KESIMPULAN
Wahyu 22:6-21 adalah kesimpulan dari kitab ini. Dalam berita ini kita akan melihat berbagai butir yang ada dalam kesimpulan ini.
Ayat 6 mengatakan, “Lalu ia berkata kepadaku, ‘Perkataan-perkataan ini dapat dipercaya dan benar, dan Tuhan, Allah dari roh para nabi, telah mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi” (Tl.). Tuhan, Allah dari roh para nabi, yang mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan hal-hal dalam kitab ini adalah Tuhan Yesus (1:1; 22:16). Wahyu 22:16 mengatakan, “Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk bersaksi tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat.” Kesaksian dalam kitab ini diberikan oleh Tuhan Yesus bagi gereja-gereja. Karena itu, untuk mema-hami dan memelihara kesaksian ini, kita harus berada di dalam gereja dan bagi gereja.
Dalam kitab ini Tuhan Allah disebut Allah dari roh para nabi. Ini menunjukkan bahwa semua nubuat dalam kitab ini diilhami oleh Allah yang mengilhami roh para nabi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ini juga menunjukkan bahwa nubuat-nubuat ini berhubungan dengan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang diucapkan oleh nabi-nabi dalam roh mereka yang berada di bawah gerakan Allah. Karena itu, untuk memahami nubuat-nubuat ini, kita juga perlu di dalam roh menerima pengurapan Allah.
I. PERINGATAN TUHAN SEGERA DATANG
Ayat 7, 12, dan 20 memperingatkan kita bahwa Tuhan segera datang. Dalam ayat-ayat itu Tuhan berkata, “Aku datang segera.” Ini peringatan dari Tuhan. Jika kita memperhatikan peringatan ini, kita akan diberkati; jika tidak, kita akan kehilangan berkat ini. Jangan mengira, kalau Tuhan sudah sabar menunggu lebih dari 19 abad, Dia akan kembali agak lambat. Lihatlah situasi dunia hari ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa hari mendatang. Pada zaman ini, semua peristiwa terjadi dengan sangat cepat. Sebab itu, kita harus berjaga-jaga dan berdoa. Kita harus siap di dalam roh dan di dalam kehidupan kita setiap hari. Semoga Tuhan melindungi kita sehingga kita semua menjadi orang yang berjaga-jaga, berdoa, dan siap siaga.
II. BERBAHAGIALAH ORANG YANG MENURUTI
PERKATAAN-PERKATAAN NUBUAT KITAB INI
Dalam ayat 7 Tuhan juga berkata, “Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini.” Di sini Tuhan dengan jelas memberi tahu kita bahwa jika kita menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini, kita akan bahagia. Dalam 1:3 Tuhan mengatakan kata-kata yang sama. Kata-Nya, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya.” Kitab ini ditulis terutama untuk memberikan berkat Allah kepada umat-Nya. Bisa atau tidaknya kita berbagian dalam berkat ini, tergantung pada bagaimana kita menghadapi perkataan yang terdapat dalam kitab ini. Kita harus menerima dan menuruti perkataan itu. Orang yang berbuat demikian pasti diberkati.
III. PERINGATAN AGAR JANGAN MEMETERAIKAN PERKATAAN-PERKATAAN NUBUAT KITAB INI
Ayat 10 mengatakan, “Lalu ia berkata kepadaku, ‘Jangan memeteraikan perkataan-perkataan nubuat kitab ini, sebab waktunya sudah dekat.” Nubuat-nubuat Daniel dimeterai-kan, karena nubuat-nubuat itu diberikan jauh sebelum akhir zaman, tetapi nubuat-nubuat kitab ini tidak boleh di-meteraikan, sebab waktunya sudah dekat. Kitab Wahyu tidak boleh dimeteraikan, malah harus selalu terbuka bagi kita dan orang lain. Namun, berabad-abad lamanya Kitab Wahyu dan kitab-kitab lainnya telah ditutupi oleh gereja Roma Katolik, tidak memperkenan orang memahaminya. Melalui Martin Luther, Alkitab terbuka bagi semua orang, tetapi bagian yang terbuka tidak banyak. Setelah membaca semua pelajaran-hayat ini, kita tidak dapat mengatakan bahwa Kitab Wahyu masih tertutup bagi kita. Kitab ini benar-benar telah terbuka bagi kaum saleh. Sebab itu, jangan membiarkan kitab ini tertutup bagi Anda atau orang lain; sebaliknya, usahakanlah kitab ini terus terbuka bagi Anda. Anda perlu masuk ke dalam setiap aspek dari nubuat-nubuat ini, bahkan menyelam ke dalam aliran ini. Semakin kita hidup dalam perkataan kitab ini, semakin terbukalah kitab ini untuk kita. Kalau kita berbuat demikian, Kitab Wahyu akan terus terbuka bagi kita, bagi keluarga kita, dan bagi orang-orang yang ada di sekeliling kita.
