← Daftar isi Wahyu (3) · bab 3/18

BABEL MATERI

Dalam berita ini kita akan memperhatikan Babel materi (18:1-24). Alkitab mewahyukan tiga aspek Babel: Babel kuno, Babel agamawi, dan Babel materi. Kedudukan Babel kuno adalah negara Irak hari ini. Saya pernah mengun-jungi tempat itu pada tahun 1950-an, dan ternyata tempat itu berdebu dan panas, seperti sebuah oven. Saya tidak tahan tinggal di sana. Sebelum saya mengunjungi tempat itu, saya telah mempelajari kutukan-kutukan yang ditujukan kepada Babel yang tercatat di dalam Alkitab. Perjanjian Lama, khususnya Kitab Yeremia, mencantumkan banyak kutukan dan hukuman yang diucapkan Allah atas Babel. Dalam kunjungan saya, saya nampak dalam setiap segi perkataan Alkitab terhadap Babel terbukti kebenarannya.

Kota Babilon kuno sama dengan Babel kuno. Kejadian 11 mengisahkan kota dan menara Babel. Kata Ibrani “Babel”, dan kata Yunani “Babilon”, sama-sama berarti “kekacauan”. Babel didirikan oleh Kusy, ayah Nimrod. Menurut sejarah, Nimrod mendirikan agama kafir, sistem penyembahan berhala. Berabad-abad kemudian, Babel diperluas oleh Nebukadnezar, dan menjadi Babilon dalam Perjanjian Lama. Babilon menjadi tempat jahat dan setani, karena di bawah Nebukadnezar orang-orang Babilon menghancurkan Bait Allah dan menjarah perabot-perabot kudus yang biasa dipakai untuk beribadah kepada Allah dalam Bait Suci (Dan. 1:1-2; 2 Raja 25:8-9, 14-15). Selanjutnya, Nebukadnezar membawa perabot-perabot itu ke Babilon dan menaruhnya di kuil berhalanya (Dan. 1:1-2). Hal itu sangat menghina Allah. Pada saat pemulihan dalam Perjanjian Lama, Ezra membawa perabot-perabot itu kembali ke Yerusalem dan menaruhnya di dalam Bait Suci yang telah dibangun kembali (Ezr. 1:7-11; 5:14; 6:5). Sebab itu Babilon menjadi jahat bukan hanya karena penyembahan berhalanya, tetapi juga karena ia telah menghancurkan Bait Allah dan membawa umat Allah ke pembuangan dan menjarah perabot-perabot kudus.

Dalam Alkitab ada dua garis penting — garis Babel dan garis Yerusalem. Garis Babel adalah tiruan garis Yerusalem. Sebelum Allah memulai garis Yerusalem, Iblis sudah memulai tiruannya. Jadi kedua kota itu, Babilon dan Yerusalem, saling bertentangan. Kedua garis ini masih berlangsung sampai saat ini. Gereja adalah Yerusalem hari ini, dan gereja yang murtad adalah Babel, Babilon hari ini. Selanjutnya, putri-putri pelacur besar, kelompok-kelompok yang masih melaksanakan tradisi-tradisi Babel, juga termasuk dalam kategori Babel. Hanya gereja lokal yang murni dan asli yang berada pada garis Yerusalem hari ini.

Pasal 17—22 adalah kesimpulan akhir dari seluruh Alkitab. Dalam pasal-pasal itu kita juga nampak dua kota Babel dan Yerusalem. Babel akhirnya akan dihancurkan sama sekali, dan Yerusalem akan dibangun sepenuhnya. Itulah kesimpulan Alkitab, hasil akhir dari garis Babel dan garis Yerusalem.

Tulisan G. H. Pember dan Alexander Hislop, The Two Babylons (Dua Babilon), mengatakan bahwa tanpa kecuali, semua agama kafir berasal dari agama Babilon. Agama yang didirikan Nimrod telah berkembang ke seluruh dunia, termasuk India, China dan Jepang. Nimrod memunculkan lukisan Madona dan anaknya. Latar belakang lukisan itu adalah kisah perbuatan sumbang yang jahat. Namun, lukisan itu telah dimasukkan ke dalam gereja tertentu itu dan disebut sebagai lukisan Maria dan Yesus.

