YERUSALEM BARU (4)
C. Selaras dalam Penampilan pada Keempat Sisi
Seperti yang telah kita bahas, yaspis adalah penampilan Allah. Seluruh tembok dibangun dari yaspis menyatakan bahwa Yerusalem Baru sebagai ekspresi Allah yang kor-porat dalam kekekalan, mengemban penampilan Allah. Kota ini selaras dalam penampilan pada keempat sisi. Ini menunjukkan bahwa semua perbedaan telah hilang dan kota itu adalah ekspresi yang unik dari Allah Tritunggal. Ini sangat berbeda dengan konsepsi kebanyakan orang Kristen, yang mengira bahwa kita semua boleh berbeda dan mengekspresikan Kristus dalam cara yang berbeda-beda. Berdasarkan konsepsi itu, Anda mengekspresikan Kristus dengan cara Anda, dan saya mengekspresikan Kristus dengan cara saya. Pada waktu yang lampau saya diajar bahwa kaum beriman dan gereja-gereja boleh saling berbeda dan tidak ada satu gereja yang sama dengan yang lain. Saya bukan hanya diajar demikian, tetapi saya juga memberitakan demikian. Saya berkata bahwa kita sebaiknya tidak mencontoh atau meniru orang lain. Menggunakan wajah kita sebagai ilustrasi, saya mengatakan setiap wajah adalah unik. Tetapi dengan mempelajari lagi Kitab Wahyu, saya nampak ketujuh kaki pelita emas adalah mutlak sama. Bila ketujuh kaki pelita emas itu diletakkan di atas meja di hadapan Anda, Anda tidak akan mampu membedakannya. Setiap kaki pelita akan kehilangan identitasnya. Ketika saya nampak itu, konsepsi saya berubah sama sekali, dan saya berkata kepada diri saya sendiri, “Betapa salahnya konsepsi yang saya terima dari mereka yang dengan bodohnya berkata bahwa ketujuh gereja itu berbeda! Ya, mereka berbeda dalam aspek negatif. Gereja di Filadelfia memang tidak me-miliki berhala-berhala yang ada di Tiatira. Tetapi pada pihak positifnya, mereka semua sama. Mereka mempunyai satu Allah dan satu Kristus.” Saya benar-benar telah diterangi.
Sejak hari itu, Tuhan berulang-ulang menegaskan hal ini kepada saya, dan akhirnya menunjukkan kepada saya keempat sisi tembok Yerusalem Baru. Setiap sisi mempunyai penampilan yang sama. Meskipun mungkin berjuta-juta batu yaspis telah dipasang bersama untuk membentuk tembok, setiap sisi tembok tetap mempunyai ekspresi yang sama. Setiap sisi sama dalam bahan, isi, warna, dan penampilannya. Karena itu, kita semua harus serupa. Saya harus seperti Anda, dan Anda harus seperti saya. Akhirnya, kita harus saling serupa sehingga kita kehilangan identitas kita. Dengan melihat hal ini kita mampu mengerti kata-kata Paulus dalam 1 Korintus 1:10, “Tetapi aku menasihatkan kamu, Saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” Kita harus seia sekata dan sehati sepikir. Ini bukan berarti kita dikontrol oleh seseorang. Tidak ada satu pun batu yaspis yang dibangun menjadi tembok Yerusalem Baru itu dikontrol. Mereka semua sama dalam isi, warna, penampilan, kilauan, dan kemuliaan, karena mereka telah diubah oleh hayat yang sama. Demkianlah, kita semua harus saling mencontoh dan meneladani. Saudari-saudari harus mencontoh saudara-saudara, dan saudara-saudara harus meniru saudari-saudari. Ini bukan berarti meniru sifat-sifat alamiah orang lain. Ini ber-arti meniru yaspis, meniru isi, warna, dan penampilan.