Ayat 11 mengatakan, “Siapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; siapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan siapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; siapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!” Pada zaman kitab ini ditulis, bagaimana keadaan seseorang, entah dia jahat atau benar, cemar atau kudus, adalah suatu hal yang serius. Benar berarti hidup (bergerak) menurut jalan Allah yang benar secara lahiriah, sedangkan kudus berarti hidup menurut sifat kudus Allah secara batiniah. Pada zaman kitab ini ditulis, kita harus hidup dan bertindak secara demikian agar kita dapat menerima pahala. Kalau tidak, kita akan dihakimi sebagai orang yang jahat dan cemar, dan akan menerima penghukuman pada saat Tuhan datang kembali (ayat 12).
Siapa saja mengeraskan hatinya dan tidak mau kitab ini terbuka baginya, atau dirinya tidak mau terbuka bagi kitab ini, pasti tinggal dalam keadaan yang kasihan. Jika dia jahat atau cemar, dia akan tetap jahat dan cemar. Tetapi kalau Anda benar dan kudus, dan selalu terbuka bagi kitab ini, dan kitab ini juga selalu terbuka bagi Anda, Anda akan selalu benar dan kudus. Hal ini berarti kalau Anda selalu membiarkan firman itu terbuka bagi Anda, Anda akan terus-menerus menjadi kudus dan benar. Tetapi kalau Anda tidak mau membiarkan firman ini terbuka bagi Anda, Anda akan menjadi semakin jahat dan cemar, tetap dalam keadaan yang sangat kasihan itu, sampai tiba saat penghakiman.
IV. PERINGATAN MENGENAI PAHALA DAN GANJARAN TUHAN
Ayat 12 mengatakan, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.” “Aku datang segera” adalah peringatan yang Tuhan ulangi agar kita memperhatikan upah-Nya pada saat kedatangan-Nya kembali. Pada saat Tuhan datang kembali, setelah pengangkatan kaum beriman, upah (pahala) ini akan diberikan kepada setiap orang beriman di depan takhta penghakiman Kristus (2 Kor. 5:10; 1 Kor. 4:5; Rm. 14:10; Mat. 16:27).
Ayat 13 mengatakan, “Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” Ini adalah pernyataan Tuhan pada akhir kitab ini, selaras dengan pernyataan Allah pada awal kitab ini (1:8). Ini menunjukkan Tuhan Yesus adalah Allah. Tuhan yang kita layani adalah Alfa juga Omega. Dia adalah huruf pertama, huruf terakhir, dan semua huruf yang ada di antara kedua huruf itu. Artinya, Dia dapat dan bersyarat menggenapkan semua yang dikatakan kitab ini tentang Dia. Jangan memaafkan diri sendiri dan berkata, “Visi ini sungguh ajaib, tetapi terlalu tinggi bagiku. Aku tidak dapat mencapainya!” Tuhan adalah Alfa dan Omega. Dia dapat menopang dan melaksanakan firman-Nya. Kita harus percaya kepada firman-Nya dengan seluruh diri kita. Jangan melihat diri Anda, jangan bersandar pada diri Anda, dan jangan pula memperhatikan diri Anda. Kita ini bukan apa-apa. Kalau kita melihat diri sendiri, kita tidak akan dapat melakukan apa pun. Sebab itu, mata kita harus berpaling kepada Dia, percaya firman-Nya. Tidak peduli berapa tinggi firman-Nya kita harus mengaminkan apa yang dikatakan-Nya. Bila kita mengaminkan firman-Nya, kita dikuatkan oleh-Nya, bahkan memiliki iman yang hidup. Iman itu bukan berasal dari kita, melainkan berasal dari Dia. Kalau kita berpaling dari segala sesuatu kepada Dia, kita akan menikmati Dia sebagai Alfa dan Omega kita, dan sebagai segala sesuatu kita. Dia pasti menggenapkan semua janji-Nya yang ada dalam kitab ini. Yang perlu kita lakukan hanyalah melatih iman kita terhadap Dia.