Ketika saya masih kecil, saya pernah melihat lukisan perempuan dengan anak kecil itu di kuil-kuil berhala di China. Kemudian saya terkejut, karena saya melihat gam-bar yang sama di katedral. Akhirnya, melalui belajar, saya tahu bahwa keduanya memiliki asal-usul yang sama. Misio-naris Katolik pertama yang datang di China menemukan lukisan Madona dan seorang anak tergantung di candi-candi Budha. Lukisan itu juga terdapat di Jepang dan India. Meskipun lukisan itu diberi judul yang berbeda-beda dan terdapat di berbagai tempat, asal-usulnya dapat dilacak sampai ke Nimrod di Babel. Contoh ini menggambarkan bahwa setiap agama adalah hasil perkembangan dari agama Babilon. Semua agama berasal dari satu sumber jahat kota Babilon kuno.

Aspek kedua dari Babel adalah Babel agamawi. Dalam pandangan Allah, gereja yang murtad yang menyerap ba-nyak hal dari ajaran agama Yahudi dan telah membaurkan banyak hal dari ajaran kafir, adalah Babilon.

Aspek ketiga dari Babel adalah Babel materi, kota Roma. Kita sering sulit membedakan ketiga aspek Babel ini karena Alkitab mencampurkannya. Misalnya, Babel dalam Wahyu 18 adalah Babel materi. Tetapi ketika saya masih muda, saya diberi tahu oleh beberapa guru Kristen bahwa hal itu ditujukan kepada Babel yang harfiah, kota Babilon kuno. Namun, pasal ini tidak membahas Babel harfiah (Babilon kuno), melainkan mengacu kepada kota Roma, yang dalam pandangan Allah adalah Babel.

Dalam Wahyu 17 dan 18, dua aspek Babel, aspek agamawi dan aspek materi dibaurkan. Di satu pihak, perempuan dalam pasal 17 adalah “pelacur”, yang melambangkan gereja yang murtad; di pihak lain, perempuan itu ditujukan kepada kota Roma. Ayat 1 mengatakan pelacur, dan ayat 18 membicarakan perempuan. Sebab itu, perempuan dalam ayat ini memiliki aspek pelacur, gereja yang murtad, dan aspek perempuan itu, kota Roma secara materi.

Alkitab tidak mudah untuk dimengerti. Kita perlu mendoakan dan merenungkan bagian-bagian tertentu berkali-kali. Saya tidak mengerti mengapa dalam beberapa ayat Tuhan membaurkan beberapa aspek dari Babel. Saya hanya tahu Ia melakukan hal itu. Memahami berbagai aspek dari Babel seperti memahami nubuat-nubuat mengenai dua kali kedatangan Kristus. Di sejumlah tempat dalam Perjanjian Lama, kedua kedatangan Kristus disebutkan berbarengan. Hal itu seperti padang dari dua gunung yang kelihatan seperti satu padang, bila dilihat dari kejauhan. Tetapi begitu Anda mendekatinya, tahulah Anda bahwa di antara kedua-nya terbentang jarak yang besar. Dalam membaca atau mempelajari nubuat-nubuat mengenai kedatangan Kristus, kita harus jelas, mana yang ditujukan kepada kedatangan-Nya kali pertama dan mana yang ditujukan kepada kedatangan-Nya kali kedua. Demikian pula terhadap ayat-ayat mengenai Babel. Kita harus membedakan mana yang mengacu kepada Babilon kuno, mana yang mengacu kepada Babel agamawi, dan mana yang mengacu kepada Babel materi. Jika kita jelas mengenai hal ini, kita akan mampu memahami Wahyu 17 dan 18. Bertahun-tahun yang lalu, saya tidak mengerti pasal-pasal tersebut karena saya tidak paham berbagai aspek dari Babel. Kalau kita jelas tentang as-pek-aspek tersebut, kita memiliki dasar yang kukuh untuk mengerti dua pasal ini dan akan mampu membedakan ayat mana yang membahas aspek agamawi, dan ayat mana yang membahas aspek materi.