Yaspis bukanlah suatu substansi (zat) yang hanya dciptakan oleh Allah. Mula-mula ia diciptakan, lalu diubah. Semua batu permata yang tembus cahaya, khususnya berlian, adalah substansi yang diubah. Berlian adalah karbon yang telah diubah melalui pemanasan dan penekanan menjadi kristal yang murni. Tidak seorang pun dari kita diciptakan sebagai yaspis. Tetapi, kita diciptakan sebagai tanah liat (Kej. 2:7). Puji Tuhan, kita telah dilahirkan kembali dan kita sedang diubah! Banyak di antara kita yang berada di bawah proses pengubahan hari demi hari. Akhirnya, kita akan menjadi batu-batu permata. Kita akan menjadi yaspis, memiliki hayat Allah dan mengemban penampilan Allah. Kita akan memiliki unsur Allah dan penampilan yang sama seperti Dia. Allah tampak seperti yaspis, dan kita pun akan seperti yaspis. Ketika kita saling memandang, kita akan saling memandang penampilan Allah. Bahkan yang terkecil di antara kita pun akan tampak seperti Allah.
Apakah Anda mengira setelah kita semua memiliki isi, warna, dan penampilan yaspis, kita masih berdebat atau memegang opini yang berbeda? Sama sekali tidak! Yerusalem Baru boleh disebut kota yaspis, bukan kota kayu. Suatu hari kota ini akan tampak menyandang warna hijau terang untuk mengekspresikan Allah. Dalam Yerusalem Baru, kita tidak akan mengekspresikan sifat Jerman, sifat Inggris, sifat China, sifat Amerika, atau sifat insani yang lain. Sebaliknya, kita akan mengekspresikan sifat yang unik, sifat ilahi, yang adalah Allah sendiri dalam penampilan-Nya. Gereja hari ini harus demikian. Dalam gereja yang demi-kian kita semua mengekspresikan Allah.
Kita telah nampak bahwa hakikat kota Yerusalem Baru adalah emas. Ini menunjukkan bahwa seluruh gereja harus secara padat tersusun dari sifat ilahi. Inilah isi gereja. Gereja tidak boleh mempunyai sesuatu yang lain dari sifat Allah sebagai bahan dan isinya. Sekarang kita melihat juga bahwa tembok kota menyandang penampilan Allah. Terhadap semua orang dan alam semesta, gereja harus mengekspresikan Allah sendiri.
Pembangunan gereja tergantung pada isi hakikat dasar hidup gereja. Bila isinya bukan Allah sendiri, tidak mungkin ada pembangunan yang benar dan tepat. Tetapi bila isi kita adalah sifat ilahi, isi ini akan mengubah kita dan bahkan menyerupakan kita dengan gambar-Nya. Melalui peng-ubahan ini, semua perbedaan konsepsi, pandangan, dan opini kita akan lenyap. Inilah yang diartikan diubah dengan pembaruan pikiran kita, seperti yang disebut dalam Roma 12:2. Pikiran diperbarui oleh sifat ilahi. Ketika sifat ilahi memenuhi bagian dalam gereja dan menjadi isinya, ia akan memperbarui pikiran kita dan menelan perbedaan pengertian, konsepsi, pandangan, dan opini kita. Semakin banyak sifat ilahi mengisi kita dari dalam, konsepsi dan opini kita akan tersingkir dengan spontan. Hasilnya, kita tidak lagi mempunyai pengertian yang alamiah tentang sesuatu. Malahan konsepsi kita sesuai dengan sifat ilahi. Karena itu, dengan spontan kita menjadi sama dalam pikiran dan opini. Kita mengucapkan hal yang sama, dan kita mempunyai ekspresi yang unik, yaitu penampilan Allah dan kita dibangun dalam ekspresi ini.
