← Daftar isi Wahyu (3) · bab 10/18

YERUSALEM BARU (2)

Makna Wahyu 21 dan 22 terus tersembunyi bagi orang-orang Kristen selama berabad-abad. Banyak orang yang memahami pasal-pasal ini dengan cara yang sangat alamiah, lalu menganggapnya sebagai gambaran dari sebuah kota materi. Ketika saya masih muda, saya pernah mendengar lagu-lagu Injil tentang kota emas dan jalan emas yang tercantum dalam pasal-pasal itu.

Ayat pertama dari Kitab Wahyu mengatakan bahwa wahyu Yesus Kristus disampaikan dengan tanda-tanda. Jika kita ingin memahami kitab ini, kita harus tahu makna tanda-tanda itu. Misalnya, ketujuh kaki pelita emas dalam pasal 1 dan perempuan terang universal dalam pasal 12 adalah tanda-tanda. Selanjutnya, dalam kitab ini Kristus disebut Singa dan Anak Domba, istilah-istilah yang juga merupakan tanda-tanda. Demikian pula, seluruh kota Yerusalem Baru adalah sebuah tanda.

Berabad-abad lamanya, pembicaraan orang Kristen tentang gereja bersumber dari pandangan keliru mereka tentang apa adanya gereja. Ketika seseorang berkata bahwa ia hendak pergi ke gereja, yang dimaksudkannya adalah sebuah bangunan dengan menara yang tinggi dengan lonceng di atasnya. Dalam konsepsi mereka, bangunan semacam itu adalah gereja. Bahkan ada gambar dari beberapa zaman memakai gambar sebuah bangunan beratap runcing untuk mewakili gereja. Bangunan itu hanyalah gedung untuk berhimpun, itu jelas bukan gereja.

Kaum Persaudaraan (The Brethren), yang dibangkitkan pada abad yang lalu memiliki pengertian yang lebih baik tentang gereja. Bagi mereka, gereja bukanlah sebuah bangunan, melainkan perkumpulan orang-orang yang terpang-gil. Bila orang-orang beriman berkumpul bersama, perkumpulan mereka itu adalah gereja. Walaupun tepat, pengertian itu masih agak dangkal. Gereja lebih dalam daripada pengertian itu. Seandainya seribu orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali berkumpul bersama, namun mereka bertengkar, berselisih, saling mengecam, dan hidup di dalam daging, gerejakah itu? Bukan! Itu bukan gereja, juga bukan perkumpulan orang saleh! Dalam pandangan Allah, itu adalah perkumpulan daging. Pernah dalam suatu pertemuan majelis sebuah denominasi, seorang anggota majelis melemparkan Alkitab kepada anggota majelis yang lain. Pertemuan semacam itu jelas bukanlah pertemuan gereja.

Dalam kitab terakhir dari Alkitab, gereja dilambangkan dengan kaki pelita emas yang bercahaya, murni, dan terang. Tuhan memakai kaki pelita untuk melambangkan gereja, karena gereja itu dalam dan rahasia, serta tidak dapat digambarkan dengan bahasa manusia secara memuaskan. Jadi, Tuhan “terpaksa” memakai sebuah tanda atau lambang untuk mewakilinya. Bila Anda nampak bahwa gereja adalah kaki pelita emas, Anda akan tahu apa itu gereja. Namun, jika Anda diminta menguraikan gereja, mungkin Anda tetap belum mampu melakukannya. Gereja itu rahasia, ilahi, dan murni; perkataan manusia tidak dapat menjelaskannya dengan memuaskan. Sebab itu, dalam Perjanjian Baru tidak kita temukan suatu definisi lengkap mengenai gereja. Efesus 1:22-23 mengatakan, “Gereja adalah Tubuh Kristus, kepenuhan Dia yang memenuhi semuanya di dalam segala sesuatu” (Tl.). Apa arti kata “kepenuhan”, apa pula arti “memenuhi semuanya di dalam segala sesuatu”? Sulit sekali memahami istilah gereja, dan lebih sulit lagi memahami istilah “Tubuh”, “kepenuhan”, dan “semuanya di dalam segala sesuatu”. Sebab itu, dalam Kitab Wahyu, kesimpulan akhir Alkitab, banyak tanda di-pakai untuk menyatakan berbagai realitas rohani.

