MENGALAMI TUJUH LAMPU, TUJUH MATA, DAN TUJUH ROH BANGUNAN ALLAH, YERUSALEM BARU
Dalam kekekalan lampau, Allah Tritunggal yang unik Bapa, Putra dan Roh telah ada. Kejadian 1:26 mewahyukan bahwa Allah datang untuk menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Meskipun manusia diciptakan menurut gambar Allah, tetapi pada waktu penciptaan, manusia tidak mempunyai hayat Allah di dalamnya. Kalau kita membaca seluruh Alkitab, dari Kejadian 1 sampai Wahyu 22, kita akan nampak bahwa setelah banyak zaman, generasi, dan abad berlalu, dalam kekekalan mendatang, Allah tetap ada, tetapi Dia tidak lagi sendirian. Meskipun Dia masih sebagai Allah Tritunggal, digambarkan dalam 22:1 sebagai Allah, Anak Domba, dan sungai yang mengalir (lambang Roh itu), namun pada waktu itu Dia akan menjadi pusat Yerusalem Baru. Dalam kekekalan lampau, Allah sendirian, tetapi dalam kekekalan mendatang, Allah Tritunggal adalah pusat Yerusalem Baru dan akan menjenuhi seluruh kota. Gambaran Yerusalem Baru dalam pasal 21 dan 22 adalah satu tanda yang menandakan Allah akan berbaur dengan umat tebusan-Nya sebagai perluasan-Nya. Akhirnya, umat ini akan menjadi satu bangunan. Bangunan ini, disusun dengan keilahian dan keinsanian, akan menjadi satu tempat tinggal bersama Allah dan manusia. Inilah wahyu yang tembus cahaya dari Alkitab.
Wahyu ini meliputi tiga butir utama: Allah yang unik, manusia yang tercipta, dan Yerusalem Baru yang terbangun. Ketiga butir ini mencakup seluruh Alkitab. Ketika Allah masuk ke dalam manusia, melahirkannya kembali dan mengubahnya, Dia membaurkan diri-Nya dengan ma-nusia. Karena berbaur dengan manusia, Allah menjadi diperbesar. Hasil dari perbauran ini adalah bangunan, Yerusalem Baru. Jadi, Yerusalem Baru sebagai bangunan Allah adalah perbauran Allah dengan manusia yang diciptakan, ditebus, dan dilahirkan kembali. Kita semua perlu memiliki satu visi tentang bangunan yang mengagumkan ini.
DIBAWA KE DALAM BANGUNAN ALLAH
YANG TIDAK BERUBAH
Beberapa waktu yang lalu, seorang saudara bersaksi bahwa sejak dia diselamatkan, dia telah mengalami banyak perubahan. Sejangka waktu dia sangat bahagia, tetapi kemudian ada satu perubahan. Pada suatu masa, dia mengira dirinya telah masuk ke dalam hayat kemenangan, tetapi kemudian segalanya berubah lagi. Cobalah renungkan, berapa banyak perubahan yang telah terjadi dan yang akan terjadi dari zaman Adam sampai zaman Yerusalem Baru? Anda mengalami demikian banyak perubahan dikarenakan Anda belum dibawa ke dalam bangunan Allah yang tidak berubah. Setelah kita semua dibawa ke dalam bangunan Allah, barulah kita berhenti berubah. Setelah kita masuk ke dalam bangunan-Nya, barulah tidak ada perubahan lagi. Wahyu 3:12 mengatakan, “Siapa yang menang, ia akan Ku-jadikan tiang di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ.” Ini menyatakan bahwa setelah kita dibangun ke dalam Bait Allah, barulah kita berhenti berubah. Saat ini, semakin banyak kita berubah, kita semakin mendekati bangunan. Nasib kekal kita adalah di dalam bangunan Allah. Tetapi sayang, di antara banyak orang Kristen hari ini tidak ada bangunan. Sebaliknya, ada pe-ngembaraan dan pergolakan.
TIGA BELAS BUTIR
Dalam Kitab Kejadian ada delapan orang penting: Adam, Habel, Enos, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak dan Yakub. Akhirnya, kedelapan orang itu menghasilkan bangunan Allah. Dalam Perjanjian Lama bangunan ini dilambangkan oleh tabernakel dan bait. Dalam Perjanjian Baru kita mempunyai realitas bangunan itu. Yesus adalah tabernakel (Yoh. 1:14), gereja adalah bait (1 Kor. 3:16), dan Yerusalem Baru adalah perwujudan akhir. Semuanya ada tiga belas butir: delapan orang dalam Kitab Kejadian, tabernakel dan bait dalam lambang, Yesus dan gereja dalam realitas, dan Yerusalem Baru.
