YERUSALEM BARU (5)
Dalam berita ini, akan kita bahas dua aspek yang cukup penting dari Yerusalem Baru — pintu gerbang dan jalannya. Memang bangunan kota itu, tembok kota, dan dasar kota itu juga penting, namun tanpa pintu gerbang, kita tidak akan bisa masuk ke dalam kota Yerusalem Baru itu. Kota itu akan menjadi tidak riil sama sekali, dan hanya bagus untuk dipamerkan. Tetapi karena Yerusalem Baru memiliki dua belas pintu gerbang, kota itu menjadi sangat riil.
Ada beberapa pemberitaan memang diberitakan dengan cukup baik, tetapi karena pemberitaan itu tidak memiliki pintu gerbang dan jalan, maka tidak ada jalan untuk memasuki atau menerapkan apa yang diberitakan itu. Keistimewaan pemberitaan Saudara Watchman Nee adalah, setiap kali menyampaikan suatu hal, ia selalu memberikan gambaran yang jelas tentang jalan untuk memasuki atau melaksanakan hal itu. Banyak orang membicarakan Roma 5, 6, 7 dan 8. Tetapi tidak peduli berapa banyak bahasan mereka, mereka tidak memberikan jalan untuk menerap-kan atau memasukinya. Sebaliknya, buku “Kehidupan Orang Kristen yang Normal” tulisan Saudara Watchman Nee, memberi kita pintu gerbang dan jalan yang tegas untuk menerapkan hal-hal yang diuraikannya. Semakin sering Anda membaca buku itu, Anda akan makin jelas melihat pintu gerbang yang terbuka. Walaupun saya menghargai beberapa pemberitaan orang lain di masa lalu, akhirnya saya menemukan, tidak ada jalan untuk memasuki atau menerapkan hal-hal yang diberitakan itu. Orang-orang yang memberitakannya dapat memperlihatkan kepada saya sebuah gedung yang megah di angkasa untuk saya kagumi, tetapi tidak memberikan jalan penerapan (pelaksanaan) untuk masuk ke dalamnya. Pemberitaan dalam pemulihan Tuhan hari ini melanjutkan prinsip pemberitaan Saudara Watchman Nee. Setiap hal yang kita beritakan, tersaji secara praktis, dapat dilaksanakan. Karena itu, Anda dapat memasuki atau menerapkan apa yang diberitakan. Demikian pula, Yerusalem Baru dapat dilaksanakan. Pelaksanaannya terlihat dari pintu gerbang dan jalannya. Tidak pe-duli dari arah mana Anda mendekati kota itu, Anda memiliki jalan untuk memasukinya.
Masalah “pelaksanaan” ini telah membuat saya kehilangan beberapa teman yang baik dan akrab dalam Tuhan. Suatu kali, saya diundang ke Inggris untuk tinggal bersa-ma seorang saudara yang terkenal karena khotbahnya. Di sana, kami terlibat dalam percakapan yang lama, sampai dua atau tiga jam setiap kalinya. Semua percakapan kami berkisar pada pelaksanaan Tubuh Kristus. Kami berdua telah nampak Tubuh, kesaksian Allah saat ini, dan prinsip hayat kebangkitan. Saya dapat menanggapi apa yang dilihatnya, dan ia pun dapat menanggapi apa yang saya lihat, terutama tentang Tubuh Tuhan. Namun, di antara kami ada perbedaan. Melalui bantuan Saudara Watchman Nee, saya nampak pelaksanaan Tubuh dan berbeban untuk memperhatikannya. Tetapi orang-orang di Inggris yang terkait dengan pemberitaan ini tidak memperhatikan aspek pelaksanaannya. Akhirnya, setelah percakapan yang lama, saya sadar bahwa saudara itu hanya nampak Tubuh, tetapi tidak nampak jalan pelaksanaan untuk mengalami Tubuh. Ia tidak nampak pelaksanaan ini dan juga tidak mau melihatnya. Saya jelaskan kepadanya, kita harus memiliki visi tentang Tubuh, dan juga pelaksanaannya. Sehubungan dengan perhatian saya terhadap pelaksanaan gereja, saya telah menerbitkan buku yang berjudul The Practical Expression of the Church. Walaupun saya kehilangan teman-teman yang terkasih karena masalah pelaksanaan gereja, tetapi jalan tetap jalan. Selama lebih dari tiga puluh tahun, sejak saya mengunjungi saudara itu di Inggris, Tuhan telah membenarkan atau membuktikan pelaksanaan gereja.