Ketika kita mengatakan gereja adalah kaki pelita emas, sebenarnya kita tidak bermaksud mengatakan gereja benar-benar suatu kaki pelita dengan tujuh pelita. Bila kita memahaminya secara demikian, kita sudah keliru. Sama pula dengan penggambaran Kristus sebagai Anak Domba. Jelas, Tuhan kita bukan benar-benar anak domba yang berkaki empat dan berekor. Kita keliru jika memahami lambang-lambang Alkitab secara demikian. Anak Domba adalah lambang yang menunjukkan sesuatu tentang Tuhan. Sebab itu, ketika Kitab Wahyu menggambarkan gereja sebagai kaki pelita emas, itu berarti gereja bersifat ilahi dan murni; gereja juga memiliki terang yang bercahaya dalam kegelapan. Itulah arti dan makna sesungguhnya dari gereja sebagai kaki pelita emas.

Kota Yerusalem Baru pun adalah sebuah tanda, tanda yang almuhit. Untuk memahami tanda ini, pikiran kita harus sepenuhnya diperbarui dan diterangi. Jangan memahami Yerusalem Baru menurut konsepsi alamiah kita. Ada yang menyatakan Yerusalem Baru benar-benar sebuah kota materi yang berbentuk kubus. Jika kita memiliki pandangan alamiah semacam itu, kita tidak akan dapat memahami Yerusalem Baru sebagai sebuah tanda. Yerusalem Baru adalah tanda yang melambangkan bangunan kekal Allah sebagai tempat tinggal-Nya. Sesungguhnya bangunan kekal Allah bukanlah sebuah tempat yang bersifat jasmani (fisik), melainkan sesuatu yang hidup. Ia bukanlah suatu kota materi, melainkan sesuatu yang terdiri dari hayat ilahi-Nya. Ia begitu rahasia, dalam, dan sukar dipahami, sehingga bahasa manusia tidak dapat melukiskannya dengan memuaskan. Sebab itu, dalam hikmat-Nya, Allah memakai gambar, tanda untuk mewahyukannya kepada kita. Dengan memegang prinsip ini, mari kita bahas berbagai rincian dan aspek kota Yerusalem Baru.

VII. SUSUNAN HIDUP SELURUH

UMAT TEBUSAN ALLAH

Yerusalem Baru adalah suatu susunan hidup dari seluruh umat tebusan Allah. Karena merupakan sebuah su-sunan yang demikian, berarti Yerusalem Baru adalah bangunan yang hidup. Pemikiran yang menyatakan umat Allah adalah bangunan yang hidup, pertama-tama bukan disebutkan dalam Kitab Wahyu. Dalam Perjanjian Lama kita nampak bahwa umat Allah dianggap sebagai bahan untuk dibangunkan bersama sebagai tempat kediaman-Nya.

Alkitab membahas dua hal pokok — penciptaan Allah dan pembangunan Allah. Pada permulaan Alkitab tercantum penciptaan, dan pada akhir Alkitab tercantum pembangunan. Di antara kedua ujung ini terdapat pekerjaan pembangunan Allah. Dalam penciptaan, Allah menghasilkan bahan-bahan bangunan. Pada saat pelaksanaan pembangunan-Nya, Ia menyusun bahan-bahan itu menjadi satu, yaitu bangunan-Nya.