Kalau Anda melekat pada konsepsi alamiah Anda, dan saya berpegang pada pandangan alamiah saya; keduanya mungkin sangat baik, sama sekali tidak bersifat dosa; tetapi karena konsepsi kita berbeda, kita tidak bisa menjadi yaspis yang sama. Tetapi, ketika kita berdua diisi dengan sifat ilahi dan ditelan olehnya, konsepsi-konsepsi kita akan diubah, dan kita semua akan menjadi yaspis yang sama. Kemudian kita akan mempunyai satu pikiran, satu konsepsi, dan satu opini. Inilah jalan untuk dibangun menjadi gereja. Kita harus membuang semua perbedaan ekspresi ki-ta sehingga kita dapat dibangun menjadi tembok yang sama, dan dapat memiliki ekspresi yang unik akan Allah.
Gereja tidak dapat dibangun melalui usaha kita untuk menjadi ramah dan sabar terhadap yang lain. Membangun bukanlah perkara saya memberikan sedikit ruang kepada Anda dan sebaliknya. Itu adalah sikap etika, sesuatu yang seperti ajaran etika; bukan ajaran Alkitab. Pembangunan yang sejati adalah ditelan oleh sifat ilahi serta dipenuhi, diisi, dijenuhi, dan diresapi oleh sifat ilahi. Agar hal ini bisa terwujud, kita harus mengasihi Tuhan dan mempersembahkan diri kita kepada-Nya tanpa syarat. Kita berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak mau menyisakan diriku. Aku ingin memberikan seluruhnya kepada-Mu dan membiarkan Engkau mengambil alih seluruh hak atasku dan memenuhi aku sepenuhnya. Tuhan, isilah aku dengan diri-Mu sendiri.” Inilah cara yang benar. Dibangun dalam gereja bukanlah soal mencoba mengasihi bermacam-macam orang, atau mencoba memperbesar hati kita untuk mencakup bermacam-macam sifat. Itu adalah konsepsi yang ala-miah. Yang diperlukan adalah sifat kita, apakah itu sebagai orang Amerika, orang China, orang Inggris, atau orang Jerman, ditelan dan diganti oleh emas ilahi. Bila Anda diisi dengan emas ilahi, hati Anda akan lebih besar daripada hati Salomo (1 Raj. 4:29), karena hati Anda akan sebesar hati Allah. Ketika kita diisi dan dijenuhi dengan sifat ilahi, kita semua mempunyai ekspresi dan penampilan yang sama, karena kita semua mempunyai opini yang sama dan mengucapkan hal yang sama. Ketika kita semua mempunyai ekspresi yang sama, kita mempunyai penampilan Allah, yang dilambangkan dengan yaspis dalam Kitab Wahyu. Inilah ekspresi hidup gereja.
D. Untuk Pemisahan dan Perlindungan
Walaupun tembok terutama untuk ekspresi, tembok juga menjadi sebuah pemisah dan sebuah perlindungan. Ia memisahkan kita dari segala sesuatu yang umum (21:27); melindungi dan menjaga kita dalam lingkungan penampilan Allah. Segala sesuatu yang dipisahkan juga dipelihara dan dilindungi. Dalam hidup gereja, kita harus mempunyai ekspresi Allah. Ekspresi ilahi ini adalah pemisahan kita, dan pemisahan ini adalah perlindungan dan pemeliharaan kita. Bila kita semua mengekspresikan Allah, kita akan dipisahkan dari segala sesuatu yang duniawi. Ini bukanlah doktrin melulu. Bila Anda hidup secara demikian, Anda akan mempunyai pengalaman yang penuh tentang apa yang saya katakan. Bila saya mengekspresikan Allah dalam penampilan yaspis, saya akan dipisahkan sepenuhnya dari dunia. Kemudian saya akan dilindungi, dipelihara, dan dijaga dalam ekspresi Allah. Sebagian orang ditawan oleh kesenangan dunia karena mereka tidak mengekspresikan Allah dalam penampilan yaspis. Sebaliknya, mereka mengekspresikan sesuatu yang lain. Bila kita kehilangan ekspresi ilahi dan sebagai gantinya mengekspresikan sesuatu dari diri kita, pemisahan kita segera hilang, dan kita tidak terlindung lagi. Hasilnya, kita tidak mempunyai tembok, tidak ada ekspresi, tidak ada pemisahan, dan tidak ada perlindungan. Puji Tuhan, dalam hidup gereja hari ini, perlindungan kita adalah ekspresi Allah sebagai pemisahan kita!