KAKI PELITA DAN TUJUH LAMPU
Kaki pelita adalah butir yang sangat penting dalam tabernakel, karena ia memimpin orang-orang kepada tabut di dalam tempat maha kudus. Perhatikan penataan bejanabejana dalam tabernakel dan pelataran luar. Pertama-tama, di pelataran luar ada mezbah dan bejana pembasuhan. Kemudian, dalam tempat kudus, ada meja roti sajian, dan kaki pelita dengan tujuh lampu. Kaki pelita memimpin orang-orang ke dalam tempat maha kudus; menunjukkan jalan kepada hukum hayat di dalam tabut kesaksian.
Jika kita hanya mempunyai Kitab Keluaran, kita tidak akan dapat mengerti makna kaki pelita dan tujuh lampu-nya. Tetapi dalam Zakharia 3 dan 4, kaki pelita dengan lampu-lampunya muncul lagi sebagai perkembangan kaki pelita dalam Keluaran 25. Dalam Zakharia 3:9 tertera tujuh mata di atas batu, dan dalam 4:10 kita nampak ketujuh mata itu adalah mata Tuhan “yang menjelajah seluruh bumi”. Bila kita menjajarkan Zakharia 4:10 dan Zakharia 4:2, kita nampak bahwa tujuh lampu dari kaki pelita juga adalah tujuh mata Tuhan. Jadi, dalam Kitab Zakharia, tujuh lampu dalam Keluaran dikembangkan menjadi tujuh mata Tuhan. Selanjutnya, tujuh lampu ini adalah tujuh mata dari batu itu. Karena itu, dalam Kitab Zakharia, tujuh lampu berkembang menjadi tujuh mata, dan kaki pelita berkembang menjadi batu dan menjadi Yehova Tuhan. Dengan demikian, tujuh lampu adalah tujuh mata, dan kaki pelita adalah batu, Yehova, Tuhan. Di sini kita tidak hanya memiliki tujuh lampu, tetapi juga tujuh mata; tidak hanya kaki pelita, tetapi juga batu, Yehova. Secara tidak langsung ini menyatakan bahwa tujuh lampu adalah tujuh mata dan kaki pelita adalah Yehova.
BATU DALAM PERJANJIAN BARU
Telah kita bahas beberapa kali tentang perkembangan batu dalam Perjanjian Baru. Dalam Matius 16:18 Tuhan Yesus berkata, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Di sini Tuhan menyebut diri-Nya batu karang. Dalam Matius 21:42 Dia berkata, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Batu di sini mengacu kepada batu dengan tujuh mata dalam Zakharia 3:9. Petrus berbicara tentang Tuhan sebagai batu ini dalam Kisah Para Rasul 4:11. Di sana dia berkata, “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan — yaitu kamu sendiri — namun ia telah menjadi batu penjuru.” Petrus memberi tahu para agamawan bahwa mereka tidak hanya menolak Penebus mereka, tetapi juga batu penjuru bangunan Allah.
PERKEMBANGAN LEBIH LANJUT
DARI KETUJUH LAMPU
Dalam Wahyu 4 dan 5 kita nampak perkembangan le-bih lanjut dari ketujuh lampu. Menurut 4:5, tujuh lampu kaki pelita adalah tujuh obor yang menyala-nyala di hadapan takhta Allah. Tujuh lampu di atas kaki pelita adalah untuk penerangan, tetapi tujuh obor di hadapan takhta Allah adalah untuk penerangan dan untuk melaksanakan pemerintahan administratif Allah. Wahyu 5:6 menyatakan bahwa tujuh obor yang menyala-nyala di hadapan takhta juga adalah tujuh mata Anak Domba. Jadi, tujuh mata adalah tujuh mata batu, tujuh mata Tuhan, dan tujuh mata Anak Domba. Tujuh mata ini menggabungkan batu, Tuhan, dan Anak Domba. Ini menyatakan bahwa Anak Domba adalah batu dan batu adalah Tuhan. Selanjutnya, 5:6 mewahyukan tu-juh mata Anak Domba adalah tujuh Roh Allah. Di satu pihak, ada satu garis berisi enam butir: kaki pelita, batu, Yehova, Anak Domba, takhta Allah, dan Allah. Di pihak lain, ada garis lain dengan tiga butir: tujuh lampu, tujuh mata, dan tujuh Roh. Kaki pelita berarti penyinaran, dan batu mengacu kepada bangunan Allah. Yesus, Juruselamat kita, adalah Yehova, dan Penebus adalah Anak Domba. Takhta Allah menyatakan pemerintahan Allah, administrasi Allah.
