satu perempuan universal yang sempurna dan lengkap, Yerusalem Baru. Sungguh jelas kita nampak zaman-zaman itu!

II. BERLALUNYA

LANGIT LAMA DAN BUMI LAMA

Setelah empat zaman ini, yaitu setelah pelengkapan mutlak atas umat Allah, Allah tidak lagi memakai langit lama dan bumi lama. Pada waktu itu, ciptaan lama akan berlalu. Allah memakai banyak hal untuk memperlengkapi umat-Nya, antara lain: Iblis, Antikristus, nabi palsu, kelemahan, kesukaran, dan berbagai kesulitan yang lain. Setelah kita diperlengkapi, Allah tidak perlu lagi hal-hal negatif dari ciptaan lama; karena itu, Dia dapat berkata, “Iblis, Aku tidak memerlukan kamu lagi. Pergilah ke lautan api! Penyakit, penderitaan dan air mata, karena umat-Ku telah diperlengkapi, Aku tidak memerlukan kalian juga. Aku tidak memerlukan sesuatu yang lama! Aku tidak memerlukan langit lama dan Aku tidak memerlukan bumi lama! Semua hal yang lama dan yang negatif adalah sarana yang Ku pakai untuk memperlengkapi umat-Ku. Sekarang, setelah umat-Ku diperlengkapi, semua hal itu harus dimasukkan ke dalam “tong sampah” alam semesta, lautan api!”

Pada waktu membangun balai sidang di Anaheim, kami memakai bermacam-macam perkakas. Ketika saya ingin membuang beberapa perkakas bekas, saudara-saudara mencegah saya, karena perkakas-perkakas itu masih akan dipakai lagi. Dengan tidak senang, saya setuju untuk menyimpannya. Suatu hari, bangunan itu selesai, dan semua perkakas lama itu pun dibuang ke dalam tong sampah. Demikian juga, ketika umat Allah telah diperlengkapi seluruhnya, Dia tidak lagi memakai langit lama dan bumi lama. Karena itu, pada waktu itu, langit lama dan bumi lama akan berlalu, sedang langit baru dan bumi baru akan datang. Allah akan berkata kepada ciptaan lama, “Umat-Ku telah diperlengkapi. Karena mereka semua telah matang, kamu tidak perlu tinggal lebih lama lagi.” Dengan demikian, langit lama dan bumi lama akan dilenyapkan.

A. Dibakar Untuk Menjadi

Langit Baru dan Bumi Baru

Ada satu aspek pelenyapan langit lama dan bumi lama yang sulit saya jelaskan. Menurut Ibrani 1:11-12, bumi dan langit akan “menjadi usang seperti pakaian”, dan Tuhan “menggulungnya” dan melenyapkannya. Tetapi 2 Petrus 3:10-13 menyatakan bahwa langit dan bumi akan dibakar. Menurut ayat-ayat itu, unsur-unsur bumi akan terbakar dan lebur. Langit lama dan bumi lama akan digulung atau dibakar? Mungkin akan digulung dahulu, lalu dibakar.

Pertanyaan lainnya ialah mengenai bangsa-bangsa di bumi pada akhir Kerajaan Seribu Tahun. Ketika Allah meng-gulung bumi dan membakarnya, di manakah bangsa-bangsa itu? Saya tidak dapat menjawab pertanyaan ini. Pikiran saya, seperti pikiran Anda, terlalu dangkal untuk mengetahui jawaban pertanyaan semacam itu. Ada hal-hal tertentu yang sama sekali tidak dapat kita jelaskan. Contohnya, pemunculan Kristus yang bangkit kepada murid-murid-Nya pada malam kebangkitan-Nya (Yoh. 20:19). Murid-murid di dalam ruangan, dan semua pintu ditutup. Tiba-tiba, Tuhan Yesus muncul di dalam ruangan itu dengan tubuh jasmani yang dapat dijamah. Bagaimana Dia bisa ada di sana? Selanjutnya, bekas paku masih ada pada tubuh Tuhan. Mengapa tubuh kebangkitan-Nya masih ada bekas paku? Sebagaimana kita tidak dapat menjelaskan hal itu, kita pun tidak dapat menjelaskan berbagai masalah yang berhu-bungan dengan pemusnahan langit lama dan bumi lama. Namun, menurut Alkitab, suatu saat langit lama dan bumi lama akan digulung dan dibakar.