Dalam Kejadian 2 tercantum sebuah taman, dan dalam Wahyu 21, sebuah kota dibangun. Taman adalah sesuatu yang alamiah yang Allah ciptakan, dan kota adalah sesuatu yang dibangun oleh Allah. Yerusalem Baru bukanlah taman yang alamiah, melainkan sebuah kota yang terba-ngun. Dalam taman pada Kejadian 2 ada pohon hayat, dan dekat pohon hayat itu ada sungai yang mengalir ke empat jurusan (Kej. 2:8-10). Sepanjang aliran sungai itu terdapat emas, damar bedolah (mutiara), dan batu krisopras, sejenis batu permata. Damar bedolah adalah getah tumbuhan yang mengeras dan membentuk suatu benda seperti mutiara. Penyebutan batu untuk pertama kalinya dalam Alkitab bu-kanlah batu biasa, batu yang umum, melainkan batu krisopras, sejenis batu permata.

Untuk apa ketiga benda berharga: emas, mutiara, dan batu krisopras, dalam Kejadian 2 itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus membaca seluruh Alkitab.

Pada tutup dada Imam Besar terpasang dua belas batu permata (Kel. 28:15-21), dan yang pertama adalah sardis, sedangkan yang terakhir yaspis. Hal itu menunjukkan bahwa tutup dada Imam Besar berhubungan dengan Kejadian 2 dan Wahyu 21, karena pada Kejadian 2 ada batu krisopras dan pada Wahyu 21 ada batu yaspis. Dari tutup dada Imam Besar dan dua buah batu krisopras yang berukiran nama suku Israel (Kel. 28:9-12), kita nampak miniatur pembangunan Allah. Batu permata yang terdapat pada tutup dada dan tutup bahu menyandang nama kedua belas suku Israel. Hal itu menyatakan bahwa orang Israel yang tertebus adalah untuk pembangunan Allah. Kedua belas batu permata pada tutup dada terpasang pada emas. Dasar emas mengikat semua batu permata itu. Jelaslah hal itu menggambarkan pembangunan Allah. Tutup dada itu adalah bangunan yang mengekspresikan Allah.

Pada tutup dada ada juga urim dan tumim (Kel. 28:30). Dalam bahasa Ibrani “urim” berarti “terang” dan “tumim” berarti “sempurna” atau “lengkap”. Beberapa tahun yang lalu, saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang Ibrani. Dalam artikel itu dikatakan bahwa tumim adalah sebuah batu permata yang ditulisi empat buah huruf Ibrani. Pada tutup dada Imam Besar tertera nama kedua belas suku Israel, yang diukirkan pada dua belas batu. Nama suku-suku itu terdiri dari hanya delapan belas huruf Ibrani, sedangkan abjad Ibrani sendiri terdiri dari dua puluh dua huruf. Sebab itu, pada tutup dada imam besar belum ada keempat huruf itu. Namun, huruf-huruf itu terukir pada tumim, dan ketika batu itu dipasangkan pada tutup dada, terjadilah kesempurnaan. Ada dua puluh dua huruf dari abjad Ibrani. Urim adalah batu yang dipasangkan pada tu-tup dada untuk memberi terang. Penulis artikel itu mengatakan bahwa ketika Imam Besar datang ke hadapan Tuhan, batu-batu tertentu pada tutup dada dengan huruf-huruf yang terukir padanya akan bersinar, dan pada kali lain batu yang lain dengan huruf-huruf yang ada padanya akan bersinar. Begitu batu-batu itu bersinar, Imam Besar mencopot huruf-huruf dari batu-batu yang bersinar itu, dan dengan huruf-huruf itu, ia membentuk kata dan kalimat. Akhirnya, ia menerima pesan lengkap atau ketetapan dari Tuhan. Sebab itu, melalui bersinarnya tutup dada, Allah menyatakan pemikiran-Nya, angan-angan-Nya dan perasaan-Nya; demikianlah Imam Besar dapat mengetahui pikiran Allah. Itu adalah miniatur pembangunan Allah hari ini. Hari ini kita mengetahui kehendak Allah justru melalui bangunan-Nya, gereja.

