YERUSALEM BARU (7)
XVIII. PUSAT
Setiap negara mempunyai satu pusat. Pusat dari satu negara adalah ibukotanya, tempat pusat pemerintahan. Yerusalem Baru juga mempunyai satu pusat, yaitu takhta Allah Penebus kita, takhta Allah dan Anak Domba (22:1).
Telah kita bahas bahwa dalam bagian pertama kitab ini (1:1—11:19) takhta Allah adalah pusat; dan dalam bagian kedua (12:1— 22:21), bait Allah adalah pusat. Kita juga telah menerangkan frase “keluar dari bait dari takhta” (16:17, lihat berita ke-49 dan ke-50). Pada akhir Kitab Wahyu, takhta Allah ada di dalam bait. Jadi, takhta dan bait telah menjadi satu.
Allah kita bukan hanya Allah yang di atas takhta bagi administrasi-Nya, juga bukan hanya Allah yang di dalam bait bagi ekspresi-Nya. Dia adalah Allah yang di atas takhta di dalam bait bagi ekspresi-Nya melalui administrasi-Nya. Takhta Allah adalah bagi administrasi-Nya, dan bait Allah adalah bagi ekspresi-Nya. Fakta bahwa takhta ada di dalam bait berarti administrasi Allah adalah bagi ekspresi-Nya. Semua yang Allah kelola bertujuan agar Dia dapat diekpresikan. Dalam kekekalan yang akan datang, takhta Allah ada di pusat Yerusalem Baru, dan ekspresi-Nya akan diperluas sampai sekelilingnya. Jadi, Allah kita adalah Allah administrasi dan Allah ekspresi.
A. Takhta Allah dan Anak Domba
Wahyu 22:1 mengatakan, “Lalu ia menunjukkan kepdaku sungai air hayat, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba itu, di tengah-tengah jalan kota itu” (Tl.). “Takhta Allah dan Anak Domba”, satu takhta bagi Allah dan Anak Domba, ini menunjukkan bahwa Allah dan Anak Domba adalah satu, Anak Domba-Allah, Allah yang menebus, Allah Jurutebus. Dalam kekekalan, Allah yang duduk di atas takhta adalah Allah kita yang menebus. Dari takhta-Nya mengalir sungai air hayat untuk menyuplai dan memuaskan kita. Ini meng-gambarkan bagaimana Allah Tritunggal — Allah, Anak Domba, dan Roh itu, yang dilambangkan oleh air hayat — menyalurkan diri-Nya kepada orang-orang tebusan-Nya di bawah kekepalaan-Nya (tersirat dalam kekuasaan takhta) sampai kekal.
Perhatikanlah, di sini tidak ada dua takhta, satu untuk Allah dan yang lain untuk Anak Domba. Menurut istilah tradisional yang dipakai dalam kekristenan, referensi bagi Allah dan Anak Domba berarti dua persona yang berbeda, Allah dan Anak Domba, ada di atas satu takhta. Bagaimana Allah dan Anak Domba dapat duduk di atas satu takhta? Apakah Mereka duduk berdampingan? Dalam 21:23 kita menemukan petunjuk jawaban yang tepat mengenai pertanyaan-pertanyaan itu. Dalam ayat itu Allah disamakan dengan terang dan Anak Domba disamakan dengan lampu. Terang dan lampu tidak dapat dipisahkan, juga tidak dapat berdiri berdampingan. Sebaliknya, terang bersinar dari dalam lampu. Karena itu, Allah sebagai terang ada di dalam Anak Domba sebagai lampu. Allah dan Anak Domba bukan duduk berdampingan, melainkan Allah itu sendiri ada di dalam Anak Domba yang dilambangkan dengan lampu dan bersinar melalui-Nya.
Saya ingin melihat bagaimana orang-orang yang de-ngan ajaran-ajaran tradisional tentang trinitas menentang kita menerangkan bahwa Allah dan Anak Domba ada di atas takhta yang sama. Lebih baik kita tidak memakai is-tilah “persona”, karena dengan memakai istilah itu kita terjerat dan tidak dapat mengerti seluruh Alkitab menurut firman murni. Alkitab mewahyukan bahwa Allah adalah terang dan Anak Domba adalah lampu. Akhirnya, karena terang ada di dalam lampu, maka mereka bukanlah dua satuan; melainkan ada satu kesatuan dalam dua aspek. Sangatlah sulit menerangkan trinitas dalam bahasa manu-sia, karena kita tidak mempunyai kosa kata atau istilah untuk mengekspresikannya dengan tepat. Meskipun kita tidak mempunyai kata-kata yang tepat, kita mempunyai satu gambaran tentang Allah sebagai terang dan tentang Kristus Anak Domba sebagai lampu. Fakta bahwa keduanya duduk di atas satu takhta menyatakan bahwa Mereka bukanlah dua, tetapi satu.
