YERUSALEM BARU (3)
Dalam berita ini kita akan membahas ciri-ciri lain dari Yerusalem Baru, yaitu ukuran-ukurannya, temboknya, dan dasarnya.
IX. UKURAN-UKURAN
A. Alat Ukur
Terlebih dulu mari kita bahas ukuran-ukuran Yerusalem Baru. Wahyu 21:15 mengatakan, “Dan Ia, yang berkata-kata dengan aku, mempunyai suatu buluh pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya” (Tl.). Buluh di sini adalah untuk mengukur; mengukur adalah untuk memiliki (Yeh. 40:5; Za. 2:1-2; Why. 11:1). Perhatikan bahwa alat pengukurnya di sini adalah sebuah buluh, bukan sebuah tongkat. Sebuah tongkat menandakan atau menyiratkan penghakiman, pendisiplinan, dan penghukuman. Menurut 11:1, “sebatang buluh, seperti tongkat pengukur” digunakan untuk “mengukur Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya”. Karena sebuah tongkat menyiratkan penghukuman (Ams. 10:13; Yes. 10:5; 11:4), maka buluh seperti tongkat pengukur menunjukkan mengukur dengan penghukuman untuk memiliki. Tetapi, dalam 21:15, kita mempunyai buluh, tidak disebutkan tongkat. Di sini tidak tersirat penghakiman, pendisiplinan, atau penghukuman, karena dalam setiap hal Yerusalem Baru itu lengkap dan sempurna. Kota ini telah melewati setiap ujian. Perempuan terang universal, yang berakhir pada Yerusalem Baru, telah melalui banyak penanggulangan dan telah diukur oleh banyak tongkat dalam setiap zaman. Bahkan hari ini gereja sedang diukur dengan tongkat, bukan dengan buluh. Ketika keempat zaman berlalu dan langit baru dan bumi baru tiba, tidak perlu lagi mengukur dengan tongkat.
Yerusalem Baru diukur dengan buluh berarti diukur untuk dimiliki. Andaikata Anda ingin membeli sebidang tanah. Pertama-tama Anda mengukurnya, kemudian Anda mengambil alih hak milik atasnya. Wanita-wanita juga melakukan hal yang sama ketika mereka membeli bahan di toko kain. Jumlah bahan yang mereka ukur adalah jumlah bahan yang mereka beli dan miliki. Demikian juga, Yerusalem Baru, yang akan diukur dengan buluh emas, akan sepenuhnya dimiliki Tuhan dengan cara yang sangat positif.
Perhatikanlah, buluh itu adalah buluh emas. Karena emas melambangkan sifat ilahi Allah, maka “dari emas” di sini menunjukkan bahwa kota itu, pintu-pintu gerbangnya, dan temboknya diukur menurut sifat ilahi Allah. Apa saja yang tidak sesuai dengan sifat ilahi Allah bukanlah milik Yerusalem Baru. Allah tidak mau memiliki sesuatu yang tidak sesuai dengan sifat-Nya. Seluruh kota itu, dengan pin-tu-pintu gerbang dan temboknya dapat melewati pengukur-an dan pengujian sifat Allah; karena itu, kota ini cocok untuk dimiliki Allah.
Bahkan hari ini, Allah mengukur gereja-gereja dengan standar emas dari ukuran ilahi-Nya. Ketika Allah mengukur gereja, Dia tidak mempermasalahkan kecerdasan, kegiatan, atau kemampuan kita berbicara. Tetapi Ia sangat memperhatikan berapa banyak sifat-Nya telah tergarap ke dalam kita. Apakah hakiki gereja adalah emas? Apakah gereja disusun dengan esens ilahi Allah? Gereja harus bersifat ilahi; maksudnya, sifat ilahi harus tergarap ke dalam setiap aspek hidup gereja. Jadi, standar pengukuran bukan-lah sifat manusia kita, melainkan sifat Allah.
Ketika kita hendak menyatakan kasih kita terhadap orang lain, kita harus tahu kasih macam apa yang kita nyatakan, yang insani atau yang ilahi. Begitu pula dengan kerendahan hati dan kebaikan. Walaupun kita harus rendah hati dan baik, kita harus memeriksa kerendahan hati kita dan kebaikan kita itu insani atau ilahi. Prinsip ini berlaku bagi setiap aspek keinsanian kita. Kita perlu menjadi manusia yang bersifat ilahi; maksudnya, sifat ilahi harus tergarap ke dalam kita. Ingatlah bahwa pengukuran Allah atas gereja adalah berdasarkan sifat ilahi. Sifat emas Allah adalah satu-satunya standar.