Menurut catatan Kejadian 28, Yakub, perampas itu, bermimpi. Dalam mimpinya itu ia melihat sebuah tangga didirikan di bumi yang ujungnya sampai ke langit. Ketika ia bangun dari tidurnya, ia menyebut tempat itu “rumah Allah” (Kej. 28:17). Kemudian ia mengambil batu yang dipakainya sebagai bantal, mendirikannya seperti tiang, mengurapinya dengan minyak, dan menyebutnya rumah Allah (Kej. 28:18-19, 22).

Batu itu juga disebutkan dalam Kitab Zakharia. Zakharia 4:7 membicarakan batu utama dan 3:9 batu yang bermata tujuh. Batu dalam Kitab Zakharia bukanlah batu dasar atau batu penjuru, melainkan batu utama yang bermata tujuh. Ketujuh mata itu muncul lagi dalam Kitab Wahyu sebagai tujuh mata Anak Domba (5:6). Jadi, ketujuh mata itu menghubungkan batu itu dengan Anak Domba, yang juga adalah Singa (5:5). Sebab itu, kita membicarakan Singa-Anak Domba-Batu.

Ketika Petrus bertemu dengan Tuhan Yesus untuk pertama kalinya, Tuhan mengganti namanya dari Simon menjadi Kefas, yang berarti batu (Yoh. 1:42). Setelah Petrus menerima wahyu bahwa Tuhan adalah Kristus, Anak Allah yang hidup, Tuhan berkata, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (Mat. 16:18). Dalam satu ayat ini ada batu dan batu karang. Kemudian, dalam suratnya yang pertama, Petrus berkata, “Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1 Ptr. 2:4-5). Sebab itu, konsepsi yang menyatakan kaum beriman adalah batu yang akan dibangun menjadi tempat kediaman Allah bukanlah hal yang baru dalam Kitab Wahyu. Konsepsi itu tersebar dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Paulus memiliki konsepsi yang sama dalam 1 Korintus 3. Di sana ia mengatakan bahwa gereja adalah ladang Allah dan bangunan Allah; sedang ia sendiri adalah ahli bangunan yang cakap (ayat 9-10). Dalam potongan firman itu, Paulus juga mengingatkan kita agar hati-hati memilih bahan bangunan. Kita tidak boleh membangun dengan kayu, rumput kering, dan jerami, melainkan dengan emas, mutiara, dan batu permata (ayat 10, 12).

Jika kita menjajarkan semua bagian firman yang menyinggung batu, kita akan nampak bahwa batu permata melambangkan orang-orang yang ditebus, dilahirkan kembali dan diubah oleh Allah. Batu-batu yang dipakai untuk membangun Yerusalem Baru adalah orang-orang kudus yang ditebus, dilahirkan kembali, dan diubah oleh Allah. Rasul Petrus telah memberi tahu kita dengan jelas bahwa kita adalah batu-batu hidup. Kini kita berada dalam proses pengubahan dan terbangun menjadi bangunan Allah. Mula-mula, Allah mengubah kita, lalu Ia membangun kita. Sebab itu, Yerusalem Baru bukanlah tumpukan bahan bangunan, melainkan suatu susunan bahan bangunan yang telah dibangun. Seluruh kota Yerusalem Baru adalah bangunan Allah, susunan hidup dari semua orang kudus yang telah ditebus, dilahirkan kembali, dan diubah oleh Allah.