Yang duduk di atas takhta itu adalah Allah Sang Pencipta, juga Anak Domba Penebus. Jadi, kita dapat menyebut Dia “Anak Domba-Allah”. Ini berarti Dia adalah Allah Penebus. Allah Penebus ini ada di atas takhta administrasi-Nya, agar Dia dapat menyalurkan diri-Nya ke dalam seluruh umat tebusan-Nya.
B. Di Atas Puncak Gunung Emas
Takhta di dalam Yerusalem Baru ada di atas puncak gunung emas. Satu jalan di dalam kota ini akhirnya meng-arah ke takhta. Tuhan Yesus pernah turun dari takhta-Nya ke bumi untuk membawa Allah kepada manusia. Ini adalah Allah Tritunggal keluar dari diri-Nya sendiri untuk mencapai umat manusia. Ketika kita menerima Dia ke dalam kita, kita dibaptis ke dalam Dia. Baptisan adalah jalan masuk yang sejati ke dalam Allah Tritunggal (Mat. 28:19), dan jalan masuk ke dalam Allah Tritunggal adalah jalan masuk awal ke dalam Yerusalem Baru. Dengan segera setelah kita melewati pintu gerbang mutiara, kita menemukan diri kita di atas jalan emas yang memimpin kita naik ke takhta Allah.
C. Adalah Sumber yang Unik dari Suplai Hayat
Takhta Allah di dalam pusat Yerusalem Baru adalah sumber yang unik dari suplai hayat. Melalui administrasi-Nya, Allah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat, sebagai suplai hayat, dan sebagai anugerah yang kekal, mutlak, dan almuhit. Penyaluran diri-Nya ke dalam kita tergantung pada administrasi-Nya. Karena itu, dalam hidup gereja hari ini ada kekuasaan ilahi dan pemerintahan gereja. Ada satu pemerintahan ilahi dalam hidup gereja hari ini, dan pemerintahan ini berasal dari takhta Allah. Kekuasaan ilahi dalam gereja adalah untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam kita sebagai hayat, sebagai suplai hayat, dan sebagai karunia yang serba cukup. Hanya melalui taat kepada kekuasaan dan pemerintahan Allah, kita baru dapat berbagian di dalam anugerah-Nya yang serba cukup.
D. Dengan Kekuasaan Ilahi Kekepalaan Allah
Takhta Allah dan Anak Domba di pusat Yerusalem Baru melambangkan kekuasaan ilahi dari kekepalaan Allah di dalam Kristus. Suplai hayat mengalir keluar dari kekuasaan ini, dan kenikmatan atas suplai hayat membawa kita ke bawah kekuasaan ini. Aliran air hayat tidak hanya memberi kita suplai hayat, tetapi juga membawa kepada kita kekuasaan ilahi. Dalam aliran air hayat ada suplai hayat dan kekuasaan ilahi persekutuan hayat. Bila kita berbagian dalam suplai hayat, kita dibawa ke bawah kekuasaan Allah di dalam persekutuan hayat.
Saya sangat sedih, karena beberapa orang Kristen memanfaatkan buku Saudara Watchman Nee, “Kekuasaan Rohani”, untuk membuat diri mereka menjadi penguasa atas yang lain. Kekuasaan semacam itu adalah meninggikan diri sendiri. Kekuasaan yang sejati berasal dari takhta administrasi Allah di dalam pusat Yerusalem Baru, melalui menikmati suplai hayat di dalam persekutuan hayat dengan Allah.
XIX. SUPLAI HAYAT
A. Sungai Air Hayat
Sekarang kita harus melihat bagaimana Allah Penebus yang duduk di atas takhta menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam seluruh umat tebusan-Nya. Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita melalui sungai yang mengalir keluar dari takhta. Menurut ayat 1, sungai ini disebut “sungai air hayat”. Sungai ini, seperti dilambangkan oleh sungai-sungai dalam Kejadian 2:10-14, Mazmur 46:5 dan Yehezkiel 47:5-9, melambangkan kelimpahan hayat dalam alirannya. Ini adalah sebatang sungai yang mengalir ke empat penjuru kota kudus seperti sebatang sungai dalam Kejadian 2:10-14 yang bercabang empat. Dalam Yohanes 7:38 ditunjukkan, seba-tang sungai ini dengan kekayaannya menjadi banyak sungai (aliran-aliran) dalam pengalaman kita terhadap berbagai aspek kekayaan Roh hayat Allah (Rm. 8:2; 15:30; 1 Tes. 1:6; 2 Tes. 2:13; Gal. 5:22-23).
