← Daftar isi Wahyu (3) · bab 16/18

KENIKMATAN DAN BERKAT UMAT TEBUSAN ALLAH DALAM KEKEKALAN

Angka dasar dalam Yerusalem Baru adalah dua belas dan satu. Satu adalah angka yang unik. Ada satu Allah, satu kota, satu takhta, satu jalan, satu sungai, dan satu pohon hayat. Jadi, angka satu adalah angka dasar dari gereja dan pembangunan Allah dalam ekonomi-Nya. Ini bukan konsepsi saya, melainkan konsepsi Paulus dalam Efesus 4:3-6. Di sana ia berbicara tentang satu Tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan satu Bapa. Kita hanya memiliki satu Allah, satu takhta, satu administrasi, satu kekuasaan, satu aliran, satu jalan, dan satu pohon. Jika kita telah nampak hal ini, kita akan selamanya terjaga dalam keesaan.

Keesaan ini berasal dari Allah yang unik, Dialah sumber segala sesuatu. Takhta, sungai, jalan, dan pohon, semuanya berasal dari Dia. Dia adalah sumber unik dari segala sesuatu untuk menghasilkan, menunjang, memelihara, dan menjaga bangunan unik dari Allah yang esa.

Keadaan kekristenan hari ini jauh berbeda dengan hal tersebut di atas. Kekristenan penuh dengan kekacauan dan perpecahan. Dalam kekristenan hari ini ada ribuan perpecahan. Tidak ada yang tahu persis berapa banyak perpecahan yang terjadi dalam kelompok-kelompok yang disebut kelompok-kelompok bebas. Dalam kelompok-kelompok bebas, hampir setiap orang menganggap dirinya berarti. Betapa besar terima kasih kita kepada Tuhan, karena Ia telah membuka mata kita dan menunjukkan jalan-Nya yang unik kepada kita! Kita hanya memiliki Allah yang unik di takhta yang unik dengan aliran yang unik berisi suplai hayat yang unik. Sebab itu, kita memiliki satu kesaksian dan kita ada di dalam satu gereja.

Gereja tersusun dari keilahian dan keinsanian. Gereja adalah satu wujud (satuan) korporat dari Allah dan manu-sia. Wujud ini adalah tempat tinggal Allah dan tempat tinggal kita, karena kini kita tinggal di dalam Allah dan Allah tinggal di dalam kita. Hidup gereja hari ini adalah miniatur Yerusalem Baru di langit baru dan bumi baru. Dalam gereja kita bersaksi bahwa kita benar-benar esa. Kita esa dalam Allah, esa dalam kekuasaan-Nya, esa dalam ekspresi-Nya, esa dalam aliran, esa dalam hayat, dan esa dalam pohon. Dalam keesaan ini kita tinggal di dalam Allah, Allah tinggal di dalam kita; dengan demikian, kita menjadi kesaksian-Nya.

I. KOTA KUDUS

Dalam berita ini akan kita bahas kenikmatan dan berkat umat tebusan Allah dalam kekekalan. Hal penting pertama yang kita nikmati dalam kekekalan adalah kota kudus (22:14, 19). Wahyu 22:19 mengatakan, “Jikalau seseorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” Ayat ini menunjukkan bahwa berbagian dalam kota kudus itu sangat besar artinya bagi kita.

Kota kudus, yang kelak menjadi bagian kita dan yang akan kita nikmati adalah perbauran Allah dengan seluruh kaum saleh-Nya. Dalam satu wujud ini, kota kudus, kita tidak hanya akan menikmati Allah, tetapi juga akan menikmati Allah di dalam kaum saleh-Nya. Kita akan menikmati Allah di dalam sesama kita, dan kita pun menikmati sesama kita di dalam Allah. Saya akan menikmati Anda di dalam Allah, dan Anda akan menikmati saya di dalam Allah. Walaupun kenikmatan ini agak misterius, kita dapat mencicipinya dalam hidup gereja hari ini. Dalam hidup gereja kita menikmati Allah di dalam sesama kita, dan menikmati sesama kita di dalam Allah. Ini benar-benar suatu hidup bersama yang ilahi dan surgawi!