B. Bangunan Kota Itu
Dalam ayat 16 tertera ukuran bangunan kota itu. “Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Lalu Ia mengukur kota itu dengan buluh itu, dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama” (Tl.). Ketika masih muda, saya dibingungkan dengan kenyataan bahwa tinggi tembok adalah 144 hasta dan tinggi kota adalah 12.000 stadia. Ukuran-ukuran kota menunjukkan, bahwa bangunan kota itu seperti sebuah gunung dengan tinggi 12.000 stadia, sedangkan temboknya dari dasar sampai puncaknya 144 hasta. 12.000 stadia adalah lebih dari 7 juta kaki, atau lebih dari 1360 mil (2176 km).
Hal lain yang membingungkan saya tentang kota ini, ialah kota ini hanya mempunyai satu jalan. Saya heran bagaimana jalan yang hanya satu ini dapat melayani 12 pintu gerbang. Berdasarkan opini saya, paling sedikit ada 12 jalan, satu untuk setiap pintu gerbang. Suatu hari, sewak-tu saya tinggal bersama Saudara Watchman Nee di Shang-hai, ia mengatakan bahwa Yerusalem Baru adalah sebuah gunung dan jalan yang hanya satu itu melingkar menuruni gunung dari takhta dan melalui ke 12 pintu gerbang. Tidak peduli pintu gerbang mana yang kita masuki, kita mene-mukan diri kita di jalan yang sama. Karena jalan itu berbentuk spiral, mustahil ada orang yang tersesat dalam kota ini. Bahkan bila Anda berjalan dengan mata tertutup sepanjang jalan ini, Anda tidak akan tersesat.
Ayat 16 mengatakan bahwa “kota itu bentuknya empat persegi”. Panjangnya sama dengan lebarnya. Bukti bahwa Yerusalem Baru adalah empat persegi menyatakan kota itu sempurna dan lengkap dalam segala hal, mutlak lurus dan tidak miring sedikit pun.
Panjang, lebar, dan tinggi Yerusalem Baru adalah sa-ma; tiap dimensi adalah 12.000 stadia. 12.000 adalah 1.000 kali 12. Karena 12 melambangkan kesempurnaan yang mutlak dan kelengkapan kekal dalam administrasi Allah, maka 12.000 melambangkan 1.000 kali keadaan seperti itu.
Berdasarkan ukuran-ukurannya, Yerusalem Baru ber-bentuk kubus. Dimensi tempat maha kudus dalam Kemah Pertemuan atau dalam Bait Suci memiliki ukuran panjang, lebar, dan tingginya yang sama (Kel. 26:2-8; 1 Raj. 6:20). Tempat maha kudus dalam Kemah Pertemuan berbentuk kubus dengan ukuran 10 hasta pada tiap dimensinya, dan ruang maha kudus dalam Bait Suci berbentuk kubus berukuran 20 hasta tiap sisi. Kesamaan ukuran panjang, lebar, dan tinggi dari Yerusalem Baru melambangkan seluruh Yerusalem Baru adalah tempat maha kudus. Sebab itu, Yerusalem baru adalah tempat maha kudus yang sangat diperbesar.
Dalam Pelajaran-Hayat Ibrani kita nampak bahwa pengalaman kita akan tempat maha kudus harus bertambah secara konstan (lihat berita 52). Ini berarti pengalaman kita akan tempat maha kudus harus terus diperbesar. Mula-mula, kita mempunyai tempat maha kudus yang lebih kecil dalam Kitab Keluaran, kemudian kita mempunyai tempat maha kudus yang lebih besar dalam Kitab 1 Raja-raja, dan akhirnya kita mempunyai tempat maha kudus yang paling besar dalam Kitab Wahyu. Kelak, tempat ma-ha kudus kita akan lebih dari 1360 mil (2176 km) panjang, lebar dan tingginya.
Sekarang kita perlu melihat prinsip tempat maha kudus. Prinsip tempat maha kudus adalah manusia boleh hidup dan bertindak secara langsung di hadapan Allah. Menurut Perjanjian Lama, hanya Imam Besar yang diizinkan masuk ke dalam tempat maha kudus. Tetapi Kitab Ibrani mewahyukan bahwa melalui darah penebusan Kristus, tempat maha kudus terbuka bagi semua yang percaya kepada Dia (Ibr. 10:19-22). Semua yang ditebus boleh datang ke hadapan Allah, hidup di sana dan berdiam di sana, menik-mati persekutuan dalam keesaan dengan Allah. Yerusalem Baru yang akan datang adalah tempat yang demikian. Setiap orang di dalamnya akan melihat Allah, menyentuh Allah, menyembah Allah, melayani Allah, dan bahkan hidup dan tinggal dalam hadirat Allah. Hidup gereja hari ini harus merupakan suatu tempat maha kudus. Gereja harus meru-pakan sebuah kubus, dan sifatnya harus sepenuhnya kudus.