Menurut ayat 13, Tuhan Yesus bukan hanya Yang Pertama, tetapi juga Yang Awal; dan bukan hanya Yang Terkemudian, tetapi juga Yang Akhir. Yang Pertama menunjukkan, sebelum Dia tidak ada siapa-siapa dan Yang Terkemudian menunjukkan, sesudah Dia tidak ada siapa-siapa. Sedangkan Yang Awal menunjukkan, Dia adalah asal usul segala sesuatu, dan Yang Akhir menunjukkan, Dia adalah kesimpulan segala sesuatu. Karena itu, di sini tidak hanya ditunjukkan bahwa tidak ada sesuatu sebelum atau sesudah Tuhan Yesus, tetapi juga berarti tidak ada asal usul atau kesimpulan tanpa Dia. Ini membuktikan kepada kita bahwa Tuhan Yesus itu kuat dalam janji, dalam dorongan, dan dalam menguatkan kita. Dia pasti menggenapkan apa yang dikatakan-Nya dalam kitab ini.
Karena Tuhan adalah segala sesuatu kita dan karena Dia begitu kuat, kita tidak dapat beralasan dan mengatakan, “Oh, aku sangat lemah. Situasi keluargaku sulit dan lingkunganku juga tidak menguntungkan.” Semakin sulit lingkungan kita, semakin limpah Tuhan terhadap kita. Semakin banyak pencobaan yang menimpa kita, semakin kuat Tuhan terhadap kita. Kita harus memakai iman kita untuk percaya kepada Sang almuhit ini. Dia adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir. Bagi Dia tidak ada masalah. Sebab itu, kita harus secara mendalam masuk ke dalam Dia, percaya kepada-Nya, dan memiliki perhentian di dalam-Nya.
V. JANJI MENGENAI
POHON HAYAT DAN KOTA KUDUS
Dalam ayat 14 dan 19 ada janji-janji Tuhan mengenai pohon hayat dan kota kudus. Pohon hayat untuk suplaian hayat, dan kota kudus untuk tempat tinggal dan pelayanan.
VI. PERINGATAN BINASA
KEKALNYA ORANG DOSA
Ayat 15 mengatakan, “Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar.” “Di luar” berarti di luar kota itu, tempat lautan api yang menampung semua orang dosa yang binasa. Semua orang yang cemar, yang berdosa, akan dibuang ke dalam lautan api, “tong sampah” universal. Kita semua harus menerima peringatan ini.
VII. KESAKSIAN BAHWA TUHAN ADALAH
AKAR DAN KETURUNAN DAUD,
BINTANG FAJAR YANG GILANG GEMILANG
Dalam ayat 16 Yesus mengatakan, “Aku adalah akar dan keturunan Daud, bintang fajar yang gilang gemilang” (Tl.) Dalam sifat ilahi-Nya, Kristus adalah akar, sumber Daud; dalam keinsanian-Nya, Kristus adalah keturunan, hasil Daud. Jadi, Dia adalah Tuhan, sebagai akar Daud; Dia juga anak; akar Daud; Dia juga anak, tunas Daud, sebagai keturunan Daud (Mat. 22:42-45; Rm. 1:3; Yer. 23:5).
Pada kedatangan-Nya kembali, Kristus akan menjadi matahari yang terbit bagi umat-Nya (Mal. 4:2), ini adalah yang umum; tetapi bagi para pencinta-Nya yang berjaga-jaga, Dia adalah bintang timur (fajar), ini adalah yang khusus, adalah pahala bagi para pemenang (2:28). Sebagai akar dan keturunan Daud, Kristus berhubungan dengan Israel dan kerajaan; sebagai bintang fajar yang gilang gemilang, Kristus berhubungan dengan gereja dan pengangkatan. Bintang fajar tampak pada saat yang paling gelap sebelum fajar. Kesusahan besar adalah saat yang paling gelap. Sesudah itu, zaman kerajaan adalah fajar merekah. Dalam ke-rajaan, Kristus akan tampil secara terbuka kepada umat-Nya sebagai matahari, tetapi sebelum kesusahan besar, Dia akan tampil secara tersembunyi kepada para pemenang-Nya sebagai bintang fajar.
VIII. ROH ITU DAN PENGANTIN PEREMPUAN MERESPONS PERKATAAN TUHAN
Ayat 17 mengatakan, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, ‘Marilah!’ Siapa yang mendengarnya, hendak-lah ia berkata, ‘Marilah!’ Siapa yang haus, hendaklah ia datang, dan siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” Pada pasal 2 dan 3 Roh itu berbicara kepada gereja-gereja; pada akhir kitab ini, Roh itu dan pengantin perempuan (gereja) berbicara bersama-sama seperti satu orang. Ini menunjukkan bahwa pengalaman gereja atas Roh itu telah maju sedemikian rupa sehingga gereja menjadi satu dengan Roh itu pernyataan akhir Allah Tritunggal.