Manusia diciptakan Allah dengan suatu minat hidup bersama atau berkelompok. Sifat insani kita mendambakan hidup berkelompok. Untuk memenuhi minat ini, orang-orang pergi ke klub malam dan mengunjungi pesta-pesta. Namun, klub-klub malam dan pesta-pesta tidak dapat memuaskan kebutuhan ini. Walaupun manusia lapar dan haus akan hidup berkelompok yang wajar, mereka justru diracuni oleh klub-klub malam dan pesta-pesta duniawi. Mereka bukan menerima minuman yang tepat untuk meleraikan rasa haus mereka, malah menerima racun. Hanya ada satu kumpulan yang murni, menyenangkan, penuh rawatan, penuh terang, memuaskan, dan membina, yaitu gereja. Hari demi hari, di dalam hidup gereja, kita menghadiri pesta surgawi. Pesta ini kudus, ilahi, dan rohani. Pesta ini adalah Allah berbaur dengan manusia. Sungguh nikmat menghadiri pesta ini!

Melalui pengalaman saya dalam hidup gereja selama hampir lima puluh tahun, saya mulai mengerti sifat anak-anak muda. Anak-anak muda kritis dan suka menuntut, dan mereka dapat menusuk hati orang tua mereka dan para penatua dalam gereja. Semua penatua adalah sasaran bidikan anak panah orang muda. Saya sering berkata kepada beberapa anak muda yang kritis itu, “Jika gereja dan para penatua tidak menyenangkan bagi kalian, mengapa kalian tidak pergi ke tempat lain, ke gunung, misalnya, dan hidup sendirian di sana? Kalian tentu tidak lagi disusahkan oleh gereja atau para penatua.” Mereka menjawab, karena mereka menikmati persekutuan dalam hidup gereja, mereka tidak mau meninggalkan gereja.

Minat kita terhadap hidup berkelompok juga tidak da-pat dipuaskan sepenuhnya termasuk oleh kehidupan pernikahan atau kehidupan rumah tangga kita. Mungkin Anda memiliki banyak saudara laki-laki, saudara perempuan, saudara sepupu, keponakan laki-laki, keponakan perem-puan, dan kerabat yang lain, tetapi mereka tidak dapat memuaskan minat batiniah Anda terhadap hidup berkelompok. Minat itu, minat terhadap hidup gereja dan minat yang diciptakan oleh Allah, hanya dapat dipuaskan dalam gereja.

Kita, orang-orang Kristen, seperti domba yang membentuk kawanan. Bertahun-tahun yang lalu, saya mengamati beberapa kawanan domba di Skotlandia. Ternyata domba-domba itu senang sekali berkawanan atau berkelompok. Mereka berjalan bersama, makan bersama, dan berbaring bersama. Mereka selalu bersama sebagai satu kawanan. Orang-orang Kristen juga memiliki minat semacam itu, yaitu menempuh hidup gereja.

Kita sungguh-sungguh menikmati Allah dalam hidup gereja! Mungkin ada yang berkata, “Allah itu ada di mana-mana, dan aku dapat menikmati-Nya di mana saja. Aku dapat menikmati-Nya di rumah atau di jalan. Aku tidak perlu hidup gereja untuk menikmati Allah.” Kita dapat bersaksi bahwa kenikmatan atas Allah dalam hidup gereja tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan atas Allah di luar hidup gereja. Mungkin Anda dapat menikmati Allah di mana saja, tetapi caranya berbeda dengan cara kita menikmati-Nya dalam gereja. Dalam hidup gereja, kita sampai lupa diri karena menikmati Tuhan. Hidup gereja adalah hidup perbauran Allah dan manusia. Dalam hidup perbauran yang ajaib ini, kita menikmati Allah dari hari ke hari dalam seluruh kaum saleh yang terkasih, dan kita menik-mati kaum saleh yang terkasih di dalam Allah. Kenikmatan ini adalah aspek pertama dari bagian kekal kita dalam kota kudus. Kenikmatan atas kota kudus ini, yang merupakan susunan Allah berbaur dengan seluruh kaum saleh, adalah bagian kekal kita. Dalam kota kudus ini, Allah dan Anak Domba akan menjadi tempat tinggal perhentian kita (21:3). Dalam kota kudus, kita pun akan menikmati Allah dan Anak Domba sebagai bait kita, agar kita dapat mela-yani dan menyembah Allah (21:22).