I. PENAMPAKAN DIRI KRISTUS

Kristus akan menampakkan diri saat Babel materi dimusnahkan. Wahyu 18:1 mengatakan, “Setelah itu aku melihat seorang malaikat lain turun dari surga. Ia mempunyai kekuasaan besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaannya.” Malaikat ini adalah Kristus yang turun dari surga; bumi akan menjadi terang oleh kemuliaannya. Sewaktu Kristus menampakkan diri, Ia akan datang seperti malaikat yang diutus oleh Allah. Perjanjian Lama berulang-ulang menyinggung Kristus sebagai Malaikat yang diutus oleh Allah. Dalam Kejadian 22:11-12, Keluaran 3:2-6, Hakim-hakim 6:11-24, Zakharia 1:11-12; 2:3, 8-11 dan 3:1-7, tertera sebutan Malaikat TUHAN. Kalau kita membaca konteks dari ayat-ayat tersebut, kita nampak bahwa Malaikat TUHAN itu adalah diri TUHAN sendiri. Dalam Kitab Wahyu, Kristus paling sedikit tiga atau empat kali diwahyukan sebagai malaikat yang diutus oleh Allah untuk merampungkan amanat Allah (7:2, 8:3, 10:1; 18:1). Di sini Kristus tampil dengan status yang demikian.

Dalam10:1 Kristus tetap berselubungkan awan dan dalam 14:14 Dia duduk di atas awan; sedangkan dalam 18:1, kemuliaan-Nya menerangi bumi. Hal ini menunjuk-kan bahwa kembali-Nya ke bumi lebih dekat daripada kedatangan-Nya yang disebut dalam 10:1 dan 14:14. Pertama-tama Dia datang dari surga secara tersembunyi di dalam awan; kemudian Ia akan datang secara terbuka dengan duduk di atas awan; terakhir Ia akan menerangi bumi, dengan kuasa-Nya yang besar membinasakan Babel besar, yaitu kota Roma. Saat itu Dia akan mendapatkan bumi sepenuhnya, dan bumi akan menjadi kerajaan-Nya. Sebab itu, Babel materi akan runtuh ketika Kristus menampakkan diri.

II. DUA ASPEK BABEL BESAR

Wahyu 18:3 menyebutkan aspek Babel agamawi dengan Babel materi. Ayat ini mengatakan, “Karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya.” “Semua bangsa telah minum dari anggur (mabuk) . . . dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia” aspek agamawi; sedangkan “pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsu-nya” mengacu kepada aspek materi. Yang membuat bangsa-bangsa minum anggur yang religius dan setani adalah agama Roma, bukan Kekaisaran Romawi. Demikian pula yang memperkaya pedagang-pedagang di bumi dengan kelimpahan hawa nafsunya adalah kota Roma, bukan gereja itu. Sebab itu, pada ayat yang sama disebutkan aspek agamawi dan aspek materi.

III. MEMANGGIL UNTUK KELUAR

Ayat 4 mengatakan, “Lalu aku mendengar suara lain dari surga berkata, ‘Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari hadapannya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.” Karena Babel Besar mempunyai dua aspek, maka pergi dari dia berarti pergi dari Babel agamawi dan Babel materi. Ini dapat dibuktikan dari kata ganti “nya” dalam ayat ini. Kata yang muncul sebelum kata ganti “nya” adalah Babel yang memiliki dua aspek yang diwahyukan dalam ayat 2 dan ayat 3.

IV. KESOMBONGAN DAN KEBINASAAN BABEL

Ayat 6-8 membicarakan kesombongan dan kebinasaan Babel. Ia menyombongkan dirinya menjadi ratu, bukan janda. Karena itu, ia berpikir dirinya tidak akan pernah susah. Tetapi saat penghakiman datang, Tuhan akan membinasakannya dan membuatnya dia menderita sengsara. Dalam waktu sehari saja celaka akan datang, dan ia akan musnah terbakar oleh api.

V. RUNTUHNYA BABEL MATERI

Ayat 2 membicarakan runtuhnya Babel materi. Ayat ini mengatakan, “Ia berseru dengan suara yang kuat, ‘Sudah runtuh, sudah runtuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat ber-sembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi semua binatang (burung) yang najis dan yang dibenci.” Dalam 14:8 ada seorang malaikat mengatakan, “Sudah runtuh, sudah runtuh Babel, kota besar itu” dan di ayat ini Kristus juga meneriakkan perkataan yang sama. Ini menunjukkan runtuhnya Babel ada 2 macam, yaitu runtuhnya Babel agamawi dan runtuhnya Babel materi. Babel agamawi akan runtuh pada saat kesusahan besar dimulai, sedangkan Babel materi akan runtuh pada saat berakhirnya kesusahan besar. Pasal 18 membicarakan runtuhnya Babel materi, bukan runtuhnya Babel agamawi.