“Marilah” adalah respons Roh itu dan pengantin pe-rempuan terhadap perkataan Tuhan dalam ayat 16 dan terhadap peringatan-Nya yang diucapkan-Nya berulang-ulang dalam ayat 7 dan ayat 12. Inilah pengharapan atas keda-tangan Tuhan. Siapa saja mendengar respons ini, juga harus berkata, “Marilah!” Untuk menyatakan kedambaan yang sama atas kedatangan Tuhan. Setiap orang beriman yang mendambakan penampakan diri Tuhan (2 Tim. 4:8, merindukan kedatangan-Nya), seharusnya menyatakan kedambaan yang sama.
Ayat-ayat sebelum ayat 17 adalah perkataan Tuhan. Sampai ayat 17 adalah respons Roh itu dan pengantin perempuan terhadap perkataan-Nya. Respons mereka adalah kedambaan hati mereka terhadap kedatangan Tuhan. Kata “marilah” yang diucapkan oleh Roh itu dan pengantin perempuan tentunya ditujukan kepada Tuhan. Perkataan itu diucapkan oleh Roh itu dan pengantin perempuan bagaikan satu orang. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah menjadi satu. Pada pasal 2 dan 3, Roh itu adalah pembicara dan gereja-gereja menerima perkataan yang diucapkan oleh Roh itu. Tetapi pada akhir kitab ini, Roh itu dan pengantin perempuan, pengantin perempuan dengan Roh itu, telah menjadi satu. Gereja tidak lagi hanya menerima perkataan ilahi, dia juga menjadi satu dengan Pembicara ilahi.
Kata “marilah” (datang) tercantum tiga kali dalam ayat ini. Kali pertama ditujukan kepada kedatangan kem-bali Tuhan Yesus. Telah kita katakan, ini adalah perkataan dari Roh itu dan pengantin perempuan. Namun, orang yang mendengar Roh itu dan pengantin perempuan mengatakan perkataan ini, juga ikut mengatakan, “Marilah!” Di satu pihak, Roh itu dan pengantin perempuan mendambakan kedatangan Tuhan; di pihak lain, mengharapkan orang dosa yang haus juga datang mengambil air hayat untuk kepuasannya. Bila kita dengan tulus hati mengharapkan kedatangan Tuhan, kita juga akan memiliki perhentian yang sungguh-sungguh terhadap keselamatan orang dosa. Sebab itu, kali ketiga dari kata “Marilah” (LAI: hendaklah ia datang) dalam ayat ini mengacu kepada kedatangan orang dosa yang bertobat. Siapa yang haus, boleh datang mengambil air hayat dengan cuma-cuma. Karena itu, ayat ini membahas tiga hal: respons dari Roh itu dan pengantin perempuan; perkataan orang yang mendengar pernyataan dari Roh itu dan pengantin perempuan; dan pengharapan terhadap orang dosa yang haus dan yang belum beroleh selamat, agar datang dan minum air hayat.
Ayat 17 dengan tegas menyiratkan, jika kita mengharapkan kembalinya Tuhan, kita akan memperhatikan keselamatan orang lain. Apakah Anda mengharapkan kembalinya Tuhan Yesus? Jika demikian, pengharapan ini akan menggugah hati Anda untuk memperhatikan keselamatan orang lain. Saat Anda mengatakan, “Datanglah, Tuhan Yesus!” Suatu beban akan muncul di dalam Anda terhadap orang tua, saudara sepupu, tetangga, kawan sekolah, dan teman-teman Anda. Setelah Anda selesai membaca berita ini, Anda mungkin mempunyai pengharapan yang besar terhadap kembalinya Tuhan. Saya benar-benar percaya, pengharapan itu akan menyebabkan Anda memperhatikan keselamatan orang lain. Anda akan berkata kepada Tuhan, “Marilah!” Anda pun akan berpaling kepada orang-orang yang belum percaya dan mengatakan, “Tuhan Yesus segera datang. Tidak inginkah kamu datang? Datanglah! Terimalah karunia keselamatan! Agar kamu juga dapat siap menyambut Juruselamat yang akan datang.” Dari pengalaman kita dapat bersaksi, inilah pemahaman yang tepat terhadap ayat 17.
IX. PANGGILAN MENGENAI AIR HAYAT
Ayat 17 juga mengatakan, “Siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan (hayat) dengan cuma-cuma.” Ini adalah panggilan kepada orang yang haus untuk minum air hayat dengan cuma-cuma. Jika kita bandingkan ayat ini dengan ayat 14, akan terlihat bahwa ayat 17 adalah suatu panggilan dan ayat 14 adalah suatu janji. Sebab itu, Kitab Wahyu disimpulkan dengan janji dan panggilan. Janji adalah janji pohon hayat, panggilan adalah panggilan air hayat.