II. POHON HAYAT

Hal kedua yang kita nikmati dalam kekekalan adalah pohon hayat (22:14, 19). Pohon hayat sebenarnya adalah Kristus, Putra Allah, Anak Domba Penebus, sebagai suplai hayat kita. Pohon ini kaya, segar. Kita telah ditebus sehingga kita berhak datang ke pohon hayat.

Wahyu 22:14 mengatakan, “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon hayat dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.”(Tl.). Ayat ini dapat dianggap sebagai suatu janji kenikmatan atas pohon hayat, yaitu Kristus dengan segala kekayaan hayat; bagian akhir ayat 17 dapat dianggap sebagai suatu panggilan untuk mengambil air hayat, yaitu Roh pemberi-hayat. Jadi, Kitab Wahyu berakhir dengan satu janji dan satu panggilan, untuk makan dan minum Kristus yang almuhit sebagai Roh pemberi-hayat.

Setelah diciptakan, manusia ditaruh di depan pohon hayat (Kej. 2:8-9), ini menunjukkan bahwa manusia mendapat hak khusus untuk berbagian dalamnya. Tetapi karena keja-tuhan manusia, jalan menuju pohon hayat itu tertutup bagi manusia oleh kemuliaan, kekudusan, dan kebenaran Allah (Kej. 3:24). Melalui penebusan Kristus yang memuaskan semua tuntutan kemuliaan, kekudusan, dan kebenaran Allah, jalan menuju pohon hayat terbuka kembali bagi kaum ber-iman (Ibr. 10:19-20). Karena itu, setiap orang yang membasuh jubah mereka dalam darah penebusan Kristus, berhak menikmati pohon hayat sebagai bagian kekal mereka dalam kota kudus, Taman firdaus Allah, dalam kekekalan (2:7).

Dalam ayat ini, jubah melambangkan perilaku kaum beriman. Membasuh jubah mereka berarti menjaga perilaku mereka tetap bersih melalui pembasuhan darah Anak Domba (7:14; 1 Yoh. 1:7). Ini memberi mereka hak untuk berbagian dalam pohon hayat dan hak untuk masuk ke dalam kota itu. Masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu berarti masuk ke dalam Yerusalem Baru, suatu ruang lingkup berkat kekal Allah, dengan kelahiran kembali melalui Kristus yang mengalahkan maut dan menyalurkan hayat. Pohon hayat dan kota itu akan menjadi kenikmatan mereka dalam kekekalan.

III. AIR HAYAT

Aspek lain dari kenikmatan dan berkat umat tebusan Allah dalam kekekalan adalah air hayat (22:17; 21:6). Air hayat adalah Roh pemberi-hayat sebagai minuman kekal kita. Kita perlu makan dan minum. Kalau kita makan sesuatu tidak disertai minuman, tentu tidak begitu nyaman. Haleluya, dalam kekekalan kita akan memiliki makanan, pohon hayat, dan minuman, Roh pemberi-hayat! Ingatlah, Roh pemberi-hayat itu sebenarnya adalah Allah Tritunggal yang mengalirkan diri-Nya menjadi minuman kita.