Ayat 2 mengatakan Babilon telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi burung yang najis dan yang dibenci. Ayat ini mencakup nubuat nabi Yesaya dan nabi Yeremia dan kutipan dari kedua kitab itu. Yeremia pernah menggunakan ungkapan yang demikian untuk mengutuk Babel harfiah. Kelak kota Roma juga akan sama seperti Babel, kena hukuman dan kutukan. Dengan demikian kota Roma tidak cocok lagi untuk didiami manusia. Roma adalah kota yang sangat menarik, dan para wisatawan senang berkunjung ke sana. Tetapi suatu hari, tidak akan ada seorang pun yang pergi ke sana, karena di sana penuh dengan setan, roh-roh najis dan burung-burung yang najis dan yang dibenci. Ini adalah tanda yang menyatakan kota itu najis dan buruk sekali dalam pandangan Allah. Dalam pandang-an Allah, Babel materi, kota Roma, akan menjadi sesuatu yang membencikan, karena telah menjadi sumber politik yang jahat dan agama yang jahat. Politik yang jahat terlihat dalam Kekaisaran Romawi dan agama yang jahat terlihat dalam agama gereja yang murtad. Hal-hal yang jahat itu sekurang-kurangnya telah berkuasa 2000 tahun, bahkan telah merusak dan meracuni semua manusia di bumi. Sebab itu Allah akan turun tangan untuk menghukum kota Roma, membuatnya menjadi tempat yang tidak cocok untuk didiami. Setelah dikutuk dan dihukum, kota Babel kuno tidak cocok lagi untuk didiami manusia; Babel materi akan mengalami hal yang sama.

VI. RATAPAN ATAS BABEL

Wahyu 18:9-19 membicarakan ratapan atas Babilon. Ayat 9 mengatakan, “Raja-raja di bumi, yang telah berbuat cabul dan hidup dalam kelimpahan dengan dia, akan menangisi dan meratapinya, apabila mereka melihat asap api yang membakarnya.” Ayat 11 mengatakan, “Pedagang-pedagang di bumi menangis dan berkabung karena dia, sebab tidak ada orang lagi yang membeli barang-barang mereka.” Pedagang-pedagang internasional yang telah mendapat keuntungan besar dari kota yang kaya itu akan menangis, ketika mereka melihat kota itu dihukum Allah.

Ayat 12 dan 13 mencantumkan barang dagangan dari pedagang-pedagang di bumi. Barang-barang dagangan dalam ayat-ayat ini terdiri dari berbagai barang materi, membuktikan Babel besar dalam pasal ini adalah Babel materi. Barang-barang dagangan ini ada tujuh kategori: perhiasan, dari emas sampai mutiara; kain, dari kain lenan halus sampai kain kirmizi; perabot dan dekorasi, dari kayu yang harum baunya sampai pualam; rempah-rempah, dari kulit manis sampai dupa; makanan, dari anggur sampai domba; sarana transportasi, kuda dan kereta; dan tenaga kerja, budak dan nyawa manusia. Barang-barang dagangan yang diperdagangkan oleh Babilon, yang pertama adalah emas, dan yang terakhir adalah nyawa (jiwa) manusia. Jiwa manusia adalah orang yang menjual dirinya demi pekerjaan. Hal ini tidak hanya menggambarkan Babel yang akan datang, juga menggambarkan dunia hari ini. Manusia menjual jiwanya, hayatnya, yaitu dirinya sendiri kepada pekerjaan, mengabaikan Allah dan nasib kekal mereka.

Barang-barang dagangan itu membuktikan bahwa kota Roma akan menjadi kota kapitalis, bukan kota komunis. Kapitalisme akan berkuasa di Roma sampai Babel materi dibinasakan.

VII. SUKACITA DI SURGA

KARENA BABEL TELAH DIHAKIMI

Ayat 20 mengatakan, “Bersukacitalah atas dia, hai surga, dan kamu, hai orang-orang kudus, rasul-rasul dan nabi-nabi, karena Allah telah menjatuhkan hukuman atas dia karena kamu.” Selagi banyak orang menangis karena Babel mengalami pembinasaan, yang lainnya bersukacita karenanya. Orang-orang yang di bumi akan menangis, sebaliknya orang-orang yang di surga akan bersukacita. Kita tentu termasuk di antara orang-orang yang bersukacita di surga. Tidak hanya demikian, saya percaya, kita akan menyaksikan pembinasaan Babel. Ketika asapnya naik ke atas, kita akan bersukacita.