Air hayat adalah lambang Allah dalam Kristus sebagai Roh itu mengalirkan diri-Nya ke dalam umat tebusan-Nya untuk menjadi hayat dan suplai hayat mereka. Air hayat ini dilambangkan oleh air yang mengalir keluar dari batu karang yang terbelah (Kel. 17:6; Bil. 20:11), dan dilambangkan oleh air yang mengalir keluar dari rusuk Tuhan Yesus ditombak (Yoh. 19:34). Di sini, air hayat ini menjadi sebatang sungai yang mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba untuk menyuplai dan meresapi seluruh Yerusalem Baru. Dengan demikian kota Yerusalem Baru itu dipenuhi dengan hayat ilahi sehingga dapat mengekspresikan Allah dalam kemuliaan hayat-Nya.
Kita perlu melihat sungai ini dengan lebih terperinci. Kejadian 2:10 mengatakan, “Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.” Menurut ayat ini, satu sungai akhirnya menjadi empat cabang yang mencapai empat penjuru bumi. Ada banyak referensi lain tentang sungai ini dalam Perjanjian Lama. Mazmur 46:5 mengatakan, “Kota Allah, . . . disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.” Yehezkiel 47 mengatakan bahwa air yang mengalir keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci menjadi sungai untuk berenang di dalamnya, sebuah sungai yang tidak dapat diseberangi (ayat 5). Ayat 9 dari pasal yang sama mengatakan bahwa “ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup.”
Sungai ini juga disinggung dalam Perjanjian Baru. Berbicara tentang bani Israel dan pengembaraan mereka di padang gurun, 1 Korintus 10:4 mengatakan, “Dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” Ketika bani Israel menggerutu karena mereka haus, Allah menyuruh Musa memukul batu karang dan air akan keluar darinya untuk diminum oleh orang-orang itu (Kel. 17:1-6). Musa melakukannya dan Tuhan membuat “aliran air keluar dari bukit batu, dan dibuat-Nya air turun seperti sungai” (Mzm. 78:16). Air yang keluar dari batu karang yang dipukul adalah satu lambang dari Roh pemberi-hayat. Tuhan Yesus membicarakan Roh itu dalam Injil Yohanes. Dalam Yohanes 4:10 Tuhan menyatakan kepada perempuan Samaria bahwa Dia adalah Pemberi air hayat, dan dalam ayat 14 Dia mengatakan, “Siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepada-nya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.” Selanjutnya dalam Yohanes 7:37 dan 38 Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Di sini kita melihat bahwa satu sungai menjadi banyak sungai. Sungai air hayat adalah banyak aliran dari berbagai aspek hayat dari sungai air hayat yang unik, yang adalah Roh hayat Allah (lihat Rm. 15:30; 1 Tes. 1:6; 2 Tes. 2:13; Gal. 5:22-23; Rm. 8:2). Jadi, jika kita ingin mengerti arti sungai air hayat yang disebutkan dalam 22:1, kita harus menelusuri sumber dan perkembangannya dalam seluruh Alkitab.
1. Mengalir Keluar dari Takhta Anak Domba-Allah
Kita telah nampak bahwa sungai air hayat mengalir keluar dari takhta Anak Domba-Allah. Sungai ini tidak lain adalah aliran Roh Allah sebagai Roh pemberi-hayat. Dalam 22:1 kita nampak Allah Tritunggal — Allah, Anak Domba, dan sungai itu. Allah, Bapa, adalah sumber; Anak Domba, Putra, adalah Penebus; dan sungai, adalah Roh itu. Jadi, kita mempunyai Bapa sebagai sumber; Putra sebagai saluran; dan Roh itu sebagai aliran. Karena itu, dalam 22:1 kita nampak aliran Allah Tritunggal. Ini adalah satu gambaran Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Dia keluar dari diri-Nya sendiri dan tersalur ke dalam umat tebusan-Nya. Penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kita ini keluar dari takhta administrasi Allah. Ini berarti penyaluran Allah tergantung pada administrasi-Nya. Demikian pula di dalam hidup gereja hari ini. Penyaluran suplai hayat dan anugerah Allah yang serba cukup berasal dari takhta administrasi Allah. Akhirnya, dalam Yerusalem Baru penyaluran ini akan mencapai setiap bagian kota ini, dan seluruh kota akan dipenuhi, dijenuhi, dan diresapi de-ngan Allah Tritunggal. Dengan cara ini, kota itu akan mengekspresikan Allah.