Karena banyak orang Kristen berpandangan salah akibat ajaran tradisional, mereka mengira Roh itu terpisah dari Putra dan Bapa. Bagi mereka, Roh itu adalah Roh belaka. Tetapi Yohanes 15:26 mengatakan, “Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebe-naran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” Arti preposisi Yunani yang diterjemahkan “dari” adalah “da-ri dan dengan”. Roh realitas yang diutus Putra dari Bapa bukan hanya dari Bapa, tetapi juga dengan Bapa. Bapa adalah sumber. Ketika Roh ini datang dari sumber, Ia tidak meninggalkan sumber, tetapi datang dengan sumber. Roh ini berasal dari Bapa, dan Bapa datang bersama Roh ini. Roh ini diutus Putra, dan datang bersama Bapa, akan bersaksi tentang Putra. Karena itu, kesaksian-Nya tentang Putra adalah perkara Allah Tritunggal.

Walaupun hal ini sulit untuk dijelaskan, namun kita dapat memahaminya dengan mudah bila mempertimbangkan pengalaman kita. Ketika kita berseru, “O, Tuhan Yesus,” kita menerima Roh itu. Tetapi ketika Roh itu datang, kita memiliki perasaan yang dalam bahwa Bapa dan Putra pun datang. Hal ini menunjukkan bahwa Roh itu adalah Roh yang almuhit. Ketika Ia masuk ke dalam kita, Ia masuk bersama Putra dan Bapa. Sebab itu, minuman kekal kita, Roh pemberi-hayat, adalah Allah Tritunggal. Sungguh nik-mat! Jika kita mencurahkan perhatian kita hanya kepada pemahaman doktrinal, kita akan kehilangan kenikmatan itu. Tetapi jika kita memperhatikan pengalaman yang sejati di dalam roh kita, kita akan berkata, “Kini aku mengerti bahwa minuman yang kunikmati adalah Allah Tritunggal yang mengalir ke dalam diriku.”

Minuman yang kekal ini jernih seperti kristal (22:1). Dalam Roh pemberi-hayat tidak ada yang keruh. Begitu kita minum Roh yang kekal ini, segala sesuatu menjadi jernih seperti kristal.

IV. TAKHTA ALLAH DAN ANAK DOMBA

Dalam kekekalan kita juga akan menikmati takhta Allah dan Anak Domba (22:3). Sulit dipastikan apakah takhta Allah dalam Wahyu 21 dan 22 adalah takhta kekuasaan atau takhta anugerah. Dalam Ibrani 4 terdapat takhta anugerah, tetapi takhta yang disebut dalam Wahyu 4 terutama berhubungan dengan kekuasaan. Pada akhir Alkitab, takhta yang dimaksud adalah takhta anugerah dan takhta kekuasaan. Kita tahu hal ini dari gambar yang terlukis dalam pasal 22. Dalam pasal itu, takhta Allah dan Anak Domba jelas untuk administrasi ilahi Allah. Dengan demi-kian, takhta itu adalah takhta kekuasaan. Namun, dari takhta itu tidak keluar kekuasaan, melainkan sungai air hayat, dengan pohon hayat sebagai suplai hayat. Itu bukan kekuasaan, melainkan anugerah.

Jangan memisahkan kekuasaan dari anugerah atau anugerah dari kekuasaan. Anugerah dan kekuasaan adalah satu. Jika kita memiliki anugerah, kita ada di bawah kekuasaan, dan jika kita ada di bawah kekuasaan, kita pasti berbagian dalam anugerah. Sebagai orang Kristen, kita memang perlu memerintah, namun kita tidak seharusnya memerintah dengan kekuasaan. Sebaliknya, kita perlu memerintah melalui aliran hayat. Para penatua tidak seyogianya melaksanakan tugasnya sebagai penatua dengan kekuasaan. Jabatan penatua, yaitu wakil dari Kepala, harus dilaksanakan melalui aliran hayat. Walaupun takhta itu adalah takhta kekuasaan, takhta kekepalaan, tetapi yang mengalir keluar dari takhta itu adalah sungai air hayat. Bila Anda melihat takhta, Anda melihat kekuasaan dan kekepalaan. Tetapi bila Anda melihat sungai, Anda melihat air hayat dan pohon hayat. Hal itu menunjukkan bahwa jabatan penatua yang wajar bukan dilaksanakan dengan kekuasaan atas orang lain, melainkan mengalirkan hayat ke dalam mereka. Kita memerintah, tetapi kita tidak memerintah de-ngan kekuasaan, melainkan memerintah dengan mengalirkan hayat batiniah.

