YERUSALEM BARU (6)
XIV. BAIT
Dalam berita yang lalu telah kita bahas bangunan kota, dasar kota, tembok kota, pintu gerbang, dan jalannya. Kini kita sampai pada bait, subyek yang sangat penting dalam Alkitab.
A. Tuhan Allah Yang Mahakuasa dan Anak Domba
Wahyu 21:22 mengatakan, “Aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.” Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa di dalam Yerusalem Baru tidak ada Bait Suci. Dalam Perjanjian Lama, kemah Allah adalah pendahulu dari Bait Allah. Yerusalem Baru sebagai Kemah Allah (ayat 3) akan menjadi Bait Allah. Ini menunjukkan bahwa di langit baru dan bumi baru, Bait Allah akan diperbesar sampai menjadi sebuah kota. Panjang, lebar, dan tinggi kota itu sama (ayat 16). Ini menunjukkan bahwa kota itu secara keseluruhan akan menjadi tempat maha kudus, bagian dalam Bait Suci. Karena itu, di dalam kota tidak akan ada Bait.
Kata Yunani untuk “Bait Suci” dalam ayat 22, adalah “naos”, bukan mengacu kepada seluruh Bait Suci secara umum, termasuk tempat kudus dan tempat maha kudus, melainkan mengacu kepada bagian dalam Bait Suci, yaitu ruang maha kudus. Bagian dalam Bait Suci ini adalah Tuhan Allah Yang Mahakuasa dan Anak Domba, menun-jukkan bahwa Allah dan Anak Domba itu akan menjadi tempat kita melayani Allah, dan juga tempat tinggal kita. Sebagai kemah Allah, kota kudus itu adalah tempat tinggal Allah; dan sebagai Bait, Allah dan Anak Domba itu adalah tempat tinggal orang-orang kudus yang tertebus. Dalam langit baru dan bumi baru, Yerusalem Baru akan menjadi tempat tinggal bersama bagi Allah dan manusia sampai selama-lamanya.
Seluruh kota Yerusalem Baru adalah tempat maha kudus, Allah dan Anak Domba adalah Bait kota itu. Jika kita menjajarkan kedua hal ini, kita akan nampak bahwa kota itu adalah Allah dan Anak Domba. Karena seluruh kota itu adalah tempat maha kudus, dan karena bagian dalam Bait itu adalah Allah dan Anak Domba, maka kota itu adalah Allah dan Anak Domba.
Lagi pula, seluruh kota itu disebut kemah (Why. 21:3). Sebagaimana seorang anak laki-laki adalah pendahulu dari seorang pemuda, demikian pula kemah adalah pendahulu dari bait. Sebelum bait muncul, ada kemah. Tetapi ketika kemah tampil dalam kepenuhannya, ia menjadi bait. Sebab itu, kita perlu memperhatikan tiga hal: seluruh kota itu adalah tempat maha kudus, Bait adalah Allah dan Anak Domba itu, dan seluruh kota itu adalah kemah. Bila kita menjajarkan hal-hal ini, kita nampak bahwa Allah sendiri adalah seluruh kota Yerusalem Baru.
Namun, seperti yang telah kita tunjukkan, seluruh ko-ta Yerusalem Baru juga merupakan satu susunan hidup dari semua orang yang ditebus oleh Allah. Di satu pihak, seluruh kota itu adalah Allah; di pihak lain, kota itu adalah suatu susunan hidup dari orang-orang yang tertebus. Jika Anda merasa hal ini sulit diterima oleh pikiran alamiah Anda, izinkan saya mengajukan pertanyaan ini, “Bukankah kita mengatakan bahwa gereja hari ini adalah Kristus, dan bukankah kita juga mengatakan bahwa gereja adalah suatu susunan dari semua orang beriman?” Di satu pihak, gereja adalah suatu susunan semua orang beriman; di pihak lain, Kristus adalah Kepala dan Tubuh. Jadi, Kita memiliki istilah Tubuh Kristus. 1 Korintus 12:12 menunjukkan bahwa Kristus bukan hanya Kepala, tetapi juga Tubuh, “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” Prinsip yang sama berlaku bagi gereja dan Yerusalem Baru.
Gereja adalah perluasan Kristus. Kristus sendiri adalah Kristus yang individual, tetapi gereja adalah Kristus yang korporat, Kristus yang diperbesar dan diperluas. Sebab itu, gereja adalah perluasan Kristus. Demikian pula, Yerusalem Baru adalah perluasan dan perbesaran Allah Tritunggal.