VIII. PERNYATAAN KEBINASAAN MUTLAK BABEL

Dari ayat 21-24 kita nampak pernyataan kebinasaan mutlak Babel. Ayat 21 mengatakan, “Kemudian seorang malaikat yang kuat, mengangkat sebuah batu sebesar batu gilingan, lalu melemparkannya ke dalam laut, katanya, ‘Demikianlah Babel, kota besar itu, akan dilemparkan dengan keras ke bawah, dan ia tidak akan ditemukan lagi.” Mungkin kebinasaan Babel terjadi melalui suatu gempa bumi yang dahsyat, yang membuat seluruh kota Babel tenggelam ke dalam laut. Itulah nasib Babilon. Sebab itu, nasihatilah teman Anda agar tidak tinggal di sana.

IX. PUJI-PUJIAN DI SURGA

ATAS DIHAKIMINYA PELACUR BESAR

Wahyu 19:1-4 mencantumkan puji-pujian di surga, ka-rena pelacur besar dihakimi. Ayat 1-3 menampakkan suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di surga yang memuji Allah, katanya, “Haleluya!” Wahyu 18 membicarakan penghakiman atas Babel materi, tetapi puji-pujian yang tercantum dalam beberapa ayat dari Wahyu 19 ini terutama bukan mengenai Babel materi, melainkan mengenai Babel agamawi. Alasannya adalah karena berabad-abad lamanya, kedua aspek Babel ini selalu berbaur. Sampai tahun 476 Masehi, Roma menjadi pusat politik. Abad-abad berikutnya Roma adalah pusat agama. Gereja Roma Katolik berkuasa pada abad keenam, dan menjelang akhir abad keenam, sistem kepausan dibentuk. Sembilan belas abad yang lalu, dalam lima abad yang pertama kita nampak Kekaisaran Romawi berkuasa, dan empat belas abad selanjutnya adalah masa kekuasaan gereja Roma Katolik. Ketika Babel runtuh aspek agamawi lebih dahulu dibinasakan, kemudian aspek materi. Puji-pujian di surga, terutama bukan karena Babel materi dibinasakan, melainkan karena Babel agamawi dibinasakan, karena dalam pandangan Allah aspek agamawi lebih membencikan daripada aspek materi. Hari ini kita tidak begitu memperhatikan Roma materi, tapi sangat terganggu dengan Roma agamawi. Karena itu, betapa senangnya kita dapat nampak runtuhnya Babel agamawi.

Wahyu 19:4 mengatakan, “Kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu sujud dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata, ‘Amin, Haleluya.’” Setelah suara nyaring dari himpunan orang banyak yang di surga mengatakan, “Haleluya,” kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu mengatakan, “Amin, Haleluya.” Karena haleluya telah dikatakan berulang-ulang, maka kata amin diucapkan lebih dulu. Kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk mengatakan “Amin” terhadap suara yang mengatakan “Haleluya”, lalu menambah lagi kata “haleluya”.

Tahun 1967 Tuhan menunjukkan kepada kita bagaimana menyeru nama-Nya. Pada saat itu kita mulai nampak bahwa kita seharusnya memuji Dia dengan tidak berkeputusan. Sebab itu antara tahun 1967-1968 sidang kita penuh dengan amin dan haleluya. Agamawan menyalahkan kita atas hal itu, juga ada sebagian kecil dari Babel agamawi bangkit menentang kita. Saya tidak tahu mengapa mereka menentang kita menggunakan kata amin dan haleluya untuk memuji Tuhan. Tetapi Kitab Wahyu menunjukkan, puji-pujian kepada Tuhan dengan cara ini akan dipraktekkan kelak. Jadi apa yang dipraktekkan di surga kelak dapat juga dipraktekkan oleh kita pada hari ini di bumi.