Ketika saya masih muda, saya tidak dapat mengerti Wahyu 22:1. Saya membaca tentang sebuah takhta dan se-buah sungai, tetapi saya tidak mempunyai bayangan tentang arti hal-hal itu. Pada waktu itu, saya juga tidak mengerti bahwa sungai itu seperti spiral. Karena saya tidak nampak apa pun, saya tidak dapat mengerti apa-apa. Akhirnya, melalui pengalaman-pengalaman lebih dari 50 tahun, saya mulai mengerti arti sungai air hayat yang mengalir keluar dari takhta Allah Penebus. Melalui peng-alaman saya nampak bahwa bila saya tunduk kepada Allah Penebus, memandang Dia sebagai Kepala, saya segera merasakan sesuatu yang hidup mengalir di dalam saya. Ini bukan satu ajaran atau satu tafsiran, melainkan satu pengalaman. Suatu hari saya dapat berkata, “Sekarang aku mengerti Wahyu 22:1. Aku memiliki sebuah takhta di dalamku. Karena ketika aku tunduk kepada kekuasaan dan kekepalaan takhta ini, di dalamku ada sesuatu yang bergerak mengalir.” Gambaran sungai air hayat yang mengalir keluar dari takhta Allah Penebus ini menampakkan kepada kita bahwa kita harus memandang Allah Penebus sebagai Kepala kita, dan kita tunduk pada kekepalaan-Nya. Jika kita berbuat demikian, takhta-Nya akan didirikan di dalam roh kita dan bahkan di seluruh diri kita. Dari takhta yang didirikan di dalam kita ini, akan muncul aliran Roh pemberi-hayat. Takhta ini adalah pusat administrasi Allah dengan kekuasaan untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam seluruh umat tebusan-Nya, sehingga kita dipenuhi dan diresapi dengan diri-Nya untuk menjadi ekspresi-Nya sendiri.
2. Mengalir di Tengah-tengah Jalan
Sungai air hayat ini mengalir di tengah-tengah jalan Yerusalem Baru. Jalan kota kudus ini adalah emas (21:21). Emas melambangkan sifat ilahi. Sungai air hayat mengalir di tengah-tengah jalan menyatakan bahwa hayat ilahi mengalir dalam sifat ilahi sebagai satu-satunya jalan untuk hidup sehari-hari umat tebusan Allah. Di mana ada hayat ilahi mengalir, di sana ada sifat ilahi sebagai jalan yang kudus untuk ditempuh oleh umat Allah; dan di mana ada jalan kudus dari sifat ilahi, di sanalah mengalir hayat ilahi. Hayat ilahi dan sifat ilahi sebagai jalan kudus selalu berjalan seiring. Dengan demikian, sungai air hayat Allah tersedia di sepanjang jalan ilahi ini, dan kita menikmati sungai ini dengan berjalan dalam jalan hayat ini
3. Jernih Bagaikan Kristal
Ayat 1 juga mengatakan bahwa sungai air hayat jernih bagaikan kristal. Fakta bahwa air hayat jernih bagaikan kristal berarti ia tidak keruh, tidak kabur. Ketika air hayat ini mengalir di dalam kita, air ini memurnikan kita dan membuat kita transparan seperti kristal. Tidak ada yang lebih jernih daripada aliran hayat yang ada di dalam kita. Misalnya, sekarang Anda sedang berbelanja di sebuah toserba. Bila Anda mengaminkan pengaturan hayat ilahi yang ada di dalam Anda, Anda tidak hanya akan dikuatkan, didiris, dan disegarkan, juga akan menjadi sejernih kristal. Anda akan jernih tidak hanya atas satu hal, tetapi juga atas banyak hal.
Semakin banyak air hayat mengalir di dalam kita, ia akan mengangkut semakin banyak hal yang menutupi penglihatan kita. Ia memberi kita penglihatan batin yang bersih, dan membuat diri kita, situasi kita, dan segala hal yang berhubungan dengan kita sejernih kristal. Banyak orang Kristen telah diberi tahu bahwa mereka dapat mengenal kehendak Allah dengan membaca Alkitab. Pada waktu yang lampau saya mencoba mengenal kehendak Allah dengan cara itu. Tetapi semakin sering saya membaca Alkitab, saya semakin buta. Karena pada saat membaca Alkitab, saya melatih pikiran saya untuk menganalisis apa yang dikatakan Kitab Suci atau apa yang diperintahkannya untuk saya lakukan. Banyak di antara kita mempunyai pengalaman yang sama. Semakin kita menganalisis Alkitab, kita semakin buta. Kita tidak seharusnya mencoba menge-nal kehendak Allah dengan menganalisis Kitab Suci, seharusnyalah kita berkata, “Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau dan aku takluk kepada kekepalaan dan kekuasaan-Mu. Tuhan, dirikanlah takhta-Mu di dalam segenap diriku.” Jika Anda berbuat demikian, Anda akan segera menikmati aliran batiniah, dan aliran ini akan membuat Anda sejernih kristal dalam hayat ilahi. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Anda, situasi Anda dan kondisi Anda akan menjadi tembus cahaya. Pengalaman kita mempersaksikan kebenaran ini.