Banyak agamawan tidak setuju dengan pernyataan ini, karena mereka kurang pengalaman. Beberapa orang bahkan memfitnah kita, mengatakan bahwa kita mengajarkan evolusi menjadi Allah. Kita menolak tuduhan yang memfitnah itu, namun kita mengatakan bahwa kita adalah perluasan Allah dan pembesaran Allah. Setelah orang-orang yang menentang dan mengecam kita itu disempurnakan, mereka akan mengatakan, “Saudara Lee, Anda benar. Maafkan kami karena kami sudah menentangmu. Ketika kami berada di zaman anugerah, kami tidak memiliki pengalaman. Sebab itu, kami sungguh bodoh menentangmu. Namun kami telah ditanggulangi selama zaman kerajaan, dan kami telah disempurnakan. Sekarang kita bersama-sama di dalam kekekalan, kami ingin berdamai denganmu. Kami mohon maaf padamu.” Jika ada orang berkata demikian, saya akan memberitahunya bahwa saya sudah memaafkannya dalam zaman anugerah. Cepat atau lambat, mungkin dalam zaman ini, mungkin dalam zaman yang akan datang, atau dalam kekekalan, orang-orang yang menentang kita akan mengakui bahwa wahyu yang unggul dari Alkitab melukiskan Yerusalem Baru sebagai perluasan Allah.
Yerusalem Baru adalah Bait juga Kemah. Ini berarti Yerusalem Baru tidak hanya menjadi perluasan Allah — Bait, tetapi juga Kemah — Allah dan Anak Domba me-naungi umat tebusan-Nya dengan diri-Nya sebagai Kemah. Wahyu 7:15 mengatakan tentang jumlah besar orang banyak melayani Allah di dalam Bait Suci surgawi, “Karena itu, mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.” Allah akan menaungi umat tebusan-Nya dengan membentangkan diri-Nya di atas mereka. Dalam Mazmur 90:1 Musa berkata, “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.” Musa mengenal bahwa Allah adalah tempat perteduhan kita yang kekal, tempat tinggal kita yang kekal. Mazmur 90 adalah nubuat mengenai hal ini. Saya tidak memperhatikan soal tinggal di satu rumah besar di surga. Saya lebih suka tinggal di dalam Allah, yaitu di dalam perluasan Allah. Pikiran alamiah kita mungkin tidak menduga bahwa kita dapat tinggal di dalam Allah. Namun, seluruh kota Yerusalem Baru akan menjadi diri Allah sebagai tempat tinggal kita. Perluasan dan perbesar-an Allah akan menjadi kota kekal kita yang di dalamnya kita tinggal sampai selama-lamanya. Semua orang yang di-tebus oleh Allah akan melayani dan tinggal di dalam Allah serta Anak Domba sebagai bait.
Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kemah adalah pendahulu bait itu. Ketika Tuhan Yesus berinkarnasi, Dia berkemah di antara kita (Yoh. 1:14). Dia juga adalah bait (Yoh. 2:19-21). Hari ini, gereja adalah bait (1 Kor. 3:16). Kedua istilah ini, kemah dan bait, dipakai berkali-kali dalam Alkitab. Maka, jika kita ingin mengenal Yerusalem Baru, kita harus mempelajari semua bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengenai kemah dan bait. Singkatnya, kemah bukan untuk didiami manusia, melainkan untuk tempat tinggal Allah. Akhirnya, Yerusalem Baru akan merupakan tempat tinggal Allah dan manusia. Ini berarti, Ia akan menjadi tempat tinggal bersama. Allah akan menjadi tempat tinggal kita, dan kita akan menjadi tempat tinggal-Nya.
Kita memiliki miniatur tempat tinggal bersama ini di dalam firman Tuhan, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 15:4). Tinggal di dalam Tuhan berarti memandang-Nya sebagai tempat tinggal kita, kemah kediaman kita. Ketika kita memandang Tuhan sebagai tempat tinggal kita, Dia juga tinggal di dalam kita. Tinggal di sini bersifat saling, karena kita tinggal di dalam Tuhan, dan Tuhan tinggal di dalam kita. Kita tidak perlu menunggu sampai Yerusalem Baru yang akan datang untuk tinggal di dalam Tuhan dan Tuhan tinggal di dalam kita. Saya dapat bersaksi bahwa sering kali saya tahu bahwa saya benar-benar tinggal di dalam Tuhan dan Tuhan benar-benar tinggal di dalam saya. Bahkan pagi ini saya tinggal di dalam-Nya dan Dia tinggal di dalam saya. Meskipun ini sulit dijelaskan, ini adalah fakta dalam pengalaman kita. Kita semua dapat bersaksi bahwa begitu kita tinggal di dalam Dia, segera kita merasakan bahwa Dia tinggal di dalam kita. Jika Anda berkata, “Tuhan Yesus, terima kasih bahwa saat ini aku tinggal di dalam-Mu,” Anda akan segera merasakan bahwa Ia pun tinggal di dalam Anda. Di mana pun Anda berada, di rumah, sedang bekerja, atau di sekolah, Anda dapat berkata, “O Tuhan Yesus, saat ini aku tinggal di dalam-Mu,” dan sesuatu di dalam Anda akan mengata-kan, “Aku pun tinggal di dalammu.” Ini adalah miniatur dari Yerusalem Baru yang akan datang, yang akan meru-pakan suatu tempat tinggal bersama bagi kita dan bagi Allah dan Anak Domba.