Seandainya kita percaya Alkitab, kita seharusnya menerima Kitab Wahyu. Jika tidak ada kitab ini, Alkitab tidak akan memiliki kesimpulan. Tahun 325, dalam rapat dewan di bawah kekuasaan kaisar Konstantin, disusun Kredo Nicene (Nicene Creed) yang dengan lapang diterima oleh Katolik dan Protestan. Saat berlangsungnya rapat dewan itu, tujuh kitab dalam Perjanjian Baru yaitu Ibrani, Yakobus, 2 Petrus, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu masih belum sepenuhnya diakui. Kitab-kitab tersebut secara resmi diakui pada tahun 393 di Konsili Carthage. Sebab itu Kredo Nicene belum mencakup Kitab Wahyu.

Kebanyakan orang Kristen merasa asing (tidak mengenal) akan kitab Wahyu. Bagi mereka, kitab ini seolah-olah tidak ada di dalam Alkitab. Meskipun mereka membacanya, tetap tidak dapat memahaminya. Hal itu disebabkan oleh kelicikan si musuh. Dalam Alkitab, tidak ada kitab yang lebih disalahpahami orang Kristen daripada Kitab Wahyu. Sebab itu, dalam 22:18-19, Tuhan Yesus berkata, “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini, ‘Jika seseorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Jikalau seseorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” Kita harus hati-hati, jangan menambahkan atau mengurangkan apa-apa kepada nubuat yang dituliskan dalam kitab ini. Tetapi dari abad ke abad sebagian besar orang Kristen selalu menyingkirkan kitab ini. Meskipun Kitab Wahyu ada di dalam Alkitab, namun dalam pengalaman kebanyakan orang, kitab ini telah tersingkir. Itulah sebabnya banyak orang Kristen kehilangan berkat Allah. Sejak Tuhan pertama kali membuka kitab ini kepada kita, betapa besar berkat yang menimpa kita. Saya percaya berita-berita ini akan menyebabkan belokan yang besar dan langkah lebih maju di gereja-gereja. Gereja-gereja akan mendapatkan berkat yang besar.

Buku yang menguraikan Kitab Wahyu cukup banyak. Karena kebanyakan tulisan itu tidak mengikuti prinsip yang benar dalam menguraikan Kitab Wahyu, maka banyak uraian mereka yang keliru. Kalau ingin menafsirkan Kitab Wahyu dengan tepat, kita perlu mengenal baik-baik seluruh Alkitab. Seperti telah saya katakan, hampir setiap lambang dalam kitab ini berkaitan dengan lambang dalam Perjanjian Lama. Karena itu, kita harus memahami asal usul lambang dalam Perjanjian Lama, kemudian menelusuri perkembangannya dalam Perjanjian Baru. Misalnya, kaki pelita dalam Wahyu 1. Kaki pelita pertama kali di-sebutkan dalam Keluaran 25, lalu dalam Zakharia 4. Kalau kita ingin memahami arti kaki pelita dalam Kitab Wahyu, kita harus mencari keterangan dalam Keluaran 25 dan Zakharia 4. Lagi pula kita harus mengetahui perkembang-an kaki pelita yang ada dalam Kitab Wahyu. Inilah cara untuk memahami kitab ini.

Ilustrasi lain mengenai cara yang tepat untuk memahami Kitab Wahyu adalah masalah binatang dalam pasal 13. Kalau ingin mengenal binatang ini apa, kita harus melihat Daniel 7, karena binatang dalam Wahyu 13 bukan hanya mengacu kepada binatang yang diwahyukan dalam Daniel 7, bahkan merupakan perkembangan dari binatang itu.

Jika kita mengkaji pencantuman pertama dari setiap lambang, lalu menelusuri perkembangannya, kita akan dapat menafsirkannya dengan tepat. Kita harus mengikuti prinsip dasar dalam mengkaji Kitab Wahyu. Namun, banyak uraian Kitab Wahyu yang melanggar prinsip ini. Puji Tuhan, Dia telah menyatakan prinsip dasar ini kepada kita. Semua penafsiran yang Tuhan berikan kepada kita sesuai dengan prinsip ini dan sepenuhnya ditunjang oleh sejarah. Karena itu, kita telah jelas tentang Kekaisaran Romawi, gereja Roma dan Antikristus. Kita telah nampak Antikristus berperan ganda. Dia adalah kaisar ketujuh juga kaisar kedelapan. Sebagai kaisar kedelapan, dia mempunyai tubuh kaisar ketujuh dan roh kaisar kelima. Sebab itu, dia adalah tokoh yang luar biasa. Kalau kita mengertinya dengan jelas, kita akan tahu di mana kita berada dan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.