Hari ini Tuhan Yesus memerintah bukan hanya dengan kekuasaan. Ia memerintah dalam gereja, di tengah-tengah gereja-gereja, dan atas semua gereja, melalui mengalirkan hayat-Nya sebagai anugerah. Semakin banyak kita berbagian dalam hayat-Nya, semakin besar kekuasaan yang kita miliki. Orang yang Anda hormati dalam hidup gereja adalah orang-orang yang matang hayatnya. Namun, tidak ada yang menganggap dirinya berkuasa lalu dihormati. Jauh di dalam roh kaum saleh tidak ada rasa hormat terhadap orang yang menjadi penatua secara demikian. Hayat adalah eks-presi kekuasaan. Lebih baik kita menampilkan Kristus da-ripada menganggap diri kita berkuasa. Kristus yang kita tampilkan akan menjadi kekuasaan kita atas orang lain. Kita akan menikmati kekuasaan semacam itu selama-la-manya. Takhta, sumber suplai hayat dengan kekuasaan ilahi, akan menjadi kenikmatan kekal kita.

V. TIDAK AKAN ADA LAGI LAKNAT

Dalam kekekalan, “tidak akan ada lagi yang terkutuk”. Sebaliknya, takhta Allah dan Anak Domba itu akan menjadi bagian kekal kita. Kutuk masuk melalui kejatuhan Adam (Kej. 3:17), namun telah ditanggulangi oleh penebusan Kristus (Gal. 3:13). Karena dalam langit baru dan bumi baru tidak ada lagi kejatuhan, maka kutuk pun tidak akan ada lagi.

Tidak banyak orang Kristen yang mengerti apa saja yang termasuk dalam kutuk. Hal-hal seperti kebencian, kritik, dan gosip termasuk dalam kutuk. Jika dalam gereja di Anaheim masih ada yang suka bergosip, itu berarti gereja di sana masih berada di bawah kutuk yang kecil. Jika saudara dan saudari saling mengecam, itu pun tanda bahwa gereja di tempat mereka ada di bawah kutuk. Selanjutnya, jika ada orang saleh yang lemah begitu rupa sehingga keadaannya mati, itu adalah tanda kutuk. Kalau tidak ada lagi kutuk, berarti tidak ada lagi gosip, kebencian, kritik, kelemahan, atau kematian. Bila tidak ada lagi kutuk, segalanya tenang, menyenangkan, kuat, dan hidup.

Saya tidak mau mengunjungi keluarga (suami istri) yang sedang bertengkar. Setiap kali saya mendengar suara pertengkaran itu, saya akan segera lari, karena saya tidak mau berbagian dalam kutuk. Saya tidak ingin melihat kutuk, menjamah kutuk, atau berada di bawah kutuk. Jika saya menyaksikan pertengkaran semacam itu, kesan yang timbul di dalam saya akan sulit hilang. Setiap kali saya melihat saudara saudari tersebut, saya akan teringat pertengkaran mereka. Tidak jarang, ketika saya mendekati rumah sepasang suami istri, saya mendengar mereka sedang bertengkar. Saat itu saya langsung berpaling, dan baru ke sana lagi setelah semuanya tenang. Lalu saya mengetuk pintu dan disalami dengan menyenangkan, “Puji Tuhan! Amin!” Ini sangat baik. Saya senang sekali tinggal bersama sepasang suami istri yang memuji Tuhan. Saya senang bila kesan akibat puji-pujian mereka tertanam di dalam saya selama-lamanya.