Banyak orang muda sangat memperhatikan masalah pernikahan dan ingin mengetahui kehendak Allah mengenai masalah ini. Pertama-tama, mereka berdoa tentang ini, mohon Tuhan menunjukkan kepada mereka orang yang telah disiapkan-Nya untuk mereka. Kemudian mereka datang ke penatua untuk bersekutu. Mungkin penatua memberi tahu mereka sejumlah prinsip mengenai umur, pendidikan, ras, latar belakang keluarga, watak, dan kerohanian. Lebih dari 50 tahun yang lalu, saya ahli dalam memberikan prinsip-prinsip seperti itu. Bila seorang anak muda berkonsultasi dengan saya mengenai masalah pernikahan, saya selalu menjelaskan masalah-masalah itu untuk dipertimbangkan-nya. Jika ia dari utara, saya menasihatinya jangan menikah dengan orang yang dari selatan karena perbedaan-perbedaan di antara mereka. Selanjutnya, saya mendorong dia untuk menikah dengan orang yang berwatak serupa dengannya. Jika dia mempunyai watak yang cepat, saya mengatakan kepadanya jangan menikah dengan saudari dengan watak yang lamban. Dulu, saya sering meyakinkan orang, dan orang-orang muda setuju dengan anjuran saya. Tetapi, ketika kita berada dan menghadapi situasi yang sebenar-nya, ternyata analisis menurut prinsip-prinsip itu tidaklah manjur. Semakin kita menganalisis menurut umur, pendidikan, ras, watak, dan kerohanian semata, kita semakin diselubungi. Beberapa tahun kemudian, Tuhan menampakkan kepada saya bahwa cara mengenal kehendak-Nya mengenai pernikahan bukanlah menganalisis dengan cara itu, melainkan dengan sederhana menyerahkan diri kita pada pimpinan-Nya dan membiarkan aliran-Nya bergerak di dalam kita. Semakin banyak aliran-Nya bergerak di dalam kita, kita akan semakin sejernih kristal. Kita semua harus menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan menempuh jalan emas dari sifat ilahi. Hanya ada satu jalan: jalan emas. Kita harus tunduk pada kekepalaan Kristus dan berkata, “Tuhan Yesus, Engkau adalah Kepalaku dan Tuhan-ku yang berdaulat. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu.” Bila kita berbuat demikian, di dalam kita ada satu aliran! Suplai batiniah! Segera, aliran itu membuat kita jernih, dan kita jelas akan kehendak Tuhan. Bila kita berbuat demikian, kita akan dapat mengatakan, “Tidak ada lagi selubung di mataku. Setiap selubung telah dibuang, dan aku jernih. Seluruh situasi menjadi sejernih kristal bagi penglihatanku.” Ini bukan pengajaran; ini adalah pengalaman. Hanya dengan pengalaman kita dapat mengerti hal ini
4. Cuma-cuma
Air dari sungai air hayat ini diberikan secara cuma-cuma (22:17; 21:6). Kita tidak perlu membayar apa pun untuk meminumnya. Meskipun air hayat ini gratis, ia gratis hanya di atas jalan ilahi, tidak tersedia di tempat lain. Jadi, kita harus datang ke jalan ilahi agar dapat mengambil bagian dalam air hayat ini. Meskipun Anda tidak perlu membayar apa pun untuk air hayat ini, Anda perlu berada di atas jalan emas. Karena itu, siapa saja yang ingin menerima karunia air hayat yang cuma-cuma ini, ia harus bertobat. Bertobat berarti mengubah pikiran, mengubah konsepsi hidup. Orang-orang Kristen pun perlu mempunyai satu perubahan konsepsi mengenai jalan Kristiani mereka. Kita harus berpaling dari setiap hal yang bukan jalan emas dan datang ke jalan emas. Inilah arti yang sebenarnya dari pertobatan. Setelah kita dipalingkan dari sesuatu yang lain kepada jalan emas, kita dapat mengambil air hayat dengan cuma-cuma. Kita semua dapat bersaksi dari pengalaman kita bahwa memang demikian.