XI. DASAR
A. Kota yang Berdasar
Sekarang kita sampai pada dasar kota. Ini sangat pen-ting. Dalam Ibrani 11:10, tentang Abraham dikatakan, “Sebab ia menantinantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.” Kota yang berdasar ini, Yerusalem Baru, direncanakan dan dibangun oleh Allah.
Pemulihan Tuhan mempunyai dasar yang kuat. Sejak pemulihan Tuhan dibangkitkan di antara kita lebih dari 50 tahun yang lalu, kesaksian ini semakin lama semakin kokoh. Selama hidup saya, saya telah melihat banyak kelompok kekristenan muncul dan menghilang. Mereka dibangun dan dibentuk, tetapi kemudian menghilang. Banyak kelompok bebas yang muncul di Amerika Serikat beberapa tahun yang lalu, sekarang tidak nampak lagi wujudnya, karena mereka tidak mempunyai dasar yang teguh. Gereja, kota yang berdasar, tidak direncanakan oleh manusia. Ia direncanakan dan dibangun oleh Allah. Semua gereja dalam pemulihan Tuhan telah direncanakan dan dibangun oleh Allah, bukan oleh manusia. Karena kita mempunyai dasar yang sangat teguh, semakin kita ditentang dan diserang, kita akan menjadi semakin teguh.
B. Nama Rasul, Bukan Lagi Nabi
Ayat 14 mengatakan, “Tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.” Batu dasar di sini bukanlah Kristus, seperti yang disebutkan dalam 1 Korintus 3:10-11, melainkan kedua belas rasul Anak Domba. Hari ini gereja dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi (Ef. 2:20). Karena dalam kekekalan tidak perlu ada nabi lagi, maka batu dasar kota kudus itu hanya terdiri atas rasul-rasul. Ketika kita memasuki langit baru dan bumi baru, keempat zaman akan genap sehingga tidak diperlukan lagi nubuat. Segala sesuatu tentu telah dilaksanakan dan digenapi.
Kedua belas rasul di sini mewakili anugerah Perjanjian Baru, menunjukkan bahwa Yerusalem Baru dibangun di atas anugerah Allah. Jalan masuk ke dalam kota kudus adalah berdasarkan hukum Allah, tetapi kota itu dibangun di atas anugerah Allah.
C. Dibangun dengan Dua Belas Batu Permata
Ayat 19 mengatakan, “Dasar-dasar tembok kota itu di-hiasi dengan segala jenis permata.” Ayat ini dan ayat berikutnya memuat urutan nama kedua belas batu permata, yang adalah kedua belas rasul Anak Domba itu, masing-masing dilambangkan dengan sebuah batu permata. Petrus, rasul pertama dari kedua belas rasul, semula bersama Simon. Ketika Simon dibawa kepada Tuhan, Tuhan mengubah namanya menjadi Petrus, yang berarti “batu” (Yoh. 1:42). Kemudian Tuhan menyebutnya dengan nama ini ketika Dia berbicara tentang pembangunan gereja-Nya (Mat. 16:18). Batu permata bukanlah ciptaan, melainkan dihasilkan dari pengubahan benda ciptaan. Semua rasul diciptakan sebagai tanah liat, tetapi mereka telah dilahirkan kembali dan diubah menjadi batu-batu permata bagi pembangunan kekal Allah. Setiap orang beriman perlu dilahirkan kembali dan diubah seperti itu, agar dapat menjadi bagian dari Yerusalem Baru.