Apakah Anda menyadari berapa besar lingkupan kutuk? Pernahkah Anda memikirkan “tidak ada lagi kutuk” itu mencakup pula tidak ada lagi pertengkaran? Bila tidak ada lagi kutuk, semuanya tenang, menyenangkan, hidup, cerah, murni, dan sempurna. Bila kita ada di dalam Yerusalem Baru, kita akan berbagian dalam berkat yang besar itu. Namun, kita semua damba bisa mengatakan bahwa dalam hidup gereja hari ini tidak ada lagi kutuk. Semoga demikianlah keadaan di semua gereja lokal.

VI. MELAYANI ALLAH DAN ANAK DOMBA

Wahyu 22:3 juga mengatakan, “Hamba-hamba-Nya akan melayani Dia” (Tl.). Melayani Allah dan Anak Domba juga merupakan berkat bagi umat tebusan Allah dalam kekekalan. Kata ganti “Dia” dalam ayat ini dan dalam ayat 4 (“Nya”) mengacu kepada Allah dan Anak Domba. Dalam kekekal-an, Allah dan Anak Domba adalah satu.

Walaupun umat tebusan Allah akan melayani Allah dan Anak Domba dalam kekekalan, namun mereka tidak akan melayani-Nya sebagai imam. Tegasnya, di langit baru dan bumi baru tidak akan ada imam. Pelayanan tetap ada, tetapi tidak ada jabatan imam. Pelayanan imamat selalu meliputi aspek penebusan. Karena di langit baru dan bumi baru tidak akan ada lagi masalah dosa, maka tidak perlu ada pekerjaan penebusan. Sebab itu, di sana tidak ada lagi pelayanan imamat. Namun, kita tetap akan menjadi pelayan (hamba) Allah dan Anak Domba, dan kita akan melayani-Nya selama-lamanya.

VII. MELIHAT WAJAH ALLAH

Ayat 4 mengatakan, “Mereka akan melihat wajah-Nya.” Ini pun adalah berkat bagi umat tebusan Allah dalam kekekalan. “Nya” dalam ayat ini mengacu kepada Allah dan Anak Domba. Melihat wajah-Nya berarti melihat wajah Allah dan Anak Domba.

VIII. NAMA ALLAH DAN ANAK DOMBA AKAN TERTULIS DI DAHI MEREKA

Di dahi umat tebusan Allah akan tertulis nama Allah dan Anak Domba (ayat 4). Ini juga merupakan berkat Allah Tritunggal yang dinikmati umat tebusan Allah dalam kekekalan. Kita tidak akan memiliki dua nama, melainkan hanya memiliki satu nama, nama Allah dan Anak Domba. Ini sama dengan Matius 28:19, yang membicarakan dibaptis ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam kekekalan, Allah dan Anak Domba akan memiliki satu nama. Karena kita adalah milik-Nya, nama-Nya akan tertulis di dahi kita selama-lamanya. Kita bukan hanya akan menjadi milikNya, kita pun akan bersatu dengan-Nya.

IX. TUHAN ALLAH AKAN MENERANGI MEREKA

Ayat 5 mengatakan, “Malam pun tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka.” Diterangi Tuhan Allah merupakan berkat lain bagi umat tebusan Allah dalam kekekalan. Kita tidak akan memerlukan cahaya lampu, terang buatan manusia, juga tidak memerlukan matahari, benda terang ciptaan Allah. Allah sendiri akan menerangi kita, dan kita akan hidup di bawah terang-Nya.

X. MEMERINTAH SELAMA-LAMANYA

Ayat 5 juga mengatakan, “Dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” Memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya adalah berkat terakhir bagi umat tebusan Allah dalam kekekalan. Itulah berkat-berkat yang akan kita nikmati di langit baru dan bumi baru.