XII. PINTU-PINTU GERBANG
Kini mari kita perhatikan pintu-pintu gerbang Yerusalem Baru. Makna pintu gerbang tidak kalah dalamnya dibandingkan dengan makna batu dasar. Kita sangat perlu memahami makna kedua belas pintu gerbang itu.
A. Ada Tiga Pintu Gerbang di Setiap Sisinya
Wahyu 21:13 mewahyukan, dalam Yerusalem Baru ada tiga pintu gerbang di sebelah timur, tiga pintu gerbang di sebelah utara, tiga pintu gerbang di sebelah selatan, dan tiga pintu gerbang di sebelah barat. Jadi kota itu berbentuk empat persegi (ayat 16), dengan tiga pintu gerbang pada setiap sisinya. Sisi timur, di depan, mengarah kepada kemuliaan matahari terbit, menduduki urutan pertama; sisi utara, di atas, menduduki urutan kedua; sisi selatan, di bawah, menduduki urutan ketiga; dan sisi barat, di belakang, menduduki urutan keempat. Pintu-pintu gerbang di keempat sisi itu menghadap ke empat penjuru bumi, melambangkan pintu masuk ke dalam kota kudus itu tersedia bagi semua orang di bumi. (Bandingkan dengan keempat cabang sungai dalam Kejadian 2:10-14).
1. Allah Tritunggal Mudah Didapatkan Semua Orang
Ketiga pintu gerbang di setiap sisi melambangkan Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — bekerja sama untuk membawa orang masuk ke dalam kota kudus itu. Ini ditunjukkan dalam tiga perumpamaan dalam Lukas 15 dan tersirat dalam perkataan Tuhan dalam Matius 28:19. Ketiga perumpamaan dalam Lukas 15 mengisahkan gembala dan domba yang hilang; seorang perempuan dan dirham yang hilang; dan seorang ayah dengan anaknya yang hilang. Gembala mengacu kepada Putra; bapa, tentu mengacu kepada Bapa; dan perempuan mengacu kepada Roh. Agar orang yang berdosa dapat kembali ke rumah Bapa, perlulah Putra, gembala, mencari dan membawa kembali domba yang hilang; juga perlu Roh menerangi hati manusia supaya mereka bertobat; pun perlu Bapa menerima anak hilang yang bertobat dan kembali. Jadi Allah Tritunggal adalah jalan masuk ke dalam Yerusalem Baru.
Allah Tritunggal sedang bekerja, membawa orang masuk ke dalam kota kudus itu. Hal itu juga tersirat dalam perkataan Tuhan dalam Matius 28:19. Dibaptis ke dalam Bapa, Putra, dan Roh, adalah jalan masuk yang sesungguhnya ke dalam kota kudus. Jadi, Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga pintu gerbang di setiap sisi kota itu. Ketiga pintu gerbang itu bukan satu pintu gerbang di tiga buah sisi, melainkan tiga pintu gerbang di setiap sisi. Pintu gerbang di satu sisi sama persis dengan pintu gerbang di ketiga sisi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Tritunggal mudah dimiliki oleh orang-orang dari keempat penjuru bumi.
Ketiga pintu gerbang itu menunjukkan bahwa Allah Tritunggal telah datang untuk mencapai kita dan membawa kita ke dalam ekonomi kekal-Nya. Tiga dalam keAllahan — Bapa, Putra, dan Roh, telah keluar dalam ekonomi Allah, untuk mencapai kita dan membawa kita kembali kepada ekonomi-Nya. Beberapa ayat dalam Perjanjian Baru membicarakan Allah Tritunggal, misalnya dalam Efesus 3:14-17 Paulus berkata, “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, . . . supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya ke dalam manusia batiniah, sehingga oleh imanmu Kristus berumah di dalam hatimu” (Tl). Dalam ayat-ayat ini, kita nampak Bapa, Putra, dan Roh. 2 Korintus 13:13 juga mengungkapkan Allah Tritunggal, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Dalam ayat ini tiga dari keAllahan adalah untuk penyaluran-Nya, untuk keluar masuk-Nya, yaitu untuk perluasan-Nya dan agar kita dapat masuk ke dalam-Nya.