Langit lama dan bumi lama sesungguhnya akan dibakar untuk menjadi langit baru dan bumi baru. Dengan dibakar, langit lama dan bumi lama akan dibarui. Seperti kita telah dibarui, langit dan bumi juga akan dibarui. Kita adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17). Fakta bahwa akan ada satu ciptaan baru tidak berarti Allah akan menciptakan lagi sesuatu dari yang tidak ada, melainkan ini berarti ciptaan lama akan dibarui sehingga menjadi ciptaan baru. Tetapi, saya tidak dapat menjelaskan bagaimana Allah melakukan ini. Hanya, kita harus percaya pada kedaulatan Allah.

Banyak ilmuwan tidak percaya bahwa Allah mencipta-kan segala sesuatu. Mereka mengatakan, “Bagaimana Allah dapat hanya dengan mengatakan sepatah kata menyebabkan sesuatu menjadi ada?” Tetapi Alkitab mengatakan bahwa Allah “menjadikan yang tidak ada menjadi ada” (Rm. 4:17) dan bahwa “alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kelihatan telah jadi dari apa yang tidak kelihatan” (Ibr. 11:3). Allah adalah Allah Pencipta. Sebagai Allah Pencipta, Dia tidak perlu bahan apa pun; Dia dapat menciptakan sesuatu dari yang tidak ada. Demikian juga, Allah mempunyai satu cara untuk membuat langit baru dan bumi baru. Akhirnya, tidak hanya kita, umat Allah yang telah dilahirkan kembali, menjadi ciptaan baru; alam semesta pun dibarui dan menjadi ciptaan baru. Seperti yang telah kita lihat, hal ini akan terjadi setelah Allah menyelesaikan penyempurnaan umat-Nya. Segala sesuatu sedang menunggu kita disempurnakan.

Tidak banyak orang Kristen yang memperhatikan ma-salah penyempurnaan dalam hayat. Tetapi di bawah terang Allah, kita telah melihat bahwa tanpa kita disempurnakan dalam hayat, Allah tidak mempunyai jalan untuk menggenapkan rencana kekal-Nya. Jika hari ini Anda tidak mengizinkan Dia menyempurnakan Anda, Dia akan sabar dan menunggu sampai zaman berikutnya, zaman kerajaan, untuk menggenapkan pekerjaan-Nya atas diri Anda. Jangan mengira, ketika Anda mati, semua masalah Anda secara otomatis akan beres. Jika Anda mempunyai masalah-masalah ketika Anda mati, Anda pun akan mempunyai masalah-masalah yang sama ketika Anda bangkit. Anda akan sangat terkejut dan berkata, “Oh, masalah-masalah! Aku kira dengan mengalami kematian aku telah terlepas dari mu. Sekarang, setelah aku dibangkitkan, aku harus menghadapimu lagi.” Itu benar. Kita semua harus menyelesaikan pelajaran kita; kalau tidak, kita tidak dapat lulus. Namun banyak orang Kristen masih salah mengira bahwa dengan kematian mereka akan dilepaskan dari masalah-masalah mereka. Yang benar ialah begitu Anda mati, Anda kehilangan kesempatan disempurnakan dalam zaman ini, dan Anda akan disempurnakan dalam zaman yang akan datang. Kita semua harus berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku ingin disempurnakan sebelum aku mati. Jangan biarkan aku mati tanpa disempurnakan. Jika aku mati tanpa disempurnakan, aku tahu, aku akan disempurnakan pada zaman yang akan datang. Tuhan, berilah aku umur di bumi ini, dan berilah aku belas kasihan dan anugerah, agar aku dapat memberi-Mu kebebasan mutlak untuk melakukan segala sesuatu yang perlu untuk menyempurnakanku hari ini.” Kita harus bertekad untuk disempurnakan sebelum kita mati; kita harus memberi Tuhan kebebasan penuh untuk menyempurnakan kita hari ini. Ini adalah perkara yang sangat penting.