TUJUH LAMPU UNTUK
MENGGENAPKAN ADMINISTRASI ALLAH
Lampu-lampu adalah untuk penerangan, pemeriksaan, penyingkapan, penghakiman, dan pembakaran. Semua ini untuk menggenapkan administrasi Allah. Hari ini, Allah mengatur pemerintahan-Nya dengan sarana penerangan, pemeriksaan, penyingkapan, penghakiman, dan pembakaran. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan sifat Allah akan dibakar oleh api-Nya. Meskipun kita telah diselamat-kan dan telah mengalami sejumlah pengubahan, pekerjaan kita akan terbakar jika itu adalah kayu, rumput, dan jerami, bukan emas, perak, dan batu permata (1 Kor. 3:12-15). Setiap pekerjaan yang bersifat daging, pekerjaan yang dila-kukan dalam nama Tuhan tetapi sesungguhnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Dia, akan terbakar. Segala hal yang bukan dari Allah atau menurut Allah, baik itu disebut gereja, pekerjaan Kristiani, atau pun pengabaran Injil, akan dianggap Allah sebagai kayu, rumput, dan jerami; itu akan dibakar dengan api. Pembakaran itu adalah penggenapan administrasi Allah. Alkitab mewahyukan bahwa Allah adalah Yang membakar (Ul. 4:24; Ibr. 12:29). Segala hal yang di luar Dia atau yang tidak sesuai dengan sifat-Nya akan dibakar.
Ketujuh lampu yang menerangi, memeriksa, menyingkap, menghakimi, dan yang menyala-nyala akan membakar semua yang tidak sesuai dengan Allah; akan memurnikan hal-hal yang benar-benar sesuai dengan sifat-Nya. Hal-hal itu tidak dibakar, sebaliknya akan dimurnikan. Barang-ba-rang yang tidak berguna akan dibuang ke lautan api, tetapi emas yang dimurnikan akan menuju Yerusalem Baru.
Kita mungkin dapat saling menyembunyikan sesuatu, tetapi ketika tujuh lampu menyoroti kita, kita ditelanjangi dan disingkapkan sepenuhnya. Lalu tidak mungkin lagi menyembunyikan atau menutupi diri kita sendiri. Semua apa adanya kita, apa yang kita lakukan, katakan dan pikirkan, disingkapkan, dihakimi dan dibakar. Jika perkataan Anda sesuai dengan sifat Allah, hal itu akan menjadi emas yang dimurnikan. Jika tidak, akan menjadi barang yang tidak berguna. Inilah pengalaman ketujuh lampu.
TUJUH MATA UNTUK MENGINFUS DAN
MENTRANSFUSI
Tujuh lampu juga adalah tujuh mata Anak Domba dan tujuh batu. Lampu-lampu adalah untuk penerangan dan pembakaran; mata adalah untuk mengamati, menyelidiki, juga untuk menginfus dan mentransfusi. Tujuh mata mentransfusi segala hakiki Anak Domba batu ke dalam diri kita sehingga kita dapat menjadi sama seperti Dia. 1 Petrus 2:4-5 mengatakan, “Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani.” Cara kita menjadi batu hidup adalah datang kepada-Nya dan diperiksa oleh-Nya. Ketika Tuhan menerangi dan menghakimi kita, Dia memandang kita, dan mata-Nya mentransfusikan diri-Nya ke dalam kita. Dengan jalan inilah kita diubah.