Ketika Alkitab untuk pertama kalinya menyebut ma-nusia, manusia disebutkan berkaitan dengan Allah Tritung-gal. Kejadian 1:26 mengatakan, “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.’” “Kita” dalam ayat itu mengacu kepada Allah Tritunggal. Jadi, dalam ayat itu, yang menyebut manusia untuk kali pertama ini, telah menyiratkan bahwa Allah adalah tritunggal. Kalau Allah tidak tritunggal, Ia tidak mungkin dapat menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, dan membaurkan diri-Nya dengan kita. Namun, karena Allah itu tritunggal, Ia dapat masuk ke dalam manusia. Bapa adalah sumber, Putra adalah saluran, dan Roh adalah alirannya. Dengan demikianlah Allah Tritunggal masuk ke dalam kita.
2. Perbauran Allah Tritunggal dengan Ciptaan-Nya — Manusia
Tiga pintu gerbang di keempat sisi, yang menghasilkan angka dua belas, juga menyiratkan perbauran Allah Tritunggal dengan ciptaan Allah — manusia. Angka empat melambangkan makhluk ciptaan (4:6), dan angka tiga, tentu saja melambangkan Allah Tritunggal. Angka dua belas bukan menunjukkan pertambahan, melainkan perkalian. Tiga kali empat menunjukkan Allah Tritunggal membaurkan diri-Nya dengan ciptaan-Nya — manusia, untuk menghasilkan suatu susunan yang majemuk.
B. Setiap Pintu Gerbang Adalah Sebuah Mutiara
Ayat 21 mengatakan, “Kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: Setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara.” Kita telah nampak bahwa emas melambangkan sifat ilahi dan batu permata melambangkan sesuatu yang dihasilkan oleh pekerjaan pengubahan Roh itu. Makna mutiara terkandung dalam proses pembentukannya. Mutiara dihasilkan oleh tiram dalam air kematian. Ketika tiram itu terluka oleh sebutir pasir, ia membungkus pasir itu dengan cairan hayatnya dan menjadikannya satu mutiara yang berharga. Ini melukiskan Kristus sebagai Yang hidup, masuk ke dalam air kematian, dilukai oleh kita, dan mengalirkan hayat-Nya untuk membungkus kita, menjadikan kita mutiara yang berharga bagi pembangunan ekspresi kekal Allah.
Kita harus memuji dan mengapresiasi hikmat Allah. Hampir segala sesuatu dalam ciptaan-Nya adalah gambaran dari aspek ekonomi-Nya. Ketika Tuhan Yesus di bumi, Ia memakai banyak hal yang terdapat di alam ini sebagai perumpamaan. Terang, gandum, makanan, dan bahkan tiram penghasil mutiara adalah lambang. Kristus, Yang hidup, masuk ke dalam keadaan kita yang mati dan tinggal di dalamnya. Melalui hidup di dalam air kematian, Ia terluka oleh kita. Setelah melukai-Nya, kita tetap tinggal dekat luka-Nya. Ini berarti kita bertobat, percaya kepada-Nya dan menerima-Nya. Betapa kita mengapresiasi luka yang diderita-Nya pada saat Ia disalibkan! Pada saat kita tinggal dekat luka-Nya, Ia mengeluarkan sari hayat kebangkitan-Nya, sari hayat ini membungkus kita, dan akhirnya mengubah kita menjadi mutiara. Dengan tinggal pada luka Kristus, kita menerima hayat-Nya dan dilahirkan kembali. Dengan tinggal pada luka Kristus setelah dilahirkan kembali, kita pun diubah menjadi mutiara.