X. PERINGATAN JANGAN MENGURANGKAN PERKATAAN NUBUAT-NUBUAT DALAM KITAB INI
Ayat 18-19 mengatakan, “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat kitab ini, ‘Jika seseorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepada-nya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Jikalau seseorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” Menurut ayat 16 dan 20, kata “Aku” dalam ayat 18 tentu mengacu kepada Tuhan Yesus; namun menurut Wahyu 1:2, mungkin mengacu kepada Yohanes. Bagaimanapun, Yohanes adalah orang yang berada di dalam roh bersama Tuhan ketika mengucapkan peringatan yang serius ini.
Aspek pertama dari peringatan ini adalah jangan menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan nubuat kitab ini, dan aspek kedua adalah jangan mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dalam kitab nubuat ini. Siapa saja menambahkan akan menerima malapetaka-mala-petaka yang dikatakan dalam kitab ini, dan siapa saja mengurangkan akan kehilangan bagian atas pohon hayat dan kota kudus. Malapetaka utama yang diungkapkan dalam Kitab Wahyu adalah tiga celaka dari kesusahan besar dan kematian kedua, yaitu kebinasaan seluruh bagian manusia — roh, jiwa, dan tubuh — dalam lautan api. Hal yang menonjol dari berkat yang diwahyukan dalam Kitab Wahyu adalah pohon hayat dan kota kudus. Entah seseorang akan mengalami malapetaka atau mendapat bagian dalam berkat, semuanya tergantung pada bagaimana responsnya terhadap nubuat kitab ini. Kita tidak seharusnya menambahkan sesuatu kepada nubuat ini, juga tidak seharusnya mengurangkan sesuatu dari nubuat ini. Kita harus menerimanya seperti yang tertulis di dalamnya. Jangan menambahkan konsepsi, pikiran, ide, pendapat, doktrin, ajaran, atau teologi Anda kepada kitab ini. Jangan pula mengurangkan sesuatu dari dalamnya. Kalau Anda menambahkan sesuatu ke dalam kitab ini, Anda akan menerima malapetaka; kalau Anda mengurangkan sesuatu darinya, Anda akan kehilangan berkat, khususnya kehilangan berkat atas pohon hayat dan kota kudus. Ini adalah peringatan yang serius! Kalau kita mendengar peringatan ini, kita akan mene-rima perkataan yang tertulis dalam kitab ini sepenuhnya.
XI. DOA DAN PENGHARAPAN PENULIS
TENTANG KEDATANGAN TUHAN
Ayat 20 mengatakan, “Ia yang bersaksi tentang semuanya ini, berfirman, ‘Ya, Aku datang segera!’ Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” Bagian depan dari ayat ini adalah kali ketiga Tuhan mengingatkan kita dalam pasal ini bahwa Dia segera datang. Bagian bawah ayat ini adalah doa Rasul Yohanes dan juga responsnya terhadap peringatan Tuhan. Ini juga adalah doa yang terakhir dalam Alkitab. Setelah mendengar perkataan kitab ini, kita semua seharusnya berdoa dan memberi respons yang sama seperti Yohanes, “Datanglah, Tuhan Yesus!” Ini adalah doa yang menyatakan pengharapan Yohanes. Karena itu, seluruh Alkitab tersim-pul dengan kedambaan terhadap kedatangan Tuhan yang diwujudkan dalam doa.
XII. BERKAT PENULIS UNTUK
SELURUH KAUM SALEH
Setelah diakhiri dengan doa, penulis memberi berkat kepada pembaca, katanya, “Anugerah Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin.” Kita memerlukan anugerah untuk menerima, menaati, dan hidup dalam firman ini. Setelah melihat semua visi dan mendengar semua nubuat dalam kitab ini, kita masih memerlukan anugerah Tuhan. Hanya anugerah Tuhan Yesus yang mampu membuat kita hidup dan berjalan menurut visi dan nubuat ini. Bukan hanya kitab ini yang ditutup dengan anugerah, tetapi seluruh Alkitab ditutup dengan anugerah ini, yang membuat kita mampu mengalami Kristus yang almuhit dan berbagian dalam Allah Tritunggal, sehingga kita bisa menjadi ekspresi korporat-Nya yang kekal untuk menggenapkan tujuan kekal-Nya, agar Dia dan kita dapat saling menikmati kepuasan yang mutlak dan perhentian yang sempurna, sampai selama-lamanya.