B. Pohon Hayat
Ayat 2 mengatakan, “Di seberang menyeberang sungai itu, ada pohon hayat” (Tl.). Satu pohon hayat tumbuh di kedua sisi sungai melambangkan bahwa pohon hayat ini seperti pohon anggur yang menyebar dan menjalar ke sepanjang aliran air hayat itu untuk diterima dan dinikmati umat Allah. Pohon ini selama-lamanya menggenapkan apa yang Allah inginkan sejak semula (Kej. 2:9). Pohon hayat tertutup bagi manusia karena kejatuhan manusia (Kej. 3:22-24), tetapi terbuka kembali bagi kaum beriman melalui penebusan Kristus (Ibr. 10:19-20). Hari ini, kenikmatan atas Kristus sebagai pohon hayat adalah bagian bersama kaum beriman (Yoh. 6:35, 57). Dalam Kerajaan Seribu Tahun, kenikmatan atas Kristus sebagai pohon hayat merupakan pahala sezaman bagi orang beriman yang menang (2:7). Akhirnya, dalam langit baru dan bumi baru untuk selama-lamanya, kenikmatan Kristus sebagai pohon hayat merupakan bagian kekal semua orang tebusan Allah (22:14, 19).
1. Kristus sebagai Suplai Hayat
Pohon hayat adalah Kristus sebagai suplai hayat kita. Pertama-tama, Kristus adalah Anak Domba Allah untuk penebusan kita (Yoh. 1:29), kemudian Dia adalah pohon hayat bagi suplai hayat kita (Yoh. 6:35). Penebusan Kristus adalah untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam kita sebagai suplai hayat. Dia bukan hanya Anak Domba Allah, tetapi juga pohon hayat.
2. Tumbuh di Kedua Sisi Sungai Hayat
Pohon hayat tumbuh di kedua sisi sungai hayat. Ia tidak tumbuh ke atas, tetapi menjalar seperti tanaman yang merambat. Jadi, ia terdapat di sepanjang aliran air hayat. Sebagai pohon hayat, Kristus adalah suplai hayat yang tersedia di sepanjang aliran Roh itu, yaitu air hayat. Ke mana Roh itu mengalir, di sana ada suplai hayat Kristus. Ini sepenuhnya tergantung pada sifat ilahi, dan dengan sifat ilahi sebagai jalan kudus kita, seperti yang dilambangkan oleh jalan itu. Inilah suplaian kota kudus, dan inilah cara kota itu disuplai.
Saya menghabiskan bertahun-tahun untuk mengerti tiga hal yang disebutkan dalam ayat 1 dan 2: jalan, sungai, dan pohon hayat. Di tengah-tengah jalan ada sungai; jadi, jalan itu dengan sendirinya merupakan dua tepi sungai. Pohon hayat tumbuh menjalar seperti pohon anggur di atas sungai. Setelah saya memiliki pengalaman yang cukup, barulah saya dapat mengerti hal-hal tersebut. Jalan, sungai, dan pohon semuanya saling berkaitan. Setelah Anda masuk melalui pintu gerbang mutiara dan berada di jalan emas, Anda dengan segera memiliki sungai yang mengalir. Sepanjang aliran air hayat ada pohon hayat. Gambaran ini sungguh jelas.
Sekarang mari kita terapkan gambaran ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, seorang saudari pergi berbelanja ke toserba. Sebelum dia masuk ke sana, sifat ilahi sebagai jalan di dalam dirinya mulai mengaturnya. Tidak ada kata-kata, hanya ada pengaturan batiniah. Saudari itu masuk ke sana dan mengambil sesuatu. Pengaturan batiniah berkata, “Letakkan.” Namun dia memaafkan dirinya sendiri dan berkata kepada dirinya bahwa tidaklah salah membeli barang itu sekarang, lain kali ia tidak akan membelinya lagi. Akan tetapi, sejak saat itu, aliran batiniah itu berhenti. Setelah saudari itu sampai di rumah, dia tidak bisa berdoa. Meskipun dia mencoba membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu kepada Tuhan, tetap tidak ada kata-kata yang keluar dari batinnya. Ini adalah gam-baran yang negatif tentang apa yang terjadi bila kita tidak mengikuti pengaturan batiniah dari sifat ilahi.