Kedua belas pintu gerbang kota kudus itu adalah kedua belas mutiara. Hal itu melambangkan bahwa kelahiran kembali yang didapatkan melalui penaklukan maut dan penyaluran hayat Kristus adalah jalan masuk ke dalam kota itu. Pintu itu memenuhi tuntutan hukum Taurat yang diwakili oleh Israel, dan yang diamati oleh malaikat pengawal (ayat 12). Sebab itu, mutiara adalah jalan masuk ke dalam kota itu. Bagaimana Anda masuk ke dalam kota Yerusalem Baru? Dengan memanjat temboknya? Itu tidak mungkin, karena temboknya terlalu tinggi. Satu-satunya cara memasuki Yerusalem Baru adalah melalui pintu gerbang mutiara, melalui pintu gerbang yang terbentuk dari kebangkitan Kristus yang mengalahkan maut dan menyalurkan hayat. Puji Tuhan, kita semua telah masuk ke dalam Yerusalem Baru secara demikian! Kita mengaku dosa, kita bertobat, kita menghargai kematian-Nya, dan menikmati tinggal pada luka-Nya; segera kita menerima aliran hayat yang melahirkan kembali kita dan yang kini sedang mengubah kita. Melalui pengalaman kita atas kematian dan kebangkitan Kristus, kita melewati pintu gerbang mutiara dan kini berada di dalam kota itu. Haleluya!
Setiap pintu gerbang itu adalah sebutir mutiara. Hal ini menyatakan bahwa jalan masuk kota itu bersifat unik dan sekali untuk selamanya; yaitu kita dapat masuk ke dalam kota itu hanya melalui kelahiran kembali sekali untuk selamanya yang dirampungkan oleh kebangkitan Kristus yang mengalahkan maut dan menyalurkan hayat.
C. Tertulis Nama Kedua Belas Suku Israel
Nama kedua belas suku Israel terukir pada kedua belas pintu gerbang kota itu (ayat 12). Israel di sini mewakili hukum Taurat Perjanjian Lama, menunjukkan bahwa hukum Taurat diwakili pada pintu gerbang Yerusalem Baru. Hukum Taurat mengamati dan mengawasi untuk memastikan bahwa semua lalu lintas, yang keluar masuk dalam kota kudus itu, memenuhi tuntutan hukum Taurat. Jadi, seluruh lalu lintas kota itu sesuai dengan hukum Allah.
Rasul mewakili anugerah, sedangkan kedua belas suku Israel mewakili hukum Taurat. Kedua belas pintu gerbang dihasilkan menurut hukum Taurat. Kristus mati bagi dosa kita menurut hukum Taurat, dan dalam arti yang sangat positif, Ia pun bangkit dari antara orang mati untuk menggenapkan hukum Taurat. Pertobatan kita juga sesuai dengan hukum Taurat, karena kita bertobat atas kesalahan kita melanggar hukum Taurat, dan kita mengakui dosa-dosa kita menurut hukum Taurat. Jadi, hukum Taurat adalah faktor dasar dalam kematian Kristus dan dalam pertobatan kita serta pengakuan kita. Berarti, kedua belas pintu gerbang mutiara sepenuhnya sesuai dengan hukum Taurat dan telah menggenapkan tuntutan hukum Taurat. Pintu masuk kita ke dalam kota kudus tidaklah melanggar hukum Taurat, ia sesuai dengan hukum Taurat, bahkan menggenapkan hukum Taurat. Apa pun yang dituntut hukum Taurat telah terpenuhi pada saat kita memasuki kota itu. Dengan kata lain, kita masuk ke dalam Yerusalem Baru menurut hukum Taurat. Jalan masuk kita sepenuhnya sah dan sesuai dengan hukum, karena dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah sepenuhnya menggenapkan tuntutan hukum Taurat. Perkara ini cukup dalam.
Karena jalan masuk kita ke dalam Yerusalem Baru melalui pintu gerbang mutiara harus sesuai dengan hukum Taurat, maka kita semua harus bertobat, mengakui dosa-dosa kita, dan berkata, “O Tuhan Yesus, Engkau tidak hanya mati bagi dosa-dosaku, Engkau juga mati bagiku. Tuhan, aku mengaku bahwa aku penuh dosa, aku telah melakukan banyak dosa, dan aku hanya patut mati. Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu, karena Engkau telah mati bagi-ku.” Pertobatan dan pengakuan semacam ini memenuhi tuntutan hukum Taurat dan membuat kita bersyarat ma-suk ke dalam kota itu.