Di satu pihak, kita akan menjadi Yerusalem Baru; di pihak lain, Yerusalem Baru adalah Allah dan Anak Domba. Demikian pula prinsipnya di dalam gereja hari ini. Di satu pihak, kita adalah gereja; di pihak lain, gereja adalah Kristus. Perkara tempat tinggal bersama ini dalam dan sukar dimengerti. Kota yang baru ini akan menjadi tempat tinggal kita dan juga tempat tinggal Allah. Demikian pula bait, yang pertama-tama adalah tempat tinggal Allah dan kemu-dian tempat para imam melayani Allah. Kota yang baru itu adalah Allah sendiri. Kita akan tinggal di dalam Allah un-tuk melayani Allah. Allah yang kita layani akan menjadi bait tempat kita melayani Dia. Sungguh ajaib! Semoga kita semua mengalami-Nya sedemikian.
XV. TERANG
Ayat 23 mengatakan, “Kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampu-nya.” Dalam kerajaan seribu tahun terang matahari dan bulan akan diperkuat (Yes. 30:26). Tetapi dalam Yerusalem Baru di langit dan bumi baru, terang matahari atau bulan tidak diperlukan lagi. Matahari dan bulan ada dalam langit baru dan bumi baru, tetapi terang mereka tidak diperlukan dalam Yerusalem Baru; karena Allah, terang ilahi, akan memancarkan sinar yang lebih terang di sana.
Bait kota itu adalah Allah sendiri, terangnya juga adalah Allah sendiri. Selain Allah dan Anak Domba, tidak ada lainnya di dalam kota itu. Dalam Yerusalem Baru, Allah adalah segala-galanya.
Sebagai lampunya, Anak Domba akan bersinar dengan Allah sebagai terang untuk menerangi kota itu dengan ke-muliaan Allah, yaitu ekspresi terang ilahi. Karena kota kudus akan diterangi oleh terang ilahi semacam itu, maka kota itu tidak memerlukan terang yang lain, baik itu terang ciptaan Allah atau terang buatan manusia (22:5). Tidak lagi diperlukan terang yang alamiah. Walaupun di langit dan bumi baru masih ada matahari dan bulan, kita tidak memerlukannya karena tempat tinggal kita akan lebih terang daripada mereka. Terang buatan manusia juga tidak diperlukan. Allah sendiri akan menjadi terang di dalam kota kudus. Demikian pula dalam hidup gereja hari ini, karena Kristus adalah terang di dalam gereja.
Ayat 23 mengatakan bahwa Anak Domba adalah lampunya. Allah adalah terang, dan Kristus adalah lampunya. Terang memerlukan suatu wadah. Jangan memisahkan Kristus dari Allah atau Allah dari Kristus. Sebenarnya, terang Allah dan Kristus adalah satu. Allah adalah isi, dan Kristus adalah wadah terang itu, ekspresi-Nya. Ini memberi kita suatu pemahaman mengenai Allah Tritunggal yang berbeda dengan pengajaran tradisional. Ayat ini menggambarkan Allah sebagai terang dan Kristus sebagai lampunya. Sebagaimana terang yang berada di dalam lampu menjadi isi dari lampu tersebut dan diekspresikan melalui lampu, demikian pula Allah Bapa ada di dalam Putra untuk diekspresikan melalui Putra.
Dalam Yerusalem Baru tidak akan ada malam, karena “malam pun tidak akan ada lagi di sana” (22:5). Di langit baru dan bumi baru masih ada perbedaan antara siang dan malam, tetapi di dalam Yerusalem Baru tidak ada perbedaan itu lagi. Di luar kota itu akan ada malam, tetapi di dalam kota itu tidak akan ada malam, karena kita memiliki terang ilahi yang kekal, diri Allah.