Batu dasar tembok kota terdiri dari dua belas lapis. Sekali lagi, angka dua belas menunjukkan kelengkapan da-lam administrasi kekal Allah. Lapis pertama adalah yaspis, menunjukkan bahwa rupa Allah adalah penampilan yang lebih dominan. Lapis pertama dari dasar tembok kota itu, sama seperti seluruh tembok seluruh Yerusalem Baru, dibangun dengan yaspis. Ini menunjukkan bahwa bahan utama dalam pembangunan kota kudus itu adalah yaspis. Karena yaspis melambangkan Allah yang terekspresi dalam kemuliaan-Nya yang tertransmisikan, maka fungsi utama kota kudus itu adalah mengekspresikan Allah dengan mengemban kemuliaan-Nya (ayat 11).
Sekarang kita harus melihat satu hal yang penting tentang dua belas dasar. Walaupun seluruh tembok adalah yaspis, kedua belas batu dasarnya adalah batu-batu permata yang berbeda dengan bermacam-macam warna. Setiap lapis berbeda satu sama lain. Alasannya ialah rasul-rasul mempunyai ministri yang berbeda-beda. Ministri Paulus berbeda dengan ministri Petrus, dan ministri Petrus berbeda dengan ministri Yohanes. Tetapi, kedua belas batu dasar ini bukan diletakkan bersebelahan, melainkan diletakkan bertumpukan. Lapisan yang teratas, lapisan yang berhubungan dengan tembok, adalah yaspis, warnanya sama se-perti tembok. Demikianlah semua pekerjaan rasul-rasul di-tampilkan dalam penampilan yang sama, yaspis. Kedua belas lapis terarah kepada dan mendukung kesaksian yang unik dalam ekspresi yang unik.
Banyak orang yang disebut pekerja-pekerja Kristen melakukan pekerjaan yang mengarah kepada penampilan perorangan. Tetapi pekerjaan rasul-rasul mengarah kepada satu penampilan. Pekerja-pekerja Kristen hari ini tidak hanya mempunyai warna yang berbeda, mereka juga tidak bertumpukan, melainkan berdampingan. Demikianlah mereka mempunyai ekspresi perorangan, kadang-kadang bahkan bersaingan dan bertengkar satu sama lain. Sebaliknya, pekerjaan para rasul adalah lapisan di atas lapisan dan mengarah kepada penampilan yang unik dari yaspis, yaitu penampilan Allah dalam Kristus.
Jika Anda memeriksa ministri rasul-rasul dalam Perjanjian Baru, Anda akan nampak bahwa setiap ministri bersifat bertumpukan, bukan berdampingan. Dalam buku “What Shall This Man Do?” Saudara Watchman Nee menguraikan bermacam-macam ministri rasul-rasul. Petrus, seorang nelayan, membawa ikan — bahannya. Paulus, pembuat tenda, membangun tenda dengan bahan yang dibawa oleh Petrus. Setelah tenda robek, rasul Yohanes da-tang untuk menambalnya. Demikianlah ministri Petrus adalah ministri menjala ikan, ministri Paulus adalah ministri pembangunan, dan ministri Yohanes adalah ministri penambalan. Ketiga rasul ini bekerja di atas pekerjaan yang lain. Pekerjaan Paulus di atas pekerjaan Petrus, pekerjaan Yohanes di atas pekerjaan Paulus. Hasilnya, mereka menghasilkan sebuah bangunan, bukan tiga rumah yang berlainan. Tidak seperti Petrus, Paulus, dan Yohanes, hari ini banyak pekerja Kristen membangun rumah mereka sendiri, masing-masing dengan bentuk, rancangan, warna, dan ekspresinya sendiri. Karena itu, dalam kekristenan ada beribu-ribu macam rumah. Tetapi dalam alam semesta hanya akan ada Yerusalem Baru yang unik, dibangun di atas dasar dari banyak ministri yang diletakkan bertumpukan. Kiranya hal ini jelas seperti kristal bagi kita.