C. Ukuran Tembok
Ayat 17 mengatakan, “Ia juga mengukur temboknya: Seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat.” Seratus empat puluh empat adalah 12 kali 12. Dua belas kali 12 melambangkan kesempurnaan yang mutlak dan kelengkapan kekal dari kesempurnaan yang mutlak dan kelengkapan kekal. Betapa sempurna dan lengkapnya tembok kota suci dalam administrasi kekal Allah! Ayat ini mengatakan bah-wa tembok itu adalah ukuran manusia “yang adalah juga ukuran malaikat”. Dalam kebangkitan, manusia akan seperti malaikat (Mat. 22:30). Karena itu, “menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat” menunjukkan bahwa tembok kota itu bukanlah yang alamiah, melainkan dalam kebangkitan.
X. TEMBOK
A. Dibangun dengan Yaspis
Ayat 18 mengatakan, “Tembok itu terbuat dari permata yaspis.” Yaspis adalah sebuah batu permata yang meng-alami pengubahan (1 Kor. 3:12) yang mengandung gambar Allah. Batu ini jernih seperti kristal dan hijau tua. Wahyu 4:3 mengatakan, “Dia yang duduk di takhta itu tampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis.” Berdasarkan ayat ini, penampilan Allah di atas takhta seperti yaspis dan sardis. Warna hijau tua dari yaspis berarti hayat dalam kelimpahannya. Hijaunya rumput, hijaunya ladang dan hijaunya gunung, semua menyatakan kelimpahan hayat. Bila sebuah padang rumput atau ladang berwarna coklat, kita akan terkesan bahwa tidak ada kehidupan di sana. Tetapi hijau tua menyatakan kelimpahan hayat. Allah sebagai Yang di atas takhta dalam pasal 4 juga mempunyai penampilan seperti sardis, batu mahal berwarna merah, yang menyatakan penebusan. Bila yaspis menunjukkan Allah sebagai Allah yang mulia dalam hayat-Nya yang kaya, maka sardis mengacu kepada Allah sebagai Allah penebus. Allah kita hari ini adalah Allah hayat dan Allah penebus. Tetapi ketika kita masuk ke dalam Yerusalem Baru, kita tidak memerlukan penebusan lagi. Jadi, warna tembok kota itu adalah yaspis, hijau tua, menyatakan hayat dalam kelim-pahannya.
B. 144 Hasta Tingginya
Kita telah melihat bahwa tembok itu 144 hasta tingginya, dan ukuran ini adalah menurut ukuran manu-sia, yang adalah juga ukuran malaikat. Telah kita bahas bahwa hal ini menunjukkan bahwa tembok kota itu bukanlah yang alamiah, tetapi dalam kebangkitan. Ini suatu hal yang sangat penting. Apa saja yang kita katakan, apa saja yang kita perbuat, dan segala sesuatu kita dalam hidup gereja hari ini harus di dalam kebangkitan. Prinsip kebang-kitan adalah hayat alamiah dibunuh dan hayat ilahi tumbuh menggantikannya. Inilah kebangkitan.
Beberapa kali, ketika saya hampir marah-marah, saya segera melatih roh saya untuk menyalibkan manusia alamiah saya. Begitu saya berbuat demikian, saya berada dalam kebangkitan. Kita harus berlatih demikian bukan hanya terhadap amarah kita, bahkan terhadap kasih kita. Jangan mengasihi orang lain secara alamiah. Kasihilah mereka dalam kebangkitan. Kasih alamiah seperti madu. Sebagai ganti kasih “madu”, kita perlu kasih yang dalam kebangkitan, kasih yang telah dibunuh oleh salib dan dibangkitkan dengan hayat ilahi. Tidak ada madu dalam kasih yang demikian. Sebagai gantinya, ada kemenyan dan garam. Menurut Imamat 2, kurban sajian boleh dibubuhi kemenyan dan garam, tetapi tidak boleh dibubuhi madu. Kasih di antara kebanyakan orang Kristen hari ini sangat jarang yang be-rupa kasih dalam kebangkitan, yang adalah kasih sejati. Kebanyakan, bukan hanya seperti madu, bahkan penuh dengan ragi. Walaupun banyak orang Kristen berbicara ten-tang kasih, kasih itu mungkin bukanlah kasih yang telah ditanggulangi oleh salib dan dibangkitkan berdasarkan hayat ilahi. Yang kita perlukan adalah kasih yang dibangkitkan, kasih yang di dalam hayat ilahi.