Sekarang mari kita lihat suatu contoh yang positif. Misalnya pengaturan batiniah mengatakan kepada saudari itu, “Jangan membeli barang itu!” Dan dia mengatakan, “Amin, Tuhan, amin.” Dengan segera dia akan berjalan pada jalan emas. Pada saat yang sama, dia akan merasakan bahwa aliran di batinnya diperkuat. Dia juga merasakan bahwa aliran di batinnya membawakan suplai hayat yang kaya kepadanya. Itulah menikmati pohon hayat. Kemudian, dia mungkin tidak ingin lagi tinggal lebih lama di toserba itu. Setelah dia meninggalkan toserba itu, dia mungkin bahkan merasa ingin menyanyi atau bersorak, haleluya. Itulah yang dimaksud dengan berjalan di atas jalan emas, mengambil bagian dari aliran sungai dan menikmati semua kekayaan pohon hayat.
Jika kita membicarakan jalan emas, air hayat, dan pohon hayat secara doktrinal, kita akan sulit memahami-nya. Tetapi jika kita memperhatikan pengalaman kita, kita lebih mudah memahaminya. Bila kita menyerahkan seluruh diri kita kepada kekepalaan Allah Penebus, takhta-Nya segera terbentuk di dalam kita. Dari takhta ini mengalir sungai hayat. Sungai hayat ini mengalir di tengah-tengah jalan emas, dan sepanjang aliran sungai ini ada pohon hayat, yang tumbuh menjalar sepanjang sungai, sebagai suplai hayat kita yang kaya. Takhta ada di sini, menunggu kita tunduk kepada kekepalaan dan kekuasaan Allah Penebus. Segera setelah kita tunduk kepada kekepalaan ini, Roh pemberi-hayat segera mengalir di dalam kita, dan kita berada di jalan emas. Selama kita berjalan di atas jalan emas, kita akan menemukan bahwa aliran batiniah dari Roh Pemberi-hayat itu ajaib, menyegarkan, memuaskan, dan menyuplai. Untuk menggambarkan aliran batiniah secara memadai, kita tentu memerlukan sangat banyak kata-kata. Di sepanjang aliran air hayat ini ada kekayaan pohon hayat yang tumbuh di samping aliran sungai. Ini berarti di mana ada aliran sungai, di sana ada pohon hayat untuk menyuplai kita. Dalam pengalaman saya, saya memiliki sebuah takhta, aliran air hayat, dan Kristus sebagai pohon hayat yang tumbuh di dalam saya secara riil. Ini bukan pengertian yang doktinal, melainkan mutlak perkara pengalaman dalam hayat.
3. Menghasilkan Dua Belas Macam Buah
Ayat 2 juga mengatakan bahwa pohon hayat menghasilkan dua belas macam buah, setiap bulan berbuah. Buah-buah pohon hayat akan menjadi makanan umat tebusan Allah sampai selama-lamanya. Buah-buah itu akan selalu segar, karena dihasilkan setiap bulan, dua belas macam setahun.
Pohon hayat itu menghasilkan dua belas macam buah, ini berarti buah pohon hayat itu kaya dan cukup untuk merampungkan administrasi kekal Allah. Ingatlah arti angka dua belas adalah kelengkapan dalam administrasi Allah bagi ekonomi kekal-Nya. Jadi, dua belas macam buah adalah untuk kelengkapan kekal dalam administrasi Allah bagi ekonomi-Nya.
Sebutan “tiap-tiap bulan” menunjukkan bahwa dalam langit baru dan bumi baru masih ada bulan untuk membagi waktu menjadi dua belas bulan; juga masih ada matahari untuk memisahkan siang dengan malam, menentukan masa yang masing-masing terdiri atas dua belas jam. Tujuh adalah angka yang mewakili gereja, melambangkan Allah dalam penyelenggaraan-Nya hari ini ditambahkan kepada manusia ciptaan-Nya. Dua belas adalah angka yang mewakili Yerusalem Baru, melambangkan Allah dalam administrasi kekal-Nya berbaur dengan manusia ciptaan-Nya. Yerusalem Baru memiliki dua belas fondasi yang bertuliskan nama kedua belas rasul; ada dua belas pintu gerbang, yaitu dua belas mutiara yang bertuliskan nama kedua belas suku; masih ada dua belas macam buah pohon hayat. Dari aspek ruang, ketiga ukuran (dimensi) kota itu adalah dua belas ribu stadia, adalah seribu dikali dua belas, dan tinggi temboknya seratus empat puluh hasta, yaitu dua belas dikali dua belas. Dari aspek waktu, setiap tahun dalam langit baru dan bumi baru ada dua belas bulan, dua belas jam siang, dan dua belas jam malam.