Demi belas kasihan Tuhan, saya dapat bersaksi bahwa bertahun-tahun saya bekerja dengan Saudara Watchman Nee, tetapi saya tidak menyandang penampilan yang berbeda dengannya. Saya mempunyai kepastian dan keberanian untuk mengatakan bahwa ministri saya adalah sepenam-pilan dengan ministri Saudara Watchman Nee. Tidak peduli bagaimana musuh menggunakan para penentang untuk memisahkan saya dari Saudara Watchman Nee, sekarang saya tetap berdiri di atas pundaknya. Karena alasan inilah, dalam ministri kita, tidak ada perpecahan atau opini yang berbeda. Tetapi ini bukan berarti ministri saya seratus persen sama dengan ministri Saudara Watchman Nee. Bila Tuhan menunda kembali-Nya, saya harap sejumlah saudara muda di antara kita akan menjadi penerus pemulihan Tuhan. Tetapi kita harus paham bahwa melakukan pekerjaan yang lain secara berdampingan adalah salah mutlak. Pekerjaan Anda harus menjadi lapisan yang diletakkan di atas lapisan yang ada, dan harus menghasilkan penam-pilan yang sama.
Cepat atau lambat, banyak dari pencari Allah yang telah berada dalam pekerjaan-Nya bertahun-tahun, termasuk beberapa yang cukup terkenal, akan berbalik ke jalan pemulihan Tuhan. Tetapi kita tidak percaya bahwa Tuhan akan membangunkan pekerjaan secara berdampingan. Walaupun akan ada bermacam-macam ministri, mereka akan menjadi lapisan di atas lapisan, dan mereka akan mengarah kepada satu penampilan Allah dalam Kristus. Tidak peduli berapa banyak ministri yang ada dalam pemulihan, kita harus mempunyai pikiran yang sama, konsepsi yang sama, opini yang sama, dan kita harus mengatakan hal yang sama. Tetapi, ini bukan berarti semua ministri harus sama. Kita perlu ministri yang berbeda-beda, tetapi ministri itu harus bertumpukan. Semua ministri harus mengarah kepada satu penampilan — penampilan gereja hari ini dan Yerusalem Baru yang akan datang.
Akhir-akhir ini saya baru nampak bahwa kedua belas lapis batu dasar itu diletakkan satu di atas yang lain dan menghasilkan sebuah bangunan dengan satu penampilan. Semua ministri ini mendukung dan menyandang kesaksian unik yang sama. Tetapi, situasi kekristenan hari ini menunjukkan banyak kesaksian yang berbeda. Contohnya, kesaksian suatu kelompok, mungkin adalah pembasuhan kaki dan kesaksian kelompok lain adalah berbahasa lidah. Tetapi kita di sini bukan untuk hal-hal itu. Kita untuk ekspresi Allah Tritunggal yang unik, bukan untuk praktik tertentu atau doktrin tertentu. Walaupun ministri kita mung-kin berbeda, ekspresi kita, kesaksian kita, hanya satu. Kita tidak membangun berdampingan; kita membangun satu di atas yang lain untuk menghasilkan kesaksian Allah yang unik dalam alam semesta.
D. Penampilan Warnanya Seperti Pelangi
Warna dari kedua belas batu permata dasar, yang me-nyatakan kedua belas rasul, adalah sebagai berikut: pertama hijau, kedua dan ketiga biru, keempat hijau, kelima dan keenam merah, ketujuh kuning, kedelapan hijau kebiruan, kesembilan kuning, kesepuluh hijau apel, kesebelas dan kedua belas ungu. Kedua belas lapis batu dasar dengan warna-warna tersebut di atas tampak seperti pelangi, me-lambangkan bahwa kota itu dibangun dan dijaga oleh kesetiaan Allah dalam memegang perjanjian-Nya (Kej. 9:8-17), dan bahwa dasar kota itu dapat dipercaya dan disandari.