Menurut visi yang jelas dalam seluruh Alkitab, kita tidak hanya perlu ditebus, diampuni dan dilahirkan kebali; kita juga sangat perlu disempurnakan. Kita perlu di-bawa sampai ke kedewasaan. Jika kita tidak diperlengkapi, disempurnakan dan dimatangkan pada zaman ini, kita akan ditanggulangi pada zaman berikutnya sampai kita matang. Penundaan penyempurnaan ini akan sangat tidak menyenangkan. Kita semua perlu meletakkan diri kita di dalam tangan Tuhan agar kita dapat disempurnakan hari ini. Dalam berbagai situasi, jangan menyalahkan siapa pun atau apa pun. Sebaliknya, Anda harus berkata, “Tuhan, terima kasih atas situasi ini. Ini adalah alat-Mu dan cara-Mu untuk menyempurnakan aku. Tuhan, terima kasih atas istri dan anak-anak yang baik yang telah Engkau berikan kepadaku. Mereka menolongku untuk matang. Tuhan, aku juga berterima kasih atas saudara dan saudari yang antik, aneh, dan menyulitkan di sekelilingku setiap hari dalam hidup gereja. O Tuhan, aku tahu tujuan-Mu. Semua situasi ini, semua saudara dan saudari ini, menolongku untuk disempur-nakan. Tuhan, betapa aku berterima kasih kepada-Mu!”

Hanya ada satu tempat yang memungkinkan kita disempurnakan hari ini, dan tempat itu adalah hidup gereja. Dalam kelompok-kelompok kekristenan, jika Anda tidak puas dengan yang ada di sekeliling Anda, Anda boleh dengan mudah meninggalkannya dan pergi ke tempat lain. Tetapi, sekali kita benar-benar telah masuk ke dalam hidup gereja, tidak ada pintu keluar, tidak ada tangga darurat, tidak ada jalan keluar. Kita harus tinggal di sini dan dibakar serta ditanggulangi bagi penyempurnaan kita. Puji Tuhan, kita dapat disempurnakan pada zaman ini!

Setiap perceraian adalah satu pelarian dari batasan kehidupan pernikahan. Bila orang-orang dunia tidak puas dengan kehidupan pernikahan mereka, mereka dengan mudah bercerai dan melarikan diri dari masalah-masalah mereka. Dengan berbuat begitu, mereka melarikan diri dari penanggulangan, pembakaran, dan penyempurnaan. Tetapi kita, anak-anak Allah, tidak boleh “menceraikan” diri kita dari hidup gereja. Setelah kita masuk ke dalam “pernikahan” hi-dup gereja, kita harus tinggal dalam oven sampai kita terpanggang seluruhnya. Kelak kita tidak perlu lagi oven itu, karena kita telah disempurnakan, dan segala sesuatu telah menjadi baru. Pada waktu itu, semua hal yang usang dari langit pertama dan bumi pertama akan diakhiri. Hari ini kita mempunyai banyak oven — suami atau istri kita, anak-anak kita, dan saudara saudari dalam gereja. Dalam hidup gereja kita saling membakar dan memanggang. Kita baru keluar dari oven ini bila kita telah disempurnakan. Betapa kita bersyukur kepada Tuhan karena Dia memakai hidup gereja untuk menyempurnakan kita di dalam hayat!

B. Tidak Ada Lagi Laut

Ayat 1 juga mengatakan, “Dan laut pun tidak ada lagi.” Laut berasal dari air penghakiman yang digunakan Allah untuk menghakimi dunia sebelum zaman Adam (lihat Pelajaran-Hayat Kejadian berita kedua). Pekerjaan penciptaan kembali Allah adalah memulihkan bumi dengan membatasi akibat air penghakiman (Kej. 1:9-10; Yer. 5:22). Setelah dihakimi dengan air, makhluk-makhluk hidup dari dunia sebelum Adam menjadi penghuni-penghuni laut, roh-roh jahat. Setelah mereka ditanggulangi oleh Kristus dan kaum beriman-Nya (Mat. 8:29-32; Luk. 10:17; Kis. 16:16-18; 19:12) dan laut menyerahkan mereka kepada penghakiman takhta putih besar (20:13), laut tidak diperlukan lagi. Sejak Allah melakukan pekerjaan penciptaan kembali, Allah bermaksud me-lenyapkan laut dengan menanggulangi Iblis dan roh-roh jahatnya. Karena itu, “laut pun tidak ada lagi” menunjukkan bahwa Iblis dan pengikut-pengikutnya yang jahat semua telah ditanggulangi dan tidak akan ditemukan lagi di langit baru dan bumi baru.