Jika kita tidak diselamatkan, sungguh mengerikan diterangi sedemikian oleh tujuh lampu Tuhan. Tetapi, sebagai orang yang diselamatkan, sungguh baik diterangi secara demikian. Tetapi, jika pekerjaan dan kehidupan kita bersifat daging, tidak di dalam roh, menurut diri sendiri, sungguh mengerikan diterangi oleh tujuh lampu, karena kehidupan kita dan pekerjaan kita akan disingkapkan dan dibakar oleh api. Tetapi jika kita hidup di dalam roh dan sesuai dengan sifat Allah, semakin lama tujuh lampu meneragi kita dan semakin lama Tuhan memandang kita, kita akan semakin banyak ditransfusi dan diinfus dengan segala apa adanya Dia. Pengalaman kita membuktikan hal ini.
TUJUH ROH UNTUK MENYALURKAN HAYAT
Ketika tujuh mata memandang kita, mentransfusi dan menginfus kita dengan segala apa adanya Tuhan, tujuh mata segera menjadi tujuh Roh yang menyalurkan hayat ke dalam kita. Pada saat mata menginfus kita, tujuh Roh menyalurkan hayat ke dalam seluruh diri kita. Karena itu, lampu adalah untuk penerangan dan penghakiman, mata adalah untuk mentransfusi dan menginfus, dan Roh-Roh adalah untuk menyalurkan hayat sehingga kita dapat diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya. Semakin banyak kita mengalami ini, kita akan semakin terbangun bersama. Karena itu, Kitab Wahyu, yang menyinggung tentang bangunan akhir Allah meliputi dua pasal yang menyingkapkan bahwa bangunan Allah diselesaikan melalui tujuh lampu, tujuh mata, dan tujuh Roh. Kita semua perlu berada di bawah penerangan tujuh lampu, di bawah pengawasan tujuh mata, dan di bawah penyaluran hayat tujuh Roh. Pada hari-hari ini banyak di antara kita berada di bawah tujuh lampu, tujuh mata, dan tujuh Roh. Puji Tuhan untuk hal ini! Saya dapat bersaksi bahwa hari demi hari saya sedang disingkapkan. Bukankah ini pengalaman Anda juga? Tetapi kita juga sedang ditransfusi. Saya dapat bersaksi bahwa setiap hari sesuatu dari Tuhan ditransfusikan ke dalam saya. Hasilnya adalah hayat saya semakin bertumbuh. Jangan mengira hanya orang-orang muda yang bertumbuh di dalam hayat. Meskipun saya seorang yang tua, saya masih bertumbuh karena setiap hari saya menerima lebih banyak hayat melalui pekerjaan penyaluran hayat dari tujuh Roh.
TUJUH LAMPU MENJADI SUNGAI HAYAT
Akhirnya, tujuh lampu di hadapan takhta menjadi sungai hayat yang mengalir dari takhta. Dalam pasal 4 ada tujuh obor yang menyala-nyala di hadapan takhta Allah, dan dalam pasal 22 ada sungai air hayat yang mengalir keluar dari takhta Allah. Jadi, tujuh lampu menjadi satu sungai. Menurut pengalaman kita, tujuh Roh Allah pertama-tama adalah tujuh obor yang menyala-nyala. Setelah kita menerima pembakaran dari tujuh lampu, tujuh Roh itu menjadi satu aliran. Dalam pasal 4 belum ada Yerusalem Baru, karena kalau hanya ada tujuh lampu, tidak ada bangunan. Tetapi, ketika kita nampak sungai mengalir keluar dari takhta menggantikan tujuh lampu, kita tahu bahwa bangunan juga telah muncul. Mungkin kemarin Anda di bawah penerangan dan pembakaran tujuh lampu. Tetapi pagi ini Anda ada di dalam aliran air hayat. Kalau hanya ada lampu, belum bisa ada bangunan. Tetapi kalau ada aliran, pasti ada Yerusalem Baru. Ketika kita di dalam aliran, kita adalah satu bagian dari bangunan Allah.
Menurut Kitab Wahyu, tujuh Roh Allah pertama-tama adalah lampu (obor) yang menyala-nyala di hadapan takhta administrasi Allah. Akhirnya, dalam bangunan Allah, tujuh Roh Allah ini menjadi sungai air hayat yang mengalir dari takhta. Sekarang takhta ini bukan hanya takhta administrasi, tetapi juga takhta yang menyuplai. Dengan jalan ini kita memiliki bangunan. Semakin lama kita diterangi dan dibakar, semakin lama kita di dalam aliran hayat; semakin lama kita di dalam aliran hayat, semakin banyak kita dibangun. Inilah cara untuk mengalami pembangunan. Puji Tuhan!
?