Saya senang melihat saudara saudari bertumbuh di dalam hayat dan mengalami pembangunan, tetapi saya tidak senang melihat adanya kasih alamiah. Lebih baik Anda menjaga jarak antara Anda dengan yang lain; jangan memakai baju mereka, juga jangan memakai Alkitab mereka. Bila hayat alamiah telah ditanggulangi, Anda tidak akan mau memakai Alkitab orang lain. Menggunakan Alkitab orang lain tidak menyatakan bahwa Anda mengasihinya di dalam roh, melainkan membuktikan bahwa Anda mengasihinya berdasarkan selera alamiah Anda. Anda membuang begitu banyak waktu dengan saudara tertentu karena ia sesuai dengan selera Anda. Anda mengira Anda bertumbuh di dalam hayat ketika bersekutu dengannya. Sebenarnya, karena kasih Anda kepadanya adalah yang alamiah, Anda tidak bertumbuh sama sekali. Semakin kita mengasihi yang lain, semakin besar jarak antara kita dengan mereka.
Dalam hidup gereja, kita harus belajar melakukan se-gala sesuatu dalam kebangkitan, bukan dalam hayat ala-miah. Bila Anda tidak yakin bahwa Anda melakukan sesuatu di dalam kebangkitan, janganlah melakukannya. Berdoa dan tunggulah sampai Anda mempunyai kepastian bahwa Anda di dalam kebangkitan. Bukti bahwa tembok kota Yerusalem Baru diukur dengan ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat, berarti hal itu tidak hanya diukur menurut sifat ilahi, tetapi juga berdasarkan kebangkitan. Anda harus mengasihi saya, dan saya harus mengasihi Anda, bukan dalam hayat alamiah kita, melainkan dalam hayat ilahi. Jangan memberikan ruang seinci pun bagi hayat alamiah. Tidak peduli berapa besar Anda mengasihi yang lain, jagalah jarak antara Anda dengan mereka. Bila Anda bersikap demikian, Anda akan terjaga dari hayat alamiah dan Anda akan mengasihi yang lain dalam kebang-kitan, menurut keinsanian, tetapi dalam kemiripan dengan malaikat.
Pada tahun 1932, ketika saya masuk dalam hidup gereja, saya mendapatkan pelajaran pertama dalam hal bagaimana melakukan sesuatu dalam kebangkitan, bukan da-lam hayat alamiah saya. Ada seorang saudari yang selalu membantu yang lain, tetapi tidak punya cukup uang untuk membeli Alkitab yang baik untuk dirinya sendiri. Ia menggunakan uangnya untuk orang yang memerlukan, bukan untuk dirinya. Saya mulai mengetahui keadaannya dan melihat bahwa dia menggunakan sebuah Alkitab yang tua. Dengan spontan saya berbeban untuk membelikannya sebuah Alkitab yang bagus, terbungkus kulit dan memberikan padanya tanpa setahu dia. Ketika saya membawa hal itu ke hadapan Tuhan, saya berkata, “Tuhan, saya akan membeli sebuah Alkitab untuk seorang saudari. Saya melakukan ini dalam hayat alamiah saya ataukah dalam hayat kebangkitan-Mu?” Dengan bertanya demikian kepada Tuhan, saya belajar banyak. Karena saya tidak yakin apakah saya melakukannya berdasarkan hayat kebangkitan, saya tidak bisa langsung membeli Alkitab. Saya menunggu sejangka waktu sampai saya yakin bahwa saya melakukannya bukan berdasarkan hayat alamiah saya, tetapi berdasarkan hayat kebangkitan Kristus. Suatu hari saya membeli sebuah Alkitab untuk dia dan memberikannya tanpa setahu dia. Melalui menerima Alkitab ini sebagai hadiah, imannya dikuatkan, dan ia bertumbuh dalam hal percaya Tuhan. Bila saya memberikannya beberapa minggu sebelumnya, dia mungkin tidak terbantu dalam hal ini. Pada waktu saya yakin bahwa saya dapat memberinya sebuah Alkitab dalam kebangkitan, itulah hari yang tepat dia perlu menerimanya.