D. Ada Dua Belas Malaikat
pada Kedua Belas Pintu Gerbang
Bagian tengah ayat 12 mengatakan, “Dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat.” Kedua belas pintu gerbang kota itu adalah untuk lalu lintas, untuk keluar dan masuk. Dua belas adalah angka kesempurnaan yang mutlak dan kelengkapan yang kekal dalam administrasi Allah. Jadi, dua belas pintu gerbang menunjukkan bahwa lalu lintas dalam Yerusalem Baru mutlak sempurna dan lengkap selama-lamanya bagi administrasi Allah.
Ayat 12 memberi tahu kita bahwa pada pintu gerbang kota itu ada dua belas malaikat. Dalam ekonomi kekal Allah, malaikat-malaikat adalah roh-roh yang melayani orang-orang yang mewarisi keselamatan dan yang berbagian dalam berkat kekal Yerusalem Baru, pusat langit baru dan bumi baru. Mereka akan menjadi penjaga warisan milik kita, sedangkan kita akan menjadi orang-orang yang menikmati warisan yang kaya dalam ekonomi kekal Allah. Itulah makna yang terkandung angka dua belas.
Malaikat pada kedua belas pintu gerbang itu mengamati kenikmatan orang-orang yang masuk ke dalam kota itu. Dalam Lukas 15:10 Tuhan berkata, “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” Setiap kali ada satu orang dosa bertobat, malaikat-malaikat di surga akan bersukacita. Ketika Anda bertobat dan menerima Tuhan, apakah Anda memperhatikan fakta ini? Tentu tidak. Jauh sebelum Anda beroleh selamat, malaikat-malaikat sudah mengamati Anda, mereka tahu bahwa Anda sudah dipilih, ditentukan, dan ditandai oleh Allah. Tetapi karena ketegaran Anda, mungkin baru lima belas tahun atau dua puluh tahun kemudian Anda bertobat. Tetapi pada saat Anda bertobat, dan menyeru nama Tuhan Yesus, malaikat-malaikat yang mengamati Anda bersukacita. Malaikat Anda mungkin berkata, “Orang yang telah kuamati selama lebih dari dua puluh lima tahun akhirnya bertobat juga. Haleluya!”
Malaikat-malaikat yang mengamati kita menurut hukum Taurat, melihat apakah kita benar-benar bertobat dan mengakui dosa-dosa kita kepada Allah, dan apakah kita memasuki kota kudus berdasarkan hukum Taurat Israel. Orang Israel mewakili hukum Taurat, dan malaikat adalah “roh-roh yang melayani — yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan?” (Ibr. 1:14) — adalah penjaga pintu gerbang. Terlebih dulu malaikat mengamati di pintu gerbang untuk melihat bagaimana kita bertobat. Kemudian, setelah kita bertobat dan masuk ke dalam Yerusalem Baru, malaikat itu menjadi pelayan kita. Kita adalah pewaris, pemilik alam semesta, dan malaikat adalah pelayan kita. Menurut kebiasaan kuno di antara orang Yahudi di Palestina, pelayan-pelayan sangat memperhatikan masalah ahli waris menerima bagian dan warisan mereka. Demikian pula, malaikat-malaikat, pelayan-pelayan di keluarga Bapa kita, sangat memperhatikan masalah warisan kita dan masalah kehilangan atau kejatuhan ahli waris. Jadi, penjaga pintu gerbang itu sedang menanti kita kembali. Ketika melihat kita kembali, mereka bersukacita dan langsung mulai melayani kita, dengan senang membantu ahli waris yang bertobat ini menikmati warisan sah mereka. Dengan uraian singkat mengenai malaikat ini, sekali lagi kita lihat bahwa untuk memahami setiap butir dalam Kitab Wahyu, kita perlu menelusuri perkembangan butir itu di seluruh Alkitab.
Mazmur 34:8 mengatakan, “Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” Menurut ayat ini, malaikat-malaikat bahkan berkemah di sekeliling kita untuk melindungi kita. Beberapa malam saya terus berkata, “Tuhan, nyatakanlah kekuasaan-Mu untuk mengirimkan satu perkemahan malaikat untuk melindungi rumahku.” Saya berdoa demikian, terutama bila saya bepergian dan bermalam di sebuah kamar hotel. Karena mengingat adanya bahaya kebakaran, saya mohon Tuhan mengirimkan malaikat untuk berke-mah di sekitar saya. Malaikat benar-benar pelayan dari ahli waris yang sah dan sejati atas kekayaan Allah.