Ayat 24 mengatakan, “Bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya.” Dalam Kerajaan Seribu Tahun, terang bulan akan menjadi terang matahari, dan terang matahari akan lebih diperkuat tujuh kali lipat (Yesaya 30:26). Saya percaya di langit baru dan bumi baru terang matahari akan lebih cerah lagi daripada itu. Namun, ayat 24 mengatakan bahwa bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahaya kota itu. Ini membuktikan bahwa terang kota itu akan lebih kuat daripada terang alamiah. Allah akan bersinar melalui kota itu dan sinar ini akan lebih terang daripada bulan atau matahari. Sebenarnya, bangsa-bangsa tidak perlu berjalan di bawah terang matahari atau terang bulan, karena mereka akan berjalan dalam sinar Yerusalem Baru.
Gereja sepatutnya merupakan terang yang bersinar pada hari ini, dan semua tetangga kita seharusnya berjalan di dalam cahaya penyinaran kita. Hari ini, gereja adalah wadah terang, mengemban Kristus sebagai terang yang bersinar atas angkatan ini. Kita perlu menjadi gereja yang bersinar semacam itu. Maafkan saya, karena saya mengatakan bahwa dalam kekristenan hari ini sangat sedikit terang. Karena kekurangan terang itu, sulit sekali membedakan orang Kristen dari orang yang bukan Kristen. Pada umat gereja seharusnya ada perbedaan, yang bukan buatan manusia, melainkan perbedaan karena penyinaran kita. Kita harus bersinar sehingga bangsa-bangsa berjalan di dalam terang kita.
XVI. KEMULIAAN
Dalam ayat 11 ada gambaran kemuliaan Yerusalem Baru. “Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.” Kemuliaan Allah adalah ekspresi Allah. Ketika Allah terekspresi, itulah kemuliaan. Kita telah ditentukan bagi kemuliaan ini dan terpanggil kepada kemuliaan ini (1 Kor.2:7; 1 Ptr. 5:10; 1 Tes. 2:12). Kini kita sedang diubah ke dalam kemuliaan ini (2 Kor. 3:18), dan akan dibawa masuk ke dalam kemuliaan (Ibr. 2:10). Akhirnya, kita akan dimuliakan bersama Kristus (Rm.8: 17, 30) dan mengemban kemuliaan Allah bagi mengekspresikan Allah dalam Yerusalem Baru.
Kata Yunani yang diterjemahkan “cahaya” dalam ayat 11 berarti “benda terang” atau “benda pembawa terang”. Hari ini, kaum beriman sebagai anak-anak terang (Ef. 5:8) adalah terang dunia (Mat. 5:14), bersinar di tengah-tengah angkatan yang bengkok dan sesat ini (Flp. 2:15). Akhirnya, Yerusalem Baru sebagai susunan semua orang kudus akan menjadi pembawa terang, yang menyinarkan Allah sebagai terang atas bangsa-bangsa di sekitarnya.
Cahaya kemuliaan Yerusalem Baru bagaikan cahaya batu permata yang paling berharga. Batu permata bukan-lah terang, melainkan pembawa terang. Dalam dirinya sendiri, baru permata tidak memiliki terang, tetapi terang yang adalah Allah telah tergarap ke dalam batu permata itu dan bersinar dari dalamnya. Ini menunjukkan, karena kita adalah bagian dari Yerusalem Baru yang akan datang, kita harus diubah menjadi batu-batu permata yang memiliki Allah tergarap ke dalam diri kita sebagai terang yang bersinar, supaya kita bisa menjadi benda terang yang bersinar sebagai ekspresi Allah.
XVII. PENAMPILAN
Penampilan kota itu “bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal” (ayat 11). Penampilan Allah seperti batu yaspis (4:3). Terang Yerusalem Baru itu seperti permata yaspis, mengemban penampilan Allah dan mengekspresikan Allah dengan penyinarannya.
Seluruh kota Yerusalem Baru tidak lain adalah Allah sendiri. Terang itu Allah, kemuliaannya adalah ekspresi Allah, dan penampilannya adalah diri Allah terwahyu kepada bangsa-bangsa. Ini sangat ajaib! Semua ini harus ada dalam hidup gereja hari ini. Gereja adalah Bait Allah. Allah sendiri di dalam gereja adalah tempat tinggal kita; Dia juga adalah terang yang bersinar melalui kita kepada tetangga kita, juga adalah kemuliaan dan penampilan gereja. Inilah hidup gereja.