A. Kaum Saleh Perjanjian Lama Diwakili

oleh Kedua Belas Nama dari Kedua Belas Suku Israel pada Kedua Belas Pintu Gerbang

Yerusalem Baru pertama-tama tersusun dengan kaum saleh Perjanjian Lama. Hal itu dibuktikan oleh Wahyu 21:12, yang mengatakan bahwa nama kedua belas suku Israel terukir pada pintu gerbang kota itu. Setiap pintu gerbang menyandang nama satu suku. Ini pun suatu tanda yang menunjukkan bahwa pintu gerbang kota itu adalah orang-orang yang hidup. Kita telah nampak makna gereja sebagai kaki pelita emas adalah gereja bersinar untuk memberi penerangan. Kita perlu tahu makna dan arti sebenarnya dari pintu gerbang itu.

Pintu gerbang pertama-tama berfungsi sebagai alat penyebaran kota, lalu sebagai jalan keluar masuk kota. Sebelum sesuatu dapat masuk melalui pintu gerbang, harus ada sesuatu yang keluar lebih dulu. Apa yang keluar dari dalam, akan membawa sesuatu masuk ke dalam kota. Sebab itu, mula-mula pintu gerbang berfungsi sebagai jalan penyebaran, lalu sebagai jalan masuk.

Ingatlah, Injil pertama kali diberitakan dan disebarkan oleh orang Yahudi. Misalnya, Petrus dan Paulus adalah orang-orang Yahudi. Sebab itu, Tuhan berkata kepada pe-rempuan Samaria bahwa keselamatan berasal dari orang Yahudi (Yoh. 4:22). Dengan kata lain, Injil, kabar sukacita, berasal dari bangsa Yahudi. Sebab itu, kaum saleh Perjanjian Lama, bani Israel, adalah pintu gerbang untuk pemberitaan dan perluasan. Semua nabi Perjanjian Lama, termasuk Yesaya, Yeremia, Daniel, Yehezkiel, dan nabi-nabi yang lebih kecil adalah pemberita-pemberita. Yesaya memberitakan cukup banyak, bahkan memberitakan Injil yang unik, yang tercatat dalam Yesaya 53. Yohanes Pembaptis dan rasul-rasul adalah keturunan kedua belas suku Israel. Jadi, kedua belas suku Israel itu adalah pintu gerbang, dan melalui pintu gerbang itu kekayaan Yerusalem Baru disuplaikan kepada umat manusia.

Suplai yang keluar dari pintu gerbang itu menimbul-kan satu hasil, yaitu banyak orang dibawa masuk melalui pemberitaan Injil. Kita semua telah masuk ke dalam Yerusalem Baru melalui pintu gerbang orang Yahudi. Walaupun ada yang kurang suka mendengar perkataan itu, saya suka dan menghargainya. Saya tidak masuk melalui pintu gerbang orang kafir, melainkan masuk melalui pintu gerbang yang menyandang nama salah satu dari kedua belas suku Israel. Kita tidak sepatutnya mengatakan bahwa kita masuk melalui sebuah pintu gerbang yang menyandang nama orang Inggris, atau nama orang Jerman, atau nama kafir lainnya. Tidak ada nama semacam itu dalam Yerusalem Baru. Bila kita membicarakan pintu gerbang, yang ada hanyalah nama kedua belas suku Israel. Mereka adalah pintu gerbang untuk penyebaran dan jalan masuk. Seperti telah kita nampak, nama-nama itu menyatakan bahwa kaum saleh Perjanjian Lama adalah unsur penyusun kota itu.

B. Kaum Beriman Perjanjian Baru Diwakili oleh

Nama-nama Kedua Belas Rasul Anak Domba Itu Pada Dua Belas Batu Dasar

Ayat 14 mengatakan, “Tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.” Karena nama kedua belas rasul itu tertera pada kedua belas batu dasar tembok kota, ini menunjukkan bahwa Yerusalem Baru tidak hanya tersusun dengan kaum saleh Perjanjian Lama yang diwakili oleh Israel, tetapi juga oleh kaum saleh Perjanjian Baru yang diwakili oleh para rasul. Kaum beriman Perjanjian Baru bukanlah untuk pintu gerbang, melainkan untuk tembok. Pintu gerbang adalah untuk penyebaran dan jalan masuk, tetapi tembok adalah untuk pemisahan dan perlindungan. Dalam berita lain, akan kita bahas pintu gerbang itu dan tembok itu secara terinci.