E. Terus-menerus Terbuka
Ayat 25 mengatakan, “Pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup sepanjang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana.” Tembok kota itu memisahkan kota itu dari bangsa-bangsa, tetapi pintu-pintu gerbang kota itu terus-menerus terbuka bagi mereka.
XIII. JALAN
Ayat 21 mengatakan, “Dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.” Pintu gerbang adalah jalan masuk ke dalam kota itu, sedangkan jalan adalah untuk penempuhan hidup sehari-hari di dalam kota itu. Jalan masuk ke dalam kota itu adalah melalui kematian dan kebangkitan Kristus, sedangkan penempuhan hidup sehari-hari di dalam kota itu adalah menurut sifat ilahi Allah yang dilambangkan dengan jalan emas murni. Setelah masuk melalui kelahiran kembali, orang kudus harus menempuh hidup sehari-hari dalam sifat ilahi Allah sebagai jalannya. Sifat ilahi Allah adalah jalan mereka.
Alkitab berbeda dengan konsepsi manusia yang alamiah. Menurut konsepsi manusia, mula-mula kita berjalan di atas jalan, kemudian masuk melalui pintu gerbang. Tetapi dalam Alkitab, mula-mula kita masuk melalui pintu gerbang, kemudian berjalan di atas jalan itu. Dalam aliran tertentu, orang-orang diajar untuk bekerja dulu, kemudian baru menerima keselamatan. Pikiran semacam itu bersifat setani. Dalam ekonomi Allah, kita menerima keselamatan dulu, baru bekerja. Mula-mula kita masuk ke dalam anugerah; kemudian kita berjalan di dalam anugerah. Jangan sekali-kali mengira Anda bisa bersyarat untuk menerima anugerah bersandarkan berjalan atau bekerja. Tidak, anu-gerah itu cuma-cuma. Setelah Anda masuk melalui pintu gerbang berdasarkan anugerah, Anda baru mulai berjalan, dan Anda perlu menempuh suatu perjalanan yang panjang.
Dari pintu gerbang ke puncak gunung emas tempat takhta Allah berada terbentang suatu jalan yang panjang. Ingatlah, Yerusalem Baru adalah gunung emas setinggi 12.000 stadia (2176 km). Di samping itu, jalan emas itu berbentuk spiral, sehingga jarak yang ditempuh menjadi lebih panjang. Namun, kita tidak ada pilihan, selain menempuh jalan itu. Saya telah berjalan di jalan itu lebih dari lima puluh tahun, dan masih tetap menempuhnya. Walaupun saya ingin berjalan lebih cepat, kadang-kadang ada saudara yang menarik saya mundur, sehingga saya terpaksa berhenti menunggu mereka.
A. Hanya Satu
Jalan di kota Yerusalem Baru hanya ada satu. Tidak akan ada yang bingung, tersesat, atau kehilangan arah. Jalan itu hanya satu. Tidak peduli dari pintu gerbang mana Anda masuk ke dalam kota itu, Anda tetap di jalan itu. Di Yerusalem Baru tidak ada jalan yang bernama Jalan Baptis, Jalan Presbiterian, Jalan Methodis, atau Jalan Lutheran. Di samping itu, tidak ada jalan yang dikaitkan dengan suatu aliran kepercayaan. Jalan itu adalah sifat ilahi Allah. Dalam sifat ilahi ini kita adalah satu.