III. HAL-HAL YANG DAHULU

TIDAK AKAN DIINGAT LAGI

Yesaya 65:17 mengatakan, “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.” Di sini kita melihat bahwa hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi. Allah memiliki satu ke-mampuan yang besar untuk melupakan.

IV. TINGGAL TETAP SELAMANYA

Langit baru dan bumi baru akan tinggal tetap di hadapan Allah yang kekal, yaitu tinggal tetap selamanya (Yes. 66:22). Tinggal tetap selamanya berarti tinggal tetap sampai kekal.

V. KEBENARAN BERHUNI DALAM

LANGIT BARU DAN BUMI BARU

2Petrus 3:13 mengatakan, “Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” Di sini kita nampak kebenaran akan berhuni di dalam langit baru dan bumi baru. Ini berarti segala sesuatu akan menjadi tepat, wajar, dan cocok. Di sana tidak akan ada lagi perselisihan.

VI. YERUSALEM BARU TURUN KE BUMI BARU

Ayat 2 mengatakan, “Aku juga melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.” Yerusalem Baru akan turun ke bumi baru. Setelah semua orang kudus tebusan Allah diangkat ke surga, mereka akan membentuk Yerusalem Baru, yang turun dari surga, dari Allah. Ini menunjukkan bahwa tem-pat kediaman kita yang kekal bukanlah surga, melainkan Yerusalem Baru di bumi yang baru.

Yerusalem Baru akan turun sebagai mempelai perempuan Kristus. Ini menunjukkan bahwa Yerusalem Baru bukanlah satu kota materi, melainkan satu persona yang korporat, mempelai perempuan. Kota ini juga adalah kemah Allah untuk didiami Allah bersama manusia (ayat 3). Terhadap Kristus, dia adalah pengantin perempuan untuk memuaskan diri-Nya. Terhadap Allah, dia adalah kemah tempat kediaman-Nya dan melaluinya Dia dapat mengekspresikan diri-Nya.

VII. UMAT DI BUMI BARU

Ayat 3 mengatakan, “Lihatlah, kemah Allah ada di te-ngah-tengah manusia dan Ia akan tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.” “Umat” dalam ayat ini adalah “bangsa-bangsa” dalam ayat 24. Pada waktu itu akan ada beberapa macam umat, dan setiap umat korporat adalah satu bangsa di bumi baru. Bangsa yang ada di sekeliling Yerusalem Baru itu akan dipulihkan, tetapi mereka tidak akan dilahirkan kembali. Pada waktu itu, sifat mereka yang suka memberontak akan dibersihkan. Sebagai bangsa-bangsa yang dipulihkan dan dibersihkan, mereka akan hidup di luar Yerusalem Baru dan mereka akan menikmati berkat-berkat umum di langit baru dan bumi baru.

Berkat-berkat yang umum ini disebutkan dalam ayat 4, “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkbungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala se-suatu yang lama itu telah berlalu.” Dalam langit baru dan bumi baru tidak ada lagi air mata, maut, perkabungan, ratap tangis, dan dukacita. Dalam langit baru dan bumi baru akan penuh kepuasan dan perhentian, tidak ada lagi hal-hal yang menyebabkan tangisan. Karena maut akan sepenuhnya tertelan oleh hayat (1 Kor. 15:54) dan akan dilemparkan ke dalam lautan api (20:14), maka dalam langit baru dan bumi baru tidak akan ada lagi maut. Maut akan dilemparkan ke dalam “tong sampah”, lautan api, dan unsur-unsur maut — perkabungan, ratap tangis, dan dukacita — akan dilenyapkan.