4. Dinikmati oleh Seluruh Umat Tebusan Allah
Seluruh umat tebusan Allah akan menikmati pohon hayat sampai kekal (22:14). Kenikmatan kita atas pohon hayat adalah untuk administrasi Allah. Allah menebus kita untuk menikmati pohon hayat, dan kenikmatan ini adalah untuk administrasi Allah dari ekonomi kekal-Nya.
5. Daun-daunnya untuk Menyembuhkan Bangsa-bangsa
Ayat 2 juga mengatakan, “Daun-daun pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.” Dalam Alkitab, daun melambangkan perbuatan manusia (Kej. 3:7). Menurut catatan Alkitab, pertama kali manusia memakai daun adalah untuk menutupi tubuhnya. Daun-daun pohon hayat melambangkan perbuatan Kristus. Kaum beriman yang dilahirkan kembali makan buah pohon hayat, menerima Kristus sebagai hayat dan suplai hayat batiniah mereka, supaya mereka dapat menikmati hayat ilahi sampai kekal; sedangkan bangsa-bangsa yang dipulihkan, disembuhkan dengan daun-daun pohon hayat, dengan mengambil perbuatan-perbuatan Kristus sebagai pemandu mereka dan pengaturan di luar, supaya mereka dapat menempuh hidup sebagai manusia, sampai selamanya. Ketika bangsa-bangsa memandang cara Tuhan Yesus berperilaku, perbuatan-perbuatan-Nya akan menjadi sumber kesembuhan bagi mereka, dan kesembuhan itu akan memelihara hayat insani mereka sampai selamanya.
XX. MENJADI RAJA
Orang-orang yang ada di dalam Yerusalem Baru “akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” (22:5). Yerusalem Baru akan memerintah dan bangsa-bangsa akan ada di bawah terangnya. Wahyu 21:24 mengatakan, “Bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya.” Pada akhir zaman ini, sebagian besar penduduk bumi akan terbunuh akibat sangkakala keenam dan ketujuh. Sisanya akan dihakimi oleh Kristus di takhta kemuliaan-Nya ketika Dia kembali ke bumi. Orang-orang yang dihakimi, “kambing-kambing”, akan dikutuk dan akan binasa di lautan api; se-dangkan yang dibenarkan, “domba-domba”, akan diberkati dan akan mewarisi kerajaan yang disiapkan untuk mereka sejak dunia dijadikan (Mat. 25:31-46). Berbeda dengan orang beriman Perjanjian Baru, “domba-domba” itu tidak beroleh selamat dan tidak dilahirkan kembali; mereka hanya dipulihkan kepada keadaan semula, waktu manusia diciptakan oleh Allah. Mereka akan menjadi bangsa-bangsa, warga Kerajaan Seribu Tahun. Dalam kerajaan itu, kaum beriman pemenang akan menjadi raja-raja (20:4, 6) dan sisa Israel yang beroleh selamat akan menjadi imam-imam (Za. 8:20-23). Setelah Kerajaan Seribu Tahun, sebagian dari bangsa-bangsa ini akan memberontak melawan Tuhan akibat hasutan Iblis, dan akan dihanguskan oleh api dari surga (20:7-9). Sisanya akan dipindahkan ke bumi baru sebagai bangsa-bangsa, yang akan hidup di sekitar Yerusalem Baru dan berjalan dalam cahayanya. Mereka adalah umat Allah yang disebut dalam 21:3-4. Sebagai manusia ciptaan tetapi tidak dilahirkan kembali, mereka akan tetap hidup selamalamanya dalam keadaan seperti waktu diciptakan dengan penyembuhan dari daun-daun pohon hayat (22:2). Mereka pun tidak akan mati lagi (21:4). Di bawah penyinaran Yerusalem Baru dengan kemuliaan ilahi, mereka tidak akan berada dalam kegelapan.
Wahyu 21:24 juga mengatakan tentang Yerusalem Ba-ru bahwa “raja-raja di bumi membawa kemuliaan mereka kepadanya” (Tl.). Raja-raja bumi di sini adalah raja-raja bangsa-bangsa di bumi baru. Orang-orang kudus yang ditebus dan dilahirkan kembali akan menjadi raja-raja atas raja-raja itu (22:5), dan Kristus akan menjadi Raja di atas segala raja sampai kekal. “Kemuliaan” di sini mengacu kepada kesemarakan dan keelokan (Mat. 5:16; lihat catatan 92 dalam Ibr. 2); sedangkan “kehormatan” (ayat 26) mengacu kepada status yang bermartabat dan kedudukan yang berwibawa (Est. 1:4).