B. Dari Emas Murni
Ayat 21 mengatakan bahwa jalan kota itu dari emas murni. Kita tahu, emas melambangkan sifat ilahi. Setelah kita beroleh selamat dan masuk ke dalam Yerusalem Baru, kita harus berjalan di atas sifat ilahi sebagai jalan kita. Sifat ilahi adalah jalan dan tenaga kita. Andaikata seorang saudari berkata kepada saya, “Saudara Lee, aku mengasihi Tuhan dan ingin tinggal di Yerusalem Baru. Dapatkah engkau memberi tahu aku, model pakaian yang harus kupakai dan bagaimana pula seharusnya potongan rambutku?” Saya akan memberi tahu saudari itu bahwa ia harus memilih pakaiannya dan memotong rambutnya menurut sifat ilahi yang di batinnya. Model, warna, bahan, dan rancangan pakaiannya harus sesuai dengan sifat ilahi di batinnya. Sifat ilahi adalah jalan kita, penempuhan kita, dan kita semua harus berjalan berdasarkan sifat ilahi itu. Hari ini, jalan kita bukan berasal dari peraturan, melainkan dari sifat ilahi. Bukankah di batin Anda ada sifat emas? Berjalanlah menurut sifat itu. Kalau sudah memiliki hayat ilahi dengan sifat ilahi, mengapa Anda tidak mau berjalan di atasnya? Pembicaraan Anda sesuai dengan sifat ilahi atau sesuai dengan sifat insani Anda? Semoga kita semua nampak bahwa hari ini sifat Allah adalah jalan kita.
Dalam pemulihan Tuhan, kita sedang berjalan dalam sifat ilahi. Saudara-saudara pewajib gereja dapat bersaksi, saya tidak mengajar orang lain harus berbuat apa. Sebaliknya, saya mendorong mereka berjalan menurut sifat ilahi di batin mereka. Karena sifat ilahi adalah jalan emas kita, maka dalam hidup gereja kita tidak perlu peraturan. Jalan itu sendiri peraturan bagi kita, karena tidak ada yang lebih mengatur orang daripada sebatang jalan. Setiap sopir dengan sendirinya diatur oleh jalan yang ditempuhnya. Dalam Yerusalem Baru, setiap orang diatur oleh jalan yang unik itu, yaitu oleh sifat emas Allah di batin kita.
C. Bagaikan Kaca yang Jernih
Emas murni, yang mewakili jalan dan bangunan kota Yerusalem Baru itu bagaikan kaca yang jernih (ayat 18), menunjukkan bahwa seluruh kota itu tembus pandang. Jalan emas itu jernih seperti kristal, tidak suram sedikit pun. Mutiara mungkin bisa kabur atau tidak transparan, tetapi setiap mutiara itu adalah pintu gerbang yang terbuka, yang tidak akan ditutup siang dan malam.
D. Berbentuk Spiral, Turun dari Takhta Allah
Jalan Yerusalem Baru berbentuk spiral, turun dari takhta Allah mencapai semua orang pilihan Allah. Jadi, jalan itu mencapai setiap pintu gerbang. Jalan itu pun membimbing kita dari pintu gerbang menuju takhta Allah.
E. Satu Jalan Melalui Kedua Belas
Pintu Gerbang di Keempat Arah
Jalan yang satu itu melalui kedua belas pintu gerbang di keempat arah. Di jalan ini, semua orang tebusan Allah berjalan dalam keesaan mutlak ketika mereka dibimbing oleh jalan itu menuju takhta Allah. Jadi, dalam Yerusalem Baru hanya ada satu jalan yang menuju satu sasaran.
F. Dengan Suplai Hayat
Wahyu 22:1 mengatakan, “Lalu ia menunjukkan kepa-daku sungai air hayat, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba itu, di tengah jalan itu” (Tl.). Ayat ini mewahyukan, bahwa sungai air hayat mengalir di tengah jalan itu. Sebab itu, pada jalan itu ada suplai hayat. Selanjutnya, 22:2 mengatakan, “Di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon hayat yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali”(Tl.). Di sini kita nampak bahwa pohon hayat tumbuh di kedua sisi sungai sepanjang jalan itu. Jadi, semua suplai hayat berhubungan dengan jalan itu. Semakin sering kita bergerak, bertindak, dan hidup menurut sifat ilahi itu, semakin banyak suplai hayat yang kita terima. Namun, jika kita tidak memperhatikan sifat ilahi di batin kita, melainkan melakukan sesuatu menurut selera kita sendiri, kita akan kehilangan suplai hayat. Tetapi jika kita memperhatikan sifat ilahi di batin kita secara riil dalam hidup sehari-hari, kita akan menikmati suplai hayat yang kaya yang ada di sepanjang jalan emas ini.