VIII. DIBANGUN DENGAN BENDA MUSTIKA

Kota Yerusalem Baru dibangun dengan benda mustika, yaitu dengan tiga macam benda berharga, yang menyatakan pembangunan itu dilaksanakan oleh Allah Tritunggal. Pertama, kota dan jalan kota itu terbuat dari emas (ayat 18, 21). Emas, lambang sifat ilahi Allah, melambangkan Bapa sebagai sumber, yang menghasilkan unsur pembentuk apa adanya kota itu. Kedua, kedua belas pintu gerbang kota itu dari mutiara, yang melambangkan kematian Putra yang menaklukkan, dan kebangkitan-Nya yang menyalurkan hayat. Melalui kedua hal itu, terbukalah jalan masuk ke dalam kota itu. Ketiga, tembok kota itu dan batu dasar-nya dibangun dengan batu permata. Hal itu melambangkan pekerjaan pengubahan Roh itu atas kaum saleh yang ditebus dan dilahirkan kembali menjadi batu-batu permata untuk pembangunan tempat tinggal kekal Allah, sehingga mereka dapat mengekspresikan Allah secara korporat da-lam kemuliaan-Nya yang meresapi mereka.

Dalam taman Eden, tiga macam benda mustika itu berwujud bahan-bahan (Kej. 2:11-12), sedangkan dalam kota Yerusalem Baru benda-benda mustika itu telah dibangun untuk merampungkan tujuan kekal Allah, ekspresi korporat-Nya.

A. Emas untuk Membangun Kota Itu

Yerusalem Baru adalah gunung emas. Sebagai gunung emas, Yerusalem Baru adalah kaki pelita emas yang unggul, unik dan kekal. Dalam perlambangan, emas melam-bangkan sifat ilahi. Sebab itu, kota ini tersusun mutlak dengan sifat ilahi Allah. Jika kita nampak visi Yerusalem Baru dibangun dengan sifat ilahi Allah, kita akan mengesampingkan segala hal yang bukan dari sifat ilahi Allah dan menolak apa pun yang tidak sepadan dengan sifat ilahi Allah. Hari ini gereja harus dibangun dengan sifat Allah, bukan dengan batu bata, tanah liat, atau kayu.

B. Kedua Belas Batu Permata untuk Kedua Belas Batu Dasar

Dalam ayat 19 dan 20 kita nampak bahwa batu dasar dari tembok kota itu dihiasi dengan batu permata. Hal itu menunjukkan, kedua belas rasul itu telah menjadi batu permata, menjadi dua belas lapis batu dasar kota itu.

C. Yaspis untuk Tembok

Ayat 18 mengatakan, “Tembok itu terbuat dari permata yaspis.” Yaspis adalah penampilan Allah (4:3). Jadi, tembok yaspis menyatakan bahwa seluruh kota itu, sebagai ekspresi korporat Allah dalam kekekalan, menyandang penampilan Allah. Ketika kita berada di Yerusalem Baru, kita akan kagum karena seluruh kota itu sama penampil-annya, bagai permata yaspis. Hal itu berarti, kita semua harus mengatakan hal yang sama, mengekspresikan hal yang sama, dan menampilkan hal yang sama. Namun, kekristenan hari ini jauh berbeda, karena setiap orang memi-liki warnanya sendiri dan opininya sendiri, serta menyatakan pikirannya sendiri. Tetapi Yerusalem Baru memiliki satu penampilan, satu ekspresi, dan satu warna.

D. Dua Belas Mutiara untuk

Dua Belas Pintu Gerbang

Ayat 21 mengatakan, “Kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: Setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara.” Jadi, pintu gerbang kota itu pun terbangun dengan benda mustika.