VIII. PUTRA-PUTRA ALLAH

DI DALAM YERUSALEM BARU

Ayat 5-7 membicarakan putra-putra Allah dalam keke-kalan. Ayat 7 mengatakan, “Siapa yang menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allah-nya dan ia akan menjadi anak-Ku.” Makna menang di sini berbeda dengan yang terdapat dalam pasal 2 dan 3 yang dipakai sebanyak tujuh kali. Di sini kata ini berarti menang karena percaya, seperti dalam 1 Yohanes 5:4-5. Menang dalam pasal 2 dan 3 membuat kaum beriman pemenang bersyarat untuk mengambil bagian dalam kenikmatan Kerajaan Seribu Tahun sebagai pahala khusus dalam administrasi Allah pada masa itu, sedangkan menang di sini membuat semua orang beriman bersyarat untuk mengambil bagian dalam Yerusalem Baru beserta semua kenikmatannya sebagai bagian bersama keselamatan kekal Allah. “Anak” dalam ayat ini adalah kaum beriman yang akan tinggal di dalam Yerusalem Baru. Anak-anak Allah di dalam Yerusalem Baru adalah unsur penyusun Yerusalem Baru. Mereka adalah kaum beriman yang dilahirkan kembali, yang memiliki hayat ilahi dan sifat ilahi. Yerusalem Baru tersusun dengan orang-orang kudus yang telah dilahirkan dari Allah ini. Kita akan nampak Yerusalem Baru adalah satu komposisi dari semua anak Allah yang telah dilahirkan kembali. Setiap anak Allah yang dilahirkan kembali adalah bagian dari komposisi hidup ini. Karena anak-anak Allah adalah unsur penyusun Yerusalem Baru, maka mereka juga akan tinggal di dalam Yerusalem Baru.

Anak-anak Allah akan berbagian dalam semua kenik-matan Yerusalem Baru, khususnya kenikmatan air hayat (ayat 6). Banyak orang Kristen telah mencampurkan kenikmatan bangsa-bangsa dengan kenikmatan kaum saleh. Bangsa-bangsa akan menikmati berkat yang umum, tetapi kaum saleh akan mempunyai satu kenikmatan yang khusus. Yang utama, kita akan menikmati suplai hayat dari air hayat (22:1). Selanjutnya, di dalam Yerusalem Baru kita akan melayani Allah dan Anak Domba di dalam hadirat-Nya sampai kekal (22:3-4). Inilah satu dari berkat-berkat umat tebusan Allah di dalam kekekalan. Pada saat yang sama, kita akan memerintah sampai selamanya (22:5). Kita akan menjadi raja-raja tidak hanya selama seribu tahun; kita akan menjadi raja-raja sampai kekal. Semua orang saleh akan dimatangkan, disempurnakan dan dilayakkan menik-mati Yerusalem Baru yang kekal.

Wahyu 22:3 mengatakan, “Takhta Allah dan Anak Domba akan ada di dalamnya, dan hamba-hamba-Nya akan melayani Dia” (Tl). Perhatikanlah, kata ganti dalam ayat ini adalah tunggal, bukan jamak. Ayat ini mengatakan, hamba-hamba-Nya akan melayani “Dia”; tidak mengatakan, hamba-hamba Mereka akan melayani “Mereka”. Kata ganti tunggal yang mengacu kepada Allah dan Anak Domba, membuktikan bahwa Allah dan Anak Domba adalah satu. Kita tidak seharusnya menganggap mereka adalah dua.

IX. ORANG-ORANG YANG BINASA

DALAM LAUTAN API

Wahyu 21:8 mengatakan, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala dengan api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” Dalam langit lama dan bumi lama ada lautan air yang menampung akibat penghakiman Allah, sedangkan dalam langit baru dan bumi baru akan ada lautan api untuk menggantikan laut. Setelah dihakimi oleh Allah, semua hal negatif dan najis akan dibuang ke dalam lautan api, mengalami kematian kedua, menderita oleh pembakaran api dan belerang sampai selama-lamanya (14:10-11). Menurut 22:15, lautan api itu berada di luar Yerusalem Baru, seperti Tofet, tempat untuk hal-hal yang najis (Yer. 19:11-13) ada di luar Yerusalem yang Lama (2 Raja. 23:10; Yes. 30:33). Lautan api jauh lebih terbatas daripada lautan air.